
Kota pesisir, Mylta. Saat matahari pagi telah terpancar dan keramaian mulai memenuhi tiap sudut jalan kota yang dalam proses progresif pesat tersebut, Arca Rein bersama dua Butler pribadinya dan seorang perempuan pelayan penginapan Porzan berdiri di depan bangunan toko milik Odo Luke yang baru saja dibangun. Itu terletak pada distrik perniagaan, tepat di ujung pasar dan tidak terlalu dilirik oleh pembeli dari dalam atau luar kota karena tempatnya yang terlalu masuk dan jauh dari jalan utama yang biasa dilewati banyak orang.
Melihat dengan sorot mata datar bangunan bertingkat tiga tersebut, dengan cepat Arca paham kalau bangunan itu benar-benar bersifat minimalis dan memiliki arsitektur tidak biasa. Pada bagian depan toko yang baru saja selesai dibangun itu tidak memiliki penampilan mencolok layaknya sebuah bangunan yang dibangun dengan modal besar. Namun saat melihat bagian samping dan kaca-kaca pada lantai dua dan tiga, itu memang memiliki bentuk tidak biasa dengan toko yang sering Arca temui.
“Tuan Arca, toko ini rasanya kelihatan aneh, ya. Padahal ukurannya kecil tapi ....”
“Benar kata Logi, Tuanku. Meski hanya dilihat dari luar seperti ini, bangunannya rasanya sangat lengkap. Cerobong asap, ventilasi udara di atas jendela dan pintu, peletkan kaca supaya bisa melihat bagian dalam depan dengan jelas, penepatan papan tanda dan juga .... Tangga di samping bangunan tersebut juga sangat pas.”
Mendengar pendapat Ligh dan Logi, Arca merasa setuju dengan kedua Butler pribadinya tersebut. Memang bangunan itu tertata dengan rapi, membuat putra sulung keluarga Rien tersebut merasa heran karena seharusnya di kota Mylta seharusnya tidak ada arsitek hebat yang bisa membuat desain unik seperti itu.
Sekilas pemuda rambut cokelat itu melirik ke arah Elulu yang juga ikut bersama mereka. Arca merasa kalau perempuan itu juga akan berpendapat. Namun melihatnya terdiam dan hanya menundukkan wajahnya, ia paham kalau perempuan yang mengenakan seragam pelayan penginapan itu masih cemas dengan permasalahan sebelumnya.
Menghela napas dan tidak memedulikan hal tersebut, Arca menghadap ke depan dan berjalan ke pintu untuk membukanya. Namun saat memegang gagang pintu, pemuda rambut cokelat itu baru sadar kalau dirinya belum mendapat kunci untuk bangunan tersebut.
“Ah, gawat .... Sepertinya aku lupa hal penting. Kuncinya di mana, ya?”
Arca menoleh ke arah kedua pelayannya, kedua pria dengan jas hitam itu pun baru menyadari hal tersebut dan ikut bingung harus berkata apa untuk merespons. Elulu juga terlihat demikian, tidak bisa menjawab dan tambah menundukkan kepala.
Di tengah kebingungan mereka, seorang pria berjalan ke arah mereka dan berkata, “Oh! Apa kalian orang-orang Tuan Odo juga?!” Pria tua kerdil itu terlihat kotor karena debu hitam dan arang pembakaran. Meski cebol, pria tua tersebut sudah memiliki jenggot dan berewok tebal layaknya ras Dwarf pada umumnya.
Arca menoleh dengan heran, lalu menatap tajam dan bertanya, “Siapa kau? Kau ... Dwarf, ‘kan?”
“Memangnya aku terlihat seperti apa, bocah.” Dwarf itu meletakkan kedua tangannya ke pinggang dan menatap heran, sedikit mendongak untuk mengamati wajah Arca dan dengan suara tinggi ia bertanya, “Memangnya Tuan Odo tidak berkata apa-apa padamu? Katanya hari ini akan ada pegawai yang mulai bekerja di tempat ini dan aku harus menyerahkan kuncinya.”
“Eh?” Arca terlihat bingung mendengar itu.
“Kau orang yang diperintah Tuan Odo, ‘kan?” tanya Dwarf tersebut dengan nada seakan memang tidak kenal pemuda yang diajaknya bicara.
“Ya ..., kurang lebih.”
“Kalau begitu ....” Dwarf itu mengambil satu rentet kunci dan sebuah kantong kain kecil dari sabuk peralatan pada pinggangnya, lalu menyodorkan itu sembari berkata, “Ini kuncinya! Dan ini uang kembalian jasa pembangunan kami!”
“Uang kembalian jasa?” Arca menerima kedua barang itu dengan ekspresi sedikit bingung.
“Ya!” Dwarf berambut cokelat keriwil itu menunjuk dengan wajah sangar sampai Arca sedikit melangkah ke belakang karena terkejut. Menurunkan tangan, pria tua tersebut memalingkan pandangan ke arah toko dan mengendus dengan ekspresi kesal seraya berkata, “Kau tahu, bangunan ini yang membangun adalah kami, Serikat Kurcaci Merah— Para Dwarf handal yang telah membangun banyak bangunan di kota ini beserta desainnya. Tapi! Tuan Odo malah memberi desain sendiri ....”
