Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 64 : Aswad 11 of 15 “Glaub mir” (Part 07)



 


 


Malam larut. Pada waktu dimana hari akan berganti, suasana sunyi mengisi perkemahan titik transit terakhir rombongan sebelum sampai ke kediaman Luke. Hampir semua orang sudah tidur di dalam tenda, kecuali beberapa prajurit yang mendapat giliran berjaga sampai sepertiga malam terakhir nanti.


 


 


Api unggun masih menyala untuk penghangat dan penerang, beberapa prajurit yang berjaga di sekitarnya mematahkan ranting-ranting menjadi bagian yang lebih kecil sebelum melemparnya ke dalam kobaran api. Mereka sama sekali tidak terlihat mengantuk, hanya terlihat bosan karena tak ada hal yang bisa dilakukan selain berjaga.


 


 


Di gerobak tempat Odo berada, dua prajurit elite yang berjaga sudah tidur untuk menghilangkan rasa lelah dan hanya satu yang masih terbangun. Mereka tidur dengan posisi duduk di atas tanah, bersandar pada batu dan batang pohon dengan lelap seakan memang sudah terbiasa dengan kondisi tidur seperti itu.


 


 


Meski kedua mata tertutup rapat dan terlelap sampai mendengkur, alam bawah sadar mereka masih terlihat waspada. Dari posisi tangan yang menggenggam pedang dalam dekapan, Odo tahu hal tersebut .


 


 


Melihat ke arah prajurit yang masih terbangun dan berdiri melihat ke arah rekan-rekannya di dekat api unggun, Odo dengan sekilas menyipitkan mata dan merasa sudah tidak ada keperluan lagi dalam rombongan.


 


 


“Berada di sini hanya akan menimbulkan masalah. Tapi …, kalau aku kembali juga nanti bakal runyam. Sepertinya si Raja dan Ayah juga sudah memutuskan sesuatu. Sekarang ini struktur sihirku belum pulih, Sihir Transformasi juga tidak bisa aku gunakan,” benak pemuda itu. Ia bersandar pada pembatas gerobak, menghela napas dan memasang ekspresi lelah.


 


 


Odo sejenak memejamkan mata, ingin mengaktifkan Spekulasi Persepsi namun tidak bisa karena akses ditolak dari dalam. Kembali membuka mata dan memalingkan pandangan ke dalam gerobak, ia dengan resah bergumam, “Menyebalkan …. Ini pasti ulah Mahia, dia menutup aksesnya.”


 


 


Tak memiliki alternatif lain untuk bisa kabur dengan mulus dan menyelesaikan masalah dengan cepat, Odo berbaring di atas lantai gerobak dan sejenak memejamkan mata. Tanpa Spekulasi Persepsi, ia melakukan kalkulasi secara manual dan memperkirakan apa saja yang bisa dilakukan dan pilihan apa yang akan menuntunnya menuju jawaban yang tepat.


 


 


“Mau bagaimana lagi, kurasa harus pakai cara itu ….”


 


 


Odo segera duduk, menatap ke arah prajurit elite yang masih terbangun dan berdiri menghadap ke arah api unggun di tengah perkemahan. Menghela napas dalam-dalam dan mengatur pernapasan seminimal mungkin, pemuda itu menggunakan Aitisal Almaelumat untuk memanipulasi rantai pemadatan Mana yang mengikat kedua tangannya  dan mengubah itu menjadi zat cair tanpa menghancurkannya.


 


 


Rantai meleleh ke lantai dan kedua tangan Odo pun bebas. Saat jatuh ke permukaan gerobak, dengan cepat rantai tersebut mengeras lagi dan bentuknya kembali seperti semula. Dengan cara itu, Dart tidak akan sadar kalau dirinya melepaskan diri karena rantai tersebut juga berfungsi semacam alat pendeteksi saat dihancurkan.


 


 


Mengambil belati dari dimensi penyimpanan di sarung tangan, pemuda itu meletakkannya ke mulut dan menggigit belati tersebut. Mengambil bola kaca hijau seperti bohlam dari dimensi penyimpanan, pemuda itu menyerap struktur sihirnya supaya bisa menggunakan sihir untuk sementara.


