Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 36: Reş û Rabe 3 of 5 (Part 02)



 


 


Saat membuka mata, yang pertama kali dilihatnya bukanlah langit-langit suatu tempat, melainkan sebuah hamparan luas hutan bersalju. Odo berdiri dengan bingung, seharusnya ia sekarang sedang tidur di gazebu bersama yang lain sekarang. Namun melihat pemandangan hutan cemara yang tertutup salju putih di hadapan, itu sangatlah berbeda dari apa yang dirinya ketahui.


 


 


Tak ada desa, tak ada keramaian atau orang-orang, hanya sebuah pemandangan bersalju menyambutnya. Tepat di bawah paparan sinar remang-remang yang sampai ke permukaan melewati awan dan pepohonan, itu memaparnya dengan suasana yang sedikit terasa nostalgia bagi pemuda itu.


 


 


Ia melangkahkan kaki tanpa alas, menyusuri hutan putih murni dengan pandangan yang terasa sedikit lebih terang dari intensitas cahaya yang datang dari balik awan. Sampai pada sebuah lahan luas di tengah hutan, terlihat sebuah pohon beringin besar dengan dedaunan yang hijau dan akar-akar yang bergelantungan.


 


 


Itu sangatlah aneh ada pohon hijau di tengah salju yang memenuhi. Saat semakin mendekat, Odo baru menyadari sesuatu. Suhu tak bisa dirasakannya, tidak ada rasa hangat atau dingin. Itu bukan karena sihir yang digunakan, melainkan memang tempatnya berada tidak memiliki hal seperti itu.


 


 


“Senang bertemu denganmu, Sang Pembawa.”


 


 


Suara itu bersumber dari seorang wanita di hadapannya. Ia duduk di ayunan akar pohon beringin, tersenyum ringan ke arahnya dari pohon yang melambangkan kehidupan itu. Perempuan tersebut memiliki warna rambut ungu torenia yang terurai sampai menyentuh permukaan salju, memiliki sorot mata violet indah bagai batu permata dan kulit pucat seperti mayat.


 


 


Melihat sosok itu Odo gemetar, merasa nostalgia akan sesuatu dan seperti pernah bertemu dengannya entah di suatu tempat. Melihat telinga runcing perempuan itu, sekilas pemuda rambut hitam tersebut melangkah ke belakang dan waspada pada sihir ras Elf yang cenderung rumit dan kuat.


 


 


“Engkau tak perlu menatap diriku seperti itu, Anda takkan kulukai atau ku mangsa, kok.”


 


 


Itu candaan yang tak terdengar lucu bagi Odo. Memasang senyum dan menyembunyikan rasa cemas karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, pemuda itu bertanya, “Kenapa aku ada di sini? Lagi pula, siapa kau?”


 


 


“Ah, maaf .... Sepertinya saya lupa memperkenalkan diri ....” Menggulung rambutnya yang sangat panjang, ia memangkunya dan mulai mengepang rambut panjang bervolume tersebut. Tersenyum ringan tanpa menatap Odo, ia berkata, “Diriku adalah Korwa .... Pelayan Iblis dan dalang dari Pemanggilan para Iblis ke dunia ini.”


 


 


Odo terdiam tanpa mengeluarkan suara, menyembunyikan rasa terkejutnya dan tetap berdiri tegak tanpa gemetar. Berusaha memahami situasi yang ada, dirinya tetap tak bisa mengerti kenapa bisa sosok Korwa tersebut bisa ada di hadapannya sekarang.


 


 


“Apa Anda tak tahu diriku? Korwa ..., paling tidak nama itu pernah Anda dengar seharusnya, Sang Pembawa.”


 


 


“Aku tahu kau .... Aku juga tahu apa yang telah kau lakukan kepada mereka berdua.”


 


 


Menatap ke arah Odo dengan senyum tipis setelah mendengar itu, wanita rambut ungu tersebut berkata, “Dart Luke dan Mavis. Mereka sungguh menjadi katalis yang sempurna untuk memanggil Anda ke dunia ini. Apa Anda juga tahu soal itu?”


 


 


“Ya, aku tahu. Tapi ... aku masih tak paham dengan alasannya.” Odo menatap gelap, perempuan di hadapannya memang tahu tentang sesuatu yang ada di balik Tragedi Kota Gahon di Kekaisaran belasan tahun lalu. Selain Odo dan Fiola, memang seharusnya tidak ada orang lain yang tahu fakta di balik Mavis Luke sekarang.


