Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 22: Einerseits Obst 4 of 4 (Part 01)



Pada ruangan megah dengan dekorasi aksen Victorian, Odo duduk di kursi dengan menghadap wanita berambut pirang yang juga menghadap ke arahnya. Sekarang anak berambut hitam itu sedang berada di dalam kastel milik Witch. Sedikit melirik ke arah jendela besar di ruang makan tersebut, di luar terlihat langit gelap dan beberapa taburan cahaya putih yang terpancar nampak dalam lembar hitam itu. Odo langsung tahu kalau hari sudah benar-benar malam, gelapnya hutan yang terlihat melalui jendela mencerminkan ini hati anak itu.



Sedikit melirik ke arah kiri, Odo melihat enam anak berambut pirang yang duduk berjejer di sisi lain meja panjang. Mereka berenam memperlihatkan raut wajah kosong, dengan tatapan kosong, dan sama sekali tidak berbicara meski apa yang telah Odo lakukan pada salah satu dari mereka.



Menarik napas ringan, Odo merasa tidak pantas telah memberikan keenam anak tersebut sebuah nama, dirinya paham kalau nama itu bukanlah sesuatu yang bisa diberikan oleh sembarang orang atau dengan cara yang seenaknya. Berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut kembali, Odo melihat ke depan dan menangkan diri dengan cepat.



“Kita lanjutkan pembicaraannya,” ucap anak berambut hitam itu seraya menatap Witch di hadapannya.



“Pembicaraan apa? Bukannya semuanya sudah dibahas?” tanya wanita berambut pirang tersebut seraya menatap bingung Odo.



“Ah? Bicara apa kau? Tentu saja masih banyak .... Pertama, kau belum memberitahuku apa rincian rencanamu mengajakku bekerja sama. Aku belum bisa sepenuhnya percaya denganmu. Kedua, apa keuntunganku kalau bekerja sama denganmu?”



Mendengar perkataan seperti itu dari Odo, wanita berambut pirang tersebut menatap heran. Tersenyum tipis, wanita itu mendekatkan wajahnya seraya bertanya, “Dikau sangat tak seperti manusia ya? Meski sangat sensitif dengan perasaan-perasaan yang dimiliki makhluk mortal, mengapa engkau selalu mengatakan sesuatu yang berlainan seperti itu?”



“Berlainan ya .... Tersalah kau menyebutnya bagaimana, aku hanya melakukan apa yang perlu aku lakukan.”



Odo menatap kesal wanita berambut pirang tersebut. Mendapatkan hal seperti itu, wanita itu menjauhkan wajah dan sedikit tersenyum tipis. Saat melihat Odo kesal, rasa senang mengisi benak wanita itu tanpa dirinya sendiri sadari.



“Baiklah, akan diriku jelaskan. Tapi ..., dari mana dulu yang ingin dirimu dengar?”



“Hmm, pertama, kenapa tidak kau memberitahuku apa keuntungannya kalau bekerja sama denganmu. Coba beri aku alasan untuk bekerja sama denganmu?”



Witch sedikit memalingkan wajahnya saat mendengar itu, mencari sesuatu untuk membuat Odo tertarik sepenuhnya dan bekerja sama. Saat melihat keenam anaknya, ekspresi wanita berambut pirang itu nampak seakan telah menemukan jawaban.



“Bagaimana kalau kau boleh menikahi anakku?”



Odo langsung sedikit mendongak dan menarik napas dengan sangat berat, raut wajahnya berubah gelap dengan cepat dan tatapannya penuh rasa kesal. Sekilas tekanan sihir meningkat karena emosi yang ada naik sampai batas amarah.



“Ingin aku tendang wajahmu apa? Hah!? Kalau jawab yang serius,” ucap anak itu dengan nada gelap.



“E-Eeeh? Kenapa malah marah? Seburuk itukah mereka?”



Odo mendongak lurus ke atas dan melihat langit-langit berkubah, sekilas mengamati lukisan alam berupa pemandangan kebun bunga di atas sana. Dalam benak anak berambut hitam itu, lelah secara psikologis terasa dan membuat rasa semangat tidak bisa muncul. Kembali melihat ke arah wanita di hadapannya, kali ini Odo benar-benar menatap dengan sorot mata datar dan tidak terlihat seperti sorot mata manusia. Odo benar-benar mengesampingkan perasaan dalam pemikirannya.



“Aku tolak tawaran itu, berikan yang lain.”



“Yang lain? Memangnya apa yang dikau inginkan?”



