
Di lorong Mansion kediaman Keluarga Luke, gadis kucing berpakaian pelayan berjalan menuju ke kamar majikannya dengan riang. Ia tidak lain adalah Julia Shieal, pelayan pribadi dari calon pewaris kediaman tersebut, Odo Luke. Sampai di depan kamar Odo, gadis kucing tersebut mengetuk pintu beberapa kali, tetapi di dalam tidak ada jawaban. Kedua telinganya bergerak, berusaha mendengarkan suara dari dalam yang terasa sangat senyap.
“Tuan Muda, apa Anda sudah bangun?” ucapnya seraya kembali mengetuk pintu, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Merasa sedikit cemas, Ia mengambil peniti dari saku, lalu membengkokkan bentuknya dan menggunakannya untuk membobol lubang kunci kamar majikannya tersebut.
Crek .... Tidak butuh lama, kunci kamar dengan mudahnya dibuka, seakan memang dirinya sudah terbiasa dengan hal tersebut. Memasukan kembali peniti tersebut ke saku, Julia membuka pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam kamar. Ia melihat memindai, mencari sosok Odo di dalam kamar tersebut.
“Hmm, tumben rapi ...,” pikir Julia melihat tidak ada yang berantakan di kamar tersebut. Saat dirinya melihat ke atas tempat tidur, di sana terlihat Odo yang duduk dengan posisi meditasi, duduk bersila dengan kedua telapak tangan disatukan di depan dada, tetapi jari telunjuk dilipat ke dalam. Dilihat dari pakaian yang Odo kenakan sekarang yang terdiri dari kemeja dan celana hitam, Julia tahu kalau anak itu langsung melakukan meditasi setelah makan di ruang keluarga kemarin malam.
“Apa Tuan Odo sedang kultivasi sihir lagi? Dari malam dia melakukannya, ya?” Penasaran melihatnya, Julia mendekat, lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk bersimpuh tepat di depan Odo, dengan tanpa terlebih dulu melepas sepatunya. “Dia tidur atau meditasi? Kok gak ada kekuatan sihir yang terpancar?” Julia mendekatkan wajar pada muka Odo yang matanya terpejam rapat dan napasnya berhembus sangat lemah. Tersenyum kecil melihat majikannya dalam posisi tidak berdaya, Ia menyentil keningnya dengan keras.
Tak! Kening Odo sampai memerah. Anak itu langsung terbangun, matanya yang terbuka lekas berputar ke kanan dan kiri, terlihat bingung dan sedikit panik. Sadar di hadapannya duduk gadis kucing yang menggerakkan ekornya dengan girang, Odo menyipitkan mata dan langsung paham situasi yang ada.
“Mbak ..., kalau tubuhku tiba-tiba meledak itu salah Mbak Julia, ya ....”
“EH!? Kenapa tiba-tiba disalahkan!?”
Tersenyum kecil melihat reaksi itu, Odo turun dari tempat tidur dan langsung melakukan peregangan tubuh dengan meloncat-loncat ringan di dekat ranjang. Melihat hal itu, Julia sedikit heran karena tuannya tersebut sering melakukan hal seperti itu. “Kenapa Anda selalu melakukan hal itu sehabis bangun, Tuan Odo?” tanyanya.
“Pemanasan ..., untuk melancarkan sirkulasi sihir dalam sirkuit sihir. Biasanya kalau tidur sirkuit sihir akan sedikit terhambat kinerjanya, karena itu harus peregangan untuk melancarkan kembali sirkulasinya. Yah, meditasi yang aku gunakan mengharuskan sirkuit sihir selalu dilalui Mana, sih. Karena itu, aku harus sering pemanasan ....”
“Oh ..., ternyata ada maksud dibaliknya, saya kira itu hanya kebiasaan Tuan.”
“Kalau dibilang kebiasaan, ini memang sudah seperti kebiasaan, sih.”
