
Selesai mengajari anak-anak panti asuhan tentang Meditasi Jalan Permulaan, Odo dan Fiola pergi keluar dengan mengajak Firkaf—meninggalkan anak-anak lainnya yang masih melakukan latihan penyesuaian meditasi tersebut di panti asuhan. Tentu saja Mila dan Erial tidak ikut melakukan meditasi karena hal tersebut seperti olahraga berat, saat dilakukan secara berlebihan akan mempengaruhi pertumbuhan tubuh anak-anak dan tinggi badan mereka akan sulit bertambah.
Berjalan di daerah distrik pengrajin, Firkaf terlihat gugup dibawa keluar oleh Odo dan Fiola. Anak lelaki yang memang seorang kutu buku yang selalu membawa buku di dekapannya itu berjalan dengan menundukkan kepala, terlihat gelisah dengan sekitarnya. Melirik ke arahnya yang berjalan di belakang, Odo merasa kalau anak lelaki bermata keunguan dan memiliki rambut ikal tersebut memang yang paling kurang percaya diri daripada anak lainnya, bahkan melebihi Mila yang cenderung pendiam.
“Tak perlu menunduk-nunduk seperti itu, Firkaf. Santai saja, bukannya tadi kau yang memintaku dengan penuh rasa percaya diri?” tanya Odo.
“Itu ... karena saat itu situasinya memungkinkanku memintanya dari Tuan Odo, aku tidak tahu kalau Anda akan membawaku secepat ini ke tempat pandai besinya ....”
“Hmm, kau membaca suasana dengan baik, aku suka itu.” Odo kembali melihat ke depan, tersenyum ringan dan berkata, “Kalau begitu, santai saja! Ikuti alurnya, sedikit percaya diri. Kalau kau menunduk seperti itu nanti bisa diremahkan.”
“Aku menunduk bukan karena malu,” ucap Firkaf. Ia mengangkat wajah dengan mata sipit, tidak bisa terbuka lebar dan terlihat kesilauan. “Mataku agak buram saat siang karena cahaya matahari, makanya aku menunduk,” jelasnya seraya kembali menundukkan wajah.
Odo melambatkan langkah kaki, mendongak ke atas dan memang sekarang langit lebih terang dari biasanya meski masih tertutup sedikit awan dan salju sama sekali belum meleleh. Mengingat kalau musim semi masih jauh, Odo memprediksi kalau dalam waktu dekat akan ada mendung lagi dan badai akan datang.
Berbalik menoleh anak lelaki rambut cokelat ikal di belakang, Odo berkata, “Oh, masalah mata, ya .... Nanti kalau ada waktu aku akan buatkan kacamata untukmu.”
“Kacamata?” Firkaf bingung mendengar Odo tiba-tiba mengatakan hal tersebut.
“Sudahlah, ayo pergi ke tempat tujuan kita.”
Tidak memedulikan ekspresinya anak itu, Odo kembali melihat ke depan dan berjalan. Di sekitar distrik pengrajin seperti biasanya lebih sepi jika dibandingkan tempat lain di kota. Orang-orang yang datang ke tempat tersebut di musim dingin mungkin hanya mereka-mereka saja yang memiliki keperluan tertentu.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan Toko Senjata dan Bengkel Osel. Melihat papan nama di atas pintu masuk, wajah Firkaf berseri seakan dirinya sudah tahu nama bengkel tersebut. Menatap ke arah Odo, ia bertanya, “Anda kenal dengan Tuan Osel?”
“Eng, kurang lebih .... Kalau kau?”
“Tentu saja kenal! Pedang tempaan tempat ini sering digunakan oleh penjaga kota dan bahkan ada beberapa ksatria yang memesan dari tempat ini .... Tidak kusangka ternyata bengkelnya ada di sini, aku baru tahu ....”
“Aku juga baru tahu informasi semacam itu ....”
“Eh?”
Odo mengetuk pintu bengkel tersebut, melongok ke dalam dan melangkah masuk seraya berkata, “Permisi, paman?! Paman Osel?!”
“Tunggu! Gak usah teriak!” jawab seseorang dari belakang tempat tersebut.
Seorang Dwarf keluar dari bengkel yang berada di belakang toko. Ia terlihat kumuh, membawa balu tempa dan terlihat seperti belum mandi dari pagi. Bahkan jenggotnya terdapat debu bara, pipinya kusam dan pakaiannya sangat kotor dengan noda hitam dari batu bara.
“Oh, Bocah Luke ternyata .... Pas sekali, pedang yang kau pesan sudah siap tadi pagi.”
