
“Bicara? Denganmu ...?” Laura menatap tidak percaya, menggenggam erat kedua pundak pemuda itu dan mengaktifkan inti sihir untuk siap menggunakan sihir gravitasi kapan saja.
“Ya .... Bukankah itu lebih baik daripada kita saling membunuh?”
Perkataan tersebut sekilas membuat rasa ragu timbul dalam benak Laura, menyipitkan mata dan mempertimbangkan kode yang sebelumnya pemuda itu sebutkan. Merasa tidak bisa membiarkan orang yang menyebutkan kode militer tingkat atas tersebut dibunuh begitu saja tanpa kejelasan, Laura mengangkat tangan kanannya dari pundak Odo dan memberikan sinyal pada semua anak buahnya untuk menurunkan senjata.
“Kau yakin akan mendengarkannya, Laura?” tanya Notmarina.
Melirik ke arah Elf rambut hijau pucat itu, Laura menjawab, “Ya, kau dengar sendiri dia menyebutkan kode tersebut, bukan? Double A .... Status dua pemimpin. Tidak mungkin Master Rhea memberikan kode sembarang pada orang lain ....”
“Bisa saja dia memalsukan kode atau asal mengatakannya!”
Laura hanya menyeringai kaku mendengar perkataan rekannya tersebut. Sembari menatap tajam pemuda di hadapannya, ia berkata, “Kau bercanda? Mana mungkin kode seperti itu bisa tepat dengan sekali sebut kalau asal-asalan .... Aku juga butuh waktu untuk menghafalkannya. Kalaupun ia dapat kode itu dari Master Rhea dengan cara paksa, pasti beliau akan memberikan kode lain yang berisi perintah untuk membunuh orang ini tanpa dirinya sendiri tahu!”
Odo sekilas terdiam mendengar hal tersebut, melirik ke arah Di’in dan Ra’an karena merasa khawatir dengan keadaan mereka. Menghela napas dan kembali menatap lurus perempuan rambut pirang panjang sebahu di hadapannya, pemuda berpakaian kemeja putih tersebut bertanya, “Kalian datang ke sini untuk apa? Perintah siapa?”
“Kami datang atas perintah Tuan Putri kami! Untuk mencari Unsur Hitam dan menangkapnya!”
Jawaban tersebut sempat membuat Odo terkejut. Kornea pemuda itu sekilas berubah hijau, menganalisa info yang didapatnya tersebut dan mengangguk paham setelah mengetahui sesuatu. Sekilas menghela napas panjang, pemuda itu berkata, “Ah, soal MacGuffin yang menjadi dalih dari tindakan Moloia bergerak, ya?”
“Kau tahu itu?” tanya Laura seraya menatap tajam.
Odo sekilas terdiam, memalingkan pandangan dan menjawab, “Tentu saja, aku adalah individu yang kalian sebut Unsur Hitam .... MacGuffin yang kalian cari-cari itu diriku.”
“Hah?” Laura terkejut mendegar itu, mengangkat tangan kanannya dari pundak pemuda rambut hitam tersebut dan melangkah mundur dengan ekspresi tidak percaya.
“Dan juga ....” Odo menatap malas Laura, menunjuk ringan dan berkata, “Mungkin Tuan Putrimu itu mengira kalau Rhea gagal mencapai tujuannya dan memberi perintah untuk menangkapku. Kau tahu, Sebenarnya tujuan A.I itu hanya membuat kontak denganku dan menyampaikan beberapa informasi saja .... Hal seperti menangkap atau semacamnya hanyalah alasan semata supaya fraksi lain tidak curiga.”
Laura tidak bisa mencerna semua perkataan itu dengan cepat, ia memalingkan pandangannya dan benar-benar memikirkannya dengan serius. Memegang kening dan menatap Odo dengan sorot mata sipit, High Elf rambut pirang tersebut bertanya, “Berarti ... kau adalah seorang Inkarnasi Dewa?”
“Heh?” Odo bingung mendengar perkataan aneh Laura.
“Kenapa memasang wajah seperti itu?!” Laura menurunkan tangan dari kening, menatap kesal dan dengan suara tinggi berkata, “Kalau kau benar-benar Unsur Hitam yang bisa menjadi dalih tanah air kami memulai perang, berarti kau Inkarnasi Dewa! Avatar dari salah satu Dewa di Kayangan!”
Sekilas Odo tertegun, mulai mengerti kenapa Laura berkata seperti itu. Memalingkan pandangan dan sedikit mengingat kalau basis Mother beserta para A.I di Moloia merupakan Korwa, pemuda itu membunyikan lidah karena merasa telah melewatkan sesuatu yang penting.
Menatap datar Laura, pemuda itu berkata, “Aku tak berhak memutuskan itu atau memberitahumu .... Kalau dari sudut pandang para A.I itu, diriku memang mirip seperti Inkarnasi Dewa.”
