
Musim semi semakin terasa kedatangannya, bunga-bunga mulai mekar pada pot-pot tembikar yang dipajang di depan bangunan-bangunan jalan utama sebagai penghias. Keramaian mulai kembali saat matahari terbit dan mulai meninggi, seakan eksekusi kemarin tidak berdampak besar bagi rutinitas orang-orang kota pesisir.
Sinar matahari yang masuk melalui jendela ke dalam salah satu kamar penginapan Porzan, memapar wajah perempuan rambut biru dan membangunkannya. Segera duduk di atas ranjang, Vil mengulat lepas dan sedikit menguap. Rambut panjangnya terurai liar di atas ranjang, terlihat seperti garis murni air dalam aliran sungai.
Ia segera menggunakan kekuatannya, mengubah Mana dari dalam tubuh menjadi gelembung-gelembung air yang melayang di sekitarnya dan mulai membersihkan pakaian yang dikenakan dengan itu. Gelembung-gelembung masuk ke dalam blus, rok, dan celana ketat yang dikenakannya, lalu membersihkan kotoran yang menempel.
Setelah semuanya bersih, Vil memisahkan kandungan air dari dalam kain dan mengubahnya menjadi Mana untuk kembali diserap tubuh. Sedikit merapikan pakaian, ia mulai mencari pemuda yang seharusnya tidur satu tempat dengannya.
“Eng, Od—?”
Perkataan Vil terhenti saat melihat seorang anak laki-laki duduk di atas lantai. Anak tersebut terlihat sedang menulis sesuatu dengan perkamen dan pena bulu, namun bukan itu yang membuat Vil terkejut. Tanpa melihatnya dari depan pun Roh Agung itu tahu kalau anak itu adalah Odo Luke, namun yang membuatnya terkejut adalah wujudnya yang sekarang ini nampak.
“Odo ..., apa kekuatanmu sudah kembali?” tanya Vil seraya turun dari tempat tidur dan menghampiri anak laki-laki itu. Roh Agung tersebut sekilas memeriksa gelang hitam yang dikenakan pada tangan kanannya sendiri, sedikit heran dan mengira-ngira Odo mengakses dimensi penyimpanan pada Gelang Dimensi saat dirinya tidur.
Anak itu menoleh, dan Vil pun memastikan kalau anak rambut hitam tersebut benar-benar Odo Luke. Paras kekanak-kanakan dengan ekspresi sedikit datar, sorot mata biru dan rambut hitam yang khas. Tidak salah lagi ia adalah Odo.
“Hmm, meski belum sepenuhnya, sih.”
“Terus ... kenapa bentuk fisikmu?” Vil mengamati tubuh anak laki-laki tersebut. Tinggi badan, bentuk wajah dan postur tubuh, jelas-jelas itu terlihat seperti Odo sebelum menggunakan sihir transformasi dan benar-benar seorang anak kecil.
“Ah, ini?” Anak itu bangun menghadap Vil, merentangkan kedua tangannya dan sembari tersenyum tipis berkata, “Aku tadi malam’kan mengobrol dengan Canna, bahas beberapa hal tentang sihir dan semacamnya. Saat itu aku juga diberitahunya kalau ada cara efektif menggunakan sihir selain menggunakan struktur sihir internal.”
“Eh?”
Vil sesaat terdiam dengan wajah terkejut. Meski dirinya tidak tahu kalau apa yang dikatakan Odo itu kenyataan atau bukan, namun ekspresi yang nampak pada raut wajah anak itu sangat menunjukkan kalau dirinya berbohong. Vil jelas tahu senyuman yang sering Odo perlihatkan saat berdusta.
“Ini, loh ....”
Anak rambut hitam itu mulai menyingsingkan lengan kemejanya, saat itulah kebohongan yang Odo buat sudah tidak penting lagi karena apa yang ditunjukkannya itu benar-benar membuat Vil terbelalak. Itu sebuah Rajah berbentuk Khanda pada bahu kanan, berwarna Ivory (putih gading) dan tertanam dalam pada kulitnya.
Vil sangat tahu makna simbol yang sering muncul dalam legenda tersebut, membuatnya gemetar dan melangkah mundur. Dengan suara yang terasa serak dan terganjal, ia berusaha berkata, “Ke-Kenapa ... kamu punya simbol itu?”
“Ah ....” Odo sekilas memejamkan mata, kembali membukanya dan memalingkan pandangan. Menatap ke arah Vil dengan ekspresi ringan, ia berkata, “Aku belum memberitahumu soal ini, ya? Rajah ini muncul setelah aku mengalahkan Raja Iblis, bisa dianggap juga aku menjadi orang yang kelak akan berpengaruh besar bagi daratan ini ....”
“Raja Iblis ...?” Vil sekilas memang sadar akan hal tersebut, ingin memastikannya ia pun bertanya, “Berarti yang benar-benar mengalahkan Raja Iblis itu aslinya Odo? Sedang kan Fiola hanya ....”
