Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 41 : Mutual-Evîn 1 of 10 (Part 02)



 


 


|Nanra POV|


 


 


Siang hari menjelang sore, pada bangunan kelas di lingkungan Gereja Utama. Di tempat tersebutlah kami anak-anak kalangan bawah menuntut ilmu. Bangunan yang ada hanya satu, ruangannya semacam aula dan hanya dipisahkan dengan sekat-sekat dari papan kayu tipis.


 


 


Kalau orang kalangan atas datang, mereka sering berkata kalau tempat ini tak layak untuk ruang ajar. Mereka mengungkapkan berbagai macam pendapat namun tak pernah kulihat melakukan sesuatu untuk kelas ini.


 


 


Lantai keramik, dinding batu bata dan lampu gantung hias menjadi sumber cahaya utama di ruang ini. Memang tidak terlalu besar, namun kurang lebih kelas yang dibagi menjadi beberapa sekat ini bisa menampung sampai 100 orang lebih.


 


 


Duduk di bagian kelas sekat yang dikhususkan untuk anak usia 14 tahunan, aku terlihat lebih kecil dari yang lain. Di kelas ini yang kukenal hanya Nesta, ia dengan serius mendengarkan pelajaran yang minggu ini diberikan oleh Imam Kota.


 


 


“Kerajaan Felixia adalah sebuah Kerajaan Suci dengan keturunan utama Falixia merupakan titisan ilahi. Titisan dari Yang Maha Kuasa dan sosok yang harus kita sembah! Mereka adalah keturunan dari langit sejak dunia ini terbentuk,” itulah yang dikatakan oleh pendeta yang sering mengajarku di sekolah akhir pekan.


 


 


Mereka semua yang mengajar anak-anak usia lima sampai tujuh belas tahun memang kebanyakan menekankan hal tersebut dan membuat semuanya percaya.


 


 


Apa yang mereka ajarkan menurutku sangatlah tidak masuk akal. Kalau memang Entitas Atas bisa melakukan hal semacam itu, mengapa harus ada kesengsaraan di dunia ini?


 


 


Kalau memang maha kuasa, mengapa mereka tidak menolong keturunannya?


 


 


Meski diriku terus bertanya-tanya soal itu dan sampai mengajukan pertanyaan semacam itu kepada beberapa guru di gereja ini, namun jawaban mereka malah sebuah hukuman untukku.


 


 


Meski tidak berat dan hanya disuruh untuk mengepel lantai setelah kelas berakhir, namun tetap saja tanda mereka tak menjawab sama saja mereka tidak tahu jawabannya. Aku mengambil kesimpulan ini.


 


 


Memang mereka mengajar kami anak-anak kalangan bawah tanpa pamrih atau mengharapkan bayaran, mereka memberikan ilmu dengan tulus layaknya sifat kebanyakan orang puritan. Namun—


 


 


Apa yang mereka ajarkan hanya apa yang mereka dapat dari atas, dari orang-orang yang statusnya lebih tinggi dari mereka. Untuk kepentingan mereka, memanfaatkan ketulusan hati orang-orang puritan tersebut.


 


 


“Nanra, jangan melamun terus, dong. Dengarkan perkataan Pak Andreass,” ucap Nesta yang sok dewasa dan berperan layaknya kakak.


 


 


Sedikit melirik tipis, aku mematuhinya dan berhenti melamun. Dalam kelas tak ada alat tulis, papan tulis atau semacamnya, hanya telinga dan penglihatan alat untuk kita belajar di kelas. Mendengar, mengingat, dan mengucapkan, itulah yang bisa dilakukan selama sekolah yang hanya dilakukan di akhir pekan ini.


 


 


Tingkat pendidikan kota memang tidak terlalu tinggi, pendidikan kalangan bawah hanyalah sebatas ini. Meski pun begitu, ada juga beberapa orang yang menganggap pendidik tak penting dan membuat anak-anak mereka untuk langsung bekerja mencari uang.