Odo berjalan ke arah jendela, menggeser gorden dan membuka jendela. Syuu ... Hawa dingin langsung masuk, di luar terlihat jelas kalau salju sudah mulai turun dan menutupi halaman kediamannya. Dilihat dari hal tersebut, sudah jelas seminggu lebih berlalu sejak Odo kembali dari Dunia Astral dan musim dingin sudah tiba.
“Tu-Tuan Odo, tolong tutup jendelanya, angin dinginnya masuk ....”
“Mbak Julia ..., mereka pada pulang, ya?” tanya Odo.
“Eh? Mereka? Maksud Tuan Odo para Lizardman dan pelayan lain?”
“Ya, tentu saja ....”
“Tentu saja mereka pulang, mereka juga punya keluarga dan rumah. Lagi pula mereka bukan budak juga ....”
“Begitu ya ....” Maksud Odo yang sebenarnya tidak tersampaikan dengan jelas pada Julia, sebenarnya anak itu ingin mengajaknya bicara tentang masa lalu gadis kucing tersebut dengan menggunakan kata pulang sebagai pemicu pembicaraan. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya menjadi embun putih dari mulut, anak itu mengurungkan niatnya.
Di halaman Mansion yang biasanya ramai, sekarang tidak terlihat aktivitas Lizardman atau pelayan di luar sana, kebanyakan dari mereka libur dan pulang ke rumah masing-masing, kecuali para pelayan yang menyandang nama Shieal yang diberikan kepada orang-orang yang diadopsi menjadi anggota keluarga cabang oleh Keluarga Bangsawan Luke.
Jumlah pelayan dan penjaga yang diberikan gelar nama tersebut berjumlah kurang dari jumlah jari tangan, dan kebanyakan dari mereka adalah korban sekaligus bukti hidup kekejaman Perang Besar.
Keluarga Luke memang mengadopsi dan menyelamatkan banyak nyawa pada krisis setelah peperangan, tetapi tidak semua diberikan nama Shieal, yang mendapat nama itu hanya mereka yang paling dipercaya dan memiliki kemampuan yang memenuhi standar kualitas dari Keluarga Luke. Orang-orang yang tidak lolos dalam seleksi kebanyakan dikirim ke panti asuhan atau tempat peribadatan di kota dan desa di kawasan daerah Marquess Luke.
Odo sudah tahu hal itu dari Ibunya dulu, lebih tepatnya Ia diceritakan dalam bentuk dongeng pengantar tidur dan ceritanya telah diubah supaya berakhir bahagia supaya sesuai untuk cerita anak-anak. Tentu saja anak berambut hitam itu tidak menelan mentah-mentah cerita itu dan memeriksa dokumen di gudang arsip kediamannya, dan fakta kalau mereka semua adalah korban dari Perang Besar terbongkar. Odo tidak pernah menanyakan hal itu kepada siapa pun di Mansion, Ia tahu kalau hal tersebut sangat sensitif mengingat latar belakang orang-orang yang menyandang nama Shieal.
Odo berbalik, lalu menatap Julia dengan sorot mata yang sangat tenang. Angin dingin dari luar berhembus masuk melalui jendela, menerpa punggung anak itu dan wajar Julia yang terduduk di atas tempat tidur. Tatapan mata biru Odo seakan bersinar terang, gadis kucing itu merasakan ada yang sangat berbeda dari majikannya itu. Tidak seperti keraguan atau hal negatif yang sering terasa dalam tatapannya, Julia merasakan hal murni dan tulus dari kedua mata anak itu.
“Mbak Julia ..., bisa temani aku keluar sebentar?” tanya Odo.
Julia bingung mendengar Odo mengatakan hal itu. Ekor dan telinganya bergerak riang dan menunjukkan rasa senang karena Tuannya itu tidak berniat keluar tanpa pamit. Gadis kucing itu berambut keperakan itu berharap tuannya itu juga mau mengikuti tata krama seorang bangsawan saat hendak pergi keluar dari kediaman. “Ya ..., sudah tugas saya menemani Tuan ..., kenapa tidak?” ucap Julia.
