Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 31: The Girl’s Reason and Path for He (Part 02)



Membuka mata dengan berat, Fiola mulai duduk di atas ranjang sembari mengusap matanya yang  masih mengantuk. Ia langsung terkejut karena Odo tidak ada di dekatnya, melihat ke kanan dan kiri ia dengan cepat menemukan anak itu sedang duduk di lantai. Menghembuskan napas dengan lega dan sedikit menata rambut yang berantakkan, ia pun turun dari atas ranjang.


 


 


“Tuan Odo, sedang apa Anda? Mengurus agenda untuk rencana Anda hari ini—?”


 


 


Mulutnya tertutup cepat saat melihat anak lelaki itu menetaskan air mata. Duduk sila dengan sebuah kertas perkamen di tangan dan beberapa lagi di lantai, Odo mengalirkan air mata dan dengan jelas menangis tersedu-sedu. Fiola tertegun melihat anak itu, tanpa bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam dalam kesunyian.


 


 


“Begitu, ya .... Jadi itu yang terjadi .... Sungguh, bodohnya aku sampai pernah merasa seperti itu.”


 


 


Darah menetes dari hidung Odo, bukan hanya satu tapi sampai beberapa tetes sampai menodai kertas-kertas yang ada. Menelan ludah dengan berat, Fiola bertanya, “Apa ... itu laporan yang Anda dapat dari Nona Lisiathus kemarin? Tentang ... anak-anak panti asuhan itu ....”


 


 


Odo tersentak mendengar suara perempuan rubah tersebut. Menoleh dan mengusap air mata beserta mimisan, anak rambut hitam yang mengenakan tunik cokelat itu menjawab, “Ya .... Ini tentang mereka. Alasan mereka, apa yang membangun jati diri mereka dan membentuk mereka sampai saat ini.”


 


 


“Apa ... yang Anda katakan?” Fiola kebingungan mendengar itu, menatap heran dan sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dibicarakan Odo.


 


 


Membereskan berkas yang berserakan di lantai, anak itu mengikatnya dengan tali serat dan memasukkannya ke dalam Gelang Dimensi. Menarik napas dalam-dalam, ia tersenyum tipis sembari menatap perempuan rambut cokelat kehitaman tersebut. Pada sorot matanya benar-benar terlihat kesedihan, sedikit memerah dan jelas ia tidak sebentar saat menangis tersedu.


 


 


“Tidak apa, aku hanya menyadari betapa naifnya diriku ini ....”


 


 


Fiola hanya terdiam dan hanya menatap tanpa bisa berkata. Mendapat tatapan heran dari perempuan yang bertugas mengawal sekaligus mengawasinya itu, Odo menghela napas dan memalingkan pandangan. Melirik datar ke arahnya, ia berkata, “Aku hanya tersentuh karena laporan itu .... Apa yang dialami mereka ... memang benar-benar siksaan.”


 


 


Fiola terlihat tidak percaya mendengar itu, Odo dalam dirinya bukanlah anak yang akan meneteskan air mata seperti itu hanya karena membaca sebuah laporan menyedihkan. Anak itu berbalik, lalu berjalan ke arah pintu sembari berkata, “Ayo, kita turun dan sarapan!” Fiola menarik napas dalam-dalam mendengar itu, berusaha untuk tidak memikirkan lebih lanjut apa yang mengganggu benaknya.


 


 


“Ya ..., Tuan Odo.” Ia mengubah postur tubuhnya dengan sihir transformasi menjadi wujud anak-anak, lalu berjalan mengikuti anak itu keluar dari kamar.


 


 


Apa yang Odo lakukan sebelumnya adalah salah satu dari fungsi Spekulasi Persepsi. Dengan kata-kata yang ada dalam laporan, anak itu membayangkan masuk ke dalam laporan tersebut dan menjadi saksi salah satu tragedi yang disebabkan oleh keegoisan ayahnya dengan melakukan Ekspedisi Dunia Astral Pertama. Dengan melakukan itu, Odo merasakan sensasi seperti secara langsung menyaksikan kekejaman apa yang terjadi saat itu dan bisa memperkirakan dengan jelas beberapa hal yang tidak tercantum dalam laporan.


.


.


.


.


 


 


Sampai di lantai pertama penginapan, Odo dan Fiola pergi ke aula untuk makan bersama tamu lainnya di penginapan tersebut. Sebagian besar dari mereka memang pedagang seperti apa yang terlihat tadi malam, sama sekali tak ada pertambahan jumlah dalam pengamatan Odo.


 


 


Berjalan memasuki ruang aula yang cukup luas, ia sempat terkejut karena penataan mejanya tidak terlalu asing bagi anak itu. Meja berbentuk bundar dengan empat kursi mengelilingi, tersusun beberapa meter tiap meja dan memenuhi sebagian besar ruangan aula yang sudah disiapkan untuk sarapan para tamu penginapan.