Menatap dan berjalan mendekat ke arah Arca, Dwarf tersebut menunjuk dan kembali menegaskan, “Uang kembalian itu untuk tanda terima kasih karena telah memberi kami desain baru yang unik, paham?!” Segera berbalik dan melangkahkan kaki pergi dari tempat itu, Dwarf tersebut melambaikan tangannya seraya berkata, “Sampaikan itu pada Tuan Odo, kalau mau membangun bangunan unik lagi dia bisa memesan jasa kami lagi! Bilang kalau Kov Osel dan para Dwarf selalu menyambut karyanya!”
Arca sekilas bingung dengan kedatangan Dwarf tersebut yang bagaikan sebuah badai. Mengingat nama yang diucapkannya sebelum pergi tersebut, Arca Rein bergumam, “Kov Osel? Serikat Tukang Kurcaci Merah? A—! Apa Odo juga sudah mengatur ini?” Arca seketika gemetar dan paham mengapa Odo tidak memberikan dana terlebih dulu, beberapa susunan rencana yang terbilang masih meragukan mulai sedikit demi sedikit terasa mantap di benak Arca.
Menghela napas, pemuda rambut cokelat itu berbalik ke arah pintu toko dan segera membukanya untuk memeriksa isi bangunan. Bersama kedua Butler pribadinya dan Elulu Indul Kalama, Arca memeriksa setiap sudut bangunan tersebut untuk memastikan kerapian dan susunan ruang yang ada serta memeriksa apakah ada yang cacat atau tidak.
Toko yang dibangun Odo tersebut memiliki tiga lantai dan satu basement, berdiri pada tanah yang luasnya hanya sekitar 200 meter kubik. Pada lantai satu memiliki ruangan cukup luas yang dalam rencana akan digunakan sebagai toko atau rumah makan serba guna dan pada malam hari bisa diubah menjadi bar. Ruangan luas tersebut sudah tersedia meja counter yang menyatu dengan tembok layaknya bar pada umumnya, lalu dibalik itu terdapat pintu yang terhubung langsung dengan dapur di bagian belakang.
Meski belum ditata dan furnitur belum dibeli, ruangan tersebut sudah terlihat rapi dan sudah memiliki sistem reaktor sihir serta sirkuit sihirnya telah terpasang dengan rapi pada dinding-dinding. Lampu gantung sudah diterapkan dengan pas lokasinya di tengah, dapur yang ada juga telah terpasang kompor dengan batu sihir api sebagai bahan bakar utamanya serta memiliki struktur sihir unik. Semua itu memang dipasang oleh Dwarf, namun strukturnya asli yang membuat Odo dan para tukang tersebut hanya mengikuti panduan yang telah diberikan. Selain ruang luas dan dapur, lantai satu juga menjadi satu-satunya lantai yang memiliki kamar mandi karena memikirkan masih minimnya sebuah sistem penggunaan pipa yang masih sangat sukar dipahami para Dwarf.
Untuk lantai dua tempat tersebut akan digunakan sebagai kantor. Ruangan itu sepenuhnya terdiri dari ruang tunggal luas yang dibagi menjadi beberapa sekat-sekat kayu yang akan diletakkan meja-meja kerja. Pada lantai inilah kegiatan seperti pembukuan, kegiatan pencatatan akuntansi, urusan administrasi dan hal-hal terkait perkantoran akan dilakukan. Ruangan ini sedikit unik karena dua pintu keluar masuknya tidak bisa diakses dari lantai satu, namun hanya bisa diakses dengan anak tangga yang ada di kedua sisi bangunan dan berasa di luar. Itu bertujuan untuk tidak saling mengganggu dengan kegiatan yang ada di lantai satu dan lantai dua, untuk itulah lantai dibuat rapat dan dibuat struktur sihir peredam suara pada kayu tebal yang digunakan untuk lantai.
Pada lantai tiga bisa dikatakan tempat tinggal untuk para pekerja tetap, aksesnya dapat dilakukan melalui anak tangga lantai dua. Lantai tiga terdiri dari lima kamar yang tersusun rapi dan dipisahkan oleh lorong. Untuk sementara tempat tersebut direncanakan akan dihuni oleh keluarga Tenebris yang ke depannya akan berganti menjadi marganya menjadi Mitus seiring berjalannya waktu. Lantai tiga ini juga memiliki loteng, berfungsi untuk menyimpan beberapa alat sihir dan peralatan lainnya selain basement.
Selesai memeriksa bangunan tersebut, Arca keluar dan menguncinya kembali. Di depan bangunan ia terdiam bingung bersama kedua pengikutnya, sampai mereka menjadi perhatian orang-orang yang lalu-lalang di distrik perniagaan meski tidak terlalu banyak orang yang lewat di tempat ujung distrik tersebut. Menoleh ringan ke arah Logi, Arca bertanya, “Apa kau lihat tadi, Logi? Di dalam sana ....”
“Ya, toko ini seperti altar sendiri. Sirkulasi energinya sangat lancar sampai membuatku takut. Tuankum sebenarnya apa-apaan bangunan ini,” jawab Logi seraya berbalik dan melihat toko tiga lantai tersebut.
