Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 68 : Aswad 15 of 15 “According to dream” (Part 04)



۞۞۞


Mylta ⸻ Meski malam telah tiba dan angin darat bertiup ke arah laut, keramaian yang ada masih belum terurai. Pada pukul setengah sembilan tersebut, masih terlihat penuh lalu-lalang pada tiap jalan utama. Para pedagang, buruh kasar, pengusaha dan pengunjung dari luar kota, serta berbagai macam orang melangkahkan kaki dengan tujuan mereka masing-masing di kota tersebut.


Sedikit berbeda dari hari biasanya, masih tampak bekas-bekas perayaan upacara pembatisan yang baru dilakukan tadi pagi. Ornamen-ornamen belum dilepas dan masih dapat terlihat jelas pada jalan-jalan, suasana yang ada pun masih terasa seperti perayaan meski tak terlalu ramai jika dibandingkan tadi pagi.


Distrik pengrajin, tepatnya di sebuah Atelier pada ujung jalan berdiri seorang penyihir berambut putih. Perempuan tersebut adalah Canna Miteres. Dalam paparan sinar kebiruan lampu kristal di depan Atelier, ia tampak mengenakan pakaian jubah berwarna ungu dengan sebuah bros yang memiliki ukiran berbentuk simbol Triple Moon. Bros tersebut melambangkan statusnya sebagai penyihir Expert, lalu untuk warna hijau permata yang digunakan sebagai bahan baku mewakili Tingkat Dua yang dirinya capai.


Ada beberapa alasan dirinya berpenampilan seperti, salah satunya adalah karena setiap Penyihir Miquator diwajibkan mengenakan seragam mereka saat akan belajar di mana pun mereka berada. Seragam untuk pelajar adalah jubah hijau dan bros tanda gelar serta tingkat mereka, sedangkan pada umumnya untuk pengajar mengenakan jubah berwarna hitam.


Mengenakan pakaian seperti itu selama dua jam lebih dan berdiri di sana, Canna mulai merasa seperti orang bodoh yang menunggu di depan Lokakarya Hulla. Dari dalam bangunan adik tingkatnya, Opium Matha, menatap dengan cemas dan dalam benak ia ingin memintanya masuk.


Tak berani mengatakan isi benaknya, penyihir rambut cokelat keemasan panjang sebahu tersebut hanya menghela napas ringan. Sebelumnya Opium juga mengenakan jubah ungu seperti Canna, tentu dengan bros bersimbol Triple Moon dengan warna kuning sebagai tanda tingkatnya. Namun setelah satu jam menunggu, ia melepas sema itu dan berganti dengan piyama putih dengan hiasan pita pada bagian dada.


Dari ruangan bagian dalam, sang pemilik Lokakarya berjalan keluar. Perempuan itu adalah Luna Hulla, seorang penyihir yang berhenti menempuh pendidikan pada gelar Expert Tingkat Ketiga. Ia memiliki warna rambut cokelat kemerahan, kulit yang tampak sedikit pucat, dan  kornea mata merah cerah.


Terlihat mengenakan piyama seperti Opium, pemilik Lokakarya tersebut berjalan menghampiri perempuan yang berdiri di luar dan berkata, “Canna, matikan lampu di depan dan masuklah, sudah malam. Sampai kapan kamu akan menunggunya seperti ini?” Luna memegang pundaknya Canna dari belakang, berjalan ke sampingnya sembari menatap datar dan merasa juniornya tersebut terlalu terobsesi pada Odo.


Canna sesaat terdiam, bingung harus menjawab apa dan sekilas memalingkan pandangannya. “Kak Canna sendiri sudah lihat materi yang Tuan Odo berikan, ‘kan? Saya hanya ingin mendengar pelajarannya lebih lanjut,” jawabnya dengan sedikit ragu. Lekas menatap Luna, ia mengangkat jari telunjuknya dan menambahkan, “Tentu saja untuk penelitian saya loh, tak ada maksud lain.”


