
Pada tempat rombongan orang-orang Mylta berada, suasana terasa berat dengan rasa bersalah yang memenuhi. Mereka yang tak ikut pergi bersama Lisia menundukkan kepala, penuh dengan harga diri yang terluka terutama untuk para prajurit kota.
Memilih untuk tetap berdiam diri sama saja mereka mengacuhkan kewajiban untuk melayani Tuan Tanah mereka, apalagi setelah Nona mereka mengatakan kalau pemuda yang ditinggalkan untuk mengulur waktu adalah anak dari Marquess Luke.
Kepala Prajurit, Iitla Lots, pria rambut pirang panjang sebahu itu bersandar pada bagian luar kereta kargo dengan ekspresi muram. Kedua tangannya yang dilihat ke depan dada tak berhenti gemetar, dihantui rasa takut dan bersalah yang bercampur aduk dalam benak. Mengingat seorang bandit yang sebelumnya ikut kabur bersamanya, pria itu menoleh ke arah pepohonan tempat bandit tersebut bersandar.
Seorang pria rambut cokelat pendek duduk di atas permukaan salju seraya memeluk kedua keluarganya di sana, dengan penuh rasa takut dan tubuh yang tak henti-hentinya gemetar. Sekilas rasa ingin menyalahkan mereka muncul dalam benak Iitla, ia ingin membentak dan membuat keluarga bandit itu menjadi kambing hitam jika pemuda yang mereka tinggalkan terbukti benar-benar anak dari Lord wilayah mereka dan tidak selamat.
Namun saat melihat anak dalam pelukan bandit itu bangun dan menggenggam tangan ayahnya dengan lemah, hati Iitla gemetar. Ia merasa hina karena sempat berpikir seperti itu, rasa takut seakan membuat moralnya semakin jatuh. Menutup wajah dengan kedua telapak tangan, ia benar-benar cemas tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan hidup dengan rasa bangga seperti apa yang dirinya jalani selama ini.
“Kenapa ... kami selemah ini? Kenapa kami pengecut seperti ini ...?”
Suara itu terdengar oleh bawahannya yang juga bersandar pada kargo, tepat di sebelah Kepala Prajurit itu. Pria yang merupakan bawahannya tersebut hanya terdiam, tanpa berkomentar karena merasakan hal yang sama dengan atasannya.
“Kita memang lemah dan pengecut, Pak Iitla. Kita ... selalu saja mengandalkan yang kuat saat situasi seperti ini, namun saat damai kita malah mengumbar rasa sombong seakan kedamaian itu adalah yang kita datangkan ....”
Iitla Lots tak bisa berargumen tentang itu. Hal tersebut adalah fakta nyata, mereka memang sering melakukan itu dengan berjalan di tengah jalan utama kota dan memerkan kekuasaan. Itu sebenarnya dilakukan untuk tujuan politik, namun tidak bisa dibantah kalau mereka senang dan merasa bangga mengumbar posisi serta kekuasaan sebagai seorang prajurit kota.
“Sayang ...?” Suara perempuan dari arah keluarga bandit terdengar lemas. Istri dari Tox Tenebris, Isla, telah bangun dan segera menggenggam tangan putri serta suaminya.
Melihat momen hangat itu dirasakan oleh musuh utama mereka dalam rencana yang dijalani hampir selama dua minggu, rasa kesal tidak timbul dalam benak. Kepala Prajurit dan bawahannya bahkan merasa kalau pemimpin bandit itu luar biasa bisa melawan rasa takut dan tetap membawa keluarganya tanpa kabur sendiri.
Melihat pemandangan hangat itu, dalam benak Iitla merasa, “Dia memang bajingan yang memimpin sekelompok pembunuh tak beradab. Tetapi dalam keluarga, seburuk apapun dia pasti ayah yang baik di mata mereka.”
Menarik napas dalam-dalam, Kepala Prajurit itu berhenti bersandar dan berdiri tegak. Melihat ke arah para anak buahnya yang tidak ikut bersama Lisia, Iitla sadar mereka semua merasakan hal sama dengan dirinya dan karena itulah mereka tidak melangkah maju.
