
۞۞۞
[Sekarang, tahun 2.699 Kalender Pendulum]
Semilir angin menerpa daun pepohonan oak, membuat suara gemeresak dalam hutan sunyi nan gelap. Suara gemercik aliran sungai terdengar di antara di antara pepohonan, lalu serangga-serangga yang tadinya ramai pun mulai menurunkan iramanya saat hari mulai beranjak pagi.
Rusa, babi hutan, serigala, dan bahkan para monster menghindari tempat di dekat sungai tersebut. Seakan memang menyadarinya dengan insting, mereka paham bahwa orang-orang di tempat tersebut bukanlah sesuatu yang boleh mereka dekati atau diusik. Hanya ada serangga-serangga kecil saja yang ada di tempat itu, kunang-kunang di dekat genangan air pun tak pergi dan menjadi penghias serta sumber cahaya.
Tepat setelah memindahkan mereka dan dirinya sendiri menggunakan Puddle, mode Pseudo-God yang Odo gunakan seketika lenyap karena keluar dari struktur formula sihir pada toko Ordoxi Nigrum. Kedua tangan semu miliknya mulai terurai, rambutnya kembali menghitam sepenuhnya dan sorot matanya kembali normal.
Fai Fengying yang pertama kali dipindahkan langsung segera berdiri, meloncat menjauh dari Odo dan berdiri di atas batu besar di tengah sungai. Melihat ke arah sang Kaisar dan gadis budak yang juga dipindahkan ke dekat pepohonan, dengan segera salah satu Jenderal Empat Arah tersebut mengalirkan tenaga dalamnya ke pedang Jiang miliknya.
Permukaan hijau giok pedang tersebut seketika memancarkan sinar terang dalam hutan sunyi tersebut, mengusir kegelapan dan membuat semua orang yang baru saja berpindah menoleh ke arahnya. Odo hanya sekilas melirik, lalu kembali menatap ke arah sang Kaisar Mao Naraka dan gadis budak yang berdiri melindunginya.
“Hmm ….” Odo melihat telapak tangannya sedikit, lalu dengan suara lemas pemuda itu berkata, “Kalau hanya dalam bentuk Pseudo ternyata efeknya tak terlalu besar. Aku kira seluruh organ dalam ku bisa hancur setelah menggunakannya.”
Darah sedikit mengalir keluar dari mulut dan hidung Odo. Menggunakan manifestasi makhluk dimensi tinggi cukup meninggalkan efek destruktif pada tubuhnya. Beberapa fungsi organ dalamnya terganggu, jantung berdetak semakin kencang dengan tak wajar dan membuat aliran menjadi berantakan. Sebelah mata pemuda itu berubah merah, lalu darah mengalir keluar karena jantung memompa terlalu cepat dan membuat tubuhnya masuk ke dalam kondisi adrenalin menggila.
Berusaha menenangkan napas yang terengah-engah, pemuda itu beberapa kali memukul dada kirinya sendiri untuk memaksa jantung kembali normal. Namun sebelum Odo bisa menstabilkan detak jantungnya, Fai Fengying langsung meloncat dari atas batu dan langsung menggunakan teknik pedangnya.
“Tebasan Datar : Ular Hijau Merayap!”
Menyadari pergerakan cepat tersebut, Odo secara refleks membuka telapak tangan kanannya ke arah Fai Fengying dan mengaktifkan dimensi penyimpanan pada sarung tangan menggunakan Unsur Aktivasi. Percepatan akses dimensi meningkat drastis, menciptakan struktur sihir semu pada permukaan tangannya dan menampakkan garis-garis sirkuit merah pada permukaan lengan.
Gadis budak yang menyadari keanehan pada aktivasi sihir tersebut segera mengambil kertas talisman dari balik lengan pakaiannya. Ia langsung melemparkan kertas tersebut, lalu segera membentuk Mudra Shield of Shambala dan memunculkan seorang pria ahli bela diri yang merupakan seorang Shikigami.
