
“Siapa kau?! Apa kau wujud tengkorak sialan itu?!”
“Kau bisa menyebutku seperti itu. Diriku adalah dunia tempatmu berpijak sekarang, udara, cahaya, kegelapan, lalu ....”
Tubuh Magda diambil alih dan ia berhenti bertingkah seperti anak-anak. Mendorong Laura sampai terjatuh, Elf bermata biru itu berkata, “Diriku juga adalah rekanmu ini.”
“A—!” Saat Laura hendak bangun dan membentak, tubuhnya diambil alih dan malah berkata, “Atau aku juga adalah dirimu sendiri ....” Kontrol tubuhnya kembali dengan cepat, begitu pula Magda yang kembali bertingkah seperti anak kecil dan mulai mengemut jempolnya sendiri.
Segera bangun dan mencari ke sekeliling dengan wajah pucat, tubuhnya Laura tak bisa berhenti gemetar. Apa yang dirasakannya begitu nyata seakan memang dari awal tubuhnya bukanlah miliknya sendiri. Tidak ada aktivasi sihir atau semacamnya, apa yang terjadi sebelumnya benar-benar bagaikan merasuk sepenuhnya sampai ke dalam benak. Beberapa informasi juga menjalar masuk ke dalam kepala, membuatnya sedikit pusing dan pandangan memudar.
Dengan frustrasi Laura bertanya, “Apa yang kau inginkan? Apa kau benar-benar pemuda bernama Odo Luke itu?!”
Magda kembali diambil alih, gerakan tubuhnya sesaat terhenti dan perlahan mulai menoleh ke arah Laura. Dengan tatapan tajam ia bertanya, “Kau bisa menyebutku seperti, bisa juga tidak. Batas identitasku sudah tidak penting lagi .... Aku bisa menjadi dirinya, perempuan ini atau bahkan dirimu.”
Mayat Notmarina yang terkapar di lantai mulai bergerak kembali. Ia duduk menghadapkan tubuhnya ke arah Laura dan berkata, “Ya, itu tak penting lagi. Apa yang penting sekarang ....”
Tubuh milik Ul’ma mulai bangkit, ia duduk dengan kaku dan menatap ke arah Laura. Dengan tangan masih meneteskan darah segar dan suara yang terdengar serak karena serpihan tulang menancap pada leher, ia berkata, “Kau membuatku marah. Kau menyerang kota tempatku berada dan berniat menghancurkannya.”
Semua tubuh yang diambil alih tersebut tiba-tiba terbaring ke lantai tanpa terkecuali. Magda yang ikut terbaring tiba-tiba mencekik lehernya sendiri dengan kencang, lalu dengan suara terakhirnya berkata, “Ini bayaran yang harus kau tanggung ....” Lehernya patah, tangannya langsung lemas dan matanya terbuka lebar dalam kematian.
Melihat itu, Laura melangkah mundur dan menutup kedua telinganya rapat-rapat. Mulai berlutut dan meringkuk, berharap dirinya juga ikut gila dan mengakhiri mimpi buruk sekarang juga. Namun, seakan suara tersebut berbicara langsung ke dalam kepalanya, perkataan keluar dari mulut Laura sendiri.
“Kau paham, semua ini adalah hasil dari keputusanmu. Meski tahu misi yang kalian terima hanya akan membunuh semua rekanmu, engkau sama sekali tidak menolaknya. Kalian dengan entengnya ingin membunuh orang-orang di kotaku.”
Laura terdiam sesaat, ia berhenti menutup kedua telinga dan mengangkat wajahnya. Mengumpulkan keberanian dan tak terima akan perkataan yang seakan menganggap kematian rekan-rekannya menjadi tak berarti, ia dengan lantang berkata, “Aku menyelesaikan ini dengan caraku sendiri! Mereka tak mati sia-sia! Diriku bertindak demi keadilan dan kebenaran yang kuyakini! Makhluk rendahan sepertimu jangan sok bicara seakan paham segalanya!”
