Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 48 : Mutual-Evîn 8 of 10 “The Ritman Library” (Part 02)



 


 


 


“Kenapa?! Kau tidak menyerang?!” ucap Arca.


 


 


“Hmm, kau ingin aku menyerang dulu?”


 


 


Odo mulai melangkahkan kaki. Namun sebelum Arca menyadarinya, pemuda rambut hitam tersebut seakan mengacuhkan jarak sepuluh meter yang ada dan langsung berdiri di depannya dalam hitungan kurang dari satu detik.


 


 


“!!!”


 


 


Secara refleks Arca bereaksi, menekuk lutut dan langsung menusuk Odo di hadapannya. Dengan mudah Odo menghindari tusukan cepat yang dilakukan tergesa-gesa itu, lalu bergerak maju ke zona kuda-kuda Arca dan langsung mendaratkan tendangan lutut.


 


 


“Ugh!!”


 


 


Itu tepat mengenai perut Arca, membuat tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah. Pemuda rambut cokelat itu langsung meringkuk, menahan rasa sakit luar biasa karena beberapa organ dalamnya terkena dampaknya cukup parah.


 


 


“Kalau ini duel biasa, ini sudah kemenanganku,” ucap Odo.


 


 


“AKh! Jangan sombong, sialan! Hah, kau benar!”


 


 


Arca segera bangun, mengatur pernapasan dan mengusap darah yang sedikit mengalir keluar dari mulut. Ia sama sekali tidak melihat pergerakkan Odo, langsung tertekan dengan mudah. Namun meski dalam kondisi tidak menguntungkan, ia malah menyeringai dan mengangkat telapak tangan kirinya ke atas.


 


 


“Kau menyerangku, karena itu kupanggil Buku Hukum untuk mengadilimu!!”


 


 


Wuss!!


 


 


Aura keemasan seketika terpancar kuat dari Arca, membuat angin kencang dan menerbangkan debu-debu di lapangan. Aura tersebut mulai berkumpul pada satu titik di atas telapak tangan kiri Arca, lalu membentuk sebuah buku tebal dengan sampul berwara hitam. Itu bukanlah perwujudan dari Mana atau Ether yang terkumpul dan memadat, namun benar-benar bentuk fisik sebuah buku yang memiliki massa yang tetap dan kepadatan yang konkret.


 


 


“Begitu, ya. Kau juga Native Overhoul ....”


 


 


“Tempat ini adalah persidangan!! Bab Hukum! Tuntutan Pertama! Dalam hukum seseorang bersalah ketika melanggar hak orang lain! Dalam etika ia bersalah jika hanya berpikir akan melakukannya! Engkau melanggar keduanya, maka dengan ini dinyatakanlah bersalah! Detik ini hukuman dimulai! Hakim bertitah, tusuklah dada kriminal dengan galah!”


 


 


Jleb!


 


 


Sebuah galah menusuk Odo tepat pada di tengah dadanya, itu datang entah dari mana namun benar-benar nyata dan bukan ilusi optik semata. Rasa sakit, darah yang mulai mengalir deras, itu membuat napas Odo langsung berat dan ia pun berlutut.


 


 


“Begitu rupanya ....” Odo menatap ringan, menghela napas kecil dan dengan malas berkata, “Kekuatanmu semacam bentuk perwujudan Personal Reality ke tingkat dimensi ini. Kalau tidak salah, Nativ seharusnya perlu bayaran tertentu untuk menggunakan kekuatannya. Kekuatan seperti ini pasti bayarannya besar, bukan?”


 


 


Odo kembali berdiri, mencabut galah besi hitam sepanjang dua setengah meter dari dada seakan itu memang sama sekali tidak menyakitinya. Meski jelas lubang kecil menganga pada dada pemuda rambut hitam itu, ia tetap berdiri dan sama sekali tidak kesakitan atau memedulikan lukanya tersebut. Dalam hitungan detik, luka pada dada mulai beregenerasi dan tertutup rapat kembali. Hanya meninggalkan lubang pada kemeja dan sedikit bercak darah.


 


 


Arca terbelalak melihat itu, begitu pula orang-orang yang menonton duel tersebut. Suara ramai mulai pecah, teriakkan dukungan bersampur maki mulai mengalir ramai. Di tengah suara-suara itu, pikiran Arca tetap fokus dan ia langsung menyimpulkan kalau itu adalah sihir tingkat tinggi, Regenerasi Instan. Kembali membuka buku hitam di tangan kiri, ia bertitah, “Hakim kembali menjatuhkan hukuman! Galah menusuk dada kriminal!”