“Ya, dia hanya mengaku telah mengalahkan Raja Iblis.” Odo sedikit menghela napas, tersenyum kaku dan tersirat kesedihan di dalamnya. Menatap dengan sorot mata yang tidak mencerminkan gairah hidup, ia menjelaskan, “Aku yang memintanya untuk mengaku seperti itu .... Saat itu kondisinya rumit, sih.”
Vil hanya terdiam, bingung harus berkata atau bertanya apa. Odo terlalu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, bahkan anak di hadapannya tersebut tidak membiarkan Vil untuk sejenak memantapkan pikiran dan menyesuaikan pikiran setelah bangun tidur.
Tanpa menunggu Roh Agung itu menanyakan apa yang mengganjal dalam benaknya, anak rambut hitam itu kembali berkata, “Vil, kau adalah orang ketiga yang tahu tentang simbol ini, jadi tolong jangan beritahu siapa-siapa, ya.” Odo kembali menurunkan lengan kemejanya, menatap ringan dan memberikan senyum tipis.
“Ketiga?”
“Ya, Fiola dan Canna sudah tahu ....” Odo sekilas memalingkan wajah dengan enggan, menghela napas dengan ekspresi muram dan ia berkata, “Tapi jangan cemas, bukan berarti aku akan mengundang masalah atau punya ambisi menjadi penguasa benua Michigan. Aku hanya ingin melakukan kewajibanku saja.”
“Apa ... yang kamu bicarakan, Odo?” Vil benar-benar tidak bisa menangkap maksudnya, bingung dengan keadaan yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan serius. Ia berjalan mendekat, hendak memegang pundak kiri anak laki-laki itu namun Odo melangkah mundur dan menghindar.
Itu cukup membuat rasa sakit di dalam dada Vil, dengan mata yang mulai berkaca-kaca ia bertanya, “Apa ... yang engkau bicarakan?”
Odo menatap lurus perempuan rambut biru di hadapannya itu dan mulai menjelaskan, “Rajah ini punya struktur sihir tersendiri, memiliki keunikan dan fungsinya hampir sama seperti Inti Sihir versi mini. Dengan memanfaatkan itu dan menyalurkan Mana milikku ke dalamnya, kurang lebih aku sudah bisa lagi menggunakan sihir transformasi.”
Emosi Vil seketika melonjak karena mendengar jawaban yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Menarik napas dalam-dalam, dengan tanpa sadar Vil membentak, “Bukan itu yang diriku tanyakan sekarang!! Itu ..., Rajah itu .... Kamu tahu artinya?!”
Suasana menjadi senyap dengan cepat, untuk pertama kalinya Vil merasa sangat marah pada Odo karena hal tersebut. Ia mengerutkan kening, menatap dengan wajah memerah dan ingin kembali membentak anak rambut hitam di hadapannya. Sadar kalau dirinya tidak pantas untuk marah seperti itu, Roh Agung tersebut menundukkan wajah dan hanya bisa terdiam.
“Ya, aku tahu,” ucap Odo. Ia hanya memberikan tanggapan ringan, seakan tidak memedulikan rasa cemas Vil dan berkata, “Ini simbol para penguasa, bukan? Tenang saja, aku bukan orang yang ambisius. Hal seperti menaklukkan daratan seperti Kaisar Pertama Urzia atau membawa perdamaian seperti para Maharaja Kerajaan Unega tidak ada padaku.”
Vil mengangkat wajahnya, menatap penuh rasa cemas dan berkata, “Tapi ... simbol itu.”
“Ya, memang ini akan mengundang masalah, karena itu aku menyembunyikannya. Jadi jangan bilang siapa-siapa, bahkan Bunda tidak tahu soal ini ....”
“Mavis ...?”
“Hmm, kalau Bunda tahu bisa-bisa aku dipaksa tetap berada di Mansion. Pemilik simbol ini sepertinya selalu dekat dengan masalah, dan aku membuktikannya saat mencari bandit sialan itu. Jujur bukan berarti aku yang mengundang masalah, tapi masalah yang seakan menghampiriku ....”
Vil terdiam mendengar itu, ia memang terkejut mengetahui fakta bahwa Odo adalah pemegang simbol Khanda. Namun selain rasa tersebut, rasa penasaran lebih bergejolak dalam benak karena anak rambut hitam itu tidak mungkin membongkar sebuah rahasia tanpa tujuan jelas. Apa lagi di pagi-pagi hari seperti sekarang.
“Kenapa ... kamu memberitahuku hal itu sekarang, Odo? Bisa saja ... dirimu terus diam dan menyembunyikannya, diriku juga mungkin tidak akan menanyakan hal tersebut jika kamu tak ingin diriku tahu.”