 


 


Tempat tersebut memiliki lantai kayu yang rapat dan sangat rapi serta terawat. Langit-langit tempat tersebut juga terbuat dari kayu dicat hitam mengkilat dan memiliki dekorasi ukiran yang indah serta beberapa lampu kristal gantung untuk pencahayaan. Mengamati sekitar, terlihat beberapa pelayan yang bertugas untuk melayani dan mengawasi ruang aula yang sedang digunakan oleh para tamu sampai pukul sepuluh tersebut.


 


 


Odo dan Fiola mengambil piring yang dapat langsung diambil setelah masuk, lalu melihat-lihat isi meja khusus penuh dengan makanan untuk sarapan mereka. Melihat cara penyajian yang digunakan tersebut, anak rambut hitam itu dalam benak berkata, “Mirip seperti prasmanan ....”


 


 


Menu yang disajikan sangatlah beragam dan cukup banyak mengingat sekarang sedang musim dingin. Ada dua belas menu lauk utama, enam jenis sup dan tiga makanan penutup. Di antara menu-menu yang ada, yang sempat membuat Odo tertarik adalah ikan Fugu mentah yang dipotong tipis dan disajikan di atas piring-piring kecil seperti kelopak bunga dengan garnish potongan lemon dan mentimun rebus.


 


 


Selain itu, ada juga Shashlik yang merupakan sejenis sate domba yang ditusuk batang besi, Kashel sup kaki domba, dan berbagai macam olahan masakan daging lainnya. Di meja yang disusun memanjang dan penuh masakan itu juga ada banyak makanan laut seperti Bouillabaisse (buyabes), yang merupakan masakan rebus dari ikan dan kerang.


 


 


Sebelum sempat memilih, piring anak itu diisi oleh Fiola dengan dua roti kering dan sepotong daging asap saus rempah. Sebelum ia bereaksi, beberapa tusuk Shashlik sudah menumpang di atas piring datarnya. Anak itu menoleh dan menatap tanpa berkata apa-apa. Seakan tidak memedulikan hal tersebut, Fiola mengambil masakan lain dengan sendok logam dan mengisi kembali piring Odo sampai penuh. Anak rambut hitam itu menghela napas penuh resah.


 


 


“Anda masih masa pertumbuhan, jadi makan yang banyak!” ucap Fiola dengan ceria.


 


 


“Mbak Fiola ....”


 


 


“Hmm?”


 


 


“Bisa tolong pegangkan piringku? Aku mau mengikat tali sepatu.”


 


 


“Ah, tentu.” Fiola menerima piring yang penuh dengan makanan dari anak itu. Tetapi saat itu, dirinya baru sadar kalau Odo bisa memaksakan makanan pada piring itu kepadanya. Seperti yang dirinya duga, anak rambut hitam itu berjalan memutarinya dan mengambil piring baru.


 


 


“Eeeh??” Fiola terbelalak dengan mulut terbuka, benar-benar panik dan bingung. Mendekati anak itu, ia tergesa-gesa bertanya, “Tuan? Tuan Odo? Kenapa ambil lagi? Ini bagaimana?”


 


 


“Itu jatah Mbak Fiola .... Habiskan saja.”


 


 


“A ....”


 


 


Pada saat itu Fiola benar-benar sadar kalau anak bernama Odo sangatlah tidak suka diganggu saat memilih makanan. Berdiri dengan bingung, ia melihat majikannya tersebut memilih sarapan dengan sangat teliti. Odo hanya mengambil satu roti kering, beberapa kerang besar dengan bumbu rempah, dan semangkuk sayur labu yang dirinya minta dari pelayan penginapan yang berjaga di bagian meja khusus tersebut.


 


 


“Tuan, kenapa Anda tidak memilih daging? Di sini sepertinya menu spesialnya daging, loh.”


 


 


“Hah?” Odo menatap jengkel.


 


 


“Lihat, mereka juga kebanyakan mengambil masakan daging.”


 


 


Mereka berdua menoleh ke arah meja yang penuh dengan orang-orang konglomerat yang memang memakan daging untuk sarapan. Mereka balik menatap, terlihat terganggu karena Odo dan Fiola melihati mereka saat makan.


 


 


“Itu benar, Tuan. Daging panggang kami adalah menu terbaik,” sambung pelayan penginapan yang berjaga di bagian meja khusus makanan. “Saus yang digunakan asli dan khusus buatan dari kami, kombinasi antara bumbu dari kekaisaran dan kerajaan kita. Dagingnya juga pilihan, lemaknya sesuai dan pemanggangannya menggunakan suhu khusus,” lanjut pelayan itu seraya mengambil piring dan hendak mengisinya dengan daging panggang spesial yang dibicarakannya.


 


 


“Tak usah,” ucap Odo sebelum pelayan penginapan itu menyiapkannya.


 


 


“Eh?”


 


 


Menoleh dengan tatapan datar, ia kembali tegas berkata, “Aku bilang tak usah.”


 


 


“Ya ....” Pelayan itu sempat gemetar mendapat tatapan anak itu.