Dwarf tersebut berjalan ke balik meja Counter dan meletakkan palu di tangannya ke lantai, lalu naik ke atas kursi dan mengambil sebuah pedang terbungkus kain merah dari dalam kotak di atas meja. Segera meloncat turun dan berjalan ke arah Odo, ia membuka kain pembungkus dan menunjukkan hasil tempanya tersebut.
“Lihat, ini pedang pesananmu ....”
“Hmm, sempurna seperti yang kuharapkan.”
Menerima pedang tersebut dari Kov Osel, anak itu menggenggam gagangnya dan coba mengayunkan senjata barunya. Dalam segi bobot, pedang tersebut sesuai dengan harapan anak itu. Memeriksa permukaan yang terdapat unsur pola seperti retakan-retakan pada pedang, anak itu tersenyum ringan karena hal tersebutlah yang dirinya incar dari pemesanan pedang dari logam campuran itu.
“Bocah Luke, aku heran kenapa bisa muncul pola seperti itu? Awalnya aku kira itu produk gagal karena ditengah penempaan malah muncul retak. Tapi saat melalui proses pendiaman dan penurunan suhu setelah ditempa, ternyata bentuknya malah sangat keras dan ringan, bahkan pola seperti retak itu bertambah.”
Osel sedekap dengan wajah bingung, pria bertubuh kerdil itu menatap Odo dengan rasa curiga dan merasa heran dengan hasil karyanya sendiri. Melihat anak dari Keluarga Luke tersebut sibuk mengamati pedang, Osel kembali bertanya, “Mengapa bisa seperti itu?”
“Hmm? Kalau aku bilang apa yang Paman Osel lakukan itu sebuah ritual sihir, apa Paman akan percaya?”
“Ri-Ritual?!”
Osel terbelalak, Fiola yang berdiri di belakang Odo juga ikut terkejut. Huli Jing tersebut tidak mengetahui hal tersebut meski dirinya selalu mengawasi apa yang selalu Odo pikirkan dalam kepalanya. Tubuh Osel bergetar girang, perkataan Odo juga berarti menyatakan kalau anak itu telah memintanya untuk menempakan sebuah pedang sihir.
“Ya, lebih tepatnya salah satu metode Sihir Alkimia yang digabung dengan Sihir Roh.”
“Hah?! Aku tidak tahu hal-hal semacam itu, loh! Kenapa bisa hasil tempaku ....”
Berhenti mengamati pedang, anak itu menatap Osel dan berkata, “Bahan, apa yang digunakan untuk pembuatan ini kurang lebih mewakili sebuah ritual sihir.”
Pandai besi tersebut sama sekali tidak bisa menangkap perkataan Odo, setahunya bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pedang tersebut sama sekali tidak menggunakan logam khusus yang mengandung kekuatan sihir. Menatap tidak percaya, ia bertanya, “Memangnya ada apa dengan bahannya? Itu sangat biasa, loh. Tidak ada logam khusus.”
“Strip Steal secara struktur lebih kuat dari Spring Steal yang memiliki sifat elastis dan bisa menjadi bahan pegas, itu sudah melambangkan sebuah kekuasaan. Dengan kata lain, Raja dan para bawahannya. Bahan logam lain adalah rakyat, beraneka ragam dan komposisinya dalam pembuatan pedang ini menandakan wujud kekuasaan yang dipegang. Dari itu, sudah tercipta sebuah perlambangan negeri kecil dalam pedang. Tetapi sebuah negeri tidak akan bertahan tanpa penyangga, karena itu Elderberi sebagai simbol kehidupan dan kematian mengikat negeri tersebut. Bukannya pedang ini bertambah retakannya saat dipasang gagang?”
“Eng, memang. Tiba-tiba pedangnya bercahaya merah, lalu retakannya bertambah. Memangnya apa itu?” tanya pandai besi itu bingung.
“Cahaya merah, ya .... Berarti pedang ini atributnya memang api .... Hmm, apa karena ditempa menggunakan bara di musim dingin jadinya Roh Api masuk ....”
“Roh?!” Pandai besi tersebut benar-benar terkejut mendengar itu, Fiola yang berada di belakang anak itu semakin cemas mengetahui kalau pedang yang awalnya terlihat biasa-biasa itu ternyata menjadi pedang sihir luar biasa setelah selesai dibuat.
