
Kembali menatap ke arah Dart, sang Penyihir Cahaya sejenak menarik napasnya dan berusaha mendapat pikiran jernihnya kembali. Berusaha membenamkan amarah yang membara dalam benak.
Sembari menurunkan tongkat beserta tekanan sihir, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Kau Ayahnya, bukan? Seharusnya kau sadar kalau pemuda itu adalah Odo. Kenapa kau menolaknya seperti itu? Apa karena cemas dengan cara pandangan para bangsawan dan Tetua Kerajaan? Sejak kapan kau mulai peduli hal-hal semacam itu …, melebihi putramu sendiri ….”
Sebelum bisa menyelesaikan perkataan dengan tenang, kesabaran Mavis seketika habis. “…. Melebihi keluargamu sendiri! Apa karena pengaruh si Gaiel?! Atau Thomas?! Apa karena tekanan dari bangsawan lain?!” bentaknya lantang seraya menunjuk dua orang yang dirinya sebut.
Mavis benar-benar menatap Dart dengan penuh amarah. Ia menjatuhkan tongkatnya ke lantai, berjalan ke arah Dart dan menarik kerahnya. Di hadapan semua orang di tempat tersebut, Mavis langsung menamparnya dengan keras.
Wanita itu mulai menangis, riasan luntur terhapus air mata dan wajahnya terlihat begitu kacau. Melihat itu, Dart hanya menatap bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Meraih tangan Mavis yang memerah karena menamparnya, Dart tetap tak bisa mengatakan apa yang ada dalam benak.
Mavis meletakkan wajahnya ke dada Dart, wanita rambut pirang tersebut mulai menangis tersedu. Sebagai seorang Ibu hatinya sangat sakit saat tahu Odo ditebas oleh Dart, namun pada saat yang sama ia juga mencintai suaminya. Konflik batin membuat Mavis benar-benar kacau, emosinya bercampur aduk dan penuh kekacauan.
“Sayangku ….” Dart memeluk Mavis, tak ingin melihat orang yang paling dirinya cintai itu terlihat sedih seperti itu.
“Kenapa kau menebas putramu sendiri? Kau menyadarinya, ‘kan?! Kalau itu dia!”
“A-Aku juga awalnya mengira kalau dia itu Odo!”
Dart memegang kedua sisi bahu Mavis, menatap wajahnya yang berlinang air mata. Dengan tatapan bingung pria tua itu berkata, “Tapi hawa keberadaannya sangat berbeda, dia terlalu berbeda …. Terlebih lagi, bagaimana mungkin aku percaya kalau makhluk semacam itu anakku.”
“Makhluk seperti itu?” Mavis kembali terlihat marah, ia melepaskan pelukan dan menarik kencang kerah pakaian Dart dengan kedua tangannya. Dengan suara lantang ia pun membentak, “Dia putramu sendiri! Kenapa kau berkata⸻!”
“Dia tak bisa mati,” sela Raja Gaiel dalam pembicaraan suami-istri tersebut. Berjalan ke arah mereka, sang Raja kembali berkata, “Meski kepalanya dipenggal dan tubuhnya hancur, ditusuk tombak atau dibenturkan ke tebing, pemuda itu tidak bisa mati.”
Mendengar apa yang dikatakan sang Raja, Mavis melepaskan Dart dan menatap dengan sorot mata bingung. Ia tak mengerti apa yang diucapkan Raja Gaiel, ia tak ingat Odo punya kekuatan semacam itu. Menoleh ke arah Fiola, sang Penyihir Cahaya seakan meminta penjelasan.
“Sa-Saya juga tak tahu, Nyonya.” Fiola berusaha mengingat-ingat sihir macam apa saja yang dimiliki oleh Odo. Dengan sedikit gemetar ia pun berusaha menjelaskan, “Meski Tuan Muda memasang sihir penyembuhan pasif tingkat tinggi, Auto Regen, namun seharusnya itu juga terbatas. Sihir tersebut hanya aktif berdasarkan kapasitas Mana pengguna. Terlebih lagi, Auto Regen hanya aktif jika penggunanya masih hidup ….”
“Odo …. Sekarang Odo di mana?” tanya Dart kepada Shieal tersebut.
Fiola sesaat terdiam, tak berani menjawab pertanyaan itu karena ada orang yang lebih berhak memberitahukannya. Mavis menatap ke arah suaminya, lalu dengan penuh keraguan menjawab, “Odo … sekarang ada di Mylta. Sejak dua hari lalu, dia berada di sana ….”
“Hah? Untuk apa dia di sana?” Dart kembali mengingat-ingat surat yang diterimanya dari Mavis saat masih berada di Ibukota. Sedikit memalingkan pandangan, pria tua itu dengan nada remeh berkata, “Ah, aku ingat! Dia soal membuat perusahaan atau semacamnya, bukan? Masih belum selesai juga ya dia bermain-main dengan hal semacam itu?”