Sekilas pemuda itu memalingkan pandangan, melihat keluar jendela dan memasang ekspresi sedih yang sangat jarang dirinya perlihatkan. Tidak menjawab pertanyaan Vil, Odo berjalan ke arah jendela yang terbuka dan berdiri di depannya.
Sembari melongok keluar dan melihat orang-orang yang ramai dengan kegiatan perekonomian mereka di bawah, pemuda itu berkata, “Kemarin malam aku sempat memikirkannya dan bimbang soal itu, ‘Kenapa aku berjuang sekeras ini? Kalau hanya untuk melindungi tempat itu, seharusnya pada titik aman bisa saja aku berhenti dan membiarkan orang lain yang melakukannya. Tapi kenapa?’ Pertanyaan semacam itu sempat terlintas dalam benakku dan membuatku bimbang.”
Odo menoleh, menatap Roh Agung rambut biru itu dan kembali berkata, “Namun saat dipikir kembali, aku mendapatkan jawabannya. Aku mengingat jawabannya.”
“Jawaban ...?” Vil hanya berdiri pada tempatnya, enggan mendekat dan merasa jaraknya dengan Odo seakan semakin menjauh.
“Hmm.” Odo mengangguk dan tersenyum ringan, kembali mengingat kejadian semalam dan berkata, “Saat aku kembali ke penginapan ini kemarin, aku sempat melihat orang-orang yang hanya bisa hidup di malam hari. Mereka ... mengais sisa-sisa pagi, mengisi perut mereka dan keluarga. Jujur saat melihat itu aku sempat mengingatnya .... ‘Ah, aku ini memang orang yang seperti ini. Benar juga, sejak dulu aku memang orang yang seperti itu’. Karena hal seperti itu ... aku memutuskan untuk memberitahumu rahasiaku.”
Vil terdiam, menatap bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud Odo. Roh Agung itu tahu kalau perasaan yang pemuda itu maksud adalah rasa tidak tega melihat mereka para gelandangan yang hanya bisa mengais sisa-sisa makanan di malam hari, namun apa yang ingin disampaikannya sama sekali tidak bisa Vil tangkap.
“Memangnya ... rahasia soal apa?” tanya Roh Agung itu sembari memaksa tubuhnya sendiri bergerak, mengambil satu langkah mendekat dan menatap penuh rasa ingin percaya.
Odo sekilas tersenyum ringan, merasa senang saat melihat itu dan balik bertanya, “Vil ..., apa kau tahu Samsara?”
“Samsara?” Perempuan rambut biru itu terdiam, memegang dagu dan berpikir keras tentang itu lalu menjawab, “Kalau tidak salah, kata itu ... ada banyak dalam buku-buku sihir kerajaan Ungea. Itu tentang roda karma?”
“Begitu, ya.” Odo hanya memasang senyuman tipis, berjalan mendekat untuk berdiri di hadapan Vil dan berkata, “Kau kurang tahu soal itu .... Kalau begitu, apa kau tahu apa itu karma?”
Vil mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan pertanyaan Odo yang terkesan bertahap seperti itu. Menghela napas dan menenangkan gejolak kesal dalam benak, Roh Agung tersebut menjawab, “Karma adalah tindakkan atau juga disebut hasil tindakkan, ada yang karma baik dan buruk. Memangnya ... kenapa soal itu?”
“Dalam kepercayaan kerajaan Ungea, apa kau tahu kalau karma itu masuk dalam Panca Sradha? Itu ..., lima pokok utama yang ada dalam kepercayaan orang-orang mereka ....”
Vil terdiam, rasa kesalnya berubah menjadi sedikit rasa malu atas ketidaktahuannya. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu dengan lirih berkata, “Maaf ..., diriku tak paham soal itu. Engkau tahu sendiri kalau diriku tidak tertarik dengan teologi semacam itu, bukan?”
“Tak perlu minta maaf.” Anak itu hanya memasang ekspresi ramah, tidak mengusik ketidaktahuan Vil dan kembali berkata, “Kalau begitu, aku sedikit jelaskan soal Panca Sradha itu.”
Odo mengangkat kelima jemari tangan kanannya yang masih tertutup sarung tangan hitam, lalu dengan nada ramah seakan tanpa beban mulai menjelaskan, “Seperti namanya, itu Panca Sradha terdiri dari lima bagian ..., antara lain seperti Widhi Tattwa yang berarti percaya pada pencipta, Atma Tattwa berarti percaya pada jiwa, dan Karmaphala yang berarti percaya pada hukum sebab akibat. Karma adalah sebab akibat, sebuah kausalitas dari tindakkan yang tadi kau sebut.”
Vil menatap heran, ia baru tahu kalau Odo paham sejauh itu tentang kepercayaan yang dianut mayoritas orang-orang dari negeri gurun pasir tersebut. Dengan nada dan ekspresi sedikit heran, ia pun berkata, “Kamu tahu banyak soal itu, ya.”