 


 


Tidak memedulikan hal tersebut, anak lelaki itu berjalan ke arah salah satu meja yang cukup jauh dari kelompok pedagang, lalu duduk tanpa memikirkan mereka yang mulai menatap ke arahnya. Fiola mengikuti, ikut duduk dengan anak itu seraya membawa porsi makanan super banyak karena ulahnya sendiri.


 


 


Tidak memedulikan tatapan heran Huli Jing yang duduk di seberangnya itu, anak tersebut mulai menyantap sarapannya dengan garpu dan pisau. Menghela napas ringan, Shieal dengan wewenang tertinggi itu pada akhirnya bertanya, “Kenapa Anda sangat pilah pilih saat makan? Bukannya itu tidak baik?”


 


 


Odo menurunkan alat makannya ke atas piring saat mendengar itu, menatap datar dengan kesal karena tak bisa dengan tenang menyantap makanan. Kembali mengangkat alat makan, anak itu berkata, “Tolong jangan pedulikan pola makanku. Apa yang kumakan terserah aku, itu bukan urusan Mbak Fiola.”


 


 


Huli Jing tersebut terdiam, ia merasa tatapan dan perkataan yang diucapkan anak itu bukan sekadar rasa kesal biasa. Menarik napas ringan, perempuan rubah itu berkata, “Baiklah. Saya tidak akan protes lagi ..., dari dulu Anda memang suka pilah pilih makanan seperti itu.”


 


 


Saat Fiola sudah menyerah dan tidak protes lagi dengan apa yang dipilih anak itu untuk sarapan, tiba-tiba seorang pria berpenampilan seperti koki datang ke meja mereka. Membawa daging yang tadi ditawarkan kepada anak itu, ia meletakkannya ke atas meja seraya tegas berkata, “Tuan, kenapa paling tidak Anda mencobanya dulu?” Para pelayan penginapan di belakang pria itu sempat terlihat panik dan menggeleng-gelengkan kepala, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang menghentikan pria yang kira-kira umurnya sekitar tiga puluh tahun ke atas itu.


 


 


Odo menoleh dan menatap datar pria yang berdiri dengan rasa bangga itu. Pria tersebut mengenakan pakaian putih, topi koki, dan celemek. Dilihat dari manapun, Odo hanya bisa menangkap pria itu sebagai seorang koki. Tetapi saat dirinya mempertimbangkan sikapnya yang sedikit angkuh, sihir kalkulasi anak itu aktif dan dirinya mendapat beberapa kesimpulan tentang pria bermata hijau yang datang itu.


 


 


“Maaf, aku tidak bisa memakannya,” jawab Odo.


 


 


“Kenapa? Paling tidak coba satu gigit dulu ....”


 


 


“Takkan.”


 


 


“Kenapa?! Aromanya sangat sedap dan menggoda, coba hirup dulu aroma daging panggang terbaik tempat kami!”


 


 


Odo terdiam, menghirup aroma makanan tersebut yang memang sangatlah sedap. Lemak, bumbu rempah, dan harum gurih minyak dapat tercium dengan jelas. Tetapi meski sudah tahu semua itu, anak tersebut tetap menjawab, “Ini memang sedap aromanya, tapi terima kasih. Aku tak akan memakannya.”


 


 


“Kenapa!?” Saking kesalnya koki itu sampai menggebrak meja dengan tangan kiri dan membuat hampir semua makanan di atasnya berserakan. Melihat ke atas meja, Odo bergumam, “Ah, sayang sekali makanannya.” Anak itu sama sekali tidak memedulikan pria itu, apa lagi tamu-tamu lain yang mulai berbisik-bisik di belakang.


 


 


Pria itu bertambah kesal sekaligus tertantang sebagai seorang juru masak. Memegang pundak Odo, ia tersenyum ringan dan berkata, “Tuan ..., tunggu sebentar. Saya pasti akan membawa daging panggang super yang pasti! PASTI akan Anda makan dengan lahap!” Koki itu sampai menekan pundak Odo saat berkata itu.


 


 


“Kenapa sih kalian semua .... Lagi pula, siapa Paman ini?”


 


 


“Ah, maaf telat memperkenalkan diri.” Pria itu mengangkat tangannya dari pundak Odo dan mulai menurunkan topi yang dikenakan, lalu meletakkannya ke depan dada dan sedikit menunduk. Mengangkat kepala dan menatap Odo, pria itu berkata, “Saya adalah Potz Porzan .... Kepala Koki sekaligus Owner Penginapan Porzan ini. Anda juga dapat memanggilku Porzan ke-XII.”


 


 


“Hmm, Kepala Koki sekaligus Owner, ya.” Odo sama sekali tidak terkejut mendengar hal tersebut, seakan-akan memang dirinya sudah tahu itu dari awal. Tersenyum ringan, anak itu mengulurkan tangannya dan mengajak pria itu berjabat tangan.


 


 


“Saya Odo. Salam kenal, Paman Porzan.”


 


 


“Hemp! Saya tak akan berjabat tangan dengan Tuan sampai Anda memakan masakan terbaik saya!”


