Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 66 : Aswad 13 of 15 “Eagerness” (Part 01)



 


 


Primordial Makhluk Hidup, Sup Primordial, Sup Prebiotik, Tetesan Purba ⸻ Hal itu pernah disebut dengan berbagai cara, namun dalam inti itu merupakan asal mula kehidupan di sebuah planet.


 


 


Jauh sebelum peradaban umat manusia di mulai, setetes kehidupan tersebut mengawali kisah panjang yang sampai kini masih belum berakhir.


 


 


Dikatakan awal mula kehidupan berasal dari laut purba, tempat munculnya sel primitif yang melahirkan beragam bentuk kehidupan baru di masa depan.


 


 


Dalam salah satu teori, kehidupan diawali oleh sebuah kumpulan materi anorganik yang berkumpul dalam satu tempat dan membentuk semacam kolam. Zat kimia, gas dalam lapisan atmosfer, dan energi yang dihasilkan dari petir. Semua itu berkumpul pada satu titik dan pada akhirnya membentuk sebuah asal amino yang dapat menjadi bahan pembangun protein ⸻ Senyawa yang menjadi komponen dasar dari setiap makhluk hidup.


 


 


Namun, dalam proses tersebut sebagian besar komponen yang diperlukan berasal dari langit. Bukan dari dasar laut ataupun daratan.


 


 


Itu terjadi jauh sebelum ada lapisan ozon yang bisa menahan sinar Ultra Violet. Dalam proses awal sinar Ultra Violet dari matahari akan memapar lautan dengan energi yang kaut dan secara terus menerus, membuat senyawa-senyawa purba seperti Metana, Amoniak, dan Hidrogen mengalami proses eksitasi ⸻ Tahap pengeluaran elektron dari suatu unsur.


 


 


Proses tersebut membentuk senyawa-senyawa monomer seperti asal amino, asal lemak, glukosa, bahkan sampai basa nitrogen yang merupakan bagian dari DNA. Senyawa monomer tersebut kembali bereaksi, bergabung dan membentuk berbagai macam senyawa polimer ⸻ Salah satunya adalah protein, hal yang paling lekat dengan makhluk hidup.


 


 


Koaservat, senyawa-senyawa polimer tersebut akan mengalami penggumpalan di dasar laut dan akhirnya membentuk sel awal ⸻ Protobion, cikal bakal makhluk hidup.


 


 


Ya, itu benar. Awal dari bentuk makhluk hidup tidak sepenuhnya dari planet itu sendiri, melainkan dari luar angkasa. Karena itulah makhluk di masa depan akan selalu melihat ke arah langit, seakan mendambakan dan rindu tempat yang sangat jauh di atas sana. Merasakan ikatan dengan pancaran-pancaran cahaya dari masa lalu di dalam tirai hitam raksasa yang selalu menemani mereka.


 


 


Menjelajah waktu beberapa miliar tahun ke depan sampai umat manusia tercipta di Dunia Utama dan mulai belajar akan kenyataan yang ada. Mereka memahat batu, melukis di dinding untuk menyampaikan sesuatu kepada generasi selanjutnya. Dari masa dimana mereka baru bisa belajar, para manusia telah menyadarinya.


 


 


“Kami terlalu lemah, umur kami terlalu pendek bahkan untuk mengetahui dunia tempat kami tinggal. Karena itu, akan kami tinggalkan hasrat dan tugas ini kepada generasi berikutnya. Kami percaya mereka bisa mencapai kebenaran tersebut.”


 


 


Pada masa purba tersebut, mereka terus merangkai dan merangkai ilmu pengetahuan. Meski ada yang bilang bawah sejarah umat manusia adalah sejarah perang, tetapi itu tak sepenuhnya benar. Peperangan adalah salah satu media untuk mengembangkan umat manusia, budaya dan pengetahuan merupakan sejarah asli umat manusia.


 


 


Selama sebuah budaya masih dilestarikan, sebuah bangsa tidak akan musnah. Mereka menciptakan bahasa, alat tukar, adat, tatanan nilai moral dan terus belajar tanpa membuang rasa haus akan ilmu pengetahuan. Dari masa ketika mereka masih berpindah-pindah, lalu ketika mulai menetap dan membangun sebuah suku sampai negeri.


 


 


Saat meninggalkan budaya Nomaden dan mulai menetap, sebuah tatanan sosial terbentuk dan mereka akan menyadarinya. Sebagai makhluk paling unggul di daratan, selalu ada yang berbeda di setiap individu dan ada yang lebih unggul lagi. Ketika mereka menyadari hal tersebut, munculkan sebuah konsep Kepemimpinan dan lahirlah seorang Raja.


 


 


Kuda dan Kuasa, Pecut dan Wortel ⸻ Sebuah simbol kepatuhan dan dominasi. Mereka mulai membentuk sebuah hierarki, susunan nilai tiap individu dan menciptakan perselisihan yang semakin luas demi memperkuat kekuasaan. Meski mereka lupa tujuan awal adalah untuk mempelajari dunia dan bertahan hidup, namun dengan jelas perselisihan yang tercipta mengembangkan suatu peradaban.


 


 


Karena ada konsep Kehancuran, maka akan tercipta sesuatu yang lebih Sempurna.