“Hmm⁓emm⁓” Mendengar itu Luna malah semakin curiga, merasa memang rekan sesama penyihir Miquator tersebut memiliki rasa kepada Odo. Kenal dengan Canna sejak remaja dan bahkan belajar sihir dengannya cukup lama membuat Luna sedikit paham, tentang kepribadian dan sifatnya. “Tak biasanya orang acuh sepertimu tertarik pada orang lain. Biasanya kamu akan berkata lebih baik mencari tahu sendiri daripada bergantung pada pengetahuan orang lain! Yah, apalagi dari Tuan Odo yang bukan seorang Penyihir Miquator,” ucap Luna dengan nada ringan.


Canna melirik datar, sedikit kesal dan balik bertanya, “Meski bukan Penyihir Miquator, Kak Luna tahu sendiri kemampuan Tuan Odo, ‘kan?


“Yah, memang  ….” Luna sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, menghela napas ringan dan berkata, “Di usianya yang masih sangat muda, beliau sudah bisa merancang alat-alat sihir unik. Ia bahkan mendesain sebuah altar serta susunan Lokakarya, memahami topologi Feng Shui, menguasai banyak sihir, dan bahkan bisa memakai Sihir Transformasi yang merupakan ciri sihir kuno para siluman dari Kekaisaran.”


“Latas ….” Canna memperlihatkan mimik wajah heran, sedikit menurunkan kedua alisnya dan bertanya, “Kenapa Kak Luna tidak tertarik? Bukannya kalau mendengar penjelasan Tuan Odo, biasa saja penelitian Kak Luna akan berkembang?”


“Ada dua alasan aku tidak terlalu ingin mendengar materi milik Tuan Odo!” Luna mengangkat dua jari tangan kanannya, lalu sembari memasang ekspresi kecewa ia pun berkata, “Pertama, materi yang akan dibahas sepertinya cukup jauh dari bidang yang diriku kuasai. Berbeda dengan kamu yang mengambil banyak bidang, diriku hanya fokus pada Alkimia.”


Luna menurunkan jari tengahnya dan meninggalkan jari telunjuk. Sedikit mendekatan wajah, perempuan rambut cokelat kemerahan itu berkata, “Lalu, alasan kedua adalah cara pandang Odo mengenai sihir itu sendiri. Dia sangat berbeda dari kita yang menerima pengetahuan dari Guru Besar, bahkan diriku sedikit takut bisa terpengaruh olehnya.”


“Eng?” Canna mengambil satu langkah menjauh, menatap sedikit heran dan bertanya, “Kenapa takut? Bukannya dalam ajaran Guru Besar kita harus memiliki pikiran terbuka dan menerima berbagai cara pandang?”


“Menerima ya memang menerima, tapi kalau kategori itu rasanya terlalu berat.” Luna sekilas menarik napas dengan berat dan memalingkan wajah. Sembari memegang ujung hidungnya sendiri, ia dengan nada berat berkata, “Meski dia menggunakan sihir dan sangat tertarik dengan itu, pola pikirnya seakan menganggap sihir itu sebuah hal yang jahat dan buruk.”


Canna sedikit tersentak, mengingat kembali perkataan-perkataan Odo serta materi pada kertas perkamen yang diberikan kepadanya. Memang dari susunan kata yang digunakan serta apa yang Odo ucapkan terasa menganggap sihir adalah sebuah hal buruk, layaknya sebuah pedang bermata dua.


Di tengah pembicaraan tersebut, dari atas Lokakarya tiba-tiba terdengar suara, “Sihir memang hal yang buruk dan jahat kok, itu nyata apa adanya.”


Kedua perempuan di depan Atelier mengambil beberapa langkah untuk menyesuaikan sudut, lalu mendongak ke arah atap dan melihat siluet seseorang yang duduk di atas sana. Canna segera menggunakan sihirnya, membuat bola api kecil untuk menyinari siapa yang duduk di atas. Melihat ternyata yang berada di sana adalah Odo Luke, mereka berdua sekilas terperangah.


Pemuda itu memasang senyum kecil, melambaikan tangan dan segera meloncat turun dari atas. Mendarat mulus di depan mereka, ia menatap ringan dan kembali berkata, “Kalau bisa paham maksud terselubung dari materi itu, berarti tingkat pemahaman Kak Luna memang hebat.”


