
Angin dingin bertiup sepoi-sepoi, awan mendung mengisi dan mewarnainya dengan kelabu. Pada penghujung fajar di kota pesisir, gelap masih menguasai bersama udara sejuk di pagi hari. Di antara sela-sela awan, terlihat cahaya matahari yang mulai terbit dan sebagian sinarnya sampai ke permukaan.
Hari yang sedikit mendung tidak mempengaruhi rutinitas penduduk kota. Keluar dari bangunan dan siap mencari nafkah, mereka dengan semangat memulai hari baru di masa krusial dalam progresif kota. Para buruh kasar berangkat ke pasar, pejabat menuju ke kantor dan para prajurit mulai berjaga pada beberapa sudut kota.
Untuk orang-orang yang bekerja saat malam hari, mereka baru pulang ke rumah untuk tidur ⸻ Kebanyakan dari mereka adalah nelayan serta ******* yang tinggal di sekitar distrik perniagaan. Saat pagi hari telah datang, distrik rumah bordil terlihat sepi dan hanya ada beberapa gelandangan yang lalu-lalang di sekitar tempat tersebut. Tak sampai tiga ratus meter dari tempat tersebut, pelabuhan malah terlihat ramai oleh pengepul hasil laut yang telah bersiap untuk membeli ikan-ikan dari para nelayan yang baru saja berlabuh.
Di antara pengepul terdapat para Aprilo Nimpio dan para anak buahnya, mereka telah bersiap untuk melakukan transaksi setelah melakukan kontrak pembelian dengan beberapa nelayan sejak kemarin lusa. Di sisi lain, para pedagang dari kekaisaran terlihat saling tawar menawar dan berusaha mendapat hasil laut dengan harga rendah.
Pagi hari ini merupakan waktu yang sibuk di kota pesisir. Pada beberapa sudut di balai kota, terlihat orang-orang dari pemerintahan mendorong gerobak kecil berisi kotak-kotak kayu. Mereka mulai memasang beberapa ornamen seperti kerangka bunga, tiang dan bendera, serta beberapa ukiran kerajinan di sepanjang jalan menuju Gereja Utama.
Sekarang adalah hari pembaptisan, momen untuk anak-anak usia 7 tahun diakui sebagai penduduk kerajaan Felixia dan anak usia 12 melakukan upacara kedewasaan untuk diakui sebagai individu yang utuh. Dalam keyakinan kerajaan Felixia, itu merupakan acara penghapusan dosa serta pemberian kewajiban untuk para anak-anak.
Ketika berusia 7 tahun mereka yang melakukan pembaptisan akan diwajibkan untuk mulai memilih pekerjaan dan melakukan pelatihan dasar, tentu dengan pengawasan dan koneksi dari orang tua. Setelah mencapai usia 12 tahun, mereka akan memulai pelatihan pekerjaan mereka di lapangan dan seterusnya akan melakukan tes untuk mendapat lisensi pekerjaan secara resmi.
Tak banyak anak yang bisa memilih apa yang ingin mereka lakukan kelak saat dewasa. Pembaptisan tidaklah gratis, begitu pula pelatihan pekerjaan pada tempat yang mau menerima mereka. Kebanyakan anak akan hanya berhenti di Upacara Kedewasaan di usia 12 tahun, karena pada tahap itu mereka sudah bisa bekerja dengan upah standar.
Pada bukit tempat Gereja Utama berdiri, orang-orang puritan telah memulai persiapan dan mengeluarkan barang-barang yang diperlukan untuk pembaptisan. Acara awal akan dilakukan pada Gereja Utama dan dipimpin oleh Imam Kota, setelah itu anak-anak barulah akan menuju dermaga khusus di kompleks bangsawan yang berbatasan langsung dengan teluk sembari diiring-iringi pawai alat musik tradisional.
Para biarawati mempersiapkan cawan-cawan perak, kelopak bunga dan wewangian. Beberapa dari mereka ada yang berdiskusi dan memeriksa data anak yang anak dibaptis, lalu beberapa lagi melakukan eksekusi akhir sebelum acara dimulai pada pukul delapan nanti. Di antara mereka semua, Siska yang merupakan salah satu pendeta Gereja Utama terlihat cemas berdiri di ujung atas tangga utama menuju gereja.
Pada pembaptisan kali ini salah satu anak asuhnya akan ikut. Namun memikirkan sifat Nanra yang suka kabur pada saat-saat penting, perempuan berbalut pakaian Vestimentum tersebut sejenak menarik napas dengan berat dan bergumam, “Semoga Nanra tidak terlambat. Kemarin katanya Tuan Odo juga tidak ada, saya cemas anak itu tidak ada yang mengingatkan.”
