
Berjam-jam waktu berlalu dan pembicaraan selesai tepat pada pukul dua pagi. Sembari beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi, Odo berkata, “Kalau begitu, kami pamit dulu.”
“Ya, hati-hati di jalan, Tuan,” ucap Theodora.
Mata Odo terlihat kosong saat meninggalkan tempat duduk. Sebelum pergi dari ruangan dan baru mengambil dua langkah dari tempat duduk, tubuh pemuda itu langsung ambruk dan jauh ke lantai. Ia terbaring tengkurap, sama sekali tidak bergerak dan terlihat seperti mayat.
Suasanya senyap sekilas terasa aneh dan membuat Theodora panik. Mata wanita itu yang tadinya mengantuk mulai terbuka lebar, segera bangun dari tempat duduk.
“Tu-Tuan Nigrum?” cemas Theodora.
“Ah, sudah lebih dari 15 jam, ya ....”
Vil bangun dari tempat duduk, menatap datar pemuda rambut hitam yang terbaring seperti mayat di lantai itu. Menghela napas satu kali, ia menghampiri dan menggendong pemuda itu tanpa berkata apa-apa ataupun panik.
Melihat itu Theodora bertanya, “A-Apa dia baik-baik saja?”
“Tenang saja, dia baik-baik saja.”
Vil berbalik, menatap datar ******* tersebut dengan wajah tak ramah. Memang sedari tadi dirinya hanya diam dan tidak ikut campur dalam pembicaraan, namun dari lubuk hatinya Vil memang merasa tak suka dengan Theodora karena wanita itu hanya berniat memanfaatkan rencana Odo untuk keuntungannya sendiri.
Sebagai seorang wanita Theodora paham tatapan macam apa itu. Menyipitkan matanya, ia bertanya, “Kau, siapanya Tuan Nigrum? Dari tadi diriku ingin tanya tapi tak sempat .... Sepertinya engkau sangat dipercayainya sampai-sampai diajak ikut pembicaraan ini.”
“Hmm, bagaimana menjelaskannya, ya.” Vil sekilas memalingkan pandangannya, ia tidak pernah memedulikan hal seperti itu sebelumnya. Namun mempertimbangkan pertanyaan yang terlontar dari Theodora , dalam benak Roh Agung tersebut merasa sesuai sifat duniawi yang tidak biasa. Menyeringai sombong, ia berkata, “Anggap saja diriku adalah calon Gundik pemuda ini.”
“Gundik?” Theodora tersenyum seakan menertawakan pernyataan itu. Memegang dagu dan menatap sombong, ia bertanya, “Kau tak mengincar posisi istri utama? Apa kau tidak percaya diri?”
Tersenyum kecil, Vil menjawab, “Posisi itu kurasa sudah cukup bagiku. Dan juga ....”
Gelembung-gelembung mulai bermunculan di sekitar Vil, melayang di udara bersama dengan aura biru azure miliknya. Menatap ******* tersebut dengan penuh nafsu membunuh, ia memperingatkan, “Sebaikanya kau tak berpikir untuk mengincar Odo. Kau bukan wanita yang pantas untuknya .... Kalau saja berani menodainya dengan tubuh menjijikkanmu itu, akan kupastikan kepalamu menjadi pajangan di balai kota.”
Theodora hanya bisa terdiam membisu bersama kedua algojonya. Tekanan sihir perempuan rambut biru itu sangat tak wajar, melebihi kapasitas yang bisa dimiliki manusia. Pada saat itu dirinya baru sadar kalau sosok tersebut adalah seorang Roh.
««»»
Odo membuka matanya dengan berat, merasa nyeri pada beberapa sendi dan panas seakan menjalar di sekujur tubuhnya. Tanpa berpikir dua kali, ia sadar kalau sedang demam. Menarik napas dalam-dalam, ia segera menggunakan Aitisal Almaelumat yang dikombinasikan dengan sihir internal untuk menghapus semua unsur yang membuatnya demam.
“Mark all, delete,” gumam Odo.
Segera duduk di atas tempat tidur, ia mengamati sekitar dan paham sedang berada di dalam kamarnya pada penginapan Porzan. Melihat ke arah jendela, sinar yang masuk membuatnya sedikit menyipitkan mata dan paham telah tidur cukup lama sampai hari sudah mulai siang.