“Huh ....” Suara menggelam dan menertawakan Laura, lalu dengan jelas berkata, “Hasil dari apa yang kau percayai adalah ini! Lihat apa yang ada di hadapanmu sekarang, terimalah kenyataan bahwa pemikiran seperti itu takkan bisa mencapai apa-apa! Kutanya engkau, apa sejauh ini salah satu keadilanmu telah ditegakkan? Apakah engkau telah mencapai kebenaran yang kau harapkan? Tentu tidak, bukan?! Semua yang engkau lakukan hanyalah menghancurkan apa yang tidak diperlukan! Membunuh, membunuh, membunuh, dan membunuh! Entah itu musuh atau kawan, semuanya yang menghalangi pasti akan kau bunuh tanpa ragu selama itu perintah!”
“Kau ....” Larua berdiri tegak, memasang ekspresi murka yang amat gelap dan mengumpat, “Dasar bajingan! Apa-apaan kau ini! Memangnya aku peduli dengan orang lain! Asal aku dan rekan terdekatku baik-baik saja, itu sudah cukup! Membunuh kawan? Hah! Memangnya aku peduli dengan para manusia itu! Apanya yang kerajaan?! Apanya yang tanah air?! Semua sampah! Busuk! Lebih baik dari kandang ternak—!!”
Tubuh Laura tiba-tiba meledak dari dalam, inti sihirnya aktif dengan sendirinya dan membuat Mana dalam dirinya bereaksi. Dunia yang tak mengizinkan keberadaan sebuah Mana itu langsung membuatnya hancur dari dalam, berserakan seperti mercon kertas yang diledakkan. Dagingnya berceceran bersama darah, hancur terpencar sampai tak berbentuk.
Detak jantung terdengar kencang, suara jarum jam yang bergerak kembali terdengar jelas dan menggema ke penjuru tempat. Saat kesadaran keempat Prajurit Peri itu kembali, mereka terbangun di atas lantai putih yang memancarkan cahaya. Membuka mata dan tersadar, mereka langsung paham telah kembali ke awal.
Dengan ingatan dan pikiran setelah mereka mati untuk kedua kalinya, keempat Prajurit Peri tersebut memiliki cara pandang masing-masing yang sama sekali tidak selaras. Dengan segera mereka bangun, saling menjauh dan mengawasi. Saling berprasangka, penuh keraguan dan sama sekali tidak terpancar rasa percaya pada tatapan mereka. Situasi yang ada membuat waktu yang telah mereka berempat lalui bersama selama puluhan sampai ratusan tahun menjadi tak berarti.
Meski setelah kedua kalinya mereka tahu bahwa kematian di dunia kabut bukanlah sebuah akhir, namun rasa sakit dan ketakutan saat kehidupan berakhir sangatlah membekas dalam benak. Itu semakin kuat untuk kedua kalinya, tertanam dalam di benak mereka dan memberikan rasa takut luar biasa.
Ada berbagai jenis penyebab rasa takut, namun yang paling sering dirasakan oleh makhluk hidup adalah rasa takut pada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Tidak bisa memahami esensi, alasan, tujuan, dan cara mengakhirinya, semua itu membuat kematian di dunia kabut tersebut begitu menakutkan bagi mereka.
Di tengah tekanan yang ada, kali ini yang pertama kali kehilangan akal sehatnya adalah Laura. Ia merentangkan kedua tangan dan mulai lepas tertawa, “Hahahahhahah! Uwahahaha!”
Itu terdengar begitu mengerikan, penuh kegilaan dan membuat ketiga Prajurit Peri lain ikut tertekan. Ul’ma yang tidak bisa menahan amarahnya langsung berlari ke arah Letnan tersebut, lalu menghajar wajahnya sampai terjatuh ke lantai.
“Bangsat! Sialan kau! Jangan malah tertawa, dasar jalang!!”
“Uwahahha!!!”