“Hmm, kalau begitu ayo pergi ke tempat Bunda, kita minta izin darinya dulu ....” Odo lekas berjalan ke arah lemari dan mengambil jaket mantel berwarna hitam di dalamnya. Setelah mengenakan mantel yang panjangnya melebihi lutut, Ia segera lekas berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamar.
Julia langsung meloncat turun dari tempat tidur, lalu tergesa-gesa menutup jendela dan gorden, lalu mengejar Odo keluar dari kamar. Meski masih ada pertanyaan untuk apa Odo mengajaknya, Julia tetap mengikuti anak tersebut tanpa rasa ragu dan malah diselimuti kebahagiaan, wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum saat berjalan di belakang anak itu.
.
.
.
Setelah itu, mereka berdua bergegas menuju ke ruang makan kediaman Luke. Berjalan kurang dari lima menit, mereka sampai di depan pintu ruang yang dituju. Menarik napas sejenak dan menenangkan diri, Odo membuka pintu kayu mahoni tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Di sana terlihat Mavis dan beberapa pelayan.
Seperti biasanya, Mavis memakai gaun dengan unsur hitam dan warna gelap lain, tetapi dengan motif rajutan berbeda dan terlihat lebih hangat dengan kerah berbulu dan syal yang melingkar pada leher. Wanita berambut pirang itu melihat ke arah Odo dengan sedikit terkejut. Ia lekas meletakkan buku di tangannya ke atas meja memanjang di depannya, lalu lekas kembali menatap ke arah Odo.
Tepat di belakang Mavis duduk, berdiri Fiola yang juga ikut menatap ke arah Odo yang tiba-tiba memasuki ruangan. Seakan tidak merasa kedinginan, gadis rubah berekor sembilan itu tetap mengenakan pakaian yang sering digunakannya dan terlihat cukup minim mengingat hawa dingin yang sudah sangat terasa.
“Anakku, sekarang sudah sangat dingin. Pakaian seperti itu tidak cukup menghangatkanmu, paling tidak pakai ini ....” Mavis melepaskan syal berwarna cokelat yang melingkar di leher, lalu memberikannya ke salah satu pelayan lain yang berada di dalam ruang makan tersebut. Setelah menerima syal itu dengan penuh rasa hormat, Ia segera berjalan ke arah Odo yang masih berdiri di dekat pintu, lalu berlutut hormat dan menyerahkan syal dengan kedua tangannya.
Melihat cara pelayan tersebut menyerahkan syal, Odo sangat tahu cara pandang kebanyakan orang di Mansion telah berubah sejak kabar tentang dirinya yang mengalahkan Naga Hitam menyebar. Mungkin hanya Mavis, Dart, Julia, Fiola, dan Vil yang masih bersikap sama seperti sebelumnya.
Mengambil syal tersebut dan melingkarkannya ke leher, Odo menatap ringan gadis pelayan berambut hitam panjang sampai pinggang tersebut. Dari paras dan postur tubuhnya, Odo sangat paham kalau umurnya sudah mencapai lebih dari dua puluh lima tahun ke atas karena dia murni dari ras manusia.
“Mbak Minda tidak perlu terlalu hormat seperti itu, santai saja gak masalah, seperti biasanya saja,” ucap Odo. Pelayan berambut hitam itu mengangkat kepalanya dan melihat wajah majikannya tersebut, terlihat terkejut karena anak di hadapannya itu memanggil namanya. Di kalangan para pelayan, Odo cenderung dikenal sebagai anak yang asyik dengan dunianya sendiri dan terkesan acuh karena selalu berbuat nakal dan sering kabur dari rumah sejak dulu.