“Ya, Roh Api Tingkat Rendah,” ucap Odo ringan. Tersenyum tipis dan kembali mengamati pedang hasil pesanannya, ia menjelaskan, “Mereka tidak memiliki kepribadian sehingga sering berkeliaran di Dunia Nyata. Pada musim dingin seperti ini habitat Roh Api cenderung berkurang, mereka lebih suka berkumpul pada tempat bersuhu tinggi. Jadi kupikir mereka pasti ada di sekitar tungku penempaan yang sering digunakan di musim dingin seperti ini.”
“Lalu kenapa bisa itu masuk ke pedang itu?” tanya Osel dengan bingung.
“Kerajaan mengundang pendatang dan tetangga, mereka adalah tamu di pedang ini dan meminjamkan kekuatannya.”
Odo berbalik ke kanan, lalu mengayunkan pedang di tangan kanannya secara vertikal. Dalam ayunan sekilas pola retakkan bercahaya, seperti bara api dan partikel-partikel kemerahan sedikit tersebar di sekitar mata pedang. Meski pedang menyala merah bagai bara, gagang kayu dari pedang itu tidak terbakar dan sama sekali tidak mengalami kerusakan seakan menyatu dengan mata pedang.
“Lihat ..., keren bukan? Meski tidak seperti pedang sihir api yang pernah dibuat ibuku, ini memiliki fungsi tertentu sesuai cara penggunaannya.”
“Aku ... dimanfaatkan oleh bocah untuk menempa sebuah pedang sihir,” ucap Osel dengan senyuman pasrah, keringat dingin mengalir dan wajahnya terlihat sedikit pucat.
Melirik ke arah pria kerdil itu, Odo tersenyum dan berkata, “Jangan berkata seperti itu. Paman mendapat metode pembuatannya, jadi anggap saja kita impas.”
“Yah, memang benar.” Menatap Odo dengan sedikit cemas, pria itu berkata, “Tapi ... apa ini tidak masalah? Kau tahu, Bocah Luke .... Teknik pembuatan pedang sihir .....”
“Tak perlu cemas, itu asli metode buatanku sendiri. Soal hak monopoli pembuatan senjata macam itu tak perlu cemas,” ucap Odo santai. Menghadap Osel dengan heran karena merasa ada yang kurang, ia bertanya, “Ngomong-omong, sarung pedangnya?”
“Ah, itu ....” Osel memalingkan pandangan, sedikit merasa bersalah karena beberapa hal. “Apa yang kubuat tidak bisa menjadi sarung pedang itu, kayunya tiba-tiba menghitam dan hancur menjadi abu saat aku menyarungkannya,” ucap pandai besi tersebut. Mengangkat kain dan menunjukkannya kepada Odo, ia berkata, “Kain ini juga sebenarnya sedikit khusus, makanya bisa membungkus pedang itu.”
“Hmm, apa Paman menggunakan bahan untuk sarungnya dari pohon yang berbeda?”
“Entahlah, aku hanya menggunakannya dari persediaan kayu Elderberi milikku. Mungkin saja iya ....”
Memegang dagu dan sedikit memalingkan pandangan, Odo sedikit paham dengan hal tersebut dan berkata, “Jelas saja, itu sama saja memasukkan minyak ke dalam api. Fenomena ini menjadi dasar dari ritual seharusnya. Kalau sarungnya tidak hancur, maka pedangnya akan hancur.” Melirik ke arah pandai besi itu dengan tatapan datar, ia menyarankan, “Lain kali pakai kayu dari pohon yang sama, ya ....”
“Eng ..., baiklah. Tapi Bocah Luke, itu bagaimana?” Menunjuk pedang yang dipegang Odo, pandai besi itu bertanya, “Pedang itu terus-terusan memancarkan suhu panas dan bisa membakar dengan cepat meski tidak mengobarkan api, loh. Mau di simpan di mana?”
“Hmm?” Odo tidak terlalu mendengarkan pertanyaan pandai besi tersebut. Anak itu menusuk jari manis kanannya dengan ujung mata pedang, lalu sedikit mengalirkan darahnya ke permukaan tajam senjata tersebut. Darah menyerap, pola retak menyala merah sekilas dan menghilang dari permukaan mata pedang.
“Dengan ini selesai ....”
“Yah, kurang lebih semacam itu. Ini mengandung Roh meski itu masih tingkat rendah, tentu saja masih bisa dikontrak.”
Menepuk keningnya sendiri, Dwarf itu merasa telah bekerja sama dengan anak yang tidak henti-henti membuatnya terkejut. Menatap dengan senyum kecil, ia bertanya, “Jadi, kamu tidak berniat cuma-cuma memberikan hal seperti ini padaku, bukan? Teknik menempa pedang sihir sudah luar biasa, apa lagi senjata roh yang bisa dikontrak seperti itu ....”