 


 


Trang!


 


 


Galah terjatuh menimpa galah lainnya yang tadi Odo lepaskan, sedangkan pemuda rambut hitam itu berdiri beberapa langkah dari tempatnya tadi dan sama sekali tidak mendapat serangan. Arca sempat bingung, menggertakkan gigi dan kembali berteriak, “Pisau Guillotine memenggal kepala pendosa!!”


 


 


Pisau datang dari langit, jatuh ke bawah namun tidak mengenai Odo. Pemuda rambut hitam itu telah berdiri beberapa langkah dari pisau pemenggal yang jatuh dan menancap di tanah, sama sekali tidak mendapat serangan dari Buku Hukum yang digunakan. Arca benar-benar kebingungan, seharusnya orang yang masuk dalam zona Buku Hukum miliknya tidak akan bisa lepas dari titah hukuman.


 


 


“Ke-Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa buku hukum tidak mempan?”


 


 


Odo kembali menghilang dari tempatnya, berdiri tepat di sebelah Arca dan berkata, “Sudah kuduga itu kelemahanmu. Selain harus menggunakan kalimat untuk aktivasi, visual juga harus dibutuhkan!”


 


 


“Tch!”


 


 


Arca langsung mengayunkan pedangnya ke arah Odo. Namun apa yang ditebasnya hanyalah angin, wujud pemuda rambut hitam itu memang terbelah tetapi itu hanya secara visual. Seketika Arca menyadarinya, “Sihir ilusi? Sialan, sejak kapan aku terkena ilusi?!”


 


 


“Kurang tepat,” ucap Odo yang kembali muncul secara visual tempat sepuluh meter di depan tempat Arca berdiri. Mengacungkan pedangnya ke depan pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Ini hanya sihir manipulasi cahaya, mempengaruhi penglihatan dengan Mana yang menginterpretasi pancaran energi cahaya yang ada di tempat ini. Keuntungan besar kalau sekarang siang hari.”


 


 


“Begitu rupanya, menggunakan cahaya ....”


 


 


Arca menutup Buku Hukum di tangan kirinya, lalu menghilangkan wujud fisik perwujudan tersebut. Menancapkan pedang yang dipegangnya ke tanah, Arca mengatur pernapasan dan menenangkan diri sampai ekspresi wajahnya berubah datar. Sebagai bayaran awal untuk aktivasi kekuatan, darahnya mulai keluar dari pori-pori dan menguap menjadi sebuah aura merah tipis yang terasa berbeda dari sebelumnya.


 


 


Membuka telapak tangan kanan ke depan, ia berteriak, “My Liber!”  Seketika auranya memusat di atas telapak tangan, menciptakan sebuah perwujudan buku tebal dengan sampul merah dari kulit hewan.


 


 


Odo melangkah mundur, kornea matanya berubah kehijauan dan menganalisa. Ia merasakan hawa tidak mengenakan dari buku tersebut, juga sedikit merasa bingung kenapa Arca bisa mewujudkan objek berbeda dengan kekuatannya.


 


 


“Odo Luke! Oh, wahai musuhku! Tindakanmu tadi diambil karena pernah mendengar kekuatan Buku Hukum, bukan?! Kalau begitu, akan kutunjukkan salah satu kekuatanku yang lain!”


 


 


Arca membuka buku merah miliknya, lalu menggigit jari telunjuk tangan kiri sampai berdarah. Dengan telunjuk tersebut ia langsung menekan salah satu halaman buku, menumpahkan darahnya sendiri sebagai katalis kekuatannya


 


 


“Buku Perang, Tiga Puluh Enam Belli! Medan perang adalah satu tempat ini! Aku adalah jenderal terhormat! Para roh pahlawan dalam dongengmu adalah pelayan serta pengikut setiaku!”


 


 


Ngiing!!!


 


 


Hembusan angin kencang tercipta bersama suara denging yang tersebar ke seluruh lapangan. Tubuh Odo gemetar, langsung paham kekuatan seperti apa yang dimiliki buku merah milik Arca tersebut. Susunan partikel seketika tersebar secara menyeluruh di lapangan, membuat Ether yang berada di udara masuk ke dalam kekuasaan Buku Perang yang dipegang Arca.