Meski paham akan hal tersebut, Kepala Prajurit itu tetap lantang berkata, “Kalian!! Ini Perintah! Kita akan menyusul Nona!!”
Para prajurit, pemburu, dan penyihir yang masih menetap di tempat menoleh ke arah pria rambut pirang tersebut. Mereka termenung mendengar itu, benar-benar tidak mengerti apa alasan pria yang tadi gemetar ketakutan bisa berkata seperti itu.
”Pak Lots ...? Apa yang Anda katakan?” tanya bawahannya yang berada di dekatnya.
“Ini Perintah! Aku tahu diriku tak pantas berkata seperti ini ..., namun apakah ini tindakkan yang tepat untuk kita orang-orang Kerajaan Felixia?! Kita adalah bangsa yang kuat! Diberkahi oleh para Roh Agung! Kita tak boleh meninggalkan pemuda itu sedangkan kita berada di sini seperti pengecut!!”
Kepala Prajurit itu berjalan ke tengah semua orang yang tersisa di tempat, menarik napas dalam-dalam dan kembali menegaskan, “Kita adalah Prajurit Terhormat Kerajaan Felixia!! Di bawah naungan Tuan kita, Dart Luke! Kita harus bisa menaklukkan ketakutan meski itu berhadapan dengan Raja Iblis sekali pun! Ingat! Kita adalah prajurit Kerajaan Suci ini!”
“Ta-Tapi ... meski kita ke sana ....”
“Meski kita ke sana kita hanya akan mati? Benar!! Kita harus melangkah hanya untuk mati! Kita yang masih berada di sini sadar akan batas kekuatan kita! Namun ..., kalau begitu apa bedanya kita dengan para bandit pengecut?! Tidak ada!! Kita hanya sekelompok pengecut kalau tetap diam seperti ini! Karena itu! Apa kalian ingin mati sebagai pengecut?! Tidak, bukan?! Jika kalian takut dan tak bisa melangkah maju! Maka bergantunglah pada diriku ini!! Pada perintahku ini! Jadikan perintah ini sebagai pegangan kalian untuk terus maju!! Aku akan menanggung rasa takut, benci, dan bersalah kalian semua!”
Perkataan itu benar-benar membuat hati setiap orang yang mendengarnya gemetar, terasa hangat dan semangat aneh mulai membara. Berhenti menundukkan wajah, mereka mulai menatap lurus dan bangun meski dengan tubuh yang masih gemetar. Entah itu para prajurit, pemburu, atau penyihir, semua orang dari Mylta itu mengumpulkan keberanian sekali lagi untuk maju.
“Rasa takut memang ada dalam diri semua makhluk hidup! Itu insting! Namun kita tak boleh menjadi pengecut!! Angkat senjata kalian sekali lagi, kawan-kawanku! Ayo kita buktikan bahwa diri kita ini juga bisa membara meski hanya sesaat!!”
Para prajurit langsung berdiri tegak, mengambil senjata dari sarung di pinggang dan mengangkatnya lurus ke depan sebagai tanda hormat serta perwujudan tekad. Bersama dengan mereka, para pemburu serta penyihir juga ikut tersulut semangat dan berhenti menundukkan wajah.
Di tengah atmosfer yang sekali lagi mulai dipenuhi rasa semangat, pemimpin bandit datang menghampiri Iitla Lots dan berkata, “Tuan ..., tolong biarkan aku ikut .... Aku berhutang banyak pada pemuda itu, tolong ... biarkan aku ikut!”
Tox Tenebris hendak bersujud dan memohon hal tersebut, namun dengan segera Iitla menghentikannya dan memegang pundak kanan pemimpin bandit tersebut. “Aku tahu keinginanmu .... Kau memang penjahat dan pantas untuk diberikan hukuman yang setimpal. Namun kali ini kita memiliki tujuan yang sama, kau kuberikan izin untuk itu,” ucap Kepala Prajurit dengan perasaan yang masih bercampur aduk.
“Terima kasih .... Sungguh saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, Tuan!”