“Ba-Baiklah, Tuan Muda ....” Minda berdiri, lalu memberi hormat hanya dengan membungkukkan tubuhnya. Sedikit tersenyum kecil ke arah pelayan itu, Odo lekas berjalan menghampiri Ibunya, lalu menarik kursi dari dan duduk di dekatnya. Semua orang di tempat itu masih terkejut dengan sikap Odo tadi yang terlihat sangat dewasa, bahkan Julia masih berdiri di dekat pintu dengan wajah tidak percaya melihat anak nakal itu bisa bersikap sopan.
Mavis melihat wajah anaknya seraya tersenyum kecil, wanita itu sangat tahu alasan anaknya itu bersikap dewasa saat ini. “Pasti kamu mau minta sesuatu ya, putraku?” tanya Mavis. Odo tersenyum kecil dan balik menatap Ibunya itu, dan menjawab, “Bunda memang hebat, langsung tahu ya ....”
“Tentu saja, kamu ‘kan anakku.” Mavis mengelus kepala anaknya itu dengan lembut dan tersenyum kembali. “Jadi, kamu mau minta apa, Odo?” tanyanya.
“Aku ingin melakukan ekspedisi,” jawab Odo langsung.
“Eh?” Mavis terkejut, begitu juga para pelayan yang ada di ruangan. Minda yang baru saja kembali ke barisan dua pelayan lain langsung menoleh dengan wajah kaget.
“Aku mau berburu monster dan mengumpulkan kristal sihir! Bunda, boleh aku pergi keluar dan berburu?” tanya kembali anak itu dengan santainya.
Mavis terdiam sesaat memahami perkataan anaknya itu yang sangat tiba-tiba. Fiola yang berdiri di belakang Tuannya memasang wajah sangat heran sampai-sampai alisnya terangkat. Julia yang berdiri di dekat pintu lekas berjalan menghampiri Odo, lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke meja dan menengok wajah Odo dari sampai dengan tatapan penuh tajam. Begitu pula ketiga pelayan lain uang berada di ruangan, mereka sempat terbelalak mendengar anak yang umurnya belum genap sepuluh tahun itu meminta hal seperti berburu monster.
“Tuan Odo, kenapa sih mintanya aneh-aneh ?” bisik Julia. Sekilas menoleh dan tersenyum kecil ke arahnya, Odo hanya menatap ringan tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Kembali melihat ke arah Ibunya, anak itu terlihat benar-benar menunggu jawaban.
Mavis menatap mata anaknya dengan tenang dan berusaha berbicara secara jelas padanya. “Odo ..., umur kamu baru akan sembilan tahun nanti saat musim semi tahun depan, bukan?” tanya Mavis.
“Ya, memang. Sekarang aku masih berumur delapan tahun, Bunda.” Tatapan anak itu terlihat tidak goyah. Walaupun paham apa yang ingin disampaikan Mavis, tetapi Odo memilih untuk mengacuhkan maksud tersiat dalam perkataannya, lalu kembali bertanya, “Jadi, apa boleh aku keluar dan berburu monster?”
Mavis menghela napas panjang dan mulai pasrah dengan tingkah anaknya itu. Memegang kening dan sedikit menunduk, wajahnya terlihat cemas dengan masa depan anaknya tersebut saat melihatnya kekurangan akal sehat seperti itu. Berburu monster, perkataan itu sangatlah jarang digunakan dan mungkin tidak ada yang menggunakannya, karena pada dasarnya monster itu seharusnya dibasmi dan bukan diburu.
Kebanyakan prajurit atau ksatria tidak akan memburu monster, mereka akan membunuh dan membasmi mereka. Kata memburu dan membasmi itu meski hampir mirip, tetapi sangat berbeda dalam beberapa poin. Dalam perbedaan itu, anak berambut hitam itu sama sekali tidak menyadarinya.
