Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 71 : Regalia III (Part 04)



“Entahlah, kita tidak tahu apa yang dikehendaki masyarakat di masa depan,” jawab Odo dengan samar-samar, tanpa memberikan kejelasan yang pasti.


Di tengah pembicaraan Raja Gaiel dan Odo, dua orang dari Pihak Religi yang kebetulan hendak menuju halaman depan menghentikan langkah mereka. Kedua orang itu adalah Wolnir Yhoan dan Aldrich Ophelia.


Meskipun Wolnir paham dirinya tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam pembicaraan terkait masalah pemerintahan Kerajaan Felixia, namun sang Pontiff di sebelahnya tidak demikian.


Perempuan yang terkesan lekat dengan pakaian Vestimentum tersebut mengubah haluannya, turun dari teras dan menghampiri mereka karena tertarik dengan pembicaraan yang tanpa sengaja masuk ke telinganya. Didampingi Wolnir, ia menghadap sang Raja dan tanpa berkata apa-apa langsung menatap ke arah Odo Luke.


Untuk sesaat orang-orang yang ada di tempat itu merasa heran, sedikit tidak nyaman karena orang yang menempati puncak hierarki Pihak Religi tersebut mendatangi mereka. Sebelum Raja Gaiel sempat menanyakan keperluan mereka, Aldrich Ophelia lekas menghampiri Odo dan bertanya, “Meski engkau telah mendapat pengetahuan ilahi dan bisa dengan mudah menjadi makhluk dari kalangan mereka, mengapa hasrat duniawi dalam diri engkau masih belum hilang? Jika berkendak, bisakah engkau menjawab pertanyaan dariku ini?”


Odo terdiam, melirik datar ke arah sang Archbishop yang ikut datang bersama perempuan rambut putih tersebut. Menghela napas sekali, pemuda itu menggaruk bagian belakang kepala dan memalingkan pandangan dengan mimik wajah malas.


“Sepertinya Nona salah paham.” Odo kembali menatap Aldrich Ophelia dengan ekspresi terganggu. Berhenti menggaruk kepala, ia menyipitkan mata dan menjelaskan, “Aku memang punya pengetahuan ilahi yang kau maksud, namun pendekatan yang aku ambil sangatlah berbeda dari yang orang-orang seperti kalian tahu.”


“Ber … beda …?” Kedua mata Aldrich terbuka, menatap heran sekaligus tidak percaya ada pendekatan selain melalui Religi dan Sihir. Menarik napas dengan berat, perempuan itu pun meragukan, “Dalam hal apa memangnya?”


Odo mengangkat tangan kanannya setinggi dada, perlahan mengacungkan jari telunjuknya lurus dan menjelaskan, “Begini, ya …. Dalam metode pendekatan yang digunakan orang-orang seperti Nona, setiap mendalami pengetahuan maka emosi serta kepribadian yang ada dalam diri Nona akan terkikis, ‘kan? Saat hampir mendekati fase Immortal dan menjadi seorang Deity, unsur duniawi benar-benar lepas. Lalu, sebuah fase makhluk ilahi akan dimasuki.”


Aldrich sempat terkejut mendengar hal tersebut. Meski dirinya tahu tahapan serta efek dari metode pendekatan yang dirinya ambil, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa diketahui oleh sembarang orang. Hanya mereka yang telah mencapai tahapan tertentu atau pernah melihat Immortal itu sendiri lah yang bisa tahu hal tersebut.


Dengan penuh rasa penasaran, Aldrich mengambil langkah semakin mendekat dan segera meraih tangan Odo dengan eret. Ia mendekatkan wajah dan lekas bertanya, “Kalau bukan Pendekatan Religi ataupun Sihir, apa yang engkau pakai? Oh, wahai jiwa yang sangat mulia, tolong beritahu hal tersebut kepada diriku ini!”


Odo segera menarik tangannya dari genggaman Aldrich, melangkah mundur dan sekilas merasa kalau orang-orang yang berdedikasi mencapai Awal Mula memiliki kecenderungan yang sama. Baik menggunakan Metode Religi ataupun Pengetahuan Sihir, mereka semua memiliki gairah akan pengetahuan yang begitu kuat.


Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mengerutkan keningnya, lalu dengan nada sedikit enggan menjawab, “Jiwamu akan rusak kalau mengetahuinya. Jadi, maaf saja …. Aku tidak bisa mengatakannya.”


“Apakah itu batasan ilmu pengetahuan yang disebut-sebut itu?! Berarti Tuan Odo sudah dua tingkat lebih tinggi dari pengetahuan dari yang telah saya capai ini?”


Pertanyaan tersebut ditanyakan dengan penuh antusias, sama sekali tidak menggambarkan bahwa dirinya adalah seorang Pontiff. Tidak memedulikan Raja Gaiel atau pun orang-orang di sekitarnya, ia kembali mengambil langkah mendekat dan menatap penuh rasa ingin tahu.


Matanya berkilau-kilau, seperti seorang anak kecil yang penasaran saat melihat hal baru dan dipenuhi kegirangan saat ingin tahu. Tatapan tersebut mengingatkannya dengan para penyihir di Kota Mylta, membuat Odo mulai menyipitkan matanya dan memalingkan pandangan dengan sedikit risih.


Melihat orangnya begitu agresif meski sedang berada di hadapan sang Raja dan Keluarga Kerajaan, Wolnir segera mendekatinya dari belakang dan berbisik, “Nyonya Besar, tolong tenangkan diri Anda. Hamba paham Anda sangat ingin mendapatkan pengetahuan tersebut, namun tetap saja Anda harus memilih tempat.”


“Eng⸻!” Sang Pontiff sedikit tersentak, segera sadar dirinya telah kehilangan kendali atas gairahnya pada pengetahuan. Perempuan rambut putih uban tersebut segera menundukkan kepalanya dengan sesal dan berkata, “Maafkan diriku, Tuan Odo ….. Tak sepatutnya seseorang seperti diriku ini berperilaku seperti tadi. Sebagai seorang yang mendalami jalan menuju keilahian untuk mencapai Awal Mula, saya gagal mengendalikan hasrat.”


Raja Gaiel dan orang-orang di tempat tersebut sedikit terkejut ketika melihat sang Pontiff sampai menundukkan kepalanya. Mereka memang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan dedikasi menuju Awal Mula atau semacamnya, namun dengan jelas Odo sangat dihormati oleh sang Pontiff.


Melihat perempuan yang telah mendekati kedewaan itu sampai menundukkan kepala, hal tersebut membuat Raja dan orang-orangnya melihat ke arah Odo dengan tatapan yang aneh. Dalam benak mereka mulai merasa kalau bentuk kehidupan pemuda itu telah keluar dari batasan para Mortal.


“Tak masalah ….” Odo mengatakan hal tersebut dengan nada dingin, menatap begitu dalam dan gelap seakan kehilangan rasa tertarik pada perempuan tersebut. Kembali membuka mulutnya dengan berat, pemuda itu menyampaikan, “Meskipun berdedikasi untuk mencapai Awal Mula selama ribuan tahun, paling tinggi pun hanya Konsep Dunia yang bisa kau capai.”


Perkataannya begitu mengadili, menghakimi perempuan yang telah memutuskan berbagai ikatan dengan keluarganya di masa lalu demi bisa menapaki jalan seorang puritan.


Itu begitu mengguncang Ophelia, kalimat tersebut seakan membuat pengorbanan yang telah diberikan perempuan itu seakan tidak berarti.


“Ke-Kenapa Anda berkata demikian? Waktu bisa diriku curahkan! Ratusan bahkan sampai ribuan tahun tak masalah bagiku! Asalkan bisa mencapai Awal Mula, berapa lama pun diriku akan berikan⸻!”


“Itu yang aku maksud.” Odo mengulurkan tangannya lurus ke depan, mengacungkan jari telunjuknya ke kening sang Pontiff. Tanpa rasa hormat, tanpa rasa menghargai, ia dengan nada menggurui berkata, “Selama kau masih belum menyadari kodrat makhluk hidup, perkembangan ke depannya akan memakan waktu sangat lama. Ratusan tahun? Ribuan tahun? Kau pikir waktumu bisa membayar pengetahuan yang begitu mulia dan agung itu?”