“Bagaimana ... kalau sihir yang kau gunakan untuk memperbaiki kursi ini?”



Odo menendang ringan kaki kursi tempatnya duduk. Kursi tempat anak berambut hitam itu duduk tadinya sudah rusak dan kaki kursinya patah, tetapi itu diperbaiki oleh Witch dengan sihir uniknya yang bahkan tidak Odo ketahui strukturnya meski telah diamati secara langsung.



“Diriku tidak keberatan .... Tapi, sihir itu hanya bisa digunakan di dalam kastel ini, apa dikau tidak masalah?”



“Apa maksudnya?”



“Bangunan ini terhubung dengan struktur sihir yang ada di dalam Inti Sihir milikku. Objek apapun yang ada di dalam bangunan ini, diriku bisa memperbaiki atau mengendalikannya sesuka hati. Kalau di luar ..., itu sama sekali tidak berfungsi.”



Odo berpikir dengan cepat dan kalkulasi dari Auto Senses dipakainya untuk memutuskan pilihan. Berkedip satu kali, anak itu berkata, “Kalau begitu, beritahu cara membuat struktur sihir supaya bisa terhubung dengan bangunan. Bertahu saja aku bentuk struktur sihir dan cara kerjanya.”



“Ya ..., diriku tidak masalah dengan itu.”



Wanita itu mulai terlihat takut pada Odo yang sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi dan tatapnya sangat kosong. Wanita tersebut mengulurkan tangan kanannya ke depan, lalu menyentuh kening Odo dengan telapak tangan. Anak berambut hitam tersebut sama sekali tidak komentar soal itu, Ia lekas menyingkirkan tangan wanita itu dengan tetap memasang ekspresi datar.



“Yang terakhir ..., bertitahu rencanamu. Kalau itu memuaskan dan bisa membuatku tertarik, dengan senang hati aku akan ikut membantu.”




“Kenapa malah cemberut?” tanya Odo.



“Rasanya seperti bicara dengan Golem. Padahal dikau kaya dengan perasaan yang indah, tapi mengapa engkau seperti itu? Di luar sana ada banyak makhluk yang ingin merasakan berbagai emosi tapi tidak bisa, loh.”



Odo terdiam mendengar itu, pikirannya bergerak dengan cepat dan berusaha memahaminya. Menyimpulkan kalau ada makhluk seperti Witch di luar sana, anak berambut hitam itu melirik ke arah keenam anak berambut pirang yang masih duduk tanpa bersuara. Dalam benak Odo, memang perasaan atau emosi bagi makhluk-makhluk seperti mereka sangatlah berharga bisa merasakan sesuatu yang bisa membuat mereka bisa lebih hidup. Kembali melihat ke arah Witch, Odo melihat contoh nyata dari hal tersebut.



“Maaf, aku paham ....”



Anak berambut hitam itu menutup matanya dan berusaha berhenti memasang wajah datar. Saat kembali membuta mata, sorot mata birunya tidak lagi terlihat gelap dan mulai terlihat seperti raut wajah manusia. Wanita berambut pirang di hadapannya terkejut melihat Odo bisa mengubah raut wajah secepat itu.



“Apa ini yang kau inginkan, bukan? Kalau begitu, beritahu. Apa rencanamu? Dan buat aku percaya untuk membantumu.”



Witch memang merasa itu lebih baik melihat Odo tidak menampakkan ekspresi datar yang terlihat gelap, tetapi mendengar apa yang dikatakan anak itu, Ia merasa tidak puas. Meski wanita itu kurang paham dengan hal-hal seperti itu, tetapi dirinya tahu apa yang nampak pada raut wajah Odo adalah ekspresi buatan dan sama sekali tidak terkandung rasa tulis di dalamnya.



“Haaah, baiklah. Meski diriku masih kurang enak melihat dikau seperti itu, tapi memang harus diriku jelaskan rencananya, ya .... Sebelum itu, diriku akan memberitahu beberapa hal tentang informasi-informasi yang mungkin belum engkau tahui.”



“Ya, silakan saja ....”



Witch mulai menjelaskan beberapa informasi yang bisa dikatakan Odo tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Dalam penjelasan paling awal, wanita berambut pirang itu memberitahukan tentang teknologi, sihir, situasi pemerintahan dan politik keempat negeri. Dalam penjelasan tersebut, banyak hal yang membuat Odo terkejut dan beberapa dalam pengetahuan anak itu mulai dirombak kembali.