“Odo, kamu tahu ..., sekarang Ayah sedang keluar dengan pasukan dan bawahannya untuk ikut dengan rombongan yang mengantarkan bantuan ke kota dan desa yang sedang krisis, mungkin baru awal tahun nanti mereka kembali.”
“Hmm, aku tahu .... Sebab itu aku meminta Bunda sekarang. Kalau ada Ayah, pasti nantinya dilarang ....”
“Anakku, kamu pikir Bunda akan mengizinkannya?”
Odo terdiam sesaat dengan wajah terbelalak mendengar hal tersebut. “Eh? Kemu benar-benar berpikir kalau Bunda akan mengizinkanmu?” tanya Mavis melihat ekspresi anak itu yang benar-benar terkejut.
“Ha-Habisnya ....”
“Kamu ini .... Lagi pula, memangnya mau apa berburu di musim dingin seperti ini? Salju baru turun lebat tadi malam, sekarang sedang dingin-dinginnya. Tidak lucu kalau kamu pulang dalam keadaan membeku, Odo.”
“Hmm, karena itu kamu bilang ingin berburu, ya ....” Mavis berpikir sejenak, alasan yang digunakan anak itu sangat logis dengan dalih membantu Ayahnya. Memang sebagai seorang Ibu, dirinya akan sangat cemas kalau membiarkan anaknya yang masih belum genap berumur sepuluh tahun pergi berburu sendirian di hutan pada musim dingin, tetapi mempertimbangkan kekuatan dan kemampuan Odo yang bisa mengalahkan Naga Hitam, sebenarnya rasa cemas itu memang tidak diperlukan.
“Odo ..., kamu sudah menyusun rencana untuk berburu, bukan?” tanya Mavis.
“Kurang lebih .... Rencana dan tujuan sudah ada. Sekarang yang diperlukan hanya anggota ekspedisi perburuan ....”
“Mau berapa lama kamu pergi?”
“Sekitar sebulan, dan kemungkinan kembali di minggu terakhir tahun ini ....”
Mavis kembali mempertimbangkan beberapa hal lain. Melihat ke arah Julia yang berdiri di sebelah Odo, perempuan berambut pirang itu mengangguk dan memutuskan sesuatu dalam benak.
“Baiklah ..., Bunda setuju. Tapi, ada syaratnya.”
“Syarat?” Odo sedikit memiringkan kepalanya.
“Kamu kamu harus membawa Julia dan yang lainnya?”
“Kalau Mbak Julia, memang dari awal aku ingin mengajaknya. Tapi, yang lainnya itu siapa?”
“Para pelayan dan penjaga yang menyandang nama Shieal.”
Sesaat Odo terkejut, dirinya tidak menyangka kalau Ibunya itu sampai mengajukan hal seperti itu sebagai syaratnya. “Kalau semuanya ikut, di sini tidak ada yang menjaga Bunda, dong .... Kalau ada apa-apa, bagaimana?” tanya Odo.
“Hmm, kalau begitu tinggalkan saja Linkaron, dan untuk penjaga bawa saja Gariadin. Tentu saja Fiola tidak ikut karena dia pelayan pribadi Bunda ....”
Odo terdiam sesaat memikirkan kedua nama yang disebutkan Ibunya itu. Gariadin dan Linkaron, kedua orang tersebut adalah penjaga yang menyandang nama Shieal dari delapan orang yang ada. Sampai sekarang, nama Shieal hanya dimiliki oleh depan orang yang terdiri dari lima pelayan di dalam Mansion, dua penjaga yang ada di sekitar halaman, dan satu prajurit yang selalu mendampingi Dart saat bepergian.
“Terima kasih, Bunda .... Kalau begitu, aku akan berangkat lusa nanti.”
“Kalau begitu, Bunda akan suruh mereka menyiapkan perlengkapan ekspedisinya. Kalau soal kereta, mungkin kuda akan sulit berlari di tengah salju ..., jadi pakai Drake saja, ya? Bunda rasa masih ada satu di kandang ....”