“Vil, ayo lanjut ke—?”
Perkataan Odo terhenti. Saat dirinya hendak turun dari ranjang, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang empuk. Sekilas ia merasa telah menyentuh buah terlarang. Namun saat menoleh dan memastikan kalau itu bukan seperti yang dikira, ia menarik napas lega. Itu hanya tangan Vil, ia dari tadi tidur di sebelahnya dengan lelap.
Rambut biru perempuan itu terurai kusut, menjalar liar di tempat tidur seperti garis air yang mengkilat terpapar sinar matahari. Kulit pucat yang terlihat sangat halus serta pakaian yang kusut, membuat bagian-bagian penting darinya sedikit terekspos. Melihat semua itu, sekilas hasrat untuk menjamah muncul dalam benak pemuda rambut hitam tersebut.
“Odo ....”
Suara lembut Vil yang memanggil namanya membuat rasa seperti itu hilang. Segera memalingkan pandangan, pemuda itu turun dari tempat tidur dan meregangkan tubuh. Menarik napas dalam-dalam dan benar-benar membuang hasrat seperti itu, ia segera berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaian. Namun sebelum sampai, suara pintu diketuk terdengar.
“Hmm?” Odo menoleh.
“Permisi, Tuan Odo. Saya ingin mengambil pakaian kotor Tuan untuk dicuci.”
Odo kenal pemilik suara itu. Mengurungkan niat untuk berganti pakaian, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Iya ...?”
Di depan pintu berdiri seorang pelayan penginapan dengan gaun hijau dan celemek putih. Rambutnya berwarna cokelat kepirangan, dengan sorot mata cokelat khas. Ia membawa sebuah keranjang rotan kosong untuk wadah.
Sekilas membungkuk sebagai tanda hormat, ia berkata, “Tuan, saya diminta untuk mengambil pakaian Tuan dan mencucinya. Karena Tuan salah satu pelanggan khusus, Owner memberitahu saya untuk juga mengurus keperluan harian Tuan.”
“Hmm, tak masalah?” Odo membuka pintu lebar-lebar, lalu menatap ragu dan berkata, “Aku hanya membuat kontrak pinjam kamar, loh.”
Ia tersenyum ringan, lalu dengan ramah berkata, “Owner bilang itu tak masalah. Katanya ini hanya pelayanan tambahan.”
Odo sedikit geser dari depan pintu, membiarkan pelayan penginapan itu masuk dan membuka lemari pakaian. Saat melihat isinya, pelayan tersebut terlihat terkejut. Menatap Odo, ia bertanya, “Kenapa semuanya kemeja putih dan celana hitam? Dan juga ... sarung tangan? Anda suka sekali pakaian seperti ini, ya?”
“Hmm, tidak juga .... Aku mengenakan itu karena nyaman.”
“Berarti Anda suka, dong.”
Pelayan itu mulai merapikan pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam keranjang. Selesai mengambil semua pakaian kotor milik Odo dan menyisakan dua set pakaian, pelayan itu menghadap ke arahnya.
“Hmm, Anda benar-benar anak dari keluarga Luke itu, ya ....”
“Hmm? Bukannya aku sudah pernah bilang itu?”
“Teman saya ada yang bekerja di sana.” Pelayan penginapan tersebut berjalan menekati Odo, menatap dari dekat dan berkata, “Katanya Tuan Odo itu masih anak-anak dan pendiam, saya tak percaya kalau Anda benar-benar Luke sampai Nona Minda datang bersama Anda.”
Sikap sedikit agresif seperti itu membuat Odo sedikit canggung. Memalingkan pandangan, ia bertanya, “Apa kau dekat dengan Mbak Minda?”
“Kami teman dekat!” jawab pelayan penginapan langsung. Melangkah dua kali ke belakang, ia dengan percaya diri berkata, “Kalau Nona belanja bulanan bersama rekannya, ia selalu mengajak saya.”
“Hmm .... Begitu, ya.”
“Ya, begitulah ....” Berputar dengan tumpuan satu kaki dan berbalik dari Odo, dengan ceria ia berkata, “Saya pamit dulu, Tuan.”
“Ya ....”
