
Layaknya setitik riak pada permukaan air tenang, segalanya berubah dan Odo tidak lagi berada di daerah pantai. Itu adalah sebuah tempat yang dikelilingi batu hitam lembab, pada keempat arah yang ada. Di langit-langit tempat adalah kristal-kristal cahaya, sedangkan permukaan yang dipijak seluruhnya adalah lempeng besi. Bangunan-bangunan terbuat di sekitar terbuat dari besi dan terlihat banyak sekali pipa-pipa logam yang berdesis mengeluarkan gas, menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lain.
Tempat penuh warna tersebut adalah sebuah kota koloni bawah tanah, tempat dengan kristal-kristal bercahaya yang menyala menggantikan matahari. Melihat kanan dan kiri, tempat yang ada benar-benar berbeda dengan peradaban abad pertengahan. Semuanya terlihat lebih maju meski memiliki arsitektur klasik, memiliki teknologi dan mekanik yang Odo tidak ketahui.
Berdiri di tengah sebuah pasar, Odo Luke dikelilingi oleh lalu-lalang para manusia dan Demi-human yang terlihat sedikit transparan seperti hologram. Tak butuh banyak waktu untuk paham kalau semua yang dilihatnya sekarang itu adalah sebuah pecahan dari ingatannya yang direbut.
“Tempat ini ...?” Odo segera bangun, mengusap air matanya dan mengamati sekeliling.
““Salah satu Kota Koloni Tipe Biologis, tempat yang seharusnya sangat berarti untuk Ayahanda.””
Suara yang seakan bergema itu terdengar, namun sumbernya tak bisa dilihat di manapun karena itu bersumber dari dalam kepala Odo sendiri.
“Odrania, apa ... ini dimensi dasar? Atau apa?”
““Tempat ini berada di planet yang dulu disebut bumi, di bawah tanah dari benua yang dulunya bersalju tapi sekarang menjadi gurun karena peperangan besar antar entitas.””
Benang informasi yang tadinya saling kusut dalam kepala seketika terurai jelas. Jawaban suara Odrania itu benar-benar membuat Odo mulai paham arti sebenarnya dari kehancuran dunia sebelum Rekonstruksi Dunia. Melihat sekeliling, pemuda itu kembali mengamati dan paham mengapa para manusia itu bisa tinggal di bawah tanah.
“Apa ... permukaan sudah tidak bisa dihuni lagi?”
““Iya .... Radiasi dan udara di permukaan sudah menjadi pantangan nyata bagi umat manusia di dunia ini. Karena langit telah direbut oleh mereka, Ayahanda dan semuanya tidak punya pilihan selain masuk ke dalam tanah seperti ini.””
Odo hendak melangkahkan kaki. Namun saat baru mengangkat kaki kanan dan hendak berpijak kembali, dirinya berpindah lagi dan sekarang berada di tempat gurun pasir dengan jarak pandang terbatas. Badai pasir lebat, udara pekat dan membuat tubuh rasanya terbakar. Meski efek itu tidak nampak pada tubuh Odo, namun sakit pada paru-paru saat menghirup udara tercemar terasa jelas. Wajah kesakitan terlihat padanya, memegang dada dan menatap dengan sedih.
““Ini adalah permukaan, tempat pantangan yang telah diciptakan alam. Manusia tak bisa bertahan hidup di sini, permukaan telah berubah menjadi ladang hidup bagi mereka para makhluk baru.””
Tepat berada di depan Odo, seekor monster berkaki empat berdiri mengerikan. Monster itu terlihat seperti singa—setinggi empat meter, memiliki ekor sabit besar melengkung seperti bulan ungu dan cakar logam berwarna keemasan. Taringnya hitam mengkilat, bulu tebal berwarna oranye tanpa corak terlihat tebal dan kuat bagai zirah pelindung.
Monster itu tidak melihat ke arah Odo, hanya berjalan lewat dan pergi bersama yang lainnya. Monster seperti itu tidak hanya satu atau dua ekor saja, rombongan yang jumlahnya lebih dari puluhan bergerak secara berkelompok menuju ke arah barat.