[Catatan: Drake; Sejenis Naga, tetapi tidak memiliki sayap. Berkaki empat, punya ekor panjang, kulit keras, dan tingginya bisa tiga sampai empat meter, dan panjangnya kurang lebih sembilan sampai dua belas meter].
“Tidak masalah, Bunda!” jawabnya dengan ceria.
Odo menoleh melihat ke arah para pelayan lain yang berdiri di sudut ruangan. Dari semua pelayan yang ada di ruang yang sama dengan Odo, Selain Julia dan Fiola yang memiliki gelar Kepala Pelayan, ketiga pelayan yang berbaris di sudut ruangan juga menyandang nama Shieal. Dari kanan ke kiri, mereka berbaris Minda, Xua Lin, dan Imania.
Minda Shieal merupakan perempuan berambut hitam panjang yang sebelumnya menyerahkan syal kepada Odo, dari postur tubuh dan paras dialah yang terlihat paling dewasa dari dua pelayan lainnya. Minda murni ras manusia, dengan kornea mata berwarna kecokelatan dan rambut hitam pekat. Ia berasal dari Kerajaan Ungea, dan saat Perang Besar berakhir, dirinya yang masih berumur kurang dari lima tahun diadopsi Keluarga Luke sampai pada akhirnya menyandang nama Shieal sebagai pelayan Mansion.
Di samping kanan Minda, berdiri Demi-human dari ras manusia beruang. Perempuan yang memiliki telinga tebal dan berambut kecokelatan seperti beruang itu bernama Xua Lin Shieal, berasal dari Kekaisaran Urzia. Rambutnya pendek dan berwarna cokelat lebih sama pudar dengan telinga beruangnya, dan kornea matanya berwarna hijau seperti batu giok.
Hampir sama dengan Minda, Xua Lin juga merupakan yatim piatu yang diadopsi Keluarga Luke setelah Perang Besar dan mendapat pendidikan sampai mendapat nama Shieal. Meskipun Ia terlihat lebih muda dari Minda, sebenarnya dirinyalah yang paling tua usianya jika dibanding dua pelayan lain.
Di samping kanan Xua Lin, terlihat perempuan yang lebih pendek dari kedua pelayan di sampingnya. Ia bernama Imania Shieal, perempuan berambut abu-abu pudar dan memiliki kornea mata berwarna biru terang.
Ia berasal dari daerah sekitar perbatasan Kerajaan Felixia dan Kekaisaran, mata birunya menandakan kalau darah orang kerajaan Felixia mengalir dalam nadinya. Hampir sama dengan kedua pelayan lainnya, Imania juga merupakan yatim piatu yang diadopsi Keluarga Luke sejak kecil setelah masa Perang Besar dan pada akhirnya menyandang nama Shieal. Sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, Imania menderita tunawicara dan bisa juga dikatakan bisu karena lehernya pernah tertebas pedang sampai pita suaranya rusak.
“Jadi Mbak Minda, Mbak Lin, dan Mbak Imania juga ikut, bukan?” tanya Odo seraya kembali menoleh ke arah Ibunya.
“Ya, tentu saja. Nanti Gariadin juga akan Bunda beritahu untuk ikut.”
“Hmm, baiklah.” Odo tersenyum manis layaknya anak kecil pada umumnya.
Melihat itu, Mavis merasa lega karena anak itu tidak pergi sendiri dan kabur seperti apa yang sering dilakukannya. Tetapi, pada saat itu mereka tidak tahu kalau sifat anak tersebut tidak berubah sama sekali dan kebiasaannya masih belum hilang. Pada hari yang sama, di saat orang-orang di dalam Mansion menyiapkan perlengkapan yang diajukan anak tersebut, Odo malah kabur ke Kota Pesisir tanpa diketahui semua orang.
