Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 60 : Aswad 7 of 15 “Un/To See” (Part 04)



 


 


««»»


 


 


The Ritman Library, sebuah Realm yang letaknya ada di antara susunan besar dimensi Dunia Nyata dan Dunia Astral, namun lebih condong berada di celah dimensi di mana konsep waktu cenderung tidak stabil dan ruang sangatlah terbatas. Pada perpustakaan yang sekarang bentuknya telah ditata ulang tersebut, suasana terasa begitu sunyi dan apa yang terdengar hanyalah suara lebar buku yang dibalik.


 


 


Itu tidaklah lagi berbentuk menara dengan jumlah lantai mencapai seratus, namun jumlahnya diubah ganjil menjadi 77 lantai dan secara struktur benar-benar ditata ulang tanpa mengurangi buku serta informasi yang tersimpan di dalamnya. Arsitekturnya berubah menjadi mirip dengan perpustakaan Luke Scientia di kediaman Luke, tetapi lebih luas dan susunan rak-rak bukunya lebih banyak beberapa kali-kali lipat.


 


 


Desain dengan kesan warna cokelat dan merah dedaunan pada musim gugur, mencerminkan kesederhanaan namun memiliki pola-pola ukiran unik pada tembok dan lantainya. Sumber cahaya dari tempat tersebut adalah lampu-lampu kristal yang bersinar putih pada beberapa sudut, tak terlalu terang namun cukup memberikan pencahayaan untuk membaca.


 


 


Susunan rak buku dibentuk sedemikian rupa memusat ke tengah, memberikan sebuah ruang kosong untuk tempat membaca di lantai satu yang juga bisa langsung melihat langit-langit kubah di puncak. Beberapa anak tangga terlihat di sudut, menghubungkan lantai satu dengan yang lain.


 


 


Pada lantai dasar Realm yang seharusnya hanya bisa diakses oleh Arca Rein tersebut, seorang pemuda rambut hitam duduk menyilangkan kakinya di atas tumpukan buku. Ia telanjang dada, hanya mengenakan celana hitam yang sobek-sobek pada bagian bawahnya. Membalik lebar demi lembaran buku di tangan, ia tepat berada di bawah langit-langit kubah menara. Tak memedulikan sekitar, fokus pada apa yang dibaca dan mempelajari teori yang ada di dalamnya.


 


 


Selesai membaca buku tersebut, Odo meletakkannya ke atas tumpukan di dekatnya. Mengulurkan tangan kanan ke depan, dengan santai ia berkata, “Bab II Teknik Manipulasi Tenaga Dalam dan Bala Diri Parja Surya.” Buku dengan judul tersebut keluar dari rak di lantai 45, lalu melayang dengan cepat ke tempat Odo dan sampai pada tangannya.


 


 


Tanpa memedulikan waktu yang ada, pemuda telanjang dada tersebut kembali membuka buku baru dan mempelajarinya. Sudah lebih dari 16 jam dirinya berada di tempat tersebut, membaca buku-buku tentang manipulasi Mana secara langsung dan bela diri kuno yang sebagian besar memiliki ciri budaya kekaisaran yang kuat.


 


 


Sedikit bosan membaca buku tentang topik yang sama selama itu, Odo sedikit menghela napas dan bergumam, “Kalau tidak salah, perbandingan waktu di Realm ini menjadi sekitar lima banding satu, ‘kan? Lima jam di sini hanya berarti satu jam di Dunia Nyata, kalau begitu seharusnya di sana sudah hampir tengah malam.”


 


 


Merasa cukup mempelajari beberapa teknik untuk menutupi kekurangannya yang sekarang tidak bisa menggunakan struktur sihir, Odo turun dari tumpukan buku dan melempar buku di tangannya ke atas. Buku tersebut melayang di udara, lalu dengan cepat terbang kembali ke rak tempatnya berasal. Menarik napas dan bertepuk tangan satu kali, tumpukan buku pada lantai langsung terbang kembali ke rak mereka masing-masing.


 


 


“Apa perlu kamu membaca buku seperti itu sekarang?” suara Seliari berdengung di kepala Odo. Mendengar hal tersebut, pemuda rambut hitam itu hanya memasang senyum simpul dan membalas, “Meski aku bisa mengakses tempat ini, tapi bukan berarti bebas keluar masuk. Wewenangnya masih dipegang si Arca.”


 


 


“Lalu kenapa kamu tidak mengambil atau menyalinnya saja? Kamu bisa melakukan itu, bukan?”