 


 


Dari debu dan tanah yang ada di tempat mereka berdiri mulai terbentuk perwujudan personal realitas yang dibawa oleh Buku Perang tersebut, menciptakan pria yang mengenakan zirah lengkap dan membuat perwujudan sempurna seorang prajurit dengan senjatanya. Bukan hanya satu atau dua orang prajurit saja, namun satu peleton penuh yang jumlahnya lebih dari 50 unit tercipta dari tanah dan debu yang dipadatkan oleh Ether sebagai penstabil wujud mereka.


 


 


Mereka bukanlah Golem berbentuk manusia yang terbuat dari tanah dan debu, melainkan benar-benar jiwa para prajurit yang keluar dari buku Tiga Puluh Enam Belli dan kembali mendapat bentuk fisik di dunia nyata melalui manifestasi. Pasukan Infanteri dengan senjata pedang dan tameng ditambah Kavaleri dengan kuda dan tombak mereka menjadi lini depan, sedangkan para pemanah dan penyihir berada di belakang sebagai pendukung dari peleton tersebut.


 


 


Semua perwujudan kekuatan itu menjadikan Arca sebagai pusatnya, menganggap sosok pemegang buku adalah Jenderal mereka dan mematuhi segala perintahnya di medan perang yang sekarang disimbolkan dengan lapangan latihan.


 


 


Orang-orang yang menonton duel tersebut benar-benar tidak mempercayai kalau semua prajurit itu tiba-tiba muncul dari kekuatan satu orang pemuda. Salah satu prajurit kota Mylta mendekati Iitla yang berada di pinggiran lapangan, lalu berteriak, “Dia melanggar etika duel!! Dia melanggar peraturan! Dia menggunakan bantuan orang lain!”


 


 


“Bukan ....” Iitla gemetar menatap satu peleton yang muncul di lapangan, menunjuk ke arah mereka dan berkata, “Semua itu, semua pasukan yang memenuhi lapangan itu adalah kekuatannya!”


 


 


“Tidak mungkin! Itu ....”


 


 


Orang-orang mulai ramai dan tidak percaya pada perwujudan Personal Realitas dalam sekala besar tersebut. Namun seakan tidak terlalu memedulikan hal itu atau terkejut, Odo dengan ekspresi datarnya berdiri di depan para prajurit tanah dan debu itu.


 


 


“Arca Rein! Kekuatanmu itu sebenarnya apa?!”


 


 


Barisan pasukan prajurit debu dan tanah tersebut menyingkir, membiarkan sosok yang mereka anggap jenderal maju dan berkata, “Serius kau bertanya seperti itu? Memangnya aku akan menjawabnya, hah?”


 


 


“Aku tadi membocorkan trikku, tidak ada salahnya kau juga memberitahukan kekuatanmu!”


 


 


“Huh!” Harga diri Arca sedikit terusik mendengar itu, lalu dengan geram ia pun menjawab, “Baiklah, kan kuberi petunjuk. Kekuatanku adalah The Ritman Library! Rincinya kau bayangkan sendiri, otakmu pasti mengerti arti nama itu, bukan?”


 


 


Arca berbalik, kembali masuk ke dalam barisan prajurit tanah dan debu. Menghela napas untuk menurunkan rasa terkejut dalam benak, Odo dengan cepat paham apa arti dari nama tersebut. The Ritman Library, dengan kata lain kekuatan Arca bukanlah memunculkan Grimoire (Buku sihir), namun kemampuannya berada dalam tingkat sekala perpustakaan yang memiliki ratusan sampai ribuan buku-buku semacam itu.


 


 


Odo memasang ekspresi kesal dan merasa iri dengan kekuatan semacam itu, mendongak penuh rasa resah dan tidak menemukan rute yang bisa menuntunnya ke arah kemenangan dalam situasi yang ada. Memang jika Odo bertarung lepas tanpa memedulikan sekitarnya, ia masih memiliki kesempatan menang. Namun, mempertimbangkan hal manusiawi dan syarat tidak boleh membunuh membuatnya sangat tertekan.


 


 


“Akh ..., sepertinya aku memang harus menekannya sampai batas itu.”


 


 


Odo menatap ke arah pasukan Arca, menghela napas dan mengakses Inti Sihir untuk mengatur struktur tubuh dengan kekuatan manipulasi informasi. Susunan otot diubah, pembuluh darah diperlebar untuk meningkatkan sirkulasi energi dan aktivasi struktur diganti dari tipe sihir ke petarung.