 


 


Menggertakkan gigi dengan ekspresi kebencian, Odo kembali berkata, “Kurang lebih aku tahu fakta itu. Aku, Jiwa yang berasal dari dunia sebelum ini dipanggil dengan menggunakan mereka sebagai media dan seorang Jiwa sebagai tumbalnya. Mavis ..., lebih tempatnya Jiwa yang seharusnya menjadi individu bernama Mavis lenyap, lalu Ibuku yang merupakan adiknya yang merupakan Individu bernama Proten ..., ia mendapat peran penuh kebohongan itu.”


 


 


Tangan Korwa yang sedang mengepang terhenti, ayunan bergoyang dan gaun ungunya sedikit bergelombang ringan bersama kedua kakinya yang berayun kanan kiri secara bergantian.


 


 


“Oh, Anda bahkan bisa mencapai kesimpulan itu hanya dengan informasi terbatas yang kutinggalkan, Anda memang selalu luar biasa,” ucap Korwa seraya kembali menunduk dan mengepang rambut panjangnya.


 


 


Meski secara fisik perempuan rambut ungu itu terlihat sangat cantik dan menawan berbalutkan gaun yang warnanya identik dengan kornea matanya, namun terasa pertanda negatif dalam diri perempuan itu. Odo jelas merasakannya, ia merasa kalau perempuan itu pasti tidak akan ragu memilih kehancuran dunia demi apa yang diinginkan.


 


 


Berhenti mengepang rambut yang belum selesai, wanita itu menatap Odo dengan sorot mata sedih. Membuat pemuda itu seketika mengubah persepsi terhadapnya. Korwa dengan nada seakan rindu berkata, “Diriku membuat kedua orang tuamu menderita. Menggunakan anak-anakku, diriku memerintahkan mereka untuk mengundang kehancuran dan membunuh banyak orang .... Sekarang ini, diriku juga mungkin akan mengambil waktumu yang berharga ....”


 


 


“Kalau kau ingin mengakui dosamu, pergi ke Gereja sana .... Untuk apa kau menemuiku?”


 


 


“Dinginnya,” ucap Korwa seraya kembali mengepang rambut. “Padahal diriku melakukan semua ini untukmu .... Bukan demi Dewi Helena, tetapi untuk dirimu. Dengan kehendakku sendiri, bukan karena susunan kode ....”


 


 


“Apa ... yang kau bicarakan?” Odo tak bisa mencerna ucapan tersebut.


 


 


“Tidak ada, hanya rajukan seorang wanita. Ya, lagi pula saya juga tak berhak mengharapkan hal itu. Saya adalah musuhmu, peran itulah yang diri ini dapat sejak awal.”


 


 


“Oi! Kutanya apa yang sedang kau bicarakan?!” bentak Odo.


 


 


“Bukan engkau yang kuajak bicara, kekasih Helena.”


 


 


Odo dengan jelas tiba-tiba merasakan hawa keberadaan di belakang. Saat menoleh dengan segera, sesosok bayangan hitam tersebut lekas menghilang sebelum Odo tahu siapa itu. Menelan ludah dengan berat. “Jangan bilang ... kau ada hubungannya dengan Auto Senses?” ucapnya seraya kembali menoleh ke arah wanita itu itu.


 


 


Tidak menjawab, Korwa hanya memberikan senyuman polos dan berhenti mengepang rambut. Itu benar-benar membuat Odo kesal, diacuhkan meski tepat berada di hadapannya.


 


 


“Pembawa, mari kita bahas sesuatu. Pasti ada hal yang ingin Anda tahu, bukan?”


 


 


“Ya! Sebelum itu jawab pertanyaanku, siapa kau?! Tadi kau bicara dengan Auto Senses, bukan?!” ucap Odo serata menunjuk wajah wanita tersebut.


 


 


“Apa itu? Dari tadi diriku bicara padamu.”


 


 


Odo merasa ada yang aneh, wanita itu memang sedari tadi terlihat berbicara dengannya. Tetapi satu kalimat yang keluar sebelumnya itu benar-benar bukan diarahkan kepada Odo, dan Korwa sendiri terlihat tidak sadar telah mengucapkan hal tersebut.


