
Catatan Pembuka :
Yoi, sudah lama aku tidak update. Semoga ada yang masih ingat seri ini.
Author minta maaf karena baru bisa update. Yah, tahu sendiri masa pandemi begini. Perlu beberapa penyesuaian dan lain-lain
Untuk awal bakal update 3 part dulu, terus bakal maraton setiap hari sampai beberapa part ke depan.
Jika ada yang lupa ceritanya, saya sarankan baca ulang Arc 02 nya atau beberapa chapter ke belakang.
Karena ini kilah balik beberapa CH nya.
Sekian kawan …..
\=================================
Itu merupakan sebuah masa pada ribuan tahun yang lalu, ketika daratan besar mulai kembali menampakkan darinya ke permukaan setelah ditenggelamkan oleh Leviathan ⸻ Sang Naga Laut Agung yang pada masa tersebut juga telah dikenal sebagai simbol kemurkaan para makhluk ilahi. Sebuah perwujudan dari kehendak Arsh.
Para makhluk yang selamat membuat klan-klan mereka sendiri, membentuk sebuah negeri dan saling bahu-membahu untuk keluar dari masa kritis ketika dunia terendam air selama ribuan tahun.
Menunjuk pemimpin, membangun hierarki pemerintahan, lalu menciptakan tatanan masyarakat yang kukuh.
Mereka membuat larangan untuk turun ke laut lepas. Memilih untuk membuat ladang dan peternakan, lalu membuat batasan sejauh mana mereka bisa mengarungi laut. Masyarakat setelah banjir besar tersebut hanya tinggal pada sebuah pulau, di tengah hamparan lautan luas yang tak berujung.
Namun beberapa puluh generasi berikutnya, permukaan air yang mengurung mereka di pulau tersebut lambat laut semakin turun. Lalu ditandai sebuah gempa yang amat besar sampai membuat gelombang raksasa, permukaan air surut sangat jauh dari tempat mereka dan sebuah daratan baru terbuka.
Orang-orang di sana seketika tahu kalau selama ini mereka telah tinggal di puncak sebuah gunung yang amat tinggi. Ketika surut, mereka pun sadar bahwa leluhur mereka pernah tinggal di bawah sana dan menguasai semua yang selama ini tergenang dalam air.
Bekas peninggalan seperti bukit serta gunung yang dipahat menjadi istana, situs-situs ritual dan berbagai macam jejak peradaban dapat mereka lihat dari atas.
Penduduk dari puncak ⸻ Mereka yang berasal dari tempat yang dulunya sebuah pulau itu terdiri dari berbagai ras seperti Manusia, Elf, para Demi-human, Keturunan Naga, dan berbagai macam ras berakal dan beradab lainnya.
Menyadari adanya tempat baru setelah air surut ribuan kilometer dari tempat mereka tinggal, satu persatu dari Patriark (kepala keluarga) penduduk puncak turun dari pegunungan membawa keluarga mereka dan mulai membentuk wilayah-wilayah mereka sendiri di bawah sana.
Membangun negara, memulai masyarakat baru dan tak lagi menggunakan pembatasan jumlah tingkat kelahiran karena wilayah yang mereka miliki sekarang sangatlah luas. Sampai-sampai kaki mereka tak kuat untuk menjelajahi seluruhnya. Namun beberapa puluh tahun setelah mereka turun dari puncak dan membangun sebuah negeri di bawah, sebuah fakta mengerikan menghampiri mereka.
Penghuni dari tempat yang datangi bukanlah mereka saja. Monster ⸻ Makhluk mutasi dari dasar laut mulai beradaptasi dan naik ke permukaan. Layaknya para ras yang berasal dari puncak, para makhluk dari pedalaman laut tersebut mulai mengubah tubuh mereka sendiri karena paksaan alam untuk bisa tinggal di daratan.
Tentu saja makhluk-makhluk seperti mereka tidak bisa diajak bicara atau hidup berdampingan. Korban satu persatu jatuh dan menjadi mangsa bagi para makhluk yang dalam sejarah dikenal sebagai Deep One tersebut.
Evolusi para monster sangatlah cepat, mereka meniru para hewan dan ras lain di daratan. Tak kurang dalam satu dekade, bermunculan banyak jenis monster yang telah bisa tinggal bebas di daratan dan berkembang biak dengan sangat cepat.