 


 


“Shift, Mode Fighter digunakan. Kemampuan Battle Art ditingkatkan, kekuatan fisik ditingkatkan, refleks ditingkatkan, minimalisasi stamina dilakukan. Stimulasi akhir, Manifestasi Perisai!!”


 


 


Odo merentangkan tangan kirinya ke samping, lalu mengumpulkan Ether  di udara dan membuat sebuah tameng bulat yang menyatu dengan Gauntlet menggunakan teknik pemadatan Mana. Itu terlihat biru transparan, memancarkan partikel-partikel biru gelap dan benar-benar terbentuk tanpa struktur sihir.


 


 


“Baiklah, ayo kita mulai ronde berikutnya!”


 


 


“Oh, kau bersiap hanya dengan itu?! Baiklah,” ucap Arca dari balik prajurit-prajuritnya. Dengan suara lantangnya layaknya jenderal pengecut yang bersembunyi di balik pasukan ia bertitah, “Strategi ke-13 : Kejutkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya!”


 


 


Empat kavaleri langsung melaju cepat ke arah Odo dengan kuda mereka. Memperkirakan jarak dan kecepatan yang ada, pemuda rambut hitam tersebut tidak lari dari tempat dan malah memasang kuda-kuda rendah dengan tameng sebagai pusat pertahanan.


 


 


Mengencangkan otot-otot tangan kanan dan memeras tenaganya, Odo langsung melemparkan pedang Gladius ke arah salah satu kavaleri.


 


 


Jlep! Duarks ....!


 


 


Itu tepat mengenai kepala salah satu pasukan kavaleri dan wujudnya tersebut seketika hancur kembali menjadi tanah dan debu. Pedang terjatuh, Odo kehilangan senjata dan harus melawan ketiga pasukan kavaleri yang mendekat hanya dengan menggunakan manifestasi tameng pada tangan kirnya.


 


 


Menyeringai kecil, Odo menyadari kelemahan fatal dari prajurit-prajurit yang tercipta dari Buku Perang tersebut. Selain gerakan mereka yang cenderung sederhana, fisik mereka yang terbuat dari tanah dan debu juga salah satu kelemahan yang jelas.


 


 


Dalam benak Odo berkata, “Mereka rapuh dan seharusnya lemah kalau terkena air. Aku tidak punya air sekarang dan sihir atribut itu bukan keahlianku. Kalau begitu ....” Pemuda itu semakin merendahkan tubuhnya, memasang posisi start berlari layaknya atlet yang akan lari jarak pendek. Memusatkan kekuatan pada kedua kaki, Odo langsung berlari menerjang ke arah pasukan  kavaleri yang menyerang.


 


 


Salah satu pasukan kavaleri menusukkan tombaknya saat Odo masuk dalam jarak serangan. Mengandalkan refleks yang telah ditingkatkan, ia menghindarinya dengan meluncur lebih rendah di atas tanah dan langsung memukul keras kaki tunggangan dua prajurit kavaleri. Kuda mereka ambruk dan yang menunggang terlempar ke udara. Sebelum bangun dan kembali berlari, satu prajurit yang masih duduk di atas kudanya langsung meloncat dan menyerang Odo.


 


 


Gerakkan itu sangat tidak wajar dan seketika Odo menyadarinya, apa arti dari perintah yang diucapkan Arca kepada pasukan tanah dan debu tersebut. Prajurit yang meloncat ke udara itu langsung memegang pangkal tombaknya dan langsung menusukkan bilah mata tombak sepanjang dua meter lebih tersebut. Odo seakan ular yang tiba-tiba diterkam oleh elang, tidak memiliki ruang untuk menghindar karena kedua sisinya ada dua prajurit yang terjatuh.


 


 


 


 


Namun sebelum sampai dan baru mengambil tiga langkah, sebuah tombak melesat dari arah belakang dan langsung menghujam punggungnya sampai tembus ke dada kanan. Itu tidak mengenai organ vital,  namun membuat Odo kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan napas terengah-engah karena pendarahan.


 


 


Tidak memberikan ampun, ketiga prajurit itu langsung mengejar Odo yang tersungkur dan hendak menghabisinya. Odo sadar bukan saatnya menghemat Mana untuk mengecek kekuatan seperti apa saja yang dimiliki Arca. Apa yang ada di hadapannya itu bukanlah perwujudan dari jiwa-jiwa prajurit lemah, melainkan veteran yang telah melewati berbagai macam medang perang. Segera mematahkan tongkat tombak yang menancap di dadanya, Odo mencabutnya dan menggunakan bagian yang memiliki ujung bilah runcing untuk senjata di tangan kiri.