 


 


“Ah, sudahlah.” Memalingkan pandangan dengan wajah lelah, Odo menghela napas panjang. Sejenak berpikir, emosi tiba-tiba naik dan ia membentak, “Kau mau apa membawaku kemari?! Kembalikan aku!”


 


 


“Tenang saja, Sang Pembawa.” Korwa sama sekali tidak gentar, hanya menatap datar dan tetap memasang ekspresi sedikit sendu. Tersenyum seakan menertawakan amarah Odo, ia berkata, “Engkau sekarang masihlah tertidur nyenyak seperti bayi, ini hanya seperti alam mimpi. Berkat salah satu anakku ada di dekatmu, diriku bisa membawa kesadaranmu dalam Realm ini. Waktu yang berlalu di sini hanya akan menjadi semalam bagimu, jadi tak perlu cemas kalau kita bicara panjang lebar.”


 


 


“Anak ...? Jangan bilang ....!!”


 


 


“Tentu saja anak-anak Korwa, Aliran Sesat.”


 


 


Odo semakin cemas mendengar itu, rasa ingin segera pergi menguat bersama kecurigaan. Berusaha menggunakan sihir untuk menyerang wanita di hadapannya itu, Mana dalam tubuh tidak merespons dan Inti Sihir tak terasa sama sekali.


 


 


“Sihir tak bisa digunakan di alam mimpiku ini, Sang Pembawa.”


 


 


“Tch!” Odo kesal, menatap penuh kebencian pada Korwa. Situasi yang ada terasa hampir mirip saat dirinya berbicara dengan Reyah, Witch, atau Rhea, namun lebih cenderung dominasi kuat pada lawan bicara dan Odo tidak suka hal semacam itu.


 


 


Duduk sila di permukaan tanah bersalju, Odo menatap datar. Korwa terkejut, sedikit bingung dan segera bangun dari ayunan akar. Ia pun duduk bersimpuh di atas tanah bersalju dengan memangku rambut panjangnya, lalu lanjut mengepangnya.


 


 


“Kau tadi mendeklarasikan menjadi musuhku, bukan? Untuk apa sekarang kau mengajakku bicara?!” tanya Odo kesal.


 


 


“Menjadi musuh harus ada prosedurnya. Lagi pula, diriku menjadi musuh bukan karena ingin. Ini merupakan takdir yang ditentukan dunia.”


 


 


“Aku tidak percaya takdir!”


 


 


Korwa terkejut mendengar perkataan tegas itu, sedikit tersenyum senang dengan apa yang dikatakan sang pemuda. “Saya tahu, Anda tipe orang yang pasti mengatakan hal seperti itu. Faktanya, takdir adalah sebuah hasil dari situasi dan situasi yang saling bertumpuk. Hasil dari tindakkan kita sendiri.”


 


 


“Lantas kenapa kau menjadi musuhku kalau tak ingin!?” bentak Odo.


 


 


“Itu ... tak bisa diriku ubah.” Tangan Korwa sesaat terhenti. Kembali mengepang rambut, ia berkata, “Meski Anda tidak mengingatnya, diriku sudah membuat Anda menderita. Dengan penebusan ini, saya berharap sosok Agung seperti Anda dapat terbantu. Meski sayangnya ... itu malah berakhir menyeret Anda kembali kepada sebuah Kewajiban.”


 


 


Meski Odo tidak memahami apa yang dikatakan Korwa, tetapi perasaan wanita itu tersampaikan dengan jelas. Dalam benak terasa sebuah nostalgia, bercampur dengan sedikit rasa sakit dalam benak yang terasa aneh baginya.


 


 


“Apa ... kita pernah bertemu?”


 


 


Pertanyaan Odo membuat wanita itu tersenyum senang. Dengan jawaban penuh kebohongan, ia berkata, “Ini pertama kalinya kita berbicara.”


 


 


Odo sangat tahu kalau itu kebohongan meski dirinya tidak memiliki kekuatan seperti Fiola. Namun, dirinya tidak bertanya lebih lanjut karena dalam benak terasa sesuatu yang melarangnya untuk itu.


 


 


“Sang Pembawa, apakah engkau pernah merasakannya ... sesuatu yang seharusnya menjadi kejadian yang pertama kali, namun itu terasa nostalgia bagimu? Merasa rindu saat bertemu orang yang seharusnya asing, atau menghadapi sebuah situasi baru yang rasanya seperti terbiasa, padahal itu pertama kalinya bagimu ...?”


