Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 54 : Aswad 1 of 15 “Kesadaran diri” (Part 05)



.


.


.


.


 


 


 


 


Suara melenting dan timah panas mengenai kaki tentara yang mati-matian berlari di tengah hutan. Satu-satunya tentara yang berhasil kabur dari tempat tersimbah darah itu tersungkur ke tanah, kakinya benar-benar hancur namun ia tetap berusaha untuk kabur dengan merangkak di atas tanah.


 


 


“Kenapa kalian mengkhianati kami!!? Untuk apa orang-orang seloyal kalian melakukan ini!!?”


 


 


Tentara itu benar-benar frustrasi, bersandar pada pohon cemara dan menyiapkan pistolnya. Menodongkan ke dalam kegelapan tanpa tahu dari mana datangnya timah panas yang menghancurkan kakinya tadi, ia benar-benar gemetar dalam ketakutan. Serim adrenalin tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya secara penuh, rasa ngilu menjalar ke sekujur tubuh dari kakinya yang hancur sampai terlihat tulangnya.


 


 


Dari dalam kegelapan, kilatan terlihat dan peluru kaliber .30 melesat dengan cepat. Tanpa bisa bereaksi, kepala prajurit tersebut langsung tertembus dan darah serta daging menciprat ke batang pohon di belakangnya. Dengan mata terbuka lebar, tubuhnya ambruk ke samping dan meregang nyawa dalam kondisi mengenaskan.


 


 


Dari kegelapan, seorang perempuan dengan kornea mata violet mendekat. Sorot matanya terlihat kosong, namun air mata mengalir membahasi pipi. Menundukkan kepala di depan mayat rekannya tersebut, ia berkata, “Kalian bebas dendam dan mengutukku di alam sana. Aku tidak akan meminta maaf pada kalian .... Ini memang sebuah kesalahan, dari awal memang dunia ini penuh dengan kesalahan.”


 


 


Di belakangnya, Ra’an mendekat dan menatap salah satu rekannya yang meregang nyawa tersebut. Ia sekilas terlihat sedih dan rasa sagu mulai tumbuh kembali. “Apa ... Letnan Dua percaya keputusan ini tepat? Apa yang disampaikan pemuda itu bisa dipercaya?” tanya Pembantu Letnan Satu tersebut dengan cemas.


 


 


“Entahlah .... Di dunia seperti ini, tidak ada yang tahu mana yang tepat dan tidak. Kita hanya bisa tahu itu di akhir. Namun, dari semua pilihan yang ada menurutku ini adalah yang paling tepat daripada membiarkan daratan Michigan ini kembali perang besar-besaran.”


 


 


“Tapi ..., kita sampai membunuh rekan kita sendiri seperti ini. Kalau keputusan ini salah, kita pasti akan diangg—”


 


 


Dor!!


 


 


Suara melenting dalam kegelapan. Sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, timah panas melesat dari belakang dan tepat mengenai punggung Ra’an sampai tembus ke perut. Darah menciprat ke wajah Di’in yang berada di hadapannya. Dengan refleks terlatih, Letnan Dua tersebut langsung menarik rekannya tersebut dan meloncat ke semak-semak untuk bersembunyi.


 


 


“Ra’an!!”


 


 


Darah mengalir deras dari perut perempuan rambut pirang sebahu itu. Di’in dengan panik meletakkan senapannya ke tanah dan hendak melakukan pertolongan pertama untuk rekannya tersebut. Namun sebelum bisa menyobek jubah kamuflase untuk menutup luka perempuan rambut pirang itu, suara tembakan kembali terdengar dan mengenai semak-semak tempat mereka bersembunyi.


 


 


“Kenapa masih ada satu lagi ...? Padahal tadi sudah aku hitung jumlah mereka ....”


