
Odo menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Kembali berdiri tegak, dengan penuh wibawa ia pun menjawab, “Jika Yang Mulia tidak keberatan, saya tidak akan menolak.”
“Ini soal daerah yang akan diberikan kepada engkau. Sebenarnya diriku ingin membicarakan ini dengan Tuan Thomas dan engkau tadi malam. Namun karena engkau langsung pergi setelah acara, kami sudah mempersempit pilihan menjadi dua opsi.”
Odo hanya memasang senyum santai seakan dirinya telah tahu topik tersebut akan diangkat sang Raja. Merasa atmofer mulai berubah dan topik pembicaraan berubah serius, Tuan Putri Arteria segera paham dan menyingkir ke sebelah Pangeran untuk memberi ruang bebas bagi Raja dan Odo berbincang.
“Dua opsi apa itu, Yang Mulia?” tanya Odo.
Raja Gaiel mengangkat tangan kanannya ke depan, lalu dengan nada dan tatapan tegas menyampaikan, “Seperti yang telah diriku sampaikan saat pemberian gelar, engkau adalah Viscount yang arah wewenang bersumber dari Tuan Thomas Rein. Bukan berasal dari Wilayah Luke ini …. Dengan kata lain, tentu daerah yang akan engkau pimpin berasal dari Wilayah Rein. Ini bukan berarti engkau akan menjadi Walikota atau Demang di sana, namun hanya sebagai pejabat tinggi yang memiliki beberapa wewenang sesuai gelar yang dirimu miliki sekarang.”
“Hmm ….” Odo mengangguk, lalu memalingkan pandangan dengan sedikit lesu. Sekilas Raja Gaiel melihat mata pemuda itu berubah hijau, namun ia tidak tahu kalau Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sedang menggunakan salah satu sihirnya untuk berdiskusi sekarang. Kembali menatap ke arah sang Raja, pemuda itu menyampaikan, “Diriku sudah paham dan sedikit menangkap maksudnya. Lalu, opsi Yang Mulia bicarakan itu lebih spesifiknya seperti apa?”
Raja Gaiel mengacungkan dua jarinya ke depan, lalu tanpa ragu langsung menyebutkannya, “Engkau ingin menjadi Wakil Walikota Pien’ta di perbatasan atau menjadi Tuan Tanah dari lima desa Teritorial Kota Localias Tiber di pusat Wilayah Rein?”
Odo sesaat merasa kedua pilihan tersebut terasa menyusahkan. Odo samar-samar paham alasan kedua Kota tersebut menjadi pilihan, ia juga paham kondisi dua kota tersebut sekarang. Sejenak terdiam dan memikirkannya, pemuda itu ingin menghargai sang Raja dan Thomas Rein.
Ia mengerti kalau kedua orang tersebut juga telah mempertimbangkan banyak hal sebelum mempersempit pilihan menjadi dua opsi.
Kota Pien’ta pada dasarnya merupakan satu-satunya Kota militer di Wilayah Rein, berbatasan langsung dengan Kerajaan Ungea dan secara geografis memiliki laut serta dataran tinggi. Namun layaknya kota-kota pelabuhan dan bernasib hampir sama dengan Mylta, Kota Pien’ta juga mengalami kemunduran setelah jalur laut di Laut Tengah dibuka setelah Perang Besar berakhir.
Memang untuk beberapa alasan kondisi Kota Pien’ta lebih baik dari Mylta, itu karena memiliki bentuk pemerintahan fokus militer dan pajak pusat pun tidak terlalu tinggi. Bukan hanya itu saja, sistem koneksi antar teritorial yang dibangun oleh Thomas Rein juga membuat Kota tersebut tidak runtuh secara ekonomi selama hampir dua dekade ini.
Namun tetap saja, Kota Pien’ta memiliki masalah tersendiri soal investor dan para bangsawan di sana. Tingkat keluarga bangsawan yang ingin pindah ke Kota lain semakin meningkat, para militan pun berkurang dan Kota militer tersebut perlahan mengalami regresif dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Untuk pilihan kedua yang ditawarkan oleh Raja, Odo sesaat merasa lima desa di pusat Wilayah Rein tersebut bukanlah pilihan yang buruk. Teritorial Kota Localias Tiber sendiri merupakan tempat dengan perekonomian paling stabil dan maju di Kerajaan Felixia. Namun mempertimbangkan sifat dan pemikiran sang Raja, Odo merasa ada masalah lain yang tidak dipublikasikan secara umum.
