
Setelah keluar dari distrik perniagaan, tujuan Odo selanjutnya bukanlah Panti Asuhan Inkara melainkan beberapa tempat di sekitar daerah pengrajin yang arahnya berbeda dengan daerah pelabuhan kota. Tempat yang dituju mereka dirinya dan Julia tidak lain adalah pandai besi yang cukup terkenal dan menjadi langganan kediaman Luke untuk merawat perlengkapan dan senjata.
Untuk sampai ke tempat tersebut Odo harus kembali ke balai kota, lalu mengambil salah satu jalan utama yang arahnya berlawanan dengan distrik perniagaan. Tempat tersebut memang tidak sepopuler distrik untuk perekonomian lain, tetapi dalam segi kualitas barang tempat tersebut cukup terkenal pada masanya. Berjalan menyusuri jalan utama distrik itu, Odo melihat beberapa tanda papan yang menandakan bangunan apa saja yang ada di sepanjang jalan.
Distrik pengrajin berbeda dengan perniagaan, tempat tersebut tergolong sepi pengunjung dan hanya beberapa bengkel yang masih membuka pintunya di musim dingin. Tidak jauh berbeda soal penampilan bangunan, sebagian besar dari tempat itu terlihat tua dan mata Odo sekilas terkesima dengan unsur klasik di dalamnya.
Pengrajin tembikar, penenun kain, pengrajin kayu, perkumpulan tukang, pengrajin anyaman, pengrajin kaca, pandai besi, dan ada banyak lagi jenis bengkel pengrajin di tempat tersebut. Setiap mengamati padan tanda di atas pintu masuk tiap bangunan, Odo semakin merasa kalau tempat tersebut sangat lengkap. Tetapi sayangnya sebagian besar dari bengkel tidak membuka pintu dan terlihat tidak terawat, itu tanda mereka tidak mendapat pelanggan yang layak untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Apa karena sedang musim dingin jadi mereka tidak buka?” benak Odo saat melihat itu. Kembali melihat ke depan, langkah kaki anak itu semakin cepat dan Fiola sempat kesulitan menyesuaikan kecepatan langkahnya.
Sampai di tempat tujuan, bengkel pandai besi yang Odo tuju terlihat tak sesuai ekspektasi. Bangunan tersebut terlihat sepi, tertutup salju atapnya dan terkesan monokrom dengan warna debu yang menutupi dinding dengan tebal. Pintu tempat tersebut dibuka, tetapi tidak ada tanda seseorang di dalamnya.
“Permisi ....” Odo mengetuk pintu, lalu berdiri di dekat kusen dan mulai melongok ke masuk. Di dalam terlihat ruangan untuk menerima pelanggan, terdapat beberapa zirah, perisai, dan beraneka ragam senjata yang dipajang.
Tidak menemukan tanda-tanda orang di dalam, Odo melangkah masuk seraya kembali berkata, “Permisi, apa ada orang?” Tidak ada respons, Fiola yang mengikuti anak itu sempat cemas kalau ada orang yang menganggap mereka pencuri karena main masuk seperti itu.
Seakan tidak memedulikan rasa cemas Fiola, anak rambut hitam itu mulai mengamati dengan kagum hasil tempa tempat tersebut yang dipajang pada dinding dan kotak kayu. Memang senjata-senjata yang ada tidaklah sehebat barang-barang di gudang kediaman keluarga Luke, tetapi hasil tempa yang ada di tempat tersebut memang cukup mengagumkan di mata Odo.
“Senjata memang seharusnya seperti ini, metal mengkilat dan kesan klasiknya kuat. Tidak seperti senjata di rumah yang warnanya menor dan bentuknya aneh,” gumam anak itu seraya menyentuh permukaan salah satu pedang yang digantung.
“Sedang apa kau, nak?”
Seseorang membuka pintu gorden kusut berwarna merah di dekatnya, datang dari ruang belakang dari tempat tersebut dan langsung menatap Odo. Tubuhnya kerdil, jenggot berewok menghiasi wajahnya dan ia terlihat membawa sebuah palu tempa di tangan kanan. Melihat penampilan dan pakaian yang dikenakan pria tua tersebut, Odo secara spontan berkata, “Dwarf?”
