Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 60 : Aswad 7 of 15 “Un/To See” (Part 02)



 


 


Putri Ulla berjalan mendekat, berdiri di hadapan pemuda itu dan menawarkan tangan kanannya ke depan. Melihatnya sedekat itu, sekilas Odo memasang senyum tipis dan merasakan denyut yang terasa asing dalam benak. Dari semua makhluk dengan basis Korwa yang pernah dirinya temui, hanya perempuan di hadapannya itu yang sama sekali tidak menunjukkan gelagat mendambakan Odo.


 


 


Memang sebelumnya pemuda itu merasakan ciri tersebut pada Putri Ulla, namun itu hanya sesaat. Meraih tangan perempuan rambut ungu tersebut, Odo menyalurkan informasi tentang semua hal yang harus dilakukan Putri Ulla nanti setelah kembali ke kerajaan Moloia. Semua informasi itu mengalir layaknya arus yang tenang, begitu dalam dan membuat tubuh perempuan itu mengalami sebuah halusinasi seakan tenggelam ke dalam sebuah palung di tengah laut.


 


 


Saat proses perpindahan informasi selesai dan Odo mengangkat tangannya dari telapak tangan Putri Ulla, perempuan itu tersadar dengan keringat dingin mencucur keluar. Tubuhnya gemetar, merasakan betapa menakutkannya tenggelam dalam lautan informasi.


 


 


“Kau tak apa-apa? Wajahmu pucat, loh.”


 


 


“Tadi rasanya seperti tenggelam di tengah laut ..., tanpa pegangan dan kedua tangan serta kaki dirantai.”


 


 


“Hmm, ternyata kau juga mengambil perumpamaan seperti itu.”


 


 


Odo sekilas memalingkan pandangan, melihat ke arah kapal yang telah hancur di sebelah dan menghela napas ringan. Setelah mendapat Faktor Aktivasi. pemuda itu bisa merasakan objek-objek yang berada dalam pengawasan Mahia Sistem. Salah satunya adalah reaktor sihir yang telah rusak di sana.


 


 


Kembali menatap ke arah Putri Ulla, pemuda rambut hitam itu memastikan, “Padahal tadi sudah diselaraskan dulu informasinya supaya tubuhmu tak terbebani, loh. Selain sensasi tenggelam, tidak ada efek samping lainnya, ‘kan?”


 


 


“Diriku ini rasa tidak ada ....” Putri Ulla segera mengusap keringat dingin dengan jubah kamuflase yang dipakainya, memasang senyum kecil dan kembali berkata, “Tadi memang hanya sedikit mengejutkan. Tak diriku ini sangka lautan informasi seseram itu.”


 


 


“Begitu, ya?” Odo berbalik, melangkah kakinya menjauh sembari berkata, “Urusanku di sini selesai, kau kembali ke kerajaan Moloia dan lakukan rencanaku. Selesaikan itu pada musim gugur nanti, lalu tahap kedua akan kita dimulai. Kemungkinan besar aku juga akan menyeret orang dari kekaisaran, jadi usahakan jangan bawa dendam pribadi ....”


 


 


Mendengar perkataan tersebut, sekilas Putri Ulla memasang ekspresi muram. Ketika dirinya masih sebagai Or’iama dan belum mendapat status sebagai Selir Raja, peperangan jangka panjang melawan kekaisaran Urzia cukup membawa kenangan buruk baginya. Mendengar Odo memperingatkan untuk tidak membawa urusan pribadi, Putri Ulla merasa kalau pemuda itu serasa bisa melihat isi hati seseorang.


 


 


Tidak memedulikan ekspresi sang Tuan Putri, Odo menutup telinga kanannya dan sekilas memejamkan mata seraya bergumam, “Elulu? Bagaimana keadaan di sana? Uwah~ sudah kuduga ibu panik, ya. Kalau begitu, sesuai rencana bilang saja Arca supaya mengaktifkan kekuatannya, kalau Matius yang menjemputku bisa-bisa Mbak Fiola dan ibu ikut ke sini. Oh, iya .... Kalau bisa, cegah mereka berdua kalau mau pergi dari sana! Ibu dan Mbak Fiola masih di toko, ‘kan? Hmm, tolong lakukan ....”


 


 


Putri Ulla heran melihat pemuda itu bicara sendiri, ia berjalan mendekat dan menepuk pundaknya dari belakang seraya bertanya, “Apa kau bisa telepati?”