Mavis tak menjawab dan hanya terdiam, benar-benar memikirkan kembali kemungkinan yang ada. Ia juga tak ingin percaya kalau pemuda yang dimaksud adalah putranya. Namun saat mengingat salah satu Native Overhoul dengan kemampuan teleportasi yang bekerja untuk Odo, semua dalih untuk membantah pemuda yang dimaksud adalah putranya seketika lenyap.
“Dia … memang benar-benar Odo.” Dengan wajah pucat Mavis melangkah mundur, sampai punggung menyentuh Fiola yang berdiri di belakangnya. Meletakkan telapak tangan ke depan mulut, ia dengan gemetar bergumam, “Ke-Kenapa bisa? Kenapa bisa dia menjadi abadi? Apa karena efek setelah mendapat kekuatan dari Raja Iblis Kuno? Karena dia menyerap kemampuan Naga Hitam? Atau karena eksperimen untuk membuat Kontrak Jiwa tanpa harus mengurangi jangka hidup?”
Dart bertambah bingung mendengar apa yang dikatakan Mavis. Sekilas ia teringat dengan surat yang diterimanya saat masih berada di Ibukota, tentang Raja Iblis Kuno yang dikalahkan Fiola. Paham ada spekulasi kalau sebenarnya yang telah mengalahkannya adalah Odo, sekilas Dart kembali memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada putranya.
Ahli Pedang segera menatap ke arah Fiola, dengan penuh rasa cemas ia pun bertanya, “Apa itu benar, Fiola?! Bukan kau yang mengalahkannya?!”
“Tuan seharusnya juga tahu batasan kemampuan saya,” jawab Fiola.
Napas Dart suntuk sesaat terasa sesak, ia mulai percaya kalau pemuda yang dibicarakan memang adalah putranya sendiri. Mengingat ada beberapa jenis iblis yang bisa dipanggil secara Invocation, Dart berpikir kalau Odo sekarang bisa saja diambil alih oleh Raja Iblis Kuno yang telah dikalahkannya tersebut.
“Hmm, tak disangka.”
Raja Gaiel sama sekali tak terkejut saat tahu yang telah mengalahkan salah satu Malapetaka Dunia adalah putra sahabatnya atau apa yang dibicarakan mereka. Berhenti menggandeng tangan Putri Arteria dan Pangeran Ryan, sang Raja meletakkan tangan kanannya ke dagu.
“Sepertinya pertunangan ini memang tepat. Dengan kapabilitas seperti itu pasti para bangsawan lain tak ada yang bisa protes,” ucap sang Raja sembari memainkan janggut.
Mavis dan Dart merasa tersinggung karena sang Raja malah berkata seperti itu di tengah rasa cemas mereka. Secara bersamaan, pasangan suami istri tersebut menatap tajam ke arahnya.
Mavis berjalan menghampiri Gaiel, menatap kesal dan bertanya, “Wahai Raja! Meski tahu kalau Putraku punya hawa keberadaan kaum Iblis, kau tetap ingin menikahkannya dengan Putrimu?! Apa kau sedang bergurau?!”
“Aku serius ….” Raja Gaiel menurunkan tangan dari dagu, menatap ringan dan tanpa ragu berkata, “Dari semua Keluarga Bangsawan yang diriku tahu, Luke dan Rein adalah yang paling aku percaya. Kalian memiliki kewajiban pada negeri ini …, tidak seperti lainnya yang menjadi bagian dari Felixia karena paksaan kondisi atau hanya untuk bertahan dari masa peperangan di masa lampau.”
Raja Gaiel balik menatap Mavis. Pada sorot mata pria tua tersebut, terasa kehampaan yang membuat Penyihir Cahaya mengambil satu langkah ke belakang. Sembari mengambil langkah ke depan sang Raja berkata, “Awalnya diriku juga tak ingin memilih putra kalian, namun putra Sulung Keluarga Rein …. Kalian sendiri tahu kabar simpang-siur soal putra Tuan Thomas, bukan? Beberapa bangsawan kelas atas tak menyukainya ….”
Meski telah mendengar hal tersebut, Mavis tetap tak mengerti dan mengerutkan kening. Ia merasa seperti sang Raja hanya melempar tanggung jawa dan ingin segera menjodohkan putrinya dengan seseorang, terlihat seperti ingin segera mengamankan putrinya dari perselisihan para bangsawan yang menginginkan singgasana setelah Ratu meninggal.
“Kenapa harus Keluarga Luke? Jika memang Rein tidak bisa, engkau bisa menyerahkannya kepada Keluarga Garados …. Engkau tidak asing dengan mereka, bukan?” tanya Mavis dengan curiga.
