Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 64 : Aswad 11 of 15 “Glaub mir” (Part 06)



 


 


۞۞۞


Senja kemerahan terlewat, suara burung hantu beserta lolongan hewan liar datang bersama malam. Angin dingin telah bertiup halus, namun permukaan tanah masih melepaskan suhu hangat setelah terpapar sinar matahari seharian. Pada hutan pepohonan Oak yang jaraknya setengah hari perjalanan dari kediaman Luke, rombongan Keluarga Kerajaan Felixia beserta para bangsawan kembali membuat perkemahan di sebuah lahan dalam hutan untuk beristirahat.


 


 


Selain mengisi kembali tenaga setelah seharian melakukan perjalanan, mereka juga melakukan rapat terkait masalah pemuda rambut hitam yang telah mereka tangkap sebelumnya. Dua api unggun lebar dibuat untuk alat penerangan dan memasak makan malam, menjadi pusat dari perkemahan titik transit mereka.


 


 


Beberapa prajurit yang sebelumnya mendapat serangan mematikan telah pulih, seakan luka yang mereka dapat hanyalah sebuah goresan kecil yang akan sembuh hanya dengan dijilat. Bahkan prajurit elite berbadan besar yang dipukul sampai terpental jauh sama sekali tidak memerlukan perawatan. Ramuan yang mereka dapat dari pemuda rambut hitam benar-benar efektif, bahkan lebih dari semua obat yang mereka ketahui di pasaran.


 


 


Pada salah satu api unggun, keenam prajurit elite tersebut berkumpul bersama sang Raja dan Dart Luke. Mereka duduk secara melingkar di kursi kayu masing-masing, mendiskusikan apa yang harus dilakukan terkait pemuda dengan aura iblis yang mereka tangkap.


 


 


“Gaiel, aku akui pemuda itu sangat kuat. Meski satu lawan satu tanpa hambatan pun diriku ragu bisa mengalahkannya.” Dart duduk tegak di tempatnya, menaikkan rambut poninya yang menghalangi mata dan kembali berkata, “Tingkat regenerasi itu tak wajar ⸻ Tidak, kurasa bukan itu …. Daripada beregenerasi, dia lebih seperti hidup kembali setiap dibunuh.”


 


 


“Hidup kembali?” Raja terlihat cemas mendengar itu.


 


 


Mendengar apa yang dikatakan sang Raja dan Dart Luke, salah satu prajurit elite memiliki pendapatnya sendiri ⸻ Ia adalah penyihir kerajaan yang sebelumnya diserang oleh Odo. “My Lord, boleh saya ikut memberikan pendapat?” tanya pria pirang yang mengenakan pakaian jubah biru tua tersebut.


 


 


“Tentu saja ….”


 


 


“Daripada memikirkan cara untuk membunuhnya, bisakah kita memasukkannya ke dalam pasukan kerajaan? Kita bisa memanfaatkannya.”


 


 


Mendengar perkataan tersebut, mimik wajah Dart langsung berubah murka. Mengingat kembali semua hal yang telah dilakukan para iblis dan pengikut mereka dalam hidup Dart, pria tua itu dengan tegas berkata, “Kau ingin keluargamu dijadikan tumbal dalam ritual orang itu? Kebanyakan makhluk sepertinya bisa tanpa ragu berkhianat, membunuh rekan dan bahkan keluarga.”


 


 


“Tenang dulu, Dart ….” Raja Gaiel sedikit tertarik dengan pola pikir penyihir elite yang melayaninya. “Mengapa engkau berpikir demikian? Dia … orang yang hampir membunuhmu. Kenapa engkau yakin dia tidak akan berkhianat?” tanya sang Raja untuk memastikan.


 


 


“Di mata Yang Mulia dan Lord memang terlihat seperti itu, namun setiap kali pemuda itu menyerang ….” Penyihir kerajaan tersebut meletakkan tangannya ke dada kiri, merasa kalau serangan yang diterimanya sama sekali tidak berdampak fatal meski seharusnya menyerang titik vital. “Pemuda itu sama sekali tidak memancarkan niat membunuh atau bahkan kebencian,” ujar penyihir tersebut.


