
Peringatan : CH kali ini sangat panjang, saya sarankan untuk menyediakan waktu dan stamina dulu sebelum membaca.
\==================================================
Ketika matahari tenggelam sepenuhnya di ujung cakrawala, sebuah tirai hitam berhiaskan gugusan bintang digelar menutupi langit kemerahan. Angin darat bertiup ke arah laut, melewati sela-sela bangunan di kota pesisir untuk sampai ke teluk dan pergi ke laut lepas. Keramaian tak kunjung pudar dari kota Mylta, kesunyian yang biasa singgah pada setiap malam selama beberapa dekade terakhir seakan enggan untuk mampir sejenak ke tempat tersebut.
Pada jalan utama distrik perniagaan, Odo Luke melangkahkan kakinya sembari melihat ke kanan dan kiri. Memasang senyum tipis, menyembunyikan dirinya di bawah bayangan-bayangan yang tercipta dari lampu kristal serta obor pada beberapa sudut jalan.
Meski malam telah datang, keramaian pada salah satu pusat perekonomian kota Mylta tersebut masih belum pudar. Di antara gemerlap lentera serta lampu kristal yang ada, beberapa kedai dan toko terlihat masih membuka pintu untuk menerima pelanggan sampai pukul sembilan malam nanti.
Terus melangkahkan kakinya, pemuda itu sampai pada bagian pasar yang tepat berbatasan dengan pintu masuk distrik. Tempat tersebut dipenuhi kios-kios kecil dan ada beberapa gerobak yang terparkir di luar, semua tempat tersebut sudah tutup karena memang waktu operasional pasar lebih pendek daripada toko-toko yang bisa buka sampai malam.
Kembali melihat sekeliling dan mengamati kios serta gang-gang yang ada di sepanjang jalan, Odo menemukan banyak imigran gelap yang sedang menongkrong. Gerobak, meja kios, gang sempit, tempat-tempat semacam itu menjadi rumah mereka ketika malam datang. Pakaian kumuh dan sobek-sobek, penampilan urakan dan aroma tak sedap sangat melekat dalam gambaran para gelandangan seperti mereka.
Ketika Odo menatap ke arah Imigran Gelap yang kebanyakan Demi-human, mereka menatap balik dengan sorot mata tak suka dan terasa sedikit pancaran kebencian. Mata para Demi-human tersebut seakan bersinar dalam kegelapan, layaknya hewan-hewan nokturnal yang sedang berburu di malam hari.
Saat pagi orang-orang seperti memang mereka terlihat seperti buruh kasar biasa. Namun ketika malam, perbedaan status sosial dan ekonomi akan nampak sangat jelas seperti sekarang. Orang-orang yang bisa menikmati perkembangan dan orang-orang yang hanya diperas tenaganya dalam perkembangan tersebut. Odo tak melempar senyum atau mengasihani mereka, hanya mengamati dan memikirkan cara untuk mengurangi orang-orang bernasib seperti itu.
“Kalau dilihat-lihat lagi, memang banyak juga. Sejauh ini sudah 20 lebih ..., kebanyakan dari mereka adalah Imigran Gelap dari Ungea — Para Demi-human yang dulunya budak.”
Menghela napas sekali, pemuda itu kembali menatap ke depan. Di dekat pintu masuk distrik, terlihat beberapa Imigran Gelap berkumpul ramai dan sedang membicarakan sesuatu. Kebanyakan dari mereka juga adalah Demi-human, hanya ada beberapa manusia murni di antara mereka. Saat melihat Totto berdiri menjadi pusat kerumunan kecil tersebut, dengan segera Odo tahu kalau pegawainya itu sedang mengerjakan tugas yang dipercayakan kepadanya.
“Kau tidak membohongi kami, ‘kan? Yakin ada yang mau beli daun jati beginian? Meski dibuat kerajinan begini, tetap saja ini wadah biasa. Tak ada hal khusus, semua orang bisa membuatnya,” ucap salah satu pria di antara kerumunan tersebut.
Ia memegang sebuah wadah daun jati yang sebelumnya toko Ordoxi Nigrum gunakan tadi siang, bersama orang-orang dalam kerumunan mengamatinya dengan heran kalau barang semacam limbah seperti itu bisa dijual.