Sorot mata Vil berubah menjadi tajam dengan cepat, lalu mengambil langkah untuk mendekat dan tegas bertanya, “Jadi Samsara itu apa? Odo tidak masuk-masuk ke inti pembicaraan, tak biasanya kamu seperti itu.”
Odo hanya memberikan ekspresi datar tanpa gentar mendapat tatapan marah dari perempuan yang biasanya selalu tenang itu. Dengan hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, anak rambut hitam itu menjelaskan, “Bagian keempat dari Panca Sradha adalah Moskha, sebuah keharusan untuk melepas rasa duniawi dan ikatan semacam itu untuk bisa sampai ke tingkat pertapaan. Itu semacam melepas kotoran dari tubuh dan pikiran, biasanya para biksu di sana sudah menguasai bagian ini. Kalau itu kau tahu, bukan?”
“Eng ....” Vil mengangguk kesal, merasa Odo semakin berbelit-belit. Menatap tajam dan mulai pasrah dengan hal tersebut, ia menjawab, “Itu salah satu jenis latihan Battle Art di sana. Melepas kotoran dari tubuh dan memperlancar sirkulasi energi kehidupan, diriku pernah mendengar itu dari Dart.”
Odo menurunkan tangannya dan menatap dengan ekspresi ragu. Sekilas mulutnya terbuka dan hendak menjelaskan, namun keraguan membutanya kembali mulut dan memalingkan pandangan. Menarik napas dan membulatkan keputusan, ia menatap Vil dan kembali menjelaskan, “Bagian terakhir adalah Samsara, atau bisa disebut juga Punarbhawa .... Kalau kau tetap tidak tahu apa itu, kata yang lebih sederhana untuk menjelaskannya adalah reinkarnasi ....”
Vil langsung terdiam, membisu dan gemetar mendengar itu. Ia langsung tahu apa yang ingin Odo bicarakan, samar-samar paham mengapa anak rambut hitam itu menggunakan kalimat-kalimat implisit dan berbelit. Dengan ragu Roh Agung itu pun bertanya, “Odo, jangan bilang ... kau adalah reinkarnasi atau semacamnya? Hal tak masuk akal seperti itu ... mana mungkin terjadi. Saat seorang manusia mati jiwanya akan terurai dan kembali dalam Aliran Kehidupan, kepribadian mereka akan hancur.”
“Memang jiwa mereka hancur, tapi kepingan jiwa yang terurai-urai itu bukannya akan terlahir ke dunia lagi menjadi orang lain? Apa ... kau yakin reinkarnasi itu benar-benar tidak bisa terjadi. Bukannya ... kau sendiri bisa melakukan reinkarnasi sempurna, Vil?”
“Itu ....”
Sekilas dada Vil terasa sesak, apa yang dikatakan pemuda itu memang sangat tepat. Kata kematian dan kehidupan sebenarnya tidak terlalu cocok untuk para Roh di Dunia Astral, mereka semua pada dasarnya adalah kumpulan energi yang membentuk kepribadian dan sistem hierarki sendiri. Itu juga berlaku bagi Vil yang bisa saja terlahir kembali asal mempersiapkan kematian yang sesuai. Mati dan Hidup bagi para Roh Agung hanyalah semacam siklus daur ulang untuk menata keseimbangan lingkungan yang menjadi teritorial mereka.
Paham hal seperti itu bisa saja terjadi pada manusia, tubuh Vil tak berhenti gemetar dan tidak ingin menerima fakta tersebut. Dengan niat membantah ia berkata, “Kalau memang jiwamu— Dirimu adalah reinkarnasi! Lalu apa kau mengingatnya? Ingatan kehidupan sebelumnya? Jika kau pemilik tanda itu, berarti kau reinkarnasi kaisar pertama dan pendiri Ungea? Itu ... tidak masuk akal!”
Vil hendak memegang kedua pundak Odo, namun sekali lagi anak rambut hitam itu menghindar dengan melangkah mundur. Roh Agung terdiam, tambah gemetar dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau itu tidak mungkin terjadi. Roh Agung tersebut takut kalau Odo yang ia kenal akan menghilang saat dirinya menyadari fakta tersebut, ia takut tak bisa lagi memandang sosok yang ada di hadapannya sebagai Odo Luke.
“Aku bukan mereka,” jawab Odo seraya menatap lurus mata Vil. Itu membuat perempuan rambut biru tersebut terpaku, melangkah mundur dan sedikit merasa lega namun tatapannya terlihat kacau.
“Lalu ... kamu apa? Samsara itu ... maksudnya reinkarnasi, bukan? Jiwamu ....”
“Aku hanyalah pemuda yang terseret ke dalam masalah ini karena seorang dewi menaruh perhatiannya padaku. Seorang pendosa, pemberontak dan sosok yang dulu ingin menggulingkan kekuasaan langit.”