Laura tetap terbahak dalam kegilaan. Ul’ma semakin tersulut amarahnya, ia menaiki tubuh Laura dan mulai mendaratkan beberapa kali pukulan ke wajahnya. Beberapa gigi rontok, hidung patah, pelipis terkoyak, dan matanya memar. Meski begitu, ia tetap tak berhenti menghajar Laura dan mulai menikmatinya. Seringai layaknya orang gila mulai nampak pada wajah Ul’ma, terus mengayunkan tangannya yang berlumur darah.
“Hentikan! Ul’ma!” Notmarina yang tidak tahan melihat rekannya berkelahi langsung menjambak rambut Ul’ma, menyeretnya di lantai dan memisah mereka sembari berkata, “Bisa-bisa dia mati kalau diteruskan!”
“Memangnya aku peduli!”
Ul’ma menyikut wajah Notmarina sampai terjatuh ke tanah dan hidungnya berdarah. Sasaran Ul’ma beralih ke arah High Elf rambut hijau pucat tersebut. Ia kembali mengepalkan tangannya, lalu menghajar Notmarina habis-habisan. Apa yang diserang Ul’ma pertama kali adalah kedua mata, merebut penglihatan perempuan yang ditindihinya dan langsung memberikan pukulan ke bagian-bagian vital di wajah. Perempuan rambut hijau tersebut ingin melawan, namun penglihatan yang direngut membuatnya hanya bisa melindungi wajahnya dengan kedua lengan.
Sebelum Notmarina kesehilangan kesadaran, dari belakang Magda mencekik Ul’ma dengan lengannya dan mematahkan leher perempuan itu. Cahaya pada sorot mata Ul’ma seketika hilang, tubuhnya ambruk ke depan dengan kedua mata terbuka lebar.
“Uhahahah!!” Dalam tawa tersebut, Laura langsung menusukkan jarinya ke dalam mata kiri Magda dan mencongkelnya keluar.
“AKH!!”
Tak membiarkan Magda melawan balik, Laura membungkam mulutnya, lalu mengunci tubuhnya dengan kedua kaki dan tangan. Notmarina bangun dan hendak menolong, ia mengepalkan tangan dan mengayunkan tinju ke arahnya. Namun saat Laura menggunakan tubuh Magda sebagai tameng, Notmarina menghentikan pukulan. Sebelum ia memikirkan cara lain untuk menolong, Laura segera menajamkan kuku tangannya dan menggorok leher Magda.
Darah muncrat ke depan, membasahi tubuh Notmarina dan menjatuhkannya ke dalam amarah. Kehilangan pemikiran rasional, Notmarina berteriak lantang, “Uwaaahh!” Ia langsung menendang Magda bersama Laura sekaligus sampai mereka jatuh.
Tanpa membiarkan Laura berdiri, ia segera mendekat dan menginjak tangan kiri Letnannya tersebut sampai jemarinya patah. Menendang wajahnya sampai beberapa giginya rontok, Notmarina menindihi Laura dengan emosi yang meluap-luap dan mulai mendaratkan pukulan bertubi-tubi. Tetapi sebelum ia memukul wajahnya untuk keenam kali, Laura menajamkan kuku jemari tangan kirinya dan langsung mengoyak leher Notmarina.
Dalam ekspresi bingung, kesadaran Notmarina mulai pudar dan darah muncrat keluar dari lehernya. Tubuhnya ambruk ke depan, langsung kejang-kejang tanpa bisa langsung mati. Dengan pandangan yang semakin pudar, Notmarina berkata, “Apa-apaan ini .... Kenapa—”
Mereka kembali ke awal, dimana semua keempat Prajurit Peri tersebut terbangun di dunia penuh kabut tersebut. Dalam hitungan detik, Notmarina kehilangan akal sehatnya dan mengamuk. Lalu, sebuah ajang saling bunuh kembali terjadi di antara mereka.
