Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 63 : Aswad 10 of 15 “Unlasting Love” (Part 07)



۞۞۞


Odo kembali ke titik dimana dirinya pertama kali berpindah menggunakan Puddle. Wujud Pseudo-God pemuda itu terlepas, lalu ia pun kembali menjadi manusia secara utuh. Semua ingatan serta sensasi yang diterima semua indra masih tertanam segar dalam raganya, seakan memang semua itu benar-benar telah dilaluinya secara langsung dengan tubuh fisik.


Hembusan angin menerpa wajah, membuat rambut poni pemuda itu sekilas tersingkir dari kening dan terangkat ke atas. Suara gesekan dedaunan menyadarkannya dari lamunan, aliran air di sungai membuat pemuda itu lekas menoleh ke arah seorang Jenderal dari kekaisaran yang siaga di atas batu dengan senjatanya.


Di dalam keheningan hutan tersebut, suara serangga yang ramai mengiringi dan seakan menggema di dalam kepalanya. Kunang-kunang beterbangan menjadi titik-titik sumber cahaya dan penghias tempat. Beberapa bunga morning glory yang ada di pinggiran sungai terlihat kuncup, warna ungu gelapnya sekilas membuat pemuda itu merasa nyaman dan ingin melupakan apa yang telah dirinya lalui sebelumnya.


Tetapi saat menyadari Fai Fengying menyalurkan Mana ke dalam pedang dan bersiap menyerang, Odo secara segera menghadap ke arahnya dan berkata, “Aku menyerah. Bisa kau berhenti?” Perkataan tersebut dilontarkan pemuda itu dengan ekspresi lesu, tubuhnya sedikit sempoyongan dan bibirnya mengering.


Fai terhenti tepat saat hendak meloncat. Rasa sungkan muncul dalam benaknya saat melihat kondisi Odo yang terlihat sama sekali sudah tidak bisa bertarung. Darah mengalir tak henti-henti dari kedua lubang hidung pemuda itu, mata kanannya berubah merah dan juga mengalirkan darah, wajahnya pun benar-benar pucat pasi seperti mayat.


Berdiri sempoyongan, darah pemuda itu menciprat ke pakaian dan rerumputan tempatnya berpijak. Entah Fai Fengying atau pun Kaisar dan Yue Ying, mereka terlihat bingung dan dalam benak bertanya-tanya mengapa pemuda itu tiba-tiba terlihat seperti itu. Kaisar Mao Naraka segera berjalan menghampirinya, mengacuhkan Yue Ying yang berdiri melindungi sang Kaisar.


“Apa itu efek manifestasinya? Engkau baik-baik saja, calon suamiku?”


Melihat gadis berbalut kain tipis itu berjalan mendekat dengan ekspresi benar-benar cemas, Odo memastikan kalau semua orang yang ada di tempat tersebut sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dirinya lalui. Rasa kesal sekilas membuat hati keruh, namun setelahnya lega mulai mengisi karena tak harus membuat gadis menyedihkan tersebut putus asa dengan perkataanya.


“Leben ….” Tubuh pemuda tersebut ambruk ke depan, jatuh ke arah Kaisar dan ikut membuat gadis kecil tersebut ikut terjatuh ke atas rerumputan. Terbaring di atas tubuh sang Deity, dengan kesadaran yang hampir melayang ia berkata, “Jika kau ingin membawaku ke negerimu, terima kenyataan yang ada dalam dirimu. Pahami kenyataan itu, wahai sang Kaisar menyedihkan.”


“Eh?”


Kaisar Mao Naraka terdiam. Apa yang pemuda itu sampaikan sebelum pingsan sangat membuatnya bingung. Caranya memanggilnya dengan nama lama serta apa yang disampaikan terasa begitu tiba-tiba, Namun, apa yang dikatakan pemuda itu tak bisa dirinya abaikan begitu saja.


Tubuh Kaisar gemetar, bersama dengan munculnya sebuah perasaan hangat dalam benaknya. Tanpa dirinya sendiri pahami, Kaisar lekas memeluk tubuh Odo dengan kerat dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Rasa rindu dengan jelas lepas dalam benaknya. Pemuda dalam pelukannya tersebut bagikan sosok yang dari awal memang telah dirinya tunggu-tunggu selama ratusan tahun.


Yue Ying dan Fai Fengying yang melihat itu sempat terkejut dan tak percaya melihat sang Kaisar sampai meneteskan air mata. Kedua Jenderal itu diam di tempat, tak berani memanggil atau mendekat untuk menanyakan rasa penasaran mereka.