“Permisi, Pendeta Besar. Anda dipanggil Imam Andreass di dalam.”
Mendengar salah satu biarawati memanggilnya, perempuan rambut pirang tersebut segera berbalik dan menjawab, “Baiklah, saya akan segera ke sana ….” Sekilas Siska kembali melihat ke bawah pada persimpangan jalan di depan distrik perniagaan, merasa cemas pada salah satu anak asuhnya. Menghela napas ringan, ia segera berbalik dan berjalan ke arah Gereja Utama untuk memenuhi kewajibannya sebagai panitia pembaptisan.
.
.
.
.
Pada waktu yang sama, para pegawai toko Ordoxi Nigrum telah memulai kegiatan mereka dan mempersiapkan semua bahan makanan untuk memulai operasional. Toko akan buka pada pukul 07.45 nanti, waktu tersebut telah menjadi jam resmi mereka untuk menerima para konsumen.
Keluarga Demi-human telah merapikan diri dan telah bersiap dengan seragam mereka, begitu pula Matius Mitus dan istrinya. Elulu yang kemarin tidur paling terakhir baru selesai bersiap dan turun dari lantai atas untuk memberikan arahan kepada semua orang di lantai satu.
Tak lama setelah para pegawai yang tinggal di toko melakukan persiapan, Canna Miteres baru sampai di toko. Dirinya datang tidak bersama Nanra karena anak tersebut harus mengikuti pembatisan dan libur, namun kali ini penyihir tersebut datang bersama pegawai baru, Mirin Kirsi, yang tak sengaja berpapasan di jalan. Pada pukul setengah tujuh, Arca dan kedua butler pribadinya baru datang sembari membawa beberapa bahan makanan tambahan.
Totto dan Matius dengan segera keluar untuk membongkar muatan gerobak yang dibawa oleh para peternak tempat Arca membeli bahan makanan. Semua kotak berisi bahan mentah yang kebanyakan hasil ternak tersebut diangkut ke dapur, sedangkan kotak-kotak berisi pesanan lainnya diangkut ke lantai tiga untuk disimpan di loteng.
Setelah menyerahkan nota pembelian kepada Canna yang bertugas pada bagian pengarsipan, sejenak Arca duduk pada salah satu bangku di ruangan toko dan bertanya, “Apa dia belum kembali juga?”
Canna yang duduk pada meja yang sama sekilas menghela napas, tak tahu harus memberi jawaban apa dan hanya menggelengkan kepala. Kedua orang itu menoleh ke arah Elulu yang sedang memberikan arahan pada para pegawai, terutama anak Demi-human tipe leopard salju yang terlihat masih gagap dengan pekerjaannya sebagai pelayan.
Merasakan tatapan tajam dari kedua orang tersebut, Elulu segera menoleh dan memasang mimik wajah heran. Perempuan rambut cokelat kepirangan berbalut gaun biru tua tersebut menghela napas berat, lalu dengan nada ketus berkata, “Sudah saya bilang kemarin, ‘kan? Tuan Odo baik-baik saja, orangnya sendiri bilang begitu kepada saya ….”
Elulu meninggalkan Kirsi dan menunda penjelasan soal pekerjaan, lalu berjalan ke arah mereka berdua dan sekilas menatap datar dengan mimik wajah terlihat tak yakin pada perkataannya sendiri. Arca hanya balik menatap datar dan merasa perempuan itu memang tidak tahu apa-apa soal kejadian kemarin lusa.
Pria dengan setelan kemeja merah gelap tersebut meletakkan siku kanan ke atas meja, menyangga kepala dan dengan nada menekan bertanya, “Dengar ini baik-baik, Elulu. Aku tak percaya apa yang kau katakan. Kebanyakan Native Overhoul adalah seorang pengkhianat, mereka bisa dengan mudahnya berbohong ….”
“Saya tidak berbohong!” ucap Elulu dengan lantang.
Suaranya sampai membuat orang-orang yang sedang mempersiapkan toko menoleh ke arah ketiga orang tersebut, bahkan Isla yang berada di dapur melongok untuk melihat apa yang terjadi. Suasana sekilas berubah tegang, para pegawai menghentikan pekerjaan dan ikut cemas dengan kondisi Owner tempat mereka bekerja.
Canna bangun dari tempat duduknya, menatap ke arah Arca dan menegur, “Tuan Rein, tolong jangan menyinggung hal sensitif seperti itu.”