 


 


Mendengar argumen tersebut, Odo merasa memang itu santalah masuk akal. Namun tetap saja hal itu tidak membuat pemuda rambut hitam tersebut melakukannya, alasan lain yang terkesan tak rasional telah mendorongnya mengambil keputusan tersebut. Sembari mendongak dan menatap langit-langit kubah yang terlihat polos, dengan nada lega Odo berkata, “Aku hanya ingin coba mengandalkan orang lain. Aitisal Almaelumat, kekuatan itu memang luar biasa dan membuatku bisa menguasai banyak bidang serta kekuatan dengan mudah. Tetapi kalau aku memiliki semuanya, bukannya itu percuma?”


 


 


“Percuma kenapa?” tanya Seliari.


 


 


“Aku akan menjadi orang tanpa ikatan yang tak bisa mempercayai orang lain,” ujar Odo ringan. Berhenti menatap langit-langit, pemuda itu membuka kedua telapak tangannya dan kembali berkata, “Ketidakmampuan adalah salah satu faktor yang membuat orang terikat satu sama lain, menjadi saling membutuhkan dan rasa percaya muncul dari itu. Ini hampir sama dengan alasanku tidak menyalin semua kekuatanmu, aku hanya ingin rekan yang bisa dipercaya.”


 


 


“Perkataanmu itu layaknya seorang Dewa yang ingin tinggal bersama makhluk ciptaannya.”


 


 


Odo sekilas penasaran, sembari mengangkat sebelah alis ia bertanya, “Ada Dewa semacam itu juga, ya?”


 


 


“Hmm, itu ada di massaku. Sosok itu menciptakan makhluk-makhluk yang sekarang disebut dengan para Roh menggunakan bagian tubuhnya sendiri, lalu memilih turun dari singgasananya dan menghilang dari dunia. Pada masa itu, Dewa itu juga disebut The Foolish.”


 


 


Odo seketika terdiam, tanpa kalkulasi ia sekilas membuat sebuah kesimpulan yang cukup mengejutkan. Menarik napas dalam-dalam dan menyingkirkan itu dari benak, pemuda rambut hitam tersebut menggaruk bagian belakang kepala dengan sedikit resah.


 


 


“Tetap saja,” suara Seliari kembali terdengar, lalu langsung menyangkal apa yang Odo utarakan, “Meski kamu tidak bisa menggunakan sirkuit sihir, kenapa kau malah memilih seni bela diri dan manipulasi Mana secara langsung sebagai alternatif? Contohnya di perpustakaan ini, engkau bisa saja memakai Grimoire sebagai pengganti struktur sihir. Itu bisa digunakan sebagai perantara eksternal. Meski tingkat kefleksibelan akan berkurang, tapi bukannya itu lebih efektif dari bela diri atau manipulasi Mana?”


 


 


“Eng ....” Odo terdiam tanpa mengeluarkan sanggahan, ia juga merasakan hal serupa. Berhenti menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu mengangkat jari telunjuknya dan mengelak, “Sebaiknya kita segera keluar dari sini dan kembali ke kota, Aku punya firasat buruk saat mendengar suara cemas Elulu tadi. Sepertinya aku telah dianggap mati, loh. Kalau sudah diadakan upacara pemakaman dan tiba-tiba muncul, kurasa itu bukan lawakkan yang lucu.”


 


 


“Kamu hanya ingin menghajar orang, ‘kan? Kamu menikmati sensasi pukulan dan tendanganmu saat mendarat di tubuh lawanmu, ya?”


 


 


Odo tidak membantah hal tersebut, ia berhenti mengacungkan jari dan memalingkan pandangan dengan ekspresi malas menjelaskan. Tidak menekan pemuda rambut hitam itu lebih jauh lagi, Seliari memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. “Yah, setiap makhluk punya sifat buruk. Diriku tak akan berkomentar soal itu,” sampainya dengan sedikit ketus.


 


 


“Terima kasih, jujur aku lega kau tidak mempermasalahkannya.”


 


 


Pemuda itu membuka telapak tangan kanannya, mengakses salah satu wewenang The Ritman Library dan memunculkan buku dengan sampul putih pada tangannya. Memasang senyum tipis dan memakai Spekulasi Persepsi, beberapa kesimpulan mengisi kepalanya dengan cepat.


 


 


“Sepertinya di sana memang sedang ribut,” gumam pemuda itu seraya merobek buku catatan di tangan. Rantai muncul dari distorsi ruang di sekitarnya, mengikat lengan kanan pemuda itu dan menariknya keluar dari Realm tersebut.