“Tak berha—?”
Perkataan Laura terhenti saat menatap kedua mata pemuda itu. Kematian — Dengan jelas gambaran seperti itu terngiang di kepala High Elf tersebut, membuat keringat dingin bercucuran dan melangkah mundur gemetaran. Odo segera melepaskan aura intimidasi terpusatnya sembari berdiri menaikan tangan kanan ke dagu, memasang senyum tipis dan berkata, “Kita lanjutkan pembicaraan ....”
Senyum tersebut seakan seringaian menakutkan di mata Laura, ia tidak bisa berkata dan mulutnya hanya menganga sembari kembali mengambil langkah mundur. Notmarina memegang pundak kiri rekannya tersebut dari belakang, menenangkannya dan berkata, “Tunggu dulu! Ada satu hal yang ingin kutahu!”
“Apa?”
“Kenapa kau memerintahkan Di’in dan Ra’an untuk membunuh bawahannya sendiri?” Notmarina terlihat marah soal hal tersebut, menunjuk lurus ke arah Odo dan bertanya, “Kau mendapat wewenang dari Master Rhea untuk memegang beberapa pasukan dari Fraksi PTP dan Pasukan Peri, ‘kan? Jangan berlagak kau tidak tahu itu!”
Odo sekilas terdiam, kembali menganalisa situasi yang ada dan memang merasa ada yang aneh. Tidak adanya pasukan yang dipimpin Di’in menjelaskan beberapa hal, ia melakukan Spekulasi atas situasi dan menghela napas kecil. Menurunkan tangan dari dagu dan menatap ke arah Notmarina, pemuda itu menjawab, “Aku tidak memerintah mereka ....”
“Hah?” Notmarina mulai kesal sampai keningnya mengerut. Ia berjalan melewati Laura, berdiri di hadapan Odo dan berkata, “Kau ingin melepas tanggung jawab?! Yang benar saja!!”
“Aku tak memerintah mereka ....” Odo tetap tenang, sekilas mengerti kenapa tiba-tiba paket informasi yang dirinya tanamkan pada Di’in memancarkan sinyal akan lenyap sebelumnya. Paket yang telah ditanamkannya ketika kejadian suku Klista itu berfungsi semacam pelacak kehidupan, karena itulah sebelumnya Odo bisa tahu kalau ada sesuatu yang terjadi pada Di’in dan bisa langsung datang.
Menatap dengan sorot mata datar, pemuda itu kembali berkata, “Kau tahu, berdiri di sini saja aku enggan. Sudah kukatakan tadi, aku sedang sibuk.”
“Lalu kenapa mereka melakukan itu?!” Notmarina benar-benar marah, ia mendekat dan sembari menarik kerah pemuda itu ia berkata, “Kenapa mereka membunuh rekan mereka sendiri?! Kalau bukan karena perintah dari atas, mereka tidak mungkin berani melakukannya!”
“Aku tanya balik, memangnya kau berjuang untuk apa? Apa untuk keamananmu dan rekanmu? Kepuasan? Perdamaian? Tanah air? Golongan? Atau demi dirimu sendiri?”
“Jawab dulu pertanyaanku!! Jangan mengalihkan pembicaraan!!”
“Aku tidak mengalihkan pembicaraan .... Jika memang kau berjuang demi perdamaian dan negerimu, kau akan pasti akan melakukan hal yang sama kalau di posisi mereka.”
“Tidak masuk akal!! Apanya yang perdamaian dengan membunuh bawahan sendiri?”
“Serius kau berkata seperti itu?” Odo menatap tajam dengan sorot mata kosongnya, memaksa Elf rambut hijau pucat itu melepaskan kerahnya dan berkata, “Hah?! Kau berani berkata itu di depan perempuan yang terbaring itu?!”
Odo menunjuk ke arah dua perempuan yang terkapar tidak sadarkan diri, membuat Notmarina tidak bisa lagi berargumen dan melangkah mundur.
“Aku —”
“Tenanglah, Notmarina ....” Laura berjalan mendekat, berdiri di depan Odo dan berkata, “Kita dengarkan dulu apa yang ingin dikatakan pemuda ini ....” Sekilas ia menyipitkan mata, merasa ada yang aneh dari hawa keberadaan orang di hadapannya tersebut.
“Aku akan persingkat ....” Odo sekilas menoleh ke arah barat, menyipitkan tatapannya dan kembali melihat ke arah mereka berdua seraya berkata, “Kau tahu Di’in dan pasukan menyusup ke sini dalam misi sabotase, ‘kan?”
“Ya ....” Laura merasa terganggu karena pemuda itu bisa tahu sampai rencana seperti itu. Menghela napas dan berusaha menenangkan diri, Prajurit Peri itu berkata, “Dalam laporan personel dan dana, kami tahu hal itu. Kami menyusup ke Felixia juga dengan niat yang sama, meminta bantuan mereka untuk menangkap Unsur Hitam demi mengamankan posisi Putri kami di istana kerajaan.”