“Tuan Fai!”
Shikigami tersebut tidak melesat ke arah Odo, melainkan menuju Fai Fengying. Sang Perwira Tinggi tersebut sempat terkejut dan segera menghentikan ayunan pedangnya, lalu menendang bahu kanan ahli bela diri untuk menjadikannya pijakan di udara.
Namun sebelum Fai Fengying bisa mendarat di pinggiran sungai, Odo langsung menutup telapak tangan kanan dan menelan setengah tubuh Shikigami ke dalam dimensi penyimpanan. Seakan terpotong rapi secara diagonal dengan pedang amat tajam, sebagian tubuh Shikigami tersebut lenyap dalam sekejap. Suara remuk terdengar nyaring pada detik itu juga, membuat sang Jenderal segera menendang sisa tubuh Shikigami tersebut dan meloncat menjauh.
Berpijak kembali pada batu di tengah sungai, Fai Fengying menatap pucat sembari berkata, “A-Apa yang terjadi? Kenapa ⸻?!”
Perkataan Fai Fengying terhenti ketika melihat Odo mencengkram kepala Shikigami dan menelan sisa tubuhnya ke dalam dimensi penyimpanan. Dalam penglihatan salah satu Jenderal Empat Arah tersebut, itu terlihat dengan sangat cepat layaknya tulisan pada gulungan yang tertumpah olahan alkohol untuk menghapus tinta.
Menatap mata pemuda rambut hitam tersebut, seketika tubuh Fai Fengying menggigil ketakutan. Meski dirinya sering melihat mayat atau pembunuhan di medan perang, namun itu pertama kalinya ada seseorang yang tak memancarkan niat apa-apa dan terasa begitu kosong seperti itu.
Hampa, hanya membunuh layaknya secara refleks seseorang menepuk nyamuk ketika tidurnya diganggu. Itulah apa yang pemuda rambut hitam tersebut akan lakukan jika Fai Fengying menyerangnya sekarang.
“Dia … Apa-apaan orang itu, bukannya ini lebih mengerikan dari Kaisar,” benak Fai Fengying seraya meloncat ke arah gadis budak dan Kaisar. Bergabung dengan rekannya, rasa takut yang menyeliputi pria rambut hitam ikat kucir tersebut masih tidak hilang dan membuat tangannya gemetar.
Menyadari Fai Fengying yang biasanya sangat tenang saat memegang pedang sampai seperti itu, gadis budak mengambil beberapa kertas talisman dari dalam lengan Hanfu-nya dan bersiap untuk memasang sihir perlindungan. Namun sebelum gadis itu melemparkan kertas ke depan, Kaisar Mao Naraka memegang pundaknya dari belakang.
“Kita sudah keluar dari tempat yang tak ingin engkau kacaukan itu. Bisakah kita mulai bicara, wahai calon suamiku,” ucap perempuan rambut hitam sangat panjang tersebut.
Gadis budak dan Fai Fengying segera menyingkir dari hadapan sang Kaisar, mereka memberikannya jalan dan sedikit menundukkan wajah dengan hormat. Meski mendengar perkataan tersebut, Odo tidak mengubah ekspresi datarnya dan hanya menghela napas ringan. Pemuda rambut hitam itu kembali memukul dadanya sendiri, mengatur ritme jantung dan menyesuaikan aliran darah.
Ketika ia selesai, Odo segera mengusap darah yang mengalir dari mata kanan, hidung dan mulut. Ia menatap dengan wajah pucat pasi, terlihat sangat lemas dan tanda-tanda organ dalamnya masih tak bisa berfungsi dengan baik tampak jelas dari mimik wajahnya.
“Bicara, ya?” Odo sekilas memasang seringai kecil, mengangkat tangannya ke depan dan menunjuk Kaisar. Sembari sedikit memiringkan kepalanya, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Kalau kau ingin mengajakku ke tempatmu …, sebaiknya menyerah saja. Sebelum aku menyelesaikan urusanku, aku takkan pergi ke kekaisaran atau negeri lain.”