Pelayan itu pun pergi dan pintu ditutup kembali. Odo sekilas merasa kalau kedatangan pelayan tadi bagaikan badai, karakter seperti itu adalah salah satu yang pemuda itu sulit tangani. Agresif, ceria dan ramah, ketiga sifat positif yang bisa dikatakan cukup bertentangan dengan pola pikir Odo.
“Kuharap dia juga diberitahu supaya tidak membuka kamar itu,” benak Odo.
“Odo ....?” Vil bangun, segera duduk dan mengusap sebelah matanya dengan lengan.
Mendengar suara itu, Odo segera berbalik dan berkata, “Oh, sudah bangun?”
“Hmm ....” Roh Agung itu mengangguk ringan.
Segera tersenyum dan berhenti memikirkan hal yang tidak perlu, Odo mengajak, “Kalau begitu, ayo pergi lagi! Masih banyak kegiatan.”
“Eng, sibuk sekali sih kamu ....” Vil masih terlihat lemas, menatap datar dan kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Sembari memejamkan mata, ia berkata, “Gak capek? Habis pulang pagi kamu, loh. Mau berapa kali kamu ingin pingsan seperti tadi malam?”
Odo tersenyum ringan. Naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah kepala Vil berbaring, pemuda itu mencubit pipinya dan berkata, “Ayo ... Ini harinya. Kalau mau libur setelah ini selesai.”
Vil sedikit membuka kedua matanya, menatap malas dan tetap tidak mau bangun. “Ah, rencana yang mana, ya? Kamu punya banyak rencana sampai pusing diriku,” keluh Vil, ia membiarkan Odo menarik-narik pipinya.
“Sudahlah, jangan mengeluh. Penyihir itu mungkin sudah menunggu di gerbang kota.”
“Ah, dia ya. Kalau tidak salah namanya Canna? Dia ....”
“Kenapa?”
“Eng, tak apa.” Vil mendorong Odo dengan pelan dan berkata, “Mundur dulu ....”
“Hmm?”
Setelah Odo turun dari tempat tidur, Vil akhirnya bangun. Ia duduk di atas ranjang dengan penampilan masih urakan. Menarik napas dalam-dalam, aura sihir terpancar darinya. Gelembung-gelembung air tercipta dari Mana yang tersebar, menata rambut dan pakaiannya dengan cepat. Selesai merapikan diri dengan sihir khususnya, ia mengeringkan pakaian dan tempatnya duduk dengan memanipulasi air yang meresap pada kain dan kembali menjadikannya Mana untuk diserap ke dalam tubuh.
“Wow, praktis.”
“Odo juga mau?”
“Hmm, tentu saja ....”
Setelah itu, Vil pun membersihkan tubuh Odo dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya ia gunakan pada dirinya sendiri. Karena pada dasarnya tubuh pemuda itu selalu bersih berkat karakteristik khusus, apa yang sebenarnya Vil bersihkan hanyalah pakaian pemuda itu.
“Hmm, ayo kita pergi ....” Odo berbalik, berjalan ke arah pintu dan hendak keluar.
“Tunggu, Odo ....”
Langkah kaki pemuda itu terhenti, segera menoleh dengan ekspresi datar. “Ada apa?” ucapnya.
“Kamu ingin menggunakan cara apa untuk menyelamatkan penjahat itu? Meski memang berat bagi istrinya, diriku masih merasa pemimpin bandit itu pantas mendapat hukuman yang setimpal.”
“Ah, caraku, ya.”
Odo membuka sarung tangan kirinya, lalu meletakkan telapak tangan kiri ke wajah. Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, ia mengangkat telapak tangan dan postur wajahnya pun berubah. Wajah pemuda itu terlihat bukan seperti Odo Luke, namun pria tua dengan jenggot tipis dan benar-benar berbeda dengan sebelumnya.
Kembali meletakkan telapak tangan ke wajah, Odo mengembalikan bentuk wajahnya. Sembari memakai telapak tangan, ia menjelaskan, “Kekuatanku sudah mulai kembali. Dengan mengombinasikannya dengan Aitisal Almaelumat, mengubah bentuk wajah dan mematenkannya juga bisa kulakukan.”
“.....”