Raja Gaiel sekilas menarik napas dalam-dalam, memasang ekspresi sedikit kelam dan menjawab, “Arca Rein terlalu banyak punya rumor buruk di kalangan para bangsawan. Anda tahu, Nyonya Mavis. Para bangsawan takut kalau Arca menjadi Raja nanti, mereka yang korup akan tersingkir.”
Jawaban tersebut tidak menjawab pertanyaan Mavis, seakan memang Raja Gaiel menyembunyikan sesuatu. Sebelum menjadi Raja dan namanya berubah menjadi Gaiel Vi Felixia, nama marganya adalah Garados. Lahir di keluarga besar di timur kerajaan tersebut sebagai anak salah gundik, direndahkan, dicela, tidak dihargai, dan pada akhirnya harus keluar dari rumah dan tinggal di Miquator sampai remaja sebelum menjadi seorang Komandan dan pada akhirnya menjadi seorang Raja seperti sekarang.
Mengusap air mata yang masih tersisa di pipi, Mavis menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan emosi dalam benak. Ia memberikan tatapan datar yang tercampur rasa benci, merasa sang Raja hanya akan memanfaatkan Odo dan Keluarga Luke kelak nanti setelah pertunangan terjalin.
“Kau yakin, Gaiel?” Dart masuk ke dalam pembicaraan. Berjalan ke sebelah istrinya, pria tua tersebut kembali bertanya, “Mereka ⸻ Para Tetua itu pasti tidak akan membiarkannya. Salah satu tujuan Kerajaan Felixia terbentuk adalah membasmi para Iblis, namun kau malah ingin menjadikan orang dengan aura Iblis memimpin Kerajaan.”
Dart hanya memasang ekspresi datar, tangan kanannya mengepal dan dengan kesal ia berkata, “Entah apapun kondisi Odo, itu masalah keluarga kami. Tapi kalau kau benar-benar melanjutkannya, itu akan menjadi masalah Kerajaan Felixia.”
“Sejak kapan kau benar-benar peduli pada negeri ini, kawan lama?” sindir Raja Gaiel.
Arteria gemetar saat melihat aura penuh permusuhan mereka. Ia mendekat, meraih tangan ayahnya dan berkata, “Ma-Maaf, Ayahanda …. Karena Arteria berkata yang tidak-tidak …. Tapi sungguh! Pemuda itu memang Odo Luke ….”
“Kami paham ….” Mavis menatap Putri Arteria dan dengan senyum tipis ia pun berkata, “Ia memang Odo. Sosok yang memiliki aura Iblis itu memang putra kami.”
Mendengar hal itu, Raja Gaiel sedikit mengendus ringan. Bukan karena menghina atau merendahkan, namun sedikit heran dengan cara pandangan kedua teman lamanya tersebut.
“Sungguh tak kusangka-sangka, kalian yang berambisi membantai para iblis akan berkata seperti itu. Mengakuinya dengan mudah,” sindir Raja Gaiel.
Apa yang dikatakannya bukannya benar-benar untuk membuat Dart dan Mavis marah, namun untuk memancing keluar isi benak mereka. Untuk mengetahui apakah mereka benar-benar menerima faktanya, bahwa putra semata wayang mereka memiliki aura kaum iblis.
Sembari menatap kesal dan benar-benar terusik, Mavis bertanya, “Memang kenapa? Apa itu masalah untukmu, wahai Raja?”
“Hidup kalian dirusak oleh para Iblis, ‘kan? Penderitaan kalian bersumber dari mereka ….”
Mavis hanya tersenyum kecut mendengar hal tersebut, seakan-akan menertawakan perkataan sang Raja. Setelah menarik napas ringan, Penyihir Cahaya sedikit memiringkan kepalanya dan menyindir, “Wahai Raja, engkau salah besar. Dari awal penderitaan kami bersumber dari orang-orang sepertimu, yang berkata tentang kewajiban dan memaksa banyak orang untuk mewujudkan ambisi.”
Gaiel sedikit tersentak mendengar itu, merasa apa yang dikatakan Mavis sangat tepat dengan apa yang ia lakukan dulu untuk bisa sampai ke takhta dan menikahi mendiang Ratu Dahlia. Sebelum sang Raja bisa membalas, Mavis kembali menekankan, “Pemerintahan yang kau buat adalah sumber penderitaan kami! Memerikan kebohongan kepada mereka yang memiliki bakat bahwa ada tugas dan kewajiban yang harus mereka tunaikan. Kaum Iblis hanya sebuah alat untuk orang-orang sepertimu untuk proses tersebut ….”