 


 


Kak Siska bukan orang yang buta pendidikan, karena itulah ia menyuruh kami untuk menuntut ilmu dalam keterbatasan. Meski kelas semacam ini bagiku tak efektif, namun kurasa mengikuti perkataan Kak Siska juga ada benarnya.


 


 


Pendidikan itu penting, di tempat ini aku bisa dengan bebas membaca buku dan kalau aku berprestasi hak membaca buku di perpustakaan secara gratis juga bisa kudapat. Nyatanya, aku loncat beberapa tingkat dan sampai di sekat kelas khusus untuk anak usia 14 ke atas ini.


 


 


Selesai jam pelajaran dari Imam dan hari sudah benar-benar sore, aku segera beranjak dari tempat duduk dan pergi terlebih dulu tanpa menunggu Nesta. Segera mengambil kertas tiket untuk pergi ke perpustakaan dari biarawati yang berada di dekat pintu, lalu keluar dan segera melangkahkan kaki dengan tujuan akhir perpustakaan kota.


 


 


Hanya itulah yang kuinginkan dari kelas. Satu-satunya hal yang menguntungkan dari kelas sederhana ini adalah tidak adanya absen. Masuk tidak masuk bebas terserah anak didik. Karena itulah sekolah akhir pekan ini gratis.


 


 


Meski begitu, setiap empat atau enam bulan sekali biasanya diadakan tes untuk kenaikan kelas dan biasanya anak-anak harus melakukan pendidikan selama beberapa tahun untuk bisa mengerjakan soal dalam tes tersebut.


 


 


Aku loncat kelas sebanyak tiga kali. Bukan menyombong, tapi karena memang aku membaca buku lebih banyak dari yang lain. Tak seperti Nesta dan anak-anak lain di panti asuhan, aku tak memiliki tujuan jelas atau gambaran apa yang harus aku lakukan ketika masa depan nanti. Karena itulah aku punya waktu luang lebih banyak dari mereka.


 


 


“Irinya ... punya tujuan seperti itu, yang bisa kulakukan hanya ....”


 


 


Apa yang bisa kulakukan hanya mengeluh, membenci kalangan atas apa yang kuderita. Meski ingin sedikit ingin melangkah maju, namun kejadian seperti itu malah terjadi dan aku—


 


 


“Aku tahu kau sangatlah pandai, jadi jangan pelihara sifat bodohmu itu dan cobalah lihat kenyataan. Jangan kecanduan delusi seperti itu,” ucapan pemuda itu terngiang dalam kepalaku.


 


 


Entah mengapa ini terasa persis seperti apa yang dikatakannya. Menyebalkan, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku ... bergantung dengan hal itu. Aku dalam benak merasa nyaman dengan hal semacam itu.


 


 


“Sampai kapan ini berlangsung ....”


 


 


Menuruni anak tangga dari lingkungan Gereja Utama, aku dalam benak berniat untuk langsung pulang ke Panti Asuhan dan tak jadi pergi ke perpustakaan. Tidak seperti Nesta yang sehabis ini mau melanjut mengikuti pelatihan menjadi biarawati, aku tak punya kegiatan.


 


 


Berjalan melewati bagian depan distrik niaga, tempat ini terasa lebih ramai dari biasanya. Kurasa bukan hanya karena ini sudah masuk musim semi, namun juga karena pembukaan rute dagang besar-besaran yang dilakukan pemerintah kota.


 


 


“Ah, pasti ini ulahnya lagi ....”


 


 


Sekilas menoleh ke arah pasar, rasanya memang tempat ini menjadi semakin hidup. Memang ini patut disyukuri, aku harus ikut bahagia. Tapi—


 


 


“Rasanya aku seperti ditinggalkan ....”


 


 


Berusaha tidak memikirkan itu lebih jauh, aku memalingkan pandangan dan kembali berjalan. Namun saat itu aku melihat pemuda yang kukenal pada salah satu sudut pasar. Rambut hitam yang khas, kulit putih cerah dan mata biru. Dari semua itu, penampilan kemeja putih dan celana hitam yang menjadi ciri khasnya cukup mencolok bagiku di tengah keramaian.