Vil hanya terdiam, menatap datar dengan raut yang benar-benar tidak suka dengan hal seperti itu. Meski tidak dijelaskan dari mulut Odo langsung, dirinya paham bagaimana cara Odo akan menolong pemimpin bandit dari eksekusi. Itu sangat sederhana, seperti halnya menggantikan sebuah peran dalam drama panggung.
««»»
Matahari telah melewati titik tertingginya dan perlahan mulai turun. Di bawah paparan sinar hangat, Odo dan Vil berjalan di antara keramaian balai kota. Lalu-lalang tempat tersebut lebih ramai dari hari sebelumnya, terasa lebih hidup dengan kesibukan para penduduk kota.
Menepuk pundak Odo dari belakang, Vil bertanya, “Kenapa malah ke sini? Bukannya kita harusnya ke gerbang kota?”
“Hmm, kita jemput Nanra dulu .... Dia perlu ikut.”
“Eh?”
Langkah kaki Vil terhenti di tengah keramaian, ia benar-benar bingung mendengar hal yang sangat bertentangan tersebut. Saat Odo menoleh ke arahnya, Vil bertanya, “Kenapa ... malah kamu mengajaknya? Kalau dia tahu kamu ingin menyelamatkan bandit, bukannya dia malah akan ....”
Memasang ekspresi datar dan tatapan kosong, Odo dengan jelas menjawab, “Aku tahu. Karena itu aku mengajaknya. Dia ..., Nanra harus bisa menghadapi hal seperti itu. Jika memang dia sungguh-sungguh ikut rencanaku dan ingin berubah, dia harus menerima semua ini.”
Vil sedikit menganga, benar-benar tidak mengerti kenapa pemuda itu susah-susah melakukan hal semacam itu. Menatap heran, ia menyinggung, “Odo, kamu .... Apa kamu hanya ingin membalasnya? Karena dia menusukmu dan secara tidak langsung mengkhianatimu, jadi kamu membalasnya dengan cara seperti ini?”
Odo hanya tersenyum kecil, tidak menjawab dengan jelas hal tersebut. Berbalik dan kembali berjalan, ia berkata, “Ayo! Si Nanra seharusnya sedang di pelabuhan .... Dia suka kabur dari panti asuhan soalnya.”
Sebelum Vil kembali melangkahkan kaki dan mengikuti Odo, pemuda itu terhenti menatap ke salah satu gedung. Itu adalah kantor instansi pusat pemerintahan kota Mylta. Di sana terlihat seorang perempuan yang tak asing dan cukup mencolok dengan rambut merahnya.
“Kita mampir dulu ke sana, yuk!” ajak Odo seraya menoleh ke arah Vil.
Menghela napas ringan, perempuan itu menyibak rambutnya dan memalingkan pandangan ke arah tempat yang mencuri perhatian Odo. Melirik ringan, ia bertanya, “Mau ketemu Walikota pengganti itu?”
“Hmm, ada sesuatu yang ingin kupastikan. Mumpung orangnya ada ....” Odo kembali menatap ke tempat tersebut.
“Hah, terserah saja. Tapi jangan lupa waktu, penyihir yang kamu sewa bisa-bisa menung— A!”
“Kalau begitu, ayo! Jangan buang-buang waktu!”
««»»
Senja kemerahan menyinari daerah pelabuhan. Keramaian para nelayan yang mempersiapkan pelayaran nanti dini hari memenuhi sekitar dermaga. Mereka membawa beberapa barel minuman, kotak-kotak kayu berisi persediaan makanan dan mempersiapkan jaring mereka untuk berlayar dalam jangka waktu panjang.
Di antara keramaian tersebut, ada juga seorang penyihir yang merupakan anggota dari Guild Kota, ia disewa oleh salah satu kelompok pelayan — meminjam jasa sihir esnya untuk mengawetkan hasil laut supaya tidak cepat membusuk.
Di antara ramainya persiapan berlayar jangka panjang kapal-kapal besar, ada juga nelayan-nelayan dengan perahu layar kecil yang baru saja selesai memancing ikan di laut yang baru saja mencair. Mereka naik ke sisi lain dermaga yang masih kosong, mengangkat hasil tangkapan yang kebanyakan hanya satu atau dua ekor ikan besar jenis swordfish dan tuna.