Hal pertama dari informasi yang diberikan adalah soal teknologi, sebuah teknis perkembangan teknologi yang ada selama Perang Besar lebih tepatnya. Dalam kehidupan sehari-hari Odo, Ia kira kalau teknologi yang ada di benua Michigan hanyalah sebatas peradaban abad pertengahan yang masih dalam tingkat pandai besi, pengrajin kaca, kayu, dan bangunan sederhana yang berpadu dengan unsur sihir yang menjadi ciri dunia. Tetapi, itu hanya kesalahpahamannya karena hanya terus membaca buku sihir dan pengetahuan umum yang dimiliknya hanya sebatas Kerajaan Felixia saja. Pada kenyataannya batas teknologi pada setiap negeri memiliki perbedaan yang sangat signifikan.



Pada kerajaan Felixia memang hanya memiliki perkembangan teknologi yang masih sederhana karena memang perkembangan negeri tersebut lebih cenderung ke sihir. Tetapi pada negeri lain, ada banyak teknologi yang sudah maju sangat pesat. Sebagai salah satu contoh yang diberitahukan Witch, perkembangan teknologi Kerajaan Moloia sudah sampai pada tingkat senjata api pada pertengahan masa Perang Besar dan pada perkembangan terakhir terdengar sudah dapat menciptakan sebuah bom radioaktif dalam sekala besar. Negeri tersebut memiliki perkembangan teknologi yang sudah mencapai tingkat modern dalam pengetahuan yang Odo miliki.



Bukan hanya itu saja yang membuat Odo terkejut dengan tingkat teknologi sesungguhnya benua Michigan. Menurut Witch, beberapa negeri lain juga sudah mulai meniru perkembangan teknologi Kerajaan Moloia dan mengasimilasikannya dengan ciri khas sihir masing-masing dan menciptakan hal yang sangat baru dalam perkembangan peradaban.



Dalam perkembangan sihir, negeri yang paling berkembang adalah Kekaisaran Urzia yang pada dasarnya telah memiliki keanekaragaman sihir paling kaya jika dibandingkan dengan negeri lain. Diikuti Kekaisaran, Kerajaan Felixia berada pada posisi nomor dua dan tingkat kemajuan sihir terendah dipegang oleh Kerajan Moloia. Meski begitu, pada susunan sihir paling maju dikuasai oleh Kota Miquator yang menjadi pusat dari semua sihir.



Dari semua penjelasan tersebut, yang juga membuat Odo terkejut adalah situasi pemerintahan dan politik keempat negeri. Menurut apa yang dikatakan Witch, kondisi politik stabil hasil dari konferensi yang diadakan oleh para penguasa keempat negeri di Kota Miquator sudah mulai memudar. Hal tersebut terjadi karena proses pergantian kepemimpinan setiap negeri yang menyebabkan sulitnya mempertahankan perjanjian yang dibuat para pemimpin pendahulu setiap negeri.



Menurut informasi yang didapat dari sosok yang menjalin kerja sama dengan Witch di Kota Miquator, keempat negeri benar-benar masuk dalam kondisi sensitif dalam bidang kepemimpinan dan politik. Dalam perkiraan yang ada, bisa dipastikan kalau awal musim semi tahun depan ada beberapa dari keempat negeri yang akan mengalami pergantian kepemimpinan dan perjanjian yang dibuat oleh keempat negeri akan semakin melemah.



Pada Kerajaan Ungea, Maharaja di negeri gurun pasir tersebut dikatakan sudah sakit-sakitan dan umurnya sudah tidak lama lagi. Tetapi, karena sang Maharaja memiliki banyak permasyhuri dan selir, keturunan dan calon putra mahkota Kerajaan Ungea menjadi sangat banyak dan sulit untuk memilih penerus selanjutnya.



Untuk Kerajaan Moloia, negeri tersebut tidak jauh berbeda dengan Ungea. Keturunan dari garis keluarga kerajaan yang banyak membuat sulit menentukan Raja selanjutnya. Dalam hal tersebut, kerajaan ini tidak perlu susah payah mencari penerus Raja karena hal tersebut berubah menjadi kompetisi sebab adanya pengaruh dari USGM, sebuah sistem senat dari kumpulan kesadaran yang tersimpan dalam Departemen Teknologi negeri tersebut.