 


 


“Itu benar, Yang Mulia. Saya tidak sedang membelanya ….” Pria berbadan besar dengan keahlian teknik tameng ambil bicara. Dengan rasa ragu dalam benak ia mengutarakan, “Meski telah dipojokkan sampai seperti itu, niat membunuhnya sama sekali tidak terasa. Kesan pemuda itu seakan-akan sedang ….”


 


 


“Mengetes kemampuan kami,” ujar salah seorang prajurit yang sebelumnya terkena ledakan.


 


 


Pendapat mereka membuat sang Raja semakin bingung. Dart mengingat-ingat kembali pertarungan sebelumnya dan ia pun mulai merasakan hal serupa. Pemuda rambut hitam yang dilawannya tadi pagi memang sama sekali tidak memancarkan nafsu membunuh, hanya amarah kuat yang sesekali terpancar darinya saat terprovokasi.


 


 


“Situasi ini memang aneh,” gumam Dart seraya menundukkan wajah.


 


 


Dart, Raja dan semua prajurit elite di tempat tersebut mulai terdiam dan bingung harus mengambil keputusan apa nantinya. Setelah pertunangan selesai, mereka pasti harus mengurus pemuda itu karena membiarkannya berkeliaran adalah sebuah keputusan yang sangat buruk.


 


 


Pada kerumunan di api unggun lain, Thomas Rein duduk bersama para bangsawan yang sedang mendiskusikan kondisi politik Kerajaan Felixia setelah pertunangan berlangsung. Namun bukannya fokus dengan pembicaraan, pria rambut klimis yang memegang cangkir perak dengan tanga kanannya tersebut malah melirik datar ke arah Dart.


 


 


“Apa-apaan dia? Bisa-bisanya dia tak sadar kalau pemuda itu anaknya sendiri?” benak Thomas


 


 


Kepala Keluarga Rein tersebut sedikit meminum Ale dalam gelasnya, memasang ekspresi kesal dan sedikit menghela napas. Kembali memikirkan Odo Luke, ia juga merasa sedikit heran mengapa anak tersebut bisa berpenampilan seperti seorang remaja meski usianya bahkan belum genap satu dekade.


.


.


.


.


Di luar semua kerumunan tersebut, Odo Luke ditahan dalam salah satu gerobak barang yang memiliki atap dan dinding kain tebal. Kedua tangannya diikat ke belakang menggunakan rantai pemadatan Mana, dijaga oleh tiga prajurit elite dengan perlengkapan lengkap di luar gerobak.


 


 


Di dalam tempat tersebut hanya ada beberapa bahan makanan karena sebagian besar sudah dipindahkan ke gerobak lain. Sesekali menghela napas kecil, pemuda itu malah bergumam sendiri dan membuat para prajurit yang berjaga di luar mengira dirinya gila.


 


 


“Kerja bagus, kalian tetap membuka tokonya meski aku tidak ada …. Ah, soal itu bilang saja ke Arca kalau aku baik-baik saja. Orang-orang itu tidak berhasil membawaku. Eh? Ke sana sekarang? Maaf, sekarang aku tak bisa. Tak perlu pakai Puddle, aku sedang ada urusan lain …. Bilang saja ke Arca untuk melanjutkan pekerjaannya dengan Paman Aprilo. Omong-omong, kalian menaikkan harganya, ‘kan? Berapa? Oh, hanya 5 Rupl? Tidak apa, kurasa itu sudah cukup. Kalau begitu, orang-orang yang diajak Totto berarti melakukan pekerjaannya dengan baik, ya? Hmm, tolong kalau sempat kenalkan mereka juga ke Paman Aprilo dan Arca supaya bisa dapat pekerjaan lebih …. Ah, benar juga. Pesanan barang dari Pak Harka Nog sudah jadi hari ini …. Itu loh, Dwarf Ketua Serikat Tukang. Apa barangnya sudah dikirim ke gudang di pelabuhan? Nota sudah diterima, ‘kan? Kerja bagus, Elulu. Kau memang bisa diandalkan, anak dari mantan pedagang memang berbeda …. Aku tidak menyanjung, hanya mengatakan fakta …. Oh, iya. Canna masih di sana, ‘kan? Bilang ke dia supaya nanti besok mampir dulu ke gudang untuk penyetelan alat-alatnya. Eh? Kalau tak mau? Bilang saja nanti perjanjiannya berarti batal, aku gak akan berdiskusi lagi dengannya. Ah, aku baru ingat. Kalau sempat, bilang juga ke Nanra supaya akrab dengan Kirsi …. Eh?! Dia ada di toko sekarang? Ah!? Bantu-bantu juga waktu pagi? Adaptasinya cepat juga, padahal macam salju. Enggak masalah, anggap saja dia seperti Sittara. Kalau Kirsi ke situ, berarti Mbak Siska waktu pagi juga mampir? Dia bilang apa? Hmm, begitu toh …. Ah⸻”