 


 


“Kalau begitu, ya sudah.” Odo tidak memedulikan itu, menghadap ke arah piring dengan makanan yang sudah berserakan. Dari pada memakan daging yang ditawarkan Porzan, anak itu lebih memilih memakan kerang-kerang yang sudah berserakan di atas meja.


 


 


Itu bagaikan hinaan bagi harga diri seorang koki, Porzan XII itu merasa kesal sampai keningnya mengerut dan giginya bergeretak. “Akh! Sialan! Tunggu di sini! Saya akan membawakan makanan terbaik di tempat ini! Ini gratis, jadi jangan kabur!” ucap Porzan. Ia berbalik dan beranjak dari tempat. Para pelayan penginapan di belakangnya sempat terkejut panik mendengar perkataan pria itu.


 


 


“Tunggu, Paman Porzan ....”


 


 


Langkah kaki pria bermata hijau itu terhenti, menoleh kesal dan berkata, “Apa?!”


 


 


“Tolong ... pakai daging sapi atau domba saja. Jangan seperti masakan yang Anda bawa tersebut, tolong pakai daging sapi atau domba itu saja.”


 


 


“Ah, apa Anda tidak bisa makan daging babi hutan? Teksturnya enak, loh.”


 


 


“Iya.”


 


 


“Oke! Kalau begitu, dengan kemampuan memasakku yang terbaik, aku pasti akan membuat Anda memakannya!”


 


 


Pria itu pun pergi. Karena kerusuhan yang dibuatnya, orang-orang di tempat itu memberikan tatapan tak ramah ke arah Odo dan Fiola. Pelayan penginapan menghampiri mereka, lalu membungkuk beberapa kali dan meminta maaf atas tingkah Kepala Koki sekaligus Bos mereka itu.


 


 


“Maaf! Maaf! Tolong maafkan Pak Porzan, beliau memang selalu seperti itu kalau menyangkut hal seperti ini ....”


 


 


Pelayan penginapan itu membersihkan meja dan mengganti taplaknya. Sebelum Fiola dan Odo sadar, semua makannya yang dibawa mereka sudah tidak ada di tempat dan meja mereka terlihat seperti sama sekali belum digunakan. Perut Fiola bergemuruh, sampat terdengar Odo dan membuatnya menatap datar gadis rubah tersebut.


 


 


“Mbak Fiola bisa ambil lagi, loh. Tak perlu menyesuaikan denganku.”


 


 


“Tak bisa! Saya tidak boleh makan sebelum Anda makan!”


 


 


“Terserahlah ....”


 


 


Mereka pada akhirnya menunggu sampai masakan yang dijanjikan Porzan XII datang. Tidak lebih dari setengah jam, pria bermata hijau dengan pakaian koki itu datang membawa nampan yang di atasnya terdapat dua piring batu panas berisi daging panggang. Itu adalah sejenis steak, diletakkan pada batu panas dan bumbu saus di dalam wadah kecil terpisah. Aroma yang ada langsung mengisi ruangan, membuat para tamu lain tertarik dengan makanan yang dibawa Kepala Koki itu.


 


 


“Silakan dinikmati!” ucapnya seraya menyajikan itu ke atas meja Odo.


 


 


Mendengar suara pria itu, Odo memasukkan orang bernama Porzan ke dalam daftar orang menyusahkan dalam kepalanya. Menghela napas ringan, anak itu menoleh ke arah koki itu dan berkata, “Ini ... daging babi lagi, loh.”


 


 


“Ekh?!” Porzan terkejut anak itu bisa tahu. Dari luar dan aroma yang ada, dengan jelas itu sangat mirip dengan daging sapi. Meski begitu, anak tersebut sadar kalau itu adalah daging yang berbada.


 


 


“Bicara apa Anda, aromanya jelas-jelas daging sapi. Apa indra penciuman Tuan Odo bermasalah?” ucap Fiola. Air liur perempuan itu mulai keluar saat mencium aroma sedap masakan yang ada. Suara perutnya bahkan mulai bersaing dengan gemericik minyak yang keluar dari daging di atas batu panas itu.


 


 


“Coba saja Mbak Fiola makan.”


 


 


“Hmm!”


 


 


Fiola mengambil garpu dan pisau makan yang tersedia, lalu mulai mengambil sepotong daging panggang tersebut. Memasukkannya ke dalam mulut, perempuan itu terkejut dengan mata terbuka lebar karena rasanya benar-benar enak. Keringat bercucuran dan rasa hangat seakan bergejolak dari dalam tubuhnya.


 


 


“Ehmm~ Uenak~ sekali ~!! Apa ini! Rasanya memang seperti daging babi hutan, tapi rasanya berbeda sekali!”


 


 


 


 


“Eh?!” Porzan terkejut mendengar itu. Memegang kedua pundak anak tersebut dan menghadapkan ke arahnya, Porzan bertanya, “Kenapa Anda bisa tahu!? Padahal belum mencicipinya sama sekali!!” Tubuh anak itu diguncang-guncang, sampai ia menutup mata dan alisnya sedikit berkedut.