 


 


Ketiga prajurit tanah dan debu itu berpencar, mengepung Odo dari tiga arah dan memecah konsentrasinya. Dengan sangat terpola, mereka menyerang secara bersamaan dan mengincar bagian-bagian vital pemuda itu.  Odo melemparkan tombak ke arah prajurit yang sebelumnya menyerang dengan tombak dan itu tepat mengenai kepalanya.


 


 


Saat pertahanannya terbuka lebar karena melemparkan tombak, kedua prajurit yang  masih memegang senjata mereka menusukkan tombak ke arah Odo. Satu serangan ditepis dengan tameng dan satunya dihalau dengan tebasan pedang. Melepaskan senjata di tangan kanannya, Odo langsung menangkap bagian tongkat tombak prajurit di sisi kanannya setelah serangan terhenti. Ia secepat kilat mengincar salah satu prajurit yang berhasil dikunci senjatanya itu, lalu langsung mengepalkan tangan kiri berpalis Mana padat dan menghajar wajahnya sampai hancur.


 


 


Bruak!


 


 


Tubuh dan perlengkapan prajurit itu kembali menjadi tanah dan debu dengan cepat. Namun sebelum Odo memasang kuda-kuda dan berbalik untuk menghabisi prajurit yang tersisa, ia dikunci dari belakang. Kedua tangannya ditahan, lalu dipaksa menghadap ke arah barisan pasukan utama. Melihat para pemanah telah bersiap melepas anak panah mereka, seketika Odo paham apa yang hendak dilakukan prajurit kavaleri yang menguncinya tersebut.


 


 


“Sialan! Kau—!”


 


 


Mengencangkan otot-otot tangan dan memeras kekuatan fisiknya keluar, Odo secara paksa melepaskan kuncian yang menahannya dan langsung menyikut prajurit yang berdiri di belakangnya. Memantapkan kuda-kuda dengan kaki kiri, Odo langsung berputar dan mendaratkan tendangan tinggi ke leher prajurit tanah dan debu tersebut sampai tubuhnya hancur.


 


 


Puluhan anak panah melesat ke arahnya, itu persis seperti apa yang mereka incar. Paham tidak ada tempat aman di hadapan hujan panah tersebut, Odo berlutut untuk memperkecil zona kemungkinan terkena panah dan memasang tameng di tangan kirinya ke depan. Ukuran tameng yang kecil tidak bisa menutupi tubuhnya secara penuh, beberapa ada yang tertahan namun tetap saja ada anak panah yang mengenainya—  Pada paha kiri dan bahu kanan, masing-masing menancap satu anak panah dan membuatnya kembali mengalami pendarahan.


 


 


Hujan anak panas selesai, namun serangan mereka tidak berhenti. Para pemanah mundur dan digantikan pasukan penyihir yang telah menyiapkan sihir api mereka. Dengan serentak, mereka mengaktifkan sihir tanpa mantra dan menembakkan bola api kecil dalam jumlah belasan. Odo berusaha berdiri dan hendak menghindar, namun anak panah yang menancap pada paha kiri membutanya kembali berlutut.


 


 


“Tch! Kombinasi serangan memang menyusahkan!”


 


 


Odo mengubah informasi tubuhnya sendiri, lalu mengganti tipe kekuatan dari Fighter menjadi Magus. Kekuatan fisik berkurang, namun aktivasi sihir seketika bertambah. Segera mengambil pedang Gladius di tanah, ia mengalirkan elektrik ke dalamnya dan menanamkan muatan elektromagnetik kuat pada pedang tersebut.


 


 


Pada momen yang sangat tepat saat jarak panah masuk dalam jangkauan, Odo langsung mengayunkan pedangnya dan membuat sambaran petir yang mengacaukan struktur semua bola api yang melayang ke arahnya — Kilatan elektrik merebut oksigen, membuat bola-bola api tidak bisa mempertahankan bentuknya dan hilang seketika.


 


 


Mencabut anak panah pada paha kiri dan bahu kanan, Odo segera bangun dan kembali berlari menerjang ke arah barusan pasukan utama di hadapannya. Busur ditarik kembali dan anak panah dilepas. Menggunakan tameng dari pemadatan Mana di lengan kirinya, Odo menepis panah-panah tersebut seraya menghindar dan tetap berlari maju sekuat tenaga.