 


 


“Eng?” Odo berbalik, memasang ekspresi heran dan berkata, “Kurang lebih bisa.”


 


 


Jawaban setengah-setengah seperti itu sedikit membuat Putri Ulla kesal, wajahnya yang cemberut dengan jelas memperlihatkan hal itu. Menatap tajam mata pemuda itu, ia menunggunya menjelaskan dengan siapa dirinya sedang berbicara.


 


 


“Oh, iya!” Seakan memang sengaja menghiraukan hal tersebut, Odo mengangkat jari telunjuknya dengan ekspresi mengingat sesuatu. Menunjuk ke arah keempat Prajurit Peri yang masih terbaring di atas lantai besi dingin, pemuda rambut hitam itu berkata, “Saat para Prajurit Peri itu bangun, tolong jangan bicara soal aku. Buat saja kebohongan kecil supaya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ....”


 


 


“Eh?” Rasa penasaran Putri Ulla beralih sesuai dengan keinginan pemuda itu. Mendekatkan wajah sampai membuat Odo melangkah mundur, perempuan rambut ungu itu tegas bertanya, “Kenapa memangnya?”


 


 


“Yah ....” Odo memalingkan pandangan, menarik napas berat dan menjelaskan, “Kalau kau menyebut namaku di depan mereka, bisa dipastikan keempat perempuan itu akan menggigil ketakutan setengah mati.” Pemuda itu menatap tajam, meletakkan telapak tangannya ke atas kepala Tuan Putri sembari kembali berkata, “Dunia kabut, neraka tak berujung itu adalah sebuah tempat untuk menyiksa dan membuat orang menyesali dosa-dosa mereka. Normalnya setiap jiwa yang dibawa ke tempat itu akan rusak, lalu dihancurkan sampai tak tersisa. Untuk menutupi efek dari kunjungan penderitaan mereka ke alam itu, aku sedikit memanipulasi mereka.”


 


 


Putri Ulla memang tak mengerti konsep seperti apa Dunia Kabut yang disebut Odo, namun dirinya dengan jelas paham apa yang telah dilakukannya untuk Laura dan yang lainnya. Mengangkat wajah dan menatap lurus mata pemuda itu, Putri Ulla bertanya, “Engkau memasukkan dirimu ke dalam ingatan mereka? Untuk menjadi sosok yang dijadikan kambing hitam?”


 


 


Sekilas Odo terkejut mendengar itu, memasang senyum simpul yang terkesan palsu dan segera mengangkat tangan kanannya dari atas kepala Putri Ulla. Menarik napas dalam-dalam dan memegang dagu, dengan niat menurunkan kesal ia berkata, “Makhluk hidup cenderung mempercayai apa yang ingin mereka percayai. Saat apa yang mereka lihat dan ingat adalah sesuatu yang sangat tak diharapkan, dengan sendirinya mereka akan membuat ilusi untuk melindungi sesuatu yang rapuh dalam benak mereka.


 


 


“Kenapa kau melakukan hal seperti ini?”


 


 


Perempuan rambut ungu itu menatap penuh rasa heran, semakin bingung Odo Luke itu pemuda seperti apa. Saat bertemu dengannya dengan jelas aura kebencian dan amarah terpancar kuat darinya, namun hanya dalam beberapa jam saja semua itu menghilang dan bahkan sekarang pemuda di hadapannya itu terlihat seperti orang yang berbeda.


 


 


Meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, Putri Ulla dengan tegas bertanya, “Bukannya engkau membenci kami karena telah menyerang kota Mylta? Tadi engkau juga terlihat sangat murka pada diriku! Melampiaskannya dan berkata ingin menjadikan diriku ini budakmu! Namun ....” Perempuan rambut ungu itu menundukkan wajah muramnya, penuh rasa gelisah dan berkata, “Apa yang engkau lakukan sekarang ini ... sungguh tidak bisa dipahami.”


 


 


Apa yang dikatakan Putri Ulla memang sangatlah wajar, Odo terlalu cepat menguah suasana hatinya. Namun bagi pemuda itu sendiri, perubahan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Ketika ia menggunakan Spekulasi Persepsi, Odo sudah seperti melakukan percakapan serupa berkali-kali lebih banyak dari apa yang Putri Ulla tahu. Meski itu hanyalah sebuah persepsi dalam kepala pemuda itu, tetapi memang semua itu bisa dengan pasti menghapus amarah serta kebencian yang ada dalam benak.


