Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 62 : Aswad 9 of 15 “Yang menyedihkan dari masa lalu” (Part 07)



««»»


Tengah malam pun terlewat, bulan menampakkan dirinya di antara gugusan bintang pada langit malam. Awan yang sebelumnya menutupi langit menyingkir, membuat cahaya rembulan bersinar terang dan sampai ke permukaan tanpa halauan. Semilir angin dingin menyusuri kompleks pelacuran di dekat pelabuhan, tetap terlihat beberapa lalu-lalang pelanggan datang silih berganti meski hari baru telah datang.


Tidak seperti sepertiga malam pertama, keramaian yang ada di kompleks pelacuran tersebut mulai terurai sepi. Orang-orang pada rumah-rumah pelacuran yang ada terlihat kebanyakan adalah para pria hitung belang yang telah puas melepas hasrat dan baru akan pulang. Keluar dari rumah bordil pada waktu yang sama, Odo merasa tak jauh berada dengan orang-orang tersebut mereka meski sebenarnya dirinya memiliki tujuan berbeda saat datang.


Berdiri di depan toko rumah bordil Alms Lilac, Madam Theodora memeluk erat tangan kanan Odo dan terlihat mesra saat baru keluar dari tempat pelacuran tersebut. Beberapa wanita pelacur menatap dan berbisik-bisik, ada yang terkagum pada sang Madam dan ada juga yang merasa iri. Mendengar suara-suara mereka, sekilas Odo menghela napas kecil dengan sedikit resah.


“Bukannya kalau ada rumor yang tersebar bisa gawat nantinya?” ucap Odo sembari menarik tangannya dari dekapan sang Madam.


Wanita berbalut gaun hitam ketat tersebut meletakkan ujung telapak tangan kanan ke depan mulut, lalu tertawa ringan dan berkata, “Tenang saja, rumor semacam itu akan cepat hilang. Tidak ada dari kami yang akan membocorkan informasi pelanggan.”


“Kalau Brothel di sana?” Odo menatap ke rumah pelacuran di seberang jalan, sedikit terheran karena masih ada saja pria yang datang di dini hari seperti ini.


“Tenang saja, ketiga rumah pelacuran di pojok sini takkan ada yang membocorkan informasi pelanggan. Tapi ....” Madam berjalan ke depan  Odo dan berdiri di hadapannya, lalu mengulurkan tangannya ke pipi kiri pemuda itu dan berkata, “Kalau bagian depan kompleks ini kami tidak menjaminnya. Tuan hati-hati pulangnya, ya ....”


“Hmm, tentu ....” Dengan balasan singkat tersebut, Odo segera berpaling dan berjalan pergi dari depan rumah bordil tersebut. Sembari menoleh dan tersenyum tipis ke arah Madam Theodora, pemuda itu berkata, “Aku akan berusaha menyelesaikannya soal penyakit itu. Untuk sekarang Madam selesaikan saja yang bisa diselesaikan.”


“Saya paham, Tuan.”


Setelah bertukar kalimat tersebut, pemuda itu segera menatap ke depan dan segera mempercepat langkah kakinya. Dalam perjalanan pulang di sepanjang kompleks penuh kemaksiatan tersebut, sesekali Odo melihat tindak kriminal asusila pada beberapa gang kumuh.


Pelecehan, pemerkosaan, dipaksa melayani banyak pria sekaligus dan diperlakukan kasar bukanlah hal yang jarang. Bagi para wanita lacur yang terlalu rendah untuk bisa bekerja di rumah pelacuran, hal tersebut tidak terjadi satu atau dua kali saja dalam hidup mereka.


Para pria yang haus akan wanita dan tak punya uang kebanyakan melakukan hal tersebut, bekerja sama dengan rekan-rekannya dan memerkosa secara bergiliran. Menyekap, menyeret wanita asusila ke dalam gang gelap dan menyetubuhinya.


Odo yang sekilas melihat itu tidak menolong, hanya memberikan tatapan dingin dan tidak berkata apa-apa. Bahkan saat perempuan yang terbaring di atas kotak kayu dan digilir para pria menatap ke arahnya dengan harapan ditolong, pemuda rambut hitam itu sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya atau sekadar mengeluarkan suara supaya para pria itu berhenti.