 


 


Bola kaca tersebut pecah dan hancur menjadi abu sepenuhnya, jatuh ke lantai kayu tanpa mengeluarkan suara. Mengaktifkan sihir dengan tangan kanannya, kumpulan Rune mulai melayang mengitari pergelangan tangan Odo dan membuat susunan sihir suara dalam skala minim namun konsumsi Mana sangat efektif.


 


 


Rune yang mengitari pergelangan kanan Odo mulai memusat ke telapak tangannya, lalu membentuk sebuah bola cahaya redup dari kumpulan Rune tersebut. Mengambil belati dari mulut dan memegangnya dengan tangan kiri, ia menghantamkan kumpulan Rune tersebut ke arah belati tersebut dan menjadikannya sebagai medium supaya sihir bisa terus aktif dalam jangka waktu lebih lama.


 


 


Itu merupakan sihir untuk membuat suara yang dikeluarkannya akan langsung terhapus dan dilenyapkan oleh ruang kedap tak kasat mata ⸻ Tercipta oleh struktur sihir pada belati. Meloncat turun dari gerobak dan mendarat di tanah, suara sama sekali tidak keluar dari Odo karena ruang kedap tipis yang menyelimuti permukaan tubuhnya.


 


 


Tanpa membuang waktu dan sebelum prajurit yang berjaga sempat menoleh ke arah gerobak, Odo langsung berlari ke dalam hutan dan meninggalkan rombongan tersebut. Itu merupakan pelarian sempurna dan seharusnya bisa memberikan waktu beberapa puluh menit untuknya menjauh dari perkemahan.


 


 


Namun baru berlari kurang dari dua menit di dalam hutan oak sampai efek sihirnya baru saja hilang, seorang perempuan rambut biru menunggunya di antara pepohonan. Langkah kaki Odo seketika terhenti, lalu menoleh ke sekitar dan memastikan kalau hanya perempuan itu yang memergokinya.


 


 


Perempuan itu adalah Tuan Putri Arteria. Cocktail dress hitam yang menunjukkan dirinya sedang berkabung, sulaman bunga iris berwarna ungu yang menyatu dengan gaun dan ikat pinggang kain berwarna biru tua. Berbalik menghadap ke arah Odo, rambutnya berkibar indah di bawah cahaya taburan bintang.


 


 


Ia memasang senyum tipis dengan wajah pucat, menatap dengan sorot mata datar dan mulai melangkahkan kaki yang mengenakan sepatu bot kulit panjang sampai lutut.


 


 


Sedikit berbeda dengan penampilan tadi pagi, Tuan Putri Arteria mengenakan jubah kain tipis untuk melindungi tubuhnya yang rapuh dari hawa dingin. Warnanya pun menyatu dengan gaun yang dikenakan.


 


 


Odo sempat bingung mengapa perempuan itu bisa ada di tempat tersebut. Namun melihat para roh tingkat rendah yang samar-samar tertinggal pada pakaian Arteria, dengan segera pemuda itu tahu kalau yang mengawasinya bukan hanya Dart saja.


 


 


Memikirkan alasannya kembali, Odo tetap merasa tidak mungkin kalau Tuan Putri Arteria bisa bergerak lebih cepat darinya di dalam hutan. Dengan kata lain, perempuan itu memang dari tadi telah menunggu di tempat tersebut.


 


 


“Apa kau juga Perantara? Ah, benar juga …. Orang-orang Felixia menyebutnya Orakel ….”


 


 


Mendapat pertanyaan tersebut, Tuan Putri Arteria membuka kedua matanya yang telah kehilangan cahaya dan melihat lurus jiwa Odo Luke. Ia sekilas terlihat heran karena dalam beberapa jam saja bentuk Jiwa pemuda itu telah berubah, menjadi sesuatu dengan ciri yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.


 


 


“Sebenarnya engkau siapa? Mengapa bentuk Jiwamu begitu tidak pasti seperti itu?”


