
Tirai hitam raksasa bertabur bintang telah direntangkan di langit. Di saat malam benar-benar telah datang, kota pesisir itu berubah gelap dan senyap dengan cepat, hanya ada beberapa orang yang berjalan di luar sambil membawa lentera minyak.
Pada rumah-rumah yang dihuni penduduk, cerobong asap mengepul, tanda orang-orang di dalamnya sedang memasak sesuatu untuk makan malam setelah lelah beraktivitas seharian.
Pada Panti Asuhan yang terletak di daerah pelabuhan juga tidak jauh berbeda. Kepulan asap dari cerobong terlihat, menandakan ada seseorang yang sedang memasak di dapur.
Di dalam Panti Asuhan tersebut, setiap anak yang tinggal di tempat itu duduk di depan meja makan, menunggu makan malam yang sedang dibuat oleh biarawati mereka untuk disajikan. Kehangatan, kebersamaan, dan keceriaan terlihat dengan jelas dari wajah mereka.
Meskipun di ruang makan tersebut jauh dari kata mewah, bahkan meja dan kursi serta alat makan terbuat dari kayu, anak-anak tersebut tidak terlihat mengeluh atau protes akan hal tersebut. Itu wajar dan patut disyukuri, itu adalah ajaran yang tertanam dalam kepribadian mereka sejak kecil.
Odo yang duduk di ruang makan Panti Asuhan bersama mereka merasa seperti salah tempat. Di perlihatkan kebersamaan enam anak di depannya yang terlihat seperti keluarga, rasa iri dan sedikit kesal sesaat terasa.
Di meja kayu tua berbentuk persegi panjang, pada jarak pandang yang bisa dilihat Odo, duduk enam anak yang terdiri dari empat anak perempuan dan dua anak laki-laki. Mereka semua terlihat tidak sabar dan bergurau satu sama lain sambil menunggu masakan yang sedang dibuat oleh Siska, biarawati tempat itu di dapur.
Pada arah kanan Odo, terlihat Mira dan Erial yang dipangku oleh Nesta. Mira dan Erial adalah dua anak perempuan kembar berambut kecokelatan, mereka masih berumur sekitar enam tahun dan terlihat sangat menempel dengan Nesta. Sedangkan Nesta sendiri adalah anak perempuan tertua yang tinggal di Panti Asuhan, berumur empat belas tahun, berambut cokelat panjang sepinggang, dan terlihat lebih dewasa dari anak lainnya.
Di seberang meja tempat ketiga anak perempuan itu duduk, terlihat Daniel dan Firkaf yang duduk bersebelahan. Mereka adalah dua anak laki-laki yang tinggal di Panti Asuhan. Daniel anak berumur 13 tahun yang terlihat ceria dan aktif, sedangkan Firkaf lebih tua satu tahun dan terlihat lebih cenderung pendiam dan memiliki wajah murung.
Tepat di seberang tempat Odo duduk, Nanra yang juga seakan salah tempat duduk di sana. Dari semua anak yang ada, gadis berumur sepuluh tahun itu memang terlihat berbeda, terutama untuk warna rambutnya yang sangat mencolok untuk orang dari Kerajaan Felixia yang kebanyakan memiliki warna rambut hitam, pirang, cokelat, atau merah gelap.
Odo berusaha untuk tidak memikirkan Nanra yang terlihat terkucilkan. Ia tahu, alasan Nanra terkucilkan sekarang bukan berarti Ia dibenci oleh anak Panti Asuhan lain, anak perempuan itu hanya sedang dalam masa hukuman karena pergi ke hutan diam-diam.
"Ah, rasanya salah tempat. Aneh, perasaan apa ini ...? Suasananya seperti saat di kelas semua orang sedang membahas pertandingan bola dan hanya aku yang gak nonton."