 


 


“Ahaha, dari aromanya juga sudah jelas ....”


 


 


“Eh?” Porzan berhenti mengguncangnya.


 


 


“Meski memang benar sangat beraroma daging sapi, tapi itu hanya karena Paman menggunakan minyak lemaknya, bukan? Faktanya itu memang daging babi giling yang ditambah sedikit daging lain.”


 


 


“A ...!!” Pria itu benar-benar terbelalak dan melepaskan tangan dari pundak Odo. Berusaha untuk tidak panik, ia menegakkan badan dan berkata, “Meski begitu, kenapa Anda tidak mencobanya dulu!? Ini enak! Satu gigitan, silakan!!”


 


 


Odo memalingkan pandangan, sama sekali tidak tertarik atau bahkan tak tergugah selera makannya saat melihat daging yang disajikan di atas batu panas itu. Meski suara gemericik minyak lemak saat menyentuh piring batu panas terdengar menggoda, tetapi bagi anak itu tetap saja tidak membuatnya tertarik.


 


 


Salah satu pedagang yang makan di aula mendekat karena mereka terus berisik, lalu masuk dalam pembicaraan, “Kenapa Anda tidak mencobanya dulu, kalau tidak mau biar saya saja yang memakannya,” ucap pria berjas merah kirmizi itu sambil hendak mengambil nampan dari Porzan. Tetapi sebelum pria yang datang itu mengambilnya, Porzan menarik nampan dan tidak membiarkannya mengambil steak yang disediakan untuk Odo.


 


 


“Tuan, ini bukan untuk Anda.”


 


 


“Ayolah! Dia hanya orang yang tak tahu selera berkelas yang bahkan tidak paham kehebatan masakanmu! Biarkan aku mencicipinya!”


 


 


Mendengar apa yang dikatakan pria berjas merah itu, Odo tersinggung dan beranjak dari tempat duduk.  Ia bangun dan menghadap ke arahnya, lalu berkata, “Apa kata Tuan tadi? Tak punya selera?” tanya Odo kesal.


 


 


“Ya .... Meski sudah mencium aroma sesedap ini di pagi hari, Anda tetap tidak menyadari betapa menggodanya masakan ini. Kalau bukan tak punya selera, terus apa lagi?”


 


 


“Itu benar, Tuan Odo. Ini enak sekali,” ucap Fiola yang sudah menghabiskan porsinya. Meski katanya ia tidak akan makan sebelum Odo, tetapi perempuan itu benar-benar menghabiskan makanannya.


 


 


Tidak memedulikan perkataan Huli Jing tersebut, Odo dan pria berjas merah tetap saling menatap satu sama lain dengan tajam. Mengambil satu langkah ke belakang, pria rambut pirang itu berkata, “Saya, Aprilo Nimpio, sebagai salah satu Eksekutif Serikat Dagang Lorian di sini menyatakan kalau Anda tidaklah memiliki selera pantas sebagai seorang bangsawan!”


 


 


Suasana di aula berubah senyap saat mendegar pria itu berkata dengan lantang dan bangganya. Odo menatap tidak peduli, sedangkan Porzan menatap heran pria rambut pirang itu. Saat suasana terdiam sesaat, Spekulasi Persepsi anak itu aktif dan ia menutup hidung sebelum darah mengalir keluar. Beberapa hal dirinya rasakan dan lakukan dalam pikiran, membuatnya sejenak seperti terdiam bingung.


 


 


Odo melirik Kepala Koki tersebut, tetapi ia malah mengangkat pundaknya sebagai tanda tidak tahu apa maksud perkataan pria yang mengaku Eksekutif Serikat Dagang tersebut.


 


 


“Ah, Tuan Nimpi—”


 


 


“Panggil saja Aprilo, diriku tidak suka dipanggil dengan marga.”


 


 


Odo memasang ekspresi daftar, satu orang lagi masuk ke dalam daftar orang menyusahkan dalam kepalanya. Menarik napas ringan, anak itu berusaha tenang dan mulai berbicara, “Eng, Anda tadi bilang seorang Eksekutif dari Serikat Dagang? Jadi, apa hak Anda mengatakan seperti itu kepada saya?”


 


 


“Saya tahu kalau Anda adalah Odo Luke yang terkenal sebagai Pembunuh Naga Hitam! Tetapi! Sebagai seorang pencinta Kuliner saya tidak menerima perlakuan Anda pada masakan Tuan Porzan! Anda tahu, ini adalah masakan terbaik yang pernah saya makan!”


 


 


“Ah, dia semacam Foodie rupanya,” benak Odo saat mendengar itu. Tetapi saat menatap lurus mata Eksekutif Serikat pedagang itu, Spekulasi Persepsi milik Odo aktif kembali dan darah keluar dari hidungnya. Aprilo sempat terkejut, dengan panik ia bertanya, “Anda baik-baik saja?”