“Ya, memang.” Otto mengacungkan jarinya ke depan, lalu sembari meniru cara Odo berbicara ia mulai menjelaskan, “Kebanyakan pedagang di sini pasti membuat wadah sendiri untuk makanan yang mereka jual. Tapi bosku tak punya waktu untuk mengurus itu, kami juga kekurangan tenaga. Karena itu, aku mau kalian membuat wadah daun jati ini dan nanti akan kami beli. Lumayan bisa untuk tambah uang kalian, ‘kan?”
Mereka mulai memikirkan hal tersebut. Meski sekarang sedang masa progresif kota dan pekerja kasar dibutuhkan untuk membantu dalam beberapa aspek perekonomian, namun saat malam datang kebanyakan gelandangan tersebut akan menganggur. Penghasilan mereka saat pagi juga tak terlalu memuaskan, karena hanya cukup untuk makan saja sebab harga-harga juga mulai naik seiring dengan meningkatnya jumlah barang yang ditawarkan. Sesuai dengan hukum Kurva Penawaran.
“Eng, baiklah.” Salah satu di antara mereka setuju dengan cepat, ia adalah salah satu manusia di antara para Demi-human tersebut. Sembari menatap ke arah Otto pria rambut cokelatt kusam itu kembali berkata, “Sekarang aku akan percaya dulu. Apapun itu, aku sedang butuh uang untuk keluargaku.”
“Oi! Kau yakin percaya nih orang?”Gelandangan di sebelahnya yang merupakan seorang Demi-human tipe kucing terlihat tak setuju, pria kucing tersebut mengerutkan kening dan ekor panjangnya berdiri tegak. Menunjuk ke arah Otto, pria kucing itu berkata, “Dia utang ke kamu juga belum dibayar, loh.”
Menatap ke arah pria kucing tersebut, pria yang setuju membalas, “Kamu juga utang ke aku dan belum bayar, loh.”
Ekor pria kucing itu langsung lemas, memalingkan pandangan dan dengan suara pelan mengakui, “Iya, sih ....”
“Ini lumayan kalau benar-benar dapat upah, tahu!” ucap pria rambut cokelat kusam tersebut.
“Memang benar, sih.”
Mendengar pembicaraan mereka, Otto sempat deg-degan dan cemas orang-orang tersebut bubar tanpa ada yang ikut tawarannya. Mengingat saran Odo untuk tetap tenang saat menawarkan sesuatu, Otto segera menarik napas dalam-dalam dan kembali menawarkan, “Gimana yang lainnya? Tertarik ikut dengan bisnis kecil ini?”
Mereka mulai berbincang tentang tawaran tersebut. Sebagian besar orang terlihat tak percaya dan pergi, mencemooh dengan nada kasar dan benar-benar tak percaya. Kebayakan gelandangan menganggap itu salah satu tipu daya lain dari para pedagang yang hanya ingin memanfaatkan orang-orang seperti mereka, para Imigran Gelap yang tak bisa menuntut secara hukum karena penipuan atau membuat perjanjian kerja yang resmi. Namun dari lebih 15 orang pria yang berkumpul, masih ada lima orang yang tak bergerak dari tempat dan terlihat ingin mencoba tawaran tersebut.
“Begitu, ya. Hanya segini saja.”
Otto sedikit terkejut kebanyakan orang-orang yang dirinya kenal tidak mempercayai perkataannya seperti itu. Menatap kelima orang yang masih tersisa, Demi-human tipe garbil tersebut kembali mengangkat jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Kalau begitu, bisa aku minta tolong kalian sekarang juga untuk mengambil daun jati dan membuatnya? Tak perlu kalian sendiri yang mengerjakannya, minta bantuan pada anggota kalian juga tak masalah. Bosku malah menyarankan yang mengerjakan itu lebih baik perempuan, mereka lebih telaten. Anak-anak juga tak masalah.”
Kelima pria yang terdiri dari empat Demi-human dan satu manusia tersebut saling menatap satu sama lain, merasa sedikit heran dengan saran semacam itu. Satu-satunya manusia di antar mereka menatap ke arah Otto, lalu dengan penasaran bertanya, “Yah, kami semua punya anggota keluarga perempuan. Memangnya kenapa?”
