
Matahari mulai terbit, sinarnya masuk melalui jendela dengan gorden cokelat yang dibuka. Meski telah berdiskusi hampir lima jam, sebuah kesepakatan atas semua rencana yang ada masih belum bisa diambil dan ada ketidakpuasan terlihat pada wajah beberapa orang. Mereka semua terlihat mengantuk, kecuali Vil. Meski begitu tidak ada satu pun dari mereka yang menurunkan tuntutan, terus memegang gagasan dan mempertahankannya dengan sanggahan-sanggahan.
“Kenapa juga perlu distrik prostitusi itu dikembangkan? Mereka hama! Kalau dikembangkan bukannya malah memperburuk kondisi kota?” ucap Iitla. Meski kantung matanya menghitam, pria berambut pirang sebahu itu tetap memasang wajah kesal penuh energi dan tegas berkata, “Kalau memang ada dana, lebih baik semuanya dialirkan ke militer! Bukannya kita ingin menjadikan kota ini benteng lini depan?”
“Tuan Odo menambahkan itu ke dalam rencana pasti ada alasannya,” ucap Aprilo. Ia ikut menatap Vil yang telah menyampaikan rincian kasar pengembangan Distrik Rumah Bordil, lalu dengan wajah sudah lemas pria eksekutif itu bertanya, “Yang lebih aneh, kenapa juga perlu memasukkan imigran gelap ke perusahaannya sendiri? Saya paham mereka lebih murah, tapi tetap saja para imigran gelap itu bahaya! Bisa-bisa mereka malah menghancurkan perusahaan Tuan Odo sendiri dan mengacaukan semua rencananya!”
Di ruangan tersebut hanya mereka yang benar-benar menyanggah dua komponen rencana tersebut. Vil tidak bisa menjelaskan, begitu pula Arca Rein. Mereka memang diberitahukan rincian rencana yang ada dan mendapat paket informasi tentang hal tersebut, namun pada dua komponen itu memang dilihat dari sudut manapun memang mengandung lebih banyak risiko daripada keuntungan.
“Maaf, diriku juga kurang tahu,” ucap Vil seraya meletakkan kertas perkamen ke atas tumpukan dokumen. Ia menatap ke arah Iitla dan Aprilo secara bergantian, lalu dengan tatapan datar kembali berkata, “Ini rencana yang Odo buat, pasti ada alasan yang jelas.”
“Memangnya untuk apa mengembangkan prostitusi?! Mereka hama!!” tegas Iitla. Suara itu sangat keras melenting di ruangan, bahkan orang-orang di barak yang sudah bangun dan berada di luar ruangan sampai tersentak saat mendengar suara lantang tersebut.
“Tch!”
Odo membuka matanya, memasang wajah kesal dan keningnya mengerut sampai kedua alisnya hampir menyatu ke tengah. Segera menurunkan kaki ke lantai dan duduk, ia menatap lurus ke arah tiga orang yang duduk di sofa. Pemuda rambut hitam itu dengan suasa serak menegur, “Berisik sekali kalian ....”
Mereka yang ada di dalam ruangan tersebut seketika terdiam saat mengetahui Odo sedang dalam suasana hati buruk. Namun dalam suasana senyap tersebut, tiba-tiba cahaya yang mengisi tempat tersebut memadat menjadi partikel-partikel yang lalu mulai melayang ke atas kepala Odo dan membentuk sebuah halo di atas kepalanya.
Semua orang terkejut dan sekilas persepsi mereka menangkap kalau halo itu mirip seperti milik malaikat, sebuah simbol dari ilahi dari para pelayan Dewa. Sebelum ada orang yang bertanya, Odo memegang halo tersebut dan langsung membantingnya ke lantai sampai pecah.
Crang!
Itu hancur seperti kaca, lalu berubah kembali menjadi partikel cahaya dan terurai sampai tak terlihat. Mereka yang melihat itu hanya membatu, benar-benar tidak mengerti kenapa bisa sebuah halo yang dimiliki malaikat bisa muncul di atas kepala pemuda itu dengan mudahnya.
