
Ibukota Kerajaan Felixia, Millia. Pada perawalan musim semi di daratan Michigan, salah satu kota yang menjadi titik temu perdagangan bebas tersebut semakin ramai oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri. Di langit istana keluarga kerajaan Felixia yang berdiri di dekat danau besar, terbang ramai sekawanan bangau yang baru saja kembali setelah migrasi ke kepulauan Kritasil Bascal. Burung-burung tersebut membuat gerombolan besar dan terlihat seperti awan hidup di langit yang cerah, terbang menuju daerah tanah genting dan dengan tujuan akhir di tanah kekaisaran.
Dari bangku di halaman istana kerajaan, Tuan Putri Arteria mendongak ke atas dan menunjuk-nunjuk para burung bangau tersebut. Meski tidak bisa melihat secara visual bangau-bangau perkasa yang bisa terbang ratusan kilometer itu, perempuan rambut biru tersebut terlihat kagum melihat jiwa-jiwa mereka yang baginya mereka terlihat seperti titik-titik api yang menyala terang di langit.
Perempuan dengan gaun panjang berwarna biru gelap itu terlihat sangat semangat, duduk seakan ingin meloncat-loncat dan menggoyangkan tubuhnya ke depan dan belakang dengan energik pada bangku taman.
“Uwah~ Ramainya! Ramai sekali mereka~! Kakanda! Mereka! Mereka sangat semangat! Para Tuan Bangau itu sangat semangat!”
Arteria menarik-narik lengan jas pangeran Ryan, sang kakak yang duduk di sebelahnya. Tersenyum kecil menatap perempuan yang terus memejamkan matanya itu terlihat sangat antusias, pemuda rambut merah gelap itu berkata, “Kau tahu, Adinda. Mereka itu adalah bangau Manchuria. Habitat asli burung-burung itu paling banyak pada daerah rawa dan danau di kekaisaran.” Terlihat ikut bersemangat dan menatap ke arah para bangau di langit, pangeran Ryan merapikan kerah jas abu-abunya dan dengan percaya diri kembali menjelaskan, “Pada musim gugur mereka akan bermigrasi ke pulau tenggara, lalu pada awal musim semi seperti sekarang mereka akan serempak kembali seperti itu. Berat mereka bisa mencapai 15 kilo, loh! Tinggi mereka juga bisa lebih dari 140 sentimeter!”
“Eh?” Arteria terkejut mendengar itu dan segera menatap kakaknya, lalu dengan polos berkata, “Berarti bisa lebih tinggi dari Kakanda, dong.”
“A—” Ryan terdiam, memalingkan pandangan dan menggerutu, “Diamlah, nanti juga aku akan tambah tinggi ....”
“Hmm?” Arteria sekilas memiringkan kepala, merasa heran saat menatap api kehidupan kakaknya itu sekilas terlihat malu akan sesuatu.
Saat mereka bergurau ringan seperti itu, tiba-tiba salah satu bangau yang terbang bersama kawanannya ada yang menukik tajam dan mendarat ke kolam air mancur taman di depan mereka berdua. Wajah Arteria seketika langsung berseri, bangun dari tempat duduk dan ingin menangkap bangau tersebut. Pangeran Ryan segera memegang tangan adiknya, sedikit cemas melihat bangau yang bertamu itu. Burung tersebut memiliki ukuran tak biasa, terlihat lebih besar dari bangau pada umumnya dan tingginya bahkan lebih dari yang Ryan ketahui tentang rata-rata tinggi bangau jenis tersebut.
“Eh, apa itu?! Bukannya tingginya sampai dua meter sendiri?!” benak Ryan. Ia menggenggam erat tangan adiknya, berusaha untuk tidak membuat suara gaduh atau menarik perhatian bangau besar yang sedang minum di kolam tersebut.
“Tuan Bangau!!” panggil Arteria.
“Nih anak, malah dipanggil ....”
Burung bangau berbulu putih dengan corak hitam pada leher dan kakinya itu mengepakkan sayapnya, lalu bertengger pada pinggiran air mancur dan bola matanya menatap ke arah mereka. Bangau itu mengangkat kepala, seakan memamerkan ubun-ubun merahnya dengan bangga. Bangau itu turun dan berjalan ke arah Arteia, menatap kedua orang itu dengan postur tubuhnya yang tinggi.