Dalam pagi buta menjelang fajar itu, Kaisar kembali menemukan sebuah alasan yang jelas untuk tetap hidup setelah kehilangan sosok Tak Bernama dalam kehidupannya. Itu terasa sama seperti ketika dirinya masih bersama sosok yang bisa dirinya sebut keluarga, rasa selalu di sisinya dan saling melindungi.


Namun di antara semua emosi hangat tersebut, rasa dingin tertinggal dalam dadanya. Bersama hembusan angin, apa yang disampaikan pemuda dalam pelukannya itu terbayang dengan jelas di benak sang Kaisar. Saat berusaha bangun dan mendorong tubuh pemuda itu untuk duduk, darah yang mengalir dari hidungnya menetes pakaian Kaisar dan langsung meresap sampai tubuhnya.


Darah itu berisi rentetan informasi kompleks, membuat Kaisar melihat beberapa kepingan ingatan Odo saat Spekulasi Persepsi hilang kendali. Pada ingatan tersebut, sebuah gambaran informasi yang sengaja ditanamkan Mahia seketika mengisi kepala sang Kaisar.


Sosok Tak Bernama tersebut terlihat di dalam tempat gelap, berbalik menghadap ke arah sang Kaisar dan berkata, “Terima kasih kau selalu memedulikan diriku ini sampai selama ini, Leben.  …. Apa yang kukatakan ini memang egois, namun tolong jaga Ayah untukku. Kumohon, Adinda ….”


Gambaran itu lekas lenyap dari kepalanya, membuat Kaisar sedikit tersentak dan kembali ke kenyataan. Keringat dingin bercucuran, membuat isi kepala Kaisar Mao Naraka terasa begitu ringan dan jernih sampai membuatnya sesaat melamun. Tubuhnya berhenti gemetar, lalu menatap lurus wajah pemuda yang ia pegang kedua sisi bahunya.


Pada saat itu, sang Kaisar memutuskan untuk berhenti terikat dengan masa lalu dan semua hal yang ditinggalkan oleh sosok Tak Bernama. Ia memutuskan untuk menatap masa depan yang ditinggalkan oleh satu-satunya sosok keluarga baginya.


Segera duduk bersimpuh dan kembali memeluk Odo, sang Kaisar dengan suara pelan berbisik, “Baiklah …. Jika itu yang engkau inginkan, akan ku lindungi pemuda ini …. Akan aku jaga baik-baik harapan yang engkau berikan kepada dunia dan diriku ini.”


.


.


.


.


Matahari terbit dari ujung cakrawala di arah timur, semakin meninggi seiring berjalannya waktu dan sinarnya memapar daratan sebagai tanda hari yang cerah. Hembusan angin kuat dari arah laut, membawa udara segar untuk mereka semua makhluk di daratan.


Pada ketinggian beberapa ribu kaki di langit hutan kaki pegunungan Perbatasan, seekor elang putih berukuran raksasa terbang dengan gagah. Kedua sayapnya berwarna abu-abu gelap, mengepak gagah selebar sepuluh meter dan terbang dengan kecepatan mencapai 60 kilometer/jam lebih. Di atas tubuh elang raksasa tersebut, Kaisar bersama kedua Jenderal menungganginya. Sosok elang tersebut adalah makhluk mistis, salah satu Shikigami milik Yue Ying ⸻ Salah satu Jenderal Empat Arah dengan nama kedua Vermilion Bird of South.


Beberapa menit setelah Odo Luke kehilangan kesadaran di tengah hutan, sang Kaisar segera memutuskan untuk membawa pemuda tersebut menuju negerinya. Tanpa menunggunya bangun terlebih dulu, kembali ke kota untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di penginapan atau bahkan mendapat persetujuannya. Jika dilihat dari pihak ketiga, apa yang dilakukan mereka sama saja dengan penculikan.


Awalnya Yue Ying dan Fai Fengying merasa tak setuju dengan keputusan tersebut. Namun mempertimbangkan tujuan awal dan struktur sihir milik pemuda itu yang bisa saja aktif jika dekat dengan bangunan toko miliknya, kedua Jenderal tersebut setuju dengan perintah sang Kaisar.