“Kenapa … kamu bisa barada di atas?” tanya Canna heran.


Merasakan hal yang sama, alis Luna berkedut dan ia pun dengan rasa bingung bertanya, “Saya rasa bukan itu masalahnya, bukannya Anda seharusnya pulang? Besok Anda harus mengikuti acara pertunangan, ‘kan? Tadi sore saya dengar itu dari Nona Lisiathus loh, beliau katanya dapat undangan pesta untuk besok.”


“Eh?! Acaranya besok?” Canna terkejut karena baru mendengar hal tersebut, ia sedikit paham mengapa Luna bersikeras memintanya untuk berhenti menunggu Odo.


Odo Luke sekilas memalingkan pandangan, pemuda dengan penampilan khas kemeja putih dan celana hitam tersebut enggan untuk membahasnya. Mengacungkan jari telunjuk ke depan tanpa menatap mereka berdua, ia langsung melempar alasan, “Karena di sana tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdiri, makanya diriku ke sini.”


Luna menatap datar melihat betapa seenaknya pemuda itu, sedangkan Canna masih terkejut karena baru tahu kalau acara pertunangannya ternyata lebih cepat dari yang dirinya ketahui. Tak memedulikan mereka, Odo bertepuk tangan satu kali untuk memecahkan suasana.


“Daripada berada di sini terus, kenapa tidak masuk dan mulai? Aku juga tak punya terlalu banyak waktu.”


Mendengar apa yang pemuda itu, wajah Canna dan Luna seketika terlihat kesal. Mereka berdua merasa Odo terlalu seenaknya. “Kalau buat janji yang benar. Kalau tidak bisa atau sibuk, bilang saja, ” keluh Canna dengan ekspresi kesal.


“Maaf, ini juga tidak aku perkirakan. Meski telat, aku sudah datang, ‘kan? Jadi maafkan aku dan mari kita mulai⸻”


Perkataan Odo terhenti saat sadar kalau Luna sudah mengenakan piyama. Melihat Opium di dekat pintu yang juga mengenakan piyama, pemuda itu merasa sedikit bersalah karena datang di waktu mereka akan tidur. Namun saat dirinya mengamati apa yang dikenakan Canna, ia sedikit merasa lega karena perempuan itu masih menunggunya meski terlambat lebih dari dua jam.


“Padahal kami sudah siap-siap mau tidur,” keluh Luna seraya berbalik dan segera berjalan masuk ke Lokakarya.


Sesaat Odo dan Canna cemas tidak diperbolehkan menggunakan Lokakarya untuk kelas. Namun saat Luna berada di depan pintu, ia menoleh ke belakang dan berkata, “Apa yang kalian Tunggu? Ayo masuk dan mulai kelasnya ….”


Luna melangkah masuk. Saat melewati Opium, sang pemilik Lokakarya tersebut menepuk bahunya dan dengan nada sedikit resah bertanya, “Kamu juga mau ikut?”


“Hmm, kalau Kak Luna dan Kak Canna ikut ….”


Setelah itu, mereka berempat menyiapkan ruang depan untuk kelas les sihir dengan tema materi yang telah Odo berikan terlebih dahulu. Mereka menggunakan ruang yang biasa dipakai untuk menerima pelanggan, menyiapkan buku, alat tulis, bahkan sampai camilan dan minuman.


Aroma herbal, ruangan dengan pencahayaan remang-remang dari beberapa kristal yang digantung pada langit-langit. Di antara sumber-sumber cahaya yang ada, tampak beberapa pot tembikar dan gerabah yang digantung menjadi tempat tumbuh tanaman-tanaman herbal.


