Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 53 : Ordoxi Nigrum (Part 03)



Gerbang Utama Kota Pesisir. Tak jauh berbeda seperti beberapa hari lalu sejak rute perdagangan telah benar-benar terbuka, pusat transit dan pendataan visa masuk kota tersebut terlihat ramai dengan para pendatang yang kebanyakan terdiri dari pedagang. Di antara mereka terlihat juga beberapa pelancong dari kota dan negeri tetangga, namun mereka datang bukan untuk berlibur melainkan lebih seperti melakukan survei terhadap kota yang mengalami progresif pesat tersebut.


 


 


Odo ikut antre di barisan yang terpisah dengan para pedagang, tepatnya di bagian untuk orang-orang berwarga negara Felixia yang ingin masuk ke dalam kota tanpa harus menggunakan visa mahal. Setiap kota memang menggunakan sistem seperti itu, pajak masuk ke dalam sebuah wilayah otonomi memerlukan biaya khusus untuk pembayaran infrastruktur umum yang ada di dalamnya.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut tentu saja melakukan sedikit penyamaran seperti apa yang dilakukan Mavis, itu dirinya lakukan karena mempertimbangkan duel yang sebelumnya dilakukan dengan Arca dan ditonton oleh banyak orang. Ia menggunakan sihir Mimik, sihir yang dipakai untuk melakukan manipulasi cahaya dan mengubah penampilan penggunanya secara visual. Sekarang Odo terlihat seperti pria paruh baya berambut hitam, dengan jenggot tipis dan mata lesu.


 


 


Dalam barisan, Odo dan Mavis sekilas mengamati kumpulan pedagang dari kekaisaran yang sedang mengawasi pembongkaran muatan dari gerobak ke atas kereta kuda. Melihat hal tersebut Odo merasa kalau memang hasil laut yang ada benar-benar dieksploitasi oleh pihak luar dan pemerintah Mylta masih belum menangani hal tersebut. Berusaha tidak memedulikan hal tersebut untuk sekarang, pemuda dengan jubah hitam itu menggandeng erat perempuan yang menemaninya dan sekilas memasang ekspresi datar.


 


 


“Odo ...?”


 


 


“Menurut Bunda, adil itu seperti apa? Apa dengan memberikan kesetaraan itu sudah dianggap adil?”


 


 


“Bukannya setara itu adil?”


 


 


Mendengar itu Odo sekilas melirik, dengan sorot mata kosong dan terlihat begitu gelap. Sembari kembali menatap para pedagang yang berasal dari kekaisaran, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Kalau begitu, apa bangsawan mau hidup setara dengan rakyat jelata? Meski mereka telah bekerja keras dengan sesuatu yang hanya bisa dikerjakan oleh mereka? Apa pedagang rela tinggal di rumah gubuk seperti petani? Meski mereka telah berpikir keras untuk mengumpulkan kekayaan?”


 


 


“Itu ....”


 


 


Mavis sekilas terdiam, tidak bisa menjawab hal tersebut karena memang kesetaraan bukanlah hal yang adil. Dibuat sama rata adalah sebuah kejahatan, itu sama saja membuat usaha yang dilakukan seseorang tidak dihargai karena apa yang didapat akan sama rata dengan mereka yang tidak berusaha. Menatap pemuda yang menggandengnya, wanita dengan paras remaja itu bertanya, “Lalu apa yang kau anggap adil?”


 


 


“Kompensasi sesuai dengan kontribusi, itulah adil.”


 


 


Jawaban tersebut sekilas tidak dimengerti Mavis. Sebelum dirinya bertanya kembali, giliran mereka untuk menunjukkan surat tanda penduduk datang. Segera Odo melepaskan tangan Mavis dan berjalan ke arah penjaga yang ada pada pos. Pemuda itu merogoh jubah dimensi untuk mengambil perkamen. Dengan gerakan natural tanpa membuat kecurigaan karena mengambil itu dari dimensi penyimpanan, pemuda itu menyerahkan surat tersebut untuk diperiksa.


