
Tidak ada seseorang yang bisa ahli dalam sesuatu hanya dengan sekali coba. Meskipun ada, orang itu pasti telah memikirkannya berkali-kali atau mengamati kegagalan orang lain sebagai referensi. Berpikir, menyusun strategi dan taktis, lalu melakukan berkali-kali dalam percobaan dan barulah sebuah hasil memuaskan bisa didapat.
Karena itulah, ia berada di tempat itu untuk mengumpulkan semua hal yang diperlukannya. Angin malam bertiup pelan, melewati pepohonan cemara tanpa daun dalam radius beberapa ratus meter di sekitar pemuda itu berdiri. Sorot matanya menatap datar ke arah dua perempuan yang terbaring di atas tanah, sekilas menghela napas ringan dan kembali berjongkok di hadapan mereka.
“Kalau aku bawa mereka dengan pakaian seperti itu, pasti orang-orang di toko bakal sadar mereka ini dari Moloia. Tapi ....”
Sekilas Odo menyipitkan mata, mengamati tubuh kedua perempuan itu dengan teliti. Di balik pakaian militer mereka, dengan jelas dirinya bisa tahu kalau tubuh kedua perempuan tersebut tergolong diberkahi pada bagian kewanitaan. Menggelengkan kepala dan menghapus pikiran kotor dari kepala, ia segera memeriksa kondisi mereka.
Pertama Odo melepas baju Di’in beserta kaos dalam hitamnya, lalu memeriksa luka tembak pada dada kanan dan bahu kanan perempuan rambut cokelat ikat kucir tersebut. Luka pada bahu kanan sudah tertutup, meski masih membekas merah karena tulang masih dalam proses perbaikan posisi serta daging luar baru saja dibentuk ulang. Namun pada bagian dada, luka yang ada cukup parah dan perbaikkan tulang rusuk serta paru-paru berjalan lama.
“Sifat Regenerasi kalau keluar dari tubuhku memang butuh waktu lama. Hmm, apa perlu aku masukan lagi darahku ke tubuhnya?”
Pemuda itu hendak menggigit tangannya sendiri, namun terhenti karena mempertimbangkan beberapa efek samping dari penggunaan cara tersebut. Menurunkan tangan dan memasang ekspresi malas, ia sejenak memikirkan cara lain.
Odo memegang leher Di’in dengan tangan kanan, memeriksa denyut nadi dan kecepatan aliran darah secara manual. Paham kalau perempuan itu masih dalam kondisi kritis dan aliran darahnya sangat tidak teratur, Odo menarik napas dalam-dalam dan bergumam, “Apa dia menggunakan penambah stamina atau booster? Dalam kondisi seperti ini seharusnya tekanan darahnya malah akan rendah, tapi sekarang malah ....”
Odo segera melepas beha hitam milik Di’in yang sebagian sudah rusak dan penuh bercak darah kering. Mengangkat dan melihat pakaian dalam perempuan itu, sekilas Odo menyipitkan mata dan bergumam, “Hmm, proses Koagulasi berjalan lancar. Berarti tidak ada masalah soal manipulasi jumlah Trombositnya ....” Ia membuang itu ke belakang, kembali menatap ke arah Di’in yang tidak sadarkan diri dan mengamati apakah ada luka fatal lain atau tidak.
Sembari duduk bersila, Odo mengulurkan tangan kanan ke samping dan menggunakan kontrol Mana ia menarik Jubah Dimensi yang tergeletak di tanah. Menggelar itu di samping, pemuda rambut hitam tersebut menjentikkan jari dan dengan sendirinya pisau perak keluar dari dimensi penyimpanan pada jubah.
“Apa perlu kuperbaiki supaya tidak cacat—?”
Tiba-tiba ingatan yang Odo dapat dari Raja Iblis Kuno mulai mengapung ke permukaan dengan cepat, gambaran merah terngiang dalam kepala dan membuat tangannya terhenti. Sebuah gambaran ruang operasi dengan organ-organ tubuh diletakkan pada kotak, usus dengan darah yang masih menetes ke lantai, dan beberapa alat bedah berlumur darah diletakkan pada meja. Di tempat tersebut terlihat samar karena kurangnya pencahayaan, tidak ada orang selain pemuda yang berbaring di ranjang bedah dan menjahit perutnya sendiri.
“A—!”
Menutup mulut dan sesaat terdiam setelah melihat gambaran tersebut, Odo memutuskan untuk mengurungkan niat dan tidak melakukan hal yang tak perlu. Ia kembali menyimpan pisau ke dimensi penyimpanan, lalu mengenakan Jubah Dimensi yang sudah berlubang dan beberapa akses ruangnya hilang.