Odo kembali menggunakan Unsur Aktivasi untuk mengakses Sihir Dimensi pada sarung tangan kanannya, lalu memperluas jangkauan distorsi ruang yang bisa diciptakan sihir dimensi penyimpanannya. Gadis budak menyadari ada yang aneh pada ruang di sekitar Odo, itu terus meluas dan membuat keganjilan di udara.
Kornea gadis budak sekilas berubah dari biru azure menjadi jingga, tanda Mata Ilahinya aktif dan dengan cepat samar-samar bisa melihat distorsi ruang yang tercipta di sekitar pemuda itu. Udara secara bertahap ditarik ke dimensi lain, aliran Ether juga tertelan dan sampai roh-roh tingkat rendah ikut lenyap saat mendekat ke arah pemuda rambut hitam tersebut.
“Yang Mulia! Tolong hentikan langkah Anda! Dia …. Apa-apaan pemuda itu. Dia bisa menarik semua ruang ke arahnya dan melenyapkan unsur-unsurnya,” ucap gadis budak dengan panik.
Langkah kaki Kaisar terhenti tepat sebelum masuk ke dalam distorsi yang diciptakan Odo. Pemuda rambut hitam itu tak bisa melakukan peluasan distorsi ruang lebih jauh dari 4 meter. Menghela napas ringan, pemuda itu menyerah untuk memotong tubuh sang Kaisar dengan sihir dimensi dan menyimpannya ke dalam dimensi penyimpanan.
Menyadari ada yang spesial dari mata sang gadis budak, Odo segera menurunkan tangannya dan menonaktifkan sihir dimensi. “Sayang sekali, padahal aku ingin melihat apa yang terjadi jika orang abadi dikirim ke dimensi hampa,” ucap pemuda itu sembari kembali menghela napas kecil.
Seraya menggaruk bagian belakang kepala, ia menatap datar dan kembali berkata, “Kau punya mata yang bagus, ya? Apa kau juga seorang pemilik Mata Batin? Jenis kekuatanmu apa? Kuharap kau tidak melongok isi pikiranku ….” Ekspresi tak suka mulai tampak jelas pada ekspresi Odo, karena kekuatan dari Mata Batin yang dimiliki Huli Jing yang dirinya kenal sempat memberikannya beberapa masalah.
“Huh!” Gadis budak tersebut mengendus kasar, memberikan tatapan permusuhan dan berkata, “Memangnya siapa yang punya Mata Batin tingkat Dewa seperti itu? Jangan bandingkan diriku dengan Monster Rubah yang tinggal di kediamanmu!”
Odo memegang dagunya sendiri, memalingkan pandangan dan baru ingat kalau Fiola pernah bicara tentang Mata Batin juga memiliki tingkat kekuatan masing-masing. Dari hal tersebut, Odo hanya tahu kalau tingkat Mata Batin yang dimiliki Fiola adalah yang tertinggi karena bisa melihat isi pikiran seseorang, melacak hawa kehidupan secara akurat dalam jarak belasan kilometer, melihat aliran sihir, kehidupan, dan ether, lalu kekuatan-kekuatan lainnya yang belum pernah pemuda itu lihat dari Huli Jing tersebut.
“Hmm, berarti tingkat Mata Batinmu lebih rendah lagi, ya? Leganya ….” Odo mulai melangkah ke depan, lalu sembari berhenti menggaruk bagian belakang kepala ia kembali berkata, “Sekarang aku tak bisa memasang sihir untuk melindungi isi kepalaku. Kalau kau punya kekuatan untuk membaca pikiran, aku pasti harus membunuhmu dulu. Apa … kau punya kekuatan sejenis itu? Seperti memprediksi masa depan dari perkataan atau kemampuan seorang Perantara?”