 


 


“Ya ... Tak masalah.” Anak itu segera mengusap hidungnya dengan punggung tangan, lalu berkata, “Ngomong-omong, Anda orang pencinta Kuliner, ‘kan? Kalau begitu, aku tantang Anda!” ucap Odo seraya menunjuk Aprilo.


 


 


“Menantang diriku?” Pria rambut pirang berusia tiga puluh tahunan itu terlihat bingung. Menatap heran dengan mata hijaunya, ia bertanya, “Dalam hal masakan?”


 


 


“Ya! Kata Anda makanan ini terbaik, kalau begitu tentu saja saya tantang anda tentang makanan terbaik itu seperti apa. Dengan begitu, Anda baru tahu selera siapa yang lebih rendah!”


 


 


“Tunggu dulu!” Porzan masuk dalam pembicaraan, ia menyela, “Itu sama saja Anda bilang kalau makanan saya tidak enak. Saya tak terima itu!”


 


 


“Ya, karena itu aku menantangmu,” ucap Odo. Anak itu terbawa suasana dan tidak lagi berbicara formal.


 


 


Itu adalah pertengkaran para pencinta makanan, Fiola yang melihatnya tidak paham apa yang penting dari itu. Huli Jing tersebut pada dasarnya memiliki selera paling rendah dari semua orang di tempat tersebut dan pasti akan mengatakan enak atau lumayan kalau makanan itu bisa dimakan. Dengan kata lain, ia tidak benar-benar peduli pada makanan asal itu bisa membuatnya kenyang.


 


 


Pada akhirnya, sebuah pertandingan masak digelar di aula tersebut dengan juri antara lain Eksekutif Serikat Dagang, seorang pedagang yang merupakan bawahannya, Fiola sendiri, dan seorang  pelayan penginapan. Masakan utama adalah daging panggang, bebas dari jenis daging apa dan membuat empat porsi dalam waktu satu jam.


 


 


Odo diberikan izin untuk ikut memasak di dapur dan para koki di sana diusir keluar oleh Kepala Koki mereka. Bahan yang ada bebas dari dapur oleh kedua orang tersebut, tetapi dalam hal seperti itu memang dalam pertandingan tersebut lebih unggul Porzan karena dapur tersebut adalah tempatnya berkuasa.


 


 


Waktu yang disediakan selesai dan satu jam berlalu dengan cepat. Dari arah dapur, Odo dan Porzan membawa nampan-nampan dari dapur dan menyajikannya kepada keempat juri yang telah menunggu mereka. Odo membawa dua porsi terlebih dahulu, lalu baru membawa dua kurangnya setelah meletakkannya ke atas meja juri karena ia tidak bisa membawanya sekaligus. Itu berbeda dengan Porzan yang bisa dengan mudah membawa semua nampan sekaligus.


 


 


Di hadapan keempat juri, masakan steak disajikan dan bentuknya tidak ada yang berada, baik itu masakan Odo atau Porzan. Sangat mirip, dari kombinasi hiasan sayur dan cara meletakkan daging di atas piring batu panas. Satu-satunya yang berbeda, masakan milik Odo terlihat lebih kental dan berlemak karena menggunakan daging sapi.


 


 


“Hmm, ternyata Anda juga bisa masak ya, Tuan Odo,” ucap Aprilo sebagai seorang juri. Ia duduk di antara Fiola dan bawahannya yang merupakan pria berjas merah rambut hitam. Di sebelah Fiola, duduk pelayan penginapan yang gugup karena terseret dalam kelakuan aneh Bosnya.


 


 


“Itu benar, jujur saya juga tidak menyangga ada anak kecil bisa memasak seperti itu. Terlebih lagi, saat mencincang daging dia sangat ahli. Apa karena berasal dari Keluarga Luke, makanya Tuan Odo ....”


 


 


“Sudahlah, cepat penilaiannya ....” Anak itu pergi ke salah satu meja, lalu menarik kursi dan duduk dengan lemas dengan wajah pucat. Darah mengalir dari hidung, diseka beberapa kali sampai sedikit membekas pada punggung tangan kanannya.


 


 


Penjurian pun dimulai, hidangan pertama yang disantap adalah milik Porzan. Ketika menyantap itu, secara serentak mereka menampakkan wajah terpuaskan dan tersenyum lebar. Satu gigit tidak cukup untuk mereka, entah itu pelayan penginapan sampai Eksekutif, semuanya menyantap habis hidangan milik Porzan.


 


 


Melihat itu Odo sama sekali tidak gentar. Porzan tersenyum bangga, merasa menang dengan hal itu. Tetapi saat giliran masakan anak itu disantap oleh keempat juri, hanya dengan satu gigitan mereka menurunkan alat makan.


 


 


“Haha, kemenangan sudah jelas,” ucap Porzan.


 


 


Tetapi saat keempat juri meneteskan air mata dengan bahagia, Kepala Koki itu terbelalak. Mereka benar-benar meneteskan air mata saat menyantap satu gigitan masakan Odo, benar-benar terpuaskan hanya dengan satu gigitan.