Tersenyum ringan mendengar itu, Odo pun berkata, “Aku lega Paman cepat tanggap.”
Berbalik untuk memperkenalkan Firkaf, anak yang selalu membara buku itu malah pergi ke sudut ruang untuk melihat-lihat hasil tempaan yang dipajang pada dinding. Sebagai ganti Fiola menatap datar Odo, merasa sedikit resah dengan metode pembuatan senjata sihir yang anak itu berikan pada pandai besi Osel tersebut.
“Jangan menatapku seperti itu, Mbak Fiola.”
“Anda bisa saja tiba-tiba ditusuk dari belakang lagi dengan senjata seperti itu, dari metode dan kekuatan yang Anda berikan kepada mereka.”
“Senangnya, dikhawatirkan seperti itu ....” Odo hanya tersenyum ringan mendengar peringatan itu.
“Tuan ...!”
“Ya, iya, aku paham ....”
Odo berjalan ke arah Firkaf yang terpukau dengan pajangan hasil tempat pada dinding bengkel tersebut. Menepuk pundak anak itu, Odo berkata, “Sudah, sudah, ingat tujuanmu ke sini.”
“Ah, maaf, Tuan Odo ....”
Kembali menghampiri Osel, Odo memperkenalkan Firkaf, “Paman, bisa tolong didik anak ini menjadi pandai besi? Bila perlu, jadikan saja penerus bengkel ini juga aku tidak keberatan. Paman sedang membutuhkannya, bukan?”
“Eh?!”
“Eh?!”
Mereka berdua sama-sama terkejut, sama sekali tidak mengerti mengapa Odo bisa berkata seperti itu dengan entengnya.
“Tunggu, tunggu! Kenapa tiba-tiba? Dan juga, siapa anak itu?! Anda tidak bisa secepat itu memasrahkan anak ini kepadaku,” ucap Osel dengan panik.
“Dia salah satu anak dari Panti Asuhan Inkara, namanya Firkaf. Dia bercita-cita menjadi pandai besi, pengetahuannya tentang logam sudah lumayan dan potensi sihirnya cukup di atas rata-rata. Bisa tolong latih dia?” jelas Odo dan pintanya dengan sangat efisien. Anak rambut hitam itu kembali fokus pada pedang di tangan, sama sekali tidak melihat ke arah pandai besi itu atau Firkaf.
“Inkara ...? Tempat dari biarawati itu ....”
“Ada apa?” Odo sedikit melirik saat mendengar nada kurang senang itu.
“Enggak masalah, baiklah. Kalau itu permintaan Tuan Odo, akan aku usahakan. Tapi ....” Menatap ke arah Firkaf dan mengamati anak bertubuh kurus tersebut, Dwarf itu sedikit menghela napas dan berkata, “Nak, kau harus melatih otot juga! Pandai besi itu bukan mengandalkan pengetahuan saja! Kekuatan dan keahlian yang paling dibutuhkan! Latih ototmu!”
“I-Iya!! Siap, pak!” jawab Firkaf, ia menegakkan postur berdirinya dan sedikit gugup mendapat perintah Osel.
Saat mereka mengobrol kecil tentang masalah Firkaf yang akan dijadikan murid dan beberapa hal lainnya, seseorang masuk ke dalam toko pandai besi tersebut. “Permisi, Tuan Osel. Apa pedang milik saya sudah siap?” Melihat ke sumber suara, yang datang ternyata adalah Lisiathus Mylta.
Melihat Odo ada di dalam tempat tersebut, perempuan itu sempat terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan kanan, mata sedikit terbuka karena itu. “Oh, ya ampun. Kenapa Tuan Odo ada di sini?” tanya perempuan rambut merah darah tersebut.
Berbalik menghadap Walikota Pengganti itu, Odo tersenyum ringan dan dengan ramah menjawab, “Pesan sebuah pedang ..., kalau Nona Lisia?”
“Perawatan beberapa pedang, saya ingin menggunakan senjata dalam kondisi prima nanti saat diperlukan.” Ia tersenyum tipis dengan wajah sedikit berseri. Melihat itu, Odo langsung tahu kalau suasana hati perempuan itu sedang baik.
“Oh ..., begitu.” Anak rambut hitam itu tidak terlalu memedulikannya. Kembali berbalik, ia menatap ke arah Kov Osel dan berkata, “Kalau begitu, aku titip dia, Paman.”
“Ouh! Tentu!” ucap pandai besi itu dengan semangat. Meski tidak dikatakan secara langsung, dirinya sedikit senang mendapat murid yang harus diajarinya dan diajak berbagi ilmu.