Tidak hanya monster seperti singa itu saja, namun jerapah, gorila, kambing, badak, dan berbagai hewan mutasi lainnya berjalan layaknya monster-monster mutasi tersebut adalah penguasa di daratan. Meski berbeda-beda jenis, mereka tak saling menyerang dan hanya menghirup udara tercemar dan radiasi di udara sebagai sumber tenaga.
Menjadi pusat sekaligus Induk dari mereka, seekor Jerapah setinggi dua puluh meter berjalan di pusat rombongan— dijaga oleh anak-anaknya yang beraneka ragam. Odo hanya bisa menganga, tak bisa langsung percaya kalau bumi yang dirinya tahu menjadi tempat seperti itu.
““Mereka adalah Mits, kehidupan yang tumbuh diberkahi tempat penuh radiasi ini.””
“Tumbuh di tempat radiasi?”
“Hmm, mereka hanya bisa hidup di tempat seperti ini .... Ayahanda, apa kau tahu sihir itu sebenarnya apa?”
Odo sejenak memalingkan pandangan, lalu dengan ragu menjawab, “Cara Memanipulasi Mana?”
““Lalu, apa dunia yang Ayahanda tahu dulu itu memiliki Mana?””
“Secara pemahaman Mana adalah kekuatan kehidupan. Kalau begitu, secara logika seharusnya ada ....”
““Namun hal seperti sihir tetap dianggap takhayul di dunia sebelum Rekonstruksi .... Itu tepat, dari awal sihir, keajaiban, berkah, mukjizat, kata-kata seperti itu identik untuk menggambarkan kejadian atau fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Saat sihir dikuak lebih dalam, itu akan berhenti menjadi sihir dan hanya menjadi sebuah pengetahuan ..., dengan kata lain teknologi.””
“Hmm?”
Odo mulai melangkahkan kaki, mengikuti para monster yang bergerak ke arah barat. Permukaan yang diinjak adalah pasir halus, penuh terasa panas dan seakan membakar kaki meski itu tidak bisa melukai tubuh Odo—hanya indranya yang dapat merasakan, namun tubuhnya tidak.
““Ayahanda, apa kau pernah mendengar ungkapan seperti ini? Dulu sekali orang-orang bahkan tidak bisa membayangkan bisa berbicara dengan orang lain tanpa bertemu. Namun pada abad 18 telepon ditemukan. Sedikit maju ke depan, pada masa perang dunia pertama tak ada yang mengira kalau nanti akan ada media yang bisa mengirim gambar atau bahkan video dengan mudah, namun beberapa ratus tahun kemudian ditemukan internet yang bahkan bisa mengabaikan konsep waktu dan jarak. Jadi, apakah Ayahanda merasa manusia mustahil untuk membuat segala sesuatu yang dianggap hanya sebatas imajinasi dan takhayul menjadi nyata?””
“Kalau ada waktu ... mungkin itu bisa. Tapi ....”
““Waktu yang dimiliki tiap manusia tak sebanyak itu, hasil dari perkembangan teknologi yang ada adalah hasil dari jutaan orang-orang yang pernah mencobanya .... Kembali ke bahasan awal, sihir, atau sesuatu yang Ayahanda sebut sihir itu sebenarnya apa?””
“A ..., jangan bilang itu teknologi? Semacam radiasi yang digunakan untuk mutasi muatan?”
““Hmm, benar tapi kurang tepat. Sihir adalah sebuah metode untuk menggunakan Unfar—sebuah partikel radiasi yang sekarang disebut Mana dan menyatu sifatnya dengan Ether. Itu mengisi seluruh dunia sekarang, memengaruhi makhluk hidup dan membuat mereka bisa menggunakannya dengan metode yang disebut Unmoc yang sekarang disebut dengan sihir.””
“Radiasi, ya ....”
Langkah kaki Odo sesaat terhenti. Berpikir sejenak, ia kembali melangkah sembari melihat-lihat aneka ragam monster raksasa yang berjalan ke arah barat. Induk-induk mereka mulai bermunculan di balik badai pasir, memiliki ukuran rata-rata 20 meter sampai 50 meter dan dikelilingi oleh ratusan monster berukuran sekitar 4 meter sampai 12 meter.
““Terkejut?””