“Akh ....” Odo menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menundukkan kepala dan bergumam, “Naga sialan itu benar-benar mengambilnya lagi. Yang benar saja, bisa-bisa kemanusiaanku habis kalau dia mengambilnya terus seperti ini. Waktu itu sifat Angkuh, sekarang dia juga mengambil Ketamakan ....”
Gumam itu didengar oleh semua orang di dalam ruangan, namun tidak satu pun dari mereka yang paham apa yang sedang pemuda itu bicarakan. Vil sedikit cemas, perempuan rambut biru itu mengulurkan tangan kanannya ke arah pemuda itu dan hendak menyentuh keningnya.
“Odo, kamu baik-baik saja?”
“Hmm.” Pemuda itu mengangguk, meraih tangan perempuan rambut biru itu yang sampai naik ke atas meja karena saking cemasnya. Berhenti menutup wajah, Odo memasang senyum tipis yang terkesan hampa dan berkata, “Aku baik-baik saja .... Sepertinya kalian langsung memulainya tanpa aku, ya?”
Odo melepaskan tangan Roh Agung tersebut, membiarkannya kembali duduk. Seraya mengangguk Vil berkata, “Minda dan Imania kembali ke Mansion, jadi kemungkinan besar kita tidak punya banyak waktu.”
“Aku paham ....” Odo menatap ke arah Aprilo dan mengamati, lalu segera menoleh ke belakang dan menyandarkan punggung ke sofa untuk melihat Iitla yang berdiri di belakang sofanya. Kembali melihat ke depan dan menatap ke arah dokumen yang ada di atas meja, pemuda rambut hitam itu segera paham sampai mana pembicaraan berlangsung.
Sembari mengangguk ringan, pemuda telanjang dada itu berkata, “Kendala pada bagian Distrik Rumah Bordil dan pemasukan imigran gelap ke dalam SDM yang akan kuolah, ya?”
Sentak semua orang terkejut karena pemuda rambut hitam itu bisa langsung memahami situasi yang ada, kecuali Vil yang hanya memasang ekspresi datar. Arca menatap tajam pemuda yang baru saja bangun itu, lalu dengan volume ditinggikan ia bertanya, “Kau! Bisa tahu hanya dengan melihat ruangan ini, Odo?!”
“Tak usah teriak, semua indraku sedang sensitif.”
Odo memegang kepala dengan tangan kenan, segera melihat ke arah Arca dan mengangguk ringan untuk meminta pemuda dari keluarga Rein itu mengambilkan perkamen berisi data soal topik pembicaraan yang belum selesai. Menerima perkamen dari Arca dengan tangan kiri, pemuda rambut hitam itu sedikit geser dan berkata, “Tuan Iitla, duduklah.”
“Eh?” Sekilas Kepala Prajurit itu bingung, namun pada akhirnya ia berjalan ke depan sofa dan duduk di sebelah Odo.
Pemuda rambut hitam itu sesaat terdiam, melihat perkamen yang dirinya terima dari Arca tadi. Iitla yang penasaran ikut mengintip apa yang sedang dilihat pemuda itu, seketika ia langsung terkejut saat tahu kalau kertas yang dipegang Odo hanya berisikan satu larik kalimat dan itu pun berisikan kata-kata yang terlihat sangat acak.
“Kenapa ... datanya cuma itu?” tanya Iitla.
“Ini kode,” jawab Odo seraya meletakkan kertas perkamen tersebut ke atas meja.
Aprilo yang melihat itu pun sempat terkejut karena data yang ada dalam kertas perkamen itu hanya terdapat satu baris kalimat, mulai bingung dari mana Arca dan Vil menjelaskan rincian rencana yang ada soal pengembangan Distrik Rumah Bordil dan pemasukan imigran gelap untuk SDM. Eksekutif itu mulai mengira-ngira kalau Vil dan Arca mengada-ada soal isi rencana dengan mengatasnamakan Odo Luke.
Saat Aprilo hendak menanyakan hal tersebut, Odo telah menatapnya terlebih dulu dan berkata, “Mereka tidak membual, itu rencanaku.”
“A—!” Aprilo sedikit menganga dan mengira kalau Odo juga bisa menggunakan sihir pembaca pikiran sama seperti Butler pribadinya, Igra Meio.