“Bosku ingin memberi para pria pekerjaan lain,” ucap Otto.
Mereka sempat heran dan kembali saling menatap dengan bingung. Namun saat mereka mengamati apa yang dikenakan Otto sekarang terlihat sangat rapi, orang-orang itu muai mengerti dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi pada Demi-human tipe garbil tersebut dan keluarganya.
“Kau dipekerjakan oleh konglomerat, ya?” tanya salah satu pria di antara mereka.
“Yah, kurang lebih. Beliau orang yang baik, kok. Meski kadang-kadang aku sendiri tak tahu apa yang ia bicarakan, sih.” Menatap mereka satu persatu, Otto memasang senyum ramah dan kembali menjelaskan, “Kalau kalian ingin dipekerjakan di sana, buat wadah daun jati itu minimal sebanyak 500 buah dan harus selesai besok pagi. Sebelum jam enam!”
“Gak mungkin selesai besok, ini mah gak masuk akal.”
“Walah! Ujung-ujungnya diperas, nih!”
“Iya! Kalau kurang, nanti bilangnya gak mau beli tapi barangnya diambil! Aku pernah dimanfaatkan kayak gitu!”
Otto menurunkan jari telunjuknya dan mulai memasang senyum ringan, lalu dengan suara ramah kembali berkata, “Bukan per orang 500 buah, tapi kalian semua harus mengumpulkan 500 buah. Berarti setiap orang hanya 100 wadah saja, boleh minta bantuan ke keluarga kalian. Setiap 100 buah, akan dinilai satu koin perunggu.”
Mereka kembali memikirkan tawaran tersebut dan tak terbawa emosi. Saling menatap dan memperhitungkan jumlahnya yang tak terlalu berat dikerjakan bersama keluarga, kelima pria itu merasa 100 buah dalam satu malam bukanlah hal yang mustahil.
“Eng, kurasa tak terlalu berat,” ucap pria kucing.
Berbeda dengan para Demi-human lain, pria rambut cokelat kusam lebih penasaran pada jumlah upah dan bertanya, “Itu koin perunggu apa? Kalau untuk kerajinan daun jati seperti di tanganku ini, berarti perunggu kecil, ‘kan?”
“Enggak.” Otto menggelengkan kepala, mengambil koin perunggu besar dari saku celana dan sembari menunjukkannya ia berkata, “Upahnya satu koin perunggu besar. Berarti per 10 buah wadah, akan dibeli seharga 1 Rupl. Namun, tentu saja ada standarnya. Kalau tidak layak pakai, kami tidak akan membelinya.”
Mendengar itu mereka sekilas terdiam, kembali memikirkannya baik-baik tawaran dengan bayaran yang bisa dikatakan lumayan untuk mereka. Tanpa menunda jawaban lama-lama, kelima orang tersebut memutuskan untuk setuju dalam benak. Upah mereka rata-rata dalam satu minggu hanyalah sekitar 20 Rupl dan paling banyak 50 Rupl saja. Meski kota sedang ramai, penghasilan mereka hanya bisa mencapai 70 Rupl saja dan itu pun tidak menentu. Uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membeli roti kering yang tak layak untuk makan saja.
Meski tidak bisa berhitung, mereka semua tahu upah satu koin perunggu untuk 100 buah wadah daun jati itu sangatlah cukup. Tanpa memikirkannya lama-lama, kelima orang tersebut menyetujui tawaran Otto. Sebagai perwakilan mereka, pria rambut cokelat kusam memberi jawaban, “Baiklah! Kami ikut! Di mana bisa mencari daunnya? Kau akan memberikan contohnya ini pada kami, ‘kan?”
“Tentu, itu untuk contoh.” Otto menarik napas lega mendengar hal tersebut. Memasang senyum dengan wajah sedikit pucat, ia memberitahukan, “Kalian bisa mencarinya di hutan jati dekat kota, di bagian mulut hutannya saja. Di dekat tempat para pedagang dari luar memarkir kereta mereka. Di saja juga ada penjaga dan ramai kok, jadi kurasa tak perlu cemas ada monster. Kalian juga bisa mencuci dulu daunnya di kanal yang ada di dekat situ.”
