
Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Odo menutup mata dengan lengan kanan dan bernapas sedikit terengah-engah. Darah dari hidung dan telinga anak itu sudah berhenti mengalir keluar beberapa menit lalu, kapas-kapas merah karena bercak darah masih berserakan di sekitar tempatnya terbaring. Tidak jauh dari Odo, duduk Fiola di pinggir ranjang dengan cemas. Ia menutup kotak kayu kecil berisi obat-obatan dan kapas, lalu menurunkannya dari pangkuan ke atas tempat tidur.
“Itu ..., kalau tidak salah kotak pertolongan pertama yang sering dibawa orang-orang Moloia yang pernah datang itu, ‘kan?” tanya Odo dengan suara lemas.
“Iya .... Ini salah satu barang yang mereka jual saat berlabuh di kota ini katanya. Padahal kalau mereka benar-benar datang dengan niat berjualan, mungkin masalah seperti pihak radikal atau semacamnya tidak muncul ....”
Odo berhenti menutup matanya dengan lengan. Tetap berbaring di atas ranjang dan menoleh ringan ke arah perempuan rambut kehitaman tersebut, ia pun berkata, “Hmm, jadi Mbak Fiola juga peduli hal semacam itu rupanya .... Aku kira, Mbak Fiola hanya peduli dengan ibuku saja.”
“Tidak juga,” jawab Fiola seraya menundukkan kepala, terlihat sayu dan terdapat sedikit kesedihan di dalamnya. Menatap anak itu dan tersenyum simpul, ia berkata, “Saya memang tidak peduli ..., dulunya. Tetapi ..., setelah pergi dengan Anda ke beberapa tempat selama seharian kemarin, entah mengapa saya mulai tertarik dengan hal lain dalam kehidupan panjang ini.”
Sedikit memasang wajah cemberut, Huli Jing itu tambah naik ke tengah tempat tidur dan memeriksa suhu badan Odo. Meletakkan punggung tangan ke kening anak itu, perempuan tersebut berkata, “Hmm, demamnya sudah turun. Apa perlu dikompres? Saya akan turun untuk mengambil baskom dan kain ..., sekalian mengembalikan kotaknya pada mereka.”
“Tak usah,” jawab anak itu. Ia bangun dan duduk dengan tatapan yang masih lesu. Seprei dan pakaian yang dikenakannya basah karena keringat, kain tipis dari tunik yang dikenakan membuat lekuk otot anak itu yang terbentuk dengan sempurna terlihat.
“Sungguh?” tanya perempuan itu dengan sebelah alis sedikit dinaikkan.
“Ya ..., mungkin. Penyesuaiannya sudah kudapat ....” Odo sedikit meregangkan leher, melihat ke kanan dan kiri untuk melenturkan otot yang kaku. Menatap Fiola dengan heran, ia bertanya, “Tadi, Mbak Fiola memberitahukan sesuatu pada mereka? Saat mengambil kotak obat itu ....”
“Ya .... Yah, saya sempat panik tadi melihat Tuan Odo tiba-tiba ambruk, jadi ....”
“Jangan cemas, aku sudah bisa mendapat penyesuaian, kok.”
Fiola terlihat bingung mendengar itu. Ekspresinya berubah datar dengan cepat, menatap kosong dan menunggu anak itu menjelaskannya. Mendapat tatapan seperti itu, sekilas Odo merinding dan merasa ada sesuatu yang gelap dalam diri Fiola. Sedikit tersenyum pasrah, anak itu memalingkan pandangan dan menghela napas.
“Boleh saya tanya beberapa hal, Tuanku?” Fiola mendekatkan wajahnya, lalu memegang pundak kanan anak itu dengan erat.
“Hmm, silakan saja. Kalau sudah seperti ini, memang sebaiknya aku tidak menyembunyikan sesuatu dari Mbak Fiola.”
Semakin mendekatkan wajah ke Odo, Fiola menatap dari dekat dan bertanya, “Tadi ... itu apa? Kenapa Anda sering sekali mimisan? Bahkan tadi, Anda sampai mengalami pendarahan parah .... Kenapa?”
“Ah ..., dari itu.” Odo menatap balik perempuan itu. Sedikit memasang wajah muram, ia memalingkan pandangan dan berkata, “Aku tidak terlalu tahan dengan hawa dingin. Saat ini salju sedang turun dan hawanya dingin, ‘kan? Tekanan darahku jadinya naik dan sering pendarahan seperti itu.”
Menatap dalam-dalam anak itu, Fiola hanya memasang ekspresi datar. Matanya terlihat gelap, meski bibirnya tersenyum tetapi ekspresi itu tidaklah ramah sama sekali. Berhenti memegang pundak anak itu dan sedikit menjauh, ia menghela napas dan berkata, “Anda ... bohong, ya? Kenapa Anda berbohong seperti itu?” ucapnya dengan nada menekan.
“Eh?” Odo sedikit terkejut mendengar itu. Karena sihir kalkulasinya sedang tidak aktif, dirinya sama sekali tidak bisa melakukan perhitungan atau melakukan prediksi.
“Selain sihir petir dan api, diriku master dalam sihir pikiran. Atribut kita hampir serupa, tidaklah sulit mengetahui apakah Anda bohong atau tidak.”
Odo terbelalak, dirinya benar-benar baru tahu hal tersebut dan selama ini sama sekali tidak memasukkannya dalam perhitungan. Membuang pandangan dari perempuan itu, keringat dingin mulai keluar, bukan karena dirinya sedang demam tetapi karena tertekan. Fiola kembali menjauh sampai pinggir tempat tidur, memalingkan pandangan dengan muram ia pun berkata, “Apa ... sampai seperti itu Anda tidak memercayai para Shieal ?”