Melihat pemimpin bandit itu mengatakan hal seperti itu dengan sungguh-sungguh, orang-orang yang melihatnya semakin tersulut, bukan amarah namun semangat. Berbeda dengan mereka, istri dan anak bandit yang berdiri di dekat pepohonan menatap kepala keluarga mereka dengan penuh rasa cemas. Isla tidak pernah melihat suaminya mau melakukan hal seperti itu, apalagi untuk seseorang dari kalangan pemerintah.
««»»
Di dalam hutan dengan pepohonan pinus yang porak-poranda, Fiola berjalan seraya menggendong Odo di punggungnya. Di bawah paparan cahaya senja yang ada, mereka bergerak ke arah daerah tebing yang sebelumnya diruntuhkan oleh Raja Iblis.
Pepohonan pinus yang berserakan dan akarnya sampai tercabut menjadi peneman sepanjang perjalanan, tanah yang terangkat dan berserakan menjadi medan terjal langkah kaki perempuan rambut cokelat kehitaman tersebut. Setelah mendapat tawaran sebelumnya dari Odo, Fiola sama sekali tidak berkata apa-apa tentang itu atau memberikan jawaban yang jelas.
Huli Jing tersebut lebih memilih untuk tetap menjadi taksa, antara setuju untuk mendukung Odo atau melarang dalam tujuannya itu. Ia tidak memiliki rasa percaya diri atau keberanian untuk setuju dengan apa yang Odo Luke ingin lakukan.
Sedikit merenungkan ucapan pemuda yang digendongnya, Huli Jing itu bertanya, “Tuan, kenapa Anda rasanya kok ringan? Meski kelihatannya berbobot dan punya tubuh kekar, tapi berat Anda rasanya kok tak lebih dari 16 kilogram saja?” Perkataan yang keluar malah tidak terlalu penting dan sama sekali tak mencerminkan apa yang sebenarnya ingin Fiola tahu.
Odo terdiam sesaat mendengar ucapan tersebut, menganalisa dan memahami pertanyaan itu dalam-dalam. Sedikit menyipitkan mata dan paham apa yang dirasakan Fiola, pemuda rambut hitam tersebut sedikit menghela napas ringan dan mengatur emosi yang bergejolak sedikit kacau.
“Hmm? Tadi sudah aku jelaskan, loh. Aku kehilangan banyak berat badanku saat di dalam tubuh Tengkorak Raksasa itu .... Sudah kubilang juga tadi, Raja Iblis itu bangkit dalam kondisi rapuh setelah disegel ribuan tahun. Karena itu, kondisinya lemah dan cenderung menyerap energi kehidupan .... Hasilnya aku juga terserap saat di dalamnya. Bisa dikatakan aku beruntung bisa mengacaukannya dari dalam dan keluar dari tubuh raksasa itu.”
“Hmmm, begitu rupanya ....”
Percakapan terhenti, Fiola tetap berjalan dan benar-benar tidak bertanya lebih meski tahu sebagian dari perkataan Odo itu adalah kebohongan. Mereka benar-benar terdiam dalam suasana senyap. Huli Jing rambut hitam yang menyembunyikan ekor dan telinganya dengan sihir transformasi itu tak bisa menanyakan, apa yang sebenarnya dirinya ingin tahu tentang kondisi pemuda yang digendongnya.
“Aku senang Mbak Fiola tidak tanya hal-hal tak penting dan berujung seperti menginterogasiku, tapi kalau tak tanya sama sekali aku juga malah bingung,” ucap Odo seraya tambah memeluk Fiola yang menggendongnya.
Itu terasa begitu ringan bagi Huli Jing tersebut, meski tubuh Odo seharusnya berbobot dan memiliki kemampuan fisik yang kuat. Dengan ekspresi sedikit sedih, ia berkata, “Apa ... Tuan ingin saya bertanya?”
“Tak usah, biar aku beritahu saja ....”
“Hmm ....” Fiola hanya mengangguk kecil.
Sedikit terdiam sejenak dan menyusun perkataan yang sesuai, pemuda rambut hitam itu berkata, “Mbak Fiola ..., sebenarnya aku telah kehilangan hampir dari 4/5 struktur sihirku tadi.”
“Eh?” Langkah Fiola terhenti, dirinya benar-benar terkejut mendengar itu dan samar-samar paham arti dari perkataan Odo.