“Tidak juga. Kalau dipikir dalam-dalam, sifat Mana memang seperti radiasi karena mengubah makhluk hidup secara mendasar. Peta DNA sedikit demi sedikit berubah dan itu mempengaruhi bentuk fisik. Tapi, bukannya mutasi seharusnya menyimpang dari bentuk awal? Kalau Mana itu radiasi, kenapa manusia tetap mempertahankan bentuknya sebagai manusia?”
““Manusia yang ada di dunia setelah Rekonstruksi sudah bisa bertahan hidup di tengah radiasi. Meski setelah Rekonstruksi Dunia terjadi, dunia tetap dipenuhi oleh Unfar yang layaknya radiasi itu sudah menjadi semacam oksigen. Berkat ikut campur Ibunda dalam unsur Tunggal. Unsur yang seharusnya berubah secara bertahap dan terjadi secara alami mulai diubah. Awalokiteswara, kalau diumpamakan Ibunda mungkin akan disebut seperti itu. Memberi sebuah kemurahan bagi makhluk hidup yang akan tercipta setelah kehancuran.””
“Dewi itu melakukan hal semacam itu, ya .... Hmm, jelas saja di berani bilang kalau dunia adalah miliknya.”
“Benar, dunia ini pada dasarnya ada karena dibangun olehnya. Meski sumber energi bukan darinya, namun dengan nyata Ibundalah yang membangun dunia ini. Dari itu, ia melakukan beberapa perubahan pada peta genetik makhluk hidup yang akan muncul, lalu lahirnya para makhluk yang bisa bertahan di tengah radiasi. Mereka diambil dari genetik manusia, berbentuk manusia dan ada juga yang memiliki unsur hewan atau makhluk lain dalam tubuh. Itulah alasan mengapa segala entitas berakal di dunia ini selalu ada yang memiliki bentuk tubuh seperti manusia.”
Odo melihat ke arah kanan dan kiri. Mencoba memegang Induk Monster raksasa, tangannya menebus tubuh monster itu dan sama sekali tidak bisa melakukan kontak fisik. Sedikit menghela napas, ia berkata, “Ah, Demi-human di distrik tadi ..., apa Demi-human sudah diciptakan sebelum Rekonstruksi Dunia?”
““Kurang lebih seperti itu .... Namun, tidak seperti sekarang, saat itu masih digolongkan secara sederhana. Manusia Murni dan Hibrida— itu pembagian sederhana antara manusia dengan genetik murni dan campuran.””
“Kalau sudah ada hal seperti itu, bukannya mereka seharusnya sudah bisa bertahan di permukaan?”
““Tetap tak bisa.””
“Apa karena para monster mutasi?” Odo kembali berjalan ke arah barat, bersama para monster raksasa yang tidak menganggapnya ada.
““Itu juga salah satu alasannya.... Tapi, fakta kalau kepadatan radiasi itu semakin tinggi membuat mereka sama sekali tidak bisa naik. Meski meningkatkan ketahanan secepat apapun dengan manipulasi genetik, hal seperti berkebun dan membuat pemukiman di permukaan hanyalah mimpi belaka. Terlebih lagi .... di atas sana ....””
Odo mendongak. Tepat di langit yang ditutupi awan-awan debu, melayang sebuah cakram raksasa yang dikelilingi para makhluk raksasa dengan empat pasang sayang di punggung mereka. Membawa tombak keemasan, para sosok raksasa seperti malaikat itu terbang di sekitar cakram raksasa bagai singgasana para Dewa-Dewi tersebut.
“Itu ..., apa itu Musuh Abadi yang kau sebut sebelumnya?”
“Eh?” Odo terbelalak.
“Dunia ini memiliki konsep dunia paralel yang sangat kompleks. Namun sebab dunia semakin menyusut dan energi sudah berhenti keluar dari Titik Permulaan, para entitas dari dunia yang paling maju menjelajah ke Paralel lain untuk mencari tempat baru setelah dunia mereka hancur. Mereka ... adalah sosok yang mengaku diri mereka dewa, sosok yang menyebarkan kepercayaan, pengetahuan, mengembangkan dan mengendalikan peradaban.”
“Eh? Seingatku tak ada yang seperti itu, loh! Memangnya duniaku dikuasai Alien?! Hmm, kalau paralel berarti dari entitas bumi di dunia lain, ya—Ah! Bukan itu intinya! Kenapa bisa duniaku seperti ini?!”