“Ah?” Odo terbelalak, apa yang diduganya lebih buruk dari yang dikira. Sedikit tersenyum miris, ia berkata, “Jangan-jangan ..., Mbak Fiola ....”
“Seperti yang Anda duga, saya membaca pikiran Anda.”
“Ah .... Sejak kapan?” Odo gemetar, keringat dinginnya semakin mengalir deras.
“Hmm, sejak kapan, ya? Saya tidak terlalu ingat, mungkin sejak Anda kecil ....”
Odo benar-benar terkejut mendengar itu. Anak itu serasa telah melewatkan sesuatu yang sangat penting dari perempuan di hadapannya tersebut. Menelan ludah dengan berat, ia hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa-apa atau mencari alasan untuk tidak melanjutkan pembicaraan.
“Jujur saja,” ucap Fiola tegas. “Saya sempat terkejut saat pertama kali membaca pikiran Tuan Odo ketika Anda masih berusia kurang dari satu tahun .... Bayi biasa berpikir seperti rasanya sangat menyeramkan. Semakin ke sini, pikiran Anda semakin cepat dan saat usia lima tahun Anda sampai membuat kepala saya sakit karena membaca pikiran Anda,” lanjutnya seraya sedikit naik ke tengah ranjang dan menatap tajam Odo.
“Ugh ..., serius? Sejak dulu rahasiaku telah terbongkar?” Odo sama sekali tidak bisa berdebat soal itu, dirinya hanya bisa memasang wajah pasrah saat perempuan itu berkata demikian.
“Jangan cemas, saya tidak memberitahukan hal-hal seperti itu pada Nyonya atau yang lain.” Fiola sedikit tersenyum senang seakan menikmati ekspresi kewalahan anak itu. Memegang dagunya sendiri, ia sedikit mengubah sudut pandangannya terhadap anak itu dan kembali tersenyum.
“Hmm, boleh aku tahu alasannya? Kenapa Mbak Fiola mau menyimpan rahasiaku sampai sekarang? Bisa saja Mbak Fiola bilang ke bunda, bukan?” tanya Odo. Anak itu menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan beberapa persen sihir kalkulasinya dan berusaha tidak panik. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot mata anak itu, sekilas Fiola melihat kilatan cahaya kehijauan dalam kornea birunya.
“Saya ... tak ingin membuat beliau tambah cemas dan tertekan karena Anda,” jawab Huli Jing tersebut. Berhenti memegang dagu, ia semakin mendekati Odo. Mendorong dan membaringkan anak itu ke tempat tidur, Fiola naik ke atas badan anak yang terbaring lemas tersebut dan menahannya supaya tidak bangun. Meski Fiola dalam bentuk tubuh anak-anak, tetapi pakaian yang dikenakannya dan posisi itu sedikit membuat detak jantung Odo bertambah cepat.
“Jujur, sejak dulu saya tidak suka Tuan Odo,” ucap perempuan yang duduk di atas perut anak itu. Menatap rendah, seakan-akan dirinya lebih superior dan anak yang ditindihinya itu hanyalah seekor serangga.
“Aku tahu, Mbak Fiola sering menatapku seperti itu kalau aku sedang bicara dengan ibu,” balas Odo.
“Anda ... selalu saja melakukan hal-hal yang membuat Nyonya cemas. Kabur dari rumah, berburu, coret-coret ruangan dengan sihir-sihir cacat, bahkan sampai membahayakan nyawa Anda ...,” ucap Huli Jing tersebut. Perlahan ekspresinya menjadi sedih, menundukkan kepala dan meletakkan kedua telapak tangannya ke atas dada anak itu. Menatapnya dengan sorot mata yang sangat berbeda dengan sebelumnya, ia bertanya, “Tetapi, saya tahu kenapa Anda melakukan semua itu .... Anda hanya ingin melindungi rumah itu, ‘kan? Jadi ... tolong beritahu saya apa yang sebenarnya Anda sembunyikan?”
Menyeringai kecil, dengan nada menantang anak itu berkata, “Bukannya Mbak Fiola bisa membaca pikiranku? Baca saja ....”
“Saya hanya bisa membaca permukaannya saja ...,” ucap Fiola kesal. “Lagi pula, isi kepala Anda sangat penuh dan membuat saya pusing ....”
“Pusing?”
“Singkatnya, saya tidak paham apa yang Anda pikirkan. Apa maksudnya Rekonstruksi Dunia? Apa itu A.I? Kenapa Anda sering memikirkan Witch? Kenapa Anda harus bertemu Reyah saat musim panas nanti? Kenapa Anda berhubungan dengan orang-orang Moloia itu? Apa yang ingin Anda buat itu kantor distributor, bukan? Kenapa ada kaitannya tantang penyerangan yang mungkin akan terjadi saat musim semi tahun depan?”
Odo terbelalak mendapat hujan pertanyaan itu, hampir semua rahasianya telah terbongkar oleh Huli Jing tersebut. Anak itu benar-benar meremehkan sihir pikiran milik ras rubah berekor sembilan itu, dalam pengetahuannya sihir tersebut hanyalah sihir untuk mengganggu pikiran dan indra lawan saja. Membaca pikiran secara penuh seperti itu tidaklah masuk dalam perhitungkan anak itu.
“Um ... ah, uh. Bubar sudah ....” Odo memalingkan wajah. Sedikit frustrasi tentang itu dan merasa seperti dilucuti habis-habisan. Merentangkan kedua tangannya ke samping, ia benar-benar pasrah dengan hal itu dan tidak punya kata untuk mengelak.
“Tenang saja, saya tak pernah bilang soal ini kepada orang lain.”