 


 


Malah mendapat jawaban berupa pertanyaan, mimik wajah Odo seketika berubah datar dan merasa tidak ada kewajiban untuk meladeni Tuan Putri Arteria. Mengacuhkan dan menganggap dirinya tak bertemu dengan perempuan itu, Odo segera berjalan pergi menghindarinya.


 


 


 


 


Langkah kaki Odo terhenti tepat sebelum memasuki semak-semak dan menghilang ke dalam kegelapan. Berbalik menghadap perempuan itu, dengan nada kesal ia bertanya, “Kau ingin apa? Memangnya apa yang ingin kau tahu dariku ….”


 


 


“Bagaimana kalau nama?” Arteria tersenyum lebar saat Odo bersedia berbicara dengannya sejenak. Sembari memasang senyum senang, perempuan itu berjalan mendekat dan kembali bertanya, “Saya belum tahu siapa engkau sebenarnya. Saya adalah Arteria Vi Felixia, kalau engkau?”


 


 


“Huh?” Odo tertawa kecil dalam ekspresi muak mendengar perkataan tersebut. Itu membuat langkah kaki Arteria terhenti, memasang ekspresi bingung seakan memang dirinya bisa melihat Odo secara visual dengan normal. “Untuk apa aku memperkenalkan diri kepada pembohong ulung sepertimu …. Kau bukan Arteria, bukan?” ujar Odo seraya membuka telapak tangannya ke depan dan menyiapkan sihir untuk menyerang.


 


 


Tidak melihat tanda-tanda aktivasi sihir dari perempuan itu, Odo mengurungkan niat untuk menyerang dan ganti menunjuk lurus ke arahnya sembari bertanya, “Arteria sedang tertidur di dalam tubuh itu, ‘kan? Apa aku salah, wahai salah satu Dewi Yang Menetap?”


 


 


“Apa … yang kamu katakan? Dewi? Diriku bukan Dewi …. Apa engkau sedang menyanjung?”


 


 


Melihat tak ada perubahan ekspresi yang signifikan pada raut wajah perempuan rambut biru tersebut, Odo sekilas merasa ragu dengan kesimpulannya sendiri karena sekarang sedang tidak bisa menggunakan Spekulasi Persepsi. Dalam malam dimana angin berhembus ringan di antara pepohonan, pemuda itu sejenak menghentikan napas dan benar-benar menatap datar tanpa keraguan.


 


 


“Di sini tidak ada siapa-siapa, mengaku saja. Jika kau tetap bersikeras seperti itu, aku tidak akan menjawab rasa penasaramu, wahai Perwujudan Konsep Kota.”


 


 


Mendapat perkataan tersebut dengan ekspresi benar-benar tak goyah, perempuan rambut biru tersebut menghela napas ringan dan bertepuk tangan. Ia menatap datar dan menunjukkan bahwa dirinya benar-benar bisa melihat Odo secara visual. Dalam senyum tipis ia pun berkata, “Seperti yang dikatakan Lileian, engkau memang Unsur Hitam itu. Tak rugi diriku rela pergi dari Kota ke pinggiran seperti ini ….”


 


 


“Lileian?” Odo menurunkan tangannya, sekilas memalingkan pandangan dan pura-pura baru ingat, “Ah, Witch dari Hutan Pando itu, ya? Berarti dari awal kau sudah tahu siapa aku?”


 


 


Saat Odo memastikannya, sekilas keningnya mengerut sembari menyembunyikan rasa cemas. Fakta bahwa Kontrak Jiwa bisa memungkinkan seorang Dewi merasuk ke dalam tubuh pembuat kontak sedikit mengusik zona sensitif Odo.


 


 


“Hmm, tentu ….” Meletakkan tangan kanan ke depan dada, perempuan rambut biru tersebut berkata, “Namun, sayangnya diriku hanya bisa muncul ke permukaan saat anak ini tertidur atau kesadarannya melemah.”


 


 


“Kalian tidak berbagi kesadaran?” tanya Odo seraya menatap tajam.


 


 


“Berbagi, namun hanya satu arah …. Arteria tidak bisa tahu apa yang diriku lakukan, namun diriku tahu apa yang Arteria lakukan.” Lurus menatap ke arah Odo, perempuan rambut biru itu kembali berjalan mendekat seraya berkata, “Anggap saja diriku sebagai pengawasnya.”