Mempertimbangkan kedua opsi penting di hadapannya, Odo sejenak membuka telapak tangan kanannya sendiri dan termenung. Ia mempertimbangkan matang-matang beban tanggung jawab dan keuntungan dari kedua opsi. Bukan hanya itu saja, Odo juga memikirkan rencana yang telah ada dan harus diselesaikan sebelum akhir tahun.
Menurunkan tangan dan mengangkat wajahnya, Odo menatap Raja Gaiel dengan sorot mata gelap. Merasa kedau dua opsi yang ada sangatlah membebaninya. Ia ingin menolak itu, namun pada saat yang sama dirinya paham bahwa seorang bangsawan memiliki kewajiban.
Sejenak menghela napas ringan, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memastikan, “Sebelum aku memilih, kira-kira kapan aku harus melakukan tugas dan kewajibanku sebagai seorang Viscount?”
“Sesegera mungkin. Kalau diperkirakan, semua persiapan seharusnya akan selesai saat musim gugur atau musim dingin nanti. Setelah kembali ke Wilayahnya, Count Rein akan segera mengurus semua keperluanmu untuk menempati posisi yang engkau pilih.”
“Hanya sekitar beberapa bulan lagi, ya ….”
Odo paham bahwa dirinya tidak memiliki banyak waktu, sebelum tahun berganti ia juga harus sudah bisa pergi ke Ibukota Kerajaan Moloia supaya bisa mencegah peperangan atau mengurangi dampaknya terhadap Felixia. Mempertimbangkan waktu, beban kewajiban serta kemampuan yang dirinya miliki sekarang, dalam benak pemuda itu memutuskan.
“Aku memilih Wakil Walikota ….”
Jawaban tersebut sedikit membuat Raja Gaiel terkejut. Mempertimbangkan kepribadian Odo yang terkesan menghindari masalah, ia mengira pemuda itu akan memilih menjadi Tuan Tanah daripada berurusan dengan Kota yang bermasalah di perbatasan.
“Mengapa engkau mengambil opsi tersebut? Bukannya lebih mudah bagimu untuk menjadi Tuan Tanah dari tempat makmur daripada Wakil Walikota dari Kota yang sedang bermasalah?”
Odo sesaat terdiam, ia memiliki alasannya sendiri namun sedikit ragu untuk menjelaskan semuanya. Alasan pertama Odo mengambil pilihan tersebut adalah karena Kota Pien’ta dekat dengan laut. Hal itu bisa memudahkannya untuk melakukan kontak dengan pihak Kerajaan Moloia yang mendukungnya. Alasan kedua adalah bentuk pemerintahan Pien’ta yang berfokus militer dan Walikota di sana sekarang bergelar Viscount, sama seperti dirinya.
Namun di saat dirinya memikirkan hal tersebut, Odo baru sadar kalau Fiola berdiri di belakang para Prajurit Elite. Bola mata perlahan berputar ke samping, merasa harus menyusun rencana dengan hati-hati supaya tidak dipahami oleh Huli Jing tersebut.
Kembali menatap ke arah sang Raja, Odo pun dengan jelas menjawab, “Itu karena Pien’ta agak mirip kondisinya dengan Mylta. Selain hal tersebut, Yang Mulia bermaksud mendorong ku ke perselisihan para bangsawan yang ada di Kota Localias Tiber, ‘kan? Kalau aku memilih menjadi Tuan Tanah …. Jujur aku tidak suka dengan konflik dingin.”
“Hmm, spekulasi yang bagus.” Raja Gaiel tersenyum kecil, lalu dengan mimik wajah seakan memprovokasi berkata, “Mengapa engkau bisa berpikir demikian?”
“Arca ….” Odo menghela napas, memalingkan pandangannya dari sang Raja dan kembali berkata, “Salah satu kenalan ku yang dulunya menjadi bawahan Arca pernah bicara soal hal semacam ini …. Kondisi di balik tirai Localias Tiber tidak seindah yang orang-orang pikirkan. Di sana hanya ada dua pilihan antara dilebur atau melebur. Tiap tahun jumlah konglomerat naik turun tidak karuan. Meski kondisi ekonomi berkat itu terus naik, namun tetap saja orang-orang yang ada di sana sukar untuk bertahan.”
“Hmm ….” Raja tersenyum ringan, merasa senang hubungan antara Pedang dan Timbangan generasi selanjutnya berjalan dengan baik. Dengan maksud menyindir Raja Pun berkata, “Sepertinya engkau memang sangat dekat dengan putra Tuan Thomas tersebut. Tak diriku sangka anak yang selalu membuat rusuh di kalangan para bangsawan itu bisa dekat dengan engkau.”