Untuk keempat kalinya, delapan kalinya, belasan, puluhan dan bahkan sampai ratusan. Mereka terus merasakan kematian, saling membunuh rekan dan menggila. Setiap kali mati, semua apa yang mereka dapat akan direset dan kembali hidup. Namun ingatan sebelum mereka mati tertanam jelas tanpa sedikit pun berkurang, membuat mereka dengan cepat gila setelah kembali terbangun.
Dalam ratusan pengulangan tersebut, mereka sesekali mendengar suara yang seakan dari sosok yang membawa mereka ke dunia itu. Namun, tidak satu kali pun mereka melihat wujud sosok tersebut. Suara tersebut memprovokasi saat keempat Prajurit Peri itu akan bersatu, merusak hubungan mereka dan membuat ajang saling bunuh terus berlanjut.
««»»
Angin dingin berhembus dari arah laut, langit mulai menggelap dan pintu malam telah terbuka lebar sebagai penghujung hari. Awan yang merajai langit tak kunjung pudar, membuat perpindahan sore ke malam menjadi momen tergelap di hari tersebut. Gemuruh sesekali terdengar, kilatan petir beberapa kali terlihat dalam awan kelabu, membuat suasana terasa menakutkan bagi mereka yang telah melihat kemunculan sang tengkorak raksasa di langit.
Jauh di luar kota Mylta, seorang perempuan yang mengenakan jubah kamuflase melepas tudungnya. Rambut ungu lurusnya yang terangkap dalam satu ikatan terurai ke dada dengan halus. Ia sejenak tersenyum kecil, merasa terpuaskan setelah melihat salah satu titik singularitas yang akan mengubah dunia dan mengantarnya semakin dekat dengan Awal Permulaan, Akar Dunia.
Menatap ke langit dan memastikan bahwa para Prajurit Peri telah benar-benar lenyap dari dunia, sosok yang meminjam tubuh Tuan Putri Ulla Vrog Ma’tar tersebut mulai merentangkan kedua tangannya. Di tengah jalan becek penuh genangan lumpur, ia melangkah dan mulai menari-nari. Itu bagaikan seorang penguasa tirani yang menginjak-injak genangan darah, hak, harapan, masa depan, kehidupan dan impian pasukannya. Wujud dari sosok penguasa yang hanya fokus pada apa yang dituju tanpa menghargai nyawa orang lain.
“Betapa indahnya momen ini~ Betapa membahagiakannya hari ini~ Oh, putriku~ Engkau memberi ibumu ini hadiah terbaik yang tak pernah diriku pikirkan. Tak hanya membiarkanku mengambil alih tubuhmu, engkau juga memberi diriku ini sebuah kesempatan untuk melihat secara langsung unsur pengubah dunia seperti itu!”
Ia berhenti menari-nari di atas genangan air, menghadap ke arah kota dan mengulurkan kedua tangannya ke langit. Dalam senyuman lebar penuh kepuasan, ia tanpa ragu berkata, “Oh, Laura .... Purwarupa yang malang, pengorbananmu takkan diriku ini lupakan. Dari awal sampai akhir, engkau adalah komponen yang amat berharga.” Perempuan itu meletakkan kedua telapak tangan ke dada, mulai menetaskan air mata dan kembali berkata, “Namamu akan diriku kenang dalam benak ini. Sungguh, satu-satunya makhluk yang bisa disebut taman memang adalah engkau.”
Rasa sedih tersebut dengan cepat terhapus dari dirinya. Senyuman lebar kembali nampak pada wajah, lalu dengan girang kembali menari-nari di atas genangan air dan mulai berjalan menjauh dari kota. Sembari melangkahkan kakinya dengan gembira, ia bergumam, “Hmm, sebaiknya memang diriku harus segera kembali ke kapal dan pergi ke Moloia. Diriku ingin mengumpulkan lebih banyak sampel lagi, diriku ingin tahu esensi semacam apa sosok pembawa perubahan itu!”