Dari meja counter tercium aroma kopi yang khas, di sana terlihat Canna yang sedang menyiapkan minuman untuk semua orang yang akan mendengarkan pelajaran dari Odo. Penyihir rambut putih tersebut menggiling beberapa bijih kopi, lalu setelah terasa cukup ia menarik kotak dan memasukkan bubuk kopi ke dalam tempat seperti saringan kecil berbentuk corong. Menyiapkan cangkir-cangkir dan mengambil teko berisi air panas, ia perlahan menyeduhnya ke dalam cangkir-cangkir keramik tersebut dan menambahkan gula balok serta susu.


Saat perempuan tersebut menyiapkan minuman untuk menghilangkan kantuk, Luna dan Opium duduk di kursi yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Mereka berdua duduk bersebelahan, sedangkan Odo berada duduk di seberang meja depan mereka.


Baik Luna ataupun Opium, mereka berdua kembali membaca materi yang sebelumnya Odo serahkan kepada Canna saat di toko. Mereka terlihat serius, mengamati isi materi tersebut dengan saksama dan tampak ingin menguak lebih dalam maksud dari kalimat-kalimat yang ada.


Ketika Canna selesai menyiapkan kopi dan membawanya ke atas meja, kedua Penyihir yang terlihat serius tersebut sejenak menurunkan kertas perkamen dan menarik napas ringan.


Sudah sekitar seperempat jam sejak mereka semua masuk ke dalam Lokakarya dan memulai kelas. Pintu ditutup, ruang kedap suara, dan suasana yang tenang. Dalam ruangan tersebut, apa yang Odo minta dari mereka di awal hanyalah membaca ulang materi karena Luna dan Opium hanya membaca beberapa lembar pertama saja.


“Bagaimana? Tema materinya kurasa ada kaitannya dengan bidang Alkimia yang Kak Luna pelajari, ‘kan?” tanya Odo dengan senyum ringan.


Mendengar itu, Luna hanya menatap tanpa menjawab apa-apa. Ia mengangkat cangkir kopi yang telah disediakan. Sejenak menarik napas berat, Luna menghembuskannya perlahan untuk meniup kopi yang masih panas. Setelah meminum sedikit kopi untuk sedikit menghilangkan sedikit rasa kantuk, ia kembali meletakkan cangkir ke atas piring cawan.


Canna kembali ke tempat mereka setelah mengembalikan nampan ke belakang. Ia segera duduk di sebelah Odo, memasang ekspresi senang dan tampak begitu bahagia menikmati momen yang ada bersama dengan sosok yang dirinya sebut Ayahanda.


Berbeda dengan kedua rekannya sesama penyihir, perempuan yang memiliki warna kornea Ungu tersebut telah membaca materi dan tak perlu membaca dua kali seperti mereka.


Luna memberikan tatapan datar, sedangkan Opium yang tampak pendiam juga tidak memberikan pendapat setelah membaca materi yang diberikan. Melihat reaksi tersebut, Odo sekilas merasa bingung harus berkata apa. Secara pribadi, pemuda itu sendiri paham bahwa dirinya tak terlalu pandai untuk mengajar orang lain untuk beberapa alasan. Apa yang bisa ia lakukan hanya memberikan pengetahuan, untuk memahamkan orang lain bukan salah satu keahliannya.


Luna mengambil salah satu perkamen dari beberapa lembar yang ada di atas meja, itu merupakan halaman pertama dari keseluruhan materi yang ada. Sembari menatap ke arah Odo, sang pemilik Lokakarya berkata, “Primordial Makhluk Hidup dan Simbol Kuno Pembentuk Peradaban …. Dari judul, temanya terdengar seperti akan membahas sejarah atau sihir kuno. Namun setelah saya membaca lebih lengkap lagi, rasanya ini malah seperti membaca tumpukan naskah yang tak lengkap.”


“Yah, itu memang pembuka untuk memancing pertanyaan.” Odo menaikkan kakinya ke kaki kanan, lalu sembari menyangga dagu dengan punggung tangan kanan ia pun kembali berkata, “Kalian tahu, aku tak terlalu pandai menjelaskan. Makanya lebih mudah menjawab pertanyaan kalian daripada aku menjelaskan dari awal.”


“Huh ….”