 


 


Di’in menyiapkan senjatanya, melacak arah datangnya tempakan dan melihat seseorang bersembunyi di balik salah satu pohon cemara. Letnan Dua segera melepas jubahnya, mengambil batu yang ada di sekitar dan membungkusnya dengan jubah kamuflase, lalu melemparnya keluar dari semak-semak. Umpan tersebut berhasil, orang dari balik pohon keluar dari balik pohon. Ia segera membidik dengan senapan lontak, lalu menembak jubah tersebut.


 


 


Tanpa membuang kesempatan yang ada, Di’in langsung membidik dan menghabisinya dengan sekali tempat di kepala. Kepalanya langsung pecah karena ditembak dari jarak kurang dari 100 meter, mata kiri orang itu keluar dari rongga dengan otot saraf masih tersambung.


 


 


Tidak memedulikan hal tersebut dan langsung menjatuhkan senjatanya ke tanah, Di’in tanpa membuang waktu sedikit pun langsung mengambil jubah yang dipakai Ra’an dan menggunakannya untuk menghentikan pendarahan perempuan rambut pirang tersebut.


 


 


“Tenang saja, Ra’an .... Ini hanya luka ringan, jaga kesadaranmu! Jangan sampai hilang!”


 


 


“Mam ....” Wajah Ra’an semakin memucat, darah tak henti-hentinya keluar dan sampai membasahi jubah yang digunakan untuk pertolongan pertama.


 


 


“Aku di sini! Tetap sadar, Ra’an! Jaga kesadaranmu!”


 


 


“Aku ....” Perempuan rambut pirang itu menyentuh pipi atasannya tersebut, tersenyum ringan dengan wajah lega. Sebelum bisa mengucapkan apa yang ada di dalam benaknya, tangan perempuan itu jatuh ke tanah dan matanya perlahan terpejam.


 


 


“Ra’an! Raa’an! Raaa’an!!! Ra—!!”


 


 


Tiba-tiba ujung senapan menyentuh bagian belakang kepala Di’in. Itu membuat Letnan Dua tersebut terdiam, gemetar dalam kebingungan dan perlahan menoleh ke belakang. Melihat siapa yang sedang menodongnya, tubuh perempuan itu seketika gemetar terkejut dengan mulut menganga.


 


 


“Yo, Ketua Unit Khusus PTP, Letnan Dua Cornelisa Di’in ....”


 


 


“Kau ....”


 


 


Orang yang mengarahkan senapan mesin ringan ke kepalanya adalah seorang High Elf yang merupakan petinggi dari fraksi militer kerajaan Moloia. Ia merupakan pelayan pribadi putri Ulla Vrog Ma’tar, mantan selir Raja Moloia generasi kedua, Laura Sam’kloi. Meski hanya beberapa kali bertemu dengannya, Di’in sangat kenal mata hijau zamrud dan telinga runcing perempuan rambut pirang tersebut.


 


 


Melihat pakaian militer dengan perlengkapan lengkap yang dikenakan oleh Letnan Dua dari fraksi militer tersebut, sekilas Di’in mengerti apa yang sedang terjadi dan menjelaskan kenapa jumlah tentara bertambah tanpa dirinya sadari. Perempuan rambut kucir tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah, lalu bertanya, “Untuk apa ... anda datang sendiri?”


 


 


“Kau tahu, Tuan Putri kami sangat jarangnya tertarik pada sesuatu seperti ini. Ia sangat rendah hati dan enggan berurusan dengan masalah perebutan tahta. Namun, kali ini beliau tidak biasanya menunjukkan rasa tertariknya pada politik .... Kami pendukung Tuan Putri ke-30, Ulla Vrog Ma’tar, akan serius ikut dalam perebutan singgasana. Jangan berpikir buruk, ini sama halnya seperti apa yang kau lakukan untuk Tuan yang kau layani.”


 


 


Di belakang Laura, terlihat titik-titik cahaya hijau yang menyala dalam kegelapan. Saat sinar rembulan masuk melalui sela-sela dedaunan dan menyinari daratan, sosok peleton yang semua anggotanya Elf tersebut terlihat. Mereka memang tidak membawa senjata yang lebih canggih dari apa yang dimiliki Di’in dan hanya berupa senapan lontak, namun dengan jelas itu mengalami modifikasi dan terdapat beberapa Rune sihir yang meningkatkan kemampuan senjata dengan mantra-mantra yang merupakan keahlian para Elf.