Yue Ying dan Fai Fengying duduk di bagian leher sang Elang Putih, sedangkan Kaisar Mao Naraka duduk pada bagian tengah tubuh elang raksasa tersebut bersama Odo yang terbaring dalam pangkuannya. Rambut panjang sang Kaisar berkibar kacau tertiup angin kencang, terbentang lebar bagaikan langit malam di pagi hari. Sekilas melirik ke belakang, kedua Jenderal tersebut merasa tak nyaman melihat pemimpin mereka tersenyum lepas dan sesekali cengengesan saat menatap wajah Odo Luke.


Kembali menatap ke depan, Fai Fengying sedikit memasang wajah cema. Kedua alisnya turun dan kening sedikit mengerut. “Menurut Nona Yue Ying … itu bagaimana?” tanyanya diikuti hela napas.


“Bagaimana apanya?” Yue Ying yang duduk di depan Fai ikut kembali menatap ke depan.


Perempuan tersebut sudah tidak lagi menyamar, penampilannya sedikit berbeda dan kalung budak tidak lagi terpasang pada lehernya. Rambut merah darahnya diikat pendek dengan rapi menggunakan sobekan kain pakaiannya sendiri, supaya tak terurai liar ke wajah pria yang duduk di belakangnya.


“Tentu saja soal Odo Luke. Kalau apa yang disampaikan Yang Mulia menjadi kenyataan, berarti dia adalah calon pemimpin kita. Pemuda itu akan menjadi Kaisar selanjutnya.”


Yue Ying sesaat terdiam, memasang ekspresi cemberut penuh rasa kesal. Sorot matanya berubah datar dan menjawab, “Itu terserah Yang Mulia, kita tak bisa memprotes keputusan beliau.”


Meski Kaisar Mao Naraka mendengar apa yang mereka bicarakan karena suara kedua Jenderal tersebut terbawa angin ke arahnya, ia tetap tidak memedulikan hal tersebut dan malah fokus pada Odo yang masih memejamkan mata. Sembari sesekali tersenyum, ia mengelus wajah pemuda itu dan tertawa-tawa kecil.


“Engkau punya wajah yang sangat lembut, tak kusangka. Alismu juga ternyata tidak terlalu tebal dan bulu matamu melengkuk ke atas, mirip seperti perempuan …”


“Bisa kau berhenti melakukannya?” Odo segera membuka kedua matanya dan menatap datar. “Tingkahmu seperti anak remaja yang baru pernah jatuh cinta. Kau tahu, itu agak menjijikkan,” singgung pemuda itu.


Kaisar sedikit terkejut saat pemuda itu tiba-tiba membuka matanya, namun tidak merasa tersinggung mendengar perkataanya. Sembari tersenyum tipis ia bertanya, “Engkau bangun dari tadi?”


“Hmm, lebih tepatnya sepuluh detik setelah tubuhku ambruk. Ternyata kau orang yang seenaknya juga ya, tak kusangka kau akan membawaku langsung seperti ini.”


Kaisar sedikit bingung dengan perkataan tersebut. “Kalau memang sudah kembali sadar dari tadi, lantas kenapa tidak segera bangun dan menolak?” itulah yang ada dalam benak sang Kaisar. Namun saat melihat pemuda itu tak segera bangun dari pangkuan meski telah membuka kedua matanya, ia sadar alasan di balik hal tersebut.


“Engkau tak segera bangun karena efek manifestasi itu, calon suamiku?”


Kening Odo berkedut mendengar cara Kaisar memanggil. Memasang wajah cemberut, ia dengan kesal berkata, “Bisa kau berhenti memanggilku seperti itu? Namaku adalah Odo Luke, jangan seenaknya berasumsi aku akan mau menikah dengan orang yang tak bisa mematuhi prosedur sepertimu.”


“Engkau sebelumnya juga berkata seperti itu saat berada di kota.” Kaisar sedikit membungkukkan tubuh ke depan, menatap pemuda dalam pangkuannya dari dekat dan bertanya, “Memangnya prosedur yang engkau maksud itu apa?”


“Aku adalah anak dari seorang Marquess, kau adalah seorang Kaisar. Wajarnya kalau kau ingin bertemu atau melamar, lakukan dengan adab dan datangi kediamanku dengan aturan resmi.”


“Kalau diriku melakukan itu, apa engkau akan menerima lamaranku?”


“Tentu saja tidak akan.”


Kaisar terdiam dengan ekspresi datar mendengar hal mengesalkan tersebut. Ia mencubit kedua pipi Odo, lalu menggerutu, “Ujungnya sama saja, menyebalkan sekali mulut engkau ini.”