 


 


Ia sedikit terlihat berbeda, rambutnya dipotong pendek dan masih dalam bentuk sihir transformasi menjadi dewasa. Hendak menghampirinya, aku segera mengurungkan niat untuk mendekati pemuda yang ada di seberang jalan itu.


 


 


Ia terlihat sedang sibuk berbicara dengan para pendatang gelap, para Demi-human tanpa tanda penduduk kerajaan Felixia. Aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, namun ku paham kalau dirinya sedang sibuk.


 


 


“Dia memang baik pada siapa pun ....”


 


 


Aku merasa hina pernah ingin membuat orang sepertinya marah. Itu benar, dia dari kalangan atas dan berbeda dengan orang-orang lain. Berpikiran luas, baik, dan rendah hati. Memang terkadang ia memasang wajah licik dan berkata kasar, namun kurasa itu tanda kepeduliannya.


 


 


Segera berbalik, aku melangkahkan kaki dan berjalan pergi dari tempat. Segera menjauh darinya dan tidak menggagu pemuda itu. Hubungan yang ada di antara kita sudah tak bisa diperbaiki, hubungan teman berbeda kasta seperti layaknya dalam dongeng-dongeng yang sering kubaca sudah tak mungkin terbentuk di antara kita.


 


 


Aku menusuknya, saat itulah hal seperti itu terpotong dengan sangat rapi. Karena hasrat sesaat semacam ingin mengubah sesuatu, hal bodoh seperti itu kulakukan.


 


 


Aku ....


 


 


“Oooi! Nanraaa!”


 


 


Eh?


 


 


Aku menoleh saat mendengar suara itu. Rasa aneh apa ini yang terasa dalam benak? Hangat? Dadaku terasa hangat? Kenapa? Kenapa ... dia memanggilku?


 


 


Pemuda itu berjalan di antara kerumunan, menyeberangi jalan dan sampai di depanku. Menatap matanya dari depan, entah mengapa ia terasa lebih tinggi dari sebelumnya.


 


 


Eng! Apa-apaan ini? Dia belum sepuluh tahun, ‘kan?! Kenapa tinggi banget! Ah ..., benar juga. Sihir transformasi. Duh! Kenapa jadi gugup! Tenang .... Tenang ....


 


 


“Kenapa ngos-ngosan gitu? Habis dikejar apa?” tanya Odo. Ia berjongkok di depanku, menatap tajam ke arahku.


 


 


“Enggak .... Lagian, kenapa kamu ada di pasar, Odo?”


 


 


“Hmm, habis ada urusan.”


 


 


“Dengan para imigran gelap?”


 


 


“Ya .... Aku ingin mempekerjakan mereka. Tadi sedikit mengobrol soal itu dengan mereka.”


 


 


“Eeeeh? Padahal masih banyak orang, kenapa juga pilih mereka? Susah nanti, loh. Kalau kenapa-napa ... baru tahu rasa.”


 


 


“Yah, ada alasannya .... Sekedar saran dariku, sebaiknya kau tidak menilai orang lain seperti itu. Meski gelandangan mereka baik, loh.”


 


 


Ah .... Lagi? Kenapa dia selalu bisa dengan entengnya bicara benar seperti itu? Kenapa dia selalu saja mengoreksi orang lain semudah itu? Dengan benar dan tepat .... Rasanya ....


 


 


“Kenapa diam?”


 


 


Odo mengulurkan tangannya dan hendak menyentuhku. Secara refleks, aku menepis tangannya dan melangkah mundur. “Ja-Jangan sentuh!” Ah, kenapa kau melakukan itu? Aku ....


 


 


“Hmm, begitu?” Odo berdiri, menatap datar ke arahku. Sekilas aku merasa kornea matanya berubah warna. Ah, itu mungkin hanya perasaanku saja.


