
Manipulasi zat seketika terjadi. Logam yang memiliki wujud padat dan keras seketika berubah menjadi cair melalui konsep tiga perubahan wujud zat. Tepat pada tempat telapak tangan Odo menyentuh, zirah meleleh dengan sempurna membentuk telapak tangannya. Itu bukan karena suhu tinggi atau semacamnya, namun karena bentuk wujudnya dipaksa berubah menggunakan Aitisal Almaelumat.
“Rapalan mantramu terlalu lama ….”
“Tidak mungkin ⸻”
Sebelum penyihir elite tersebut melangkah mundur, Odo memantapkan kuda-kuda kedua kakinya dan mengumpulkan tenaga dalam ke ujung telapak tangan kiri. Menggunakan teknik pernapasan Qigong, pemuda itu langsung memancarkan gelombang kejut ke tubuh penyihir elite tersebut dan membuatnya terpental ke belakan dan menimpa rekan-rekannya.
Mengatur pernapasan, Odo mengencangkan otot-otot kakinya dan memeras tenaganya untuk meloncat setinggi lima meter melewati para prajurit tersebut. Berada di udara, apa yang pemuda itu incar tetap sama seperti sebelumnya. Ia meloncat ke arah Raja Gaiel, bersiap menjadikannya sebagai sandera demi bisa keluar dari situasi yang ada.
Namun sebelum ia mendarat ke permukaan, Tuan Putri Arteria mengulurkan tangan kanannya ke arah Odo dan menggunakan Kekuatan Kontraknya. Dalam jumlah yang tak wajar, para roh tingkat rendah langsung mengerumuni pemuda itu dan membuat penglihatannya terganggu.
Dengan segera ia memancarkan aura membunuh untuk mengusir para roh tingkat rendah tersebut. Namun saat penglihatan pulih, apa yang menunggu di depannya adalah Dart yang telah bersiap dengan kuda-kuda Teknik Tarung Tangan Kosong.
Odo telat bereaksi, pundak serta pergelangan tangan kanannya dicengkeram oleh pria tua itu. Saat kakinya baru mendapat pijakan di tanah, ia langsung didorong ke belakang dan dijatuhkan ke tanah.
Tak berhenti sampai di situ, Dart langsung menggunakan teknik pemadatan Mana dan menciptakan rantai. Seakan hidup, rantai tersebut langsung melilit tubuh Odo dan mengikatnya dengan kencang. Pemuda itu berusaha melawan dan membuka telapak tangannya ke arah Dart untuk mengaktifkan sihir dimensi. Namun dengan cepat, rantai langsung melilit dan membuat tangannya menekuk ke arah yang salah sampai mengeluarkan bunyi sendi lepas yang cukup jelas.
Dart memegang kedua ujung rantai, menginjak tubuh pemuda itu yang terikat itu dan berkata, “Apa-apaan kau ini? Kau abadi …?”
Odo tak menjawab, hanya memasang ekspresi kesal karena ayahnya sendiri sama sekali tidak mengenalinya. Pemuda itu menatap tajam dan benar-benar kehabisan kesabaran. Menggunakan Unsur Aktivasi, ia langsung mengaktifkan sihir dimensi penyimpanan untuk menelan rantai pemadatan Mana.
Namun saat struktur sihir pada sarung tangannya aktif, seketika rantai tersebut bereaksi dan menghancurkan struktur tersebut sampai sihir tak berfungsi. Odo sempat terkejut. Ia dengan segera tahu kalau rantai yang mengikatnya sedikit berbeda dengan teknik pemadatan Mana lainnya, memiliki sifat pembongkaran struktur sihir meski tak terlalu kuat.
“Dart Luke, kau sungguh keras kepala seperti kabarnya. Sungguh menyebalkan sekali kau ini. Tak kompeten, cerminan pemimpin yang buruk …. Padahal tak memiliki ambisi untuk berkuasa, tapi menempati posisi penting dan menggunakan yang lain untuk kepentingan pribadi.”
Sembari memulai pembicaraan dengan provokasi, pemuda itu mulai menganalisis cara kerja rantai yang mengikatnya. Pada saat yang sama, ia juga sekilas melirik ke arah perempuan rambut biru yang sebelumnya menggunakan sihir roh.
“Aku tak ada niat melawanmu, lepaskan rantai ini,” pintanya seraya kembali menatap ke arah Dart.
“Meski kau tak ingin melawanku, tadi kau jelas-jelas mengincar Raja, ‘kan? Mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja, dasar bodoh.”
Sorot mata Odo seketika berubah datar ketika mendengar hal tersebut. Sekilas rasa tak peduli memenuhi benak pemuda itu, lalu langsung mengaktifkan Hariq Iliah untuk mengumpulkan oksigen ke sekitar tubuhnya sendiri.