 


 


Bahu kiri, pinggang kanan, pipi kiri, leher, dan kaki mendapat goresan anak panah. Namun, semuanya semua anak panah tidak ada yang mengenai bagian vital dan tidak menghentikannya. Sampai empat meter di depan barisan pasukan tersebut, para pemanah langsung mundur dan digantikan oleh pasukan infanteri dengan senjata perisai dan pedang. Infanteri adalah jumlah terbanyak, terdiri dari  20 personel dengan zirah lengkap sampai helm yang menutupi wajah mereka.


 


 


Infanteri tersebut langsung menyerbu ke arah Odo secara bersamaan, membuat pemuda rambut hitam itu harus berhenti dan kembali memanipulasi informasi tubuhnya sendiri. Kali ini Odo segera masuk ke dalam Mode Monk, membuang pedangnya ke tanah dan menyelimuti tangan kanan dengan manifestasi Mana padat berbentuk Gauntlet.


 


 


“Teknik Tangan Kosong ....”


 


 


Odo melepas posisi kuda-kudanya, berdiri rendah dengan menekuk kedua lutut dan melemaskan tubuh. Menunggu dengan posisi terbuka, saat salah satu prajurit tanah dan debu mengayunkan pedang ke arah Odo. Melihat gerakan itu dengan sangat sempurna, pemuda rabut hitam itu langsung menghindarinya dengan cepat.


 


 


“Aliran sungai tunggal ... musim dingin!”


 


 


Odo semakin merendahkan posisinya tubuhnya sampai seperti berjongkok, lalu menangkap kaki prajurit yang menyerangnya tadi dan langsung menariknya supaya kehilangan keseimbangan. Saat jatuh prajurit itu jatuh ke belakang, Odo langsung mengepalkan tangan kirinya dan mendaratkan pukulan kencang sampai menebus  zirah dan tubuh prajurit itu sampai hancur menjadi tanah dan debu.


 


 


Mempertahankan posisi sangat rendah dengan menekuk lututnya dan tetap seperti berjongkok, Odo bergerak cepat ke tengah pasukan infanteri dan menjegal satu persatu kaki mereka. Pergerakan Odo yang sangat cepat dan rendah membuat formasi yang mengandalkan jumlah itu berdampak negatif, pasukan infanteri tidak bisa menyerang dengan akurat karena sasarannya terlalu rendah dan gerakannya cepat.


 


 


Menjatuhkan mereka dan menghabisi seperlunya, Odo terus bergerak masuk ke inti dari formasi pasukan tersebut. Saat sampai di barisan para penyihir dan pemanah, Odo sedikit meninggikan posisi tubuhnya dan berhenti menekuk lutut untuk segera berlari melewati pasukan dengan kemampuan bertarung jarak dekat rendah tersebut.


 


 


“Teknik Tangan Kosong ....”


 


 


Odo menyilangkan kedua tangannya ke depan dengan tangan kiri yang memiliki tameng berada di bagian luar, lalu kembali merendahkan posisi tubuh dan memasang ancang-ancang berlari. Menarik napas dan mengalirkan tenaga ke seluruh tubuh, Odo langsung menerjang pasukan pemanah dan penyihir sebelum mereka siap.


 


 


“Banteng Besi!!”


 


 


Duark!


 


 


Tubuh mereka seketika hancur menjadi tanah dan debu saat ditubruk Odo, membuat debu bertebaran dan tidak ada yang bisa menghentikan laju pemuda rambut hitam tersebut. Menembus lapisan terakhir dari pasukan tersebut, apa yang dirinya dapat ternyata tidak sesuai harapan. Rein yang Odo kira berada di barisan paling belakang tidak ada, di sana hanya berdiri seorang prajurit yang membawa tombak Helbern (Tombak Kapak) dengan panjang hampir mencapai dua meter.


 


 


Prajurit dengan badan besar dan tinggi dua meter lebih itu sangat berbeda dengan yang lainnya, mengenakan zirah berat yang sangat lengkap dan terlihat sangat lambat jika bergerak. Sekilas Odo hendak ingin menghabisinya langsung, namun aura yang terpancar dari jiwa prajurit itu membuat langkah kakinya terhenti dan mengurungkan niatnya.


 


 


Dari balik prajurit dengan zirah berat tersebut, Arca Rein keluar dan berkata, “Seperti yang kuduga, Pembunuh Naga memang hebat!! Kau bahkan bisa melewati pasukkan yang terkenal sangat kuat sejak masa awal perang besar!”