Hampir mirip dengan dua negeri itu, kabar tidak terduga Odo dengar tentang Kerajaan Felixia tempatnya tinggal. Pada negeri yang terkenal memiliki keturunan Dewa dalam susunan Keluarga Kerajaan, susunan keluarga kerajaan tersebut masuk dalam masa kritis garis murni. Kerajaan Felixia memiliki sistem pemegang kekuasaan paling mengadaptasi garis keturunan dibanding dengan negeri lain. Dalam masa sekarang, pemegang kekuasaan tertinggi Kerajaan Felixa bukanlah Rajanya, melainkan sang Ratu, karena memang sang Ratu’lah yang berasal dari garis murni Kerajaan Felixia.



Raja Felixai memiliki dua istri, yaitu Ratu yang berasal dari garis murni dan Selir yang didapat dari pernikahan politik dengan Kerajaan Ungea sebagai tanda damai kedua negeri. Dalam hubungan tersebut, lahir satu anak laki-laki dari rahim Selir dan satu anak perempuan dari rahim Ratu. Menurut sistem yang diterapkan oleh Kerajaan Felixai, yang berhak menduduki singgasana selanjutnya adalah sang Putri yang merupakan anak Ratu.



Tidak ada yang protes atau dipermasalahkan soal hal tersebut. Tetapi, yang menjadi masalah adalah hanya Putri tersebut yang menjadi satu-satunya sosok yang bisa menjadi penerus, dan karena tidak bisa menjodohkan dengan saudaranya, harus diadakan pencarian kandidat tunangan sang Putri. Hal tersebutlah yang menjadi para bangsawan Kerajaan Felixia menggila untuk mendapatkan sang Putri dengan bersaing satu sama lain.



Kabar lain yang paling mengejutkan dari Kerajaan Felixai adalah telah meninggalnya sang Ratu beberapa hari lalu. Kabar itu Witch dapatkan dari salah satu koneksinya pada Kerajaan Felixa yang tinggal di Istana Kerajaan. Karena kematian Ratu tersebut, bisa dipastikan persaingan para bangsawan akan meningkat saat awal tahun nanti dan berpotensi terjadi perang sipil pada tiap-tiap daerah seperti halnya yang terjadi di Kekaisaran.



Berbeda dengan semua negeri, Kekaisaran Urzia berada pada tingkat dimana pemimpinnya memiliki ketetapan yang tidak diganggu gugat dan sangat mutlak. Tetapi karena hal tersebut, sebagian besar wilayah di Kekaisaran mulai memberontak dan menuntut Revolusi karena Kaisar telah berkuasa terlalu lama, dan cenderung memiliki sifat pasif kepada perkembangan rakyatnya. Kondisi Kekaisaran Urzia adalah yang paling parah karena sudah terjadi beberapa perang sipil di berbagai wilayahnya.



Setelah mendapat penjelasan tentang berbagai hal tersebut, Odo baru diberitahukan tentang rencana yang ingin dilakukan Witch. Rencana tersebut didasarkan dengan kota yang memiliki koneksi paling kuat dengannya, Kota Miquator. Hampir sama seperti saat menghentikan Perang Besar, Witch ingin menarik para pemimpin baru dan lama setiap negeri untuk kembali mengadakan konferensi dan memperbarui perjanjian. Untuk melakukan hal tersebut, perlu kondisi dimana setiap negeri berada pada kesetaraan kekuatan demi dapat diajak berdiskusi.



Dalam prosesnya, ada kemungkinan besar terjadi Perang Besar kedua yang bisa lebih parah dari Perang Besar terdahulu mengingat perkembangan senjata dan ilmu pengetahuan yang ada. Dengan alasan tersebut, Witch meminta Odo untuk melakukan kontak dengan beberapa tokoh penting di setiap negeri dan menjalin hubungan dengan mereka untuk bisa mendapat koneksi antar negeri agar dapat meredam potensi perang skala benua. Batas waktu perjanjian damai masih dapat berlaku hanya sekitar enam tahun dari waktu sekarang, dan itu sangatlah terbatas kalau memperhitungkan sangat kompleksnya masing-masing sistem dan kondisi pemerintah tiap negeri.



Odo menerima permintaan tersebut karena memang dirinya memperkirakan tidak bisa lepas dari masalah tersebut, sebab dirinya sendiri masuk dalam jajaran bangsawan. Tetapi untuk rencana yang akan digunakan secara rinci, mereka masih belum menentukannya karena memang pada dasarnya sangat sulit menjalin hubungan antar negeri yang memasuki masa sensitif politik. Karena hal tersebut, Witch memberikan beberapa pengetahuan sihir untuk bekal perlindungan dan beberapa hal lainnya kepada Odo.