Luna menghela napas ringan, memasang ekspresi sedikit kecewa karena merasa terlalu berhadap. Ia sedikit teringat dengan para genius yang pernah dirinya temui di Miquator. Dari mereka semua, tidak ada satu pun yang memiliki keahlian untuk mengajar dan tak pernah menjadi pengajar yang baik meski diberikan kewajiban waktu bakti untuk mengajar para juniornya.


Sedikit mengingat cara Odo terakhir kali membagi pengetahuannya saat datang ke Lokakarya, Luna sekilas merasa heran dan dalam benak bertanya-tanya mengapa pemuda itu lebih memilih untuk memberikan pelajaran dengan kertas dan lisan. “Kalau tidak salah, Tuan Odo punya sihir yang bisa membagi informasi atau sejenisnya, ‘kan? Lalu kenapa ia sekarang malah repot-repot seperti ini? Apa sihir itu ada batasannya?” benaknya seraya menatap datar.


“Apapun pertanyaan kalian, aku akan berusaha menjawabnya,” ucap Odo dengan seringai kecil.


Mendengar itu, Luna sekilas terpancing dan merasa pemuda itu terlalu besar kepala dalam hal ilmu pengetahuan. Tidak seperti Opium dan Canna, ia tergolong lebih aktif karena kepribadiannya tersebut. Meletakkan perkamen kembali ke tumpukan, ia memasang membalas dengan senyum tipis.


“Kalau begitu, jawab pertanyaan ini. Anda menyebut sesuatu seperti Sup Primordial, dari itu nenek moyang makhluk hidup tercipta dan berevolusi selama jutaan sampai miliaran tahun. Melalui berbagai proses, bentuk kehidupan bisa sampai pada tingkat makhluk hidup seperti sekarang. Lalu, jika kita semua berasal dari satu sumber, mengapa bentuk kita berbeda-beda? Bahkan untuk manusia sendiri, kita memiliki berbagai suku dengan perbedaan warna kulit dan mata, bentuk hidung dan tengkorak, tinggi badan, ketahanan fisik dan berbagai aspek fisik lainnya …. Memang ada beberapa faktor seperti apa yang mereka makan, lingkungan, serta gaya hidup. Namun …, pada beberapa aspek seperti warna kulit dan mata itu bukan karena faktor dari luar, melainkan dari dalam ⸻ Meski sesama manusia, itulah yang membuat kita berbeda-beda.”


Mendengar pertanyaan yang terkesan menjabarkan topik sebelum langsung ke intinya, Odo merasa kalau Luna menghindari beberapa hal terkait teori-teori kimia dan fisik yang tercantum pada perkamen. Namun karena hal tersebut, ia bisa menangkan pertanyaan tersebut secara khusus. Sejenak memejamkan mata, ia merasa wajar karena pada dasarnya para penyihir menghindari sesuatu yang berbau sains dan lebih cenderung melakukan pendekatan secara teologi atau mistik.


Odo menurunkan kaki kirinya dari kaki kanan, duduk dengan tegak dan mulai mengklarifikasi, “Sebelum bertanya begitu, Kakak seharusnya menyadarinya, ‘kan? Bentuk kehidupan pertama di dunia itu tunggal, lantas bagaimana caranya ia berkembang biak? Kalau Kak Luna pernah belajar sejarah, iklim dunia di masa miliaran tahun sebelum Kalender Pendulum di mulai itu sangatlah kacau. Dikatakan, itu masa ketiak para Dewa dan Iblis juga belum tercipta. Masa penuh kekacauan.”


Luna sedikit mengangguk, lalu sembari mengingat ia bergumam, “Saya sering mendengarnya waktu kecil. Jujur, bahkan untuk kami para penyihir itu terdengar bagaikan dongeng. Sebuah masa ketika hukum alam masih kacau, daratan adalah lautan api dan langit berada di bawah ….”


“Pada masa seperti itu, tanpa pasangan, kira-kira apa yang dilakukan makhluk hidup pertama tersebut untuk bisa bertahan hidup? Apa yang ia lakukan untuk memperbanyak jenisnya meski hanya sendiri?” tanya Odo sembari kembali menyeringai kecil.


\==============


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.