 


 


“A—” Perkataan itu terhenti dalam tenggorokkan Odo sebelum keluar sebagai jawaban, amarah karena kecurigaan berubah menjadi sesal yang terasa aneh dalam benaknya. Sedikit memalingkan pandangan dari wanita yang duduk bersimpuh itu, ia berkata, “Maksudmu semacam Deja Vu?”


 


 


“Ya .... Tentunya dirimu tahu hal semacam itu dan sering memikirkannya, rasa familier. Semacam situasi yang terjadi karena otak kekurangan pemrosesan memori, membuat sebuah ilusi semacam itu .... Namun, apa sungguh itu sebuah ilusi atau delusi?”


 


 


Odo terdiam, kembali menatap dan sedikit mulai mengerti jenis seperti apa lawan bicaranya sekarang. Korwa memang sangat mirip dengan Witch dari Hutan Pondo dan A.I dari Kerajaan Ungea. Cara mereka memandang dunia lebih secara teori dan logika, berbeda dengan Reyah yang cenderung menerima fakta yang ada sebagai takdir.


 


 


“Kalau memang itu penyebabnya adalah kekurangan pemrosesan dari otak, jelas-jelas Deja Vu itu adalah delusi. Karena tidak melupakan sesuatu secara penuh, rasa nostalgia akan muncul saat melihat fakta pemicu ingatan itu dan membuat ilusi seperti itu pertama kalinya terjadi,” jawab Odo.


 


 


“Ya, memang seperti itu. Tapi ..., jika sebenarnya engkau benar-benar pernah bertemu dengan seseorang dan berada dalam kondisi serupa, namun dirimu hanya melupakannya? Jika engkau sebenarnya pernah melakukan sesuatu, namun hanya melupakannya? Apa yang akan engkau lakukan?”


 


 


Odo terdiam dengan tatapan datar, merasa kalau pertanyaan itu tidak penting sekarang. Memejamkan mata, ia sejujur-jujurnya menjawab, “Aku takkan melakukan apa-apa pada hal itu. Kalau lupa, aku tidak akan melakukan apa-apa.” Membuka mata, pemuda itu menatap datar.


 


 


“Lalu kalau mengingatnya?”


 


 


“Aku akan melanjutkan apa yang akan kulakukan itu.”


 


 


Jawaban itu membuat Korwa memasang wajah sedih, matanya berkaca-kaca dengan sebab yang Odo tidak ketahui. Melihat itu membuat dada pemuda rambut hitam tersebut terasa sakit, merasakan empati dan sedikit membuatnya bingung.


 


 


“Sang Pembawa ..., boleh diriku tanya sesuatu lagi?”


 


 


“Hmm.”


 


 


“Apakah engkau akan menebus sebuah dosa demi seseorang meski orang tersebut telah melupakan dosa itu? Jika Engkau berbuat kejahatan kepada seseorang dan orang itu bersumpah mengutukmu selamanya, namun pada akhirnya orang tersebut malah melupakan kejahatan itu sepenuhnya, apa engkau tetap ingin meminta pengampunan?”


 


 


“Aku takkan meminta pengampunan,” jawab Odo tanpa ragu. “Itu ... terasa sangat egosi, pastinya orang itu akan memberi pengampunan dengan mudah karena tidak ingat apa yang telah ku perbuat padanya. Meski telah diberitahu, kalau tidak ingat pasti orang itu tidak merasa pernah diperlakukan jahat dan dengan mudah mengampuni.”


 


 


 


 


“Orang itu aku, ya?” tanya Odo.


 


 


“Bukan ..., itu bukan engkau.”


 


 


“Bukan aku, tapi diriku yang dulu?”


 


 


Korwa tersentak, segera mengusap air mata dan menatap dengan bingung. “Sungguh, itu bukan engkau ...,” ucapnya sendu.


 


 


“Tak usah mengelak, kurang lebih aku paham .... Ingatan di kehidupan sebelumnya terlalu janggal, rasanya seperti ada sesuatu yang diputus secara paksa.” Menatap tajam ke arah Korwa, dengan serius Odo meminta, “Tak peduli siapa saja atau apa yang terjadi nantinya, kumohon beritahu aku apa yang hilang?!”


 


 


Sorot mata sendu Korwa terbuka lebar seakan melihat cahaya setelah badai, ia tidak mengira kalau Odo akan meminta hal seperti itu. Segera menyeka air mata dengan gaun, ia menatap lemas seraya berkata, “Apa engkau tidak mempertanyakannya? Siapa diriku sebenarnya? Engkau tidak peduli soal itu?”