Tidak memedulikan ekspresi itu, Odo kembali memasang ekspresi datar dan menundukkan kepala. Ia sejak memikirkan sesuatu, lalu menghela napas dan kembali mengangkat wajahnya. Dengan nada lemas ia bertanya, “Jadi, apa yang membuat Tuan Iitla dan Tuan Aprilo tidak puas dengan rencanaku? Mari kita bicarakan dan cari titik tengahnya.”
Kedua pria yang disebut itu sedikit tersentak, napas mereka sesaat terasa sesak dan cemas karena anak muda itu benar-benar bisa membaca suasana dan alur yang ada meski baru saja bangun.
Iitla menoleh ke arah Odo di sebelahnya, lalu dengan jelas bertanya, “Memangnya untuk apa pengembanan Distrik Rumah Bordil? Di sana pusat pelacuran, aib dan kebejatan! Kami dan Pihak Religi dari dulu ingin membersihkan tempat itu karena menjadi pusat kriminal, tapi kenapa malah Anda ingin mengembangkannya?” Iitla mengerutkan keningnya, menatap tajam dan sekali lagi menegaskan, “Lebih baik gunakan saja dana untuk kekuatan militer! Anda ingin membangun kota ini sebagai benteng lini depan, bukan?”
Odo menyandarkan tubuhnya pada sofa, sedikit mendongak dan memasang ekspresi datar. Ia menatap Kepala Prajurit itu, lalu dengan nada lemas berkata, “Aku memang ingin membangun kota ini sebagai lini depan wilayah Luke. Tapi ... tempat itu sangat penting, aku membutuhkannya.”
“Untuk apa?”
“Perbaikan moral dan peningkatan mental.”
Jawaban tersebut tidak dipahami oleh siapa pun yang ada di ruangan tersebut, bahkan Vil sekalipun. Sedikit merasa heran pada kalimat yang seakan kontradiksi tersebut, sebagai Wakil Walikota, Wiskel Porka dari belakang meja kerja bertanya, “Kenapa tempat prostitusi bisa mengarah ke perbaikan moral? Bukannya malah itu merusak moral dengan kebejatan?”
Odo melirik pria tua tersebut, lalu balik bertanya, “Apa kau tidak menganggap orang-orang yang tinggal di sana sebagai penduduk kota Mylta ini?”
Itu membuat Wiskel tersentak, suara seakan tidak bisa keluar dan dirinya merasa bersalah sebagai seorang pemimpin karena kalimat fakta tersebut. Pria tua itu hanya menundukkan wajah dan dengan pelan berkata, “Maafkan aku .... Itu Benar juga .... Meski mereka seperti itu, orang-orang yang tinggal di Distrik Rumah Bordil tetap penduduk kota dan ada banyak orang di sana yang memiliki tanda penduduk kerajaan Felixia.”
Lisia sempat terkejut saat Wiskel menundukkan wajah seperti itu dan mengakui kesalahan seperti itu. Perempuan rambut merah yang duduk di sebelah Vil tersebut menatap ke arah Odo, lalu dengan penasaran bertanya, “Memang apa hubungannya perbaikan moral dengan Distrik Pelacuran itu?”
“Ma-Maaf ....” Perempuan rambut merah itu menundukkan wajahnya.
Menghela napas dan menatap ke arah Iitla, Odo dengan jelas berkata, “Tadi Tuan Iitla yang paling membantah bagian rencana ini, bukan? Kalau begitu akan kujelaskan.”
“Hmm!” Kepala Prajurit itu mengangguk dengan sedikit kesal, lalu dengan nada menantang berkata, “Coba jelaskan alasannya!”
Odo berhenti menatapnya, menghadapkan kepala ke depan dan menunduk. Dengan suasa sedikit serak ia menjelaskan, “Alasannya sangat sederhana, tempat itu sangat diperlukan untuk keperluan para pria di kota ini. Tidak ada alasan lebih, apa yang ingin kulakukan hanyalah untuk sebuah pembenahan dan perbaikan moral.”