“Ya, saya Dwarf. Apa ada masalah dengan itu?” ucap pria kerdil itu, tingginya bahkan tidak lebih tinggi dari Odo.
Pria tua kerdil itu terlihat tidak ramah dan malah sangar, beberapa bekas arang dan debu terlihat pada tangan dan wajah pria itu. Rambut pria tua itu cukup panjang sampai bahu, sedikit gimbal dan berwarna cokelat kusam. Matanya berwarna cokelat cerah, terlihat bersinar meski penampilannya terlihat dekil.
“Maaf, bukan maksudku menyinggung. Aku datang ke sini ingin memesan pedang, apa masih bisa memesannya?” tanya Odo dengan wajah sedikit heran mendapat tatapan sangar dari pandai besi tersebut. Fiola yang mendengar perkataan anak itu terlihat bingung dan baru tahu kalau tujuan mereka datang ke tempat itu adalah untuk memesan senjata.
“Pedang, ya .... Jarang sekali ada yang mau memesan pedang di musim dingin seperti ini, biasanya hanya ibu rumah tangga atau pemburu yang datang untuk perawatan alat-alat mereka.”
Dwarf tersebut berjalan ke arah meja counter, meletakkan palunya di gantungan dan mengambil kertas dari kolom untuk ditunjukkan pada Odo. Melihat pria itu seperti tinggi badannya bertambah saat berdiri di balik meja, anak berambut hitam itu sempat melongok dari samping dan ternyata pria tua itu berdiri di atas sebuah kursi.
“Sedang apa kau, nak? Lihat ini daftar bijih logam yang tersedia sekarang, apa kau tetap ingin membuat pedang dengan bahan-bahan kualitas rendah ini?” ucap pandai besi tersebut. Odo berjalan ke depan meja yang tingginya sampai selelernya, lalu mengambil kertas tersebut untuk melihat daftar bijih besi yang tersedia.
“Yah, itu berbeda lagi kalau kau membawa bahan sendiri atau mau mencarinya di tambang. Yah! Saya tidak menyarankannya, sih! Kha kha!” ucap serak pandai besi tersebut. Tetapi saat mendapat tatapan tajam dari Fiola, ekspresi wajahnya mulai menciut dan sedikit merinding.
“Nak, gadis yang datang denganmu itu siapa? Kenapa dari tadi dia melotot ke arahku seperti itu?”
“Ah, aku belum memperkenalkan diri, ya .... Aku Odo, dan dia adalah salah satu pelayan dari rumahku, Fiola.” Anak itu tidak menatap pandai besi saat mengatakan itu, ia dengan antusias melihat daftar bijih yang ada pada kertas di tangannya.
“EH!? Luke!? Fiola!? Dia Fiola sang Hewan Suci yang melayani Master Mavis!? Kalau begitu ..., anda berarti benar-benar Odo Luke ....”
“Sudah kukatakan tadi ....”
Pandai besi tersebut benar-benar terbelalak, ia turun dari atas kursi dan berjalan ke hadapan Odo. Segera berlutut hormat, ia berkata, “Maafkan kelancangan saya! Saya tidak tahu kalau Anda pewaris keluarga Luke yang terkenal itu ....” Odo tidak menatap pandai besi tersebut, anak itu terus melihat daftar bijih logam dan benar-benar terpaku pada itu.
Sedikit melihat dari balik kertas, Odo berkata, “Tak usah seperti itu, paman. Aku datang bukan untuk pamer, aku datang untuk memesan pedang .... Apa paman bisa membuatkannya?”
“Te-Tentu saja ....” Dwarf itu berdiri, lalu menatap dengan ekspresi takut sekaligus cemas membuat suasana hati anak itu memburuk. Sadar akan hal tersebut, Odo benar-benar mengerti kalau nama Luke memang tidak bisa dianggap remeh di mata orang-orang jelata.
“Anda tidak perlu secemas itu, aku datang bukan karena urusan formal .... Aku hanya ingin memesan sebilah pedang saja,” ucap Odo.
“Ya!” jawab pandai besi itu dengan semangat yang bercampur rasa cemas.
Odo menghela napas dan paham hal seperti itu tidak bisa hilang dengan cepat. Menatap datar, ia kembali memeriksa daftar bijih logam yang tersedia pada kertas di tangan. Melirik datar pria tua itu, ia berkata, “Apa bijih Damaskus ini benar-benar habis?”