Bangun dan menatap ke arah perempuan satunya, Ra’an. Odo merasa kalau perempuan rambut pirang panjang sebahu itu juga harus diperiksa. Ia melangkahi Di’in, lalu berjongkok di depan Ra’an dan melekaskan baju beserta kaos dalam perempuan itu. Odo sekilas terdiam karena Ra’an tidak mengenakan bra seperti sang atasan, namun saat melihat ukuran dada perempuan rambut pirang itu ia mengangguk paham dan memakluminya.
“Masih bocah, ya? Ukurannya memang tak perlu pakai itu, sih.”
Luka yang diderita Ra’an hanyalah satu luka tembakan, namun itu berada pada tempat vital tepat di dekat tengah dada. Letak itu mengenai paru-paru kanan dan juga dekat dengan jantung, beberapa sentimeter peluru mendarat pada tempat yang salah pasti nyawa Ra’an akan melayang.
Odo memegang dada Ra’an, lalu menggunakan perubahan Mana elektromagnetiknya untuk mendeteksi logam dalam tubuh perempuan rambut pirang tersebut. Alis kanan Odo sedikit berkedut karena mendeteksi sesuatu, ia menghela napas dan bergumam, “Dia tertembak senapan lontak, ya? Jelas saja pelurunya bersarang .... Kekuatan senapan lontak bisa berubah-ubah tergantung bubuk mesiu yang dimasukkan, sih. Kejadian seperti ....”
Odo merasa bingung, luka luar pada dada Ra’an benar-benar tertutup karena manipulasi percepatan koagulasi yang ia lakukan sebelumnya dengan darahnya sendiri. Memegang dagu dan sekilas mengamati, pemuda itu dengan terpaksa harus menggunakan kembali kekuatan manipulasi informasinya pada perempuan itu.
“Yah, meski ini akan sedikit merusak tubuhnya, tapi mau bagaimana lagi .... Daripada dia harus hidup dengan timah bersarang di dekat jantungnya.”
Odo naik ke atas tubuh Ra’an, menarik napas dalam-dalam dan mulai meletakkan kedua telapak tangannya ke dada perempuan itu. Ia mulai menyalurkan Mana ke dalam tubuh perempuan rambut pirang itu, memeriksa kondisi tubuh dan menjaga kinerja organ-organ vitalnya supaya tidak tiba-tiba berhenti saat perubahan informasi.
Menggunakan Aitisal Almaelumat, Odo kembali mengakses darah miliknya yang ada di dalam tubuh Ra’an. Darah tersebut aktif dan kembali dikendalikan pemuda itu, lalu ia segera melakukan perubahan informasi dan mulai memanipulasi aliran darah perempuan rambut pirang tersebut. Meski disebut timah panas, peluru senapan lontak sebagian besar zat pembuatnya adalah besi. Dalam darah zat besi sangatlah diperlukan, berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan meregenerasi sel. Menggunakan dua dasar tersebut, Aitisal Almaelumat yang digunakan Odo berfokus untuk meleburkan bola peluru dalam tubuh Ra’an menjadi zat besi yang bisa diserap tubuh dan menyalurkannya ke pembuluh darah untuk digunakan sebagai pemercepat pemulihan.
Hal itu tidak dilakukan secara langsung karena bisa mengganggu kestabilan tubuh, Odo melakukannya secara bertahap sebari menggunakan zat besi untuk memulihkan kondisi tubuh Ra’an. Setelah lebih dari dua menit, peleburan selesai dan peluru dalam tubuh Ra’an berhasil disalurkan menjadi zat besi ke seluruh tubuh. Mengangkat kedua tangan dari dada perempuan itu, ia segera turun dan sedikit menarik napas lega. Sembari memalingkan pandangan Odo berkata, “Untunglah cepat selesai, sekarang tinggal memakaikan pakaian biasa pada dua orang ini dan membawa mereka ....”
Dari dimensi penyimpanan pada jubah, Odo mengambil dua pasang pakaian yang terdiri dari kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam. Setelah meletakkan salah setelan pakaian ke atas tanah, pemuda itu hendak memakaikannya pada Di’in terlebih dahulu. Ia membuat duduk perempuan rambut cokelat itu, lalu mulai memakaikan kemeja padanya. Dari belakang, pemuda itu memasukan lengan kanan dan bertahap sampai mengancingkan kemeja.