Pada sudut lain pelabuhan, di dekat gudang penyimpanan terlihat beberapa orang dari Serikat Dagang Lorian dan konglomerat kekaisaran yang sedang tawar menawar. Mereka membahas tentang masalah distribusi, cara pengawetan dan harga hasil laut segar yang baru saja dibawa para nelayan.
Ada juga dari mereka yang menggunakan sistem kontrak pesan kepada kapal-kapal besar yang baru saja akan berlayar. Dengan melakukan pemesanan awal seperti itu, para pembeli bisa mendapat harga lebih murah dan para nelayan juga tak perlu mencari orang untuk membeli hasil tangkapan mereka setelah kembali.
Di sudut keramaian dermaga tersebut, Narna bersandar pada pagar pembatas dekat laut. Ia menutup buku besar tentang akuntansi dasar yang dipinjamnya dari perpustakaan kota, lalu menatap ke arah orang-orang yang sibuk dengan kegiatan perniagaan. Sekilas memejamkan mata, dirinya paham apa yang ada di hadapannya sekarang adalah hasil dari kerja keras pemuda rambut hitam yang pernah dirinya tusuk.
Membuka mata dengan wajah penuh rasa bersalah, ia bergumam, “Padahal baru beberapa bulan aku kenal dia, tapi ... tempat ini sudah banyak berubah. Tahun kemarin ada satu atau dua pedagang dari negeri lain saja sudah dianggap banyak pembeli, namun sekarang ....”
Para pembeli dari negeri lain sangatlah banyak jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Bukan hanya itu, pedagang lokal dari kota dan wilayah tetangga juga berdatangan untuk membeli hasil laut dari kota Mylta yang memang dulu terkenal saat masa Perang Besar. Bebasnya rute berdagangan sangat berdampak besar. Entah itu memang bersifat regresif atau progresif bagi perekonomian dan aspek-aspek lain, yang pasti ada sebuah perubahan jelas di pelabuhan kota pesisir tersebut.
Berhenti bersandar, anak gadis dengan rambut putih itu beranjak dari tempat dan berniat mengembalikan buku ke perpustakaan. Sejak dirinya mendapat pengetahuan dari Odo, ada beberapa hal yang berubah pada sudut pandangnya. Nanra tidak lagi terpaku pada kalangan atas atau bawah, ia mulai menganggap semua itu menjadi tidak penting.
Menundukkan kepala dan terus berjalan, ia berbenak, “Dunia memang seperti ini .... Dari awal sudah kejam. Tidak ada bedanya dengan hukum rimba, yang kuat selalu saja memangsa atau menguasai yang lemah. Namun ..., memang ada beberapa hal yang baik, ada sesuatu yang indah dan pantas dipertahankan. Odo hanya berpegang teguh pada itu, karena itulah dia memaafkan orang lain. Karena itulah dia melindungi, karena itulah dia melangkah maju.”
Menghentikan kaki dan mendongak ke arah langit kemerahan, Nanra memasang wajah sedih karena tetap merasa hampa. Dirinya memang memahami penuh apa yang ingin Odo tuju, namun apa yang didapatnya dari kontrak yang terasa semu tersebut tidak bisa memberikan alasan yang jelas.
“Apa ... memang benar seperti ini? Aku berubah, hanya dari segi pengetahuan dan sedikit sifat saja. Aku merasa sedikit dewasa .... Namun ..., kenapa malah tambah hampa rasanya?”
“Nanraaa!”
Seseorang memanggil namanya sebelum dirinya selesai memikirkan itu. Melihat ke arah orang yang datang ke arahnya, dalam benaknya terasa hal aneh. Detak jantung berdebar kencang, tak terkontrol, tubuh mulai terasa hangat dan ingin segera menyaut pemuda yang datang tersebut.
Namun paham kalau dirinya tak pantas, Nanra mengurungkan niat dan hanya membalas dengan senyum kaku. Anak gadis itu hanya berdiam pada tempat seraya memeluk buku besar yang dibawanya.
“Hah! Untung sempat!” ucap Odo setelah sampai di depan Narna. Di belakang pemuda itu berdiri Vil, menatap datar ke arah gadis kecil itu seakan memancarkan aura permusuhan.