“Sungguh?” Odo melirik, tak sepenuhnya percaya perkataan itu.
“Hmm.” Mengangguk ringan, Fiola memegang kepala anak itu dan memaksanya untuk saling bertatapan mata. Odo hanya terdiam, bingung dengan tingkah aneh perempuan yang biasanya terlihat tidak peduli dengan sekitar itu.
“Kalau Mbak Fiola bisa tahu tentang hal-hal tersebut, kenapa Mbak Fiola tercengang saat aku bilang tahu rahasia ibu? Bukannya saat itu Mbak Fiola bisa membaca pikiranku?”
Fiola tersentak, mengangkat tangannya dari wajah anak itu dan kembali meletakkan tangannya ke atas dadanya. “Jadi ... Anda benar-benar tahu tentang itu, ya ....”
“Ya, aku tahu .....”
“Apa Anda juga bisa membaca pikiran?” tanya Fiola.
“Gak! Aku tak punya kemampuan semacam itu .... Membaca pikiran itu rasanya sangat curang, apa-apaan kemampuan itu?!” ucap Odo kesal. Ia mendorong Fiola dan berusaha menyingkirkannya dari atas tubuh, tetapi tangannya malah ditepis dan ditahan ke atas ranjang oleh perempuan itu.
“Anda tidak memasang pelindung pikiran, makanya saya mudah membaca apa yang sedang Anda pikirkan,” jelas Fiola.
“Hmm, ada hal semacam itu rupanya.”
“Tentu saja ada. Selain sihir, ada juga Battle Art yang membuat pikiran kosong dan menjadi tidak bisa dibaca.”
“Kalau kosong ya mustahil dibaca pikirannya, ya.” Menarik napas resah, anak itu memalingkan pandangan dan bertanya, “Jadi, kenapa Mbak Fiola tiba-tiba membahas ini dan membongkar semuanya padaku? Yah, tepatnya aku yang merasa dibongkar habis-habisan semua rahasianya, sih.”
“Saya ingin tahu mengapa Julia bisa berubah seperti itu?”
“Hah?” Odo menatap bingung, seraya berusaha melepaskan kedua tangannya yang ditahan Fiola. Tetapi itu percuma, secara kekuatan fisik perempuan itu sangatlah lebih unggul darinya.
“Anda tahu, dari dulu anak itu sebenarnya sangat pendiam dan pesimis,” ucap perempuan itu dengan nada datar. Kembali mendekatkan wajah, ia berkata, “Dia selalu heboh sendiri karena tak ingin merepotkan orang lain dan murung sendiri tanpa ingin diketahui orang lain. Matanya bahkan kadang-kadang terlihat mati .... Tetapi sejak mengasuh Anda, dia terlihat hidup .... Meski sering mengeluh, tapi keluh kesahnya berasal dari lubuk hati dan dia benar-benar lebih hidup dari sebelumnya .... Apa yang Anda lakukan padanya? Memantrai Fiola?”
“Apa ada mantra semacam itu?” tanya balik Odo dengan ekspresi kesal. Alisnya berkedut, tetap berusaha melepaskan diri dari kekangan perempuan itu.
“Hmm, kurasa memang tidak ada. Apa lagi, sihir yang bisa mempengaruhi salah satu dari Ras Pelayan Iblis itu ....” Menjauhkan wajah, Fiola tersenyum ringan dan merasa lega karena sesuatu hal. Ia telah membaca pikiran Odo dan apa yang dikatakan anak itu adalah sebenarnya dan itu bukanlah kebohongan.
“Kalau sudah tahu, jangan ditanya!”
“Lantas kenapa?” tanya perempuan itu seraya tersenyum tipis. “Kami berdua sama-sama makhluk berumur panjang, tidak bisa berubah dengan cepat seperti itu .... Bukan hanya Julia saja, Roh Agung di perpustakaan itu juga belakangan gelagatnya berubah, ‘kan?”
“Itu ....” Odo berhenti berusaha melepaskan diri. Memalingkan pandangan, ia tanpa sengaja memikirkan alasannya.
“Hmm ....” Menyipitkan mata setelah membaca pikiran anak itu, Fiola berkata, “Anda berjanji padanya kalau akan membawanya keluar dari perpustakaan itu? Dan ... membuat kontrak juga?”
“Ah ..., jangan membaca pikiranku!” bentak Odo. Anak itu kembali meronta sampai ranjang berdecit. Tetapi, itu tetap saja percuma karena secara kekuatan fisik Odo lebih lemah dari perempuan itu. Sekilas ia sempat ingin menggunakan sihir. Tetapi saat Fiola menyeringai, anak itu paham kalau pilihan itu bukanlah hal yang tepat.
“Ah .... Anda berniat melawan Leviathan juga? Kenapa?” tanya Fiola.
“Akh ..., rasanya menyebalkan pikiranku dibaca terus seperti ini.” Odo memalingkan wajah, benar-benar kesal dan merasa ditelanjangi setiap kali perempuan itu membongkar rahasianya.
“Kenapa Anda ingin melawan Serpent Kuno itu?”
“Geh ....” Menatap kesal, anak itu dengan jelas memikirkan alasannya.
“Hmm, begitu rupanya. Untuk bisa membuat tubuh Anda bisa menampung Roh Agung tersebut. Ditambah dengan Naga Hitam yang ada di dalam diri Anda, itu bisa Anda akali .... Akali seperti apa?”
“Masih lanjut?! Serius?!” Wajah anak itu mengerut kesal, bibirnya dimasukkan ke dalam mulut dan otot wajahnya mengencang.