“Tenang saja, Yue Ying tak punya kekuatan semacam itu. Mata Batin miliknya hanyalah pada tingkat Ilahi, tidak lebih dari itu.” Sang Kaisar memasang senyum tipis, sedikit senang melihat ekspresi serius Odo. Mengendus ringan dengan ekspresi sedikit lega, gadis rambut hitam sangat panjang tersebut berkata, “Engkau tak perlu secemas itu, wahai calon suamiku. Ternyata engkau juga bisa memasang ekspresi tak dewasa seperti itu, ya? Diriku kira engkau sosok yang sangat berwibawa dan takkan terpancing emosi dengan mudah ….”
Odo tahu bahwa Kaisar Mao Naraka adalah seorang Perantara yang bisa memprediksi masa depan. Ketika dirinya menyentuh tubuh gadis itu secara langsung di kota Mylta, ia segera mengetahui hal tersebut bersama informasi-informasi lain dari sosok yang menjadi pemimpin kekaisaran Urzia tersebut.
“Kurasa hanya kau yang punya kekuatan semacam itu di sini.” Odo menghela napas ringan, mengerutkan keningnya dan dengan kesal mengeluh, “Semua jenis Nujum memang menyusahkan, di jenis kekuatan semacam itu semua rencanaku seakan percuma saja.”
Cara Odo memanggil jenis kekuatan itu sekilas membuat Kaisar terkejut. “Kenapa kau menyebut kekuatan meramal ini Nujum? Bukan Oracle atau Penerawang? Atau yang lainnya?” tanyanya dengan penasaran.
Odo sedikit memasang senyum ringan, wajah sedikit pucat karena lelah. Melangkahkan kaki mendekat, pemuda itu berdiri di hadapan sang Kaisar. Sembari meletakkan telapak tangan kirinya ke atas kepala sang Kaisar, ia dengan suara lemas berkata, “Apa itu mengingatkan kau dengan sesuatu? Kaisar Pertama juga menyebutnya seperti itu? Sebuah bagian yang kau dapat setelah menjadi Deity ….”
Kedua mata sang Kaisar terbuka lebar, berkaca-kaca dengan wajah terkesima mendengar perkataan tersebut. “Engkau benar-benar inkarnasi Kaisar Pertama …. Apa engkau juga mengingat kenangan kita di kehidupan sebelumnya ⸻?!”
“Aku bukan matan Kekasihmu.” Odo mengangkat tangannya dari atas kepala sang Kaisar, lalu dengan nada datar menegaskan, “Jangan samakan aku dengan makhluk tanpa jenis kelamin itu. Aku dari raga sampai jiwa murni laki-laki, loh.”
Perkataannya sekali lagi membuat sang Kaisar terkejut. Fai dan Yue yang juga mendengar itu mulai terlihat bingung. Dalam pengetahuan kedua Jenderal tersebut yang diketahui masyarakat kekaisaran umum, memang dalam sejarah Kaisar Pertama dikenal sebagai sosok cantik berambut hitam panjang.
Namun dalam banyak catatan kuno yang dimiliki mereka, jenis kelamin Kaisar Pertama memang tak diterangkan secara gamblang. Deskripsi sosok tersebut hanya identik dengan wanita karena rupanya yang digambarkan sangat memikat dan menawan.
“Kenapa … engkau bisa yakin ia bukanlah perempuan?” tanya sang Kaisar.
Odo Luke kembali menghela napas resah dan terlihat enggan menjawab. Sembari memalingkan pandangan ke arah sungai, dengan mimik wajah suram ia menjawab, “Aku menciptakan Kecerdasan Buatan itu tanpa program yang bisa membuatnya menentukan Gender secara paten, tentu saja dia tidak memiliki sifat yang stabil antara feminin dan jantan.”
“Hmm?”