Meski diperlakukan seperti itu, Odo tetap tidak menggerakkan tubuhnya dan hanya melarang secara lisan. Menyadari keanehan tersebut, Kaisar berhenti menarik pipi pemuda itu dan bertanya, “Apa engkau masih lumpuh?”


Odo terdiam sesaat, tak menjawab karena merasa sedikit cemas dengan apa yang akan dilakukan Kaisar saat memastikan hal tersebut. Berusaha menggerakan tangan kanan, pemuda rambut hitam itu mengakses dimensi penyimpanan pada sarung tangan dan mengeluarkan sebuah bola kaca tipis berwarna ungu. Itu secara fisik mirip dengan bola kaca yang dirinya pasang di toko untuk mengeluarkan air kolam kamar mandi, namun tentu dalam struktur sihir sangat berbeda.


Kaisar sempat penasaran pada benda tersebut. Namun sebelum dirinya bertanya, Odo langsung menggenggam bola kaca tersebut sampai pecah dan aliran sihir di dalamnya menjalar melalui tangan ke tubuhnya. Beberapa sirkuit sihir semu tercipta pada tangan kanan Odo, lalu mempercepat kemampuan pemulihannya.


“Kaisar, memangnya apa yang ingin kau lakukan setelah membawaku?” tanya Odo.


“Tentu saja menjadikan engkau suamiku. Engkau adalah harapan yang ditinggalkannya untuk dunia ini dan diriku, aku ingin menjaga engkau seutuhnya.”


Perkataan tersebut sekilas membuat kening Odo mengerut. Memaksa tubuh yang masih lemas untuk bangun, pemuda rambut hitam itu duduk bersila menghadap sang Kaisar. Ia terlihat geram sampai sorot matanya terlihat gelap, lalu dengan tegas berkata, “Seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika kau ingin membawaku ke negerimu, terima kenyataan yang ada dalam dirimu dan pahami itu. Selama kau terus-menerus membantahnya, aku takkan menerimamu.”


“Kenyataan …? Kenyataan apa?” tanya Kaisar dengan nada sedikit cemas.


Dari sorot mata gadis tersebut, Odo tahu kalau memang Kaisar dari awal telah menyadarinya. “Aku tidak akan memberitahukan itu padamu. Jika aku melakukan itu, kau pasti akan murka padaku dan membunuhku saat ini juga,” ujar pemuda itu seraya memalingkan pandangan.


“Mana mungkin diriku melakukan⸻”


“Kau akan melakukannya!” potong Odo dengan tegas. “Kau pasti akan melakukannya. Kau adalah perempuan seperti itu, Leben.”


Saat tubuhnya sudah pulih sampai tingkat tertentu, pemuda rambut hitam itu segera berdiri di atas tubuh sang Elang Putih. Hembusan angin kencang yang menerpa tidak merubuhkan pemuda itu, rambu hitamnya tidak berkibar meski seharusnya angin bertiup kencang ke arahnya, seakan memang udara yang menerpa diserap masuk ke dalam raganya.


Melihat ke bawah, pemuda itu sadar kalau waktu telah berlalu beberapa jam dan sekarang ia terbang di atas hutan pada sebuah daerah dekat dengan Pegunungan Perbatasan. Hijau yang begitu asri, pemandangan pegunungan yang terbentang di arah utara terlihat cukup jelas dari tempatnya berada.


Terpapar sinar matahari fajar, pemuda itu kembali menatap sang Kaisar dan menyampaikan, “Aku ingatkan sekali lagi, pahamilah kenyataan dan terima ini baik-baik. Sebelum semuanya terlambat. Jangan takut untuk tahu, takutlah jika kau hanya diam saja meski bisa mengetahui kebenarannya.”


“Apa yang engkau maksud? Kebenaran? Kebenaran apa?” tanya Kaisar dengan wajah sedikit memucat.


Odo membuka telapak tangannya kirinya ke arah sang Kaisar, mengakses salah satu molekul yang masuk ke dalam tubuh Kaisar bersama darah miliknya. Pada detik itu, beberapa rentetan informasi aktif dan membuat gadis yang terlihat rapuh tersebut melihat beberapa gambaran.


“Tanyakan itu baik-baik pada dirimu sendiri, sekarang jawabannya sudah kau dapat,” ucap pemuda itu seraya melangkah mundur.