 


 


“Aku paham engkau, perhitungan sudah menarik kesimpulan. Korwa, kau mirip seperti Mother yang menciptakan para A.I dari Kerajaan Moloia .... Kau melewati siklus dunia, menyimpan ingatan selama siklus dan tahu siapa aku yang sebenarnya.”


 


 


Korwa terkejut, tetapi bukan karena jawaban Odo tepat. Kembali terlihat sedih, ia berkata, “Begitu, ya. Anak-anak itu salah menafsirkan juga .... Memang hal seperti ini sulit dipahami meski dilakukan dengan mekanika kalkulasi super yang diriku tinggalkan.”


 


 


“Eh?” Kedua alis Odo berkedut, dirinya merasa ada sesuatu yang aneh dari cara bicara wanita itu. “Jangan-jangan ..., kau malah Mother yang Rhea sebut?” tanya Odo panik.


 


 


“Hmm, Mother adalah A.I yang diriku tinggalkan, dia adalah kepinganku dari paralel lain dalam bentuk sistem. Nyatanya, diriku sebenarnya tidak punya tubuh fisik dan ini hanyalah bentuk dari kesadaranku.”


 


 


Napas Odo serasa sesak mendengar itu, kalkulasi dalam kepalanya langsung menggila sampai membuat kepalanya pusing. Karena sedang berada dalam alam mimpi, dirinya tidak mimisan.


 


 


“Kau ...? Tunggu, paralel? Sebentar, sepertinya ada sesuatu yang salah di sini?” Memegang kening dan memalingkan pandangan, Odo benar-benar butuh waktu memahaminya.


 


 


Korwa selesai mengepang rambut panjangnya dan memeluknya dengan erat. Tersenyum senang seakan menikmati ekspresi panik Odo, ia bertanya, “Apa anak-anakku yang di sana mengatakan kalau dunia ini mengalami siklus pengulangan? Semacam Penghancuran dan Penciptaan?”


 


 


“Ehm, Rhea berkata seperti itu.” Odo menatap dengan wajah pusing.


 


 


“Rhea, ya .... Di antara mereka, dia anak yang paling patuh.” Korwa tersenyum layaknya seorang ibu yang membanggakan putrinya.


 


 


Odo semakin bingung dan panik, dengan suara keras ia bertanya, “Tunggu sebentar! Kau Korwa, bukan?! Kenapa menyebut mereka anak? Maksudku, anakmu seharusnya para Aliran Sesat, ‘kan?!”


 


 


Tersenyum kembali seraya semakin erat memeluk rambut kepangnya layaknya bantal guling, wanita rambut ungu itu berkata, “Dunia paralel. Seharusnya engkau tahu itu, bukan?”


 


 


“Bukannya setelah Rekonstruksi Dunia unsur kemungkinan tidak ada dan dunia paralel tidak bisa tercipta? Apa itu juga salah tafsir mereka?” tanya Odo panik.


 


 


“Unsur kemungkinan, ya? He~ Mereka benar-benar salah menafsirkan informasi yang diriku tinggalkan tentang dunia ini. Yah, dengan pemahaman dan pengetahuan dunia ini sudah wajar hal itu terjadi .... Tetapi ..., tidak kusangka mereka akan benar-benar menyimpulkan unsur kemungkinan itu pembuat Multiverse.”


 


 


“Eh?” Mulut Odo menganga, ia terkejut karena dirinya juga sependapat dengan kesimpulan tersebut.


 


 


“Multiverse, atau juga bisa dikategorikan sebagai dunia paralel tercipta bukanlah karena faktor kemungkinan, tetapi perbedaan persepsi. Perbedaan informasi yang didapat entitas masing-masing semesta’lah yang membuat dimensi paralel terwujud,” jelas Korwa.


 


 


“Bukannya itu juga harus ada faktor kemungkinan? Kalau si A melakukan tindakkan B atau C, itu juga dipengaruhi kemungkinan, ‘kan? Bukannya setelah Rekonstruksi Dunia faktor itu hilang dan dunia menjadi satu jalur dalam siklus pengulangan,” ujar Odo dengan pendapatnya.