“Karena hilangnya struktur sihir sebanyak itu dari tubuh, kemungkinan besar aku tidak bisa menggunakan lingkaran sihir dan segala aktivasi Mana eksternal terganggu,” lanjut Odo.
“Apa ... maksudnya?”
“Intinya, aku kemungkinan besar kehilangan seluruh kemampuan sihir yang telah kupelajari selama ini .... Yah, bukan berarti aku tidak bisa menggunakan Mana lagi, sih. Battle Art yang cenderung menggunakan Mana secara sederhana masih bisa aku pakai.”
“Be-Berarti saat ini Tuan Odo tidak bisa menggunakan sihir?”
Odo mengulurkan tangan kanannya ke depan melewati pundak Fiola, lalu mengaktifkan Inti Sihir dan membuat struktur sihir. Namun saat sihir akan aktif dan lingkaran sihir terbentuk, struktur yang ada hancur dan lingkaran sihir di depan telapak tangannya pecah. Mana mentah keluar, tanpa perubahan sifat atau perubahan bentuk dan hanya berupa vitalitas yang terkuras keluar tanpa perintah di dalamnya.
“Lihat ..., respons strukturnya melambat sampai strukturnya tak bisa aktif dengan baik.”
“Apa Anda baik-baik saja seperti itu? Bukannya Tuan Odo sangat suka dengan sihir? Kehilangan kemampuan untuk menggunakan itu ... bukannya ....”
“Aku tak masalah,” jawab ringan Odo. Kembali melingkarkan kedua lengannya ke Huli Jing yang menggendongnya tersebut, Odo berkata, “Nanti tinggal pelajari lagi dan cari sihir yang sesuai denganku saja. Lagi pula, aku bukannya benar-benar tidak bisa menggunakan sihir sekarang. Contohnya, aku masih bisa mengakses Gelang Dimensi atau hanya sekedar meningkatkan kemampuan fisik.”
“Tapi, tepat saja itu ....”
“Ya, aku melemah .... Makannya, tadi aku menawarkan itu pada Mbak Fiola. Kalau aku masih sekuat diriku sebelumnya, aku tak akan menawarkan hal seperti itu. Mbak Fiola tahu, aku lebih suka bergerak sendiri dengan bebas.”
Fiola terdiam, kembali melangkahkan kakinya dan tidak menjawab. Dirinya paham pemuda itu bersungguh-sungguh berkata seperti itu, isi kepala Tuannya itu sangat ingin mengajak dirinya. Namun meski sudah tahu hal tersebut, rasa ragu dalam benak Fiola masih tetap saja ada.
“Apa ... Anda baik-baik saja dengan kondisi seperti itu?” tanya Fiola cemas.
“Ya, kurasa baik-baik saja. Tapi sekarang kurasa ada satu masalah besar ....”
“Masalah?”
“Karena struktur pembangun bentuk tubuhku ikut hilang, kemungkinan besar bentuk tubuh inilah yang menjadi wujud asliku.”
“Eh? Maksudnya?” Langkah Fiola kembali terhenti.
“Maksudku, aku terjebak dalam bentuk ini dan tidak bisa kembali ke wujudku yang sebenarnya. Selamanya menjadi pemuda berpenampilan sekitar 19 atau 20 tahunan ini.”
Mulut Fiola menganga, namun dirinya tak paham mengapa itu menjadi masalah besar. Sedikit menarik napas dengan berat, ia bertanya, “Eng ..., memangnya apa masalah dengan itu?”
“Hmm,Mbak Fiola tak paham? Kalau aku pulang dengan wujud seperti ini, kira-kira reaksi Ibu dan orang-orang di Mansion akan seperti apa?”
Fiola terbelalak, ia baru paham dan lekas berteriak, “Gawat, dong! Itu masalah besar!!”
“Sudah kubilang itu tadi ....”
“Uuuuh~” Fiola menggerung.
Di tengah pembicaraan tersebut, secara tiba-tiba sihir kalkulasi internal Odo aktif dan Spekulasi Persepsi memberikannya beberapa kemungkinan yang akan terjadi padanya dalam beberapa menit ke depan. Karena sihir tersebut masuk dalam susunan struktur pada Inti Sihir, itu dapat aktif tanpa kendala dalam Struktur Sihir Auto Senses.