Odo memahaminya dengan jelas kalau hal tersebut pasti akan menjadi kesimpulan Vil. Memasang senyum ringan dan sedikit memiringkan kepala, ia membantah, “Salah .... Sayang sekali aku bukan sosok sebrutal itu. Diriku tidak punya ambisi sekuat Raja Iblis Kuno yang bisa menyatukan bangsa Iblis itu. Aku hanyalah ....”
Odo menjelaskan, dengan detail bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari dunia sebelum kiamat. Itu dirinya ungkapkan satu persatu dengan mulutnya sendiri, tentang semesta yang ada sebelum Rekonstruksi Dunia dan disebut juga dunia sebelum kiamat, tentang dirinya yang pernah hidup di masa itu dan beberapa rahasia yang bahkan tidak dirinya tidak beritahukan kepada Fiola atau yang lainnya.
Mendengar penjelasan yang terkesan satu arah tersebut, Vil hanya bisa terbelalak dan dipaksa percaya akan hal itu. Ia memang pernah menduga-duga hal tersebut karena sikap dan kepribadian Odo tidak seperti anak kecil pada umumnya, namun secara tidak sadar ia sendiri menolak untuk percaya pada hal tersebut. Vil tak ingin orang yang membawanya keluar dari perpustakaan menjadi orang lain, ia ingin Odo tetap menjadi Odo yang dirinya kenal.
“Odo ..., hal seperti itu .... Engkau ....”
Roh Agung itu hanya bisa memasang wajah penuh rasa sedih, kalimat tidak bisa dirinya susun dengan baik dan benaknya yang kacau membuatnya bingung harus berkata apa setelah mendengar semua penjelasan tersebut.
Seakan memang tidak memedulikan Roh Agung tersebut yang masih belum siap, Odo melontarkan tawaran, “Apa kau tetap akan berada di pihakku, Vil?” Tentu saja Roh Agung tersebut tidak bisa menjawab. Hanya membuka mulutnya dan berusaha berkata, namun suara tidak bisa ia keluarkan karena seperti ada sesuatu yang bernama keraguan mengganjal tenggorokannya.
“Meski telah tahu hal ini, apa kau tetap berdiri di sampingku?” Odo kembali mengajukan pertanyaan tersebut. Anak itu menundukkan wajah, lalu dengan penuh rasa menyesal mulai menjelaskan, “Pada dasarnya kekacauan di dunia ini, ulah para iblis dan pemanggilan mereka, tragedi yang dibuat Aliran Sesat, semua itu hanyalah sebuah proses untuk mengumpulkan kepingan jiwaku yang tersebar di dunia,”
“A—!” Vil semakin terkejut, dadanya terasa sesak dan ekspresinya begitu tersiksa mendengar fakta yang terus datang bagaikan badai. Raut wajahnya seakan ingin menangis, baginya kenyataan itu lebih menyakitkan daripada sebuah kebohongan.
Meski ekspresi perempuan itu begitu tersiksa dan hatinya seakan hancur, Odo kembali berkata, “Setelah jiwaku dikumpulkan mereka, bahkan Bunda harus mengandungku .... Seharusnya kau tahu ada yang aneh dengan caranya mengandungnya, bukan? Kau seharusnya tahu, mana mungkin perempuan tanpa rahim bisa mengandung ....”
Vil langsung menyadarinya, mengingat permintaan Mavis saat pertama kali menjadi Roh Agung yang dikontraknya dan mulai tinggal di Perpustakaan Luke Scientia. Memang pada saat itu Mavis memintanya untuk menggunakan tongkat Veränderung dan mengubah struktur tubuhnya supaya bisa mengandung seorang anak. Meski rahim bisa dibentuk ulang, namun bukan berarti fungsi dari alat organ kewanitaan itu bisa langsung bekerja dengan semestinya dan digunakan untuk mengandung.
Vil menyadari sesuatu, matanya terbuka lebar dan dengan takut berkata, “Benar juga, meski Mavis mengandung tapi jiwa yang masuk ke janin dan membuatnya hidup itu ....”
“Benar .... Dengan tongkat milikmu itu, jiwaku yang telah terkumpul dalam tubuh Bunda bisa mendapat tempat dan pada akhirnya dikandungnya. Itulah rahasiaku. Aku terlahir bukan karena keajaiban atau berkah, tapi karena kepastian yang dibuat mereka.”
Itu benar-benar membuat Vil lemas, kakinya sampai tidak bisa menopang tubuh dan terduduk pasrah di atas lantai kayu. Itu terlalu menakutkan untuk menjadi kenyataan, sebuah fakta yang membuat suasana Mansion terasa hidup bersumber dari anak yang kelahirannya ditunggu-tunggu oleh mereka golongan yang paling banyak membawa penderitaan bagi dunia.
