Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 69 : Regalia I (Part 03)



 


 


Ia berjalan melewati lorong dengan pencahayaan lampu-lampu kristal, tampak sepi tanpa ada satu pun pelayan yang terlihat. Namun saat dirinya keluar dan berjalan di teras samping Mansion, beberapa pengawal yang sebelumnya datang bersama para tamu terlihat duduk di sekitar tempat tersebut dan tidak tidur di kamar mereka.


 


 


Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, membawa senjata ringan seperti pedang pendek, dagger, dan  bahkan ada juga  yang membawa senjata unik seperti machete dan gauntlet besi. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakan zirah, kebanyakan memakai setelan formal meski membawa senjata.


 


 


Odo seketika mendapat tatapan dan menjadi pusat perhatian mereka semua, dengan begitu tajam dan terasa dingin. Ekspresi mereka yang berdiri atau duduk-duduk pada kursi teras terlihat tampak bingung dan waspada, merasa heran saat melihat kedatangan Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


Odo sekilas mengingat perkataan Julia soal pengawal dan para tamu, tentang teras yang letaknya dekat dengan kamar para tamu. Menghela napas ringan, Odo merasa wajar dengan reaksi mereka yang tampak waspada.


 


 


Tidak menyapa dan segera memalingkan wajah, Odo melanjutkan langkah kakinya dan terus berjalan menuju halaman untuk pergi ke perpustakaan. “Saat berpakaian seperti itu, entah mengapa mereka malah terlihat seperti mafia …. Apa mereka juga sudah terlatih untuk hal seperti ini? Berjaga semalam suntuk,” benak pemuda rambut hitam itu seraya sedikit melirik ke arah para pengawal tamu.


 


 


Dari senjata dan tampang mereka, Odo merasa para pengawal yang datang bersama para bangsawan dan konglomerat memiliki latar belakang yang unik. Beberapa memakai senjata yang bisa dikatakan jarang digunakan oleh ksatria, beberapa lagi memiliki bekas luka yang tampak jelas pada wajah dan membuat mereka semakin sangar, lalu selebihnya ada yang tampak seperti ksatria terhormat pada umumnya.


 


 


Kembali menatap ke depan, Odo menghela napas ringan dan tetap berjalan menuju perpustakaan. Saat ia naik ke teras bangunan menara tersebut, pintu utama tiba-tiba terbuka dan dari dalam melangkah keluar sang Roh Agung mantan Penguasa Laut Utara Dunia Astral, Vil.


 


 


Ia mengenakan blus tanpa lengan berwarna biru gelap, memiliki tambahan bros kristal hijau giok pada bagian tengah di dadanya. Untuk bagian bawah, perempuan rambut biru laut tersebut memakai rok lipat panjang sampai betis berwarna hitam. Pada pinggang melingkar sabuk kain hijau gelap, ditahan dengan peniti hias dari kerajinan logam berbentuk bunga keemasan. Tak seperti biasanya juga, ia juga mengenakan sepatu hak tinggi dan terlihat seperti orang yang hendak pergi ke sebuah pesta.


 


 


Ketika melihatnya, sorot mata Odo langsung berfokus pada rambut biru perempuan itu yang terurai lepas saat melangkah. Namun ketika tatapannya turun dan melihat ekspresi terkejut Roh Agung tersebut, pemuda itu segera paham mengapa Vil berpakaian seperti itu meski matahari belum terbit dan acara pesta baru akan dimulai nanti siang.


 


 


“O-Odo? Kenapa di sini? Ka-Kamu tidak tidur?” tanya Vil gugup.


 


 


Pemuda itu hanya menatap datar, merasa kasihan melihat Roh Agung tersebut. Mengingat kembali apa yang dirinya rasakan beberapa waktu lalu saat di kamar, Odo sedikit menarik napas ringan dan paham kalau ada banyak orang yang lebih terkekang daripada dirinya.


 


 


Sembari memasang senyum, Odo menawarkan tangannya dan berkata, “Apa kau ingin ikut pesta? Sampai-sampai memakai salah satu koleksi pakaian yang jarang kau kenakan seperti itu ….”


 


 


Vil sesaat tersentak, ingin meraih tangan pemuda itu. Namun saat paham statusnya hanyalah sebatas Roh yang menjalin kontrak dengan Ibu dari pemuda di hadapannya, Vil menurunkan tangan dan tak tidak meraihnya.