“Tch, politik lagi ....” Odo memalingkan pandangan dengan kesal.
“Engkau keberatan?”
“Tak apa ....” Kembali menatap Laura, pemuda itu bertanya, “Jadi, apa kalian juga tahu kalau sasaran pertama dari regu gabungan fraksi-fraksi itu adalah suku Klista?”
“Klista?” Laura terlihat tidak tahu, dengan heran ia balik bertanya, “Suku pengelana yang tersebar di penjuru benua itu? Bukan sabotase ke pemerintah Luke?”
“Begitu, ya ....” Odo mengangguk kecil, lalu memalingkan pandangan dan bergumam, “Dari awal laporannya sudah dimanipulasi.”
“Manipulasi?” Laura menatap heran, ia semakin mendekat dan memegang kedua pundak Odo dan bertanya, “Oleh siapa? Apa maksudnya laporannya sudah dimanipulasi.”
“Pertanyaanmu akan kujawab nanti ....” Odo menatap datar, memasang senyum tipis yang kaku dan berkata, “Sekarang, jawab dulu pertanyaanku. Siapa Putri yang kau—?”
“Kau yang harus menjawab pertanyaanku!”potong Laura tegas.
Sekilas pemuda itu terdiam, memberikan tatapan datar dan kembali berusaha memahami sifat perempuan di hadapannya tersebut. Menyingkirkan kedua tangan Laura dari pundak, Odo melangkah mundur dan berkata, “Aku janji akan menjawab semuanya pertanyaanmu, tapi itu nanti. Sekarang percayalah padaku, jawab dulu pertanyaanku saja dan jangan banyak tanya .... Kumohon, waktunya terbatas.”
Sekilas Odo terdiam, menghela napas dan menggaruk bagian belakang kepala. Kembali menatap lurus mata Laura, ia berkata, “Ini perintah dari otoritas yang kumiliki. Jawab saja pertanyaanku ....”
“A—!” Laura tersentak, sorot matanya menjadi kosong dan ia terdiam layaknya boneka yang patuh.
“Tuan Putri yang kalian maksud itu siapa?” tanya Odo.
Tanpa kehendaknya sendiri, Laura dengan entengnya menjawab, “Tuan Putri ke-30, Ulla Vrog Ma’tar. Ia adalah anak dari Raja dan selir bernama Or’iama.”
Notmarina yang mendengar rekannya dengan mudah menjawab mulai curiga. Dari belakang rekannya ia menatap lurus ke arah Odo dengan ekspresi kesal, namun dirinya tidak tahu kalau Laura sedang dalam otoritas pemuda itu karena tidak bisa melihat wajah rekannya tersebut.
Tidak memedulikan hal tersebut, Odo kembali bertanya, “Kenapa kalian sampai sejauh ini demi Tuan Putri itu?”
“Mendiang Or’iama adalah salah satu sosok yang menemukan asimilasi teknologi kuno dengan sihir sekarang. Salah satu ciptaannya adalah Prajurit Peri ....”
“Pertanyaan terakhir .... Apa tujuan asli Tuan Putri kalian?”
“Mencegah pecahnya perang besar kedua, lalu mencari kebenaran dari dunia ini.”
“Hmm ....” Odo mengangguk paham dan sedikit memperkirakan sifat serta pola pikir Tuan Putri yang Laura sebutkan.
“A—!!” High Elf bermata hijau zamrud tersebut lepas dari otoritas, kesadarannya kembali dan langsung menyerapah, “Sialan kau! Beraninya menggunakan otoritas khusus seperti itu!” Laura langsung menarik kerah Odo, menatap tajam penuh amarah.
“Oto ... ritas?” ucap Notmarina bingung.
Laura sekilas melirik cemas karena memang rekannya tersebut tidak tahu tentang Prajurit Peri yang tidak bisa menolak perintah mutlak dari para A.I Rhea. Odo tidak memedulikan situasi mereka, pemuda itu memegang tangan kanan Laura yang mencengkeram kerahnya dan dengan nada datar berkata, “Tak usah marah, waktu kita habis .... Cepat ajukan pertanyaanmu langsung secara beruntun!”
“Hah?” Laura menatap kesal.
“Sang Rubah dan Penyihir Cahaya akan segera datang ke sini ....”
“Eh—?!” Laura tersentak. Meski dirinya tidak terlalu pandai mendeteksi tekanan sihir atau hawa keberadaan seperti Notmarina, namun pancaran energi kuat yang datang dari arah barat jelas-jelas membuat dirinya merinding. Ia melepaskan Odo, melangkah mundur dan berkata, “Ha-Hawa keberadaan yang datang dengan kecepatan tinggi ini ....”