Mendongak dan menatap anak rambut hitam tersebut, dengan gemetar Vil bertanya, “Untuk apa semua itu? Kenapa ... hal seperti itu ....”
Odo menatapnya sedih, dengan penuh beban ia menjawab, “Hanya dengan keberadaanku dunia akan bergerak, itulah peran yang kumiliki. Di mana aku melangkah akan terjadi kekacauan, lalu sebuah awal akan tercipta, itulah kodratku.”
Vil terdiam, suara seakan tidak bisa keluar dan kebimbangan membuat mulutnya kaku. Meski perkataan tertata rapi dalam kepala, itu semua itu tidak bisa dirinya tanyakan. Ia menundukkan wajah, berusaha menenangkan diri dan terdiam membisu.
Suasana menjadi senyap, hanya suara-suara keramaian dari luar yang terdengar dan sedikit mengusik kesenyapan yang ada. Bangun dengan tubuh yang masih gemetar, Roh Agung itu menatap lurus dan bertanya, “Kenapa ... kamu memberitahuku soal ini? Kalau saja kamu tetap menyembunyikannya dan terus menjadi Odo Luke yang diriku tahu ..., diriku pasti akan selalu berdiri di sampingmu! Kenapa malah sekarang ..., setelah rasa ini tumbuh! Setelah semuanya dilalui ..., kenapa baru sekarang, Odo?!”
“Aku tak ingin menyembunyikannya.” Odo hanya menatap lurus, tanpa keraguan ia pun menjawab, “Rasanya sangat menyedihkan kalau aku terus menyembunyikan ini darimu.”
“Kamu bisa saja memberitahukan itu pada Fiola dan Julia!! Mereka ....”
“Julia akan selalu membantahku saat tindakkan yang kuambil membahayakan diriku sendiri .... Fiola langsung mencegahku saat aku melakukan sesuatu yang bisa saja membuat Bunda sedih. Berbeda dengan mereka, kau tidak pernah membantah keputusanku.”
“Diriku tidak membantah karena kamu Odo Luke. Tapi ... setelah mendengar hal seperti itu, diriku ....!”
Odo mengerti apa yang Roh Agung tersebut katakan. Bagi Vil sosok Odo memang seperti itu apa adanya, menjadi pegangan dan panutan, menjadi petunjuk dan tanpa ragu menurutinya meskipun itu bisa berarti buruk dan sebuah kebohongan.
“Aku tetap Odo Luke, sampai kapan pun aku Odo Luke.” Anak rambut hitam itu mengambil satu langkah mundur, memasang senyum ringan dan berkata, “Meski ingatan masa lalu mengisiku, tapi kenangan sejak aku dilahirkan ke dunia ini sampai sekarang itu asli milikku. Karena itulah aku adalah Odo Luke, bukan orang lain.”
Air mata seketika mengalir membasahi pipi Vil, perasaan aneh dalam benak mulai mengisi dadanya. Berkali-kali mengusapnya dengan lengan, itu terus mengalir tak terbendung bersama perasaan yang sepenuhnya tubuh dalam dada rapuh perempuan itu.
“Curang .... Odo ..., kamu curang .... Kenapa baru sekarang bilang seperti itu, aku ... tidak punya pilihan selain menerima ucapanmu ...!”
Apa yang Odo katakan tadi hanyalah untuk memancing perasaan Vil naik ke permukaan, dirinya tahu kalau pemuda itu punya sifat buruk tersebut. Memancing emosi orang lain, memanipulasinya dan menjatuhkannya, lalu memberikannya rasa lega, itulah cara yang sering Odo Luke lakukan.
“Maaf ....” Anak itu menundukkan wajah, lalu dengan murung berkata, “Aku tak ingin melepaskanmu. Kemarin aku sempat ragu, kalau tidak ada orang yang mengenalku dengan jelas ... apa aku tetap bisa menjadi diriku? Karena itu ....”
“Kamu memang terburuk .... Kenapa bisa ... diriku menyukai orang sepertimu ....”
Vil berusaha mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti, memalingkan wajah dan tak ingin dilihat anak rambut hitam itu. Namun sebelum bisa menghapus air mata sepenuhnya, Odo kembali menunjukkan fakta yang membuatnya terkejut.
“Dan satu lagi ....” Odo melepas sihir kamuflasenya, tubuhnya berubah menjadi bentuk remaja lagi. Tinggi badan, postur tubuh dan paras, semuanya kembali menjadi bentuk tubuh yang ia miliki kemarin. Memasang senyum kaku, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Soal aku yang sudah bisa menggunakan sihir transformasi itu bohong, itu hanya untuk memudahkanku untuk menunjukkan simbol Khanda. Ini ... hanya sihir Mimik.”
Vil langsung menoleh ke arah jendela, segera sadar alasan kenapa cahaya yang masuk dan posisi Odo berdiri terasa aneh. Itu memudah Odo untuk memanipulasi cahaya , dan ditambah dari tadi memang pemuda itu menghindari kontak fisik supaya sihirnya tidak terbongkar.