Lingkaran sihir internal muncul pada kornea mata Odo, memberikan beberapa gambaran padanya yang saat berkedip langsung masuk ke dalam kepala. Kesimpulan langsung didapat pada saat yang bersamaan, membuat Odo sedikit tersenyum miris.
“Ah, sepertinya mereka datang .... Padahal sudah mengumpulkan keberanian dan datang, tapi malah semuanya sudah berakhir itu pasti sedikit aneh jadinya. Hanya untuk mereka, sih.”
“Hmm? Apa yang Anda bicarakan, Tuan Odo?”
“Tak apa .... Bukannya Mbak Fiola bisa membaca pikiranku? Baca saja!”
Alis Fiola berkedut, dengan resah ia menggerutu, “Begini, ya! Bukan berarti saya bisa dengan bebas membaca pikiran orang setiap saat, loh. Tolong jangan perlakukan aku seperti tukang intip isi kepala orang!”
“Hahah ....” Odo hanya tertawa kering mendengar itu.
“Jadi, ada apa?”
Dengan nada yang terdengar malas pemuda itu menjawab, “Sepertinya ada dua orang yang akan mendatangi kita. Hmm, bukan. Mereka sudah berada di dekat kita sepertinya.”
“Siapa? Apa para Aliran Sesat?! Para sialan itu?!”
Fiola berbalik cepat, menghadap kanan kiri dan membuat Odo yang digendongnya terombang-ambing tak karuan. “Mbak Fiola, bisa tenang dikit? Kepala dan tubuhku masih sakit, tahu,” keluh pemuda itu.
“Ah, maaf ....” Fiola langsung terhenti.
“Bisa turunkan aku? Ke dekat pohon itu juga tak masalah ....”
“Eh? Katanya masih sakit?”
“Tak apa. Kalau kita terus bergerak, mereka bisa makin lama mengejar kita. Lebih baik kita tunggu dan bicara dulu.”
Fiola berjalan ke arah sebuah batang kayu yang tumbang, lalu menurunkan Odo di atasnya untuk membiarkan pemuda itu duduk. Menghadap pemuda yang hanya ditutupi kain dari bawah pusar sampai lutut, Fiola baru benar-benar tahu kalau badan kekar pemuda itu sangatlah aneh. Kulit yang membungkus otot Odo terlihat kaku, sedikit keriput terlihat seperti kulit orang tua dan memiliki bekas-bekas hitam pada permukaan. Jelas itu adalah tubuh seperti orang yang penyakitan.
Berusaha untuk tidak mempertanyakan hal tersebut mempertimbangkan perasaan Odo, Huli Jing tersebut mengambil hal lain dalam benak dan bertanya, “Memangnya siapa yang Tuan maksud?”
“Anak ... Witch?” Fiola sedikit memiringkan kepala dengan bingung. Dirinya tahu Witch yang menurut rumor tinggal di Hutan Pondo, namun dirinya tak pernah mendengar anak dari sosok yang bahkan dikenal sebagai legenda tersebut.
“Kenapa pasang wajah ragu seperti itu, Mbak Fiola?” tanya Odo seraya tersenyum tipis.
“Witch? Anak? Keberadaannya saja tak terbukti ada atau tidak, tapi Anda mengatakan anaknya?” tanya Fiola ragu.
“Padahal Mbak Fiola sendiri makhluk yang sudah dianggap mitos, tapi malah bilang begitu.”
“Ras saya ada sejak dulu, hanya sekarang tinggal sedikit di dunia ini ....”
“Ya, anggap saja Witch itu semacam itu. Makhluk yang hampir punah dari dunia ini.”
“Eeeeh? Memangnya hewan langka—Tunggu! Anda menggolongkan saya sama dengan hewan langka?!”
“Hahah, baru sadar? Mbak Fiol—Ukag!”
Odo tiba-tiba muntah darah, dalam jumlah yang tidak sedikit dan benar-benar membuat Fiola terbelalak. Pandangan pemuda itu langsung buram, tubuhnya lemas dan kesadaran seakan-akan melayang ke udara.