 


 


“Kamu mau ke mana? Habis sekolah mingguan?” tanya Odo datar.


 


 


“Ya, begitulah.”


 


 


Eng, tunggu! Di belakangnya siapa?


 


 


Ah, Odo bersama perempuan lain lagi. Kenapa rasanya nih orang gonta-ganti pasangan terus? Apa memang sifatnya seperti ini? Perempuan di belakangnya itu .... Dia ... Shieal, bukan?


 


 


Rambutnya sangat indah, lurus dan warna birunya sangat murni. Kulitnya juga putih mulus dan matanya ... sangat menawan. Siapa dia? Apa ... ada orang seperti dia di kalangan Shieal?


 


 


“Hmm, dia Vil. Apa kamu penasaran?” ucap Odo.


 


 


“Tidak juga ....” Aku memalingkan pandangan darinya. Itu bukan urusanku dia mau pergi dengan siapa.


 


 


“Dia Roh Agung, loh.”


 


 


“Eh!? Roh Agung?!!” Serius? Kalau dia Roh Agung dan dia bersama Odo, berarti—


 


 


 


 


“Odo, kamu—!”


 


 


Odo langsung melingkarkan tangannya ke pundak perempuan itu sebelum perempuan itu berbicara. Odo tersenyum kecil dan berkata, “Yah, bisa dibilang umurku tidak lama lagi. Kau tahu konsekuensi kontrak jiwa, bukan?”


 


 


A— Kenapa ... dia melakukan hal itu? Apa ... alasannya? Kenapa malah .... “Untuk ... apa? Berapa lama lagi kamu .... Odo ....”


 


 


“Satu tahun lagi mungkin.”


 


 


“A—Satu tahun ...? Itu ....”


 


 


“Yah, aku bohong, sih.”


 


 


“Eh?” Ah? Hmm?  Hmm?! Bohong? Bohong?! Sialan! Nih orang memang menyebalkan!


 


 


Aku langsung menendang betisnya! Menatap tajam dan langsung berbalik meninggalkannya.


 


 


“Dasar!! Aku benci kamu!!”


 


 


“Haha, imutnya~!”


 


 


“Berisik kau!”


 


 


Setelah itu, entah mengapa pemuda itu mengikutiku dan terus mengoceh tidak jelas. Sungguh! Aku ingin menghajar diriku di beberapa menit lalu yang percaya dan meresa kagum padanya. Aku lupa, orang ini memang punya sifat jahil yang menyebalkan.


 


 


««»»


 


 


|Author POV|


 


 


Pada daerah pelabuhan, di dekat dermaga Nanra berdiri seraya menatap ke arah kapal-kapal yang berlabuh. Senja kemerahan menyinari daratan, membawa rasa sunyi yang aneh di awal musim semi. Tepat di sebelah gadis rambut putih tersebut, Odo berdiri tanpa berkata apa-apa setelah mengikutinya sampai tempat tersebut.


 


 


Vil yang berdiri cukup jauh dari mereka hanya menatap datar, paham dengan apa yang hendak Odo bicarakan dengan anak gadis tersebut. Menyipitkan mata, dengan sura lirih Roh Agung tersebut bergumam, “Dia ... memang seleranya .... Anak itu ....”


 


 


Odo sekilas mendengar itu karena pendengarannya tajam, namun tidak untuk Nanra. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut menunjuk ke arah dermaga dan berkata, “Di sana kamu menusukku, ya?”


 


 


Nanra langsung tersentak, merasa kesal dengan sifat jahil Odo dan pada saat yang sama sedikit murung mengingat tindakannya sendiri. Melirik kecil, anak gadis itu berkata, “Kamu memang jahil, dasar menyebalkan. Meski sudah terlihat dewasa seperti itu, kau tetap saja ....”


 


 


“Aku masih delapan tahun, loh. Ulang tahunku bahkan nanti bulan depan, aku masih anak-anak.”