“Kenapa kau tidak tanya pada orangnya langsung, dasar sundal sialan!”
Suara yang bersal dari langit membuat langkah kaki perempuan rambut ungu tersebut terhenti, berbalik dan mendongak ke atas dengan bingung. Itu suara yang terasa asing. Ia benar-benar pertama kalinya mendengar suara tersebut, namun anehnya ia merasa sedikit rasa nostalgia dan rasa rindu di benak saat mendengarnya.
Dalam kebingungan, hujan merah tiba-tiba turun hanya di sekitar perempuan itu dan membuatnya basah dalam warna merah. Putri Ulla sekilas terdiam, mencium air hujan merah tersebut dan berkata, “Ini .... Bukan darah? Diriku rasa bukan juga pewarna .... Apa mikroba?” Hujan tersebut berhenti dengan cepat, namun sebagai gantinya—
Petir biru tiba-tiba menyabar dari langit, turun tepat di hadapan perempuan rambut ungu tersebut. Asap dari air yang menguap sekilas menghalangi pandangan, aura yang terasa begitu kuat seketika membuat dirinya gemetar tak karuan.
Setiap makhluk hidup memiliki insting untuk bertahan hidup. Ketika mereka bertemu dengan sosok yang jauh lebih kuat dari mereka, setiap makhluk hidup memiliki tiga kecenderungan yang sama.
Ada yang memilih kabur layaknya seekor mangsa yang bertemu pemangsa, ada juga yang memilih melawan meski pada akhirnya akan percuma. Namun, Putri Ulla bukanlah hewan tak berakal yang akan lari atau melawan saat melihat sosok yang lebih kuat darinya.
Tanpa dirinya sendiri pahami secara penuh, dengan wajah terkesima ia mulai berlutut dan bersujud kepada sosok tersebut. Meski belum melihatnya secara penuh, tanpa memikirkan tempat yang kotor, ia tetap bersujud dan menempelkan wajahnya ke lumpur.
Asap dari genangan air yang menguap mulai menghilang, memperlihatkan sosok pemuda dengan gestur tubuh seorang penguasa. Ia hanya mengenakan celana hitam yang robek dan pada bagian bawahnya sedikit ada bekas terbakar, tanpa baju, pernik logam mulia, atau bahkan alasa kaki. Meski begitu, ia sama sekali tidak mencerminkan kasta rendah.
Tubuh sempurna dengan otot yang begitu kuat dan terbentuk rapi dari atas sampai bawah, rambut hitam bagaikan malam dan sorot mata biru yang seakan menyala dalam kegelapan. Kilatan petir sesekali terlihat sekitarnya, membuat cahaya pada jalan di antara hutan yang semakin gelap.
Perempuan rambut ungu tersebut mengangkat wajahnya, terkesima pada representasi dari makhluk tingkat tinggi tersebut. Ia mengulurkan kedua tangannya dengan penuh rasa rindu yang terasa aneh di benaknya sendiri, lalu mulai tersenyum dan meneteskan air mata pada waktu yang bersamaan. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun begitu kaku dan suara tak bisa keluar.
Odo Luke hanya menatap datar, ia mengerti unsur apa yang membentuk jiwa perempuan di hadapannya tersebut. Saat Odo mengirim para Prajurit Peri ke Realm yang diciptakannya, pemuda rambut hitam itu sempat membaca beberapa ingatan terbaru mereka. Karena hal tersebut, ia bisa dengan mudah menemukan lokasi dalangnya dengan cepat.
Pemuda itu melangkah, menginjakkan kakinya di atas tanah becek dan menatap tajam ke arah sang perempuan. Setiap kali melangkah, kadar air dalam jarak setengah meter langsung menguap dan membuat tekanan udara di sekitarnya berubah. Menunjuk ke arah perempuan tersebut, Odo berkata, “Sudah kuduga, orang yang memerintah mereka adalah makhluk sepertimu. Lagi-lagi salinan cacat orang itu ....”