Odo sesaat menghela napas, kemudian melihat sekeliling ruang itu. Tembok batu bata berwarna abu-abu, perabotan sederhana seperti meja berlaci di sudut ruang, langit-langit yang cekung meruncing, serta lantai yang terbuat dari bata kapur.
Di tempat itu hanya ada penerangan berupa kristal sihir yang bersumber dari Reaktor Sihir kota. Berbeda dengan kediaman Luke yang menggunakan beberapa Reaktor Sihir untuk memenuhi kebutuhannya, kota tersebut hanya memiliki dua Reaktor Sihir yang tenaganya dialirkan melalui Sirkuit Sihir ke penjuru bangunan di kota pesisir. Hasilnya, kalau malam tiba kota tersebut terlihat gelap karena keterbatasan pencahayaan.
Bahkan di ruangan tempat Odo berada, selain pencahayaan dari kristal sihir yang digantung pada langit-langit seperti lampu gantung, perlu ditambah beberapa piring kecil berisi lilin minyak yang diletakkan di atas meja makan sebagai penerang.
Sebenarnya tanpa penerangan juga tidak masalah, Odo masih bisa meningkatkan penglihatan dengan sihir dan bisa dengan cukup jelas melihat di tempat gelap. Tetapi, dalam beberapa alasan Ia sedikit terganggu dengan keadaan yang baginya tidak biasa itu.
Odo Kembali melihat sekeliling. Dilihat dari manapun, ruang itu memang sangat mirip dengan ruang dalam sebuah gereja. Sambil mengingat kembali cerita Nanra saat di pelabuhan tadi sore, Odo memang tahu kalau Panti Asuhan tersebut merupakan sebuah tempat peribadatan kecil di pojok kota. Tetapi, dirinya baru percaya setelah melihatnya langsung.
"Hah ...." Sekali lagi Odo menghela napas. Melihat orang yang telah memberikan bahan makanan pada mereka tidak terlihat senang, kelima anak lain yang tadinya terlihat ceria lekas tenang seketika seraya melihat Odo dengan rasa cemas.
"Tuan Penyihir Kecil, kenapa Anda terlihat murung?" tanya Nesta, anak perempuan paling tua di Panti Asuhan. Ia lekas menurunkan Mila dan Erial dari pangkuan, kemudian berdiri dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Odo.
Odo terlihat bingung dengan cara gadis itu memanggilnya. "Penyihir Kecil?" tanyanya dengan memperlihatkan ekspresi wajah datar.
"Tentu saja Anda, memangnya siapa lagi?" Nesta mendekatkan wajahnya, kemudian mengamati ekspresi Odo yang terlihat sangat malas dan tidak peduli.
"Aku bukan penyihir, aku pemburu. Aku sudah mengatakannya saat perkenalan tadi, 'kan? Aku Odo, pemburu dari desa di sekitar perbukitan."
Perkataan itu membuat Nesta tersenyum kecil. Dari ekspresi itu, Odo tahu kalau gadis itu sebenarnya telah menyadari identitasnya yang sesungguhnya.
"Ah, apa dia diberitahu biarawati itu? Yah, dia yang paling tua di antara semua anak, jadi wajar saja sih kalau dia tahu," pikir Odo.
"Hey, Odo! Tadi, saat kamu mengeluarkan mayat rusa dan ayam hutan dari jubah itu juga termasuk sihir?" tanya Daniel dari seberang meja makan.
"Ya, kurang lebih seperti itu," jawab Odo.
"Bagaimana caranya? Sihir itu bukan sesuatu yang mudah dikuasai, 'kan? Bahkan si Nesta saja hanya bisa menggunakan sihir api untuk memasak atau menyalakan perapian," tanya Daniel. Ia bangun dari tempat duduk, dan ikut menghampiri Odo.
Odo sekilas melirik ke arah Nesta, gadis itu kembali tersenyum dengan ramah. Walaupun penampilannya sederhana dengan gaun kusut berwarna kecokelatan, tetapi gadis itu memiliki paras yang bisa dibilang cantik.