.


.


.


.


 


 


Selama masa Perang Besar, tidak sedikit bangsawan yang berkhianat dan melakukan keteledoran yang pada akhirnya mendapat hukuman berupa penghapusan gelar bangsawan atau paling parah adalah hukuman mati. Karena itulah, dalam negara-negara yang menganut monarki kuat muncul istilah “Bangsawan Gagal” untuk menyebut mereka keluarga kasta atas yang kehilangan pengaruh dan nama baiknya.


 


 


Mewakili majikannya, Fiola sebagai salah satu Shieal berdiri di depan Lisiathus Mylta yang terlihat pasrah dengan hukuman yang akan diterima keluarganya. Meletakkan tangan kanan ke depan dada, perempuan rambut merah itu meminta keringanan, “Saya mengakui keteledoran dan kesalahan yang telah saya lakukan. Namun, kumohon Nona Fiola! Untuk masalah perpindahan pemukiman Suku Klista, bisa anda meneruskan prosesnya? Satu-satunya tempat mereka telah hilang dan pihak Rockfield telah menandatangani surat putusannya .... Kalau itu berhenti di tengah jalan, mereka ....”


 


 


“Engkau tak meminta pengampunan untuk keluargamu, ya?” Fiola menatap tajam dan tak mengerti pola pikir manusia di hadapannya. Menggunakan Mata Batin untuk melihat isi hati perempuan rambut merah tersebut, dengan jelas Huli Jing itu tak melihat adanya sebuah kebohongan atau niat lain pada dirinya.


 


 


Meski begitu, Fiola tetap tidak suka dengan cara Lisia mengakui semua kesalahannya dan rela mendapat hukuman seperti itu. Menunjuk lurus putri tunggal dari keluarga Mylta tersebut, sebagai seorang Shieal, Huli Jing itu berkata, “Karena kesalahanmu, satu-satunya pewaris keluarga Luke meninggal dunia dan itu merupakan bentuk pengkhianatan besar bagi Ketiga Keluarga Besar. Karena itu, sebagai hukuman gelar kebangsawanan akan dicabut dari keluarga Mylta dan Lisiathus Mylta dijatuhkan hukuman penggal!”


 


 


Lisia sempat gemetar mendengar putusan hukuman tersebut. Namun saat paham bahwa yang menerima hukuman mati hanya dirinya seorang, perempuan rambut merah tersebut memaksa tersenyum meski berlinang air mata. Wajah tegar Lisia sempat membuat Fiola merasa bersalah menjatuhkan hukuman tersebut. Membulatkan keputusan dalam benak, Shieal itu tidak menarik perkataannya dan meyakinkan dirinya sendiri kalau itu adalah keputusan terbaik untuk situasi yang ada sekarang.


 


 


“Terima kasih, Nona Fiola. Sungguh saya sangat bersyukur Anda mengambil keputusan tersebut dan tidak menjatuhkan hukuman pada Ayah saya ....”


 


 


Fiola dan Mavis hanya semakin ragu pada keputusan mereka sendiri. Memang hukuman harus dijatuhkan secara objektif, demi membungkam orang-orang kalangan atas di kota Mylta bisa saja protes keesokan harinya. Sebagai contoh dari ketegasan hal itu harus diambil, sekejam apapun hal tersebut. Mavis dan Fiola paham kalau perempuan dari keluarga Mylta itu hanya akan dijadikan kambing hitam atas kejadian yang ada, untuk menunjukkan bahwa nasib seperti itulah yang menunggu mereka para kalangan kelas atas jika melakukan kesalahan fatal dalam kewajibannya.


 


 


Menoleh ke belakang, Fiola memastikan, “Apa Nyonya keberatan tentang putusan ini?”


 


 


“Itu hukuman yang tepat. Jika kau juga setuju, diriku rasa itu tidak masalah—”


 


 


“Aku keberatan!” sela seseorang dari arah atap bangunan toko. Perhatian Mavis dan Fiola seketika terpusat padanya, begitu juga orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut. Sebelum wajah seseorang yang berdiri di atas sana terlihat, ia kembali berkata, “Kenapa juga kalian seenaknya menyimpulkan aku sudah mati? Kejamnya ....”