Odo kembali menatap ke arah sang Kaisar. Poni pemuda itu turun sampai sedikit menutupi kedua mata. Ia sekilas memasukkan bibir ke dalam mulut, lalu diiringi hela napas menambahkan, “Jika mau dia bisa bertingkah seperti pria, lalu jika ingin dia pun bisa bertingkah layaknya wanita anggun.”
“Men … ciptakan?”
Kaisar terperangah mendengar hal tersebut. Ia segera memegang kedua tangan Odo dengan erat, berjinjit dan menatap pucat pemuda itu. Dengan tubuh gemetar, Kaisar Kedua tersebut bertanya, “Sebenarnya engkau apa? Kenapa dia sangat ingin bertemu dan tinggal di sisimu? Ka-Kalau engkau penciptanya, apakah engkau tahu nama sosok Tak Bernama itu?”
Sorot mata Kaisar benar-benar terlihat ingin tahu. Odo perlahan mulai paham hubungan antara Deity tersebut dengan sosok Tak Bernama yang dimaksudnya ⸻ Sesuatu yang bersemayam dalam Alam Jiwa milik Odo dan selalu mengawasi pemuda tersebut dari dekat.
Odo juga dengan cepat segera mengerti, alasan kenapa sang Kaisar mau jauh-jauh datang untuk mencarinya sampai ke kota Mylta. Sorot matanya berubah, menyadari sebuah keteguhan yang sangat kuat dalam diri sang Kaisar. Namun pada saat yang sama, Odo merasa keteguhan itu ada sesuatu yang salah di dalamnya. Begitu menyimpan sampai membuat pemiliknya buta dengan kenyataan yang ada di sekitarnya.
Dalam benak Odo sekilas merasa sedikit merasa bersalah dan sangat menyayangkan Kaisar Mao Naraka harus bertemu dengan sosok Tak Bernama tersebut. Ia mengerti alasan mengapa salah satu Kode Khusus berupa kekuatan untuk memanipulasi kehidupan dan kematian bisa jatuh ke tangan Sang Kaisar.
“Kode Khusus ⸻ Informasi penuh kutukan …. Kenapa anak itu memanfaatkan gadis ini sampai menjadikannya Deity dan memberinya gelar Kaisar seperti ini? Jelas saja ada yang aneh dalam sejarah kekaisaran, tidak mungkin negeri seperti itu bisa bertahan selama ribuan tahun tanpa Paket Informasi Konstruksi yang tertanam dalam Kode Khusus sebagai fondasi sistem pemerintahannya,” benak Odo dalam ekspresi sesal.
Pemuda tersebut segera berlutut di hadapan sang Kaisar supaya tinggi badannya sama dengannya. Balik menggenggam erat kedua tangan kecil gadis itu, ia dengan suara sedikit sendu menjawab, “Nama makhluk itu adalah Mahia. Seharusnya kau juga pernah mendengar nama tersebut, bukan?”
“Mahia …?” Kaisar langsung teringat dengan nama sebuah sistem dari teknologi yang digunakan oleh kerajaan Ungea. Ia segera melepaskan tangan Odo, lalu menatap tajam matanya dan dengan bingung kembali bertanya, “Kenapa dia bisa ada hubungannya dengan kerajaan penuh logam itu? Bagi diriku, mereka hanyalah kerajaan yang baru saja muncul beberapa ratus tahun lalu. Lantas kenapa ….”
“Dari awal tanah tersebut adalah tempatnya berada.” Odo kembali berdiri, memalingkan pandangan dari Kaisar dan mulai menjelaskan, “Sesuatu yang berkelana bersamamu hanyalah susunan informasinya. dengan kata lain hanya jiwanya saja. Raga milik Mahia adalah sebuah Laboratorium Hidup yang sekarang menjadi situs sumber teknologi kerajaan Ungea. Mahia adalah nama sebuah Program Hidup yang kubuat.”