 


 


Kalimat Odo terhenti saat salah satu prajurit yang mengawasinya melirik ke dalam dengan tatapan tajam dan mulai curiga. Memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut menurunkan volume dan berkata, “Ada yang ingin kau tanyakan lagi? Hmm, untuk besok ikuti saja jadwal yang telah kubuat. Suplai bahannya tak ada kendala, kan? Kalau masih bingung, untuk rinciannya kau bisa ambil di laci meja kerja ketiga di lantai dua. Kalau tidak paham juga, kau bisa tanya ke Arca …. Eh? Soal Lisia? Eng, bilang saja pembicaraan tentang pendanaan pemukiman Klista ditunda dulu sampai paling lama minggu depan. Aku sedang tak bisa⸻!”


 


 


“Kau sedang bicara dengan siapa? Jangan-jangan kau menggunakan telepati?!” tanya prajurit elite tersebut dengan tatapan tajam.


 


 


Ia meningkatkan persepsinya untuk mendeteksi aktivasi sihir, namun tidak merasakan apa-apa karena memang kekuatan Radd Sendangi milik Elulu sangat berbeda dengan sihir dan sukar untuk dideteksi.


 


 


Odo berpura-pura muram, lalu sembari menundukkan wajah ia pun berkata, “Aku bosan dan kesepian. Kau tahu, Paman Prajurit. Aku orang yang suka bicara, ditempatkan di tempat seperti itu sungguh membuatku bosan sampai-sampai kepalaku menggila.”


 


 


 


 


“Tentu saja tidak akan, aku bukan iblis. Yah, bahkan iblis kurasa tidak akan membakar kota tanpa alasan.”


 


 


Sorot mata prajurit elite tersebut berubah datar, sedikit kesal melihat pemuda itu masih bisa sangat santai meski telah tertangkap. “Kau pikir ada alasan yang sesuai untuk membenarkan para iblis membantai orang-orang kota,” ujarnya seraya naik ke atas gerobak dan berjalan ke depan Odo yang terduduk di lantai kayu.


 


 


“Tentu saja tidak ada.” Odo balik menatapnya dengan sorot mata tanpa rasa takut atau emosi yang tampak jelas. Lurus dan hampa, itulah yang ada di dalam sorot mata pemuda itu. Sembari memasang senyum tipis ia menyampaikan, “Di dunia ini memang tidak ada alasan yang bisa membenarkan pembunuhan …, kecuali satu hal.”


 


 


“Hmm, apa itu? Demi apa yang kau puja-puja dari kegelapan itu? Demi Raja Iblis atau apa?”


 


 


“Bukan.” Odo menggelengkan kepala, menatap dengan sorot mata sedih dan menjawab, “Satu hal yang bisa membenarkan pembunuhan adalah peperangan. Selain itu, pembunuhan hanyalah sebuah metode untuk mencapai tujuan. Meski dengan alasan untuk melindungi diri ⸻ Jika tidak dilakukan di peperangan, pembunuhan pasti akan tetap ada yang disalahkan.”


 


 


“Apa kau iblis yang datang saat masa Perang Besar?”


 


 


“Sudah ku bilang …, aku bukan iblis.”


 


 


Odo menyipitkan sorot matanya, lalu sekilas meningkatkan aura malaikatnya untuk menekan aura iblis. Merasakan hawa keberadaan yang benar-benar berbeda dan penuh kekuatan suci, prajurit elite tersebut melangkah mundur.


 


 


“Kau … itu apa? Kenapa bisa ….”


 


 


“Aku adalah Dunia, Dewa, Iblis, Naga, dan Manusia. Lalu ..., aku juga adalah dirimu.”


