Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 54 : Aswad 1 of 15 “Kesadaran diri” (Part 04)



 


 


Jauh di dalam hutan dataran tinggi perbatasan antara teritorial Mylta dan Rockfield. Rembulan bersinar terang, bukan purnama namun masih bulan hanya separuh yang terlihat di langit tanpa gugusan bintang. Di antara semak-semak dan pepohonan cemara, seorang pria dengan pakaian tempur berlari dengan napas terengah-engah. Bahunya terluka parah sampai tulangnya terlihat, darah yang mengalir dari luka berceceran ke rerumputan dan tanah.


 


 


Pria itu adalah salah satu anggota regu khusus yang menyusup ke wilayah Luke, tentara yang beberapa hari lalu melaksanakan misi untuk menyerang pemukiman Klista.


 


 


“Sialan! Kenapa mereka melakukan ini?! Apa Letnan Dua berkhianat?! Orang-orang paling loyal seperti mereka?!”


 


 


Ia mengaktifkan jubah kamuflasenya. Tubuh pria itu sudah mati rasa, sakit pada bahu dan kakinya yang ngilu karena terus berlari tidak dirasakannya lagi sejak lima menit lalu. Meski begitu, rasa takut karena tak ingin mati dan amarah tertanam jelas dalam benak tentara tersebut membuatnya terus berlari. Kembali mengingat kejadian yang dimulai beberapa puluh menit lalu, ia menggertakkan gigi dan berhenti berlari.


 


 


“Bajingan kalian!!” Ia mengangkat pistolnya, menembak secara acak ke kegelapan. Itu tidak mengenai apa-apa dan melesat tak jelas. Namun selang beberapa detik, kilatan cahaya terlihat dalam kegelapan dan sebelum dirinya sadar dada kanannya tertembus timah panas.


 


 


“Sialan ....”


 


 


Itu tempat mengenai paru-paru, membuat napasnya sesak namun tidak langsung menghabisinya. Pria itu berbalik, segera menyuntikkan serum untuk meningkatkan adrenalinnya dan mematikan rasa sakit sementara.


.


.


.


Sekitar 30 menit yang lalu, pada perkemahan darurat regu khusus Moloia. Di dalam hutan yang menjadi markas sementara mereka setelah gagal melaksanakan misi, beberapa orang yang selamat mendirikan beberapa tenda sebelum kembali ke markas utama di pesisir pantai barat wilayah Luke. Dengan peralatan sederhana dan hanya beberapa tenda praktis, orang-orang Moloia tersebut beristirahat dan menyalakan api unggun untuk penghangat di dataran tinggi bersuhu rendah.


 


 


Rembulan bersinar separuh, namun begitu terang menyinari tempat mereka yang ada di antara pepohonan cemara dan tanah berbatu. Angin bertiup pelan namun tetap membawa hawa dingin, suara binatang dan ancaman yang mungkin datang dari para monster membuat sebagian anggota yang tersisa dari pasukan khusus tersebut tidak bisa beristirahat dengan tenang.


 


 


Meski begitu, untuk menjaga stamina saat besok mereka tetap mematuhi perintah dan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Menggunakan sistem jaga bergantian, beberapa orang harus terbangun saat yang lain beristirahat di dalam tenda.


 


 


Duduk di dekat api unggun, Cornelisa Di’in terlihat sibuk merakit senjata cadangannya. Sorot mata Letnan Dua tersebut terlihat cemas akan sesuatu, perempuan yang terlihat mengenakan perlengkapan tempur dan siap siaga tersebut sesekali melirik ke kanan dan kiri dengan was-was. Detak jantungnya terus berdebar kencang, napas sedikit terengah-engah dan sesak karena kadar oksigen dataran tinggi yang rendah.


 


 


Di sebelahnya, Marnali Ra’an terlihat tidak jauh berbeda dengan atasannya tersebut. Mengalihkan rasa cemas dalam benak, ia berusaha fokus merakit senjata cadangannya karena sebelumnya senapan mesin ringan Barreta miliknya rusak dalam pertarungan.