Setelah mendorong kepala perempuan tersebut dengan ujung telunjuknya, Odo menurunkan tangan dan kembali berkata, “Dari cara bicaramu, sepertinya kau juga salah memahami hierarki tingkat pengetahuannya itu.”


“Sa … lah?” Aldrich Ophelia terperangah mendengar hal tersebut, menatap penuh rasa bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud Odo.


Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut terdiam tanpa menjelaskan, menatap dengan sorot mata suram dan sama sekali tidak menunjukkan niat menjawab.


Memalingkan pandangan, ia dengan nada kesal menyampaikan, “Sebelum menguak tentang rahasia dunia, lebih baik kau pelajari dulu tentang dunia yang ada di hadapanmu. Orang-orang puritan seperti kau lebih sering tirakat di dalam ruangan selama berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan, ‘kan? Pandangan mu tentang dunia terlalu sempit ….”


“Ke-Kenapa Anda bisa tahu itu? Kita baru saja bertemu dan bahkan ini kedua kalinya kita saling berbicara! Kenapa Tuan Odo bisa mengambil kesimpulan⸻!”


“Aku tahu ….” Odo menatap tajam, begitu gelap dan menekan seakan pemuda itu masuk ke dalam pikiran lawan bicaranya.


Dalam beberapa detik, kornea mata pemuda itu berubah hijau dan melakukan kalkulasi secara terpusat kepada individu bernama Aldrich Ophelia. Melakukan spekulasi terhadap kepribadian, latar belakang, keputusan, cara bicara, postur tubuh, pola pikir, dan bahkan apa saja yang perempuan itu lakukan serta pikirkan kelak di masa depan.


Aldrich menyadari tatapan tak wajar tersebut, sempat menggigil dan melangkah mundur sampai menabrak sang Archbishop dan hampir terjatuh. Namun, pada saat itu juga dirinya merasa kagum dan rasa hormat dengan jelas tumbuh di dalam benaknya.


Ia, Aldrich Ophelia, adalah orang puritan yang paling taat serta tekun di Kerajaan Felixia. Dari ratusan sampai belasan ribuan orang yang menganut kepercayaan kepada sang Dewi, hanya dirinya lah yang bisa bertahan dan rela melepas ikatan duniawi sampai akhir.


Meskipun dirinya terus berdoa dan mengasah pengetahuan setiap malam, Aldrich Ophelia tidak pernah bertemu langsung dengan makhluk dari dimensi tingkat tinggi yang membimbingnya. Bahkan saat dirinya pertama kali melihat sang Penyihir Cahaya di Kota Miquator, kesan pertama yang dirinya dapat adalah kekecewaan.


Namun, untuk sekarang dirinya merasakan hal yang berbeda dari pemuda di hadapannya. Pemuda yang lahir dari sosok imitasi yang mengecewakan dirinya, Odo seakan memiliki hal yang berbeda. Begitu tinggi dan mulia, sangat luas dan kaya akan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.


Layaknya namanya, Odo Luke. Puncak tertinggi, sebuah kekayaan yang berasal dari kejayaan.


Tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya, Aldrich memberanikan dirinya untuk kembali mengambil langkah mendekat dan berkata, “Wahai jiwa yang agung, bolehkah diriku menjadi pengikut⸻?”


“Aku tak butuh,” potong Odo dengan tegas.


“Kalau begitu, bisakah diriku bersama⸻?”


“Aku tak ingin diikuti oleh orang menyusahkan sepertimu.”


“Kalau sebagai murid⸻?”


“Aku bukan guru.”


Odo benar-benar menolak Aldrich, menatap perempuan itu dengan penuh rasa enggan dan kembali mengambil langkah ke belakang. Memalingkan pandangan dan mulai cemas dengan cara pandang Raja Gaiel terhadapnya, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut menegaskan, “Sudah ku bilang, kalau pandangan mu tentang dunia terlalu sempit. Perluas cara pandang mu, pahami kodrat yang diberikan kepadamu. Setelah kau memahami hal tersebut, aku akan mempertimbangkan permintaanmu.”


“Sungguh?”


“Ya, aku tidak bisa berbohong kepada orang yang mengejar pengetahuan.”