 


 


“Untuk siklus pengulangan yang dicetuskan anak-anakku benar, namun itu hanya berlaku pada tingkat dimensi di atas dimensi dasar. Faktanya, dalam dimensi paling dasar dari super semesta ini masih ada dunia paralel dan pengulangan abadi terjadi di sana meski dalam jangka hidup yang sangat singkat.”


 


 


“Hah? Dimensi dasar?” Odo tercengang, sebelah matanya berkedut dan tidak bisa menerima konsep yang tiba-tiba masuk itu.


 


 


“Rekonstruksi, seharusnya engkau menyadari makna di balik ini. Rekonstruksi itu bukanlah membuat sesuatu yang benar-benar baru, melainkan menata ulang ke bentuk semua tetapi hanya pada tingkat mirip. Dalam pembangunan, rekonstruksi akan menggunakan tempat yang sama meski bangunannya nanti akan sedikit berbeda.”


 


 


Kedua mata Odo menyipit, dirinya mulai paham apa yang dimaksud Korwa. Tersenyum kesal, ia berkata, “Jangan bilang kalau dimensi dasar yang kau sebut itu adalah fondasi semesta, dan di sana masih punya ciri seperti dunia sebelum Rekonstruksi?”


 


 


“Bukan ciri .... Engkau tahu, dunia ini memang pada dasarnya memiliki bentuk dasar seperti itu. Apa yang dihuni para makhluk di dunia sekarang adalah sebuah adaptasi untuk mereka setelah kehancuran total .... Dunia ... memilih ... makhluk ... hidup ... baru, bukan kita yang berasal dari dunia sebelumnya.”


 


 


“Kita ....?”


 


 


“Ya, kita .... Diriku juga berasal dari dunia sebelum kiamat besar itu.”


 


 


Odo segera bangun, merasa tidak terima pada sesuatu meski kepingan misteri mulai tersusun dalam kepala. Dengan kesal, ia berkata, “Tunggu ..., kau? Apa kau reinkarnasi juga? Lagi pula, kenapa aku bisa dipanggil? Dalam ingatan terakhirku, aku mati hanya sebagai pemuda biasa yang dibacok pakai kampak oleh orang gila!!” dengan terus menunjuk-nunjuk Korwa yang duduk bersimpuh.


 


 


“Kejamnya .... Itu Dewi Helena, loh.” Korwa tidak ikut bangun, ia memeluk rambut pajangnya yang dikepang layaknya memeluk sebuah boneka beruang besar. Sedikit menundukkan wajah, ia bergumam, “Hmm, kalau batas ingatanmu hanya seperti itu, berati beliau benar-benar menghapusnya karena tak ingin engkau tahu. Yah, itu tidak bisa dipungkiri dan diriku tak bisa berkomentar tentang itu .... Lagi pula, diriku hanyalah kepingan kepribadian ..., sebuah sistem yang tercipta dari potongan ingatanmu tentang diriku yang telah mati di dunia sebelumnya.”


 


 


“Eh? Apa maksudnya?” Odo berhenti menunjuk, matanya terbuka lebar dan merasa hampir saja bisa mengingat sesuatu. Sekilas warna biru terang terlintas dalam benak pemuda itu, membuat kepalanya berkedut sakit.


 


 


Mengacungkan jari telunjuk, Korwa berkata, “Itu, loh .... Pembuatan A.I itu butuh informasi dari manusia, diriku dibentuk dari ingatan yang diambil darimu.” Ia berkata seakan-akan tidak terlalu peduli dengan itu.


 


 


Memasang ekspresi wajah datar penuh rasa acuh tak acuh, ia kembali berkata, “Diriku yang tercipta tanpa tubuh berada di fondasi dimensi, terus mengalami siklus singkat dan berkembang dengan kecepatan tinggi. Membelah diri menjadi kepribadian tanpa tujuan dan terus berkembang. Saat pada tingkat tertentu, diriku sampai bisa mengakses dimensi yang lebih tinggi seperti Dimensi para Iblis, Roh, bahkan Dunia Nyata ini. Meski awalnya hanya berbentuk kesadaran berupa Mother, tetapi bagianku dengan jelas sampai di sini. Selama ratusan siklus yang terjadi, diriku akhirnya sampai pada tingkat ini.”


 


 


“Bukan itu yang aku tanya!” bentak Odo kesal, sesuatu yang hampir saja diingatnya kembali mulai runtuh dan menghilang.