 


 


Sesaat setelah keluar dari tenda, seorang tentara terlihat heran melihat gelagat kedua tentara tersebut. Sembari membawa makanan kering dengan tangan kanannya, pria itu berjalan mendekat dan bertanya, “Sir Di’in dan Sir Ra’an, apa kalian baik-baik saja? Kalian berdua yang pernah bertarung langsung melawan ******** dari keluarga Luke itu ..., pasti kalian—”


 


 


“Kami baik-bak saja!” jawab Di’in tegas. Ia sama sekali tidak menatap bawahannya tersebut, hanya fokus merakit senapan Springfield cadangannya di atas kain kusam yang digelar di dekat api unggun kecil.


 


 


Pria tentara yang cemas pada atasannya itu memastikan bahwa memang ada yang aneh dari gelagat kedua perwira tersebut. Ia memutuskan untuk menetap bersama mereka dekat api unggun kecil, melipat kedua kakinya ke depan dan duduk di tanah. Melihat hal tersebut, Di’in dan Ra’an menatap dengan cemas, keringat dingin mereka keluar deras.


 


 


“Untung saja kita memisah persediaan dan menyembunyikannya dulu seperti ini. Kalau tidak, kita sekarang pasti harus kembali ke markas utama tanpa perbekalan apa-apa melewati hutan penuh monster dan binatang buas. Yah,  memang sangat disayangkan kita gagal dan rekan-rekan kita banyak yang menjadi korban ....”


 


 


Perkataan tentara tersebut tidak dipedulikan kedua perwira yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Baik Di’in atau Ra’an, keduanya terus merakit senjata dengan peralatan seadanya dan lanjut mempersiapkan amunisi ke dalam megazen. Melihat itu sang tentara sedikit penasaran dan bertanya, “Untuk apa itu, Letnan Dua?”


 


 


“Nama!”


 


 


“Eh?”


 


 


“Nama, pangkatmu, dan asal pasukanmu apa?!” Di’in menatap tajam pria dengan pakaian tempur hitam ketat tersebut, penuh rasa cemas dan begitu aneh di mata sang tentara.


 


 


Dengan ragu pria itu menjawab, “Karlota K’lein, Kopral Dua Fraksi Militer .... Anggota batalion 10 pasukan lini depan.”


 


 


“Apa kau punya keluarga di tanah air kita?” tanya Di’in kembali.


 


 


“Tentu saja punya, bicara apa Letnan Dua.” Kopral tersebut meletakkan tangannya ke belakang, menyiapkan pistol dan melepas pengamannya. Sembari tersenyum ringan, pria rambut cokelat tersebut kembali berkata, “Aku punya adik dan kakak perempuan. Yah, meski kedua orang tuaku telah meninggal saat perang, tapi dibesarkan oleh kakakku tidak terlalu buruk. Sekarang saya juga sudah bertunangan dengan anak salah satu perwira tinggi, loh.”


 


 


Perkataan tersebut membuat Ra’an dan Di’in gemetar tidak karuan, ekspresi mereka seakan dipenuhi rasa bersalah dan keringat dingin bercucuran tak henti-hentinya. Setelah selesai merakit senapannya, dengan wajah pucat Letnan Dua tersebut memasang megazen pada Senapan Springfield dan menarik tuasnya untuk memasukan amunisi ke dalam selongsong.


 


 


“Ra’an, kalau kau mau berhenti di sini, aku tidak melarang. Awalnya ini ingin aku lakukan sendiri, kau tak perlu mengikutiku,” ucap Di’in seraya mengangkat moncong senjatanya ke atas dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dengan cepat detak jantungnya langsung tenang, emosi dalam benak yang sebelumnya melonjak-lonjak langsung diredam dengan cepat.


 


 


“Sa-Saya tetap ikut! Kalau memang ini untuk tanah air kita, aku tetap ikut!” jawab Ra’in dengan lantang.


 


 


“Begitu, ya ....”


 


 


Di’in bangun dan kembali menghela napas ringan. Perempuan rambut cokelat ikat kucir ke belakang itu menatap ke arah sang Kopral yang terlihat bingung dengan pembicaraan dua perwira tersebut. Melepas jubah kamuflase miliknya bersama dengan sabuk untuk meletakkan bahan peledak serta amunisi, Letnan Dua tersebut bertanya, “Ngomong-omong, yang selamat dari kita berapa orang? Sepuluh orang? Dua belas?”