“Ha-Hai, Tuan Burung—”
Tok! Kening Ryan dipatuk dengan keras.
“Aaakh!! Saaakit! Apa-apaan burung sialan ini!”
Anak laki-laki itu sampai melepaskan tangan Arteria dan melangkah mundur, keningnya memerah dan ia pun menatap kesal. Ryan mengepalkan tangannya dan mengumpulkan Mana pada tinju, lalu hendak memukul bangau tersebut. Namun tanpa bisa mendaratkan tinju, sang burung menendang pangeran sampai tubuhnya melayang dan terjatuh ke rerumputan.
“Kwaaak!! Kwaaaak!! Kwaakk!!” suara bangau seakan menertawakan sang pangeran.
“Oi!!” Ryan bangun dari rerumputan, lalu membentak, “Memangnya kau gagak apa?! Bangau macam apa kau, sialan!!”
Pemuda itu segera berlari ke arah bangau dan hendak mendaratkan pukulannya lagi. Bangau itu pun mengayunkan kaki kanannya dan menyerang dengan pola sama. Ryan yang telah memahami serangan itu dengan mudah melihatnya dengan jelas, lalu menghindari tendangan bangau besar tersebut dan langsung menjegal kaki kirinya sampai bangau tersebut kehilangan keseimbangan.
Namun saat akan jatuh, bangau besar tersebut mengepakkan sayap putihnya lebar-lebar dan mendaratkan tendangan dua kaki ke wajah Ryan, lalu ia pun kembali terbang dan pergi bersama kawanannya ke arah tanah kekaisaran berada. Beberapa bulu sayapnya yang rontok melayang turun ke kepala Arteria, lalu diambil perempuan rambut biru itu. Merasakan teksturnya Arteia langsung tahu itu adalah bulu bangau, ia tersenyum bahagia dan mendekapnya erat.
“Apa Kakanda baik-baik saja?” tanya Arteria sembari berlutut di dekat pangeran Ryan yang telah kalah telak melawan seekor bangau perkasa.
“Hemp!” Anak laki-laki rambut merah itu segera duduk, melipat kedua tangannya ke depan dan dengan angkuh berkata, “Aku baik-baik saja! Wahai adikku, memangnya dirimu pikir kakakmu ini siapa?” Perkataan itu memang bukanlah sekedar kesombongan belaka, Ryan sama sekali tidak mendapat luka meski telah ditendang keras oleh seekor bangau besar. Semua serangan yang didapatnya telah ditahan dengan sihir penguatan tanpa sepengetahuan Arteria, semua itu hanya untuk menghibur adiknya tersebut yang beberapa hari terakhir terlihat murung.
“Andai saja dia masih bisa melihat seperti dulu,” benak Ryan.
“Ada apa, Kakanda?” Perempuan berguam biru itu menatap heran karena pancaran jiwa kakaknya terlihat sedikit goyah, lalu dengan penasaran bertanya, “Kenapa muram?”
“Ah, tidak, kok!” Ryan berdiri, lalu dengan penuh semangat berkata, “Kakakmu ini kuat! Jangan remehkan!”
“Apa iya?” Arteria tersenyum tipis, ikut bangun di hadapan kakaknya tersebut dan dengan nada ragu berkata, “Bukannya tadi Kakanda ditendang Tuan Bangau langsung melayang.”
“Hemp!” Ryan memalingkan pandangan, meletakkan tangan kanan ke atas pundak adiknya dan dengan lantang berkata, “Diriku hanya mengalah!”
“Arteria malah ragu .... Mengalah atau memang kalah?”
“Tentu saja mengalah.” Ryan menatap cemberut adiknya, lalu mengangkat tangan dari pundak perempuan itu dan kembali melihat kedua tangannya ke depan dada.
“Bisa saja Kakanda ini ..., buat alasannya.”
“Engkau anggap ini alasan, ya? Hmm! Adinda, sepertinya engkau salah sangka. Kakakmu ini bukanlah orang kejam yang tega menyakiti burung indah seperti itu, karena itu kakakmu ini sengaja tidak menyerangnya.”
“Bohong! Arteria tadi lihat kakanda ada niat menyerang Tuan Bangau, kok.”
Di tengah canda gurau Pangeran dan Tuan Putri, sang Raja yang merupakan ayah mereka datang bersama beberapa pengawalnya. Pria yang rambutnya sudah memutih semua itu mengenakan pakaian jubah dengan aksen warna biru tua dan hitam, memakai mahkota sebagai tanda seorang Raja dan berjalan tegak bersama beberapa pengawalnya.