Melihat pemuda itu berdiri, Yue Ying dan Fai Fengying di depan segera waspada dan bersiap untuk menangkap Odo jika melakukan gerakan yang bisa membahayakan sang Kaisar. Menyadari aura sihir yang terpancar dari mereka berdua, Odo menoleh ke depan dan bertanya, “Kalau tak salah nama kalian Fai dan Yue, ‘kan? Apa kalian tak masalah langsung pergi seperti ini? Barang-barang kalian masih ada di kota, bukan? Kalian meninggalkan jejak, loh.”


“Anda tak perlu cemas, semua barang-barang itu tak penting dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan status kami,” ucap Yue Ying. Gadis yang sebelumnya berakting sebagai budak itu memasang senyum sinis, lalu dengan nada permusuhan berkata, “Jejak yang kami tinggalkan di kota itu hanya kontak dengan orang-orang di toko milikmu.”


“Kalian tahu, orang yang kalian temui di toko itu salah satunya adalah Arca ⸻ Putra Sulung dari keluarga Rein itu.”


Fai tersentak mendengar hal tersebut. Bagi dirinya yang paham dengan strategi, dalih, prinsip, serta esensi peperangan, perkataan yang dilontarkan pemuda itu tak bisa dirinya abaikan begitu saja. Jika memang yang mengetahui Odo dibawa oleh orang-orang kekaisaran adalah putra dari keluarga dengan pengaruh politik terkuat di Felixia, maka sebuah alasan untuk peperangan bisa dengan mudah dikobarkan.


Bagi kekaisaran yang sedang mengalami perang sipil dan mendapat tekanan dari kerajaan Moloia, mendapat masalah baru dari Felixia benar-benar hal buruk. Menyembunyikan rasa cemas dalam-dalam, Fai sedikit memasang senyum tipis dan bertanya, “Lantas kenapa kalau pemuda itu adalah Putra Sulung keluarga Rein? Anda juga adalah putra dari keluarga Luke, dan itu tak masalah untuk kami.”


Odo meletakkan tangan ke dagu, lalu sembari menatap datar berkata, “Jadi kalian tak masalah kalau harus berakhir seperti tikus yang terjebak dari tiga arah sekaligus, ya?


“Soal perang sipil, Anda tak perlu menghitungnya. Perang akan selesai akhir tahun ini dan hanya tinggal Moloia musuh bebuyutan kami,” sambung Yue Ying.


“Bukan itu ….” Odo menurunkan tangan dari dagu. Sedikit memiringkan kepala dan memasang seringai gelap, ia menyampaikan, “Kalian benar-benar terjebak dari tiga arah, loh. Kerajaan Moloia dan kota Miquator, lalu kalau membawaku berarti ditambah Felixia.”


“Miquator? Kenapa wilayah netral itu ….” Fai Fengying  terkejut mendengar negeri para Penyihir tersebut tiba-tiba masuk dalam pembicaraan.


“Ibuku adalah Mavis Luke. Kalian seharusnya tahu kalau Mavis adalah Penyihir Cahaya yang dikenal dan diakui sebagai anak oleh Penyihir Agung sekaligus pemimpin Kota Akademi Sihir tersebut, ‘kan? Dengan kata lain, aku cucu dari Penyihir Agung itu. Kira-kira … apa mereka akan membiarkanku begitu saja dibawa oleh kalian?”


Apa yang Odo katakan hanyalah gertakan, untuk mengulur waktu dan membuat Fai Fengying dan Yue Ying memikirkan kembali keputusan sang Kaisar untuk membawanya. Merasa apa yang disampaikan itu benar-benar tepat, Fai menggertakkan giginya dan ekspresi cemas tampak jelas pada wajahnya.


“Kamu pikir kami akan mempercayai perkataan itu?” ucap Yue Ying dengan nada kesal.


“Kalian tahu, aku sedang berbaik hati mengatakannya di sini. Kalau diriku tetap diam dan baru bicara saat sampai di kekaisaran, bisa dipastikan itu sudah terlambat.” Odo berhenti menyeringai. Memasang ekspresi tak peduli dan sedikit memalingkan wajah, pemuda itu menghasut, “Saat kalian diserang dari berbagai arah, kira-kira rakyat kalian akan mengungsi ke mana, ya?”


Provokasi Odo benar-benar membuat Yue Ying naik pitam. “Kau hanya membual! Jangan menganggap dunia berputar hanya di sekitarmu, dasar bocah!” bentak perempuan rambut merah tersebut.