Menyadari perbedaan besar mereka dengan para monster, ras-ras dari permukaan mulai berperang untuk melindungi negeri dan keluarga mereka. Ketika masa peperangan untuk bertahan hidup tersebut berlangsung, hubungan yang terjalin dengan keluarga mereka di negeri lainnya terputus karena jalur transportasi benar-benar dikuasai populasi monster.
Perbedaan kekuatan antara ras dari puncak dan para monster terlalu lebar, dalam hal jumlah juga demikian. Perkembangbiakan para monster puluhan kali lebih cepat. Setiap kali para monster memangsa, mereka akan bermutasi dan menjadi lebih kuat. Layaknya para monster tersebut memang telah tercipta untuk memangsa para ras yang berasal dari puncak tersebut.
Satu-satunya kelebihan ras dari puncak adalah akal mereka. Kecerdasan dan pengetahuan menjadi satu-satunya hal yang tak bisa para monster tiru dengan cepat.
Meski begitu, ras dari puncak tetap kalah telak dari para monster-monster yang memiliki kekuatan dan ciri khas sangat bervariasi. Monster-monster tersebutlah yang pertama kali menggunakan kekuatan yang disebut Sihir ⸻ Sebuah manipulasi energi kehidupan dalam raga yang disebut Mana, lalu digunakan untuk menciptakan fenomena alam buatan dan mengendalikannya. Tak semua monster bisa menggunakan itu, sihir yang bisa mereka gunakan pun hanya sebatas membuat api atau menembakkan energi kinetik saja.
Bertahun-tahun, berpuluh tahun, sampai beratus tahun berlalu dan beberapa generasi terlewat. Saat waktu berlalu seperti itu, para ras dari puncak hanya bisa membangun benteng dan mengisolasi kota mereka dari dunia luar. Ketika masa-masa itulah generasi baru mereka melupakannya, bahwa mereka para ras berakal adalah keluarga dan berasal dari tempat yang sama.
Sejarah mereka hilang karena para Patriark banyak yang terbunuh sebelum bisa menceritakan kebenaran kepada cucu-cucu mereka. Buku serta catatan terbakar sampai-sampai yang bisa menulis dan membaca hanyalah mereka yang terpelajar. Setiap negara yang terpencar berubah menjadi pengecut dan menjadi penutup, mencurigai orang-orang yang datang dari luar meski sebenarnya mereka adalah keluarga jauh mereka.
“Kita makmur di sini! Asal kita tak memprovokasi para monster itu, kota ini akan aman!”
Para Raja Kota mengutarakan hal-hal semacam itu dan benar-benar berubah menjadi pengecut. Namun, itu juga merupakan salah satu pilihan yang tepat daripada harus mengirim para anak muda keluar hanya untuk terbunuh.
Para monster tidaklah secerdas mereka untuk membuat kelompok antar ras, karena itulah para monster memiliki kecenderungan akan saling bertarung satu sama lain jika bertemu dengan kelompok monster lainnya atau teritorial mereka terganggu.
Saling membunuh, saling memangsa, dan saling menghancurkan. Seakan memang ekosistem berjalan seperti itu, para monster yang dulunya berkembang sangat pesat jumlahnya menjadi tidak bertambah banyak lagi. Posisi mereka menjadi layaknya hewan pada umumnya, hanya ada di alam dan menjadi bagian dari ekosistem.
Mereka tidak berburu hewan-hewan yang turun bersama ras dari puncak, para monster hanya memangsa satu sama lain atau lawan dari ras lain. Meski ada yang memburu hewan untuk dimakan, monster yang melakukan hal semacam itu hanyalah yang tidak berkelompok atau keluar dari kelompok mereka.
Namun setelah seribu tahun berlalu sejak ras dari puncak turun, sebuah perubahan besar kembali terjadi. Lautan yang dulunya membenam daratan kembali surut, lalu muncullah sesuatu yang membawa petaka dari tempat tersebut.
Ketika air surut, gempa terjadi sampai permukaan tanah bergetar, badai menerpa, lalu petir menyambar gunung sampai membakar hutan dan iklim ekstrem menghampiri mereka selama satu dekade.