 


 


Penjaga yang berada di depan pos jaga gerbang itu segera duduk untuk mencatat daftar keluar masuk kota, membuat arsip untuk visa dan beberapa hal lainnya. Sembari menunggu, Odo sekilas melirik kecil wanita yang berdiri di sebelahnya. Namun saat Mavis hendak bertanya pada pemuda itu, ia malah memalingkan pandangan dan itu membuat wanita tersebut tertegun.


 


 


Penjaga selesai memasukan arsip awal. Bangun dan menatap ramah, pria berambut cokelat tersebut mengembalikan surat sembari berkata, “Ini surat Anda yang sudah kami periksa. Meski anda kelahiran kota Mylta, namun sekarang anda tinggal pada desa di luar kota. Menurut pembaharuan peraturan, anda terkena biaya masuk. Perempuan di belakang ..., dia keluarga anda, bukan?”


 


 


“Iya ....”


 


 


Sekilas penjaga tersebut terlihat ragu dan seperti kenal pemuda serta perempuan yang ada di hadapannya tersebut, ingin bertanya-tanya lebih lanjut terkait hal tersebut. Namun saat melihat antrean yang masih panjang, penjaga itu fokus pada pekerjaan dan menanyakan, “Berapa hari anda ingin berada di kota?”


 


 


“Untuk sekarang satu minggu dulu, untuk dua orang.”


 


 


“Biayanya dua koin perak kecil ....”


 


 


Odo merogoh saku celana dan mengambil koin perak kecil, lalu menyerahkan itu kepada penjaga.  Setelah mencatat nama dan waktu berlaku visa, penjaga itu memberikan papan kayu sebesar domino kecil dengan ukiran nomor di atasnya. Itu adalah tanda visa, sedangkan data tentang durasi kunjungan ada pada arsip petugas tersebut.


 


 


Saat seseorang melewati tenggang waktu, biasanya penjaga atau petugas akan mendatanginya untuk menagih perpanjangan. Saat seseorang tidak bisa melakukan perpanjangan, pihak kota biasanya langsung mengusir orang tersebut keluar kota dan memasukkannya ke daftar hitam. Dalam keringanan, penalti yang diberikan hanya berupa paksaan untuk bekerja sebagai buruh kasar pemerintahan dalam beberapa hari sampai bulan tergantung penunggakan yang dilakukan.


 


 


Selesai melakukan administrasi masuk yang baru pertama kalinya Odo lakukan secara normal tanpa surat khusus dari para Shieal, pemuda itu memasukkan surat dan tanda visanya ke dalam jubah. Ia kembali menggandeng Mavis dan berjalan melewati gerbang masuk kota. Bagi Mavis sendiri itu pertama kalinya ia melewati gerbang kota pesisir tersebut dengan berjalan kaki,  sebuah pengalaman baru yang sekilas membuat benaknya terasa aneh.


 


 


Sadar ada yang perlu ditanyakan, wanita itu menarik lengan Odo dan membuat pemuda itu menghadap ke arahnya. Di tengah lalu-lalang pejalan kaki dan gerobak yang ada, wanita itu dengan tegas bertanya, “Surat tadi itu punyamu? Putraku, kenapa kau yang belum melakukan upacara pembaptisan punya itu?”


 


 


“ Pembaptisan?” Odo terlihat bingung. Ia tahu akan hal tersebut, namun memasang ekspresi bingung dan pura-pura seakan tidak mengetahuinya. “Oh ...” Ia mengingat sesuatu, mengacungkan jari ke depan sembari berkata, “Sakramen inisiasi untuk kedewasaan itu, ya?”


 


 


“Iya!” Mavis mendekatkan wajahnya, menatap tajam dan kembali berkata, “Tanda penduduk untuk orang kerajaan Felixia di dapat saat itu. Dan juga, itu perlu keterangan kalau orang tua atau wali harus sudah punya tanda kependudukan Felixia. Jangan-jangan ... kau mengambil surat milik Bunda atau Ayah dan memalsukannya—?”


 


 


“Enggak, kok.”


 


 


“Eh?” Mavis sekilas bingung mendapat jawaban langsung seperti itu. Menjauh dan sedikit memiringkan kepalanya, wanita rambut pirang itu mengerutkan keningnya.