“Tu-Tuan!? Anda Kenapa?! Apa ada luka dalam? Perlu saya berikan transfer Mana?” Huli Jing tersebut segera berlutut di depan Odo yang duduk di atas batang kayu, tanpa memedulikan lututnya yang kotor menyentuh darah pemuda itu di permukaan tanah.
“Tak usah ....”
Odo segera menyeka darah yang tersisa di sekitar mulut. Wajahnya semakin pucat, terlihat lemas dan suaranya terdengar begitu pelan. Rasa cemas benar-benar mengusai benak Fiola, namun ia bingung harus melakukan apa karena dirinya tidak terlalu ahli dalam sihir pemulihan atau penyembuh.
“Anda yakin baik-baik saja?”
“Ya .... Ini tak masalah. Kita tunggu saja di sini, biarkan mereka menyusul.”
“Jangan-jangan Anda melakukan sihir kalkulasi itu lagi secara berlebihan?”
“Aku tidak menggunakannya.”
“Sungguh?!”
“Ya .... Hah, jangan berteriak. Kepalaku sedang pusing, pelankan suaramu, Mbak Fiola.”
Odo duduk dalam kondisi benar-benar lemah, goyah kanan kiri dan bisa saja bisa ambruk dengan mudah saat tertepa angin. Memegang kedua sisi bahu pemuda itu, Fiola segera duduk di sampingnya dan membaringkan kepala Odo di atas pangkuan pahanya.
“Ah, apa ini?” ucap pemuda itu saat tiba-tiba dibaringkan pada paha yang empuk, satu-satunya penghalang antara kepalanya dan kulit Fiola hanyalah sebuah kain tipis kimono perempuan tersebut.
“Tidurlah dulu .... Kalau orang yang Anda sebut tadi datang, akan saya bangunkan.”
“Eng ..., Mbak Fiola kenapa mudah sekali percaya pada perkataanku? Bisa saja aku hanya beralasan.”
“Beralasan untuk apa?”
“Pura-pura lemah seperti ini supaya Mbak Fiola mau menerima tawaranku tadi.”
Fiola tertegun, dirinya samar-samar merasa itu dalam benak namun dirinya berusaha untuk tidak memikirkannya. Mendengar jelas itu dari Odo, ia sedikit menatap datar pemuda yang tidur di atas pangkuannya. Suara burung tak terdengar, suara dedaunan tak terdengar, bahkan suara angin sekalipun. Hanya ada keheningan di tengah tempat porak-poranda tersebut, suara napas berat pemuda itu yang mendominasi.
Menyentuh kening Odo, Fiola langsung tahu kalau pemuda itu sedang demam. Sedikit menyipitkan mata dan menatap lurus, ia berkata, “Tuan sedang demam juga tak bilang, apanya yang akan memberitahu saya?”
“Itu salah Mbak Fiola karena tidak mau tanya.”
“Jadi ini salah saya?”
“Ya ....”
“Kalau begitu, saya akan tanya ini .... Kenapa Anda ingin melakukannya sampai sejauh ini? Kalau hanya ingin melindungi rumah itu, Anda tak perlu melakukannya sejauh ini. Anda ... tahu Raja Iblis itu akan datang saat kita transit, bukan?”
“Ya, kurang lebih aku telah memprediksinya.”
“Apa ... alasannya Anda melakukan semua ini?”
“Alasan, ya ....”
Odo sesaat terdiam, menatap balik Fiola dengan wajah lemas. Dirinya sudah tak lagi terlalu memikirkan hal seperti itu, isi kepalanya penuh dengan pikiran apa yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu yang ditujunya.
Bernapas dengan sedikit berat, pemuda itu menjawab, “Sebenarnya tak ada alasan khusus, itu terjadi seperti halnya seharusnya itu terjadi. Makhluk hidup itu hidup bergantung pada informasi, terjerat informasi dan benar-benar mengandalkan informasi. Saat tahu sesuatu dan melihat sesuatu, maka tindakkan dan sifat seseorang akan terpengaruh oleh itu. Setiap orang mendapat pengetahuan, maka persepsi dirinya akan berubah. Itulah sifat manusia untuk belajar dan memahami sesuatu.”