Apa yang muncul dari daratan baru bukanlah berasal dari dunia mereka, melainkan dari tempat lain yang amat jauh. Iblis ⸻ Begitulah mereka memperkenalkan diri kepada para ras berakal yang telah tinggal di daratan. Para iblis tidak memiliki bentuk fisik di dunia nyata tersebut, mereka merasuk ke dalam monster dan mengambil alih tubuh untuk bisa mempertahankan kehidupan mereka.
Layaknya jiwa mereka memang begitu kuat dari awal, setiap monster yang dirasuki para iblis mulai berubah secara fisik dan menjadi mirip seperti manusia. Berjalan menggunakan dua kaki, memiliki dua tangan, namun masih meninggalkan ciri berupa tanduk, ekor dengan ujung runcing, dan warna kulit yang mencolok.
Itulah yang dikatakan sang Raja dari para Iblis tersebut kepada Raja Kota. Ia memiliki kulit, rambut, dan mata berwarna merah gelap. Wujudnya mirip seperti monster, namun berdiri dengan dua kaki dan mengenakan pakaian rapi layaknya makhluk beradab. Seratus lebih iblis yang ikut bersamanya pun berpenampilan tak jauh berbeda, membawa barang-barang aneh yang dibuat dengan pengetahuan dari tempat yang sangat maju.
Tentu saja tidaklah mudah bagi para ras dari puncak menerima iblis-iblis tersebut. Setiap kali menghampiri kota, para iblis itu diusir karena mereka terlihat seperti monster dan sangat menakutkan bagi para penduduk kota. Ras Elf, Demi-human, Deity, Manusia, dan berbagai ras lainnya dari kota besar sampai kecil mengusir mereka.
Tak jarang juga mereka diserang oleh penduduk saat datang ke sebuah kota, sampai-sampai ada dari pihak iblis yang terbunuh dan jiwa mereka lenyap. Ada beberapa dari mereka yang memilih untuk kembali ke Neraka dan pasrah tinggal di kampung halaman mengerikan tersebut. Raja Iblis merupakan sosok pemimpin yang bijak, ia dengan lapang dada membiarkan para pengikutnya yang ingin berhenti dan pulang ke kampung halaman.
Lalu, tersisalah sekitar 100 iblis yang terus melanjutkan perjalanan di dunia nyata bersama sang Raja Iblis. Namun ketika hampir satu abad para iblis itu berkelana dari kota ke kota dan melewati marabahaya para monster, sebuah kota di ujung daratan memberikan perlakuan berbeda kepada mereka. Raja Manusia di sana mau menemui sang Raja Iblis dan para iblis pengikutnya, lalu menerima tawaran mereka dengan beberapa syarat.
Hal tersebutlah yang membuat ras manusia dikenal lebih mudah digoda oleh para iblis dan para iblis pula lebih suka mendatangi mereka. Bukan dalam artian buruk, namun memang apa yang ditawarkan oleh para iblis merupakan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan oleh orang-orang di tempat tersebut.
Iklim yang sulit membuat kelaparan dan tanaman tak bisa tumbuh dengan baik di ladang, karena itulah para iblis memberitahukan cara membuat pupuk untuk menyuburkan tanah dan sistem irigasi.
Wabah penyakit datang bersama angin, membunuh banyak orang hanya dengan hembusan. Namun, para iblis membuat obat-obatan untuk menyembuhkan mereka sebelum jatuh banyak korban.
Perselisihan muncul karena perbedaan kepentingan. Pada malam harinya sang Raja Iblis datang ke istana untuk berbisik kepada sang Raja Manusia. Ketika pagi datang, masalah tersebut selesai dengan cara damai dengan sebuah kebijakan baru yang dibuat.
Karena menerima para iblis, kota tersebut menjadi paling maju daripada yang lain. Iblis dihormati di tempat tersebut, dianggap sebagai penyelamat dan utusan ilahi. Kota-kota lain menjadi iri, menyesal dan ingin para iblis tersebut juga datang ke tempat mereka.
Permintaan tersebut kebanyakan datang dari para Raja Manusia dari kota lain, lalu tentu saja itu disetujui dan pengetahuan yang iblis miliki menyebar dengan sangat cepat.