 


 


“Tidak apa, itu acara para manusia. Bukan urusan⸻”


 


 


“Lalu kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu? Mau pergi ke mana memangnya?” tanya Odo dengan ekspresi menyindir.


 


 


“Ah ….” Wajah kecut mulai tampak pada Vil, merasa ucapan itu tidak lucu mengingat dirinya tak bisa pergi ke mana-mana kecuali dekat dengan Odo. Memalingkan pandangan dan melipat tangannya ke depan, dengan kesal Vil berkata, “Memangnya salah? Diriku hanya ingin memakai ini untuk ganti suasana! Lagi pula, besok⸻ Eng, maksudku nanti siang acara pertunangan Odo, ‘kan? Diriku tak bisa datang  ke acara seperti itu …. Odo nikmati saja momen romantis bodoh semacam itu!”


 


 


Odo hanya terdiam, merasa memang Vil tidak terbiasa dengan perasaannya sendiri. Berusaha untuk tidak menyentuh hal sensitif bagi Roh Agung tersebut, Odo menurunkan tangannya dan bertanya, “Hmm, memangnya kenapa? Kalau kau ingin datang, datang saja. Tak ada ruginya, ‘kan? Lagi pula kau bukan orang asing bagiku.”


 


 


Mendapat pertanyaan seperti itu, Vil menghela napas dan merasa bodoh berharap hal semacam kepekaan perasaan dari Odo. Berhenti melipat kedua tangannya ke depan, Vil segera berbalik dan berkata, “Sudahlah, diriku berpakaian seperti ini hanya karena ingin mengganti suasana saja. Tak ada maksud lain!”


 


 


 


 


“Suasananya berubah, diriku jadi tak niat lagi! Huh, awalnya diriku ingin sejenak berjalan-jalan di taman. Karena Odo …,  diriku tidak niat lagi!”


 


 


“Kalau begitu, aku temani di dalam. Ada sesuatu yang ingin aku coba di perpustakaan sebelum acara utamanya dimulai nanti siang.”


 


 


Langkah kaki Vil terhenti, ia segera menoleh dan menatap kesal setelah mendengar hal semacam itu. Kedua pipinya mengembung dan wajahnya semerah delima, tampak ingin meledakkan isi hatinya yang keruh dari mulut manisnya. Melihat ekspresi tersebut, Odo hanya tersenyum tipis dan cukup senang menggoda Roh Agung tersebut.


 


 


Vil  merasa sedang dipermainkan dan bertambah kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, perempuan rambut biru tersebut segera berjalan masuk dan menutup pintu perpustakaan rapat-rapat seakan tidak memperbolehkan Odo masuk.


 


 


“Hahah, imutnya …. Memang umur panjang tak menjamin sikap dewasa. Yah, ada juga yang bilang nenek-nenek sifatnya itu lebih kekanak-kanakan sih.”


 


 


Vil langsung kembali membuka pintu, menatap Odo dengan kesal dan berkata, “Siapa yang dirimu panggil nenek-nenek!”


 


 


“Ahaha⁓!”


 


 


Tidak memedulikan rasa kesal sang Roh Agung, pemuda rambut hitam tersebut memasang senyum tipis. Melihat makhluk berumur panjang seperti Vil bisa memperlihatkan ekspresi dan reaksi seperti itu, dalam benak ia merasa sedikit lega.


 


 


Setelah bertengkar kecil dan saling meledek di depan pintu perpustakaan, mereka berdua masuk ke dalam dengan suasana sangat akrab. Baik Odo maupun Vil, mereka sama sekali tidak menahan diri, saling melempar gunjing tanpa melukai isi hati masing-masing karena paham apa yang diucapkan halnya sebatas gurauan.


 


 


Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, mungkin hubungan mereka bisa dikatakan tampak seperti seorang sahabat yang sangat akrab sampai-sampai bisa bertengkar seperti itu dan saling mengungkapkan isi hati dengan bebas. Namun pada kenyataannya, tidak ada yang tahu dengan jelas hubungan mereka seperti apa. Baik Odo ataupun Vil, mereka masih merasakan sebuah batas yang tidak bisa dilewati dalam hubungan yang ada.


\=============


 


 


 


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


 


 


Tapi!


 


 


Dilarang promo di cerita ini!


 


 


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


 


 


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.