Menatap mata Odo, Nanra kurang lebih tahu alasan Odo datang. Menarik napas dengan sedikit resah, ia berkata, “Aku belum selesai belajar semuanya, loh. Seperti yang kamu katakan, Odo. Meski aku sudah punya pengetahuan, tubuhku perlu membiasakannya. Aku harus membiaskan diri menghitung cepat dengan rumus-rumus yang kamu beritahu, harus membaca ulang cara-caranya, dan melakukan prakteknya.”
Odo sedikit terkejut mendengar itu, sekilas ia melihat sampul buku yang dibawa Nanra. Tersenyum ringan karena anak gadis itu benar-benar mau belajar dan sungguh-sungguh dengan hal tersebut, Odo menarik napas lega. Menepuk kepalanya satu kali, Odo berkata, “Ah, aku datang bukan untuk itu.”
“Hmm ...?” Menatap bingung, Nanra bertanya, “Memangnya ada hal penting lain? Bukannya kau bilang kemarin kalau ini prioritas? Aku harus belajar akuntansi supaya bisa bantu-bantu di kantor yang akan kamu buat, Odo?”
“Hmm, itu juga penting.” Pemuda rambut hitam tersebut sekilas memalingkan pandangan, melihat ke arah para nelayan yang sedang tawar menawar dengan pedagang. Menghela napas ringan, ia kembali menatap Nanra dan berkata, “Tapi ... ada hal penting lain yang harus kamu lakukan.”
“Hal lain?”
“Ya .... Ulurkan tanganmu.” Odo melepas sarung tangan kanannya.
“Eh, apa?”
Tanda menunggu Nanra siap, pemuda rambut hitam tersebut langsung menjabatnya dan mengirimkan rincian informasi apa yang dimaksudnya hal penting. Seketika Nanra terbelalak, benar-benar menganga dan tak percaya Odo akan melakukan hal semacam itu.
Nanra langsung menarik tangan dari genggaman pemuda itu, melangkah mundur dan hampir menjatuhkan buku yang didekapnya. Dengan gemetar, ia berkata, “O-Odo ... kamu .... Sungguh ingin melakukan ini? Di-Dia penjahat, loh! Meski kau anak seorang Marquess, hal seperti itu sudah sangat keterlaluan! Kau ....”
“Apa ... kamu akan menentangku? Ada setuju? Bukannya sebelumnya kau bilang akan mengikutiku apapun yang kutuju?”
“Itu ... memang benar. Tapi! Ini ...”
Nanra kehabisan kata-kata, itu terlalu tiba-tiba dan tidak masuk akal. Rasa benci anehnya tidak terasa dalam benak, hanya ada hasrat ingin percaya pada Odo yang membuatnya tidak langsung mengambil keputusan.
“Apa mau berhenti?” tanya Odo. Menatap datar, ia kembali menegaskan, “Aku tidak memaksa. Tapi kalau berhenti, aku akan menghapus pengetahuan yang kuberikan padamu. Yah, kurasa itu lebih nyaman untukmu, bukan? Banyak pengetahuan itu bukan berarti tambah ringan, itu juga menambah beban kewajiban.”
“Tu-Tunggu ...!” Nanra melangkah mundur sebelum tangannya kembali diraih oleh Odo. Menatap penuh rasa ragu, ia bertanya, “Boleh ... aku tahu alasannya? Kalau alasannya bisa diterima, aku ... pasti juga akan percaya!”
Odo menurunkan tangan, menatap datar dengan sorot mata biru gelapnya. Sekilas kornea matanya berubah hijau, menganalisis apa saja yang akan terjadi nantinya jika ia membawa Nanra ikut.
Menarik napas lega karena mengetahui hasil yang ada, ia berkata, “Alasannya sederhana, aku hanya ingin kekuatan penjahat itu. Aku perlu memanfaatkannya dan membuatnya tidak bisa membantah perintahku, karena itu aku mengamankan istri dan anaknya.”
“Bukannya itu ....”
“Perbuatan jahat? Huh, kau tahu, apa yang aku lakukan tidaklah selalu baik dan bersih. Terkadang seorang yang lebih tahu dari yang lain perlu melakukan ini.”
“Odo .... kau ...”
Nanra benar-benar ragu untuk setuju. Memang apa yang direncanakan Odo ada masuk akalnya. Untuk menghadapi perang yang akan datang, mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin sangatlah penting. Namun Nanra tidak mengira kalau Odo akan sampai mengincar seorang penjahat untuk dijadikan kekuatannya.