“Terserah kau, dasar sialan ….”
Bereaksi dengan cepat, api berkobar membakar tubuh pemuda itu dan menjalar ke arah Dart. Ia segera mengangkat kakinya dan meloncat mundur untuk melindungi Raja beserta keluarganya, namun kaki kanan yang tidak mengenakan alas kaki sedikit tersambar api dan sepatu pada kaki kiri terbakar.
Pria tua itu segera melepaskan sepatunya, menatap dengan heran karena merasa api yang membakar itu seakan hidup dan mengikuti kehendak pemuda rambut hitam tersebut. Ia menghentak-hentakan kaki kanan dan mematikan api yang membakarnya.
“Kenapa kalian malah ke sini?!” Dart dengan cepat menoleh ke belakang dan memperingatkan, “Cepat pergi, orang ini gawat …. Dia ....”
Raja Gaiel mengetahui hal itu dengan sangat jelas. Dari semua musuh dengan tingkat regenerasi tinggi yang pernah dirinya lawan bersama Dart, keabadian pemuda rambut hitam itu benar-benar pada tingkat yang berbeda. Tidak mundur karena apa yang ada di belakangnya adalah jurang, Raja mengaktifkan inti sihirnya dan bersiap untuk membantu.
“Kabur ke mana memangnya? Dia juga pengguna sihir dimensi! Kemungkinan besar orang itu juga bisa menggunakan sihir teleportasi,” ucap sang Raja seraya menyentuh punggung Dart dan menggunakan sihir pemulihan. Luka bakar pada kaki kanan Kepala Keluarga Luke tersebut dengan cepat sembuh, meski tidak dengan sempurna dan meninggalkan sedikit bekas.
Kobaran api yang menyelimuti Odo membakar rantai pemadatan Mana sampai meleleh. Dari hal itu, dirinya langsung tahu kalau teknik yang digunakan Dart memang bisa memberikan massa dan menanamkan efek sihir pada senjata yang dibuatnya. Dari berat senjata, karakteristik sampai kemampuan bisa diciptakan sesuai asimilasi yang dilakukan.
Berdiri dan melihat sang Raja terlihat begitu panik, niat bertarung Odo sekali lagi hilang. Ia merasa tak nyaman di tatap Raja, Tuan Putri dan Pangeran seakan dirinya memang benar-benar musuh mereka. Saat melihat perempuan rambut biru yang memeluk sang Raja dengan erat, Odo dengan segera tahu kalau perempuan itu memang Putri Arteria.
“Ah, bubar sudah …. Sebaiknya aku nanti cari cara supaya bisa menggunakan Sihir Transformasi lagi dan kembali ke wujud anak-anak,” benak Odo dengan ekspresi kecut.
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Sembari memperlihatkan ekspresi pasrah dan lesu ia berkata, “Aku menyerah. Jika kau tidak ingin membiarkanku kabur, tangkap saja aku. Seperti yang kalian lihat tadi, aku tidak bisa dibunuh dengan mudah.”
Suasana menjadi tegang, tak ada yang berani mengambil tindakan bahkan Dart sekalipun. Memang bagi dirinya yang biasa membasmi Iblis bukanlah hal yang mudah untuk melepaskan orang yang memiliki pancaran hawa keberadaan makhluk dari kegelapan tersebut. Namun, sebuah fakta bawah pemuda itu memang tidak bisa dibunuh dengan mudah membuat Dart menghilangkan senjata dan menurunkan pancaran aura membunuhnya.
“Kau pikir kami percaya …?” tanya pria tua tersebut.
Odo tahu pertanyaan semacam itu pasti akan keluar. Mengambil sebuah Potion dari dimensi penyimpanan, pemuda itu membuka tutupnya dan langsung melemparkannya ke arah ketiga prajurit yang menderita luka bakar. Cairan bening itu tersebar di udara, menciprat ke orang-orang tersebut beserta para prajurit elite lian dan langsung meresap masuk ke tubuh. Meski tidak terlalu efektif karena cara tidak diminum langsung, namun itu cukup untuk membuat luka mereka pulih lebih cepat dari sihir pemulihan biasa.
Botoh kaca kosong jatuh dan berhenti menggelinding di tanah, tepat di depan para prajurit elite. Kembali mengambil Potion dari dimensi penyimpanan, pemuda rambut hitam itu melemparkannya ke arah mereka sembari berkata, “Gunakan yang ini untuk orang yang hampir jatuh ke jurang di pojok itu.” Odo menunjuk ke arah prajurit elite dengan perisai yang terkapar tak sadarkan diri.