“Mengakali seperti apa? Saat Anda berpikir seperti itu, saya tidak bisa membaca pikiran Anda. Seperti apa mengakalinya?” tanya Fiola dengan tatapan kosong, dirinya murni ingin tahu dan benar-benar tidak memedulikan rasa kesal anak itu.
“Sudahlah! Kenapa sih Mbak Fiola ini?! Membaca pikiran orang seperti itu tak sopan!!”
“Itu hanya akal sehat para Mortal .... Kami ..., saya sendiri adalah Hewan Suci. Bentuk sebelum menjadi sosok ilahi ....”
“Uwah, logika macam apa itu? Kenapa sih Mbak Fiola ini .... Kenapa juga tiba-tiba bertingkah agresif seperti ini? Dari tadi! Selama bersamaku Mbak Fiola tak pernah membahas hal seperti ini, ‘kan? Kenapa tiba-tiba sekali ....”
Perempuan itu menjauhkan wajahnya, sedikit melonggarkan genggamannya yang menahan kedua tangan Odo. Melihat ekspresi kesepian yang tiba-tiba nampak itu, Odo sama sekali tidak bisa memahami apa yang ada di dalam kepala Huli Jing tersebut. Saat anak itu berhenti memikirkannya dengan hal-hal logis, alisnya sedikit berkedut dan dirinya sedikit paham apa yang membuat Fiola tiba-tiba bertingkah seperti itu.
“Saya ... hanya ingin tahu. Kenapa bisa orang-orang di sekitar Anda bisa berubah seperti itu,” ucap Fiola dengan volume lirih.
Menatap lurus anak itu, ia kembali berkata, “Entah itu Julia, Vil, atau para Shieal yang ikut ekspedisi dengan Anda, bahkan Dart dan Nyonya, mereka semua terlihat semakin bersemangat sejak Anda melakukan kontak jelas dengan mereka. Padahal Anda selalu mengurung diri di perpustakaan dan berburu di hutan tanpa memikirkan semua orang di Mansion, kenapa sejak Anda peduli semuanya berubah?”
“Mana kutahu! Tanya saja mereka ....” Odo memalingkan pandangan dengan kesal, ia murni menganggap jawaban dari pertanyaan itu adalah hal yang menyebalkan.
“Anda ... tidak berbohong .... Kalau Anda sendiri tidak tahu, bagaimana saya bisa ikut merasakannya?”
“Hah?” Odo terkejut, langsung paham apa yang terjadi pada Fiola tetapi tak mengeri mengapa perempuan itu bisa sampai seperti itu.
“Dengar, Tuan .... Mungkin ini rasanya konyol kalau saya merasa ini, tetapi tolong dengarkan saya baik-baik ....”
“Ya ....” Odo berusaha tidak memikirkan apa-apa supaya Fiola tidak membaca pikirannya. Menatap lurus, menutup mulut dan hanya fokus untuk mendengarkan.
“Rasanya diriku seperti ditinggalkan ...,” ucap Fiola sendu. Matanya berkaca-kaca, seakan ingin menetaskan air mata dan kembali berkata, “Saat mereka mulai berubah seperti itu, diriku rasanya semakin tertinggal.”
Perkataan itu lebih buruk dari apa yang Odo duga. Anak itu hanya terdiam dan mendengarkan perempuan itu kembali berbicara.
“Anda tahu, ekor sembilan adalah tahap akhir dari Huli Jing, diriku takkan pernah lagi mengalami perubahan. Baik itu kepribadian atau cara berpikir, diriku akan selalu sama .... Kurasa ... sihir transformasi itulah hasrat dariku yang ingin berubah, tetapi tak pernah bisa dan hanya bentuk tubuh saja yang berubah.”
Odo benar-benar memahaminya setelah mendengar itu. Bukan dengan pikiran, tetapi dalam hatinya. Meski ia bukanlah orang yang peka dengan hal semacam itu, tetapi dirinya pun dapat tahu setelah mendengar hal tersebut secara langsung. Paham, mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan untuk hal tersebut.
“Kalau ingin tahu bisa berubah atau tidak, terus saja di dekatku dan lihat apa ada yang berubah. Yah, aku tak tahu juga, sih. Lagi pula, sampai mana Mbak Fiola tahu rahasiaku?”
Fiola sempat menatap bingung melihat ekspresi Odo yang sudah tidak tertekan. Mengusap mata dan menyingkirkan air mata yang tak jadi keluar, ia memasang wajah tak suka anak itu memasang wajah seperti itu dan seakan menganggap dilemanya tak penting.
“Hmm, hampir semuanya mungkin. Saya tidak paham rahasia-rahasia Anda, sih .... Jujur, saya tak terlalu peduli tentang itu.”
“Kejamnya ....”
Fiola berhenti menahan tangan Odo, memalingkan pandangan dengan cemberut dan sama sekali tidak berniat turun dari atas tubuh anak itu. Melirik ringan, ia berkata, “Anda bisa menyebut saya kejam sesukanya .... Bagi saya sendiri, momen tinggal di Mansion itu hanyalah sesaat. Tidak lebih dari daun yang jatuh dari pohon, benar-benar sebentar jika dibandingkan dengan umur pohon yang bisa sampai ratusan tahun ....”
“Lalu kenapa tiba-tiba bicara seperti ini? Kalau tak peduli, Mbak Fiola bisa saja simpan rahasiaku selamanya dan tak usah membuatku serasa dilucuti seperti ini ....”
Fioal kembali terlihat muram. Menatap anak itu dan berkata, “Saya penasaran, sudah saya bilang tadi, bukan? Saya juga merasa ingin berubah dari dalam, ingin lebih hidup ....”
“Mbak Fiola sudah lebih hidup, kok. Sampai-sampai cemberut seperti itu ....”
