Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 49 : Mutual-Evîn 9 of 10 “Has been taken” (Part 01)



Setiap orang memiliki kebenaran dan keadilan mereka masing-masing dalam hati, namun tak semua orang dapat mempertahankannya dan mewujudkan hal tersebut. Layaknya sebuah hiasan kaca yang indah, itu dengan mudah retak dan hancur berkeping-keping saat orang lain merasa iri dan sedikit menyenggolnya dari tempat.


 


 


Suara bahkan bisa menghancurkannya, hembusan angin dengan enteng bisa membuatnya terjatuh dan semua itu bisa datang dengan sendirinya tanpa diundang sekalipun. Dunia tidak membiarkan sebuah harmoni dan keindahan, namun bukan berarti dunia juga membiarkan kekacauan dan kejelekan. Ia hanya membuat sebuah peraturan tak tertulis untuk tetap membuat semuanya berubah-ubah tanpa kepastian, terus berkembang dengan menggunakan potensi sebagai fondasi.


 


 


Namun, apakah memang benar seperti itu? Apa benar semuanya berubah-ubah? Apa benar semuanya tidak ada kepastian? Apakah benar semuanya terus berkembang dan berubah meski dunia telah tertata dalam sebuah peraturan mutlak? Kalau mutlak kenapa masih ada yang menentang dan mengubahnya?


 


 


Setiap sistem sebaik dan sesempurna apapun pasti kelak akan lapuk, lalu untuk apa sebuah perubahan yang terjadi setelanya? Kalau untuk kebaikan, kenapa masih ada yang menderita? Revolusi membawa sebuah perubahan dengan darah dan pengorbanan, namun setelah itu apa ada yang namanya sebuah perdamaian? Tidak ada! Lalu untuk apa semua itu?


 


 


Apa siklus kebencian tidak bisa diakhiri? Apa perang tidak bisa dihapus dari dunia? Apa ada cara yang lebih baik untuk menyelamatkan dunia? Apa yang harus kami lakukan untuk semuanya?


 


 


Apa ada sebuah cara untuk—?


 


 


Di tengah lempar tanya tanpa akhir, dahulu kala ada seseorang yang dengan penuh rasa percaya diri menjawab kalau di dunia ini ada sesuatu hal yang pasti. Itu bukanlah kematian yang dijanjikan kepada semua makhluk hidup atau sebuah jalur kehidupan (takdir) yang diberikan kepada mereka yang lahir ke dunia, namun itu merupakan perasaan yang lahir dari waktu ke waktu.


 


 


Seseorang dari golongan pemikiran realistis itu berpikir tanpa melihat kenyataan, lalu ia dengan lantang menyatakan, “Cinta adalah hal yang pasti! Itu sebuah energi tak terbatas yang membawa perubahan! Karena itulah aku masih berdiri di sini dan terus berjuang!”


 


 


Setiap orang dengan jubah putih dan pemikiran genius mereka terkejut mendengar itu. Bukan tentang apa yang dikatakan sang perempuan, tetapi mereka terkejut karena ternyata masih ada yang mempertahankan pemikiran seperti itu meski telah hidup lebih dari jutaan tahun dan memiliki pemahaman luas tentang makhluk hidup.


 


 


Perempuan mengerti kalau rasa cinta hanyalah timbul karena situasi adrenalin ketika hormon-hormon mulai aktif dan membuat seseorang bahagia jika berada di dekat orang lain, itu hanya semacam reaksi normal yang mempengaruhi otak. Meski begitu, sang perempuan tetap menegaskan kalau dirinya percaya bahwa apa yang dirinya percaya adalah benar.


 


 


Saat itulah mereka, rekan-rekannya meyakini — Bahwa apa yang dimiliki orang dengan pendapat berbeda itu memang asli.


 


 


Perempuan itu adalah sebuah keberadaan asli yang mereka cari-cari selama ini, memutuskan untuk bertaruh di ujung masa dunia dan memberikan semua hasil penelitian mereka di bahwa naungan orang tersebut. Meski kelak akan mengundang kehancuran itu tak mereka permasalahkan lagi, hanya berharap kelak saat semuanya dimulai kembali kemanusiaan yang mereka pertaruhkan itu tidak lenyap.


 


 


Orang itu, perempuan dengan pendapat berbeda itu pasti kelak akan merasakan penderitaan karena tetap mempertahankan kemanusiaan meski telah meninggalkan wujud manusianya. Ia akan mencintai makhluk berumur pendek, menderita karena dilema dan frustrasi karena rasa takut akan kehilangan.


 


 


Kelak dirinya pasti akan membuat banyak kesalahan, menyesalinya dan merengek penuh penderitan. Meski melewati semua hal itu, mereka semua tetap percaya kalau sang perempuan akan tetap mempertahankan kepastiannya dengan kemanusiaan yang ada dalam dirinya. Ia akan terus maju meski akan melukai dirinya sendiri, dunia yang dirinya sayangi dan bahkan orang yang dirinya cintai.


 


 


Ia akan menjadi Eve di dunia baru, membuat keturunan di dunianya sendiri, pada waktu yang baru, membangun peradaban baru dan sistem baru. Meski ia kelak akan dikhianati, sang perempuan dengan penuh rasa percaya akan terus menunggu untuk diselamatkan orang yang dikasihnya.


 


 


Ia paham ada berbagai rasa Cinta di dunia ini, ada berbagai macam kasih sayang yang bisa diberikan. Namun apa yang dirinya yakini pasti adalah sesuatu yang tidak dimiliki atau mampu dilakukan semua orang, sebuah cinta murni tanpa pamrih.