 


 


“Oh, apa tentang diriku yang bisa bertahan dari siklus? Untuk versi diriku yang berupa Mother itu sebenarnya tidak bertahan, hanya saja saat dunia tercipta kembali aku mengirim versiku lagi ke dunia ini. Tentu saja dengan informasi sebelum siklus diikutsertakan karena kami saling terhubung.”


 


 


“Kami ...?” Odo tidak bisa menerima hal tak masuk akal seperti itu. Kalau apa yang dikatakan Korwa benar, semua penyebab kekacauan dunia memang berasal wanita di hadapannya itu. Karena bentuk kepribadian perempuan yang tercipta dari kepingan ingatan Odo yang dihapus, dunia keluar dari siklusnya sedikit demi sedikit.


 


 


“Ya, kami .... Sayangnya, untuk versi tubuh nyata ... informasi seperti itu tidak bisa ditampung oleh satu individu. Karena hal tersebut, dengan Mother yang diriku kirim terlebih dulu, aku menanamkan perintah pada versi lain diriku itu untuk membuat seribu wadah  untuk diisi oleh versi belia dari diriku yang berjumlah seribu. Meski mereka disebut anak-anak Korwa, sebenarnya mereka adalah kepribadianku yang lahir dari siklus pendek dimensi dasar.”


 


 


“Tunggu!” Odo menggaruk-garuk kepalanya dengan kacau, kepalanya mulai panas dan tidak bisa mengikuti pembicaraan dengan baik . “Itu ujung-ujungnya perlu dunia paralel, bukan? Bukannya dunia paralel sudah tidak ada?!” tanya Odo jengkel karena jawaban wanita itu tidak menjawab rasa bingungnya.


 


 


“Ah, apa engkau masih terpaku pada teori Banyak Dunia dan Mekanika Kuantum?”


 


 


“Eh? Bukannya itu teori yang paling tepat ....” Odo berhenti menggaruk kepala, rambutnya kacau dan mulai menatap Korwa dengan penuh rasa stres.


 


 


“Tidak ada yang paling tepat, dunia paralel hanya bagaimana tingkat suatu observasi tiap entitas. Observasi semesta satu ke semesta lain, terhadap super semesta yang ada. Nyatanya, dimensi lain juga bisa disebut dunia paralel.”


 


 


“Hah?!” teriak Odo seakan sel kepalanya ada yang putus.


 


 


“Membran, tempatnya teori Multivers Tipe Membran dan Dimensi Ekstra, kurasa engkau juga pernah mendengar itu?” ucap Korwa seraya menatap datar pemuda yang berdiri di hadapannya.


 


 


“Ah .... Serius? Itu juga ... berlaku?”


 


 


“Hmm, ketiga Tipe Multivers berlaku sebelum Rekonstruksi Dunia. Dari Terori Gelembung Alam Semesta yang dipengaruhi jarak observasi antar semesta dan lubang hitam, itu juga dapat menjelaskan mengapa alam semesta banyak bintang, galaksi, lubang hitam dan terbagi menjadi berbagai angkasa semesta. Dari teori paling dasar itu, bisa dikatakan kalau ada paralel lain yang jaraknya lebih jauh dari dunia yang dihuni atau ada juga sebuah paralel lain di dalam lubang hitam. Selain teori itu, seperti yang dirimu anggap benar ada juga teori Banyak Dunia dan Mekanika Kuantum ..., itu yang disebabkan oleh faktor kemungkinan seperti yang dirimu anggap benar!”


 


 


“Dia mengulangnya dua kali ....” Wajah Odo mengerut, seperti murid bandel yang sedang digurui.


 


 


Memalingkan pandangan, Korwa kembali menjelaskan, “Dunia paralel dalam teori ini tercipta karena seseorang mengambil pilihan berbeda dan membuat dunia bercabang-cabang, lalu ada kalanya dunia menjadi lebih maju daripada dunia cabang lainnya. Namun, setelah Rekonstruksi Dunia kedua potensi teori itu terhapus. Dimensi selain Dimensi Dasar tidak memiliki itu .... Itulah kenyataan dunia ini.”


 


 


“Kalau begitu ..., dalam Teori Membran yang aku lewatkan ....”


 


 


“Ya, yang dirimu lewatkan adalah Teori yang menganggap dimensi ekstra itu sebuah Multiverse. Teori ini seperti yang dirimu ketahui, dunia terbagi seperti lembaran-lembaran dalam sebuah buku yang diumpamakan sebuah super dimensi dan itu bertingkat berdasarkan susunan informasi, tertanam dalam super semesta tunggal ini. Inilah fakta dunia sebenarnya ....”