“Eh ...?” Menyentuh wajahnya sendiri, Huli Jing tersebut baru sadar kalau dirinya sedang kesal akan sesuatu. Ia benar-benar tidak menyadarinya sampai Odo memberitahunya.
“Gak sadar? Lebih baik Mbak Fiola sering becermin, tanya pada diri Mbak Fiola sendiri ingin menjadi apa? Ingin berubah menjadi orang seperti apa? Berubah itu tidak bisa dilakukan hanya karena ingin, harus ada gambaran dan tujuan ....”
“Gambaran dan tujuan, ya ....” Fiola menatap bingung, ia sudah lama tidak memikirkan hal tersebut sejak mengikuti Mavis belasan tahun lalu. “Apa Julia dan yang lainnya juga seperti itu?” tanya Huli Jing tersebut.
“Fokus amat pacuannya sama Mbak Julia ....” Odo sedikit mengerutkan keningnya. Ia berusaha mendorong turun Fiola, lalu berkata, “Yah, kurasa ada ..., mungkin. Pada dasarnya orang berubah karena ada yang ingin dicapai.”
Fiola memegang kedua pergelengan anak itu dengan erat, lalu berkata, “Apa Anda berubah juga karena ada sesuatu yang ingin dicapai?”
“Aku dari dulu sama ....”
“Tidak, Anda berubah,” ucap perempuan itu tegas. “Dulu Anda sangat fokus dengan sihir sampai jadi kutu buku dan suka sekali kabur dari rumah hanya demi mendapat kristal sihir atau mencoba sihir-sihir baru Anda .... Tetapi sejak Anda kembali pada hari itu dengan pakaian kumuh dan penuh bercak darah, Anda berubah.”
Anak itu sejenak melemaskan kedua tangan yang hendak mendorong turun Fiola. Memang benar sejak itu dirinya berubah, bukan dari luar tetapi sesuatu dari dalam. Bukan secara pikiran, tetapi sudut pandang.
“Yah, kalau disebut ada tujuan yang didapat, memang ada. Aku saat itu ingin menyelamatkan Ibu, untuk itu aku harus menjadi kuat dan mengalahkan Naga Hitam, lalu meminta bahan lainnya dari Dryad Pohon Agung ....”
“Kalau sekarang?”
“Eng ....” Odo kembali memikirkan alasannya berjuang saat ini. Secara langsung, itu tersampaikan pada Fiola dan membuat perempuan itu berkata, “Untuk mencegah perang?”
“Tolong jangan terus-terusan baca pikiranku seperti itu! Tunggu, apa Mbak Fiola juga terus membaca pikiranku saat di aula ...?” Wajah anak itu mengerut kesal kembali.
“Sayang sekali saya tidak bisa. Saat di aula, pikiran Anda sangat keruh dan penuh dengan hal-hal rumit seperti ratusan benang kusut. Saya hanya mulai bisa membaca pikiran Anda lagi saat memasuki ruangan pedagang itu, karena itu saya bisa mengikuti alur Anda dan menjawab seperti itu tanpa protes.”
“Jadi sihir itu tidak ketahuan, ya,” benak Odo.
“Sihir apa?”
“Ah .... Lupakan! Lupakan!” Anak itu benar-benar membuat kesalahan yang beruntun. Menutup wajah dengan lengan, ia merasa tidak berdaya tanpa sihir kalkulasi yang aktif secara penuh.
“Maaf, tak bisa. Saya sudah tak bisa melupakannya .... Jadi, sihir apa?” tanya Fiola. Ia memegang tangan anak itu, lalu membuatnya berhenti menutupi wajah. Menatap tajam dari dekat, ia kembali bertanya, “Jadi, sihir apa?”
Odo merasa ada sesuatu yang menyeramkan dari tatapan itu. Obsesi Fiola padanya terasa lebih kuat daripada kepada Mavis, dan itu membuat bulu kuduk anak itu berdiri karena beberapa hal.
“Uh, sudahlah .... Memang lebih baik aku bongkar semuanya ....”
“Itu sihir kalkulasi .., atau lebih tepatnya semacam simulasi.”
“Simulasi? Apa itu?”
“Semacam latihan yang dilakukan secara langsung .... Intinya, percobaan kalau kejadian utamanya datang pasti sudah siap. Kalau diumpamakan, semacam simulasi tarung para prajurit supaya lebih kuat dan saat bertarung sungguhkan mereka tidak panik,” jelas Odo.
“Eng? Apa hubungannya itu dengan pikiran Anda yang terkadang seperti badai dan kacau balau seperti itu?”
“Simulasi itu terjadi di dalam kepalaku,” jawab Odo. Fiola tetap memasang wajah seperti dirinya tidak paham dengan itu. Menghela napas ringan, anak itu menjelaskan, “Ah, kalau diambil contohnya, bagiku pertandingan masak itu sudah ke-578 kalinya. Karena itu aku bisa memasak seperti itu dan membuat alur untuk pembicaraan tersebut .... 577 terjadi dalam kepalaku, lalu satu akhir sebagai eksekusi ....”
“Hmm ....” Perempuan itu mengangguk paham. Menatap heran, ia berkata, “Jadi itu maksudnya sihir kalkulasi .... Anda merencanakan semua itu dalam kepala dengan cepat, lalu mengeksekusinya dengan sempurna. Kalau begitu, berarti Anda sangat pintar, dong? Anda seperti penerawang atau ahli nujum ....”
Menyipitkan mata, Odo memalingkan pandangan dengan muram dan berkata, “Tak juga .... Kalau aku benar-benar bisa menerawang, kejadian seperti ini pasti tak akan terjadi. Lagi pula, Mbak Fiola lihat sendiri efek sihir itu, ‘kan?”