"Kakak juga bisa menggunakan sihir elemen ya?" tanya Odo pada Nesta.
"Tentu saja, meski hanya sihir api tingkat rendah dan beberapa sihir angin."
Jawaban itu membuat Odo sedikit berpikir. Dari segi perkembangan sihir di dunia ini, bidang tersebut hampir seperti sebuah ilmu pengetahuan tersendiri. Dengan kata lain, Sihir tidak bisa dikuasai dengan sendirinya kecuali orang tersebut memang berbakat dari lahir.
"Dari siapa kak Nesta belajar sihir?" tanya Odo.
"Dari Mbak Siska. Untuk menjadi biarawati, aku belajar beberapa sihir berkah dan sihir untuk kegiatan sehari-hari. Kalau Odo, kamu belajar dari siapa?"
Melihat Nesta tidak menggunakan bahasa yang terasa formal lagi, Odo tersenyum kecil. Sambil mengangkat jari telunjuknya dan berdiri, Ia berkata, "Dari buku dan seorang ahli sihir hebat."
Perkataan penuh bangga Odo membuat anak-anak lain yang mendengarkannya terlihat kagum, kecuali Nanra yang hanya memasang ekspresi kalem karena pernah melihat kemampuan Odo secara langsung.
Setelah itu, mereka berbincang-bincang tentang sihir. Odo memberitahu dasar-dasar tentang sihir kepada mereka, meskipun yang benar-benar mendengarkan hanya Nesta, Daniel, Nanra, dan Firkaf saja. Sedangkan Mila dan Erial yang masih kecil hanya mendengarkan dengan wajah bingung dan benar-benar tidak paham.
Beberapa menit kemudian, Siska yang memasak di dapur memanggil dengan berteriak nada halus, "Nesta, bantu kakak membawa makanannya dari dapur ...!"
"Yaa ...!" jawab Nesta. Ia beranjak dari ruangan dan pergi ke dapur untuk membantu Siska.
Saat gadis itu pergi, Odo masih dihujani pertanyaan oleh Daniel. Bahkan, Firkaf yang dari tadi terlihat pendiam, sekarang ia ikut bertanya pada Odo tentang sihir.
.
.
.
.
Beberapa menit berlalu, masakan dari daging rusa dan ayam hutan tersaji di meja makan mereka. Itu terdiri dari sebuah sup daging rusa dengan bumbu garam dan rempah sederhana, serta sebuah ayam bakar yang dibumbui oleh garam dan mentega saja. Sebagai makanan pokok, di atas piring yang tersaji juga nasi jagung yang teksturnya terlihat kasar.
Pada saat semua orang termasuk Siska menyantap menu makan malam yang tergolong megah untuk orang Panti Asuhan, Odo duduk tanpa sedikit pun menyentuh makanan yang disajikan untuknya. Melihat semua orang menyantap dengan sendok dan bahkan sampai langsung menggunakan tangan saking lahapnya, nafsu makan Odo benar-benar tidak bertambah.
"Apaan ini? Bukannya Cuma dikasih garam dan mentega doang? Ini masakan?" pikir Odo. Menurutnya, itu terlalu sederhana untuk menjadi sebuah masakan dan kenyataannya memang seperti itu.
Sesudah semua orang selesai menyantap makanan, Siska membereskan semua alat makan yang terbuat dari kayu dibantu oleh Daniel dan Firkaf untuk dibawa ke belakang. Sedangkan Nesta yang memangku dua saudari kembar dan Nanra langsung duduk di kedua sisi Odo, kemudian kembali menghujaninya dengan pertanyaan.
"Odo, bisa kamu ajarkan aku beberapa sihir?" tanya Nesta.
"Sa-Saya juga ingin, Odo! Tolong ajari kami sihir!" ucap Nanra.