 


 


««»»


 


 


Balai kota Mylta. Lalu-lalang keramaian orang-orang masih mewarnai tempat tersebut, kegiatan perekonomian seakan tidak ada istirahatnya semenjak jalur perdagangan darat kota pesisir itu terbuka secara bebas tanpa halauan para bandit. Gemerlap cahaya dari lampu jalan yang bersumber cahaya kristal sihir terlihat pada setiap sudut balai, angin dingin yang bertiup di bawah langit malam tanpa bintang seakan menyusuri kulit Odo dan Mavis yang baru saja sampai di pusat kota tersebut.


 


 


“Sangat aneh rasanya .... Mereka benar-benar tidak bertanya tentang diriku ya, Putraku.”


 


 


Mendengar ucapan Mavis yang berjalan di sebelahnya, sekilas Odo melirik kecil dan membalas, “Aku malah ingin mereka bertanya.”


 


 


Mavis balik melirik, tersenyum kecil dan berkata, “Memangnya kalau mereka bertanya engkau ingin menjelaskan apa?”


 


 


Mengacungkan jari telunjuknya ke depan, Odo sekilas tersenyum lebar dan berkata, “Aku akan membuat latar belakang kalau bunda sebenarnya kakak perempuanku yang telah lama berpisah. Bunda adalah anak ayah dari wanita yang berbeda, tanpa sengaja bertemu saat aku pergi keluar kota dan memutuskan untuk menyembunyikan bunda dari keluarga karena masalah pewaris.”


 


 


“Eeeeh?” Kening Mavis sedikit mengerut saat mendengar bualan yang tertata rapi tersebut. Dengan hela napas ringan wanita itu berkata, “Latar belakang macam apa itu? Apa mereka akan percaya?”


 


 


Odo kembali menghadap ke depan, tetap melangkahkan kaki bersama ibunya tersebut dan berkata, “Kurasa mereka akan percaya. Bunda sendiri tahu kalau ayah cukup terkenal di kalangan perempuan saat muda, bukan?”


 


 


“Uwah~” Mavis memasang wajah meledek, menutup mulutnya dengan ujung tangan kanan dan berkata, “Engkau tahu, putraku. Itu hanyalah salah paham, omong kosong itu tersebar karena anggota Party Pembunuh Iblis dulu memang kebanyakan diisi oleh perempuan. Lagi pula, mereka juga hanya Julia dan Fiola. Apanya yang terkenal di kalangan perempuan.”


 


 


“Hmm, begitu rupanya. Aku lega ....”


 


 


Mavis sedikit heran dengan perkataan tersebut dan penasaran melihat ekspresi putranya. Menarik lengan kemeja Odo, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Lega kenapa?”


 


 


Odo menatap ibunya tersebut, kembali mengacungkan telunjuk ke depan dan menjawab, “Aku takut mewarisi sifat ayah yang suka main perempuan. Jujur hal itu menyusahkan.”


 


 


“Eh? Kenapa?” Jawaban tersebut malah tambah membuat Mavis bingung, tidak mengerti karena seharusnya seorang laki-laki akan suka kalau didekati oleh banyak perempuan. Mempertimbangkan beberapa hal, Mavis tersenyum tipis dan berkata, “Ho-hoh, apa sudah ada perempuan yang kamu sukai, jadinya akan susah kalau ada perempuan lain yang mendekat, ya?”


 


 


“Bukan itu ....” Odo memalingkan pandangannya dan merasa kalau ibunya tersebut sifatnya mulai seperti tante-tante tukang gosip. Menghela napas ringan dan sekilas melihat ke arah air mancur di tengah balai kota, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Dalam sejarah dan dongeng-dongeng, yang membuat pria hancur sangat sering penyebabnya karena perempuan. Aku tak ingin hancur karena omong kosong seperti itu.”