 


 


“Jadi, bagaimana caranya supaya kau pergi darinya? Bagaimana caranya melepaskanmu darinya?”


 


 


“Mengejutkan.” Langkah kaki perempuan itu terhenti sekitar dua meter dari tempat Odo. Sembari menatap heran ia pun meragukan, “Diriku kira engkau orang yang sangat dingin, ternyata engkau bisa juga marah seperti itu.”


 


 


Murka samar-sama tampak pada mimik wajah Odo. Kondisi Arteria saat ini adalah salah satu hal yang tidak disukai pemuda itu, berbagi tubuh dengan kesadaran lain. Melihat perempuan rambut biru di hadapannya, Odo seakan melihat dirinya sendiri yang sedang berbagi tubuh dengan beberapa kesadaran.


 


 


“Tch!” Odo membunyikan lidah. Tidak mengungkapkan hal tersebut, pemuda itu malah berkata, “Tentu saja aku marah, perempuan yang kau ambil alih itu adalah calon tunangan ku. Meski aku orang seperti ini, aku menghargai hal-hal semacam itu ….”


 


 


“Sungguh mengejutkan, jangan bilang engkau sudah jatuh cinta pada gadis ini?” goda perempuan itu dengan senyum tipis.


 


 


“Mana mungkin.” Mimik murka Odo semakin jelas, sampai-sampai keningnya mengerut kencang dan alisnya hampir menyatu ke tengah. Menarik napas dan menenangkan diri, ia berusaha bersikap dingin dan menjawab, “Aku hanya tak suka kalau ada orang lain ikut campur dalam hubunganku nanti. Itu menyebalkan, mengingatkan ku pada masalah lain yang menyusahkan.”


 


 


“Diriku tak tahu apa yang membuat dirimu kesal. Namun sayang sekali …, diriku sudah tidak bisa berpisah lagi dari gadis ini.”


 


 


Odo sejenak terdiam, memikirkan kembali cara kerja Sihir Kontrak Jiwa yang digunakan untuk menjalin koneksi dengan makhluk astral. “Kenapa? Itu semacam Invocation, ‘kan? Seharusnya bisa dengan mudah dilepaskan asal koneksinya diputus atau kau dengan suka rela melepasnya,” ujar pemuda itu dengan nada menekan.


 


 


“Kalau diriku memutus koneksinya, gadis ini hanya akan tinggal mayat.” Perempuan itu memasang ekspresi muram, menjalin jemari dan menundukkan wajah. Dengan suara pelan ia pun berkata, “Engkau tahu, wahai Unsur Hitam. Saat Kontak Jiwa dibuat …, gadis bernama Arteria telah mati. Orang-orang dewasa itu sungguh bodoh, mereka bahkan tidak memedulikan risiko itu. Mereka seharusnya paham kalau tubuh anak kecil takkan bisa kuat menahan Kekuatan Kontak dan menjadi tempat berkumpul para Roh Agung ….”


 


 


Emosi gelap sekilas naik ke permukaan dengan cepat, kedua mata Odo melotot tajam dan dipenuhi amarah. Namun dalam hitungan detik, semua itu langsung diredam dan dipendam kembali dalam benak. Menghela napas panjang, pemuda itu memikirkan baik-baik apa yang dialami Arteria serta kondisinya sekarang.


 


 


“Apa kau yang mempertahankan kehidupannya dengan Kekuatan Kontrak Itu? Kau menjaga Jiwanya dan mengikatnya dengan raga itu?”


 


 


Perempuan rambut biru tersebut mengangguk, berhenti menjalin jemari. Menatap lurus ke arah Odo Luke, ia dengan sedih berkata, “Itu benar …. Diriku menyambung hidup gadis ini dengan Kontrak tersebut, jadi mustahil untuk diriku pergi. Sekarang kondisinya menjadi semacam Roh, makhluk astral yang melekat pada raga ini bersama diriku. Tubuh ini hanyalah mayat untuk wadah semata …. Apa engkau marah?”