 


 


“Apa yang kau—?”


 


 


“Belum menyadarinya?” Arca merentangkan kedua tangannya, tersenyum kecil dan kembali berkata, “Mereka adalah salah satu peleton Pasukan Suci Kerajaan Felixia, Morning Rein! Para ksatria yang bisa dikatakan menjadi pejuang yang membentuk negeri ini! Leluhurku sekaligus para pelayan setia keluargaku! Dan di sebelahku ini, dia adalah Kepala Prajurit Pasukan Suci, sang Benteng Matahari!”


 


 


Odo tidak terlalu memedulikan itu, langsung berlari ke arah Arca dan mengincarnya. Namun sebelum bisa mendaratkan serangan, sosok prajurit dengan zirah berat yang berdiri di sebelah Putra Sulung Keluarga Rein itu langsung mengayunkan tombaknya dan memaksa Odo meloncat ke belakang untuk menghindar.


 


 


Tanpa mendapat perintah dari Arca, prajurit dengan postur tubuh besar itu langsung mengidentifikasikan Odo sebagai musuh dan menyerangnya. Tombak diayunkan dengan cepat, memaksa Odo terus mundur sembari menghindari serangan-serangan mematikan tersebut.


 


 


“Sialan! Apa-apaan ini!?”


 


 


Semakin kewalahan karena ayunan tombak semakin cepat, pada akhirnya Odo tidak bisa menghindar lagi dan dipaksa menerima serangan itu dengan tamengnya. Tang!! Getaran dari serangan tombak itu sampai meresap masuk ke tulangnya dan membuat tangan kiri Odo mati rasa, tubuhnya pun berdorong ke belakang sampai ke barisan pasukan penyihir dan pemanah yang dilewatinya tadi.


 


 


Memikirkan sebuah ide, Odo kembali merendahkan posisi tubuhnya dan masuk ke dalam barusan pasukan tanah dan pasir tersebut. Tidak seperti apa yang dirinya duga, sosok manifestasi prajurit yang dikenal dengan Benteng Matahari itu sama sekali tidak berhenti dan menghancurkan rekan-rekannya sendiri untuk mencari Odo. Memikirkan ide lain, pemuda rambut hitam itu terus menjauh dan berlari rendah melalui kaki-kaki prajurit yang ada dan keluar dari barisan pasukan.


 


 


Duark!!


 


 


Duark!! Duark!!


 


 


Duark!!


 


 


Prajurit-prajurit tanah dan debu terlempar ke udara karena ayunan sosok besar dengan Tombak Kapak tersebut. Wujud manifestasi jiwa dari individu yang disebut Benteng Matahari itu benar-benar tidak pandang bulu, sangat brutal dan terlihat seperti ksatria gila yang mengamuk dalam medang perang.


 


 


Kornea mata Odo sekilas berubah menghijau, mendapat kesimpulan untuk bisa menghancurkan ksatria gila tersebut dan menyudutkan Rein. Memejamkan mata dan memanipulasi informasinya sendiri, Odo kembali dalam Mode Magus dan meningkatkan aktivasi struktur sihirnya.


 


 


“Blitz!!”


 


 


Petir seketika menyelimuti tubuhnya, dengan cepat memusat pada tangan kiri dan menyatu dengan tameng dari perwujudan Mana padat. Menggunakan tameng tersebut sebagai medium, Odo menciptakan busur dari petir di tangan kirinya. Membuka mata lebar-lebar dan melakukan kalkulasi jarak dan lokasi, ia segera  mengarahkan tangan kiri ke depan dengan telapak tangan terbuka.


 


 


Petir membentuk seperti tali dan memusat pada keempat jemari tangan kirinya, kemudian membentuk sebuah busur sempurna dengan konsep busur silang yang bisa digunakan hanya dengan tarikan pelatuk. Odo menghirup napas dalam-dalam, merendahkan posisi tubuh dan membidik sihirnya ke arah pasukan infanteri yang menerjang ke arahnya.


 


 


“Blitz—! Schutz!”


 


 


Jdeer!!


 


 


Odo menutup telapak tangan kirinya, seketika tameng yang ada pada lengannya melesat menjadi proyektil berselimut petir dan langsung menghancurkan barisan pasukan infanteri. Serangan itu langsung mengarah ksatria gila yang sedang mengamuk.


 


 


Duark!!