“Hmm, untung ukurannya cukup pas ....” Selesai memakaikan atasan pada Di’in, Odo membaringkan perempuan itu dan sekilas melihat ke arah dadanya karena pada bagian itu terlihat sangat kencang. Menggelengkan kepala, ia bergumam, “Lu-Lukanya tidak masalah, ‘kan?”
Odo kembali berjongkok di dekat Di’in, sekilas terdiam dan bingung caranya melepaskan celana perempuan itu. Menarik napas dan menyingkirkan pikiran kotor dari kepala, ia segera melepaskan kancing celana Di’in dan hendak menurunkan celana perempuan itu. Namun sebelum lepas sepenuhnya, hawa keberadaan yang sebelumnya pemuda itu cemaskan datang.
Duark!!!
Suara benda menghantam permukaan tanah dengan keras terdengar, hembusan angin tercipta dan bebatuan kerikil terpental sampai mengenai kepala Odo meski berada hampir 100 meter dari tempat benda itu jatuh. Saat kepulan debu menghilang, dua sosok yang dengan jelas mengumbar aura kekuatan mereka terlihat.
Fiola terlihat benar-benar melakukan transformasi ke bentuk aslinya sebagai Huli Jing tahap akhir. Rambut putih bagaikan benang sutra yang melayang-layang terkena tekanan aura sihirnya sendiri, kesembilan ekor rubah yang mengembang besar layaknya singgasana sang penguasa Ilahi, dan sekilas kilatan petir putih terpancar darinya. Pada wajahnya terdapat pola garis merah, serta lambang matahari pada kening dan sorot mata yang menyala keemasan dalam kegelapan.
Odo perlahan menoleh, menelan ludah dengan berat dan benar-benar cemas mereka bisa saja salah paham melihat apa yang ada di hadapan. Seorang pemuda yang sedang melepaskan celana seorang perempuan, jika dilihat oleh orang ketiga bisa itu memang bisa menimbulkan kesalahpahaman besar. Ia segera mengangkat tangannya dari celana Di’in, segera bangun dan berkata, “Bu-Bunda ...! Ini tidak seperti yang terlihat, loh! Aku—!”
Mavis dengan cepat mengumpulkan Mana pada telapak tangan kanan dan melakukan peruahan bentuk serta sifat, lalu membuat sebuah tombak trisula yang terbuat dari energi murni dan memancarkan suhu tinggi. Tanpa ragu, Penyihir Cahaya melemparkan itu ke arah Odo dengan niat membunuh yang benar-benar terpancar kuat. Pada waktu yang hampir bersamaan, Fiola juga mengumpulkan Mana pada kedua telapak tangan dan melakukan perubahan sifat serta bentuk untuk menciptakan tombak vajra dengan kilatan petir dewa berwarna putih. Memasang ancang-ancang, ia melemparkannya ke arah Odo tanpa ragu.
“Eh ...?”
Sekilas Odo terkejut melihat kedua orang yang dirinya kenal itu malah melesatkan serangan ke arahnya. Namun saat Spekulasi Persepsi aktif dan paham bahwa apa yang sebenarnya mereka incar adalah Di’in dan Ra’an yang terbaring di dekatnya, pemuda rambut hitam itu langsung meloncat ke arah tombak cahaya yang melesat kencang ke arahnya.
Dalam waktu kurang dari satu detik, Odo melapisi telapak tangan kanannya dengan Mana dan menangkap tombak cahaya bersuhu tinggi tersebut. Sifat pasif Hariq Iliah yang membuatnya bisa kebal terhadap panas menetralkan suhu, lalu dengan memanfaatkan momentum tombak ia berputar di udara. Sembari berputar, ia menyalurkan Mana-nya sendiri ke tombak cahaya dan melakukan perubahan sifat secara paksa dengan menindih informasi ke atas Mana padat berbentuk tombak trisula itu. Petir biru terpancar kuat, kilauannya sampai menerangi tempat tersebut. Menggunakan momentum tombak yang semakin kuat karena berputar di udara, pemuda itu mengayunkan tombak petir di tangannya ke arah Vajra yang melesat. Lalu, sebuah reaksi terjadi—
Tang!! Jdrer!
Petir putih terpencar hancur, bersamaan dengan tombak petir yang dirinya pegang. Sambaran terang mengenai pepohonan, membuat salah satu pohon cemara tumbang dan asap debu kembali tersebar. Setelah memijakkan kaki ke tanah, Odo segera bangun dan berteriak, “Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian ingin—!”