“Damaskus? Iya ..., maafkan saya .... Bahan itu sudah tidak saya dapat sejak beberapa tahun lalu .... Itu berasal dari Kerajaan Ungea, sejak jalur perdagangan kota ini dipotong oleh jalur lain logam itu tidak bisa saya dapatkan lagi ....”
Mendengar itu, Odo kembali melihat daftar dan bergumam, “Kalau masih ditulis berarti masih berharap dapat, ya.”
“Ya ...?” Pandai besi itu tidak bisa mendengar perkataan Odo dengan jelas.
“Kalau begitu, tolong gunakan kombinasi Spring Steel, Strip Steel, dan tambahan logam besi biasa. Untuk gagang, buat saja sesukanya asal mudah digenggam satu tangan.”
“Eh? Ti-Tidak bisa begitu, Tuan .... Kalau logam dicampur-campur seperti itu, hasilnya bisa buruk. Tingkat kemurnian bahan mempengaruhi kualitas pedang ....”
Odo menatap datar saat mendengar itu. Ia mengetahui hal tersebut, dirinya pernah membaca beberapa buku tentang penempaan dan kurang lebih tahu dasar-dasar tentang hal tersebut. Memasang senyum ramah di wajah, anak itu berkata, “Tenang saja, kombinasi itu tidak mempengaruhi kualitas. Kombinasinya tolong 20% Spring Steel, 70% Strip Steel, dan selebihnya adalah bahan besi bebas untuk pemoles ....”
“Kalau hasilnya buruk ....”
“Teknik tempanya pakai paron, ‘kan? Dipanaskan pada dapur tempa, lalu baru dibentuk di atas paron, bukan?”
“Ya ..., teknik tempa memang seperti itu. Teknik pelelehan membutuhkan bengkel yang lebih besar dan banyak orang, tempat ini kecil dan di belakang alatnya terbatas ....”
“Hmm, tenang saja kalau begitu. Kalau pun hasilnya buruk, aku tidak akan protes. Yang penting buat saja sesuai pesananku, jangan sampai mengubah komposisinya, ya.”
Pandai besi itu terlihat bingung dengan permintaan seperti itu. Sepanjang dirinya menjadi pandai besi meneruskan bengkel warisan keluarganya berpuluh-puluh tahun, itu pertama kalinya ia mendapat permintaan seaneh itu. Sedikit memasang wajah tidak puas, ia berkata, “Baiklah, kalau itu permintaan anda. Jadi pedang bentuk apa yang ingin anda buat? Satu tangan? Dua tangan?”
“Satu .... Pedang biasa satu tangan, tidak ada dekorasi berlebihan pada mata pedang dan polos. Untuk gagang, buat sesuka paman asal itu mudah digenggam dan tidak licin kalau tanganku berkeringat.”
“Tidak licin .... Kalau pakai kayu Elderberi tidak masalah? Meski permukaannya halus tapi tidak licin kalau dipoles dengan cara yang benar.”
“Untuk sarung pedangnya ...?” tanya pandai besi itu.
“Itu juga terserah .... Tapi aku ingin warnanya dan bentuknya tidak mencolok, buat saja sesederhana mungkin.”
Pandai besi itu terlihat bingung, pedang yang Odo minta tersebut terdengar sangat biasa dan tidak ada spesialnya. Untuk permintaan dari anak kalangan bangsawan, pandai besi itu merasa kalau selera anak rambut hitam di hadapannya sangat rendah. Wajah merendahkan sekilas terlihat pada raut wajahnya.
Odo melihat itu dengan jelas, tetapi tidak mempermasalahkannya. Menarik napas dengan resah, ia berkata, “Harganya semuanya berapa? Aku mau bayar di muka ....”
“Eng, semuanya senilai 900 Rupl .... 300 untuk biaya penempaan dan 600 untuk bahan.”
“500 Rupl ...,” tawar Odo.
“Tidak, tidak, itu terlalu rendah. Paling tidak 800 Rupl ....”
“500 Rupl ....”
“Eng ..., 750 Rupl.”
“500 Rupl ....”
“Tuan , itu sudah bukan lagi menawar .... 700, saya tidak bisa turun lagi.”