"Sihir?" Odo memasang wajah bertanya-tanya untuk apa kedua gadis itu meminta hal tersebut.
"Kalian tahu dasar sihir itu apa?" tanya Odo.
"Dasar sihir ....?" Nesta terlihat kebingungan, begitu pula Nanra.
Nesta mengelus Mila dan Erial di pangkuan, kemudian menjawab, "Kalau tidak salah, sihir merupakan sebuah metode untuk memanipulasi tenaga kehidupan yang disebut Mana untuk menimbulkan fenomena alam. Seperti contohnya ...."
Gadis itu mengulurkan telapak tangannya ke depan dan mulai merapalkan sebuah mantra.
"Api dasar dari empat elemen utama, bersuhu tinggi dan memiliki sifat membakar, terwujudlah!" Dari telapak tangan yang diulurkan, keluar kobaran api kecil yang tidak lebih besar dari mangkuk.
"Kalau yang diajarkan Mbak Siska, dasar sihir seperti ini. Sebuah manipulasi dengan mantra untuk menimbulkan keajaiban," ucap Nesta sambil menutup telapak tangan dan memadamkan sihir api.
"Ya, kurang lebih itu juga benar. Tapi, ada hal yang lebih dasar lagi untuk sihir," ucap Odo. Ia bangun dari kursi kayu, kemudian berjalan sedikit menjauh dari yang lain.
"Hal yang paling dasar dari sihir adalah imajinasi."
Perkataan anak itu membuat Nanra dan Nesta terlihat bingung. Tanpa menjelaskan, Odo kembali berkata, "Setelah itu kombinasi, manipulasi, pengendalian, perwujudan, dan baru mantra sebagai pembentuk."
"A-Apa maksudnya ....?" tanya Nanra dengan bingung.
Odo berbalik melihat Nanra dan Nesta, kemudian berkata, "Contohnya, sihir yang tadi Kak Nesta lakukan .... sihir api dasar ...."
Odo mengulurkan tangan kanan ke depan dengan telapak terbuka ke atas. Tanpa merapalkan mantra, sebuah kobaran api muncul pada telapak tangannya sama persis dengan apa yang tadi Nesta lakukan.
"Dasar sihir, hanya dengan imajinasi saja seharusnya sudah bisa mencapai tingkat ini."
Melihat apa yang Odo lakukan, Nanra dan Nesta terkejut. Mereka benar-benar tidak percaya sebuah sihir yang merupakan hal sakral bisa digunakan dengan sangat mudah seperti itu.
"Ba-Bagaimana bisa? Ka-kamu menggunakan sihir tanpa mantra?" tanya Nesta dengan wajah benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"Tentu saja bisa. Secara mendasar, mantra hanya berfungsi sebagai penguat imajinasi atau gambaran dalam penggunaan sihir. Pada tingkat awal seperti ini seharusnya bisa diaktifkan tanpa sebuah mantra. Hanya dengan membuat gambaran dari bentuk Mana, sihir sudah bisa digunakan. Inilah yang namanya dasar sihir. Sedangkan pada tingkat lanjutan, bisa dilakukan kombinasi, pengendalian, atau mantra untuk memperkuat sihir. Contohnya, dalam penambahan kombinasi ...."
Odo meningkatkan tekanan sihir seminimal mungkin, kemudian menggunakan sihir dasar elemen angin untuk memisahkan gas Hidrogen pada udara dan memusatkan nya pada kobaran api di telapak tangan. Seketika kobaran api meruncing dan berubah warna menjadi biru.
Nyala api itu begitu stabil, terlihat lebih terang,dan warna birunya terlihat sangat indah. Tentu saja, dalam hal suhu api biru lebih panas dari api merah.
"Ini yang terjadi saat sihir dasar elemen api dikombinasikan dengan sihir angin," jelas Odo.
"Eh, angin ...?" tanya Nanra bingung.