Menatap datar ke arah Firkaf, Odo bertanya, “Kau bisa pulang sendiri nanti, ‘kan?”
“Ya!”
“Jangan sore-sore pulangnya, ya. Kalau mau ke sini lagi selalu izin sama Kak Siska.”
“Hmm, tentu saja, Tuan Odo! Terima kasih banyak, aku sangat bersyukur Anda mau memperkenalkanku kepada Tuan Osel dan memintanya menjadikanku muridnya.”
“Hmm, kalau begitu aku pergi dulu.”
Odo berbalik, lalu berjalan melewati Lisia dan pergi keluar. Saat sampai di pintu dan hendak keluar bersama Fiola, tangan anak itu digenggam Lisia dan langkah kakinya dihentikan karena itu.
“Tunggu dulu, Tuan Odo. Bisa bicara sebentar?”
Odo menoleh. Saat tangannya dilepaskan perempuan itu, ia bertanya, “Hmm, soal apa?”
“Kenapa Anda di sini? Dan juga, pedang di tangan Anda itu ....” Merasakan aura aneh dari pedang tanpa sarung tersebut, Lisia sempat merasa curiga dengan apa yang dilakukan anak itu. Pikiran negatif dan prasangka memenuhi kepalanya, membuat ekspresinya sedikit gelap.
Melihat Fiola yang bereaksi tidak senang saat melihat Lisia, Odo sedikit menghela napas dan berkata, “Sudah aku beritahu tadi, bukan? Aku memesan pedang di sini, apa ada masalah dengan itu ....”
“Memang tidak ada ..., tetapi ini ....” Lisia menggenggam lengan Odo yang memegang pedang, lalu mengangkatnya, “Senjata sihir, bukan?”
“Lepaskan tanganmu dari Tuan Odo,” ucap Fiola. Perempuan rambut cokelat kehitaman itu memaksa Lisia melepaskan tangannya dari anak itu, lalu memberikan tatapan permusuhan seakan memang perempuan bernama Lisia itu adalah musuh alaminya.
“Apa-apaan kamu? Memangnya siapa kau melarangku bicara dengan Tuan Odo?” Perempuan rambut merah itu menatap kesal, merasakan dorongan permusuhan dengan Fiola.
Melihat reaksi Lisia yang seperti itu, dirinya baru ingat kalau perempuan itu belum tahu identitas Fiola yang sebenarnya. Ingin mencegahnya, tetapi Fiola terlebih dulu berkata.
“Saya Shieal ....”
“Eeeeh?” Lisia tidak percaya, menatap datar dengan sedikit kesal.
“Saya Fiola, Shieal dengan jabatan tertinggi. Sudah hak dan kewajiban saya menjaga Tuan Odo,” tegas Huli Jing tersebut.
“Nona Fiola itu seorang perempuan anggun dan seorang Huli Jing, bukan anak kecil sepertimu!” ucap Lisia dengan kasar seraya menunjuk gadis rambut cokelat kehitaman tersebut.
“Tch! Ini salah satu wujud saya!” tegas Fiola sekali lagi.
“Hah? Jangan bohong, kamu paling seorang pelayan di Mansion itu, bukan?”
Setelah itu, mereka berdua pun pada akhirnya mulai berdebat. Menghela napas dengan penuh rasa resah melihat tidak akurnya mereka berdua, Odo sedikit menggelengkan kepala. Dirinya paham kalau sifat Fiola dan Lisia memang tidak bisa akrab kalau mereka saling berbicara, karena itu dulu saat pertama kali Fiola mendampingi Odo untuk berbicara dengan perempuan itu ia meminta Huli Jing tersebut untuk tidak berbicara dan hanya duduk diam.
Di tengah perdebatan itu, Odo menyembunyikan hawa keberadaannya dan melangkah keluar dari tempat tersebut. Tidak ada yang menyadari anak itu telah pergi keluar, mereka tahu Odo sudah tidak ada di tempat setelah beberapa menit berdebat.
“Saya memang Shieal yang mendapat wewenang tertinggi, benar begitu, Tuan Odo?” tanya Fiola. Tetapi saat menoleh ke arah tempat yang seharusnya Odo berdiri di sana, anak itu sudah menghilang dan perempuan itu baru benar-benar sadar telah lengah.
Tanpa memedulikan perempuan yang diajaknya berdebat, gadis berpakaian kimono itu segera berlari keluar dan melihat kanan kiri mencari sosok Odo. Anak itu tidak ada di mana-mana, wajah Fiola semakin cemas karena telah melepaskan anak itu dari pengawasannya.