 


 


“Be-Begitu, ya ....” Mavis sekilas merasa kalau itu adalah sindiran halus untuknya.


 


 


“Ya, begitulah. Aku ingin menghindari hal semacam —!!”


 


 


Langkah kaki Odo tiba-tiba terhenti, wajahnya seketika pucat dan segera meliat telapak tangan kanannya sendiri. Mulutnya sedikit menganga, terlihat panik dan gemetar. Melihat gelagat aneh putranya tersebut, Mavis ikut terhenti dengan cemas dan bertanya, “Ada apa, putraku? Wajahmu ... kenapa pucat?”


 


 


 


 


“Ya ...?”


 


 


Mavis mendekat, ikut melihat telapak tangan Odo. Pada permukaan telapak tangan pemuda rambut hitam tersebut terlihat tulisan, huruf dan Rune berwarna biru cerah yang terus berubah-ubah setiap detiknya. Ada beberapa yang berubah merah dan ada juga yang menghitam.


 


 


“Bisa aku minta tolong pada bunda?”


 


 


“Ke-Kenapa? Memangnya ada apa dengan Rune di tanganmu? Apa itu sihir? Kita bukannya mau ke kantor pemerintahan pusat kota itu dan berdiskusi dengan me—”


 


 


“Tolong bunda wakili aku dan diskusi dengan mereka ....” Odo melangkah menjauh, ekspresi cemasnya berubah murka pada sesuatu dan dengan nada tegas berkata, “Kalau menyusahkan! Bunda kembali saja ke toko dan jangan pergi sebelum aku kembali!”


 


 


“Apa yang kau bicarakan? Kenapa tiba-tiba kau panik seperti itu—”


 


 


Odo mengambil belati dari jubah dimensi, lalu langsung menusuk telapak tangannya sendiri dengan itu. Darah menciprat keluar dan sedikit mengenai wajah serta pakaian Mavis. Tubuh wanita itu seketika gemetar melihat darah mengalir keluar dari tangan putranya tersebut.


 


 


“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menusuk tanganmu sendiri?!”


 


 


Hembusan angin tiba-tiba keluar kencang dari tubuh pemuda itu, mendorong Mavis ke belakang dan sampai membuat orang-orang yang berada di balai kota menoleh ke arah mereka. Darah yang mengalir keluar dari tangan Odo tidak jatuh ke jalan, itu melayang di udara dan membuat sebuah pola lingkaran sihir merah gelap di atas kepala pemuda itu.


 


 


Mengangkat tangannya dan menyentuh lingkaran sihir tersebut, Odo mulai merapalkan mantra, “Aquila Aurea .... Alba solis, altum quiddam .... Surge angelis in hoc ludo!” Lingkaran sihir merah seketika menghilang, berganti dengan halo dengan bagian luar runcing-runcing bercahaya yang muncul di atas kepala pemuda itu. Sinarnya begitu terang dan membuatnya menjadi pusat perhatian, bagaikan sebuah kilauan matahari di malam hari.


 


 


Mavis yang melihat itu dari dekat hanya bisa tertegun dengan mulut menganga. Ia jelas tahu halo apa yang muncul di kepala putranya tersebut dan seharusnya milik siapa itu. Dengan tidak percaya ia berkata, “Ke-Kenapa kekuatan Ayunda ada padamu, Odo ...?”


 


 


Pemuda yang dengan mudahnya melakukan manifestasi malaikat itu menoleh ke arah Mavis, menatap dengan sorot mata kosong seakan jiwanya tidak ada pada raga. Ia mengulurkan tangan ke arah wanita rambut pirang tersebut, lalu dengan nada suara yang terdengar ganda berkata, “Bunda kembali saja ke toko atau ke Mansion ....”


 


 


“A-Apa yang kau bicarakan?!”