Odo membentak-bentak sendiri tanpa ada orang di sekitarnya, kalau ada orang yang melihatnya pasti dianggap tak waras.
““Itu diambil dari Ayahanda. Kalau Ayahanda mengingatnya, pasi sekarang Ayahanda akan langsung menyerang langit bagaimanapun caranya, layaknya dulu Ayahanda menyerang mereka sosok-sosok yang memonopoli dunia dengan pengetahuan.””
Pemuda rambut hitam itu terdiam dengan wajah bingung dan berkata, “Aku ... menyerang? Kenapa?”
“Ayah punya kecenderungan kuat pada ideologi dan kepercayaanmu sendiri. Saat dunia menjadi kacau karena galaksi tempat tata surya matahari ditarik lubang hitam, mereka yang di langit mengungkap jati diri dan dunia terbelah menjadi dua kekuatan. Langit dan penentangnya, ayah masih dalam pihak penantang ....”
“Eh? Aku?”
““Ya, sebuah kesalahpahaman ... yang lahir dari orang mabuk kepercayaan yang dibangunkan secara paksa membuat kekacauan. Mereka, orang-orang yang terlalu mencintai kepercayaan tidak mau percaya apa yang dihadapkan dan fakta yang ada. Sebuah kepercayaan memang candu yang sangat kuat untuk mengendalikan orang-orang, namun saat disadarkan mereka akan brutal dan menganggap yang menyadarkan adalah kafir dan salah.””
“Uwah, memang, memang.” Odo sejenak terdiam, mengingat kembali kasus-kasus yang dirinya ingat di kehidupan sebelumnya. Itu memang jelas, sebuah kesalahpahaman dan sifat rasis membuat orang-orang cenderung brutal. Menganggap diri mereka paling benar, tanpa rasa toleran dan memengaruhi yang lainnya layaknya sebuah pandemik.
Sedikit menundukkan wajah, pemuda itu berkata, “Kasus seperti itu sering ada .... Itu semacam Efek Dunning Kruger— efek bias saat seseorang tidak punya kemampuan untuk memahami keterbatasannya sendiri. Karena itu muncul semacam superioritas ilusif dan merasa hebat daripada orang yang sebenarnya lebih tahu darinya.”
““Hmm, semacam itu .... Ayahanda, aku baru tahu itu ....””
“Apa aku juga termakan efek itu?”
“Kurasa tidak ....”
““Eh? Lalu kenapa aku melawan langit?””
“Ayah lebih memiliki keyakinan sendiri .... Entah apa dan bagaimana caranya, Ayahanda tahu kalau yang maha mutlak adalah Titik Permulaan atau bisa disebut juga Perawalan dan merupakan entitas pertama yang muncul di tengah kehampaan.”
“Tunggu! Aku tak tahu soal itu!” Odo terkejut mendengar hal tersebut dan menghentikan langkah kaki.
““Ingatan itu diambil .... Sudah kubilang tadi, kalau Ayah tahu pasti sekarang Ayahanda akan menyerang langit dan menarik para makhluk angkuh yang duduk di singgasana Langit.””
“Kenapa bisa ....”
““Kenapa Ayah bisa tahu tentang entitas tertinggi itu?””
“Hmm ....”
““Itu tidak ada yang tahu, bahkan Ibunda tak tahu mengapa Ayahanda bisa mencapai kenyataan itu. Namun ... dalam Catatan yang pernah dibaca Ayah dalam ingatan ini, hal itu juga pernah terjadi—seorang Individu akan berdiri membalikkan kekuasaan palsu sebelum dunia berakhir.””
Odo benar-benar terdiam, menatap lurus ke arah para monster yang mulai meninggalkannya dan terus berjalan ke barat. Menghela napas ringan, ia berkata, “Dari cara bicaramu itu ..., rasanya itu seperti aku yang mengakhiri dunia ....”
“Dunia berakhir sendirinya layaknya hujan yang kelak akan reda. Namun, bagaimana caranya berakhir adalah perbuatan Ayahanda.”
“Memangnya apa yang kulakukan?”
““Aku tidak tahu .... Ingatan tentang itu tak ada pada kami. Namun, yang kami tahu dunia ini bisa ada karena ulah apa yang ditinggalkan Ayahanda dulu. Meski yang membentuk dunia berlapis dan bersiklus ini adalah Ibunda yang menggunakan Awal Mula yang baru saja muncul, namun yang meninggalkan cara adalah Ayahanda.””