Mendengar itu, Odo tertawa ringan dan kembali menatap ke arah kedua Jenderal tersebut. Berbeda dengan apa yang dirasakan Yue Ying, dengan jelas Fai terlihat mempercayai gertakan yang Odo berikan. Sebuah fakta bahwa kekaisaran dalam kondisi tak boleh mencari masalah lagi dengan negeri lain membuat Fai harus percaya. Sebagai seorang Jenderal yang sering berada di garis depan peperangan, menambah musuh adalah sesuatu yang tak diharapkannya.


“Kenapa Tuan Odo mengatakan itu di sini? Anda bisa saja membiarkan kami begitu saja. Jika kekaisaran diserang dari berbagai arah sebelum bisa memulihkan kondisi setelah perang sipil, kami pasti akan kalah.”


“Aku tak mengharapkan peperangan,” jawab Odo dengan ringannya. Pemuda itu sekilas mengangkat kedua sisi pundak, lalu memasang ekspresi muram dan kembali berkata, “Aku benci perang. Aku benci pertumpahan darah. Aku benci pembunuhan tak berarti. Saat kau merebut nyawa seseorang, seharusnya kau juga sadar bertapa berharganya nyawa itu, ‘kan? Atau kau membuang rasa itu dan terus membunuh tanpa mempertimbangkannya?”


Fai Fengying terdiam. Ia mengerti Odo Luke bukanlah lelaki yang lebih mengutamakan harga diri dibandingkan nyawa, sedikit berbeda dengan sifat para bangsawan kerajaan Felixia yang cenderung menghargai kehormatan jauh lebih tinggi daripada nyawa rakyatnya atau bahkan nyawanya sendiri.


“Meski kau berkata seperti itu, kami tak punya pilihan untuk menurunkanmu. Membawamu ke negeri kami adalah keputusan Yang Mulia dan itu mutlak,” jelas Fai.


Odo selesai mengulur waktu dengan pembicaraan tersebut. Sebagian kecil struktur pada tangan kanannya bisa digunakan untuk menggunakan sihir dan tubuhnya pulih sampai tingkat dimana dirinya bisa menggerakan seluruh bagian tubuh dengan normal. Kembali menatap ke arah sang Kaisar, pemuda itu tersenyum tipis sebagai tanda perpisahan.


“Penuhi dulu perkataanku sebelumnya, Leben. Jika kau sudah memahami semua itu dan tetap memiliki perasaan tersebut, temuilah aku lagi.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Odo segera memasang ancang-ancang dan langsung meloncat ke samping. Ia keluar dari atas tubuh Elang Putih yang melesat dengan kecepatan tinggi, langsung tertinggal di belakang dan jatuh ke bawah.


Yue Ying dan Fai Fengying dengan panik bangun, hendak mengejar pemuda yang meloncat terjun dari ketinggian lebih dari lima ribu kaki tersebut.


“Tak perlu dikejar,” ucap sang Kaisar.


Itu menghentikan mereka, membuat kedua Jenderal tersebut sekilas heran. Namun pada saat yang sama, mereka merasa lega karena pemuda rambut hitam itu benar-benar pergi tanpa membawa masalah. Meski tujuan perjalanan mereka tak tercapai, namun bagi Kaisar dan kedua Jenderal tersebut ada sesuatu yang bisa didapat.


Hal itu merupakan sesuatu yang berharga bagi sang Kaisar. Menyadarkan gadis itu bahwa cara hidupnya selama ini penuh kesalahan dan hanya berpaling dari kenyataan. Bagi kedua jenderal tersebut, mereka belajar fakta bahwa di luar negeri mereka ada orang semacam Odo yang meski kuat dan memiliki status namun masih memegang teguh kode moralnya sendiri.


Odo melayang jatuh dengan wajah menghadap ke atas, melihat pemandangan Elang Raksasa semakin mengecil dan langit biru yang terbentang luas. Kedua mata pemuda itu terbuka lebar, dalam ekspresi wajah penuh kehampaan dan kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Mahia.


Merasa muak dengan semua masalah yang ada, pemuda itu membunyikan lidah dan segera memejamkan mata. Kedua tangannya terlentang, dalam benak merasa kalau kematian memang bisa menjadi sebuah bentuk keselamatan baginya. Kembali membuka mata, pemuda itu bergumam, “Sampai kapan kalian memaksa ku tetap hidup? Apa kalian tidak bisa mencari jiwa lain untuk diandalkan? Kenapa kalian selalu mendambakan cahaya dari masa lalu yang sudah redup ini? Sadarilah, wahai dunia. Masa lalu hanya ada untuk membangun masa kini, bukan masa depan.”


\====================


Catatan :


Nope …..