««»»
Salju turun dengan perlahan ke permukaan, menutupi pepohonan, jalan, dan bangunan-bangunan yang ada. Di Kota Pesisir, pemandangan putih menyelimuti dan angin dingin berhembus cukup kencang. Saluran irigasi membeku, kolam-kolam penampungan air, dan juga laut. Kapal-kapal yang berlabuh di dermaga tak bisa dilayarkan dan terperangkap laut yang beku, begitu pula ikan-ikan yang berada di dalam air.
Pada jalanan utama di kota tersebut, hanya terlihat segelintir orang yang berjalan di luar dengan pakaian tebal mereka. Kebanyakan orang berada di dalam rumah dan bangunan, mengepulkan cerobong asap dan menghangatkan diri. Tanda-tanda aktivitas perekonomian benar-benar tidak terlihat di kota yang memiliki pelabuhan cukup besar itu.
Para penjaga yang berjaga di pos gerbang masuk duduk dengan kedinginan, menyalakan lentera minyak sebagai penerang dalam suasana mendung dan menjadi penghangat ditengah dinginnya salju yang terus turun. Hanya dengan pakaian tebal dan lentera saja tidak bisa mengusir hawa dingin yang terasa sampai meresap ke tulang, terlihat jelas mereka menggigil.
Di luar tembok yang mengelilingi Kota Pesisir di bagian depannya. Terlihat seorang anak kecil berambut hitam yang mengendap-endap mencari jalan masuk. Berhasil menyusup keluar dari Mansion tanpa diketahui semua orang, Odo telah sampai luar tembok besar Kota Pesisir yang berjarak beberapa kilometer ke arah tenggara dari kediamannya. Mendarat setelah menggunakan sihir pelontar untuk sampai sebelumnya, anak itu langsung mengendap-endap dan menyusup melewati parit yang membeku tanah basahnya dan masuk ke dalam kota.
Meskipun dirinya hanya mengenakan jaket mantel saja sebagai penghangat, Ia sama sekali tidak merasa kedinginan berkat Sihir Khusus yang telah diterimanya dari Seliari. Hariq Iliah, kekuatan tersebut merupakan pengendalian api tingkat tinggi yang menyangkut panas, oksidasi, pembentukan api, pengendalian gas, dan molekul plasma, yang juga menyangkut cahaya, dengan kata lain kontrol tinggi terhadap api. Dengan menggunakan kekuatan tersebut, Odo meningkatkan suhu di sekitarnya untuk menghilangkan rasa dingin.
Berjalan menyusuri jalanan sendirian, anak itu sempat melihat-lihat isi kota yang telah didominasi warna putih salju. Dirinya tidak menyangka kalau turunnya salju dapat mengubah penampilan kota sampai seperti sekarang. Pepohonan yang tertutup salju, kolam penyimpanan air tawar yang membeku, suasana sunyi, bangunan-bangunan yang mengepulkan cerobong asap, serta langit abu-abu yang menurunkan salju, semua itu terasa asing bagi anak tersebut karena pada musim dingin selama hidupnya anak itu selalu berada di Mansion karena dirinya terbilang tidak suka dengan hawa dingin.
“Kalau salju turun ... ternyata seperti ini ya .... Suasananya berbeda. Agak tenang dan ... sedikit hening ....”
Berjalan menyusuri jalanan, akhirnya Odo sampai di daerah pelabuhan. Ia lekas pergi ke panti asuhan yang dulunya digunakan sebagai tempat peribadatan cabang. Berdiri di depan bangunan yang terlihat seperti gereja dengan unsur Gothic tersebut, anak berambut hitam itu terlihat sedikit enggan untuk masuk ke tempat tujuan dan tetap berdiri di luar pagar.