 


 


Ia tidak merasa harus mendominasi karena paham cinta tak harus memiliki, ia tak masalah untuk dikhianati karena momen berharap adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Kebohongan ia anggap sebuah kebaikan karena mempertimbangkan perasaannya. Namun jika ada seseorang yang mengganggu kemurnian dari apa yang dicintainya, sang perempuan tidak akan ragu untuk menghancurkan leburkan sumber pengganggu itu meski harus mengacuhkan kehendak pria yang dicitainya.


 


 


 


 


Sungguh waktu berlalu sangat amat lama sejak rekan-rekannya melimpahkan segala harapan mereka pada sang perempuan. Ia kehilangan tahta setelah apa yang dirinya buat di dunia baru, dijatuhkan dan pada akhirnya dibuang ke sela dunia.


 


 


Kehampaan—Ruang, waktu, hukum fisika, dan semua apa yang seharusnya membentuk dunia sangat kacau di tempat tersebut.


 


 


Pada celah dunia yang entah koordinatnya ada di mana, sebuah peti mayat berwarna hitam berpoles pernik perhiasan melayang-layang tanpa arah tujuan. Tempat tersebut benar-benar memiliki waktu yang kacau, dimensi yang kacau dan hukum dunia yang tidak tertata rapi. Benda bercahaya memancarkan kegelapan, objek-objek yang seharusnya tidak bergerak malah mendapatkan kehidupan — Itu benar-benar sebuah zona dunia yang sangat tidak layak untuk ditinggali mereka yang hidup dalam susunan dimensi utama.


 


 


Di dalam peti tapa penutup itu terbaring pulas seorang perempuan dengan rambut hitam lurus, memiliki kulit pucat dan mengenakan gaun hitam dengan aksen dasi merah. Itu adalah jasad sang Dewi yang seharusnya menjadi pemilik sekaligus penata ulang dunia, sosok yang disebut-sebut para makhluk kayangan adalah Helena.


 


 


Dulu ada banyak sekali makna untuk nama tersebut, namun semuanya merujuk pada satu sifat cahaya. Sebuah penerang, obor yang selalu dibawa dalam kegelapan dulu sebelum semuanya mulai menemukan sumber cahaya lain.


 


 


Jiwa sang Dewi memang ada pada jasadnya tersebut, namun itu terpendam jauh dan terus-menerus mengulangi hal yang sama di dalam Realm miliknya sendiri. Tanpa bisa mengerti apa yang terjadi, melalui satu hari dengan satu nyawa dan melewati Samsara dalam Realm miliknya sendiri secara terus menerus.


 


 


Namun, semua itu berakhir pada detik ini. Sang Dewi mulai bernapas, ia menggerakkan jari dan perlahan matanya mulai terbuka. Dengan tatapan sayu, ia melihat lurus ke sela dimensi yang kacau. Ada kerikil yang bisa mengoceh berisik dan melayang-layang di udara, ada rumput jerami kuning yang bisa melambai-lambai seperti tangan, dan berbagai benda-benda lain yang seharusnya tidak hidup malah memiliki unsur seperti manusia.


 


 


Gelombang yang terpancar entah dari mana dirasakan oleh sang Dewi, membuat sekilas kedua matanya terbuka lebar dan kemudian kembali menatap datar. Ia mulai bangun dan duduk di peti matinya, dengan cepat paham apa yang telah terjadi dan ingatan terakhir saat dikhianati para makhluk kayangan dengan jelas terukir dalam dirinya. Air mata mengalir, namun bukan karena rasa sedih.


 


 


Ia merasa, bahwa kebangkitannya itu sebagai tanpa bahwa pasangannya itu telah berhasil muncul di dunia yang telah ditata ulang olehnya. Pada ekspresinya yang sayu, perempuan itu memasang senyum tipis dan dengan lemas berkata, “Terima kasih sudah mau sekali lagi menemuiku, sebuah keselamatan bagiku hanya denganmu ingin datang menemuiku. Meski diriku sekarang hanyalah seorang perempuan lemah tanpa Otorita Ilahi, namun kali ini pasti aku akan berada di pihakmu.”


 


 


Perempuan rambut hitam itu berdiri di atas peti dengan tanpa alas kaki, menatap lurus ke depan dengan sorot mata sayunya. Ia memiliki badan kecil, tingginya tidak lebih dari 150 sentimeter dan terlihat sangat ringan. Kulit pucat seperti mayat, mata ungu bagaikan kristal amethyst. Kedua tangan rapuhnya terulur ke depan, seakan merindukan seseorang yang ada jauh di ujung dimensi tempatnya berada.


 


 


“Mari kita mulai akhir cerita cinta kita .... Engkau adalah hitam, sebuah sumber dan tujuan dari semua warna. Aku adalah putih, sebuah sumber tanpa warna. Karena itu ..., kumohon sekali lagi warnai diriku dengan warnamu itu ....”


 


 


Rambut hitam sang Dewi berubah memutih, dari pangkal dan terus perlahan sampai ujungnya. Warna ungu pada korneanya dengan cepat berubah saat berkedip, menjadi keemasan terang seakan bersinar. Sebuah mahkota muncul dan melayang di atas kepalanya, terbuat dari kristal putih cenderung transparan.


 


 


“Tolong tunggu sebentar lagi .... Setelah berakhir, aku janji pasti akan memberikan semua pilihan padamu. Diriku berjanji ....”