 


 


“Aku dapat suratnya langsung dari pemerintahan kota ini. Yah, meski tanda penduduknya tercantum dari desa terpencil dan hanya tanda kelahiran yang berasal dari kota ini.”


 


 


“Kenapa ... bisa?”


 


 


 


 


Sembari memegang dagunya sendiri dan sedikit tersenyum ringan, pemuda itu memalingkan pandangan dan menjawab, “Kekuatan orang dalam.”


 


 


“Ah?” Mavis semakin terheran.


 


 


“Aku menggunakan kekuatan orang dalam untuk mengurusnya.”


 


 


Percakapan mereka sesaat terhenti. Mavis menoleh ke kanan dan kiri, menghela napas dengan rasa lega karena pembicaraan itu dilakukan tidak di gerbang masuk dan orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka tidak ada yang peduli karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jika tidak, mungkin pemuda itu sudah ditangkap karena telah mengakui kejahatannya sendiri dengan melakukan praktek suap.


 


 


Menatap datar Odo, Mavis memegang kedua bahu pemuda itu dan mendekatkan wajah sembari berkata, “Putraku ..., ternyata kau lebih licik daripada yang Bunda kira.”


 


 


Odo sekilas menatap datar dan kembali memalingkan pandangan, lalu dengan acuh ia berkata, “Tidak juga, apa yang kulakukan hanya sebuah proses.” Melangkah mundur dan membuat Mavis mengangkat tangannya, pemuda itu berbalik sembari berkata, “Ayo, jangan lama-lama di sini. Aku mau ambil pesanan di distrik pengrajin.”


 


 


“Memangnya apa yang kau pesan?” tanya Mavis penasaran.


 


 


“Alat-alat ....” Odo menoleh ke arah wanita rambut pirang itu, lalu dengan senyum tipis menjawab, “Ada juga beberapa bahan baku dan orang yang ingin kuajak kerja sama. Yah, mungkin sebagian anggotanya sedang tidak ada di kota karena Nona Lisia pergi mengurus pemukiman Klista itu, sih.”


 


 


“Hmm?” Mavis tambah penasaran, ia berjalan ke sebelah Odo dan mereka mulai melangkahkan kaki bersama di pinggiran jalan utama. Sembari menoleh kecil, wanita itu bertanya, “Apa hubungannya dengan suku Klista? Apa perpindahan mereka ke wilayah Mylta juga menjadi bagian dari rencanamu?”


 


 


“Ya, kurang lebih aku mungkin akan menggunakan itu nanti.” Odo balik menoleh, memasang senyum ringan dan berkata, “Yang terpenting, aku harus menyelesaikan tokonya supaya bisa beroperasi sendiri tanpaku sebelum minggu ini berakhir.”


 


 


“Kenapa buru-buru sekali?” Mavis menatap ke depan, melipat kedua tangannya ke belakang dan mengambil langkah-langkah lebar saat berjalan. Dengan suara sedikit cemberut ia berkata, “Bukannya masih lama waktunya? Penyerangan Moloia katanya musim semi tahun depan, bukan?”


 


 


“Yang harus kukerjakan juga banyak.” Odo ikut menatap ke depan dan menghela napas panjang. Dengan ekspresi malas pemuda itu berkata, “Lagi pula, minggu depan sepertinya ayah juga akan pulang membawa tamu yang tak terduga.”


 


 


“Tamu tak terduga?” Mavis menoleh penasaran, lalu dengan antusias bertanya, “Siapa itu? Ah, apa Lady Calista yang akan datang? Putranya kalau tidak salah masih ada di kota ini, ‘kan?”


 


 


“Dia juga mungkin datang ....” Odo kembali menghela napas setelah mendengar tebakan tersebut. Menggaruk bagian belakang kepala dan memperlihatkan sorot mata datar, ia sedikit menggerung dan berkata, “Sudahlah, ayo kita percepat jalannya. Apa perlu aku gendong lagi?”