Iitla terlihat bingung mendengar itu, begitu pula yang lainnya. Mereka tidak terlalu paham apa yang sebenarnya ingin Odo sampaikan. Sekilas mengira-ngira, Arca menyadari sesuatu dan ikut dalam pembicaraan, “Perbaikan seperti apa? Memangnya apa yang dibutuhkan para pria dari tempat itu?”
“Ah ....” Odo menghela napas ringan dan mengangkat wajah, melihat memindah orang-orang yang ada di ruangan dan merasa heran melihat ekspresi bingung para pria di tempat tersebut karena tidak ada satu pun yang paham kalimat implisit yang dilontarkannya tersebut. Menatap ke arah Iitla, Odo memilih untuk terus terang dan berkata, “Tuan Iiltla juga sering datang ke tempat tersebut, bukan?”
“A—?!”
Iitla seketika terkejut. Lisia langsung melihat ke arah pamannya tersebut dan memberikan tatapan sedikit jijik. Kepala Prajurit itu ingin membantah hal tersebut dan membersihkan nama baiknya, namun ia langsung terhenti sebelum bicara karena paham Odo pasti akan langsung membongkar kebohongannya. Pria rambut pirang sebahu itu hanya bisa memalingkan wajahnya, tidak menjawab sebagai tanda dirinya mengakui hal tersebut.
“Tak usah malu, aku juga pernah datang ke tempat itu.”
“Eh!!?” Lisia terkejut dan pindah menatap ke arah Odo. Para pedagang, Wakil Walikota, dan Arca pun ikut terkejut karena hal tersebut. Mereka tidak mengira hal itu dan menatap dengan ekspresi tidak percaya.
Iitla dengan gugup bertanya, “A-Apa Tuan Odo sudah main yang begituan? Padahal masih ... anak-anak?”
“Eng?” Odo pura-pura polos dan hanya memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Dengan nada heran ia balik bertanya, “Main apa?”
“Ti-Tidak apa .... Memangnya Anda datang ke tempat itu untuk apa?” tanya Iitla.
“Oh ....” Odo mengangguk ringan, menghela napas dan menjawab, “Aku ke sana mencari informasi dan meninjau kondisi. Kalian tahu, percobaan pembunuhanku oleh orang-orang Moloia bisa terjadi sebenarnya karena kondisi distrik itu yang kurang kondusif dan kurang pengawasan. Tempat itu memberikan efek buruk pada para pelayan.”
Lisia, Iitla, dan Wiskel tersentak mendengar itu. Pihak Pemerintah Kota Mylta semakin memperlihatkan ekspresi menolak komponen rencana itu, benar-benar menunjukkan ekspresi sepakat kalau mereka mengambil keputusan membantah.
Odo sekilas menyipitkan mata saat mengamati mereka, lalu dengan nada tegas kembali menjelaskan, “Asal kalian tahu, kalau perang terjadi, lini depan adalah pelabuhan tempat para pelacur itu tinggal. Kita bisa mengusir para pelacur itu, tapi kelak mereka pasti akan menusuk dari belakang kalau menggunakan cara itu. Daripada menambah musuh kenapa tidak jadikan mereka rekan?”
“Rekan?” Iitla menatap tajam, tanpa mempertimbangkan beberapa hal ia dengan nada menghakimi berkata, “Memangnya bisa apa para wanita lemah itu?!”
Odo merasa kesal saat mendengar kalimat diskriminasi gender itu keluar dari mulut Iitla. Ia paham kalau konsep perempuan adalah wujud kelemahan dan kerusakan memang sudah tertanam dalam ranah militer, terutama untuk Felixia. Pelacur adalah sebuah sosok yang membuat para ksatria dan pahlawan hancur, itu sudah menjadi nilai dan moral dasar mayoritas masyarakat.
“Perempuan lemah, ya?” Odo sedikit tersenyum tipis dengan ekspresi kesal.
“Ya!”
“Kau tahu, Tuan Iitla. Kerajaan Felixia ini Matrilineal, loh. Kekuasaan dan garis bangsawan tertinggi bersumber dari keturunan Ratu, dengan kata lain perempuan.”