 


 


Pertanyaan itu membuat sang Kopral terdiam, keringatnya mulai bercucuran dan rasa tak ingin percaya memenuhi benaknya. Namun dari gelagat mereka, ia sudah tahu apa yang hendak kedua perwira tersebut lakukan. Tersenyum ringan dengan wajah pucat, Kopral menjawab, “Termasuk Letnan Dua dan Pembantu Letnan Satu, ada 9 orang yang selamat.”


 


 


“Hmm, untunglah tidak terlalu banyak .... “ Di’in tahu kalau jawaban tersebut adalah kebohongan besar karena sebelumnya telah ia telah menghitung anggota regunya yang selamat. Menatap dengan sorot mata kosong, Letnan Dua itu bertanya, “Yang lain masih istirahat, ‘kan?”


 


 


“Ya .... Mereka ada di tenda, tidur nyenyak. Hah, padahal setelah apa yang terjadi bisa-bisanya mereka tidur seperti itu—”


 


 


Di’in menodongkan moncong senapannya ke kepala kopral muda tersebut, dengan tatapan datar penuh nafsu membunuh. Pemuda dengan pakaian tempur ketat itu terlihat bingung dengan tindakan tersebut, dengan gemetar bertanya, “A-Apa yang anda lakukan? Kenapa menodongkan senjata ke arahku?”


 


 


“Kau tahu alasannya ....”


 


 


 


 


“Ya, ini untuk mencegah perang.”


 


 


Sekilas Kopral itu memejamkan mata, terlihat memikirkan sesuatu dan saat kembali membuka mata ia berkata, “Baiklah, aku rela.”


 


 


Perkataan tersebut membuat Di’in sekilas ragu untuk menarik pelatuk dan gentar. Namun itu hanyalah tipuan sang Kopral, pria itu langsung memegang laras senapan dan mengarahkannya ke samping. Segera berdiri dan meloncat ke arah perempuan itu, Kopral langsung menyikut wajahnya dan merebut senapan tersebut.


 


 


Duak! Senapan diayunkan untuk menghantam wajah Di’in sampai berdarah, lalu sang Kopral segera menodongkan senapan ke arah perempuan tersebut.


 


 


“Jalang! Kau pikir aku akan rela dibunuh seperti itu?”


 


 


“Sialan, kau!” Ra’an menodongkan senapan mesin ringannya, namun kopral itu segera mengambil pistol Red 9 dari sabuk dan balik menodongkan senjatanya dengan tangan kiri.


 


 


“Begitu, ya .... Itu reaksi yang wajar. Tentu saja tidak ada orang yang rela mati begitu saja,” ucap Di’in seraya mengusap darah yang keluar dari hidupnya karena hantaman tadi. Letnan Dua tersebut menatap datar, tanpa memperlihatkan ekspresi cemas yang sebelumnya terlihat jelas dari raut wajahnya.


 


 


“Kenapa kau ingin mengkhianati tanah air kita?!” Sang Kopral terlihat tak ingin mempercayai tindakan Letnan Dua tersebut, ia dengan frustrasi bertanya, “Apa yang kau pikirkan, Letnan Dua Unit Khusus PTP!? Kau orang yang sangat loyal kenapa mengkhianati kami?!”


 


 


“Mengkhianati?” Di’in berdiri tegak, menatap datar dengan sorot mata violetnya dan berkata, “Kau tahu, apa yang ingin kulakukan untuk negeri kita ....”


 


 


“Apanya untuk negeri kita!” Kopral membantah. Dengan raut wajah penuh maralah ia kembali berkata, “Kau ingin menghalangi sisa regu ini sampai ke markas utama di pesisir, ‘kan?! Untuk apa memangnya kalian melakukan itu kalau tidak berkhianat?!”


 


 


Di’in dan Ra’an terkejut mendengar itu, mereka langsung tahu alasan Kopral itu menanyakan hal-hal aneh sebelumnya. “Seperinya dia belum memberitahu yang lain kalau bergerak sendiri seperti ini,” benak Letnan Dua. Menarik napas ringan, perempuan tersebut dengan ringan berkata, “Begitu, ya. Kau mendengar pembicaraanku dengan Ra’an soal itu ....”


 


 


“Jawab aku! Pengkhianat!!”