Fiola sedikit gemetar, mengingat kembali saat Odo kehilangan kesadaran di depan pintu sejam yang lalu. Menatap dengan sorot mata berkaca-kaca, ia berkata, “Jadi setiap Anda menggunakan sihir itu, Anda akan mimisan atau paling parah akan pendarahan seperti tadi. Kalau memang seperti itu, tapi tadi saat pembicaraan dengan pedagang dan koki itu Anda tak terlalu seperti badai loh, pikiran anda ....”
“Ah, itu karena aku menjedanya ....”
“Jeda?”
“Hmm. Efek dari penggunaan kekuatan itu saat di aula terlalu kuat, sampai-sampai tubuhku bisa pendarahan besar-besaran kalau menerima semuanya dalam satu waktu. Karena itu, aku menjeda itu dan membuat protokol sementara .... Kalau tiba-tiba pendarahan dan pingsan, aku tidak bisa berdiskusi seperti itu dengan mereka, sih.”
“Protokol?” Kata itu tidak dipahami Fiola, sedikit membuatnya curiga.
“Penahan ..., semacam pengaman efek itu, loh. Anggap saja seperti bendungan yang terus diisi air, itu tinggal menunggu waktu sebelum jebol.”
“Begitu rupanya, diriku paham ....” Fiola mengangguk. Ia sepenuhnya memahami alasan Odo sering mimisan dan mengapa pikiran anak itu sering sekali seperti badai sampai tidak bisa dirinya baca. Tetapi saat melihat tatapan tajam anak itu, Fiola sedikit tersentak dan gemetar karena rasa aneh dalam benaknya bergejolak kembali.
“Ada apa, Tuan Odo?”
“Jadi, setelah ini Mbak Fioal mau apa?”
“Mau apa bagaimana?”
“Malah tanya balik ....”
“Oh, apa Anda cemas kalau saya mengancam Anda dengan rahasia ini?”
“Ya ....”
Tersenyum ringan, Fiola menggelengkan kepala beberapa kali. Wajahnya terlihat sangat lega, tanpa beban dan tidak cemas seperti sebelumnya. Ia seakan menertawakan rasa cemas Odo dan membuatnya sedikit kesal.
“Saya bukanlah makhluk serendah itu .... Kalau memang saya ingin mengancam Anda dengan itu, sudah saya lakukan dari dulu.”
“Terus ... kenapa tiba-tiba seperti ini? Membongkarnya, seperti melucutiku seperti ini ....”
“Saya ... hanya merasa aneh dalam dada ini. Saat tadi, melihat Anda seperti itu di depan pintu, rasanya ada sesuatu yang mengatakan kalau hal itu tidak boleh. Ini ... seperti saat diriku hendak memberitahukan rahasia Nyonya kepada si bocah pedang itu ....”
Odo sedikit terkejut mendengar itu. Anak itu merasa kalau Dart tahu rahasia Mavis, pasti dirinya takkan lahir ke dunia ini. Meskipun direinkarnasikan dan terlahir kembali, pasti dirinya takkan pernah merasa senang dikhawatirkan oleh Keluarga Luke dan kehangatan yang diberikan keluarga tersebut.
“Itu kenapa, ya? Apa Tuan Odo tahu?” tanya Fiola.
Sedikit tersenyum tipis, anak itu merasa lega karena menemukan orang yang tidak jauh berbeda. Fiola sangatlah egosi karena terus memikirkan dirinya sendiri dan tidak pernah benar-benar peduli dengan sekitarnya, bahkan rasa obsesinya pada Mavis pun hanya karena alasan pribadi. Itu tidak jauh berbeda dengan Odo, ia selalu memikirkan diri sendiri. Meski berkata demi keluarga atau menjaga mereka, tetapi pada dasarnya anak itu hanya tak ingin sendirian. Itu hanya sebuah alasan untuk dirinya sendiri.
“Kalau Mbak Fiola tidak tahu, apalagi aku. Itu tubuh Mbak Fiola,” ucap anak itu seraya tersenyum ringan.
“Bohong .... Anda sekilas tadi dalam benak merasa ‘ah, jadi ...’ dan terhenti. Tolong jangan menyembunyikan hal seperti itu dariku.”
“Seram sekali ya ... Mbak Fiola ini ....” Odo tersenyum ringan. Menatap dengan rasa empati, ikut merasakan dilema yang dirasakan Hewan Suci itu dan berkata, “Mungkin ... itu semacam rasa kasih sayang. Rasa tak ingin kehilangan ..., semacam itu juga Mbak Fiola rasakan pada ibuku, bukan?”
“Benar juga .... Saya tak ingin Nyonya hilang, sebab dialah cahaya dalam dunia yang kejam ini .... Tapi ... kenapa bisa rasa itu tumbuh kepada Anda? Tolong jawab, Tuanku.”
Odo sedikit menyipitkan mata, merasa kalau perempuan tersebut lebih menyusahkan dari yang dirinya pikir. Tersenyum ringan seakan menertawakan pertanyaannya, ia berkata, “Ternyata Mbak Fiola polos juga, ya .... Padahal sudah tidak perawan.”
“Tuanku, berkata seperti itu tidak sopan pada seorang wanita.” Wajah Fiola langsung cemberut. Mencubit pipi anak itu sampai merah, ia lalu memalingkan pandangan.
“Ah, maaf.”
“Jadi, kenapa bisa saya merasa seperti itu kepada Anda?” ucap Fiola seraya melirik ke arah anak itu dengan cemberut. “Padahal seharusnya saya tidak suka Anda .... Hanya dengan bersama Anda seharian kemarin, kenapa hal itu mulai tumbuh dalam benak saya?”
“Tch! Balik lagi ke topik itu ....”