Mengingat kembali saat dirinya pergi tanpa pamit kepada yang lain dan hanya bilang kepada Siska, biarawati yang tinggal dan merawat anak-anak yatim di panti asuhan tersebut, Odo bertambah gelisah untuk masuk ke dalam. Ada beberapa hal yang membuatnya cemas, antara lain kabar tentangnya yang telah mengalahkan Naga Hitam pasti telah mereka dengar, dan karena itu kemungkinan identitasnya telah terbongkar oleh anak-anak lain di panti asuhan.
“Kalau tidak salah Nanra benci bangsawan ya .... Kalau dia telah mendengar kabar itu, pasti dia akan .... Sudahlah, lagi pula saat pergi ..., aku telah meninggalkan beberapa bahan makanan untuk mereka .... Tidak ada alasan untukku terus terlibat dengan mereka.”
Odo mengurungkan niat untuk masuk. Tetapi saat dirinya berbalik dan hendak pergi, pintu panti asuhan terbuka dan terlihat keluar biarawati yang tinggal di tempat tersebut. Lantas Odo terdiam, menoleh ke arah perempuan berambut pirang yang keluar dari panti asuhan dengan tatapan heran. Begitu juga biarawati bernama Siska tersebut, Ia terkejut saat melihat pewaris Tuan Tanah daerah mereka bisa ada di luar sana di tengah hawa dingin yang ada sekarang.
“Ah ..., mau masuk, Tuan Odo?” tanya Siska dengan gugup. Terlihat jelas kalau memang cara pandang biarawati terhadap Odo berubah. Sadar akan hal itu, anak berambut hitam itu sangat paham kalau kabar tentang dirinya yang mengalahkan Naga Hitam benar-benar telah terdengar olehnya.
“Te-Terima kasih ....”
===========================
Informasi Tambahan (Penting):
Re;Start/ if [Wilayah] Benua Michigan
(+)Benua Michigan, sebuah daratan luas yang tersisa setelah Perang Dewa dan Iblis. Merupakan Benua yang dikuasai oleh Keempat Negeri yang antara lain:
»[Timur Laut] Kekaisaran Urzia
Kekaisaran Urzia terletak sebelah Timur Laut benua. Merupakan Negeri para Demi-Human, dan memiliki peradaban mirip Asia Tenggara abad pertengahan sampai abad 17. Memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Felixia selama masa Perang Besar, tetapi semakin memudar. Terkenal dengan pasukan Demi-human yang memiliki kemampuan fisik luar biasa, serta sihir khusus berupa kertas azimat, dan segel tangan.
»[Tenggara] Kerajaan Felixia
Kerajaan Felixia terletak di Tenggara benua. Merupakan negeri Penyihir Roh dan para pengguna pedang terbaik. Memiliki banyak Roh Agung yang telah dikontrak, serta berhubungan dengan Dunia Astral. Tempat lahirnya pahlawan saat Perang Besar. Kebudayaan dan sistem pemerintahannya mirip dengan Eropa abad pertengahan. Dikenal juga kerajaan suci karena garis keturunan Keluarga Kerajaan yang dikatakan berasal dari Dewa.
–Daerah kekuasaan bangsawan Luke, selatan kekuasaan Kerajaan Felixia.
»[Barat Daya] Kerajaan Ungea
Kerajaan Ungea terletak di Barat Daya benua. Merupakan kerajaan yang mendapat perlindungan banyak dewa-dewi, memiliki banyak senjata kono dan Artifak Sihir bersejarah. Disebut juga Negeri Padang pasir. Memiliki peran penting dalam Perang Besar. Penguasa di negeri ini disebut dengan Maharaja.
»[Barat Laut] Kerajaan Moloia
Kerajaan Moloia terletak di Barat Laut benua. Merupakan negeri yang berpusat pada teknologi dan pertambangan daripada ke sihir. Kerajaan paling kaya akan logam, serta memiliki berbagai macam alat sihir buatan original. Berpusat pada sihir Alkemis. Tingkat teknologi lebih tinggi dari negeri lainnya, serta merupakan negeri paling mapan setelah masa Perang Besar berakhir.