 


 


“Tak perlu!” Mavis menatap datar, memalingkan pandangan dengan cepat dan dengan sedikit kesal berkata, “Tadi Bunda sudah membersihkan kaki di sungai dan sekarang sudah pakai sepatu! Jalan tak terjal, untuk apa gendong lagi ....”


 


 


Sekilas Odo melirik kecil melihat sifat ibunya yang seperti anak kecil. Mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita yang berjalan di sebelahnya tersebut, pemuda itu merasa kalau Mavis memang seperti itulah sifatnya. Homunculus cenderung sulit mengalami perubahan mental kecuali mendapat stimulasi secara langsung, sifat dasar mereka memang cenderung tetap sejak mereka diciptakan. Memahami hal tersebut, Odo merasa sifat dewasa dan keibuan yang Mavis perlihatkan selama ini malah terasa seperti sebuah kebohongan belaka.


 


 


Berusaha tidak memikirkan hal tersebut, Odo menjentikkan jari dan melepas sihir Mimik. Rupa wajah pemuda itu berubah kembali ke bentuk semula, wajah remaja yang terlihat khas dengan kesan kalemnya. Mavis tidak mempermasalahkan hal tersebut dan sekilas tersenyum tipis. Namun saat sekilas melihat Odo menyeka darah dari hidupnya, wanita rambut pirang tersebut sempat cemas pada putranya tersebut.


 


 


“Kalau begitu ....” Odo menggandeng erat wanita rambut pirang di sebelahnya, lalu mengajaknya perlahan berlari sembari berkata, “Ayo percepat langkahnya.”


 


 


“Eh? Jangan cepat-cepat .... Kaki bunda masih sakit, bunda tidak biasa jalan lama-lama. Tu-Tunggu, Odo .... Odo ....”


 


 


“Ayolah, sekalian olahraga.”


 


 


Setelah itu mereka pada akhirnya berjalan cepat menyusuri jalan utama,  pergi ke tempat yang mereka tuju di distrik pengrajin. Apa yang ingin Odo datangi ada beberapa tempat, salah satunya adalah sebuah toko kerajinan kayu dan dilajukan ke bengkel Osel. Di sana pemuda itu mengambil beberapa alat yang beberapa hari lalu telah dipesannya, lalu semua itu dimasukkan ke dalam dimensi penyimpanan pada jubah.


 


 


Sesudah mengambil alat pesanannya, pemuda rambut hitam tersebut mengajak Mavis berkunjung ke sebuah lokakarya di ujung distrik pengrajin. Mereka mampir tidak lama di sana karena memang pemilik asli toko sedang mendapat pekerjaan dari pihak pemerintah dan tidak akan kembali untuk beberapa hari ke depan.


 


 


Hanya ada Canna yang menjaga tempat tersebut. Saat berada di sana, Mavis merasa seperti udara karena benar-benar diacuhkan keberadaannya saat berkunjung di lokakarya tersebut. Memang itulah tujuannya mengubah penampilan supaya tidak ada yang sadar, namun tetap saja sebagai seorang perempuan diacuhkan adalah hal yang tidak menyenangkan.


 


 


Setelah berbincang beberapa hal dengan penyihir yang menjaga tempat tersebut, mereka beranjak pergi ke balai kota untuk mampir kantor Guild dan menukar beberapa kristal sihir di sana demi mendapat uang tunai. Karena apa yang Odo berikan tidak melalui quest yang disediakan oleh Guild, pundi Rupl didapat tidak seberapa dan memang hanya beberapa saja kristal sihir yang dirinya tukarkan.


 


 


Mendapat uang tunai sebagai biaya belanja, mereka berdua segera pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Sampai siang mereka berdua menyusuri jalan utama distrik perniagaan dan beberapa kali tawar menawar dengan pedagang yang ada. Apa yang Odo beli kebanyakan adalah bahan makanan seperti daging domba, ikan, ayam, dan udang, beberapa jenis tepung dalam jumlah cukup banyak, buah-buahan, bumbu dapur, rempah, dan berbagai macam bahan makanan lain. Semua itu pun dirinya masukkan ke dalam dimensi penyimpanan pada jubah sampai semua Rune yang menandakan ruang berubah warna menghitam karena telah penuh.