“Anda berniat mengalihkan pembicaraan, ya .... Huh, ya sudahlah .... Jadi, kenapa?”
“Akh, itu .... Mungkin ini terdengar seperti diriku memuji diri sendiri, tapi ya itu kurasa memang bisa saja tumbuh.”
“Itu apa?”
“Mbak Fiola selalu mengawasiku dari dulu, ‘kan? Membaca pikiranku, melihat apa yang kulakukan dan tahu apa saja yang telah kulakukan, bahkan tahu apa yang akan kulakukan nantinya. Mbak Fiola juga katanya membenciku, apa benar seperti itu?”
“Ya ..., aku selalu membenci Tuan Odo dan selalu berharap Anda tidak ada. Tapi sekarang ... tidak, bahkan diriku tak ingin Tuan Odo hilang. Kenapa bisa begitu?”
“Itu cinta.”
“Hah?” Ekspresi penasaran Fiola berubah menjadi jijik dengan cepat. Tidak jijik biasa, itu seperti melihat ulat yang keluar dari apel yang disusun dalam rajang buah.
“Sudah kuduga pasti memasang wajah seperti itu, makanya aku tak ingin mengatakannya.” Anak itu hanya bisa pasrah mendapat tatapan tersebut.
“Rasa cinta? Saya mencintai Tuan Odo?”
“Benar, loh. Mbak Fiola memikirkan orang lain sampai seperti itu sepanjang waktu, mengawasinya, memperhatikannya dan bahkan sekarang ingin tahu lebih dalam tentangnya. Kalau bukan cinta, apa lagi?”
“Rasa ketergantungan ..., seperti diriku pada Nyonya?”
“Apa yang Fiola butuh dariku? Mbak Fiola sendiri bilang, bukan? Aku hanya api kecil yang bisa padam kapan saja, lantas apa yang membuat Mbak Fiola bergantung pada api kecil itu?”
“Kalau itu ....” Fiola benar-benar kehabisan argumen. Ia tidak bisa lagi membantah apa yang dikatakan anak itu. Tetapi, pada saat yang sama dirinya tidak mau mengakuinya karena dirinya sendiri tak paham apa itu sebuah cinta.
“Yah, aku bukan orang seangkuh itu untuk bilang kalau itu benar apa yang dirasakan Mbak Fiola. Tapi ..., menurut Mbak Fiola sendiri cinta itu apa?” tanya Odo dengan nada malas.
“Cinta, ya .... Sebelum diriku bertemu dengan Nyonya, ada beberapa orang menyatakan cinta kepadaku .... Dari yang berharta, sampai pemburu rendahan yang menyedihkan.”
Fiola memasukkan jemarinya kedua tangannya ke sela jemari kedua tangan anak itu. Menggenggam erat, ia memasang wajah muram dan terlihat tidak ingin mengingat beberapa hal karena sebuah alasan dalam benak.
“Jadi, apa yang Mbak Fiola rasa pada saat itu?” tanya Odo.
“Lapar, jadi saya memangsa mereka. Anda tahu cerita tentang Huli Jing saat mendekati seorang pria, bukan?”
“To-Tolong jangan buat aku kering ....” Insting Odo mendeteksi bahaya dan bulu kuduknya kembali berdiri. Posisi yang ada sangatlah memungkinkan Huli Jing tersebut memangsanya.
“Mana mungkin .... Saya tidak melihat Tuan Odo seperti itu .... Ini, lebih seperti tak ingin kehilangan ..., mungkin.”
“Hmm, lebih baik Mbak Fiola rasakan itu dulu dan pikirkan baik-baik. Waktu yang dimiliki Mbak Fiola banyak, gunakan saja itu untuk memikirkannya.”
“Tak bisa,” ucap Fiola langsung. “Itu tak boleh,” lanjutnya dengan wajah sedih.
“Apa ... alasannya? Boleh aku tahu?”
“Entah mengapa, sesuatu dalam diriku melarangnya. Itu ... pasti akan membuat saya menyesal, rasanya seperti itu .... Apa ini perasaan yang terbawa setelah siklus? Apa saya juga pernah merasakan itu sebelum ingatan yang ada dihapus untuk ke tahap selanjutnya dari tingkatan Hewan Suci?”
“....”
Odo hanya terdiam tanpa berkata apa-apa, merasa iba dengan siklus yang harus dilewati Huli Jing tersebut. Menjadi makhluk berumur panjang di tempat dengan makhluk-makhluk yang umurnya hanya sesaat baginya memang sangat berat. Penghapusan ingatan yang menjadi siklus Huli Jing adalah bentuk pertahanan mereka untuk beradaptasi. Ada banyak dari mereka yang meninggal sebelum mencapai singularitas keilahiahan. Tetapi bagi Odo, mereka yang meninggal sebelum itu adalah mereka yang beruntung karena tak perlu menghapus ingatan berharga yang dimiliki. Bagi anak itu, entah mengapa ingatan adalah hal yang paling berharga.
“Kenapa Anda menatap saya seperti itu?”
“Tak apa.”
“Bohong.”
“Tolong jangan seenaknya membaca pikiranku! Yah, aku tadi sempat merasa kalau memang ternyata Mbak Fiola kasihan juga, padahal sudah tidak perawan.”
“Tak sopan, mulut anak kecil tidak boleh berkata seperti itu. Lagi pula, meski saya tidak perawan tapi saya selalu suci, loh .... Pokoknya, Anda tak boleh berkata seperti itu!”
“Meski anak kecil, aku sudah sangat dewasa secara mental, loh.”