 


 


“A-Apa ini ... kenapa air mataku .... Apa daging sapi selalu seenak ini? Rasanya kerja keras para peternak yang merawat para sapi-sapi tersampaikan padaku,” ucap Aprilo sembari menyeka air mata dengan lengan jas.


 


 


“Benar sekali, Tuan .... Ini terlalu enak,” sabung bawahannya.


 


 


Melihat ekspresi semua juri, para penonton yang sebagian besar adalah pedagang tergoda dan pada akhirnya mencicipi masakan Odo itu. Hanya dengan setu potong kecil saja, mereka langsung meneteskan air mata dan benar-benar terpuaskan.


 


 


“Apa ini ... rasanya jadi kangen sama keluarga di rumah ....”


 


 


“Pengin pulang, ketemu mamah.”


 


 


“Enak sekali .... Rasanya seperti melayang-layang.”


 


 


Meski komentar mereka berbeda-beda, tetapi yang jelas semua orang itu benar-benar terpuaskan hanya dalam satu gigitan. Tidak percaya dengan perkataan mereka, Porzan mengambil garpu dan pisau, lalu memotong daging steak milik Odo, mencelupnya dalam saus dan menyantapnya.


 


 


Saat masuk ke dalam mulut dan dikunyah, daging itu dengan mudah masuk ke dalam tenggorokkan setelah beberapa kunyah saja dan rasanya baru meledak di dalam. Itu membuat Porzan terbelalak, menganga lebar seraya melihat langit-langit seakan di sana ada bidadari yang menjemputnya dengan tunggangan sapi.


 


 


“Bagaimana, Tuan Porzan?” tanya Odo. Anak itu mencabut kain tisu dari hidung, lalu tersenyum ringan.


 


 


Pria itu menurunkan alat makan. Berbalik menghadap Odo, lalu menurunkan topi kokinya dan meletakkannya ke depan dada. Menatap dengan rasa kagum, pria rambut krem kepirangan itu berkata, “Enak ..., tidak diragukan lagi ini sangat enak. Bagaimana bisa ... Anda membuat semacam ini?”


 


 


Dengan senyum ringan anak itu berkata, “Itu resep yang Anda buat, loh. Cara memasak, pengaturan suhu, dan hal-hal lain, aku hanya menirunya saja. Anda tahu, aku sangat ahli dalam hal meniru.”


 


 


“Kalau ini menggunakan resepku, kenapa bisa rasanya sangat berbeda seperti ini?”


 


 


“Daging, aku hanya menggunakan daging sapi ....”


 


 


“Aneh .... Seharusnya daging itu tidak sesegar ini dan sudah lama dibekukan. Kenapa rasanya sangat gurih, dan juga teksturnya ini sangat lembut .... Waktu memasak hanya satu jam padahal ....”


 


 


“Hmm, ingin tahu?”


 


 


“Tentu saja ..., kalau boleh ....” Pria itu menatap dalam dan benar-benar ingin tahu.


 


 


“Aku menggunakan Madu. Sebelum daging mentah dikukus, aku merendamnya dalam madu. Tuan Porzan sangat fokus saat memasak sampai tidak melihat caraku mengolah daging, bukan?”


 


 


Anak itu meletakkan siku kanan ke atas meja, lalu menarik napas ringan dan sejenak memejamkan mata. Melihat ekspresi tidak paham pria dengan mata hijau itu, dalam benak anak itu tersenyum dalam hati karena mengetahui beberapa hal yang menguntungkan.


 


 


“Memangnya madu untuk apa? Bukannya itu malah merusak aromanya?” tanya Porzan.


 


 


Anak itu mendapatkan apa yang diinginkan. Tersenyum ramah, ia menjawab, “Ah, Anda belum tahu rupanya. Madu itu punya enzin protease untuk memecah protein dan membuat daging lebih empuk, makanya tekstur itu bisa didapat meski dimasak dalam waktu singkat. Sebenarnya akan lebih enak kalau memakai Nanas yang dipotong-potong dan dijadikan bumbu sekalian, tapi sekarang bukan musimnya, sih.”


 


 


“Terus ... rasa yang segar yang ada dalam satu gigitan itu? Aroma yang seakan meledak di tenggorokkan tadi apa?”


 


 


“Itu kayu manis dan tambahan merica. Itu aku kombinasikan dengan kecap asin, bumbu yang kata Tuan Portanz itu berasal dari kekaisaran. Ah, aku juga membawa bumbu dari luar dapur ....” Anak itu mengambil sesuatu dari saku celana, lalu menunjukkan itu kepada pria di hadapannya. Bumbu itu berbentuk mirip seperti bijih pohon ek yang baru saja tumbuh dari ranting tetapi lebih lonjong dan agak hijau gelap.


 


 


“Apa ... itu?”


 


 


“Itu rempah obat bernama Cebe Ja— Maksudku, Long Pepper. Ini jenis tanaman herbal, pohonnya bisa tumbuh di dataran rendah dan tanah berbatu. Yah, cukup banyak di hutan sekitar perbukitan. Aku sering ambil di sana untuk bumbu makanan bersama garam kalau aku keluyura— Maksudku, berburu di hutan.”