 


 


Tubuh ksatria berbadan besar itu seketika hancur, jalur yang dilewati oleh serangan tersebut berubah kemerahan seperti batu bata yang baru saja dipanggang dalam suhu tinggi. Tameng yang melesat langsung lenyap setelah beberapa belas meter dan menghilang terurai sebelum mengenai penonton di pinggir lapangan.


 


 


Saat tubuh ksatria gila hancur, para bawahannya ikut kehilangan bentuk fisiknya dan seluruh pasukan dari Buku Perang menghilang — Kembali menjadi tanah dan debu, hanya menyisakan Arca Rein yang sama sekali tidak terkena serangan Odo.


 


 


“Hebat! Hebat sekali!” Arca bertepuk tangan, melangkahkan kakinya ke arah Odo sembari berkata, “Kau bisa mengalahkan mereka!”


 


 


Memang Odo bisa mengalahkan semua pasukan yang keluar dari Buku Perang Tiga Puluh Enam Belli, namun dampak dari serangan yang digunakannya tadi sangat parah dan membuat tangan kirinya sementara tidak bisa digunakan lagi untuk bertarung. Semua pemadatan Mana terlepas dan pemuda rambut hitam itu berlutut lemas dalam kondisi kelelahan karena vitalitasnya terkuras.


 


 


Arca membuka telapak tangan kiri, lalu meludahinya sendiri. Seketika ludah tersebut meresap ke dalam kulit, lalu bayaran tersebut berubah menjadi aura putih tipis yang menyelimutinya. Sembari mengangkat tangan kanannya ke atas, ia berkata, “Baiklah, mari kita akhiri ini! Akan kutunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya untuk membuatmu berlutut di hadapanku, Odo Luke!!”


 


 


Aura yang menyelimutinya memusat, mewujudkan sebuah buku di atas telapak tangan kirinya. Berbeda dengan dua buku yang ia gunakan sebelumnya, kali ini yang muncul hanyalah buku kecil sebesar telapak tangan dan tebalnya tidak lebih dari seratus halaman.


 


 


“Kunci Perpustakaan. Atas nama Yang Agung, Ritman! Pemilik Pemilik perpustakaan The Ritman Library mengundangmu, wahai pecundang!”


 


 


Arca merobek bukunya sendiri menjadi dua bagian, lalu melemparkan kedua robekan tersebut  ke depan. Buku seketika terbakar oleh api biru, lalu dengan cepat api berubah menjadi cairan kental berwarna keperakan. Cairan tersebut meresap ke dalam tanah dan sesaat tidak terjadi apa-apa, suasana menjadi hening dan hanya ada angin sepoi-sepoi yang menerpa.


 


 


Namun tiba-tiba suara gemuruh terdengar dan tanah berguncang, dari tempat cairan tadi meresap mulai terbentuk retakkan tanah lebar yang juga membuat celah dimensi yang ada terbuka. Di dalam retakkan tersebut cahaya keemasan keluar dari dimensi yang berbeda, lalu rantai dengan ujung pasak dengan cepat melesat ke arah Odo dan menusuk dadanya.


 


 


“Ugh!” Itu tidak melukai Odo secara fisik, namun rasa sakit benar-benar nyata dan pasak tidak bisa dilepas atau rantainya diputuhkan.


 


 


Hal serupa didapat Arca, sebuah rantai terbang ke arahnya namun tidak menusuknya dan hanya mengikat pergelengan kirinya. Menunjuk ke arah Odo, pemuda rambut cokelat itu bertitah, “Bawalah kami ke tempat kejayaan keluargaku!”


 


 


Distorsi semakin kuat, menarik Odo dan Arca masuk ke dalam retakkan dan menelan mereka masuk ke dimensi lain layaknya lubang hitam dengan gravitasi sangat kuat. Setelah mereka pergi, distorsi seketika lenyap dan tanah yang terbelah kembali tertutup seakan tidak terjadi apa-apa.


 


 


Suasana di lapangan latihan benar-benar berubah hening. Mereka yang menonton duel tersebut hanya bisa menganga, merasa tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


 


 


Di pinggiran lapangan, hanya Vil seorang yang paham apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tubuh gemetar ia berkata, “Itu ..., mungkinkah kekuatan anak keluarga Rein itu .... Perwujudan Dimensi Tunggal ...? Menarik Personal Realitasnya sendiri dan menciptakan sebuah Realm nyata dalam bentuk dimensi ....”