“Jadi, apa jawabanmu, wahai mantan gadis desa?”
Meski dilanda keraguan dan membuatnya memikirkan sampai beberapa kali, pada akhirnya Nanra setuju dengan usulan tersebut dan ikut dalam kejahatan yang akan dilakukan Odo. Dirinya memang membenci bandit, namun apa yang dirinya lebih benci adalah melakukan sesuatu yang membuat keadaan bertambah buruk.
Mengesampingkan rasa egois seperti saat dirinya dengan bodoh percaya pada orang-orang Moloia, Nanra kali ini memilih setuju dengan apa yang hendak Odo lakukan.
“Baiklah .... Kalau itu memang rencanamu, aku ikut, Odo .... Aku akan berusaha percaya padamu.”
Jawaban itu sudah Odo ketahui sejak awal, susunan kata-kata yang dilontarkannya pada Nanra hanya sebuah faktor pendorong supaya gadis itu menjawab lebih cepat. Menatap datar, pemuda rambut hitam itu memalingkan pandangan ke arah para nelayan dan pedagang.
“Mereka ditipu karena tak tahu,” gumam Odo.
“Eh, ditipu?” tanya Nanra.
“Hmm, enggak. Ayo ke gerbang kota! Anggota terakhir sudah menunggu di sana!”
Tanpa memedulikan rasa penasaran Nanra, Odo kembali mengenakan sarung tangannya dan menggandeng gadis kecil tersebut. Nanra hanya mengikuti, penuh rasa ragu dan penasaran pada apa yang dipilihnya tersebut.
««»»
Meski hari sudah benar-benar sore, keramaian masih tidak berkurang pada sekitar gerbang utama kota. Tempat tersebut menjadi salah satu pusat orang-orang berkumpul, beberapa transaksi kecil dan pemeriksaan dilakukan di sekitar gerbang sampai membuat macet. Kereta kayu kargo yang ditarik oleh kuda sebagian ada yang tak bisa masuk, lalu pada akhirnya para pemiliknya menjual dagangan mereka di luar kepada pedagang lain.
Pada salah satu sudut keramaian yang ada, duduk meringkuk seorang penyihir berjubah kebangsaan Miquator. Perempuan rambut putih dengan tatanan kepang tunggal itu terlihat seperti anak hilang, duduk menunggu berjam-jam dan mulai mendapat tatapan tak sedap dari lalu-lalang orang-orang. Ia adalah Ahli Sihir dengan gelar Expert Tingkat Kedua, Canna Miteres. Ahli dalam sihir Alkimia, kegelapan, gravitasi, dan pendeteksi.
“Dia .... Lama sekali. Memang benar kebiasaan Ayahanda itu membuat orang lain menunggu. Yah, kalau menunggu berarti dirinya akan datang memang tidak masalah, sih. Tapi .... Ah, sudahlah! Tunggu lima menit lagi .... Lima menit.”
Ia merajuk. Canna sudah mengatakan itu hampir puluhan kali sejak tiga jam lalu, akan menunggu lima menit lagi namun nyatanya ia sampai menunggu sampai empat jam dari waktu yang dijanjikan. Tambah meringkuk dan memasukkan wajahnya ke sela kedua lututnya, Canna sampai mendapat tatapan cemas dari salah satu penjaga yang sedang sibuk memeriksa visa masuk kota para pedagang.
Salah satu suara langkah kaki di tengah keramaian terasa mendekat, getarannya dapat terasa berbeda dengan yang lain. Mengangkat wajah dan menatap, di hadapannya berdiri seorang pemuda yang parasnya selalu membuatnya merasa rindu. Meski tahu itu hanyalah perasaan dari versi lain dirinya, Canna tetap menganggap perasaan itu miliknya sendiri.
“Aya—”
Perkataannya terhenti saat melihat Nanra dan Vil ikut di belakang pemuda rambut hitam tersebut. Mengusap mata yang berkaca-kaca, ahli sihir itu bangun dan menatap dengan kesal. Wajahnya cemberut, keningnya mengerut dan pipinya memerah.
“Hmm, maaf .... Aku telat.”