 


 


 


 


Putri Ulla tersentak, mulai berprasangka tentang alasan Odo sedikit bersikap lembut padanya. Di sekitar kapal korvet terdapat banyak mayat orang-orang Moloia, korban konflik internal karena perbedaan pendapat yang disebabkan oleh saran pemuda itu pada Laura dan para Prajurit Peri lainnya.


 


 


Berhenti meletakkan tangan ke depan dada dan menatap tajam pemuda itu, Putri Ulla dengan jelas menyinggung, “Boleh diriku ini sebut pemikiranmu itu naif?”


 


 


“Dari sudut pandangmu ini terihat naif, ya?” Odo sekilas memasang seringai kecil, menertawakan dirinya sendiri dalam hati dan tak menyangka akan disebut seperti itu oleh orang lain. “Hmmm ....” Menggaruk bagian belakang kepala dengan tangan kanan, pemuda itu ringan berkata, “Kurasa kau benar soal itu. Namun, asal kau tahu, aku hanya masih ingin bermimpi ....”


 


 


“Bermimpi?” Perkataan yang terdengar sangat naif itu membuat Putri Ulla menatap kesal.


 


 


“Ya ....” Odo menunjuk kening Putri Ulla dan menyentuh simbol Basque putih yang masih nampak padanya, lalu dengan seringai kecil bertanya, “Selama ini, apa yang mendasarimu terus berjuang keras? Apa yang membuatmu rela berkorban dan terus melangkah?”


 


 


“Itu ....” Putri Ulla melangkah mundur, memegang keningnya sendiri dan menonaktifkan Faktor Aktivasi. Pada saat simbol Basque pada keningnya menghilang, simbol serupa yang ada pada kening Odo juga lenyap. Menatap ke arah pemuda rambut hitam itu, dengan sedikit ragu Putri Ulla menjawab, “Diriku adalah seorang peneliti, asal bisa menemukan hal baru dan semakin dekat dengan Awal Permulaan, itu sudah cukup bagi diriku ini.”


 


 


“Kalau sekarang?” tanya Odo dalam seringai kecil.


 


 


Putri Ulla tersentak, sejenak terdiam dan memikirkannya. Sebenarnya ia ingin segera menjawab kalau keinginannya tak berubah sama sekali, namun perasaan dalam benaknya membuatnya kembali memikirkan jawaban dengan serius. Meletakkan tangan ke dada dan menundukkan wajah, dengan suara lirih ia berkata, “Sekarang diriku berharap bisa membawakan kebahagiaan untuk putriku. Ia masih belum merasakan kehidupan layaknya anak pada umumnya. Diriku ingin ia bisa dengan bangga tersenyum lepas ....”


 


 


“Begitu, ya. Sifat maternal ....”


 


 


“Materal? Hmm, diriku rasa seperti itu.” Putri Ulla mengangkat wajahnya, lalu dengan penasaran balik bertanya, “Kalau engkau? Apa yang membuat engkau terus berusaha? Apa yang membuat dirimu terus melangkah maju dan menjadi sekuat sekarang? Apa yang ingin kau capai?”


 


 


Dalam hati Odo menyeringai lebar, merasa telah membuat alur pembicaraan dengan baik dan memanipulasi cara pandang Putri Ulla. Semua pembicaraan yang dilakukannya hanyalah sebuah drama, sebuah kepalsuan belaka demi bisa menggiring perempuan rambut ungu itu untuk mengikuti kehendaknya. Odo secara penuh paham kalau Putri Ulla bisa saja berkhianat jika hanya mengandalkan paksaan belaka, karena itu dirinya berperan layaknya orang bijak dan membuat perempuan itu terbuka dari lubuk hatinya yang paling dalam.


 


 


Dengan penuh kebohongan yang sama sekali tidak nampak ke permukaan, pemuda itu menjawab, “Aku takut merasakan keseharian sederhana, terlalu malas untuk tidak berubah dan tetap sama seperti hari kemarin. Kebanyakan orang saat mendapatkan kebahagiaan akan berpikir untuk mempertahankannya, meski itu berarti harus berdiam diri dan membuang impian. Saat menemukan seseorang yang dilindungi, mereka akan berpikir, ‘Ah, demi dirinya aku rela melakukan apa saja’, atau semacamnya. Namun, diriku terlalu takut untuk melakukan itu.”


 


 


“Apa dirimu ingin membuang segalanya dan hidup normal?” tanya Putri Ulla dengan tatapan bingung.