“Laura ..., hawa ini memang ....” Notmarina dan para Prajurit Peri lainnya juga merasakan dua hawa keberadaan yang datang ke arah mereka dengan cepat.
“Itu mereka ....” Odo menatap datar ke arah langit barat, menghela napas dan kembali menatap ke arah Laura. Menunjuk High Elf tersebut, ia menegaskan, “Cepat tanyakan saja pertanyaanmu dan pergilah sebelum kalian dibakar hidup-hidup .... Aku juga tak ingin mendapat masalah.”
“Ini gawat, Laura! Tekanannya berkali-kali lipat dari pemuda itu!! Kita harus pergi!” ucap Notmarina dengan wajah pucat.
Menoleh dan melihat reaksi cemas rekannya tersebut, Laura semakin kehabisan pilihan. Menatap kesal dan berusaha percaya pada Odo, lalu dengan kaku bertanya, “Ka-Kalau begitu, untuk apa kau menolong Di’in dan Ra’na?”
“Hmm, selanjutnya ....”
“Kenapa kau cenderung memihak Moloia meski kau seorang anak Marquess dari kerajaan Felixia?”
“Selanjutnya ....”
“Apa tujuanmu?! Dan apa hubungannya dengan Master Rhea?”
“Masih ada lagi?”
“Satu lagi! Sebenarnya kau apa? Manusia? Malaikat? Iblis? Atau Naga? Kenapa bisa semua hawa keberadaan itu ada padamu?”
“Sudah?”
“Ya! Jadi, bagaimana kau menjawab semua pertanyaan itu—!”
Odo langsung menjabat tangan kanan Laura, menyalurkan informasi-informasi yang bisa menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Ia memberitahukan semua alasan kenapa dirinya berdiri di hadapan mereka untuk menyelamatkan Di’in dan Ra’an, kenapa dirinya cenderung memihak Moloia, tujuan serta hubungannya dengan Rhea dalam rencana yang dirinya buat, serta mengapa hawa keberadaannya bercampur dengan makhluk-makhluk lain.
Dari semua hal tersebut, ada sebuah kepastian yang dijanjikan Odo. Dengan wajah tidak percaya Laura meragukan itu dan bertanya, “Su-Sungguh .... Kau .... bisa menghentikan perang?”
“Sudahlah ....” Odo berhenti menjabat tangan perempuan itu, menghela napas ringan dan menunjuk ke arah utara seraya berkata, “Aku jelaskan nanti! Ikuti saja arahanku! Kau tak ingin ada pertumpahan darah di sini, ‘kan?! Cepat pergi ....”
“Ka-Kalau mereka? Di’in dan Ra’an ....”
Odo sekilas tersenyum, lalu dengan percaya diri berkata, “Aku yang akan mengurus mereka .... Akan aku pastikan mereka selamat. Kalian cepat pergi dan tekan pancaran sihir kalian, sebelum mereka sampai ....”
Laura terdiam, rasa tidak percaya masih ada dalam benaknya. Namun saat paham dua individu yang datang ke tempat mereka dengan kecepatan tinggi benar-benar dalam dimensi kekuatan yang berbeda, ia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan.
“Kita mundur!! Kita kembali ke pesisir!!”
Notmarina ingin membantah perintah itu karena masih banyak hal yang ingin dirinya tanyakan pada Odo. Namun karena ia merasa tidak bisa menang tanpa strategi matang melawan dua hawa keberadaan yang datang dengan kecepatan tinggi, Elf rambut hijau pucat itu hanya membunyikan lidah dan menangguk patuh.
“Laura, soal Di’in ....”
“Dia yang akan mengurusnya, kau dengar apa yang dikatakannya tadi, ‘kan?”
“Tch! Baiklah ....”
Dengan berat hati, mereka semua segera berlari kabur ke arah utara mengikuti Laura. Melihat mereka segera pergi seperti itu tanpa berdebat lebih lama, Odo menarik napas lega karena tidak harus ada korban lebih banyak dalam pertarungan tak perlu.
Pemuda rambut hitam tersebut segera berbalik, berjalan ke arah Di’in dan Ra’an yang terbaring tak sadarkan diri. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, sekilas melihat dari sela-sela jemari dan berkata, “Para Elf, ya .... Kalau ada monster tentakel pasti keren, aku bisa bereksperimen.”
Odo berjongkok di depan kedua perempuan itu, menurunkan Di’in yang menindihi Ra’an dan membuat mereka berbaring berjejer. Sembari tersenyum kecil dan membayangkan hal-hal aneh, ia bergumam, “Bercanda .... Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, gak ada gunanya.”
\================================================
Catatan : Terima kasih selalu membaca seri ini!
Silakan dukung terus dengan komen, like, dan share kalian!”
See You!