“Apa tak masalah kamu tidak menolongnya, Odo?” suara Seliari berdengung di dalam kepalanya. Menghentikan langkah kaki pemuda rambut hitam itu terhenti dan menghela napas ringan, lalu segera berbalik dan kembali ke depan gang tempat pemerkosaan tersebut terjadi.


Dalam bayangan dari bangunan di kedua sisi gang, pemuda rambut hitam itu menatap dengan sorot matanya yang berubah memerah dan seakan menyala dalam gelap. Ia menggunakan teknik pemadatan Mana dengan tangan kanan, menciptakan sebuah tongkat sepanjang kurang dari dua meter yang dengan redup memancarkan cahaya biru muda.


“Oi, semuanya lihat! Siapa yang datang!” ucap seorang pria yang pertama kali melihat Odo. Dari tampangnya yang telanjang dada dan mengenakan bandana hitam, ia terlihat seperti seorang buruh yang bekerja untuk perahu nelayan besar.


Berpenampilan tak jauh berbeda dengan pria itu, keempat rekannya juga berpenampilan tak jauh berada. Mereka semua adalah nelayan miskin yang menjadikan perahu tempat mereka bekerja sebagai rumah, orang tanpa surat-surat kependudukan dan merupakan Imigran Gelap. Badan kekar berlumuran minyak, wajah sangar dan tatapan bengis. Kelima orang yang biasa mempertaruhkan nyawa di laut itu terlihat seperti binatang buas.


“Apa ini? Kenapa ada bocah sepertimu di tempat seperti ini? Kalau kau selesai bersenang-senang dengan para wanita, kenapa tak lekas pulang saja ke rumahmu, bocah sialan?”


Seorang pria yang baru saja memasukkan kejantanannya ke dalam kelamin wanita pelacur itu menatap dengan kesal. Ia kembali mencabutnya, menaikkan celana dan berjalan ke arah Odo dengan tangan kanan mengepal. Di mata Odo, mereka semua terlihat lebih rendah dari binatang dan mulai memberikan tatapan sangat jijik.


“Apa-apaan tatapan itu? Kau pikir lebih tinggi, hah! Dasar bocah tengik! Sadar tempatmu dan tak usah sok jagoan—!!”


Tampa bisa mendaratkan pukulan ke tubuh pemuda itu, pria tersebut langsung terjatuh ke tanah dan terkapar menghadap langit. Ia sama sekali tidak melihat apa yang telah dilakukan Odo kepadanya. Dengan rasa muak, ia segera bangun untuk menghajar pemuda rambut hitam tersebut.


“Bangsat! Kau bocah tengik—! UGhK!”


Odo langsung mengayunkan tongkatnya dan memukul mulut kotor pria itu sampai beberapa gigi depannya rontok. Tidak memberikan ampun, ayunan kedua mengenai tenggorokkan pria tersebut sampai membutanya tidak bisa mengeluarkan suara dan sesak napas.


Keempat pria lain langsung panik, mereka segera menaikkan celana dan berlari untuk membantu. Namun berakhir lebih cepat dari pria yang pertama, Odo membuat para pria dewasa itu babak belur hanya dengan sebatang tongkat. Mereka semua terkapar, meringkuk kesakitan di atas tanah. Sekilas Odo merasa ingin sekaligus saja menghabisi mereka. Namun karena ingin menghindari kabar aneh yang bisa mengganggu rencananya, ia memilih untuk membiarkan mereka hidup.


Tanpa mengeluarkan satu kata pun, pemuda rambut hitam itu menatap ke arah pelacur yang menjadi korban pemerkosaan. Pakaian compang-camping, tubuhnya dilumuri cairan hina dan terdapat beberapa bekas memar. Di mata Odo, posisi korban dan pelaku sendiri bisa berbalik tergantung cara melihat situasinya. Bisa saja wanita kumuh yang terduduk lemas di hadapannya tersebut adalah pelaku, yang awalnya memikat para pria karena ingin uang untuk makan.