Pindah menatap ke arah Elulu, penyihir tersebut juga mengingatkannya, “Kamu juga, Elulu. Tak perlu emosi seperti itu.”
“Aku hanya ingin memastikannya.” Arca sama sekali tidak menurunkan niatnya untuk mencurigai. Menatap tajam ke arah anak mantan pedagang tersebut, Putra dari keluarga Rein itu kembali bertanya, “Apa kau yakin Odo baik-baik saja? Dia dibawa langsung oleh Kaisar Abadi itu, kau pikir aku bisa percaya pada perkataanmu?”
“Tuan Arca, tolong jangan membuat suasana semakin keruh⸻!”
Di tengah pembicaraan, pintu utama toko terbuka dan seorang gadis rambut putih keperakan berdiri di sana. Gadis itu adalah Nanra, ia mengenakan Alba putih murni dengan ikat Single pada pinggangnya. Rambut gadis itu diikat kepang tunggal ke belakang, pada kedua kakinya ia mengenakan sepatu kayu dan pada tangan kanan terdapat gelang logam hitam yang terlihat sangat longgar.
Secara serempak semua orang melihat ke arahnya, menatap heran dan dalam benak bertanya-tanya mengapa anak tersebut malah datang ke toko. Arca segera bangun dari tempat duduk, menatap datar dan menegur, “Kenapa kau malah ke sini? Kemarin sudah disuruh libur supaya bisa ikut pembaptisan, ‘kan? Odo telah memerintahkan ku untuk meliburkan kau!”
“Eh?!” Nanra tersentak, dirinya sendiri bingung kenapa malah berjalan ke toko dan bukannya ke Gereja Utama. Sembari memalingkan wajah ia mengelak, “Saya pikir tak masalah kalau mampir ke sini dulu. Lagi pula, acaranya baru akan dimulai pukul delapan nanti ….”
“Kalau kau sekretaris, datanglah lebih awal!” ucapnya tegas seraya kembali duduk.
Nanra kembali memalingkan pandangan ke arah lain, seakan dirinya enggan menatap langsung mata Arca karena sadar kesalahannya. Berusaha tidak terlalu memedulikan mimik wajah pemuda rambut pirang tersebut, ia berjalan ke meja yang sama dengan mereka berdua dan duduk. Nanra mengambil laporan pembelian bahan makanan, lalu memeriksanya dan malah melakukan pekerjaan dan bukannya segera pergi.
Canna sekilas menatap datar anak perempuan tersebut, merasa heran dengan tingkahnya yang seakan telah tenggelam dalam pekerjaan. Menghela napas ringan dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut, dirinya ikut mengingatkan, “Nanra, sebaiknya kamu bersiap dulu. Pembatisan hanya terjadi dua kali dalam seumur hidup, lakukan yang terbaik supaya tak ada penyesalan.”
“Penyesalan?” Nanra menatap datar, lalu dengan remeh ia balik bertanya, “Memang apa yang perlu disesali? Itu hanya Upacara Kedewasaan ….”
Di tengah suasana yang semakin tegang tersebut, orang-orang yang membawa wadah daun jati datang dan mengetuk pintu yang terbuka. Salah satu dari mereka melangkah ke dalam dan berkata, “Ini wadah untuk hari ini, Totto‼ Taruh di mana? Apa seperti biasanya di dapur⸻?” Seketika orang yang melangkah masuk itu terhenti, berjalan mundur dan keluar karena mendapat tatapan tajam dari beberapa orang di dalam.
Totto turun dari lantai dua bersama Matius, lalu pria Demi-human tersebut dengan segera menjawab, “Taruh saja itu di dapur!”
Orang-orang yang datang membawa wadah daun jati melihat ke arahnya dalam ekspresi bingung, lalu salah satu di antara mereka berkata, “Tapi di dalam ….”
“Hmm?”
“Eng?”
Setelah turun Totto dan Matius melongok ke ruangan toko, seketika mereka heran karena Nanra ada di sana. Melihat ekspresi Arca dan Canna yang terlihat tak senang, seketika kedua pria tersebut paham kalau mereka sedang membahas hal penting. Tak ingin mengganggu mereka, Totto mengajak orang-orang yang bekerja sama dengannya tersebut.
“Kita ke lantai dua saja. Jumlahnya lengkap, ‘kan?”
“Tentu!”
“Kalau begitu, ayo kita ke atas ….”