“Baiklah, 700 Rupl .... Ngomong-omong, berapa lama jadinya?”
“Eh?” Pandai besi itu tidak bisa menjawab langsung, sedikit memalingkan pandangan ia pun berkata, “Karena sedang sepi dan bahannya sudah ada, paling sekitar dua sampai tiga hari juga selesai. Yah, pesanannya sederhana jadi mungkin lebih cepat.”
“Hmm, kalau begitu aku akan mengambilnya tiga hari lagi.”
Odo lekas melihat ke arah Fiola, sorot matanya seperti mengharapkan sesuatu dari Huli Jing tersebut. Perempuan rambut cokelat kehitaman itu langsung paham apa yang diinginkan Odo, ia mengambil kantong uang dari lengan kimononya untuk membayar biaya pembuatan pedang tersebut.
“Terima kasih,” ucap pria kerdil itu saat mendapat beberapa koin perak besar dari Fiola.
“Tuan ..., memangnya untuk apa Anda membuat pedang seperti itu? Bukannya keluarga Luke punya banyak senjata sihir? Kenapa susah-susah memesan di sini?” tanya pandai besi itu dengan sedikit penasaran. Ia menatap lurus Odo, merasa curiga pada anak itu.
“Paman sering mendapat permintaan perawatan tahunan senjata dari sana, ‘kan?”
“Ya .... Kalau perawatan memang sering saat musim semi. Shieal dari kediaman Marquess Luke sering datang sambil membawa senjata-senjata. Tapi itu hanya perawatan biasa dan bukan senjata sihir, tidak ada yang lebih .... Kemampuan saya tidaklah sehebat yang Anda kira ....”
“Tidak juga ..., aku pernah menggunakan senjata yang diasah paman. Memang itu tidaklah setajam pedang sihir, tapi ketahanannya cukup kuat meski pedangnya sudah berumur. Karena itulah aku meminta paham ....”
“Kalau begitu, kenapa tidak gunakan saja pedang sihir .... Di sana ada banyak, bukan?”
Odo tidak bisa berargumen lagi mendengar perkataan logis tersebut. Sedikit memalingkan pandangan, ia memasang wajah bingung harus berkata apa. Sekuat dan setajam apa sebuah pedang, itu memang tidaklah sebanding dengan pedang sihir yang mayoritas memiliki kekuatan unik dan lebih dari sekadar pedang biasa.
Odo kembali menatap pandai besi itu dengan senyuman, lalu berkata, “Sebenarnya saya dalam waktu dekat akan membuat sebuah perusahaan di sini. Dari itu, saya ingin bekerja sama dengan bengkel ini ....”
Menyadari Odo mengubah cara bicaranya, pandai besi itu menatap bingung. “Hmm, saya dengan rumor tentang itu dari pada pedagang. Katanya ada orang baru yang ingin membuka usaha di distrik perniagaan, jadi itu Anda rupanya,” ucapnya seraya memainkan jenggotnya.
“Iya ..., jadi ini semacam kunjungan untuk saling mengenal. Mungkin di masa depan kita bisa bekerja sama ....”
Pandai besi itu menatap datar mendengar perkataan itu keluar dari mulut Odo, raut wajah yang menunjukkan rasa hormat hilang seketika darinya. Berhenti memainkan jenggot dengan tangan kanan, ia berkata, “Tuan .... Pasar bukanlah tempat yang bisa dianggap remeh .... Memangnya Tuan ingin menjual apa? Kalau itu tidak sesuai dengan serikat dagang di kota ini, bisa-bisa lajur barang Anda bisa ditahan, loh.”
“Ditahan?” tanya Odo bingung.
“Mereka tidak memedulikan itu bangsawan atau bukan. Kalau memang itu mengganggu usaha mereka, para pedagang tak akan segan melakukan itu. Di tambah lagi kondisi kota memang sedang seperti ini, mereka tidak akan segan-segan untuk mempertahankan penghasilan,” jelas pandai besi itu.
Odo menatap datar, terkejut mendengar itu. Sebelum sempat menjawab, pandai besi tersebut menambahkan, “Oh, maksud saya itu pedagang di serikat yang memiliki modal, bukan mereka yang hanya sekadar membuka toko atau kedai di pinggir jalan.”