 


 


Pemuda itu berjalan ke pembatas, duduk di atasnya dan menatap ke arah Nanra. Melihat sosok rambut hitam tersebut, gadis rambut putih itu merasa kalau Odo memang sangat menawan. Begitu gagah dan tatapannya memikat. Membuat wajah Nanra sekilas memerah dan segera memalingkan pandangan.


 


 


“Memangnya aku peduli! Kau tahu, sifat harus mengikuti penampilan.”


 


 


“Hahah, benar juga.”


 


 


Memalingkan pandangan dari Nanra, pemuda itu melihat ke arah matahari terbenam. Tersenyum kecil menikmati pemandangan yang ada dan memasang wajah lega. Nanra sedikit bingung dan terheran melihat senyuman itu, ingin bertanya namun tersangkut dalam tenggorokkan dan tidak bisa keluar menjadi perkataan.


 


 


“Indah sekali, ya .... Momen singkat ini ....”


 


 


“Apa kau suka matahari terbenam?”


 


 


“Ya .... Sangat.”


 


 


Nanra berjalan mendekat, berdiri di dekat Odo dan memegang pagar pembatas. Meski pemandangan sedikit terhalang perahu yang berlabuh, namun matahari terbenam masih terlihat jelas dan Nanra merasa kalau itu memang cukup indah.


 


 


“Ini memang indah ....” Perkataan itu keluar dari mulut Nanra tanpa dirinya sendiri sadari.


 


 


“Menurutmu ... momen paling gelap itu saat apa?” tanya Odo.


 


 


“Hmm, menjelang malam seperti ini?”


 


 


“Bukan .... Momen paling gelap adalah saat menjelang fajar.”


 


 


“Eh?”


 


 


“Ketika tengah malam berlalu, itu akan menjadi momen paling gelap .... Dan daratan ini akan melalui momen itu, Antequam Aurora.”


 


 


Gadis rambut putih itu hanya menatap dengan bingung, tanpa bisa menangkap arti sebenarnya perkataan Odo. Ia merasa kalau perkataan seperti itu pernah dirinya dengar, namun ia lupa siapa yang mengatakannya.


 


 


Sedikit memalingkan pandangan dari pemuda itu, Nanra mengingatnya dan berkata, “Mediang ibuku juga pernah mengatakan itu .... Pagi buta itu waktu paling gelap.”


 


 


“Syukurlah kau paham .... Kalau memang tahu hal itu, apa yang kau persiapkan?”


 


 


“Persiapkan ...? Memangnya apa—”


 


 


Saat mendapat tatapan tajam dari pemuda itu, Nanra baru sadar apa arti di balik perkataannya. Sebelum fajar yang dimaksud Odo hanyalah sebuah kiasan, untuk menggambarkan fajar yang akan datang di benua Michigan. Tentu saja dirinya juga langsung tahu maksud dari perkataan momen paling gelap itu apa.


 


 


Menarik napas dalam-dalam, dengan gemetar gadis itu bertanya, “Memangnya ... apa yang akan terjadi nanti?”


 


 


Pemuda itu tidak langsung menjawab. Memalingkan pandangan, melihat ke arah matahari terbenam dan sedikit memasang wajah muram.


 


 


“Pertama-tama ..., kau tak perlu merasa bersalah. Meski saat itu kau tidak menusukku, hal ini tetap akan terjadi.”


 


 


“Hal apa ... memangnya? Apa yang akan terjadi? Kenapa kau memasang wajah seperti itu, Odo?” tanya Nanra cemas.


 


 


“Perang .... Sebentar lagi perang akan terjadi. Mungkin ini akan menjadi perang paling buruk dalam sejarah benua ini.”