Iitla tersentak, begitu pula Lisia dan Wiskel. Mereka memang tahu hal tersebut namun semumur hidup mereka tidak pernah menggunakan hal itu sebagai dasar pola pikir mereka. Iitla terdiam karena tidak menemukan kalimat yang sesuai untuk menyanggah, namun tetap saja wajahnya tidak menunjukkan rasa puas atas hal tersebut.
Odo memerhatikan itu dengan sangat jelas dan menatap Kepala Prajurit tersebut dengan senyuman tipis di wajah. Sembari memegang pundak Iitla, pemuda rambut hitam itu berkata, “Tuan Iitla sampai detik ini belum menikah, ‘kan?”
“Hah?”
Pertanyaan itu membuat setiap orang yang mendengarnya terheran, terutama Iitla sendiri. Kepala Prajurit itu mengangkat alis kirinya, menatap bingung dan bertanya, “Memangnya kenapa? Aku terlalu sibuk menjadi Kepala Prajurit di kota ini ....”
Odo mengangkat tangannya dari pundak Iitla, berhenti tersenyum dan dengan jelas berkata, “Laki-laki itu lemah, pria itu sangat lemah dan mudah bimbang. Sekuat dan sesempurna apapun mereka di masyarakat, mereka tidak akan bisa berdiri sendiri. Karena itulah perempuan dibutuhkan.”
“Apa ... maksudmu, Tuan Odo?” tanya Iitla bingung.
“Anda datang ke sana untuk menghibur diri, bukan? Meski Tuan Iitla memiliki reputasi dan banyak yang loyal, mayoritas mereka adalah pria .... Anda datang ke tempat itu hanya untuk menghilangkan kesepian, bukan?”
Wajah Iitla seketika memerah, lalu dengan panik berkata, “A-A-Apa yang kau bicarakan, Tuan Odo?! Mana mungkin aku selemah itu! Siapa yang kesepian!”
Odo memasang wajah cemberut, keningnya kembali mengerut dan ia bertanya, “Jujur aku heran, para pria di ruangan ini kebanyakan sudah datang ke tempat itu dan bersenang-senang di sana, bukan? Kenapa kalian malah ingin menghancurkannya? Ingin menghapus sejarah gelap kalian, ya?”
“““!!!”””
Hampir semua laki-laki di ruangan yang mendengar kalimat tersebut bereaksi, mereka memalingkan pandangan dan mulai berkeringat dingin. Arca yang melihat reaksi itu sampai mengerutkan kening, dalam benak anak sulung keluarga Rein itu tidak ingin menjadi seperti mereka yang suka bersenang-senang dengan wanita dan bermain-main dengan dunia pelacuran.
Sembari menundukkan wajah dan tidak menatap siapa pun, Odo kembali berkata, “Tuan Iitla sering datang ke tempat itu secara berkala saat sedang senggang .... Tuan Aprilo, Tuan Wicead, Tuan Joe, padahal kalian sudah punya istri tapi juga pernah main ke tempat seperti itu. Apa kalian punya wanita simpanan dan menjadi serakah karena dapat uang banyak?”
Orang-orang yang disebut Odo itu langsung terdiam, tidak bisa berkomentar karena rahasia mereka benar-benar dipegang oleh pemuda rambut hitam itu. Butler Pribadi sang Eksekutif mendekat ke tuannya, memegang pundaknya dan dengan tatapan tajam bertanya, “Nanti tolong jelaskan itu padaku, Tuan Aprilo. Tenang saja, diriku tidak akan melaporkannya pada Nyonya tergantung jawaban Anda ....”
Eksekutif itu seketika pucat, hanya bisa gemetar dan memalingkan pandangannya dengan penuh rasa bersalah. Melihat Odo dengan mudahnya mendesak semua orang-orang keras kepala dari serikat dagang tersebut, Arca dengan penasaran bertanya, “Dari mana kau tahu itu, Odo? Aku tidak mengira kau bisa dapat informasi seperti itu ....”
“Aku bertanya langsung dan mereka memberikan informasinya,” jawab Odo.
“Tidak mungkin! Mereka terkenal rapat soal informasi pelanggan kelas atas!” ucap Iitla langsung. “A—!” Ia seketika tersentak dan sadar telah menggali kuburannya sendiri, tambah mendapat tatapan jijik dari Lisia.