 


 


Melihat ke dalam mata pemuda itu, seketika prajurit tersebut seakan terlempar ke luar angkasa di mana jutaan galaksi dan miliaran bintang bertaburan. Itu begitu luas dan membuat kesadarannya seakan terhapus. Terus mendekat pada salah satu tata surya, terlihat seperti planet tempatnya tinggal dan terus mendekat sampai ke wilayah tempatnya berada. Saat melihat gerobak tempatnya berada dari langit, ia langsung semakin mendekat dan melihat dirinya sendiri dari persepsi pemuda itu.


 


 


“A⸻!”


 


 


Kesadarannya prajurit itu kembali ke tempatnya sendiri, ia mulai berkeringat dingin dan mengambil langkah mundur. Ia menatap penuh ketakutan, merasa kalau pemuda yang terikat tak berdaya itu benar-benar berada dalam ranah yang melebihi para Mortal. Begitu besar, luas, dan penuh kuasa.


 


 


“Apa … kau seorang Dewa?” tanya prajurit tersebut.


 


 


“Paman, sebaiknya kau tak terlalu banyak bicara denganku.”


 


 


Odo memasang senyum simpul dengan ramah. Sembari sedikit memiringkan kepalanya, pemuda itu kembali memperingatkan, “Tak semua makhluk hidup siap dan bisa menerima kenyataan. Semakin lama kau bicara denganku, akal sehatmu akan diobok-obok dan akan semakin keruh. Paman akan semakin meragukan kenyataan yang ada di sekitar ….”


 


 


Prajurit tersebut menelan ludah dengan berat, segera berbalik dan meloncat turun dari gerobak. Secara insting, peringatan pemuda itu terasa bagaikan sebuah ancaman mutlak bagi dirinya.


 


 


Kedua rekannya yang berjaga di luar sedikit cemas melihat wajah pucat prajurit yang berjalan cepat pergi meninggalkan tugasnya tersebut. Salah satu di antara mereka mengejar untuk menanyainya, lalu meninggalkan satu prajurit elite yang berjaga di dekat gerobak tersebut.


 


 


Odo bangun dan berjalan ke pinggiran gerobak. Melongok keluar dan memasang senyum tipis, ia dengan ramah memanggil, “Pak prajurit, apa kau tidak lelah berjaga terus seperti itu? Kau tak lapar?”


 


 


Suara tersebut begitu unik sampai tak bisa diabaikan. Meski sesama laki-laki, suara pemuda itu seakan merasuki dirinya dan terdengar begitu memikat. Karisma aneh tersebut membuat prajurit itu menoleh. “Kami sudah terlatih untuk hal seperti ini,” jawabnya dengan ramah.


 


 


Meski dalam pikiran ia paham tidak boleh terlalu akrab dengan pemuda yang menjadi tahanan tersebut, namun secara insting dirinya tak bisa berlaku dingin kepadanya. Ia mulai tersenyum ke arah Odo dengan ramah dan balik bertanya, “Kau sendiri bagaimana? Apa tak lapar?”


 


 


Odo sekilas menyeringai lebar dalam hati karena berhasil menggunakan Karisma Naga yang merupakan salah satu kekuatan Seliari. Duduk di pinggiran gerobak dan bersandar ke pembatas, pemuda itu mulai berbincang-bincang dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui berbagai informasi sebagai syarat pengaktifan Spekulasi Persepsi.


 


 


Apa yang Odo bicarakan dengan prajurit itu bukanlah informasi-informasi vital yang bisa membuat curiga. Apa yang mereka bicarakan hanya hal-hal sepele seperti nama, apa yang prajurit itu biasa lakukan di barak tempatnya bekerja di Ibukota, keluarganya, rekan-rekannya dan hal-hal yang terkesan sepele lainnya seperti makanan kesukaan dan minuman.


 


 


Itu benar-benar terdengar sangat sepele, namun bagi Odo semua itu sangatlah penting untuk menyusun kalkulasi dan melakukan Spekulasi Persepsi. Saat prajurit lain datang menggantikan kedua prajurit yang sebelumnya meninggalkan tempat dan tak kembali lagi karena saking takutnya, pemuda itu pun mengajak mereka yang datang untuk berbincang-bincang ringan.


 


 


Seakan mereka semua terhipnotis atau mabuk karena minuman keras, dengan muda para prajurit terlatih itu menjawab setiap pertanyaan Odo layaknya sebuah ember yang bocor. Mereka sama sekali tidak sadar telah terpengaruh, hanya menjawab seakan memang hal tersebut sangatlah wajar.


.


.


.


.