Tersenyum pasrah dengan wajah kacau dan air mata masih berlinang, Vil menatap kesal dan berkata, “Begitu, ya .... Jadi kamu memang sudah merencanakan semua ini sebelum diriku bangun. Mempermainkan diriku seperti ini .... Kau sangat kejam, Odo..”
“Maaf .... Aku hanya ingin memastikan.”
“Tak perlu minta maaf.” Perempuan rambut biru itu mengusap air mata, menggelengkan kepala dan berjalan mendekat. Ia langsung memeluk Odo dan dengan sendu berkata, “Diriku tahu, kamu memang Odo .... Sifatmu itu, engkau memang Odo Luke. Tidak peduli engkau reinkarnasi siapa, engkau memang Odo .... Kau akan selalu menjadi Odo bagiku.”
Perempuan menangis, pemuda hanya memasang ekspresi datar dalam dekapannya. Mereka tahu dan paham bahwa hubungan yang ada tidak akan bisa lebih jauh dari sekarang, hanya sebatas orang yang saling mengisi dan memerlukan.
Memang ada kesetiaan, memang ada kasih, memang ada kepedulian, memang saling memikirkan, memang saling mengerti, namun memang juga mereka sendiri paham kelak pasti itu akan membuat mereka terluka saat saling melepas. Balik memeluk perempuan itu, Odo tidak berkata apa-apa dan hanya mendekap dengan erat.
Luka yang kelak akan didapat tidak terlalu berarti baginya, pemuda itu bisa dengan bebas menghapus perasaan dalam benak dan melupakan hal tersebut. Memikirkan hal seperti itu, Odo merasa seperti laki-laki terburuk yang pernah ada. Memanfaatkan perasaan gadis di dekapannya, menggunakannya dan kelak pasti akan meninggalkannya.
.
.
.
.
Waktu berlalu, mereka berdua duduk bersebelahan di pinggiran tempat tidur. Saling menyandarkan bahu dan menghadap ke arah jendela yang terbuka, tak ada perkataan di antara mereka dan hanya ada suasana hening yang diselingi keramaian dari luar.
Membaringkan kepala di atas pangkuan Odo, Vil memegang erat lutut pemuda itu dan bertanya, “Memangnya apa yang ingin kamu lakukan sampai-sampai memastikannya begitu, Odo? Apa ... hubungan kita, kepercayaan yang diriku berikan sekarang tidak cukup?”
“Ada banyak ....” Odo menghela napas ringan, mengelus kepala Vil dan berkata, “Tapi, yang paling penting soal orang yang menjadi awal semua masalah. Kemungkinan besar aku akan bertemu dengannya dan menyelesaikan semua masalah ini ....”
Vil sekilas kembali bingung, mengubah posisi berbaringnya dan melihat wajah pemuda rambut hitam tersebut. Mengulurkan tangan kanan dan menyentuh pipinya, Roh Agung itu bertanya, “Masalah yang mana memangnya? Kita ... punya banyak masalah .”
“Tentang wilayah ini,” jawab Odo. Sedikit menghela napas dan memegang erat tangan Vil yang menyentuh pipinya, ia berkata, “Yang secara tidak langsung membuat para bandit semakin banyak, membuat pertahanan wilayah Luke berkurang, kendala pangan dan lain-lain. Memang terdengar tidak masuk akal karena itu memang kesalahan Ayahku yang kurang bisa mengatur wilayahnya sendiri, tapi tetap saja orang itu yang menjadi awal penyebabnya.”
“Siapa?” Vil menatap bingung, menyipitkan mata dan merasa tidak mengerti pola pikir pemuda rambut hitam tersebut.
“Eng ....” Odo menatap balik Vil di pangkuannya, sedikit memiringkan kepala dan balik bertanya, “Apa kau ingat kalau Ayahku, Dart Luke, dulu meninggalkan wilayahnya dalam waktu lama? Setelah kematian Madis Luke, Kepala Keluarga Luke Terdahulu, Ayahku tidak kembali ke wilayahnya dan malah menyerahkan kepengurusannya pada keluarga Rein.”
“Hmm, diriku tahu itu.” Vil mengangguk, menurunkan tangannya dan kembali mengubah posisi kepalanya dengan menghadap ke arah jendela. Dengan suara pelan, ia berkata, “Mavis pernah bilang kalau waktu itu banyak yang terjadi dan Dart tidak bisa kembali ke wilayahnya dalam beberapa tahun. Tapi ..., bukannya itu tidak ada masalah? Wewenangnya sudah dikembalikan, bukan?”