Fiola menerjang kepulan debu, langsung melesat ke arah Odo tanpa melepas wujud Ilahi yang dipakainya. Cahaya rembulan benar-benar memperlihatkan wajah perempuan itu yang dipenuhi nafsu membunuh, sekilas membuat Odo tersentak dan secara refleks sensor motoriknya bereaksi cepat. Pemuda rambut hitam itu mengepalkan tinjunya, memusatkan Mana pada satu titik dan memukul ke arah Fiola.
Karena memang dari awal sasaran Huli Jing tersebut bukanlah Odo, hanya dengan sedikit merendahkan posisi tubuh ia dengan mudah menghindari pukulan yang melayang ke arahnya. Berlari melewati bagian bawah lengan kanan Odo yang terangkat, Fiola kembali mengaktifkan petir putihnya dan hendak menyerang salah satu perempuan yang terbaring tak sadarkan diri di belakang Odo.
“Kau ini ....” Odo langsung memaksakan pergerakan sendi tangan kanan, mencengkeram salah satu ekor Fiola dan memaksanya berhenti. Cakar tajam berlapis petir yang hampir mengoyak leher Di’in terhenti, Huli Jing itu menoleh dengan ekspresi terkejut karena salah satu pangkal ekornya dicengkeram oleh pemuda rambut hitam tersebut.
“Tu-Tuan Odo ...?”
Odo memantapkan kuda-kuda, memegang salah satu ekor Fiola dengan kedua tangannya. Otot tangan serta kakinya mengencang dan dengan segenap kekuatan ia menarik ekor Huli Jing itu, lalu membantingnya ke tanah. Suara benturan dengan keras terdengar, tubuh Fiola membentur kencang permukaan tanah. Namun dampak tersebut diredam berkat kedelapan ekor lainnya, ia segera bangun dibantu ekor-ekornya dan menjaga jarak dari Odo.
“Ke-Kenapa Tuan menyerang saya?” tanya Fiola heran.
Mavis berjalan mendekat sembari menjinjing gaunnya, ikut memasang ekspresi heran bercampur cemas pada putranya tersebut. Tanpa melepas kewaspadaan, wanita rambut pirang tersebut segera menghampiri pemuda rambut hitam itu. Saat Odo melepaskan salah satu ekor yang dicengkeramnya, Mavis segera menggandengnya menjauh dari Di’in dan Ra’an yang tak sadarkan diri.
“Odo, ayo menjauh dari mereka—”
“Apa yang bunda maksud?!” Odo melepaskan paksa gandengan tangan Mavis, menatap bingung dan bertanya, “Kalian kenapa? Main serang seperti itu ....”
“Sudahlah ....” Mavis menggenggam kedua tangan Odo, menarik pemuda itu menjauh dari dua orang perempuan Moloia yang terbaring tidak sadarkan diri.
Mengingat kalau ibunya tersebut tidak suka dengan orang-orang Moloia, Odo mengangguk paham dan patuh melangkah menjauh. Namun saat baru beberapa langkah, ia melihat Fiola kembali menciptakan petir putih dan hendak menghabisi Di’in. Odo langsung melepaskan genggaman ibunya, meloncat ke arah Fiola dan mencekiknya dari belakang dengan lengan kanan.
“Ukh! E-EH?! Tuan Odo ...?” Huli Jing itu benar-benar terlihat bingung, berusaha melepaskan cekikan Odo tanpa melukainya.
“Cepat lepas mode tempurmu! Mbak Fiola!” perintah Odo.
“Eeeh? Kenapa?”
“Cepatlah! Kalau tidak, lehermu benar-benar akan aku patahkan!”
Fiola melepas mode Ilahi dan benar-benar menurunkan tekanan sihir, rambutnya berubah ke warna cokelat kehitaman dan kornea matanya menjadi merah kembali. Ia segera berlutut untuk menurunkan Tuan Mudanya tersebut, lalu berbalik menghadapnya dengan tatapan heran.
“Kenapa Anda melarang saya menghabisi dua orang Moloia itu? Mereka penyusup di wilayah Luke ini, bukan?” tanya Fioal bingung.
Odo menatap kesal, lalu dengan tegas berkata, “Mbak Fiola ini ....”
“Fiola hanya menuruti perintah Bunda, putraku ....”
Mendengar hal itu, Odo menoleh dengan tatapan datar dan merasa kalau rasa takut ibunya pada senjata-senjata orang Moloia sedikit menyusahkan. Menghela napas ringan dan menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu bertanya, “Kenapa Bunda memerintahkan hal seperti itu?”