Perkataan Mavis tersebut bisa dianggap sebagai pengkhianatan jika didengar oleh para bangsawan lain, namun Raja Gaiel tidak mempermasalahkan itu dan malah menundukkan wajah. Apa yang dikatakan Mavis memang benar. Kembali mengingat masa mudanya, Gaiel merasa telah memanfaatkan mereka berdua dan banyak orang di masa lampau.
Saat pertama kali kenal dengan Dart, ia memanfaatkannya untuk menaikkan status dan berhasil mendapat posisi komandan. Meski perang telah berakhir dan impiannya untuk menikahi mendiang Ratu Dahlia tercapai, Gaiel tidak berhenti memanfaatkan kawan lamanya tersebut.
Bukan hanya itu saja, setelah memaksanya menikah pun Gaiel tetap memaksa Dart untuk menjaga kekuasaannya yang baru saja menjadi Raja. Meningkatkan reputasi sebagai Raja, memaksa keluarga kecil yang baru terbentuk untuk terus bertarung di garis depan meski perang telah berakhir.
Memberikan mereka dana dan Surat Titah yang tidak bisa ditolak, memaksa dua insan yang baru menjalin bahtera rumah tangga bepergian ke banyak tempat dan bertarung di masa awal-awal perdamaian.
“Maaf …. Tolong maafkan diriku ini,” ucap Gaiel penuh rasa sesal.
Mendengar apa yang dikatakan ayah mereka, Pangeran dan Putri sempat terkejut. Itu pertama kalinya Raja penuh wibawa tersebut menundukkan kepala dan meminta maaf di hadapan orang lain. Di depan teman lamanya, Gaiel memang tak menganggap dirinya lebih tinggi atau pun lebih berkuasa.
“Ayahanda ….” Arteria menggenggam erat tangan Raja Gaiel, terlihat cemas dan tak ingin ayahnya seperti itu.
“Tak apa-apa, putriku. Ayah memang bersalah, karena itulah Ayah meminta maaf.”
Dart dan Mavis mulai merasa tak enak telah membuat sang Raja menundukkan kepalanya saat datang ke kediaman mereka. Dart segera berjalan mendekat, memegang kedua pundak Raja Gaiel dan berkata, “Kau tak perlu menunduk, kawan lama …. Aku paham posisi dan situasimu. Seorang Raja tidaklah maha kuasa, dari sudut pandang lain posisi itu juga tak bisa membantah kehendak rakyatnya.”
Di tengah pembicaraan tersebut, dengan sangat tiba-tiba dan tidak dikira-kira sebuah hawa keberadaan mengerikan muncul. Waktu seakan bergerak lambat, suara terhapus dan cahaya matahari seakan meredup. Pada waktu kurang dari lima detik, sebuah unsur kegelapan, kematian, kehancuran dan amarah seketika membuat semua orang di tempat tersebut tak bisa menggerakkan tubuh dan diam kaku.
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan hawa mengerikan tersebut, dari tengah jalan di antara kedua taman keluar semburan air layaknya sebuah geiser yang muncul tiba-tiba. Itu keluar dari sela batuan yang tersusun rapi pada jalan, tanpa merusak dan hanya menyembur tinggi sampai belasan meter. Saat mulai meredah dan semburan berhenti, air bercahaya tersebut mulai menggenang di permukaan.
Sebuah tangan terulur keluar dari genangan air biru bercahaya tersebut, seseorang perlahan merangkak dari dalam dan menampakkan dirinya. Tubuh dan pakaiannya basah, rambut dan kulitnya pun demikian. Ia bangun dan berdiri tegak, menghela napas ringan dan menaikkan rambut poninya.
Baik orang-orang yang ada di teras atau para tamu yang belum masuk, semuanya melihat ke arah pemuda rambut hitam yang tiba-tiba muncul tersebut. Aura seekor Naga Agung, Malaikat, Dewa, serta Manusia bercampur aduk terasa dari pemuda itu.
Menatap ke depan dan melihat ke arah semua orang di teras, sekilas sorot matanya berubah hijau dan beberapa gambaran jelas tentang apa yang telah terjadi dirinya dapat. Sekilas memejamkan mata, ia dengan nada resah bergumam, “Sepertinya aku datang di waktu yang salah ….”
\=========================
Catatan :
Kalau ada yang ingin tahu mengapa gak update-update, aku hanya bisa menjawab satu hal ….
Laptop ku satu minggu ini error disknya, jadi lag banget meski hanya buat ngetik. Ini juga buka Browser untuk update dan ngetik lag parah …..
Yah, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga saja perbaikannya bisa cepat selesai ….
Btw, saya kembali mengingatkan untuk jangan sampai kehilangan kemanusiaan di tengah wabah ini Kawan ….
Sungguh, banyak orang yang kemanusiaan nya bobrok gara-gara ini …..
See you next time!