 


 


Setiap kali bangsa hancur, lahir sebuah bangsa yang lebih unggul. Mereka mulai paham fisik memiliki batas, karena itulah alat-alat semakin dikembangkan untuk mencapai ranah yang lebih tinggi. Primitif pun perlahan hilang dalam raga dan pikiran mereka.


 


 


Setiap proses yang dialami manusia dalam berkembang adalah siklus spiral, terlihat seperti mengulangi kesalahan yang sama dan berputar-putar namun pada kenyataannya perlahan menuju ke atas. Kehancuran dan Penciptaan, Kerusakan dan Perbaikan, hal-hal yang terlihat tak efektif itu terus menuntun mereka menuju ke tempat yang lebih tinggi pada setiap generasi.


 


 


Namun, saat dalam perkembangan lambat tersebut mereka belum menyadarinya. Dunia bukanlah tempat yang ramah, bukanlah ladang untuk mereka supaya bisa bermalas-malasan atau berfoya-foya.


 


 


 


 


Untuk apa dunia ini ada dan mengapa mereka bisa tercipta di dunia yang terlihat begitu rapuh ini?


 


 


Sebuah gelembung dalam lautan, itulah bentuk dunia yang sebenarnya. Semesta yang bisa diobservasi manusia bagaikan gelembung di tengah lautan energi tak terbatas yang tidak dapat diolah, menunggu meletus dan lenyap dalam hitungan detik.


 


 


Dalam masa-masa terakhir umat manusia, mereka menemukan secerah harapan dan berhasil mencapai pengetahuan baru.


 


 


Jika spasial bisa pendahulu kita taklukan dengan teleportasi kuantum, bagaimana dengan waktu? Mungkin di luar cakrawala dunia ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup.


 


 


Beberapa di antara mereka merasa hal tersebut tidak masuk akal, namun di sini ada juga yang benar-benar berusaha mencapainya. Pada waktu yang tak lama setelah itu dicetuskan dan benar-benar dijadikan bidang penelitian secara massal, gagasan tersebut benar-benar direalisasikan dan mereka pun berhasil menemukan semesta alternatif ⸻ Potensi lain dari apa yang tidak mereka lakukan di masa lampau.


 


 


Setelah kehilangan planet dan Dunia Utama mulai mengalami kerusakan konsep ruang dan waktu, orang-orang yang tersisa pergi ke celah dimensi dan memilih mengamati potensi-potensi tersebut. Melihat apakah takdir yang mereka pilih memang salah dan mencari kebenaran akan adakah potensi yang dapat menuntun mereka menuju keselamatan umat manusia.


 


 


Tetapi, dari pengamatan tersebut sebuah hasil mencengangkan disimpulkan.


 


 


“Dunia memang selalu mengarah ke arah kehancuran, berusaha mengumpulkan energi yang terpencar ke penjuru tempat dan masuk ke dalam fase yang disebut Awal Siklus Kehancuran. Sebuah tahapan sebelum dunia Tidur untuk mempersiapkan dunia baru.”


 


 


Banyak orang yang putus asa setelah mengetahui itu, namun ada juga beberapa yang memilih yang melawan. Mereka berhenti menjadi pengawas, turun ke dalam potensi lain dan mulai membina mereka yang belum sampai ke titik kehancuran.


 


 


Merekalah yang disebut para Dewa Pertama Dunia Utama, 101 sosok dalam singgasana. Mereka bukan para lagi para Mortal karena telah membuang bentuk fisik dan mencapai tingkat Kesadaran Atom, sosok-sosok Foreign yang telah menguasai potensi dan waktu mereka.


 


 


Meski telah mencapai tingkat tertinggi dari bentuk kehidupan dan ikut campur dalam pengembangan dunia-dunia alternatif, tidak ada dari mereka tidak pernah berhasil mempertahankan dunia tersebut. Kehancuran semesta menjadi sebatas bahan penelitian mereka, kegagalan menjadi seperti sarapan dan nyawa menjadi tak berarti lagi di mata 101 sosok itu. Namun saat sampai pada dunia terakhir yang tersisa, semua itu berubah.


 


 


Salah satu di antara mereka paham bahwa dunia  hanya sedang mengalami siklus spiral, kehancuran dan penciptaan merupakan hal wajar seperti musim yang berjalan. Itu tidak bisa dihentikan hanya dengan kekuatan dan pengetahuan mereka.


 


 


Lalu ⸻ Salah satu di antara mereka dengan angkuh mengutarakan, “Jika kita ditakdirkan lenyap, mari tinggalkan jejak kita kepada dunia selanjutnya!”


 


 


Tentu tak semua setuju hal tersebut, malah gagasan itu lenyap dengan mudah karena pemikiran tersebut sangatlah destruktif dan melambangkan kekalahan ⸻ Membuat perjuangan mereka selama ini tak berarti.


 


 


Namun, di ujung mereka semua pun akhirnya menurunkan puncak tertinggi wujud mereka kepada orang lain dan melepas tanggung jawab. Dengan pasrah dan menyerah begitu saja, orang-orang tersebut memilih untuk lenyap sebelum dilenyapkan oleh dunia.


.


.


.


.