Arteria langsung bisa merasakan kedatangan ayahnya tersebut, ia melihat kobaran jiwa Gaiel dan langsung menoleh dengan cepat. Wajah perempuan itu seketika berseri, lalu dengan penuh semangat berlari ke arah Raja Gaiel dan langsung memeluknya.
“Ayahanda~!! Tolong dengar, tolong dengar~! Tadi waktu Arteria duduk-duduk sama Kakanda, ada bangau besar yang singgah! Tuan Bangau itu besar sekali! Tadi juga kakanda ditendang sama Tuan Bangau!”
Pria yang memimpin kerajaan Felixia itu tersenyum ringan melihat putrinya sudah muai cerita seperti itu. Meski paras dan postur tubuh perempuan rambut biru tersebut terlihat seperti perempuan yang usianya sekitar 19 tahunan, namun memang Arteria masihlah anak-anak yang ingin dimanja oleh orang tuanya. Apa lagi setelah kepergian sang Ratu yang bisa dikatakan sangatlah singkat karena efek dari darah murni keluarga kerajaan dan Kontrak Jiwa yang dibuat dengan Roh Kudus Kerajaan Felixia.
“Hmm ...” Sang Raja meletakkan telapak tangannya ke atas kepala Arteria, lalu mengelus-elus putrinya tersebut dan melempar senyum lebar. Dengan ekspresi cerah sang Raja berkata, “Sepertinya kakakmu perlu berlatih lebih keras lagi supaya bisa melindungimu ya, putriku.”
“Kakanda sudah berlatih keras!” Perempuan itu melepaskan pelukan, menatap lurus Raja Gaiel dan berkata, “Arteria sering lihat Kakanda kalau malam berlatih di taman!”
“Kau dengar itu, putraku?” ucap sang Raja seraya menatap pangeran Ryan yang mulai diam setelah Raja dan para pengawalnya datang.
Ryan tidak menjawab dan tetap terdiam, hanya memberikan tatapan datar karena paham maksud kedatangan sang Raja bukanlah untuk sekedar menemui kedua anaknya yang sedang bergurau di taman istana. Ia sekilas mengamati para pengawal Raja, segera paham kalau mereka baru saja menyelesaikan persetujuan dengan para Tetua kerajaan.
“Ke kediaman paman Dart?” Ryan menatap bingung, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan tahapan pertunangan seperti itu.
“Ya, ke kediamanku,” ucap Dart seraya berjalan dari barisan para pengawal Raja ke arah pangeran Ryan. Pria rambut abu-abu yang diikat kucir itu berdiri di depan Ryan, jubah birunya tertiup angin dan sekilas membuat sang Pangeran kagum melihat kegagahan pria yang dikenal dengan julukan Ahli Pedang tersebut. Menatap tajam anak rambut merah di hadapannya, sang Marquess berkata, “Mempertimbangkan tradisi keluarga Luke dan keluarga kerajaan, para Tetua memutuskan kalau memang sebaiknya Putri Arteria perlu datang ke kediaman Luke dulu. Apa kau ingin ikut juga, Pangeran Ryan?”
“Apa boleh?!” tanya pangeran dengan antusias.
“Tentu saja!” Dart tersenyum tipis dengan sorot mata datar, sedikit terlihat rindu dengan putranya sendiri di rumah. Sembari memegang pundak Ryan, dengan suara tinggi ia berkata, “Di sana kau bisa juga mengetes anak yang akan menjadi tunangan adikmu itu.”
“Eh?” Ryan terkejut mendengarnya, lalu menyeringai penuh rasa percaya diri dan dengan nada menantang berkata, “Nanti ... kalau putra paman babak belur gimana?”
“Hahah!” Dart terbahak lepas, mengangkat tangannya dari pundak Ryan dan balik menantang, “Coba saja kalau bisa membuat anak itu babak belur! Aku tidak akan marah! Sungguh!”
“Dart! Jangan malah mengadu anakku dengan anakmu!” tegur sang Raja. Menggandeng putrinya, Raja Gaiel berjalan ke arah mereka berdua dan menepuk punggung Dart dengan keras. Namun, Ahli Pedang itu sama sekali tidak bergeming dan malah tangan sang Raja yang memerah karena seakan telah memukul benda keras.