Fiola terdiam mendapat penjelasan seperti itu. Sedikit merapikan rambut poni pemuda itu dan tersenyum ringan. Dengan ekspresi wajah penuh rasa sedih yang bercampur dengan senyuman pilu, Huli Jing itu berkata, “Anda selalu saja seperti itu, menjawab dengan pemikiran jelas. Tanpa ragu, dengan dingin dan terdengar begitu tepat di telinga saya.”
“Apa Begitu, ya? Jujur aku sendiri sering ragu dengan perkataanku sendiri, loh.”
“Ragu?”
“Aku ragu apakah pemikiranku hanya sekilas saja dan bukan pemikiran yang kuharapkan. Seperti yang kubilang tadi, pengetahuan mengubah persepsi.”
“Lalu kenapa Tuan Odo sangat haus akan pengetahuan? Kenapa Anda suka sekali di perpustakaan — sumber dari semua hal yang bisa mengubah persepsi Tuan Odo?”
Tersenyum tipis penuh rasa percaya diri pada wajahnya, pemuda itu dengan tanpa ragu menjawab, “Pengetahuan adalah Kekuatan. Tak seperti jabatan, harta, atau martabat, pengetahuan tak perlu dijaga, malah pengetahuanlah yang menjaga kita.”
“Ah, lagi-lagi menjawab logis seperti itu ....”
“Apa Mbak Fiola benci jawaban logis?”
“Tak juga .... Hanya saja, saya tak pernah mendengar jawaban asli yang keluar dari diri Tuan Odo. Anda ... mengandalkan hal-hal seperti itu untuk menjawab.”
Itu benar-benar membuat Odo tertegun, dirinya tak menyangka Fiola akan memperhatikannya sampai seperti itu. Mengangguk ringan, pemuda itu berkata, “Hmm, benar juga. Kalau dipikir-pikir, aku tak pernah mengambil jawaban dari hatiku sendiri.”
“Tuh, ‘kan?”
Di tengah pembicaraan kecil mereka, orang yang mereka tunggu akhirnya dapat seperti halnya apa yang dikatakan pemuda itu. Tiga hawa keberadaan terasa mendekat. Saat menoleh ke arah mereka, ketiga anak yang berdiri di hadapan mereka terlihat. Yang datang lebih tepat disebut dengan Bentuk Kehidupan Buatan daripada makhluk hidup, terlihat identik satu sama lain dengan rambut pirang dan mata merah. Hanya gaya rambut, pakaian dan jenis kelamin yang membedakan anak-anak Witch tersebut.
Dua anak laki-laki terlihat seperti anak usia sekitar 14 tahunan dan satu anak perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengan dua yang lain. Anak laki-laki mengenakan kemeja putih dengan celana panjang putih, sedangkan anak perempuan mengenakan gaun putih polos.
“Kak Odo, En datang atas perintah Ibunda kami setelah beliau merasakan pancaran kekuatan Iblis tak wajar dari daerah ini.”
“Kakak Odo, Karl datang untuk membantu. Apa ada yang bisa kami lakukan?”
“Kakanda Hitam, Hilya ingin tahu kenapa bisa tempat ini jadi seperti ini? Di mana Iblisnya?”
Mendengar cara bicara ketiga anak yang mengenakan pakaian serba putih itu, alis Odo berkedut dan ia segera duduk. Menatap mereka yang datang dengan sedikit heran, pemuda itu bertanya, “Cara bicara kalian ... kenapa? Apa itu tren atau semacamnya?”
“Tren? Karl tak tahu semacam itu.”
“Hmm, En juga.”
“Ngomog-omong, kenapa Kakanda Hitam kurus seperti itu? Hilya ingin tahu ....”
Odo sedikit memalingkan pandangan, berusaha untuk tidak memedulikan cara bicara mereka yang seakan menekankan nama yang dirinya berikan kepada anak-anak Witch tersebut. Sedikit menghela napas, pemuda itu bertanya, “Apa yang Lileian katakan pada kalian?”
“Ibunda bilang segera bantu Kakanda Hitam. Ramalan dan aliran takdir bergejolak aneh, itulah yang beliau katakan,” ucap Hilya mewakili kedua saudaranya.