Mendapat masukan seperti tersebut, Odo mulai tahu kalau pandai besi di hadapannya memang bukanlah orang awam dalam hal seperti itu. Tersenyum dengan lebar, anak itu berkata, “Ya! Aku tahu itu, paman! Karena itulah aku datang ke sini untuk perkenalan dulu! Apa kabar seperti itu sudah beredar ke para pedagang lain?”
Pandai besi tersebut terlihat enggan melihat raut wajah semangat anak tersebut. Sedikit memalingkan wajah, ia berkata, “Ya ..., sepertinya. Kabar itu tersebar bersama dengan insiden di dermaga ... dan kasus terkait soal Anda .... Jujur Tuan tidak sayang nyawa, ya. Padahal sudah terjadi hal seperti itu, tapi sekarang malah .... Apa seyakin itu Anda dengan keamanan yang diberikan para Shieal?”
“Tidak juga ...,” jawab santai Odo. Menatap ringan Dwarf tersebut, ia kembali berkata, “Semoga kita akrab ke depannya, paman ....”
Sebelum Odo beranjak dari tempat tersebut, ia melakukan beberapa pembicaraan lain dengan pandai besi tua tersebut. Mereka berbicara dari hal-hal penting seperti informasi tentang para pedagang sampai hal sepele lainnya seperti kondisi kesehatan pria tua itu.
Dalam pembicaraan Odo mengetahui beberapa informasi menarik lainnya. Serikat pedagang adalah sebuah perkumpulan yang memiliki koneksi kuat dengan Guild, bahkan tidak aneh kalau organisasi tersebut disebut cabang dari Guild. Serikat pedagang memiliki nama lengkap Serikat Pedagang Lorian atau sering juga disebut Serikat Dagang Lorian. Cangkup wilayahnya sekitar wilayah Luke sampai Kepulauan Bascal di pojok tenggara Kerajaan Felixia. Dalam serikat tersebut, mereka bisa dikatakan pasar utama sekaligus pacuan para pedagang di Kerajaan Felixia.
Odo pernah mendengar nama serikat tersebut dari kabar angin yang dibawa oleh orang-orang yang lalu-lalang di Mansion Luke saat proses pembelian bahan makanan untuk bantuan pada wilayah-wilayah yang mengalami krisis. Pada daftar hutang yang pernah anak itu baca, nama serikat itu juga ada sebagai penyedia bahan pokok terbesar setelah Keluarga Garados dari timur Kerajaan.
Mengetahui cabang dari serikat tersebut juga menjamah pasar, rasa cemas sekaligus tertantang mengisi benak Odo. Dari hal itu memang ada kemungkinan dirinya ditahan perkembangan usahanya, tetapi ada juga kemungkinan untuk mendapat bantuan kalau kelak usaha yang hendak dibangunnya itu menjanjikan keuntungan.
Selain pembicaraan tentang persoalan serikat dagang yang terkenal bertindak memonopoli harga pasar, Odo juga berbincang hal privasi dengan pria pandai besi tersebut. Dwarf tersebut tidak memiliki keluarga, ia sebatang kara setelah anaknya yang meninggal saat Pedang Besar lebih dari dua puluh tahun lalu.
Mendengar itu Odo sempat terkejut dengan ceritanya, saat bertanya lebih lanjut ternyata Dwarf tua itu sudah berumur lebih dari 80 tahun lebih. Bagi seorang Dwarf usia tersebut memang tergolong tidak terlalu tua, kalau dibandingkan dengan manusia itu masih sekitar tiga puluh tahunan. Selain berumur panjang dan tubuh kerdil, ciri lain dari ras tersebut adalah sulitnya mereka bertambah jumlahnya karena hanya bisa memiliki keturunan dari sesama saja.
Meski menikah dengan manusia atau Demi-human dan berkeluarga, mereka tidak akan memiliki keturunan. Karena itulah Dwarf tergolong ras yang cukup jarang jika dibandingkan dengan Demi-human jenis setengah binatang yang dapat dengan siapa saja memiliki keturunan.
Saat pembicaraan terakhir sebelum meninggalkan bengkel tersebut, Odo baru sempat menanyakan nama Dwarf tua tersebut. Nama pria tua berambut gimbal kecokelatan itu adalah Kov Osel. Bengkel miliknya juga diambil dari nama keluarganya, Osel.