“Jangan dianggap serius, Gaiel.” Ahli Pedang itu menoleh, lalu memasang senyum tipis yang terlihat kosong dan berkata, “Aku hanya bercanda .... Kalau memang Ryan benar-benar menantang putraku, kurasa Odo tidak akan menerimanya.”
“Eh?” Pangeran Ryan terkejut.
Raja sesaat terdiam melihat ekspresi Dart yang seakan menyembunyikan rasa cemasnya. Memejamkan mata sesaat dan paham kalau pria itu hanya tak ingin menunjukkan kegelisahannya di depan anak-anak, Raja Gaiel berusaha terus mengikuti pembicaraan dan bertanya, “Kenapa begitu?”
“Anak itu, Odo pintar kalau soal mengelak dan menghindari hal-hal yang menyusahkan. Kalau memang terpaksa bertarung, dia pasti tidak akan kalah.”
“Ujung-ujungnya tarung juga ....”Gaiel mengerutkan keningnya, lalu menghela napas dan dengan resah berkata, “Orang dari keluarga Luke dari dulu memang kacau, kenapa kalian selalu suka seperti itu.”
Dart terdiam dengan ekspresi datar. Arteria yang bisa melihat pancaran jiwa dengan jelas tahu kalau Kepala Keluarga Luke itu sedang sangat cemas. Ia hendak memegang tangan Dart dan menanyakan sesuatu. Namun sebelum itu, pangeran Ryan dengan lantang bertanya, “Ayahanda! Kapan kita pergi!”
“Oh, sudah semangat, nih?” Dart menatap anak laki-laki tersebut, lalu memasang senyum tipis bercampur ekspresi hampa.
“Ya, tentu saja!” jawab Ryan yang sama sekali tidak memperhatikan ekspresi Dart Luke.
“Haah ....” Raja Gaiel menggelengkan kepala, lalu dengan nada enggan menjawab, “Empat hari lagi kita berangkat .... Tolong jangan asal tantang orang saat sampai di sana, ya? Kalau salah, bisa-bisa kamu menantang monster rubah yang tinggal di sana.”
“Tentu saja, Ayahanda! Diriku yakin dengan kemampuanku menilai kekuatan orang lain.”
“Permisi, tuan-tuan ....” Seorang pria berambut cokelat klimis berjalan melewati para pengawal, lalu menghadap sang Raja Gaiel. Pria yang datang tersebut adalah Kepala Keluarga Rein, Thomas Rein. Pria itu membawa perkamen di genggamannya, lalu menyerahkan itu kepada sang Raja seraya berkata, “Yang Mulia, persiapannya sudah selesai. Untuk wilayah Tuan Jakall dan Tuan Garados, mereka telah menyetujui kesepakatan untuk mengacuhkan pakta Keempat Negeri kalau orang-orang dari Moloia itu menyerang dan mengirimkan pasukan mereka.”
Gaiel langsung mengambil perkamen itu dan menatap tajam Thomas, merasa kalau pria itu tidak membaca suasana dan langsung berkata soal politik seperti itu di depan anak-anak. Raja memang paham itu memang ciri dari orang-orang Rein, namun tetap saja itu membuatnya menghela napas dan berkata, “Karena itulah putramu meniru sifatmu dan main babat para bangsawan korup tanpa ampun.”
“Eh?” Thomas menatap bingung, lalu bertanya, “Kenapa Yang Mulia tiba-tiba membahas putra saya?”
“Sudalah ..., kerja bagus. Engkau memang selalu bisa diandalkan soal ini.”
Thomas tambah bingung mendengar perkataan sang Raja. Menatap Dart seakan meminta penjelasan, Ahli Pedang itu malah menatap datar seakan meledek ketidakpekaan Kepala Keluarga Rien tersebut. Pangeran Ryan yang mendengar itu langsung paham kalau itu soal kemungkinan perang yang akan pecah dalam waktu dekat, namun dirinya tidak bertanya karena mempertimbangkan adanya Arteria.
“Oh, iya! Hampir saja saya melupakannya ....” Thomas terlihat ingat sesuatu, lalu dengan cepat menanyakan, “Yang Mulia, boleh kita nanti sejenak mampir ke kediaman saya?”
“Eng? Rutenya memang bisa satu arah .... Memangnya untuk apa?”