Kembali mengamati tubuh pelacur tersebut, dirinya baru sadar kalau ia adalah seorang Demi-human tipe koala. Telinga berbulu yang lebar dan mata bulat yang unik, ciri tersebut memberitahukan Odo rasnya.


“Te-Terima kasih,” ucap pelacur itu dengan suara tergagap. Tubuhnya gemetar penuh rasa sakit, ngilu dan kedinginan.


Tanpa berkata apa-apa, pemuda rambut hitam itu mengambil Potion dari dimensi penyimpanan pada sarung tangannya. Menyodorkan itu kepadanya, ia dengan nada dingin berkata, “Minum ini ....”


Wanita rambut cokelat itu terlihat bingung, menatap tak percaya dengan apa yang disodorkan pemuda tersebut. Dengan gemetar, ia menerimanya dan tidak lekas meminum ramuan tersebut.


“Minum,” ucap Odo untuk sekian kalinya.


Wanita itu tersentak, lekas meminum ramuan tersebut sampai habis karena rasa takut. Tatapan dan aura dari pemuda itu sangat berbeda dari kebanyakan orang, lebih mengerikan dari para pria yang memerkosanya. Seakan-akan pemuda tersebut adalah seekor monster raksasa namun memiliki bentuk manusia.


Setelah menghabiskan ramuan tersebut, semua luka di sekujur tubuhnya sembuh dengan cepat layaknya ia telah mendapatkan keajaiban. Wanita lacur itu terperangah, menatap ke arah pemuda itu dan hendak berterima kasih. Namun —


Odo segera mengambil botol kosong darinya, memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan dan segera berbalik pergi dari tempat tersebut. Saat berjalan pergi, pemuda itu kembali mengayunkan tongkatnya dan membuat kelima pria pelaku pemerkosaan yang meringkuk di tanah kehilangan kesadaran mereka. Supaya wanita itu bisa pergi dari gang dengan aman.


Itu bantuan terakhir yang diberikannya, tak lebih dari itu dan Odo pun segera pergi dari gang tersebut. Ketika melihatnya pergi, wanita Demi-human tipe koala tersebut segera bangun dan membungkukkan tubuh sebagai tanda terima kasih.


“Terima kasih ... Terima kasih, Tuan .... Terima kasih,” ucap wanita itu terus menerus. Pemuda itu sekilas melihatnya membungkuk dan mendengar apa yang diucapkannya dengan lemas, namun sama sekali tidak memberikan respons.


Odo hanya menghilangkan tongkat hasil pemadatan Mana dan pergi sebelum ada orang lain melihat apa yang telah dilakukannya. Tanpa mencari tahu mengapa wanita itu sampai diperkosa, tanpa mencari tahu lebih lanjut informasi para pelaku pemerkosa atau alasan-alasan lain di balik kejadian tersebut.


Sampai pada pertigaan jalan menuju balai kota, pelabuhan, dan tempat pelacuran, pemuda itu berdiri di bawah cahaya lampu kristal di pinggir jalan. Ia menundukkan wajahnya dengan muram, merasa hina dari dalam dan kesal pada dirinya sendiri. Membuka kedua telapak tangannya sendiri dan menatap, pemuda itu menggertakkan gigi dengan rasa muak.


“Saat membicarakan idealisme tanpa mengubah apa-apa, yang keluar dari mulut hanyalah omong kosong ....”


Perkataan tersebut ia arahkan kepada dirinya sendiri. Menurunkan tangannya dan kembali melangkah, sorot mata pemuda itu dengan cepat berubah datar dan dalam benak lekas paham kalau memang seperti itulah wujud dari tempat penuh kebejatan.


Langkah kakinya terasa berat setelah dirinya memahami hal tersebut, semua gambaran yang dirinya dapat dari Spekulasi Persepsi membuatnya ingin muntah. Pemandangan menjijikkan seseorang yang jatuh sampai menjadi lebih rendah dari hewan, nasib menyedihkan dari para perempuan yang menyambung hidup dengan menjual kehormatan mereka, dan para kalangan atas yang datang hanya untuk mendapatkan kepuasan dari tempat penuh kemaksiatan tersebut.