 


 


“Bukan, bukan itu yang kumaksud.” Odo menggelengkan kepala, meletakkan tangan kanan ke depan dada dan kembali berkata, “Aku hanya ingin menjalani waktu bersama mereka, sedikit tertawa, sedikit bertengkar, saling mencemaskan, merindukan, dimarahi dan memarahi.”


 


 


Dalam perkataannya, Odo tanpa sengaja mencampurkan isi hatinya ke dalam kebohongan. Itu benar-benar dirasakan oleh pemuda itu, ingin menjalani waktu yang sama bersama orang-orang yang dirinya sayangi. Menarik napas dan memasang senyum hangat, Odo Luke kembali berkata, “Hari-hari rumit yang ada membuatku merasa lebih hidup, masalah yang membentang membuatku terus berpikir dan keluar dari kemalasan. Kau tahu, aku ingin bisa dengan bangga mengatakannya di masa depan, ‘Aku hidup dengan kehendakku sendiri! Aku bangga pada kehidupan ini!’ dengan lapang dada, penuh rasa lega tanpa rasa malu sedikit pun.”


 


 


Kebohongan dan kebenaran tersebut bercampur aduk, terucap dari mulutnya tanpa ada yang tahu perbedaannya. Tak memikirkan itu asli dari lubuk hati Odo atau tidak, bagi Putri Ulla perkataan tersebut terdengar begitu mulia dan merasa memang seperti itulah sifat asli makhluk yang disebut “Manusia”. Dalam dada Putri Ulla terasa sesuatu yang hangat, seakan melihat sesuatu yang tidak ada pada dirinya dan mulai mendambakan hal tersebut.


 


 


“Memang terdengar naif ....” Perempuan itu tersenyum kecil, ingin membuat Odo menyerah dan berkata, “Engkau seharusnya tahu, apa yang dirimu itu harapkan adalah kebebasan. Engkau juga seharusnya paham, kebebasan dan perdamaian bukanlah sesuatu yang bisa didapat pada waktu yang bersamaan. Saat engkau meraih kebebasan, lautan konflik akan menunggumu. Apalagi dengan lantar belakang rumit yang engkau miliki ....”


 


 


Melipat kedua tangannya ke pinggang, dengan penuh rasa percaya diri Odo tersenyum dan berkata, “Meski begitu kita harus terus melangkah maju, bukan? Meski penuh kontradiksi, ketidakpastian, dan rintangan. Selama kita hidup dan mempercayai masa depan, pilihan mundur sudah tidak ada lagi.” Membuka telapak tangan kanan dan mengepalkannya dengan erat, pemuda itu menyeringai semangat dan berkata, “Berhenti dan mati dengan penuh penyesalan ..., atau terus maju dan mati dengan bangga, hanya itu yang ada di telapak tanganku.”


 


 


Bagi Putri Ulla itu terdengar seperti hasrat destruktif, sebuah keinginan singkat yang sangat merusak diri sendiri tanpa mempertimbangkan efeknya di masa depan. Meski begitu, semangat yang terlihat pada mata Odo terlihat nyata. Bagaikan kobaran api pada batang kayu yang kelak akan padam, itu terasa begitu hangat dalam dunia yang terus menurus mendung.


 


 


“Di ujung apa yang engkau percayai itu, memangnya apa yang ingin dirimu lihat?” Putri Ulla bertanya, sembari mengambil langkah ke belakang seakan dan tidak peduli lagi jawaban Odo. Baginya, keputusan telah diambil dalam benak terdalam untuk benar-benar mendukung tujuan pemuda itu.


 


 


Melihat hal tersebut, Odo sedikit memiringkan kepalanya dan menjawab, “Untuk merealisasikan kebenaran yang kutahu. Aku ingin dunia ini kembali ke bentuk yang seharusnya, karena itulah jiwa dan raga ini ada di dunia ini.” Pemuda itu berbalik, kembali segera melangkah pergi dan mulai membuka telapak tangan kanannya. Meludahi telapak tangannya sendiri, ia melakukan koneksi dengan kekuatan The Ritman Library milik Arca yang sekarang sedang berada di kota Mylta.


 


 


Ludah pada telapak tangannya bersinar, mulai menciptakan sebuah buku catatan kecil dengan sampul berwarna putih gading. Memegang catatan tersebut dengan kedua tangan, Odo kembali menyeringai. “Sampai jumpa di musim gugur,” ucapnya seraya menyobek catatan tersebut dan langsung mengakses dimensi The Ritman Library.