 


 


“Pe-Perang? Kenapa ...? Apa ... karena aku menusukmu? Orang-orang Moloia itu mencari alasan unt—”


 


 


“Sudah kubilang itu bukan salahmu,” ucap Odo seraya menatap datar anak gadis tersebut. Itu membuatnya gentar dan langsung terdiam. Menepuk ringan kepala Nanra, pemuda itu berkata, “Kau tahu, perang bukanlah masalah antar individu, itu masalah negeri. Kita ... hanya sebuah komponen dari organisasi besar bernama kerajaan Felixia, tak lebih dari gerigi kecil. Meski kita berhenti berputar, kerajaan akan tetap bergerak selama komponen utama terus berjalan .... Perang ini ... sudah tak terhentikan.”


 


 


“Ja-Jangan bercanda seperti itu, dong! Itu tidak lucu ...!”


 


 


“Bercanda?” Odo sedikit mengangkat alis saat mendengar perkataan itu. Tersenyum kecil, ia berkata, “Kalau kau menganggapku bercanda tak masalah, tapi tolong ingat baik-baik perkataanku ini ....” Odo menatap tajam gadis itu, dengan wajah penuh ekspresi sedih.


 


 


“Apa ... kau ingin terus berada di zona nyaman dan berakhir? Atau kau ingin keluar dari zona nyaman dan tersakiti untuk terus bertahan? Mana yang kau pilih?”


 


 


“Aku .....”


 


 


Suasana berubah senyap, Nanra menundukkan kepala dan tidak bisa langsung menjawab. Gadis itu sadar itu adalah sebuah tawaran, meski begitu dirinya tak bisa menerimanya langsung. Sadar akan hal tersebut, Odo mengangkat tangannya dari kepala Nanra.


 


 


“Kau bisa memberikan jawabanmu nanti, aku tak mem—!”


 


 


“Baiklah! Aku ikut denganmu!”


 


 


Odo sedikit terkejut mendengar suara tegas itu. “Apa kau benar-benar memikirkannya? Apa kau paham apa yang kutawarkan?” tanya pemuda itu sembari tersenyum tipis.


 


 


“Kau tahu ..., Odo. Aku sejak dulu ingin berubah .... Ini benar seperti katamu, bergantung pada delusi dan terus menyalahkan orang lain rasanya membuatku membusuk dari dalam. Rasanya ... pikiranku digerogoti. Aku ....”


 


 


“Sungguh? Tapi asal kau tahu, kalau kau menerima tawaranku, pasti jalan yang kau lalui akan sangat berat dan terjal. Kau tak akan bisa bersantai lagi, begadang dan bekerja sampai lelah akan menjadi keseharianmu ....”


 


 


“Itu ... tak masalah! Aku sudah muak keseharian macam ini .... Aku ingin berubah! Sebelum mengubah sesuatu, aku ingin mengubah diriku dulu!”


 


 


Odo tersenyum kecil mendengar itu. Sembari melepaskan salung tangan kanannya, ia berkata, “Kau memang cerdas dan cepat tanggap, karena itulah aku suka dirimu ... Baiklah .... Kalau begitu, terima ini dan akan aku bimbingmu sekarang ....”


 


 


Odo mengulurkan tangannya kepada Nanra. Dengan tanpa ragu, anak gadis itu menjabatnya tanpa tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dalam hitungan detik, paket informasi yang telah disiapkan terkirim dan langsung mengisi kepala kecil gadis itu.


 


 


Momen perjanjian antara putih dan hitam itu terjadi di bawah sinar senja kemerahan, dengan Vil sebagai saksi kedua orang itu berjabat tangan. Menatap mereka dengan ekspresi sedikit sedih, Roh Agung tersebut memalingkan pandangan.


 


 


Ia sangat paham kalau Odo memang benar-benar peduli dengan Nanra, karena itulah dirinya sedikit iri sekaligus kasihan pada gadis rambut putih tersebut. Sedikit menundukkan wajah, dalam benak ia berkata pada dirinya sendiri, “Dia tipe orang yang tak akan berada di samping orang yang dicintainya .... Itu pasti, Odo itu ....”


 


 


\====================


 


 


Catatan:


Ketika Aku sudah mulai muak dengan membuat judul:v


Btw, ada yang lidahnya keseleo saat baca judul CH sebelumnya?