Setelah melakukan semua hal untuk membuat mereka percaya bahwa dirinya bukanlah musuh, Odo menyodorkan kedua lengannya ke depan dan berkata, “Silakan saja tangkap. Namun aku peringatkan, sebaiknya kalian tidak menyiksaku atau semacamnya. Tak ada jaminan kalau aku tidak akan melawan balik nantinya ….”
Baik Raja Gaiel ataupun Dart, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya pemuda itu incar. Dari kemampuan yang dimilikinya, seharusnya bisa dengan mudah pemuda itu mengacaukan semuanya dan membunuh Keluarga Kerajaan. Dengan keabadiannya, Dart yang memiliki batasan stamina karena usia pun pasti bisa dikalahkan jika dipaksa terus menerus bertarung.
Sang Raja menatap tajam pemuda itu, paham kalau memang pemuda tersebut tahu akan semua hal tersebut namun tidak melakukannya. “Kenapa kau menyerah? Apa tujuanmu? Kenapa kau menghadang perjalanan kami?” tanya Raja Gaiel.
Raja Gaiel merasa kalau apa yang dikatakan pemuda itu sangatlah menguntungkan baginya dan semua orang di tempat tersebut. Pada masa krusial seperti sekarang, memang sangat merugikan terus membuang waktu dan mendapat masalah lain. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan Rajanya, Dart tetap berpikir tak boleh membiarkan pemuda dengan aura iblis tersebut terus berkeliaran di wilayahnya.
“Kau akan ikut kami ….” Dart kembali menciptakan rantai pemadatan Mana. Rantai tersebut bergerak ke arah Odo seakan memang itu anggota tubuhnya sendiri, lalu mengikat kedua tangan pemuda rambut hitam tersebut. Sembari menatap tak suka, Dart kembali bertanya, “Kau apa? Hawa keberadaanmu terlalu aneh …. Iblis? Makhluk dari Dimensi Tinggi? Makhluk Astral? Kau itu apa?”
Odo hanya tersenyum kecil, tidak menjawab dan hanya memasang ekspresi lega karena tak harus ada pertumpahan darah. Melihat ke arah Putri Arteria, sekilas ia menghela napas ringan saat tahu perempuan itu tidak bisa melihatnya secara normal.
“Ayahanda? Apa dia itu raksasa?” tanya Arteria dengan gemetar memegang erat jubah Raja Gaiel.
“Raksasa …?”
Odo tahu bagaimana cara Tuan Putri Arteria melihatnya, lalu terlihat seperti apa dirinya dalam diri perempuan rambut biru itu. Saat mendengar Arteria memanggilnya seorang raksasa, dengan jelas Odo tahu kalau calon tunangannya tersebut memiliki kemampuan untuk melihat bentuk jiwa seseorang.
Seraya tersenyum ramah ke arah perempuan itu, Odo Luke bertanya, “Tuan Putri? Memangnya aku terlihat seperti apa?”
Pangeran Ryan segera berdiri di depan adiknya, menatap tajam Odo dan terlihat tak suka. “Jangan bicara pada adikku! Dasar monster!” bentaknya dengan kasar.
“Kakanda ….” Arteria berhenti ketakutan dan mulai terlihat heran. Ia memegang tangan kakaknya dan memintanya untuk memberikan kesempatan berbicara kepada pemuda rambut hitam itu.
“Arteria …?” Pangeran sekilas terlihat bingung, namun pada akhirnya menyetujui permintaan adiknya tersebut dan memberikan jalan.
Perempuan itu menatap ke arah Odo, lalu membuka kedua matanya yang sudah kehilangan cahaya dan berkata, “Engkau bagaikan lautan hitam yang sangat luas. Seorang raksasa yang terlalu besar …. Terlalu besar sampai-sampai dunia akan hancur dan berubah saat engkau bergerak.”
Kedua mata Odo berseri-seri mendengar perkataan tersebut. Tertawa ringan dan kembali memasang senyum ramah, pemuda itu dengan penuh rasa lega berkata, “Terima kasih, itu sedikit membuatku lega. Aku pikir diriku sudah benar-benar menjadi monster mengerikan ….”
“Engkau bukan monster …” Arteria menggelengkan kepala, menatap penuh rasa kasihan dan kembali menegaskan, “Engkau bukan sosok mengerikan. Engkau adalah sosok yang kejam, namun pada saat yang sama sangat menyedihkan.”
Tuan Putri Arteria berjalan mendekat, memegang kedua tangan Odo yang terantai dan dengan penuh rasa mengasihani berkata, “Layaknya pohon yang menjadi tempat bermain anak-anak. Kau dipanjat, digunakan untuk tempat bermain, dan diperlakukan sangat buruk.”