Odo sedikit menoleh ke arah Fiola. Mengetahui Huli Jing tersebut menatap penuh rasa curiga, ia tahu kalau Fiola memang tak bisa langsung percaya pada orang-orang dengan wajah kembar identik karena membuatnya teringat dengan para Korwa.
“Tenang saja, mereka bukan para penyihir babar yang suka teriak-teriak anarkis, kok. Mereka cenderung pendiam ..., mungkin.”
“Bukan itu masalahnya, Tuan. Mereka ... aura sihirnya berbeda. Apa mereka bukan manusia? Demi-human? Kurasa itu juga bukan juga. Mereka apa?”
“Ah, itu toh.” Odo menghela napas lega, lalu berkata, “Mereka memang bukan manusia.”
“Terus apa?”
“Eng, bagaimana menjelaskannya, ya. Anak-anak Witch terlahir ke dunia dengan cara yang hampir sama dengan Ibu. Mereka Bentuk Kehidupan Buatan, Homunculus ....”
Mulut Fiola sesaat menganga, benar-benar terkejut dengan fakta tersebut. Bangun dan berdiri di depan Odo, Huli Jing itu memegang kedua sisi pundak pemuda itu dan bertanya, “A-Apa mereka ada kaitannya dengan Penyihir Agung Aster?!”
“Kurang lebih begitu .... Ceritanya panjang, kita bahas itu nanti saja. Intinya mereka bukan musuh, info itu sudah cukup untuk sekarang, ‘kan?”
Setelah Fiola mengangkat tangannya dari pundaknya, pemuda itu segera bangun. Berjalan melewati Fiola dan menuju ke arah Hilya yang menjadi Main Cluster dari keseluruhan anak-anak Witch yang berjumlah enam anak.
“Diam dulu,” ucap pemuda itu seraya menyentuh kening anak perempuan itu dengan ujung jari telunjuk. Odo menggunakan kekuatan barunya yang didapat dari Odrania Dies Orion. Dalam hitungan detik, seluruh informasi yang ingin Odo sampaikan masuk ke dalam kepala Hilya dan tersebar melalui jaringan pikiran anak-anak Witch.
Itu merupakan sinkronisasi pikiran, pembagian informasi cepat yang bisa Odo pakai pada beberapa individu dengan menyesuaikan frekuensi sinyal otak. Paham dengan informasi yang pemuda itu sampaikan, Hilya langsung mengangguk paham dan berkata, “Baiklah, Kakanda Hitam. Riria dan Wulan di sana akan menjelaskannya kepada Ibunda.”
“Hmm, terima kasih. Mungkin dengan itu salah satu rahasia dunia yang ingin Witch itu ketahui akan terjawab. Yah, anggap saja itu sebagai rasa terima kasihku padanya.”
Fiola hanya terdiam mendengar obrolan mereka, tanpa bisa membaca isi kepala pemuda itu atau memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Dengan wajah bingung, ia berdiri dan merasa seperti orang luar yang salah tempat saat Odo dan Hilya berbincang satu sama lain.
Setelah beberapa hal lain dengan anak-anak Witch tersebut, Odo dan Fiola kembali berjalan ke arah tebing yang runtuh dan Hilya bersama kedua saudaranya pun pergi untuk pulang. Mengingat penjelasan Witch tentang anak-anaknya itu secara mendasar memiliki kemampuan fisik yang bahkan lebih kuat dari orang dewasa, Odo baru sadar kalau mereka datang dengan berjalan lebih dari belasan meter dalam waktu yang singkat.
“Ah, batas fisik apa perlu aku lepas, ya?” benak Odo.
Mengetahui apa yang sedang pemuda yang digendongnya pikirkan, Fiola sedikit mengguncangnya untuk teguran. Namun Odo tidak memedulikan, benar-benar tertarik mencoba apa yang sedang dipikirkannya itu.
“Tuan ...!”
“A, maaf. Bercanda, kok. Aku tahu fisikku sedang tidak memungkinkan.”
“Kalau sedang prima?”
“Aku mencobanya.”
“Anda ini ....”
Setelah itu, dalam perjalanan mereka berbincang-bincang hal kecil dan sesekali berdebat dengan apa yang sedang dipikirkan pemuda itu dengan ide-ide gilanya.