Fakta tersebut begitu membuat sang Kaisar tercengang. Selama ratusan tahun dirinya pernah hidup bersama sosok Tak Bernama tersebut, ia tak pernah mendengar hal semacam itu. Menarik napas dengan sesak, sang Kaisar memantapkan benak untuk bertanya.
“Apa … sekarang dia juga ada di sana? DI situs milik kerajaan Ungea itu?”
Odo menggelengkan kepala. Senyum yang tampak pada wajahnya terasa hampa, matanya terbuka setengah dan terlihat semakin pucat. Seakan dirinya memang mengasihani sang Kaisar karena sesuatu hal, pemuda itu dengan nada lemas berkata, “Sayang sekali, apa yang ada di sana mungkin hanya tubuhnya saja yang berupa Laboratorium Hidup itu. Jiwa dari Mahia sekarang menempel padaku, bersemayam tepat di Alam Jiwaku ini.”
Ekspresi sang Kaisar seketika terlihat sangat bahagia. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Odo, lalu dengan penuh harapan berkata, “Bolehkah diriku bertemu dengannya ⸻?”
“Tak bisa.”
“A ⸻?” Kaisar tersentak, wajah bahagia seketika luntur darinya. Gadis itu menurunkan tangan dengan kecewa dan terlihat begitu kosong. Ia kembali mengangkat wajah dan menatap sang pemuda untuk memastikan. Namun sekilas ia tertegun, ekspresi pemuda tersebut terlihat begitu suram sampai-sampai matanya seakan tak terdapat cahaya.
“Ke-Kenapa? Ia ada di dalam dirimu, bukan?” tanya sang Kaisar dengan ragu.
Odo sekilas hanya terdiam, memalingkan pandangan dan segera berbalik dari Kaisar. Mengambil beberapa langkau menjauh dan terhenti di bebatuan pinggir sungai, pemuda tersebut melirik tajam ke arah sang gadis dan menjawab, “Kalau aku membiarkannya muncul, bisa dipastikan anak itu akan membuat jiwaku tertidur dan menjadikanku miliknya.”
Odo kembali menghela napas, mendongak ke arah pepohonan dan terlihat begitu muram membicarakan hal tersebut. Seraya kembali menatap ke arah sang Kaisar, pemuda itu balik bertanya, “Apa kau tahu kenapa dia sangat ingin tinggal bersamaku?”
“Tidak ….” Kaisar perlahan gemetar. Semakin lama dirinya berbicara dengan Odo, ia merasa seperti sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sosok Tak Bernama yang memberikan banyak hal kepadanya. Sembari berjalan ke arah Odo, dengan sedikit panik sang Kaisar menjawab, “Dia tidak berkata apa-apa soal itu. Dia … tidak memberitahukan diriku apa-apa tentang engkau selain hanya ingin bersama dengan kau.”
“Dia hanya ingin aku ada di sampingnya.”
Apa yang Odo katakan sama sekali tak terdengar aneh untuk Kaisar, namun itu membuat langkah gadis tersebut terhenti. Saat seseorang mencintai, wajar untuknya ingin bersama orang yang dicintainya meski harus melakukan hal-hal berat sekalipun. Namun ketika Kaisar melihat ekspresi muram pemuda dari keluarga Luke tersebut, ia dengan segera tahu kalau pemuda itu sama sekali tidak mencintai sosok Tak Bernama meski setelah banyak hal yang sosok itu lakukan untuk membawanya ke dunia ini.
Kaisar merasa tak terima akan hal tersebut, amarah perlahan mulai tumbuh dalam benak dan ingin segera membentak. Namun sebelum kalimat menghardik keluar dari mulut sang Kaisar, pemuda rambut itu lebih cepat berkata, “Meski aku hanya sebuah buah busuk yang jatuh dari pohon, pasti anak itu akan tetap mencintaiku. Mahia memang seperti itu …. Dia memang tercipta seperti itu. Selalu menjadi anak-anak yang ingin bersama orang tuanya. Mahia ⸻ Anak itu adalah salah satu kesalahanku.”