Odo yang mengamati dan mendengar pembicaraan mereka dari jauh hanya memasang senyum simpul, memalingkan pandangan dan kembali melangkahkan kaki. Sembari menarik napas lega, pemuda rambut hitam tersebut bergumam, “Berarti besok tiap menu makanan hanya akan naik satu koin perunggu kecil, ya. Leganya tak perlu menaikan harga dasar sampai 50% lebih.”
Odo tak menghampiri Otto atau menyapanya, Demi-human tersebut juga tak menyadari pemuda rambut hitam itu ada di dekatnya. Segera mempercepat langkah kakinya, Odo Luke pergi dari distrik perniagaan dan melanjutkan perjalanannya menuju balai kota. Sembari melihat ke kanan dan kiri jalan, pemuda rambut hitam tersebut sempat berhenti di persimpangan jalan dan sekilas melihat ke arah Gereja Utama yang terletak di atas bukit yang tak terlalu tinggi.
“Pembaptisan, ya? Hal semacam itu bahkan disalin olehnya ke dunia ini, padahal dirinya sendiri seorang Ilmuwan Ateis,” gumam pemuda itu seraya kembali melihat ke depan dan melangkah.
Saat dirinya sampai di balai kota, keramaian orang-orang di tempat tersebut sekilas membuatnya sedikit terkejut. Itu benar-benar berbeda dengan malam kemarin, lebih ramai dan banyak orang yang berasal dari luar kota masih lalu-lalang. Bahkan beberapa orang dengan pakaian Hanfu masih terlihat berjalan di sekitar kolam pancuran, menikmati angin malam di pusat kota pesisir.
Untuk sekian kalinya, langkah Odo kembali terhenti dan tatapannya terpusat pada seseorang dalam rombongan kecil orang-orang dari kekaisaran. Mereka berdiri di dekat air mancur kota, dengan pusat seorang pria tinggi besar yang mengenakan Hanfu empat lapis berwarna dominan merah kirmizi dengan kain panjang sampai terseret di jalan. Beberapa pernik logam mulia seperti kalung dan gelang melekat padanya, berbumbukan batu mulia seperti Giok dan dan Ruby.
Rambut hitam panjang pria itu diikat kucir ke belakang, membawa kipas berwarna merah kirmizi dan dijaga oleh tiga orang ahli bela diri yang mengenakan pakaian Changshan sebagai pengawalnya. Tak ada satu pun orang yang berani mendekat atau menyapa, bahkan untuk sesama orang kekaisaran yang ada di balai kota.
Namun bukan pria tersebut yang benar-benar menarik perhatian Odo, melainkan dua orang gadis di belakang mereka yang dirantai lehernya. Dalam sekali lihat Odo langsung tahu kalau dua gadis tersebut adalah seorang budak ****, dikhususkan untuk memuaskan hasrat duniawi pemilik mereka. Meski didandani dengan sangat indah dengan pakaian tradisional Hanfu dengan dominan warna merah darah yang berjumbai-jumbai dan pernik perhiasan indah di tubuh mereka, rantai pada leher kedua gadis itu membuat setiap orang yang melihat segera menjaga jarak.
Bagi kerajaan Felixia yang melarang perbudakan sejak Raja Gaiel naik tahta, pemandangan seperti itu sangatlah jarang terlihat dan memang seharusnya seorang pedagang tidak diperbolehkan membawa budak saat datang ke Felixia. Odo sedikit memalingkan pandangan, lalu dengan suara pelan bergumam, “Larangan perbudakan seharusnya juga berlaku untuk pedagang dari luar negeri. Meski ada pedagang yang nekat membawa budak untuk tenaga kerja supaya lebih hemat, tapi kurasa tak ada yang berani terang-terangan seperti itu. Ah—!”
Kesimpulan dengan cepat Odo dapatkan, kembali menatap ke arah mereka dan sejenak menarik napas dalam-dalam. Pedagang dari luar memang harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh pemerintah Felixia, namun hal tersebut bisa tak berlaku untuk para bangsawan atau pejabat tinggi dari negeri lain. Dengan kata lain, pria yang jalan-jalan di tengah kota dan pamer budak terbaiknya itu bukanlah pedagang.