 


 


Mengambil itu dari Odo, Portanz mengamatinya dan baru tahu ada tanaman obat yang bisa digunakan sebagai rempah. Menatap anak itu, ia bertanya, “Apa ini alasan ada rasa segar dan sedikit pedas yang meledak setelah di telan itu?”


 


 


“Ya. Pada dasarnya itu sejenis lada dan kemukus, jadi itu juga bisa menjadi pengganti merica dan juga bisa berfungsi sebagai penghangat tubuh. Rasanya bisa meledak seperti itu mungkin karena sedang dingin. Yah, jujur tadi aku sendiri belum mencicipinya.”


 


 


Pria itu benar-benar terkejut mendengar itu, hanya bisa terdiam dan menatap dengan mata seakan terpana dengan apa yang ada di hadapannya. Ia sadar kalau kemampuan memasak yang selalu dibanggakannya tidaklah seberapa. Ia memang yang merasa yang terbaik di kota, tetapi kenyataannya hanya sebatas seperti itu saja.


 


 


“Anda ... tahu banyak soal hal seperti itu, ya. Apa Anda pernah mendalami hal ini? Maksudku, urusan dapur atau semacamnya ....” Porzan mulai kehilangan kepercayaan dirinya, menundukkan kepala dan mulai muram.


 


 


“Anda tak perlu pesimis seperti itu. Masakan Anda sangatlah luar biasa. Seperti yang Anda lihat sendiri, aku hanya meniru resep milik Anda.”


 


 


“Justru karena itu .... Apa yang diriku lakukan hanya menggunakan resep milik mendiang kakek saya. Sebenarnya ... tempat ini adalah restoran ternama di wilayah Luke pada masanya. Tetapi sejak ayah saya menjadi penerus, tempat ini mengalami kemunduran.”


 


 


Pria itu kembali mengenakan topinya. Menarik kursi dari kolom, ia duduk di sebelah Odo dan mulai berbicara, “Saat beliau meninggal dan ini diwariskan kepada saya, tempat ini sangat terpuruk sampai-sampai harus menggunakan ruang yang tidak terpakai sebagai kamar penginapan demi mendapat pemasukan tambahan .... Anda tahu, sebenarnya lantai dua dan tiga itu tempat untuk pelanggan restoran dulu.”


 


 


Mendengar apa yang dikatakannya, Odo sekilas menyeringai gelap dan langsung memanfaatkan kesempatan yang ada. Duduk menghadap pria itu dan mengulurkan tangan, ia berkata, “Bagaimana kalau kita bekerja sama, Tuan Porzan XII?”


 


 


“Kerja sama?”


 


 


“Ya ..., kerja sama!” ucap anak itu dengan semangat. Menurunkan tangan dan merentangkan keduanya lebar-lebar, ia berkata, “Sebenarnya aku dalam waktu dekat akan membuka sebuah tempat usaha, anggap saja itu sebuah toko besar.”


 


 


Menurunkan kedua tangan ke atas pangkuan, anak itu tersenyum senang dan  kembali berkata, “Di situ aku ingin menjual bahan-bahan untuk masakan Anda, tentu saja bahan itu akan sangat unik untuk bahan makanan dan pasti akan mengembangkan masakan Anda .... Bila perlu, saya juga bisa membantu Anda meneliti bahan-bahan makanan.”


 


 


“Apa yang ingin Anda katakan? Tawaran seperti itu ... rasanya mencurigakan. Saya akui kalau pengetahuan dan kemampuan Anda dalam memasak sangat hebat. Tetapi, tempat ini adalah milikku, istanaku .... Diriku sudah punya partner sendiri, tak bisa dengan mudahnya langsung setuju dengan Anda.”


 


 


“Itu benar, Tuan Luke.” Aprilo masuk dalam pembicaraan. Langsung merangkul pundak Porzan, pria Eksekutif Serikat Dagang itu menyeringai dan berkata, “Kalau Anda tidak mengajakku dalam pembicaraan itu, saya takkan setuju dengan tawaran itu.”


 


 


Odo tersenyum tipis mendengar itu. Ia sangat paham cara pikir seorang pedagang, dirinya juga memiliki hal semacam itu dalam benak meski tidak ditampakkan secara jelas. Bagi seorang pedagang kesempatan yang tidak diambil sama saja kerugian.


 


 


“Anda dari awal sudah merencanakan ini, bukan? Membuat si Porzan sampai tertantang dan sampai terjadi hal semacam ini, semuanya hanya untuk menunjukkan apa yang Anda punya dan mengajak kami ke dalam pembicaraan seperti ini, apa benar begitu?”


 


 


“Entahlah, Anda terlalu memuji diriku.” Odo hanya tersenyum ramah mendengar itu.


 


 


“Dasar .... Apa Anda benar-benar anak kecil? Seram sekali ....”