Odo menyipitkan mata, pikirannya bergerak dengan cepat tanpa bantuan Auto Senses. Apa yang dikatakan Odrania benar-benar ditangkap dengan jelas dan membuat pemuda itu sadar dirinya terikat lebih rumit pada persoalan yang ada lebih dari yang dirinya kira. Layaknya rantai-rantai tebal yang sekaligus mengikat tubuhnya, semua kewajiban yang harus dilakukan terlintas dalam kepala Odo.
“Terus, sekarang kau ingin apa dariku? Apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada hal yang telah kulupakan itu? Korwa juga sempat bertanya semacam itu padaku soalnya ....”
““Tak ada, kami tak ingin Ayahanda terikat kewajiban lagi.””
“Saat kau memberitahu ini padaku, itu sudah menjadi kewajiban padaku.”
““....”” Odrania benar-benar terdiam, tak menjawab dan hanya keheningan ada dalam kepala Odo.
“Apa ... yang sekarang dilakukannya? Maksudku ..., makhluk yang kau sebut Ibunda itu.”
““Ibunda ..., dia sekarang menjadi pusat dunia. Ayah ..., mungkin ini terdengar egois, tapi boleh kami meminta sesuatu darimu? Kumohon ..., dengarkan saja tak apa .... Tolong dengarkan permohonan kami ini, anak-anak yang selalu merindukanmu dan terpengaruh oleh ingatanmu.””
“Terserah saja, katakan ....”
““Tolong bebaskan Ibunda dari kewajibannya sebagai Pemb—””
Sebuah tombak hitam tiba-tiba menembus dada Odo dari belakang. Itu terasa sakit, namun dampak dari tusukan tombak tersebut terpusat pada kesadaran Odrania pada diri Odo. Menoleh ke belakang, sosok bayangan hitam berbentuk perempuan itu berdiri di sana dan memegang tombak yang menusuk dada Odo.
“Begitu, ya .... Kau, semacam sistem untuk mencegahku untuk tahu,” ucap Odo.
Bayangan hitam itu terkejut, segera mencabut senjatanya dari tubuh Odo dan meloncat menjauh. Menahan rasa sakit yang hanya dapat dirasakan dengan indra dan tubuhnya tidak terkena dampak, Odo berbalik dan menatap sosok bayangan hitam itu dengan sorot mata dingin.
Sejenak terdiam, suara dari Odrania tidak terdengar kembali dan Odo benar-benar memastikan kalau kesadaran Raja Iblis itu terganggu karena tusukan tadi. Menghela napas panjang, Odo menunjuk ke arah sosok hitam tersebut dan berkata, “Imitasi, kau imitasi darinya, bukan? Kau menempel padaku ..., mencegahku untuk tahu! Masalahnya di sini hanya satu, aku tak butuh siapa kau ini! Hanya apa tujuanmu melakukan ini?!”
Sosok hitam itu terdiam. Mengubah tombaknya menjadi sebuah sabit raksasa, ia sama sekali tidak menyerang lagi atau masuk ke tubuh Odo seperti terakhir kali sosok itu muncul. Namun saat terasa kesadaran Odrania kembali, seakan mendapat sinyal bayangan itu bergerak cepat dan langsung memenggal kepala Odo. Kepalanya terpenggal dan melayang di udara, benar-benar terpotong rapi pada bagian leher.
““Tolong ... selamatkan perempuan itu .... Dia hanya seorang pemalu, tak berani bertemu Ayah langsung dan hanya mengamati dari kejauhan. Sangat menyedihkan jika semuanya berakhir tanpa titik terang, apalagi setelah apa yang dirinya lakukan untukmu, —!””
Suara yang terdengar dari Odrania benar-benar tersampaikan pada Odo, menggema dalam kepalanya dan dengan jelas dipahami apa arti dibalik hal tersebut. Satu kata yang tidak selesai keluar darinya bukanlah panggilan orang tua, melainkan nama asli dari Individu yang sekarang dikenal sebagai Odo Luke.
Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Odo Luke dalam benak menjawab, “Baiklah ....”