Totto dan orang-orang tersebut pergi ke lantai dua untuk melakukan transaksi setara terkait wadah daun jati, tentu saja mereka tidak sampai masuk ke dalam dan hanya berdiri di tangga samping bangunan. Tidak ikut dengan mereka, Matius lanjut mengangkut kotak serta karung bahan makanan untuk ditaruh di dapur.
Sempat terganggu karena kedatangan orang-orang pinggiran, Arca sejenak menghela napas dan kembali menatap ke arah Nanra. “Pergilah ke tempat pembatisan! Kau harus ke sana sekarang juga,” ucap Arca dengan tegas.
Dengan ekspresi tak suka Nanra membalas, “Anda mengusir saya? Saya hanya akan di sini setengah jam saja.”
Matius yang berjalan melewati meja tempat mereka duduk sekilas merasakan aura permusuhan yang sangat jelas. Ia merasa tanpa adanya Odo orang-orang tersebut memang sukar untuk bekerja sama. Saat sampai di dapur dan meletakkan kotak kayu di pojok, tiba-tiba mekanisme pintu basement aktif dengan sendirinya.
Papan kayu terbuka, lalu seorang pemuda melangkahkan kakinya keluar dari ruang bawah tanah. Rambut hitamnya acak-acakan, berjalan sembari menundukkan kepala dan terlihat sibuk dengan kertas perkamen yang dipegang.
Matius dan Isla benar-benar terkejut karena Owner mereka ternyata dari tadi berada di ruang bawah tanah. Sebelum pasangan suami istri tersebut sempat berkata sesuatu, tanpa menatap ke arah mereka Odo meletakkan jari telunjuk ke depan mulut dan meminta kedua orang tersebut diam.
Merapikan rambut dengan tangan kiri, pemuda itu menginjak lantai dengan mekanisme penutup pintu bawah tanah. Sembari menghela napas ringan ia menggulung perkamen yang dipegang, lalu memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan.
“A-Anda dari tadi di dalam sana? Dari kemarin?” tanya Matius dengan suara pelan.
Sembari menatap lesu Odo menjawab, “Tentu saja tidak, aku baru kembali tadi pagi-pagi buta.” Selesai merapikan rambut dengan tangan, pemuda itu membuka pintu dapur dan berjalan keluar.
Orang-orang yang berada di toko seketika melihat ke arah pemuda itu, terlihat heran dan bertanya-tanya dalam benak dari mana dirinya datang. Arca segera bangun dari tempat duduk dan dengan lantang bertanya, “Kau dari mana saja, Odo?!”
“Tch …. ” Odo membunyikan lidah dan mengerutkan kening mendengar suara lantang Putra Sulung Keluarga Rein tersebut. Tidak menjawabnya, ia berjalan ke arah Mirin Kirsi yang berdiri bingung di depan meja kasir.
Gadis rambut abu-abu panjang sebahu tersebut mengenakan gaun biru tua yang merupakan seragam toko, masih terlihat kaku dan canggung dengan lingkungan barunya. Melihatnya begitu gugup, Odo merasa kalau anak itu memang belum bisa beradaptasi dengan baik.
Pemuda rambut hitam tersebut berlutut di depan Kirsi, mengelus kepala anak itu dan bertanya, “Apa tidak masalah bekerja di sini? Kau bisa saja tinggal di panti asuhan dulu dan mencari hal lain untuk dilakukan, loh ….”
“Ti-Tidak apa! Kata mendiang ibuku, yang tidak bekerja tidak akan dapat makan. Aku harus bekerja!”
Mendengar jawaban yang terdengar kaku tersebut, Odo sekilas tersenyum tipis dan kembali mengelus kepala anak itu. Sekilas mimik wajah pemuda itu terlihat begitu sedih setelah mengingat kejadian saat hari pertama kali bertemu dengannya. Setelah sejenak memejamkan mata, Odo mengangkat tangan dari Kirsi dan kembali berdiri.
Ia menarik napas dalam-dalam, memasang senyum tipis dan berkata, “Baiklah, aku terima kau di sini …. Bekerja yang rajin, ya.”
“Te-Tentu, Tuan!”
Ekor tebal gadis itu bergerak ke kanan dan kiri dengan gembira, memperlihatkan isi hatinya yang tidak tampak pada ekspresi wajah. Sorot matanya berseri-seri penuh rasa kagum, baru sadar bahwa yang telah menolongnya adalah orang yang sangat mulia.
Tak terlalu memedulikan tatapan Kirsi, Odo segera menoleh ke arah Arca dan sorot matanya dengan cepat berubah datar. “Kenapa kau terlihat marah seperti itu?” tanyanya dengan nada malas.