Para monster tidaklah mereka takuti lagi. Pedang, tameng, panah, dan senjata-senjata untuk membunuh mereka dengan mudah dibuat dan teknik-teknik untuk menggunakannya dikembangkan dengan pesat. Monster yang dulunya menjadi predator puncak seketika lengser, hanya menjadi makhluk buruan bahkan ada beberapa yang dijadikan bahan makanan saat tahu beberapa dari mereka memiliki daging yang enak.
Pada saat itulah masa kejayaan para monster berakhir.
Para Drake dan Wyvern dijinakkan, menjadi tunggangan mereka dan dunia luar kembali terbuka bebas untuk orang-orang yang dulunya hanya bisa tinggal di dalam kota. Sejak iblis membantu ras-ras dari puncak tersebut, peradaban berkembang pesat dan mereka makhluk berakal menjadi sosok yang kembali berdiri di puncak hierarki pemangsa di daratan.
Namun dua abad masa perkembangan pesat tersebut, hal lain mulai tumbuh dalam hati masyarakat. Rasa percaya yang bercampur dalam benak mulai berubah menjadi rasa takut, cemas, dan perlahan rasa iri pun menjadi kebencian yang diarahkan kepada para iblis.
“Kenapa mereka bisa hidup sampai selama ini?”
“Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka berbeda dari kita?”
“Apa tujuan mereka? Kenapa mereka mau membantu kami sampai sejauh ini?”
“Iblis itu sebenarnya apa?”
“Dari mana mereka berasal?”
“Apa kita tak masalah mempercayai mereka seperti ini? Makhluk seperti mereka ….”
“Menjijikkan, lihat warna kulit dan rambut mereka!”
“Bentuk mereka mengerikan!”
“Kenapa makhluk seperti itu bisa masuk ke pemerintahan? Usir saja mereka!”
“Kita sudah tak butuh para iblis! Mereka terlalu berbahaya!”
“Pengetahuan mereka terlalu berbahaya! Bisa saja kita dikendalikan mereka!”
Generasi ke generasi, sebuah stigma terus memapar para iblis dan sebagian besar ras dari puncak menganggap para iblis sebagai hama. Namun ada beberapa juga negeri yang masih menghormati mereka, menginginkan mereka untuk tetap hidup berdampingan. Meski telah muncul ketidakpuasan dari masyarakat, konflik besar berhasil dicegah dengan kebijakan dari Raja Iblis dan saran-sarannya kepada para Raja Kota.
Namun pada suatu malam, Raja yang merupakan keturunan dari Raja Manusia yang pertama kali menerima para Iblis bertanya, “Kalian sebenarnya apa? Kenapa kalian membantu kami sampai sejauh ini? Kalian lebih cerdas dan kuat dari kami, lantas apa yang membuat kalian menganggap diri kalian lebih lemah dari kami sampai menginginkan perlindungan?”
Raja Iblis yang mendapat pertanyaan tersebut hanya tertegun. “Inilah manusia,” benak sang Raja para iblis tersebut ketika melihat ekspresi takut keturunan pria yang menerima bangsanya.
Raja Iblis tidak menjawab pertanyaan tersebut, lalu langsung keluar dari tempat singgasana dan pergi dari kerajaan.
Sadar akan perubahan tersebut, sang Raja Iblis segera mengumpulkan para pengikutnya pada satu tempat dan mengungkapkan. Ia telah memutuskan dalam benak kalau masa dari para iblis tinggal di Dunia Nyata telah berakhir, begitu juga misi yang mereka emban dari Raja Iblis Kuno dan sosok pembimbing mereka dari Neraka.
“Kita telah meninggalkan keturunan di tempat ini, kita telah memberikan pengetahuan sebagai ungkapan rasa terima kasih. Namun seperti yang Ibunda dan Yang Mulia Odrania Dies Orion katakan kepada kita, manusia memang makhluk yang kuat. Namun itu hanya secara fisik, keteguhan hati mereka sangatlah rapuh. Sebelum malapetaka datang, mari kita akhiri ini dan kembali! Kita telah menaburkan bibit untuk kedatangan Ayahanda. Mari kembali … ke kampung halaman kita!”