 


 


Partikel cahaya mulai berkumpul dan membentuk sepasang sayap cahaya pada punggung pemuda itu, melebar dan perlahan kakinya terangkat dari permukaan. Tanpa berkata apa-apa lagi, anti gravitasi dari halo aktif secara maksimal dan sayap sebagai kontrol langsung membuat pemuda rambut hitam itu terbang cepat ke angkasa meninggalkan Mavis.


 


 


“Odo!! Tunggu Odo ....!”


 


 


Mavis mengaktifkan Inti Sihirnya. Wanita dengan tubuh lemah itu memaksakan tubuhnya untuk berlari dan meloncat ke udara, lalu menggunakan sihir melayang. Mati-matian ia berusaha mengejar putranya menggunakan sihir tersebut dan terbang secepat dirinya bisa. Namun kecepatan manifestasi malaikat bukanlah sesuatu yang bisa dicapainya dalam bentuk manusia, sampai di atas gerbang utama Mavis sudah tidak bisa lagi melihat sosok Odo yang melesat cepat ke langit.


 


 


Tubuh wanita itu benar-benar gemetar, tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan cepat tadi. “Ja-Jadi memang benar sebagian kekuatan dari kesadaran Ayunda masuk ke tubuhnya. Karena itu ..., sejak Odo lahir kekuatanku berkurang,” benak Mavis dengan tatapan cemas. Wajahnya memucat, tubuh yang belum penuhnya sehat terlalu dipaksakan dan memperparah kondisinya.


 


 


Mendegar keramaian yang ada di bawah, perhatian Mavis teralihkan dan ia menatap datar orang-orang yang menjadikan kejadian tersebut sebagai tontonan. Saat perlahan turun dan ingin membubarkan mereka meski harus membongkar identitas, tiba-tiba kesadarannya mulai pudar dan wanita rambut pirang tersebut terjun bebas ke bawah.


 


 


Seseorang dari kerumunan meloncat tinggi dan menangkap Mavis, menggendongnya layaknya tuan putri dan mendarat pada salah satu atap dari bangunan di dekat gerbang utama. Perlahan membuka matanya dan menatap orang dengan pakaian jubah bertudung yang menyelamatkannya, Mavis berkata, “Fiola ...? Kenapa ... kau ....”


 


 


“Ya, ini saya, Nyonya .... Saya menyembunyikan hawa keberadaan di antara kerumunan sejak tadi .... Maaf tidak mematuhi perintah Anda dan datang ke sini.”


 


 


Hembusan angin malam membuka tudung Huli Jing tersebut, kedua telinga rubah perempuan rambut cokelat kehitaman itu terlihat dan berkedut-kedut. Dengan wajah serius ia pun bertanya, “Yang melesat sangat cepat tadi ..., dia benar Tuan Odo, ‘kan?”


 


 


“Ya .... Odo dengan mudahnya masuk ke dalam manifestasi malaikat, lalu pergi.” Mavis turun dari gendongan Fiola, berdiri dipapah pelayan setianya tersebut dan dengan cemas melihat ke arah putranya pergi.


 


 


“Jadi begitu ....” Mavis tidak terkejut, semakin menajamkan tatapan matanya dan dengan nada serius berkata, “Kalau Tuan Odo bisa melakukan manifestasi Dewa, tentu saja dia bisa juga melakukan Manifestasi Malaikat dan mendapat mobilitas tinggi dari entitas cahaya.”


 


 


“Manifestasi .... Dewa ...?” Mavis terkejut mendengar itu, namun karena tubuhnya masih lemas ia tidak bisa bergerak bebas dan hanya bisa berdiri dipapah Fiola.


 


 


“Ya .... Saat melawan Raja Iblis Kuno, dia pernah menggunakan itu. Namun sayangnya Tuan keburu kalah sebelum sempat menunjukkan kekuatan asli dari bentuk itu, saya juga tidak sempat bertanya lebih jelasnya.”


 


 


“Kenapa kau tidak memberitahukan itu padaku!!” bentak Mavis.


 


 


Ia mendorong Fiola, memaksa tubuhnya sendiri untuk berjalan dan hendak mengaktifkan Inti Sihirnya lagi. Namun tubuh wanita itu terlalu lemah untuk menggunakan sihir dalam jangka lama, tubuhnya kembali ambruk dan kembali dipapah oleh Fiola.