“Seorang bangsawan?” Odo kembali melangkahkan kaki, berhenti menatap ke arah mereka yang ada di sekitar air mancur dan kembali bergumam, “Kurasa bukan, kekaisaran sedang sibuk dengan perang sipil sekarang. Dari pakaiannya, dia seorang militan? Perwira? Dari pihak mana? Dari kubu revolusioner atau sang Kaisar?”
Di tengah gumamnya tersebut, dari arah salah satu kantor pemerintahan seseorang memanggil, “Tuan Odo!” Sentak itu membuat pemuda rambut hitam tersebut menoleh, menatap datar ke arah perempuan rambut merah yang meneriakkan namanya di pusat kota. Sekilas Odo melirik ke arah rombongan dari kekaisaran, mengawasi reaksi mereka saat nama Odo dari keluarga Luke diteriakkan oleh seorang Pengganti Walikota.
Pria dengan pakaian Hanfu empat lapis terlihat membisikkan sesuatu kepada para pengawalnya, lalu para ahli bala diri tersebut ikut melihat ke kanan dan kiri seperti sedang mencari orang yang diteriakkan tersebut. Odo segera menatap ke arah Lisia, meletakkan jarinya ke depan mulut dan menatap perempuan rambut merah itu dengan tatapan tajam.
Sebelum orang-orang dari kekaisaran itu menyadari keberadaan Odo yang berdiri di antara lalu-lalang banyak orang, ia dengan cepat berbaur dalam aliran kerumunan dan tetap memberi isyarat pada Lisia untuk diam. Mendekati perempuan rambut merah itu dengan hati-hati, ia segera menggandengnya ke dalam kerumunan dan mengambil sebuah jubah dari dimensi penyimpanan pada sarung tangannya untuk menutupi kepala Lisia. Supaya warna rambut mencoloknya itu tidak disadari mereka.
Sembari berjalan mengikuti pemuda rambut hitam yang menggandengnya dalam kerumunan tersebut, Lisia dengan suara pelan bertanya, “Ada apa, Tuan Odo? Kenapa mengendap-endap seperti ini?”
“Kau ingin bicara denganku, ‘kan? Kita ganti tempat dulu, aku jelaskan alasannya nanti saja. Sekarang kita pergi dulu dari balai kota ini,” jawab Odo seraya tetap waspada dan berjalan dengan hati-hati di dalam keramaian.
Namun sebelum keluar dari balai kota, orang yang tidak diduga menepuk pundak Odo dari samping dan menghentikannya bersama Lisia. Menoleh ke arah pemuda rambut pirang tersebut, seketika mimik wajah Odo berubah kesal. Arca yang baru saja menyelesaikan urusannya kebetulan lewat bersama dengan Aprilo, lalu di sebelah mereka ada juga pelayan pribadi sang Eksekutif Serikat Dagang tersebut dan dua rekannya.
“Kenapa kalian mengendap-endap begitu? Memangnya habis mengutil, ya?” gurau Arca sembari melingkarkan tangan kanannya ke leher Odo. Dengan nada penuh rasa percaya diri dan terlihat begitu puas, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut berbisik, “Dengar kabar baik ini, Odo. Semuanya berjalan lancar, loh. Lebih dari setengah nelayan mau menerima tawaran kami. Pedagang yang mau kerja sama dengan kami pun sudah ada. Tinggal masalah waktu kita akan berhasil menguasai pelabuhan dan menyingkirkan pengaruh pedagang luar.”
“Hmm, kerja bagus. Aku sungguh senang mendengarnya.” Sembari berusaha kembali melangkah dan melepaskan diri dari Arca, pemuda rambut hitam itu memberi saran, “Jangan lupa kalau nanti pihak pemerintahan bisa saja ikut campur. Jangan bertindak berlebihan, bangun relasi dengan hati-hati. Orang dari kekaisaran itu juga bisa saja berkhianat, mereka ikut rencana karena sekarang kalian lebih unggul.”