Mendengar itu, sekilas Odo memalingkan pandangan ke kanan dan bergumam, “Dia sampai disebut rusuh oleh Rajanya sendiri.” Kembali menatap lawan bicaranya, Odo paham apa yang dimaksud membuat rusuh oleh Raja Gaiel.
Pada dasarnya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam sistem pemerintahan adalah hal yang tidak bisa hilang. Meskipun ada seseorang pemimpin berbicara bijak dan koar-koar bahwa sistem pemerintahan yang dipimpinnya bebas dari hal semacam itu, namun hal tersebut hanyalah untuk kampanye. Mengait hati masyarakat dan demi wajah depan yang baik.
Pada kenyataannya, praktik kotor semacam itu sudah ada sejak dulu sekali dan tidak bisa lepas karena telah menjadi fondasi. Entah itu bentuk pemerintahan Monarki, Republik, Serikat ataupun bentuk pemerintahan lainnya, sesuatu yang berkaitan dengan politik pasti bersifat kotor karena kehendak masyarakat bisa tumpangi oleh kehendak pribadi seseorang. Odo pun sangat paham hal tersebut.
“Apa engkau juga sama seperti Tuan Arca? Menganggap praktik semacam itu perlu dibersihkan secara penuh dari Kerajaan ini?” tanya Raja dengan maksud serius.
Odo sedikit terkejut. Bukan karena pertanyaan sang Raja, namun karena sosok Pemimpin tersebut menanyakan hal itu di depan Prajurit Elite dan kedua anaknya. Paham bahwa Raja Gaiel juga tidak memiliki kekuasaan yang bisa membuat sewenang-wenang kepada para bangsawan dan konglomerat, Odo kembali menghela napas.
“Pemikiran ku sama dengan Arca ….” Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut menatap dengan tajam, lalu sembari memasang wajah sedikit sedih menambahkan, “Namun aku paham hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Yang Mulia tahu, kita hidup di masyarakat …. Jika masyarakat masih berharap untuk hal tersebut, perubahan tidak akan terjadi.”
“Dari perkataan yang engkau ucapkan itu, berarti hal tersebut bisa berubah jika masyarakat menghendakinya? Apa engkau ingin bilang kalau masyarakat sekarang ini masih berharap ingin diperlakukan tidak adil?”
“Hmm, memang begitu. Masyarakat adalah keseluruhan orang yang tinggal di negeri ini, baik itu yang ada di strata atas atau pun bawah.” Odo membuka telapak tangannya lurus ke depan. Sembari memasang ekspresi penuh rasa kesal, ia menutup erat telapak tangan seakan meremas sesuatu dan berkata, “Kelak di masa depan, sistem Monarki akan lenyap. Digantikan oleh bentuk pemerintahan yang lebih ideal, sesuai dengan zaman dan perkembangan kehendak masyarakat!”
“Bagi diriku itu terdengar mustahil. Asal engkau tahu, Monarki sudah ada selama lebih dari 26 abad. Sepanjang sejarah tidak ada satu pun yang bisa menggantikan hal tersebut⸻”
“Kenapa Yang Mulia bisa seyakin itu?” potong Odo. Seringai lebar tampak jelas di wajahnya, bagikan seorang revolusioner yang telah tahu dan melihat perubahan yang dimaksud.
Untuk sesaat Raja terkejut, itu pertama kalinya Odo menunjukkan wajah penuh rasa percaya diri dan ambisi di hadapannya. Ingin memastikan sesuatu, ia pun kembali bertanya, “Memangnya perubahan apa yang engkau maksud? Apa seperti sistem Otonomi Daerah yang engkau buat dan diterapkan selama musim dingin lalu?”
Odo tidak mengira sang Raja akan membahas masalah internal Wilayah Luke tersebut. Kebijakan yang diterapkan saat musim dingin lalu memang terkesan berbeda dari Monarki karena bersifat desentralisasi, bahkan cenderung mirip dengan Kerajaan Moloia.
Untuk sekilas Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut merasa Raja Gaiel sadar kalau kebijakan itu memang diadaptasi dari bentuk pemerintahan Moloia. Kemungkinan Odo mendapat pengaruh dari negeri tetangga juga tidak bisa dihilangkan karena beberapa waktu lalu terjadi kasus di daerah pelabuhan Mylta. Itu semua membuat sang Raja menatap curiga, khawatir kalau Odo telah dipengaruhi oleh orang luar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!