“Surat dari istri saya sampai kemarin, katanya ia ingin ikut berkunjung ke kediaman Marquess Luke dan bertemu dengan Nyonya Mavis.”
“Lady Calista?” Raja Gaiel terlihat heran, sekilas memalingkan pandangan dan bertanya, “Tidak biasanya istrimu ingin pergi keluar, bukannya beliau tidak suka keluar rumah?”
“Saya juga kurang paham.” Thomas menggelengkan kepala, lalu dengan ekspresi bingung berkata, “Namun di surat, istri saya bilang kalau Arca sering keluar rumah dan ia sedang kesepian. Huh, sepertinya bukan hanya putra Tuan Dart yang sering membuat orang tuanya cemas.”
“Kurasa bukan itu masalahnya,” ucap raja Gaiel. Sang Raja sampai menatap datar melihat ketidakpekaan salah satu orang kepercayaannya itu tentang isi hati wanita.
Meski sebagai sesama pria yang memiliki pengalaman berkeluarga, pemahaman Thomas soal isi hati wanita lebih rendah dari Dart atau Gaiel. Menghela napas panjang melihat tingkah Thomas yang sama sekali tidak menyadari kalau istrinya tersebut jelas-jelas merajuk sampai mengirim surat seperti itu, Dart dan Gaile memalingkan pandangan dan terlihat kesal karena hal tersebut.
“Orang yang paling beruntung memang sukar menyadari keberuntungannya,” gumam Gaiel.
“Memang, rasanya menyebalkan. Apa benar nih orang sudah lepas dari masa pubernya?” gumam Dart.
Bagi kedua pria yang mendapat pasangan hidup dengan latar belakang unik dan butuh pengorbanan besar, Thomas yang bisa berkeluarga dengan normal membuat mereka kesal karena pria itu malah tidak peka dan seakan tidak peduli soal itu.
“Yah .... Di antara kita, istrinya paling banyak, sih. Kurasa kita tak perlu memedulikannya,” bisik sang Raja kepada Dart.
“Ya, soal itu dia lebih unggul dari kita kurasa. Aku hanya menjaga satu istriku juga sudah mati-matian, tapi dia malah ada empat,” balas Dart dengan nada sinis.
Melihat itu, Thomas malah menangkap maksud mereka dengan cara yang berbeda dan malah berkata, “Apa kalian juga ingin melakukan pernikahan politik untuk menghadapi kemungkinan perang ini? Bisa jadi konflik kali ini dapat dicegah dengan itu, Yang Mulia, Tuan Dart.”
Perkataan itu seakan menyiram api dengan bensin, membuat Dart dan Raja Gaiel menatap gelap pria yang sama sekali tidak mengeri isi tahu seseorang itu. Menghela napas ringan dan menggelengkan kepala, baik Dart atau sang Raja tidak berkata apa-apa lagi karena sudah pasrah dengan sifat Thomas yang seperti itu. Memang untuk usia belasan sampai dua puluh wajar untuk tidak peka seperti itu, namun sampai usia hampir menyentuh kepala empat masih seperti itu juga sudah menjadi keunikan dan keajaiban sendiri dari pria bernama Thomas tersebut.
Di tengah obrolan para ketiga orang dewasa tersebut, Arteria dan Ryan terlihat muram dan benak mereka dicemaskan tentang perang yang akan terjadi dalam waktu dekat. Tidak ada dari mereka berdua yang suka pertumpahan darah, kedua anak raja itu sangat paham betapa sakitnya kehilangan.
Ryan sekilas menundukkan kepala. Selain cemas pada Arteria, dirinya juga khawatir tentang Ibu kandungnya sendiri, sang selir Sarawati Irbar. Ibunya berasal dari Kerajaan Ungea, ia miliki hubungan darah dengan sang maharaja di karena dirinya terlahir dari seorang selir. Memikirkan banyak hal, ada kemungkinan kalau Kerajaan Ungea juga akan melanggar pakta perjanjian dan bisa saja menyerang Kerajaan Felixia.
“Kalau perang benar-benar terjadi, apakah Ibunda akan memihak kerajaan Ungea atau kerajaan ini .... Kalau ia memihak Ungea, apa Ayah akan ....” Ryan hanya menatap sang Raja yang sedang berbicara dengan Dart dan Thomas, tidak berani menanyakan apa yang ada dalam benaknya dan hanya menutup mulut rapat-rapat.