Tentu saja itu hanyalah alasan Odo untuk segera mengakhiri pembicaraan. Ia sangat sadar kalau tatapan Raja Gaiel semakin menyakitkan, seakan-akan menganggap dirinya bukan lagi seorang manusia dan mulai tampak enggan.


Hal tersebut sangatlah wajar. Bagi orang-orang yang mengejar Awal Mula melalui metode Religi dan Pendekatan Teologi, mereka cenderung tampak seperti kehilangan sesuatu dari akal sehat sebagai ganti pengetahuan yang melimpah.


Odo segera menatap ke arah Raja Gaiel, lalu dengan nada datar menyampaikan, “Aku masih waras …. Jangan tatap aku seperti itu, Yang Mulia.”


“Be-Benar juga, tadi juga engkau bisa mengikuti pembicaraan dan bahkan⸻”


Aldrich lekas menoleh ke arah Raja Gaiel, menatap tajam dan membuat sang Penguasa Felixia tersebut terdiam. Untuk beberapa alasan terkait susunan kekuasaan yang ada di Kerajaan Felixia, bahkan untuk seorang seperti Raja Gaiel harus memberikan rasa hormat kepada Pontiff sebagai wakil Dewi setelah sang Ratu.


Karena sekarang posisi Ratu kosong, secara otomatis hierarki tertinggi dari susunan wewenang diduduki oleh Aldrich Ophelia. Meski pun titah yang dikeluarkannya harus dipertimbangkan kembali oleh para Tetua jika itu berkaitan dengan khalayak ataupun berpengaruh besar bagi negeri.


Tanpa sepatah kata pun terucap kepada Raja, Aldrich kembali menatap ke arah Odo dan memastikan, “Bisakah … diriku memegang perkataan tadi?”


“Hmm, tentu saja. Untuk apa aku bohong ….”


“Baiklah …, setelah kembali diriku ini akan berusaha untuk memperluas cara pandang terhadap dunia.” Aldrich berbalik, lalu segera melangkah pergi tanpa memberikan sedikitpun kalimat atau salam kepada orang-orang di tempat tersebut. Sembari melangkah pergi, ia memasang senyum kecil dan kembali menyampaikan, “Semoga ini tidak memakan waktu lama. Diriku paham engkau tak punya banyak waktu, wahai jiwa yang agung.”


Menggantikan perempuan rambut putih tersebut, sang Archbishop segera membungkuk penuh rasa hormat dan berkata, “Yang Mulia, tolong maafkan hal tadi …. Seperti yang Anda tahu, beliau memang selalu seperti itu bahkan sejak kekuasaan Raja sebelumnya.”


“Ti-Tidak apa …. Engkau tidak perlu membungkuk, Tuan Wolnir. Diriku sudah terbiasa dengan hal itu ….”


Raja sampai dibuat bingung harus memasang ekspresi seperti apa. Dalam benak, ia sebenarnya sama sekali tidak paham tujuan dan maksud Aldrich mengajak Odo berbicara. Meski semua orang di tempat tersebut mendengar percakapan mereka berdua, namun tidak semuanya memahami apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Bahkan untuk Wolnir sekalipun sebenarnya hanya memahami beberapa hal saja.


Setelah kedua orang puritan tersebut pergi, Raja Gaiel segera menatap ke arah Odo. Sorot matanya tampak takut, lalu dengan nada sedikit ragu bertanya, “Apa … engkau masih seorang manusia, Odo Luke?”


“Bukan, aku ini dewa.”


“E⸻Eh?! Jangan bercanda seperti itu!”


“Yang Mulia juga tolong jangan bertanya yang aneh-aneh. Anda tahu sendiri kalau aku ini anak tunggal dari Mavis Luke dan Dart Luke, ‘kan?”


Untuk sesaat, Raja Gaiel benar-benar merasa percaya kalau perkataan Odo sebelumnya bukan sekadar gurau. Sempai-sampai membuat jantungnya berdetak kencang dan kehilangan rasa tenang sebagai seorang Raja.


Menatap lurus mata Odo, persepsi sang Raja terhadapnya mulai berubah. Ia merasa Putra Tunggal Keluarga Luk tersebut bukanlah sekadar anak genius dan cerdas biasa, merasa pemuda tersebut memang berada di luar konsep pemahaman yang ada di dunia.


\============


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!