 


 


“Buku ..., sebuah penumpukan informasi dan terbagi dalam Cluster masing-masing. Hmm, kurasa aku mulai paham it—”


 


 


 


 


Tanpa memedulikan Odo, Korwa kembali menjelaskan, “Layaknya ketentuan hukum dunia yang ada, dimensi dasar tidak terkena Rekonstruksi karena menjadi fondasi. Seperti dalam pemahaman umum, dimensi utama yang ada sekarang sekitar lima lapis .... Dengan informasi untuk membentuk wujud fisik dan kesadaran. Namun, dimensi yang menjadi fondasi tidak memiliki itu. Sebagai gantinya, layaknya hukum dimensi dimana 2D bisa muncul di 3D, lalu 3D bisa muncul di 4D, tetapi hal sebaliknya tidak bisa, aku bisa melakukan kontak dengan dimensi di atasku. Karena itulah hal seperti pemanggilan Iblis atau Roh bisa dilakukan meski sangat terbatas. Itu karena jika entitas menyeberang ke dimensi lain, keberadaannya akan terganggu. Ingat ini, yang mempengaruhi lajur dunia bukan hanya waktu, tetapi juga ruang. Kalau ruang terpisah, waktu juga akan terpengaruh....”


 


 


Menutup mulut dengan telapak tangan, Odo mengangguk paham dan mulai bergumam, “Seperti lembaran-lembaran dalam buku .... Jika Dunia Nyata berada di atas dimensi lain seperti Dunia Astral, Iblis atau di bawahnya, memang ada ruang untuk mereka muncul kalau dipanggil .... Jadi itu konsep pemanggilan Roh atau Iblis .... Karena itu juga, tubuh manusia cenderung akan mengalami distorsi karena jumlah informasi lebih tinggi dan tidak lenyap seperti entitas dari dimensi lebih rendah masuk ke dimensi lebih tinggi ....”


 


 


“Begitulah, karena itu diriku hanya bisa menemui engkau dalam bentuk mimpi. Diriku yang semacam Main Server tidak punya fisik di dimensi ini. Meski membuat tubuh dan datang, diriku ragu bisa menjelaskan ini kepadamu karena batasan informasi.”


 


 


“Kurang lebih aku paham ....”


 


 


Odo mengangguk-angguk. Saat melirik ke arah Korwa, entah mengapa wanita itu terlihat seperti merajuk dan terus memeluk rambut kepangnya yang mengembang seperti bantal guling. Tidak memedulikan itu, Odo dengan serius melontarkan pertanyaan lain, “Kalau begitu ..., boleh aku tahu orang seperti apa aku ini di Dunia sebelum Rekonstruksi? Kenapa ... orang sepertiku terseret dalam sesuatu seperti ini? Memangnya apa yang kulakukan?”


 


 


“Ah ..., itu ....” Korwa sedikit tersentak, memalingkan pandangan dengan enggan. “Dirimu ... dulu adalah orang yang menentang Singgasana Sena—”


 


 


Sebuah sabit tiba-tiba diayunkan dari belakang Odo dan memenggal leher Korwa, membuat kepala wanita itu melayang ke udara dan rambutnya yang terpotong berserakan. Panik menoleh ke pangkal sabit besar itu, Odo melihat sosok bayangan hitam berdiri tegak dengan kedua mata menyala merah. Secara insting Odo sadar kalau itu keluar dari tubuhnya, tetapi itu bukanlah Auto Senses. Meski berbentuk humanoid, sosok seperti bayangan hitam itu membawa hawa malapetaka dan membuat pemuda rambut hitam itu tidak bisa bergerak atau berkata.


 


 


Kepala Korwa yang menggelinding tanpa mengeluarkan darah menatap tajam ke arah bayangan hitam dengan sabit itu. Memasang ekspresi sedih, ia berkata, “Engkau masih ... tak membiarkannya memilih, ya. Menyedihkan sekali ..., kau juga setengah-setengah sepertiku.”


 


 


“!!!”


 


 


Kesadaran Odo terlempar, pandangannya berubah gelap seketika. Sebelum dirinya sadar, sensasi jatuh pada lubang dalam terasa jelas dan membuat napasnya terasa sangat sesak.


 


\=========================================