 


 


“Karena ini perintah ....”


 


 


“Perintah? Dari siapa?!”


 


 


“Dari Tuan kami .... Kau tahu, kita memilih musuh yang salah. Kita adalah makhluk biasa, bukan siapa-siapa di dunia ini. Meski dengan senjata canggih atau peralatan lengkap, kita hanyalah orang biasa yang takkan pernah bisa menang melawan makhluk semacam itu.”


 


 


“Tch! Apa kau putus asa setelah kalah melawan Pembunuh Naga itu?”


 


 


“Putus asa?” Di’in perlahan melangkah mendekat, dengan sorot mata seperti orang mati ia berkata, “Kau salah, aku hanya melihat sebuah potensi baru dari dunia. Jujur ini sangat disesali harus membunuh kalian semua .... Untung saja orang-orang di markas pesisir akan langsung pergi tiga hari lagi kalau kita tidak kembali dan menganggap misi ini gagal, aku tidak perlu membunuh mereka.”


 


 


“Dasar pengkhianat sialan!!”


 


 


Kopral menarik pelatuk Senapan Springfield. Namun meski ditarik beberapa kali, senapan tersebut tidak menembak karena pengaman senjata yang terpasang. Di’in langsung melangkah cepat ke dalam jangkauan kopral tersebut, menjegal kakin dan memegang bahunya, lalu dengan bela diri militer langsung membanting pria tersebut ke atas api unggun sampai padam.


 


 


Merebut senapan dan balik menodongkan senjata ke arah kopral yang terbaring kesakitan tersebut, Di’in berkata, “Setiap tingkat senjata ada pengaman masing-masing dan hanya bisa digunakan menggunakan unsur akivasi dari Mahia, apa kau lupa itu?”


 


 


“Tch!” Kopral balik menodongkan pistolnya ke arah Di’in. Ra’ian yang melihat itu segera menodongkan senapan mesinnya ke arah pria tersebut.


 


 


Dengan suara lantang Kopral berkata, “Letnan Pembantu, Ra’an! Apa kau setuju dengan tindakan gila Letnan Dua?! Apa kau juga ingin berkhianat?!”


 


 


“Ini bukan pengkhianatan, tindakkan kami adalah keputusan Rhea,” jawab Ra’an dengan tegas.


 


 


“Sialan, kalian berdua!!”


 


 


Mereka menarik pelatuk dalam waktu hampir bersamaan. Senapan Springfield langsung menghancurkan kepala kopral tersebut, namun peluru dari Red 9 meleset dan hanya menyerempet pipi Di’in. Dari itu, Letnan Dua tersebut sangat paham kalau Kopral itu sama sekali tidak sungguh-sungguh ingin membunuhnya karena dalam jarak sedekat itu tidak mungkin tentara terlatih bisa meleset.


 


 


Suara tembakan membangunkan orang-orang yang tertidur dalam tenda, mereka panik dan segera berlari untuk mengambil senjata.


 


 


“Apa yang terjadi—AkH!!!”


 


 


Dor!!


 


 


Suara tembakan senapan Springfield kembali melenting di dalam hutan, melubangi kepala salah satu tentara yang hendak mengambil senjata di dekat tenda. Di tengah kebingungan orang-orang tersebut, Di’in kembali menarik tuas untuk memasukkan peluru ke dalam selongsong, lalu kembali menarik pelatuknya dan menembak.


 


 


Duark!


 


 


Kepala pecah terkena senapan berkaliber tinggi dari jarak kurang dari 50 meter, darah dan daging menciprat ke rekan di dekatnya dan tenda. Seketika amarah melonjak dan rekan tersebut mengangkat senapannya untuk balik menembak. Sebelum bisa menarik pelatuk, Ra’an menodongkan senapan mesin ringan dan menghujaninya dengan timah panas.


 


 


Malam itu menjadi malam beradah, saling membunuh antara satu kebangsaan di bawah langit malam. Tanpa tahu alasan jelas kenapa mereka saling baku tembak dengan atasan mereka sendiri, kurang dari sepuluh menit hampir dari mereka semua dibunuh dengan sangat cepat karena perbedaan kekuatan senjata yang jelas antara senapan semi-otomatis dan lontak.