“Ini sudah bukan telat lagi!” ucap ketus Canna. Menatap datar dengan sorot ungu, ia menggerutu, “Kenapa sih kamu bisa membuat perempuan menunggu sampai empat jam lebih!”
Sedikit memalingkan pandangan, Odo beralasan, “Sungguh, maaf. Aku ada kegiatan lain tadi. Ada beberapa hal yang perlu aku periksa.”
Canna kembali menggerutu, Menyebalkan!” Memalingkan wajahnya dengan cepat, ia berucap, “Padahal anak Marquess, tapi rasa tanggung jawabmu lemah, Tuan Odo!”
“Anak Marquess tak ada kaitannya ....”
“Ada!”
Odo sesaat terdiam mendapat tatapan tajam dari ahli sihir tersebut. Memalingkan pandangan dengan ekspresi datar, ia dengan malas berkata, “Iya, ya .... Aku minta maaf. Sungguh tadi ada keperluan.”
“Keperluan apa?” Canna melihat gadis kecil dan perempuan rambut biru di belakang Odo. Sadar kalau ada yang bertambah, ia bertanya, “Mengajak anak itu?”
“Hmm, ini salah satunya.”
“Salah satunya lagi?” tanya Canna penasaran.
“Memastikan batas waktunya .... Sepertinya, kita hanya punya satu minggu saja.”
“Hmm, singkat, ya.” Ahli sihir itu tidak terkejut dengan batas waktu. Itu masih tergolong lama untuk mencari satu orang.
Menarik napas dalam-dalam dan menatap Canna, Odo bertanya, “Oh, ya, Kudanya sudah siap?”
“Hmm ....” Canna mengangguk ringan. Menunjuk ke arah gerbang yang ramai, ia menjawab, “Saya sudah menyewanya. Itu sudah diparkir di luar gerbang dari pagi .... Sepertinya memang tempat ini akan semakin ramai sampai malam.”
“Benar juga.” Odo menatap ke arah gerbang, mengamati keramaian yang didominasi oleh pedagang. Memahami tujuan mereka datang, sekilas Odo membayangkan seberapa sibuk Lisia sebagai Walikota Pengganti mengurus semua administrasi yang ada.
“Apa tidak masalah tak perlu bawa kusir?” tanya Canna. Penyihir yang membawa tongkat sihir itu mendekat, menatap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
Sekilas perhatian Odo terarah pada tongkat kayu hitam sepanjang dua meter dengan tertanam bola kristal sebesar bola pingpong. Itu berwarna ungu, melambangkan kehancuran dan kematangan. Sekilas membuat pemuda itu mengingat seseorang yang dirinya ingat dalam ingatan yang didapatnya dari Raja Iblis.
“Bagaimana? Apa perlu sewa kusir? Saya rasa masih ada yang bisa disewa,” ucap Canna kembali.
“Eng .... “ Odo menatapnya, tersenyum kecil dan berkata, “Tak usah, sekalian aku belajar bawa kereta kuda.”
“Eh?! Belajar?! Anda belum pernah bawa?” Canna sedikit panik dan cemas mendengar itu
“Naik kuda saja jarang ....”
“Eeeh, meragukan Rasanya malah cemas.” Ahli sihir semakin memasang wajah enggan. Menatap penuh dengan rasa ragu, ia berkata, “Kalau jatuh ke jurang bagaimana? Bukannya malah susah nanti?”
“Kurasa tidak akan, aku percaya diri pada kemampuan belajarku.”
“Eng, terserahlah .... Kalau bekal, apa sudah siap?”
“Kurang lebih, di sini sudah ada.” Odo mengangkat lengan, menunjukkan Gelang Dimensi yang dipakainya.
“Oh, sihir dimensi itu ....”
Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Odo segera berbalik dan mulai berjalan ke arah gerbang utama kota. Sedikit melirik, ia mengajak, “Kalau begitu, ayo! Waktu kita sedikit.”
“Eh? Ah ..., tunggu ....”
Canna dengan panik segera mengangkat tas besar berisi perlengkapannya. Sekias Odo sempat terkejut melihat jumlah barang-barang yang dibawa Canna, itu terlihat seperti orang mau pindahan rumah.
Pindah menatap ke arah dua orang yang lain, Odo berkata, “Nanra, Vil, ayo!”