“Justru itu masalahnya.” Odo membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, tetap membiarkan Vil menjadikan pahanya sebagai bantal. Mengulurkan tangan kanan ke langit-langit, ia menjelaskan, “Pengembalian wewenang tanpa persiapan matang membuat permasalahan. Mungkin ini terdengar aneh kalau bilang Ayahku itu tidak bisa memimpin wilayah, tapi mau tidak mau itu memang fakta. Waktu wilayah ini diurus paman Thomas para bandit tidak terlalu banyak, loh.”
“Kepala Keluarga Rein itu?” Vil bangun, segera mendekat ke kepala Odo dan duduk di sebelahnya. Mendekatkan wajah ke pemuda itu, Roh Agung tersebut bertanya, “Lalu ..., kenapa?”
“Entahlah ....” Odo menjatuhkan tangan ke kanan ke samping, menghela napas dan berkata, “Untuk orang seperti paman seharusnya sadar akan hal itu. Paman Thomas adalah ahli dalam hal mengatur pemerintahan, ia selama ini bisa menekan keegoisan para bangsawan dan menjaga kestabilan politik negeri ini. Seharusnya paman juga paham kalau kapabilitas Ayahku tidak cukup untuk mengatur wilayah Luke, Ayah sangat temperamental dan cenderung berpikir instan, sih.”
“Ah, benar juga.” Vil menjauhkan wajah, merapikan seprai dan membaringkan tubuh di sebelah pemuda itu. Sekilas mengingat-ingat sifat Dart, sembari melihat langit-langit ruangan Roh Agung itu berkata, “Dart temperamental dari dulu .... Tapi, kenapa Kepala Keluarga Rein itu tetap mengembalikan wewenangnya? Kenapa dia tidak mempersiapkannya dulu dengan matang? Tugas Keluarga Rein bukannya mengurus hal-hal seperti itu,’kan?”
“Eng ....” Odo menggerung, menyipitkan mata dan berkata, “Ini hanya spekulasiku, tapi sepertinya ada seseorang yang mendesaknya.”
“Mendesak Kepala Keluarga Rein itu?” Vil menoleh ke arah pemuda itu dengan heran, lalu bertanya, “Bukannya orang itu katanya sangat genius dalam perpolitikan? Memangnya siapa?”
“Entahlah ....” Odo balik menoleh, menatap datar dan mulai menjelaskan, “Dulu saat pertama kali melihat paman Thomas di halaman Mansion aku sempat berpikir kalau dia sendiri yang ingin mengacau di wilayah Luke. Tapi setelah melihatnya bicara dengan Ayah, aku tahu kalau kesetiaannya itu asli. Kembali mencari informasi, aku sempat bertemu dengan adik paman Thomas yang dikeluarkan dari jajaran keluarga Rein untuk menghindari konflik.”
“Adik?” Vil sedikit terkejut ada hal semacam itu. Bagi Roh Agung sepertinya, Vil bisa dikatakan cukup awam pada hal politik dan masalah keluarga bangsawan. Apa yang dirinya pahami semua keluarga bangsawan sama seperti keluarga Luke.
“Andreass Rein, dia Imam Pihak Religi kota ini,” ucap Odo. Kembali menatap langit-langit dan melipat kedua tangan ke belakang kepala, ia berkata, “Darinya aku mendapat beberapa informasi tambahan tentang keluarga Rein. Kemungkinan besar orang yang mendesak paman Thomas adalah orang dalamnya sendiri ....”
Vil menatap datar, merasa sedikit tidak peduli dengan hal semacam itu. Sampai sekarang sebenarnya ia sama sekali tidak mengerti kenapa para makhluk Mortal di Dunia Nyata sering berseteru dan menjatuhkan satu sama lain, para Roh di Dunia Astral sama sekali tidak melakukan hal seperti itu karena memang mereka berbagi kehidupan dan paham berasal dari alam.
“Jadi, apa kamu sudah tahu siapa orangnya?” tanya Vil
“Hmm, dia ada di dekat sini. Lebih tepatnya di bawah.”
“Eh? Di ... bawah?” Vil langsung bangun dan melongok ke bawah ranjang tempat mereka tidur. Tidak menemukan apa-apa, ia mengeluh, “Tidak ada, loh.”
“Hahah, ternyata kau bisa melawak juga.” Odo duduk, tersenyum ringan dan menunjuk ke bawah. Sembari memasang ekspresi serius, ia berkata, “Dia ada di kota ini, di lantai bawah penginapan ini. Biang keladi yang seenaknya melimpahkan masalah ke wilayah Luke untuk promosi gelarnya.”
Vil menatap heran, memiringkan kepala dan berkata, “Promosi? Apa di prajurit atau bangsawan?”
“Dia bangsawan dan sekarang masuk militer. Yah, tepatnya bukan dia yang secara langsung merencanakan semua itu, tapi ibunya .... Cinta seorang Ibu memang sangat luar biasa, bahkan dirinya mempersiapkan semuanya sebelum anaknya lahir. Huh, menakutkan sekali memang.”