Bagi Odo sendiri, dirinya sudah seperti mendatangi tempat tersebut sebanyak lebih dari lima belas kali menggunakan Spekulasi Persepsi. Meski hanya terjadi di dalam kepala dalam bentuk kalkulasi-kalkulasi kemungkinan, itu benar-benar membuat pemuda itu merasa muak melihat gambar-gambaran menjijikkan seperti itu berkali-kali dalam waktu singkat.


Saat melangkah termenung, tak terasa dirinya sampai di balai kota. Tempat itu benar-benar berubah sepi, hanya ada dua penjaga yang lembur dan berpatroli di sekitar tempat tersebut. Merasakan ketenangan yang ada, Odo sejenak menghirup udara segar pada waktu dini hari dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku dekat air mancur kota.


Tetapi saat dirinya hendak duduk, sebuah suara gaduh terdengar. Ia segera menoleh dan menatap lelah ke sumber suara, lalu kembali melihat pemandangan busuk dari kota pesisir yang ingin dirinya majukan. Itu bukan karena perubahan yang dibawa setelah jalur perdagangan kembali dibuka, namun sejak awal memang sudah ada dan semakin membesar seiring dengan perkembangan kota.


Di depan salah satu kantor di kompleks perkantoran yang ada di balai kota, seorang anak gadis ditendang oleh pria gendut dengan wajah bengis. Pria tersebut mengenakan pakaian yang sama kumuhnya dengan anak yang ditendang. Pria gendut tersebut merupakan seorang preman yang biasa berkeliaran saat dini hari untuk mengais sisa-sisa makanan dari tong sampah, lalu saat siang datang biasanya ia mencopet dalam keramaian menggunakan penyamaran sebagai buruh angkut kasar.


Sedangkan anak gadis yang meringkuk di atas permukaan jalan itu adalah seorang Demi-human tipe macam tutul salju, memiliki ekor besar dengan bulu lebat dan sepasang telinga yang mirip dengan tipe kucing. Rambutnya keseluruhan berwarna abu-abu, pada ekor dan telinganya memiliki pola totol-totol hitam seperti seekor Leopard. Dari gaun kusam compang-camping yang dikenakan gadis yang usianya sekitar 7 tahunan tersebut, Odo dengan cepat paham kalau ia juga seorang merupakan seorang gelandangan tanpa surat-surat kependudukan.


“Lepaskan karung ini, sialan! Bangsat! Kucing sialan! Serahkan itu padaku!” ucap pria gendut ras Demi-human tipe monyet bulu cokelat tersebut.


Pria gendut itu berkali-kali menendangi gadis yang meringkuk dan berusaha melindungi karung miliknya. Tanpa belas kasih, terus mengayunkan kakinya dan menendang. Memaksa gadis itu menyerahkan barangnya.


“Tolong ampuni aku .... Hanya ini yang tersisa untukku hidup, tolong ampuni aku. Maafkan aku, tolong .... Maafkan aku paman, tolong lepaskan aku. Ampun .... Ampun .... Sakit, jangan sakiti aku lagi ....”


“Kalau! Kau! Tak! Ingin! Aku! Tendang! Serahkan! Itu! Padaku! Dasar bedebah!” ucap pria gendut itu sembari terus menendang gadis tersebut.


Meski ada dua penjaga yang melihat kejadian itu, mereka tidak menolong dan malah berdiri di persimpangan jalan sembari mengobrol hal-hal yang tak penting. Sama sekali tidak memedulikan apa yang mereka lihat. Bagi kedua penjaga tersebut, Demi-human dan preman itu bukanlah tanggung jawab mereka karena berasal dari tempat kumuh yang bahkan tak membayar pajak.


“Siapa saja ...! Tolong .... Aku takut .... Sakit .... Tolong berhenti, ampuni aku.”


“Diam kau bocah tak berguna!”