Raja Gaiel dan Dart sempat cemas melihat Tuan Putri mereka melakukan kontak fisik dengan pemuda itu. Dart menciptakan pedang pemadatan Mana, bersiap untuk bisa menebas kepala Odo jika melakukan tindakan yang membahayakan sang Tuan Putri.
Tak memedulikan nafsu membunuh yang samar-samar terpancar dari pria tua dari kelurga Luke tersebut, Tuan Putri Arteria kembali berkata, “Meski begitu, engkau tetap akan menjadi pohon yang memberikan mereka buah untuk dimakan. Engkau akan selalu memberikan anak-anak kebaikan …. Sayangnya, pohon semacam itu di akhir akan ditebang dan dibakar saat masih hijau ⸻ Untuk kepentingan para orang Dewasa.”
Odo benar-benar dibuat terkesima dengan cara pandangan Putri Arteria terhadapnya. Memasang senyum simpul, pemuda itu dengan nada ringan menyanggah, “Sayang sekali, kalau itu kau salah besar. Aku bukanlah pohon.”
“Heh?”
“Aku adalah sebuah kotak …. Kotak berisi segala macam alat untuk semua orang yang memerlukannya. Itu bisa berisi senjata untuk melukai, bisa juga alat pertanian untuk berkebun atau sebuah buku untuk dibaca.”
Kalimat tersebut membuat Arteria bingung, tak bisa menangkap maksud yang disampaikannya. “Kotak berisi segala macam alat?” tanyanya seraya sedikit memiringkan kepala ke arah kanan.
Odo hendak menjawab pertanyaan tersebut. Namun dirinya mendengar suara-suara para bangsawan yang sedari tadi bersembunyi di dalam kereta-kereta mereka mulai keluar, kalimat tidak keluar dari mulut pemuda itu. Ia kembali menatap ke arah sang Raja, sedikit tersenyum tipis dan bertanya. “Sebaiknya aku segera diamankan. Lihat, orang-orang yang kau bawa mulai mengira kalau kalian benar-benar telah mengalahkanku.”
Beberapa bangsawan mulai membicarakan Dart Luke dan Raja, mereka memuji-muji seakan duet yang terkenal di masa Perang Besar tersebut memang telah mengatasi pemuda rambut hitam tersebut. Meski melihat apa yang terjadi dari dalam kereta, para bangsawan itu tidak mendengar pembicaraan dan seenaknya membuat kesimpulan tersebut. Di antara mereka, Thomas Rein segera berjalan cepat ke arah Dart dan Raja.
“A-Apa semuanya sudah aman, Tuan Dart?” tanya Kepala Keluarga Rein tersebut.
Mendapat lirikan tajam dari Odo, pria tua tersebut terpaksa berbohong, “Tentu! Dia sudah kami tangkap!”
Odo menoleh ke arah Thomas, membuat pria rambut klimis tersebut berhenti. Dalam sekali lihat, Thomas Rein merasa tak asing dengan penampilan pemuda tersebut. Saat melihat dari dalam kereta dirinya memang tidak bisa memastikan. Namun melihatnya dari dekat seperti sekarang, dirinya merasa memang pemuda tersebut sangat mirip dengan Odo Luke ⸻ Putra Tunggal dari Keluarga Luke. Rambut hitam dan mata biru, ekspresi dingin dan tatapan yang terkesan sedikit malas, semua itu benar-benar mengingatnya dengan Odo Luke.
Odo mengangkat kedua tangannya yang terikat, lalu sekilas mengacungkan jari telunjuk kanan ke depan mulut dan memberikan kode untuk meminta Thomas Rein diam soal identitasnya. Dalam hitungan detik Kepala Keluarga Rein itu paham arti permintaan tersebut. Ia mengerti kalau membongkar identitas Odo akan sangat berdampak negatif jika dilakukan di tengah para bangsawan yang ikut serta dalam rombongan.
“Gila, intuisi orang-orang Rein apa memang semuanya seperti ini?” benak Odo seraya menurunkan tangannya.
Berpura-pura tidak menyadarinya, Kepala Keluarga Rein tersebut bertanya, “Yang Mulia ingin melakukan apa pada pemuda ini? Apa Anda akan membawanya ke kediaman Luke juga?”
“Tentu saja tidak.” Raja Gaiel memisahkan tangan pemuda itu dari Putrinya. Menggandeng Arteria, dengan tatapan tak suka ia memutuskan, “Pemuda ini sementara akan dikirim ke penjara di kota Mylta sampai acara pertunangannya selesai. Beberapa prajurit akan mengantarnya, lalu ….”
Raja Gaiel menatap ke arah Dart, merasa kalau pria tua tersebut juga harus ikut mengawasi pemuda tersebut.
“Hmm, tentu aku juga akan mengawasinya.”