 


 


“Itu .... Saya tidak mau membuat Nyonya khawatir.”


 


 


“Terus sekarang bagaimana ...?” Mavis terlihat sangat pucat, begitu cemas dan air mata berlinang membahasi pipi. Dengan tangisan tersedu ia berkata, “Dia pergi begitu saja dengan bentuk manifestasi malaikat .... Kalau terjadi sesuatu padanya .... Kalau kepribadiannya rusak seperti Ayunda, aku harus bagaimana ....?”


 


 


Wanita itu berlutut menutup wajah yang berlinang air mata, isak tangis pelan penuh rasa cemas. Melihat orang-orang yang berkerumun di bawah semakin banyak, Fiola berlutut di depan tuannya dan berkata, “Apa ... Nyonya tahu tujuan Tuan Odo .... Biar saya yang menjemputnya, bila perlu secara paksa. Nyonya istirahat saja ....”


 


 


“Mana diriku tahu .... “ Mavis mengangkat wajah cemasnya, air mata berlinang jatuh dan wanita itu benar-benar terliat sangat rapuh di mata Fiola. Dengan suara penuh rasa cemas wanita itu berkata, “Dia ..., Odo tiba-tiba panik saat melihat Rune pada telapak tangannya sendiri ...! Dia langsung melakukan manifestasi malaikat, lalu terbang entah ke mana ....”


 


 


Fiola berdiri, segera menghadap ke arah Odo pergi dan mulai membuat segel tangan dengan menyilangkan kedua telapak tangannya secara tumpang tindih ke depan. Pada telapak tangan kanan yang paling depan, seketika Mana berkumpul dan sonar dilepaskan ke dinding kota. Getaran dari sonar tersebut dengan kecepatan suara menyebar dalam radius puluhan kilometer, meski begitu tetap saja dalam jangkauan tersebut Odo Luke tidak terdeteksi keberadaannya.


 


 


“Apa dia sudah pergi terlalu jauh? Atau memang masih berada di ketinggian yang tidak bisa dicapai sonar?” benak Fiola.


 


 


Huli Jing tersebut menarik napas dalam-dalam dan menonaktifkan sihirnya. Mengaktifkan kekuatannya dalam kekuatan penuh, kesembilan ekor Huli Jing tersebut keluar dari balik jubah dan seakan menari-nari di bawah langit malam.


 


 


“Kalau begitu, aku akan menggunakan Mata Batin untuk melacak hawa kehidupannya. Saya sudah mengingat aroma dan bentuk Mana Tuan Odo, dengan ini ....”


 


 


Fiola menjalin jemari kedua tangannya, membentuk segel tangan dengan perlambangan dewa dan mengaktifkan kekuatan penuh dari kekuatan Mata Batin yang dimiliki ras Huli Jing. Memejamkan mata, ia mengingat informasi seperti aroma, suhu badan, suara, Mana, aura kehidupan, dan segala sesuatu yang dirinya ketahui tentang Odo Luke. Kesadarannya diterbangkan, bergerak cepat melebihi kecepatan suara dan mencari keberadaan pemuda yang terbang dalam benak manifestasi malaikat.


 


 


“Ketemu!” Fiola langsung membuka kedua matanya, lalu berkata, “Dia pergi ke perbatasan teritorial kota Mylta! Di daerah dataran tinggi!”


 


 


\==============================


 


 


Catatan :


 


 


See You!


 


 


Kalau ada yang tanya kenapa baru Update, saya habis jadi manusia purba dengan akses koneksi internet yang terbatas. Pulkam ke desa, bung. Gak ada tempat yang enak buat ngetik jadinya gak update, ada beberapa kegiatan di rumah dan diajak keluarga keluar rumah terus:v


 


 


Sorry, ya ....


 


 


Yang udah perhatian makasih banget, asli ....


 


 


See you soon!!