 


 


Mendengar suara itu untuk kedua kalinya, seketika kedua mata Mavis terbuka lebar dan benaknya dipenuhi sukacita. Wanita rambut pirang tersebut sangat mengenal suaranya, dengan ekspresi penuh harapan ia berbalik dan melangkah mendekat ke arah bangunan. “Odo? Itukah engkau?” ujarnya dengan kedua tangan terulur ke atas.


 


 


Pemuda yang berdiri di atas sana sekilas tersenyum kecil, lalu langsung meloncat turun ke bawah. Saat ia masih melayang di udara, ia mengulurkan tangannya ke bawah dan melakukan manipulasi Mana secara langsung. Tongkat panjang seketika tercipta dari teknik pemadatan Mana, menancap ke tanah dan pemuda itu turun menggunakan itu. Dalam hitungan detik, tongkat hancur menjadi partikel cahaya yang kembali masuk ke dalam raga Odo.


 


 


“Seperti yang Ibunda lihat, ini aku.”


 


 


Sekilas Odo mengangkat kedua sisi pundaknya, melirik sinis ke arah Fiola yang berdiri di dekat Mavis. Menarik napas dalam-dalam dan sekilas menggaruk bagian belakang kepala, pemuda yang telanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam robek itu sekilas terdiam. Menoleh ke belakang, pemuda itu menatap Elulu dan Arca yang terlihat lega karena kedatangannya.


 


 


Dengan senyum tipis Odo berujar, “Makasih, ya ....” Kembali menatap ke arah sang Penyihir Cahaya, pemuda rambut hitam itu berjalan mendekat dan langsung memeluknya dengan erat. “Maafkan aku, Bunda .... Telah membuatmu khawatir,” bisiknya dengan suara lembut.


 


 


Suara dan kehangatan itu benar-benar miliknya, membuat dada Mavis berdegup kencang. Air mata kembali mengalir dari wanita rambut pirang tersebut, balik memeluk putranya dan menangis tersedu dengan suara pelan. Odo hanya memasang ekspresi datar saat memeluk ibunya, ia mengangkat wajah dan sekilas memperlihatkan sorot mata marah pada Fiola yang telah seenaknya memberikan hukuman pada Lisia.


 


 


Memejamkan mata dan melepaskan pelukan Mavis, pemuda dari keluarga Luke tersebut memegang kedua pundak ibunya dan sekilas memasang senyum kering. “Jadi, kalau boleh tahu kenapa orang-orang itu ada di sini?” tanya Odo dengan niat memastikan.


 


 


Mavis tersentak, tidak menjawab itu dan malah balik bertanya, “En-Engkau sendiri ke mana saja? Semuanya berkumpul di sini karena mengira dirimu telah meninggal ..., bahkan Bunda sendiri sampai ....” Mata wanita itu masih berkaca-kaca, rasa dalam benak bercampur aduk dan tak tahu harus memasang wajah seperti apa.


 


 


“Apa kau benar-benar Tuan Odo?” Fiola berjalan mendekat, menatap pemuda rambut hitam itu dan kembali bertanya, “Aura dan tekanan sihirmu itu ....”


 


 


Odo memasang senyum tipis, mengangkat kedua tangannya dari pundak Mavis dan sekilas memasang ekspresi sombong. Meletakkan jari telunjuk ke depan mulut, pemuda rambut hitam itu berkata, “Tidak terasa, ‘kan?”


 


 


Fiola tersentak dengan kedua mata terbuka. Benar seperti apa yang dikatakannya, aura dan pancaran Mana sama sekali tidak terasa darinya. Bukan hanya itu, hawa keberadaan Odo juga mengalami sedikit perubahan sampai seorang Huli Jing tidak bisa merasakannya dengan jelas.


 


 


“Apa ... yang sebenarnya terjadi, Odo?” tanya Mavis cemas.


 


 


“Eng ....” Odo menurunkan jari telunjuk dari mulut, memalingkan pandangan dan sedikit bingung harus menjelaskan dari apa dulu. Namun saat mendengar suara kerumunan kembali ramai dengan celotehan mereka, pemuda rambut hitam itu tanpa ragu berkata, “Saat berubah menjadi entitas dimensi tingkat tinggi yang sering disebut Dewa, aku melepas hampir seluruh struktur sihirku untuk bisa kembali menjadi manusia .... Sederhananya seperti itu.”


 


 


Semua orang yang mendengar apa yang pemuda itu ucapkan terbelalak. Memegang kedua pundak putranya, Mavis dengan panik bertanya, “Kamu benar-benar berubah menjadi tengkorak raksasa itu?! Wujud yang mirip dengan Raja Iblis Kuno itu?!”