Pria gendut itu menendang dengan sangat kencang, tempat mengenai pinggul kiri gadis itu dan membuat tubuhnya terlempar ke permukaan jalan yang keras. Gadis itu seketika sesak napas, kesulitan mengeluarkan suara dan meringkuk sampai memuntahkan darah.


Wajah gadis kecil tersebut memucat, mengulurkan tangannya ke karung yang diambil pria gendut itu dan dengan lemas memohon, “Tolong ... kembalikan .... Hanya itu yang aku punya dari mendiang ibuku. Tolong kembalikan ....”


“Diamlah kau!” Pria itu menendang wajah gadis itu sampai hidungnya berdarah, lalu dilanjutkan dengan menginjak kepalanya dan membentak, “Bicara apa kau, hah?! Kau hanya anak seorang pelacur! Anak menjijikkan! Diam saja dan mati, dasar sampah ....”


Kesabaran Odo benar-benar habis saat mendengar dan melihat apa yang dilakukan pria gendut tersebut. Dengan langkah kaki cepat ia segera menghampirinya, memegang pundak pria itu dari belakang dan berkata, “Kau yang sampah ....”


“Huh? Siapa kau bajingan—! Ugh!”


Odo langsung menghajar wajahnya saat preman itu berbalik, sampai tubuh besar pria gendut itu terbanting ke tanah dan langsung kehilangan kesadaran. Tak puas dengan itu, pemuda rambut hitam tersebut menendang wajahnya sampai beberapa gigi depan pria itu rontok.


Melihat hal tersebut, kedua penjaga yang sebelum tak peduli dengan apa yang terjadi segera datang menghampiri tempat kejadian. Mereka tidak bisa mengacuhkan perkelahian tersebut, lalu salah satu dari mereka bertanya, “Hei! Kau! Apa yang kau lakukan?!”


“Kalian buta?” Odo menatap tajam kedua penjaga tersebut, membuat mereka menggigil karena pancaran aura naga yang menggelora dari raga pemuda rambut hitam tersebut .


Kedua penjaga kota dengan lapis zirah kulit tersebut lekas mengenal wajah pemuda dari keluarga Luke tersebut, mereka pernah melihatnya di barak saat duel dengan Arca waktu lalu. Namun mengikuti prosedur yang ditekankan pemerintah kota, salah satu penjaga tersebut tetap berkata, “Maafkan kami. Meski Anda anak dari seorang Lord, Anda tak bisa seenaknya menghajar orang seperti itu. Bisa ikut kami sebentar ke kantor, kami ingin memintai Anda keterangan. Itu peraturan yang diberikan kepada kami, Tuan.”


Odo terdiam mendengar omong kosong tersebut, merasa muak dengan prosedur cacat dan peraturan-peraturan memuakkan yang mereka bicarakan. Menarik napas dalam-dalam dan memasang ekspresi dingin, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Nama dan peleton kalian?”


“Heh?”


“Sebutkan nama dan peleton kalian!!”


Mereka langsung tersentak gemetar, melangkah mundur tanpa menjawab dan mulai takut apa yang akan pemuda itu lakukan setelah mengetahui informasi tersebut. Saling menatap satu sama lain, kedua penjaga tersebut merasa tak ingin mendapat repot karena masalah seperti itu.


“To-Tolong jangan marah, kami hanya ingin meminta keterangan ....”


Putra dari keluarga Luke itu tidak mendengarkan ucapan penjaga tersebut. Ia berjalan ke arah gadis kecil yang meringkuk kesakitan di jalan, lalu segera membopongnya dan kembali menghela napas penuh rasa resah. Melirik ke arah kedua penjaga tersebut, Odo dengan tegas memerintah, “Bawa pria di sana dan penjarakan dia, kalian yang tak becus melindungi penduduk pasti bisa melakukan hal semudah itu, ‘kan?”


““Si-Siap!””


Dengan patuh, kedua penjaga tersebut segera melaksanakan perintah tersebut. Mereka dengan jelas tahu mengapa putra dari keluarga Luke itu terlihat sangat marah, mengerti belul alasannya karena sedari tadi mereka berdua hanya mengacuhkan apa yang sedang terjadi karena peraturan yang diterapkan pihak pemerintah.