"Ya, sihir angin, atau lebih tepatnya adalah udara. Kalian berdua tahu perbedaan udara dan angin?"
Mereka berdua menggelengkan kepala dengan bingung. Dalam persepsi mereka, kedua hal itu bukanlah dua hal yang terlalu berbeda.
"Angin adalah udara yang bergerak, memiliki mobilitas dan vektor, sedangkan Udara adalah campuran gas yang terdapat di penjuru tempat. Dengan kata lain, dasar dari angin adalah udara."
Nanra dan Nesta sedikit paham dengan penjelasan tersebut. Pada dasarnya, setiap elemen yang ada pasti memiliki dasar, seperti halnya yang dijelaskan Odo tadi.
"Hem, kurang lebih aku paham. Ternyata cara kerja sihir seperti itu ya. Aku kira sihir itu hanya semacam merapalkan mantra dan mengepalkan struktur sihir saja," ucap Nesta.
"Ya, begitulah. Kalau diumpamakan, sihir itu semacam seperti membuat masakan. Kalau tiap-tiap jenis sihir digambarkan dengan bahan makanan dan bumbu, semakin pas kombinasinya maka akan semakin enak masakan yang dibuat. Kalau kombinasinya tidak pas, makanan yang dibuat akan tidak enak dan bahkan beracun. Hal itu sama dengan penggunaan sihir, setiap kombinasi akan membuat bentuk sihir yang berbeda. Tetapi kalau kombinasi salah, maka sihir itu bisa melukai pengguna."
Odo menutup telapak tangan dan memadamkan sihir api. Saat suasana menjadi sedikit senyap karena Nanra dan Nesta menatapnya penuh rasa kagum, Odo merasakan tatapan lain dari arah dapur. Tatapan itu berasal dari Siska, Daniel, dan Firkaf. Mereka bertiga dari tadi berdiri di depan pintu dapur dengan tatapan kagum dan juga mendengarkan penjelasan Odo dengan seksama.
"Sedang apa kalian ....?" tanya Odo dengan ekspresi datar.
Siska melangkah mendekat, biarawati itu sedikit merasa malu karena di usianya yang menginjak dua puluhan tidak mengetahui dasar sihir seperti itu.
"Tidak, hanya saja penjelasannya tadi sangat mengagumkan ..., jadi tidak enak menyelanya," ucap Siska.
"Apa Kak Siska tak mendapat pengetahuan itu saat belajar menjadi biarawati? Bukannya ada pembelajaran tentang semacam itu juga selain pendidikan religius? Setahuku, hal semacam itu cukup normal ...."
Mendengar pernyataan semacam itu, Siska benar-benar mulai paham kalau pengetahuan Odo tentang sihir benar-benar luas dan tidak biasa untuk anak seusianya, bahkan untuk seorang anak bangsawan.
"Ya ..., sihir yang kakak pelajari cenderung ke arah religius jadi ...."
"Ah ..., begitu ya ...."
Odo menyadarinya saat mendengar perkataan tersebut. Sihir yang mengarah ke religius, dengan kata lain dalam pengajaran sihir dianggap sebagai berkah atau keajaiban yang diberikan sang pencipta. Mengetahui hal tersebut, Odo memilih untuk tidak membahas itu karena hal berbau kepercayaan akan sangat sensitif untuk disinggung.
Setelah itu, hari semakin larut tanpa mereka sadari karena membahas hal-hal lainnya termasuk sihir. Saat semua anak Panti Asuhan sudah mulai mengantuk, Siska mengantar dua saudari kembali ke kamar, dan anak-anak lain masuk ke kamar masing-masing.
Karena kamar yang ada terbatas, Odo tidur di kamar sempit bersama dengan Daniel dan Firkaf pada satu tempat tidur. Untuk anak yang selalu tidur di ranjang besar dan luas sendirian, situasi tidur berdesakan seperti itu benar-benar membutanya kesulitan tidur.