“Tuan Arca, saya pernah mendengar soal teknik pembangunan seperti ini. Mungkin saja Tuan Odo ... menggunakan metode Feng Shui untuk mengatur sirkulasi energi di bangunan ini,” ucap Ligh sembari ikut melihat ke arah toko tersebut.
“Feng Shui?” ucap Arca seraya berbalik dan menatap heran bangunan toko yang entah mengapa mulai terlihat megah tersebut.
“Ya ....” Ligh mengacungkan jari telunjuknya ke depan, lalu dengan wajah sedikit pucat ia menjelaskan, “Itu sebuah ilmu topologi kuno dari kekaisaran. Saya sendiri kurang paham konsep pembangunannya, namun itu katanya dapat mengatur aliran energi dan membuat sebuah tempat menjadi pusat dari berkumpulnya energi atau memecah suatu energi supaya tidak terpusat pada satu tempat.” Menurunkan jari telunjuknya dan menghela napas, Butler sedikit enggan untuk mengakui, “Yah, benar kata Logi kalau tempat ini seperti altar, karena altar sendiri pembangunannya memerlukan ilmu topologi yang tepat.”
Meletakkan tangan kanan ke dagu dan sedikit berpikir, putra sulung keluarga Rein itu bertanya, “Kenapa Odo bisa tahu hal seperti itu?”
“Eng, saya tak tahu, Tuanku.”
“Saya juga tidak tahu ....”
Menghela napas secara bersama-sama, ketiga orang tersebut merasa sedikit cemas karena beberapa hal terkait Odo Luke. Elulu yang berdiri di belakang mereka juga merasa khawatir dengan pemuda yang menjanjikan keamanan keluarga tersebut. Dalam benak mereka masing-masing tumbuh rasa kagum sekaligus takut pada pemuda rambut hitam dari keluarga Luke itu.
“Hah ....” Arca menghela napas, lalu menggelengkan kepala dan berkata, “Nanti akan kutanyakan itu padanya. Sekarang kita pergi ke pelabuhan, si Sekretaris seharusnya ada di tempat itu.”
“Sekretaris yang diucapkan Tuan Odo ..., ya?” Logi sedikit tersenyum lebar, hidungnya kembang kempis dan ia pun tersenyum lebar seraya berkata, “Kira-kira siapa dia? Apa dia orang tipe perempuan seperti Nona Lisiathus? Atau seperti Nona Imania ...?”
“Seleramu seperti itu, ya?” tanya Ligh dengan ekspresi enggan pada sifat saudara kembarnya tersebut.
Melirik kecil ke arah Logi, Arca menegur, “Sebaiknya kalian jangan pernah berani menyentuh atau menggoda si Sekretaris itu nanti.”
“Hmm, kenapa memangnya, Tuanku?” tanya Logi heran.
“Kata Odo .... Kalau ada yang menyentuhnya atau membuat masalah pada si sekretaris itu, dia pasti tidak akan mati dengan layak.”
““Eh?””
Wajah kedua Butler itu langsung memucat, mereka berdua saling menatap satu sama lain dan kembali memikirkan tingkah laku mereka nanti di depan si sekretaris. Mereka paham kalau Odo Luke pasti tidak bergurau soal hal seperti itu, bukti nyata dari hal tersebut adalah kekalahan Tuan mereka dan kondisi yang ada sekarang.
“Ya-Yah, mungkin Odo ingin menjadikannya istri simpanan atau semacamnya,” ucap Arca dengan nada sedikit ragu. Tidak jauh berbeda dengan kedua Butler pribadinya, larangan itu juga berlaku keras pada pemuda itu. Berbalik dan menepuk pundak kedua pria tersebut, Arca Rein berkata, “Dia calon raja .... Tidak seperti Raja Gaiel yang telah mencintai mendiang Ratu Dahlia sejak muda, Odo tidak ada hal seperti itu pada Putri Arteria. Kurasa tidak aneh kalau dia main perempuan atau semacamnya.... Menurut kabar, Tuan Dart dulu saat muda juga terkenal di kalangan perempuan ....”
“Ka-Kalau Tuanku bilang seperti itu, le-lebih baik saya tidak mengganggunya.”
“Hmm, sebaiknya kita nanti tidak membuat masalah pada si sekretaris ini. Tunggu? Apa benar sekretarisnya perempuan?”
“Kalau sekretaris identik dengan perempuanlah!”
“Apa begitu?”
“Iya!”
Sembari mengobrol kecil, keempat orang tersebut mulai berjalan menuju daerah pelabuhan untuk bertemu dengan orang yang telah ditunjuk oleh Odo akan menjadi sekretaris dalam rencana. Kedua laki-laki itu menebak-nebak siapa sebenarnya perempuan yang ditunjuk oleh Odo, sembari bercanda gurau dan membahas sesuatu yang sering para laki-laki bicarakan mengenai perempuan. Elulu yang hanya diam menatap mereka dengan datar, merasa kalau para laki-laki itu membicarakan hal yang sangat amat tidak penting.