“Kena— Ah, sebab sihir simulasi itu, ya .... Kalau Anda pernah merasakan pengalaman dalam pikiran, secara otomatis waktu yang telah dilalui Anda sudah lebih banyak dari usia Anda sekarang. Begitu rupanya, jadi itu alasan Anda memiliki pemikiran sangat dewasa.”
“....” Odo merasa lega mendengar itu.
“Syukurlah? Syukurlah kenapa? Kenapa anda lega?” Fiola kembali membaca anak itu.
“A ....”
“Hmm, kenapa?”
“Aku hanya lega karena Mbak Fiola tidak takut padaku.”
“Takut?”
“Ya ..., benar bukan? Itu sama saja aku seperti orang dewasa dalam tubuh anak kecil.”
“Kenapa saya harus takut dengan itu? Saya adalah seorang Hewan Suci ..., makhluk berumur panjang dan sekarang sudah mendekati kata abadi. Kenapa harus takut dengan hal seperti itu?”
“Ah, benar juga.” Odo tersenyum miris, merasa lelah beradu argumen dengan makhluk yang akal sehatnya berbeda itu.
“Dari pada membahas itu, boleh kembali ke topik sebelumnya?” ucap Fiola. Kembali memegang kedua tangan Odo dan menagannya ke ranjang, lalu menatap anak itu dari dekat.
“Topik sebelumnya?” Odo sudah kehilangan niat melanjutkan pembicaraan, hanya menatap datar kemudian memalingkan pandangan dengan lelah.
“Apa benar saya mencintai Tuan Odo? Kalau iya, bagaimana caranya membuktikan itu? Lagi pula, cinta dan nafsu itu sulit dibedakan. Apa ini cinta murni? Atau hanya nafsu sesaat yang mulai tumbuh pada diriku? Neh, jawab, Tuanku ....”
“Hmm, Mbak Fiola sangat cinta aku.” Odo meringkasnya karena menyusahkan. Tatapan mata anak itu berubah sangat datar dan merasa lelah dengan pembicaraan seperti itu. “Mbak Fiola sangat cinta padaku dan tak bisa hidup tanpaku,” ucapnya dengan nada datar tanpa satu kata pun berasal dari hati.
“Yakin?”
“Kalau bohong, baca saja pikiranku. Sekarang isi kepalaku sedang secerah langit musim semi,” ucap Odo dengan nada datar, sama sekali tak peduli dengan akibat perkataannya nanti.
“Hmm, Anda ... berkata jujur. Jangan-jangan ... Anda orang narsis, ya?”
Alis Odo berkedut kencang, keningnya mengerut dan ia menatap dengan rasa jengkel yang sudah tak terbendung. “Tuh kan?! Pasti ujung-ujungnya begini! Maunya apa sih?! Udah dijawab, loh!” bentak anak itu.
“Perkataan Anda masih sangat meragukan.”
“Apanya? Apanya coba?!”
“Kalau benar ini cinta, kenapa sekarang dadaku tidak berdenyut-denyut? Padahal dekat seperti ini.”
Odo melepaskan tangannya dari genggaman Fiola saat perempuan itu lengah, lalu mengulurkan tangan ke depan. Ia menyentuh dada perempuan dalam wujud anak-anak itu yang datar, bahkan sampai mencubit bagian tengahnya. Seketika wajah Huli Jing itu tersipu merah, lalu sebuah tamparan mendarat ke wajah Odo dengan seketika.
Plak!!
Itu cukup keras sampai membuat wajah Odo berpaling dan kedua tangannya terangkat dari dada Fiola. Menatap kesal perempuan itu, anak itu berkata, “Tuh, lihat! Kalau Mbak Fiola bereaksi seperti itu, berarti ada rasa itu!”
“Semua wanita pasti akan bereaksi seperti itu kalau dadanya disentuh tiba-tiba!” Fiola menatap rendah, merasa sedikit kecewa pada tindakan anak itu.
“Maksudku, Mbak Fiola melihatku sebagai lawan jenis. Tidak melihatku sebagai anak-anak, makanya bereaksi seperti itu!”
“Tentu saja, pikiran Anda sudah sangat dewasa .... Bisa saja Anda berpikir mesum ....”
“Ah, ampun dah! Kenapa kalau bicara dengan Mbak Fiola rasanya sulit amat nyambungnya!”
“Tuan yang tidak bisa menjelaskannya dengan baik!!”
“Salahku?! Ini salahku?!!”
“Iya! Tolong jelaskan kenapa saya bisa memiliki rasa ini?! Kenapa saya bisa mencintai Anda?!”
“Ah ....” Odo terkejut mendengar itu.
“Kenapa diam?”
“Tadi ... sudah mengakuinya sendiri, ‘kan?”
“Ah, kenapa ya?”
“Jangan malah tanya ke aku ....”
“Kenapa bisa begitu? Apa keceplosan?”
Fiola kembali menangkap kedua tangan Odo dan memegang erat pergelengannya. Menahannya ke samping, Huli Jing tersebut mendekatkan wajah dan menatap Odo dari dekat. Napasnya yang semakin terasa jelas oleh anak itu saat perempuan tersebut semakin mendekatkan wajah, membuat anak itu merasa takut akan menjadi korban.
“Jangan mendekat! Aaaah! Baiklah! Baiklah! Aku akan bicara! Aku akan coba jelaskan! Tolong lepaskan aku! Tolong!”
Pada akhirnya, hari mereka berakhir karena pembicaraan yang seakan tanpa akhir itu. Benar-benar membuang waktu dari siang sampai sore, dan bahkan sampai malam. Karena hal tersebut, mereka sampai harus memperpanjang sewa kamar sampai besoknya dan menghabiskan seluruh uang yang dibawa Fiola hanya untuk sewa kamar selama dua hari di tempat tersebut.