
Pukul dua dini hari, udara masih terasa dingin dan setiap orang yang sebelumnya masih menunggu hasil akhir dari duel kebanyakan telah tertidur pada ruangan mereka masing-masing di kompleks barak kota Mylta. Jendela-jendela yang sebelumnya masih memancarkan cahaya telah padam, dilihat dari luar hampir semua bangunan yang ada di kawasan barak tersebut terlihat petang kecuali satu jendela di bangunan utama.
Pada ruang kantor Kepala Prajurit, lampu kristal masih dinyalakan dan cahaya mengisi ruangan tempat orang-orang yang masih bangun berkumpul. Ruangan tersebut memiliki desain arsitektur klasik yang tidak terlalu banyak hiasan, namun tumpukan dokumen dan surat perjanjian diletakkan tidak rapi di atas lantai. Meja kerja dengan tumpukan keras perkamen, meja tamu dengan dua sofa yang bisa diduduki sampai enam orang di tengah ruangan dan tiang lampu dengan kristal cahaya bertutupkan kain cokelat berenda di sudut ruang.
Orang-orang yang berkumpul di tempat itu antara lain adalah Vil, Arca dan kedua Butler pribadinya, Lisia, Iitla Lots, Odo, Aprilo dan Butler pribadinya, Wicead Richard, Joe John, dan seseorang pria tua dengan rambut uban panjang dikuncir tunggal ke belakang. Semua orang tersebut berada dalam satu ruangan, membuat kantor yang biasanya sepi itu menjadi penuh dan terlihat sesak.
Satu sofa digunakan untuk Odo yang tertidur pulas sampai seperti mayat, sedangkan sofa di seberang meja digunakan untuk Arca duduk bersama Vil dan Lisia di sebelahnya. Selain mereka, semua orang yang ada di tempat tersebut berdiri di ruangan dan ada menyandarkan punggungnya pada dinding. Sekilas atmosfer yang ada dalam kantor terasa sangat berat, sampai-sampai tidak ada orang yang membuka mulut dan bersuara.
Meletakkan perkamen ke atas meja, Arca menyatakan, “Aku kalah dalam duel. Ini perjanjian resmiku dengan Odo dan dengan ini aku menyatakan bawah semua propertiku akan menjadi miliknya.”
Meski mendengar hal tersebut langsung dari mulut Arca, para pedagang dari Serikat Lorian terlihat tidak percaya dan menatap tidak puas. Sebagai eksekutif Aprilo berhenti bersandar di dekat pintu bersama kedua rekan dan pelayannya, lalu berjalan ke arah meja dan mengambil surat perjanjian tersebut. Membacanya dengan cermat, surat kontrak itu memang dibuat secara tepat dan jelas-jelas terdapat tanda tangan kedua belah pihak di atasnya.
Meletakkan kertas itu ke meja dan mengembalikannya, pria paruh baya berambut pirang pendek itu memastikan, “Apa ... Tuan Odo benar-benar menandatangani surat ini?”
“Tentu saja. Itu buktinya, apa kau pikir aku memalsukan surat yang merugikanku?” ucap Arca seraya tersenyum tipis. Ia menatap datar dan sekilas menaikkan kedua alisnya.
“Lalu ....” Aprilo melihat ke arah pemuda rambut hitam yang tertidur pulas dengan telanjang dada dan sama sekali tidak bergerak dari sofa satunya, benar-benar terlihat seperti mayat namun masih bernapas sangat pelan. “Kenapa Tuan Odo seperti itu?” tanya eksekutif tersebut.
“Itu efek sampingnya,” jawab Vil masuk ke dalam pembicaraan.
Aprilo melihat ke arah perempuan rambut biru itu dan balik bertanya, “Efek samping dari sihir? Atau efek samping karena kelelahan?”
“Dua-duanya ....”
Aprilo sekilas terdiam, menatap ringan perempuan rambut biru tersebut. Ini bukanlah pertama kalinya mereka berdua bertemu dan saling berbicara, saat berdiskusi tentang beberapa rencana dan tawar menawar sebelum memakai penginapan Porzan juga mereka sempat bertukar kalimat cukup lama. Aprilo paham kalau Vil adalah Roh Agung, dirinya juga mengerti kalau perempuan rambut biru itu cukup pandai saat berdiskusi dan tawar menawar.
“Nona ... Vil ...?”
“Iya.”
“Kalau benar Tuan Odo memenangkan duel, apa beliau memerintahkan ... itu ....”
Aprilo tidak bisa mengatakannya secara jelas, tatapan dari Pihak Pemerintah Kota Mylta membuatnya tertekan dan harus menjaga ucapan untuk tidak mengundang masalah. Sekilas eksekutif itu memalingkan matanya, memberikan sinyal bahasa tubuh pada Vil tanpa harus mengucapkan hal tersebut secara langsung.
Roh Agung itu mengerti kalau Aprilo ingin bertanya apakah Odo memerintahkan Arca untuk tutup mulut atau tidak. Namun seakan tidak peduli dengan hal seperi itu, Vil berpura-pura tidak peka terhadap bahasa tubuh tersebut dan segara menatap ke arah Iitla Lots yang berdiri di belakang sofa tempat Odo tertidur.
Kepala Prajurit itu berdiri dengan seorang pria tua berambut uban, mereka menatap datar ke arah Aprilo dan membuat eksekutif serikat dagang tersebut mengurungkan niatnya untuk mendapat penjelasan. Pria tua di sebelah Iitla menghela napas, menatap ketiga orang yang duduk di sofa dan ditemani oleh dua Butler yang berdiri di belakang mereka.
“Jadi, menurut Nona Lisia sendiri bagaimana? Apa Nona sudah tahu akan ke mana arah kasus ini?” tanya pria tua tersebut.
“Maaf, paman Wiskel ....” Lisia hanya menundukkan kepala, tidak berani menjawab dengan terang meski samar-samar sadar apa yang sebenarnya Odo incar dengan mengumpulkan semua orang di satu tempat dan menggunakan Arca sebagai mediator.
“Nona tahu, saya telah bertugas menjadi Wakil Walikota sejak Ayah Nona masih muda. Pencapaian Nona memang sangat luar biasa saat menggantikan Tuan Argo meski masih sementara, jujur saya salut. Namun ..., saya tidak bisa memuji tindakkan Nona karena melalukan korupsi dan menerima suap dari para pedagang.”
Lisia menundukkan wajah dengan rasa malu saat mendengar itu, sedikit takut ayahnya yang sedang sakit tahu soal hal tersebut. Pria tua yang mengenakan jubah biru dan jas pejabat dengan aksen hitam tersebut adalah Wiskel Porka, seorang Baronet dan termasuk bangsawan kelas rendah.
Meski dari keluarga aristokrat pinggiran, pria itu bisa dikatakan sangat ahli dalam hal menjaga sistem serta kondisi kota. Ia juga dipercaya Kepala Keluarga Mylta untuk menjadi Wakil Walikota sampai detik ini. Wiskel Porka sendiri merupakan Kepala Keluarga Porka, ia terlihat berumur dengan kulit keriput pria usia hampir 60 tahunan, memiliki mata merah terang dan rambut menguban panjang sepunggung yang diikat kuncir ke belakang.
“Kau tak perlu menekannya seperti itu, Wiskel Porka!” Arca menatap sedikit kesal, merasa pria tua itu hanya mengucapkan hal yang tidak perlu dan hanya bisa bicara saja. Dengan tatapan angkuh Arca menunjuk Wiskel, lalu dengan tegas berkata, “Memangnya bisa apa kau selama menjabat sebagai Wakil Walikota tempat ini?”
Wiskel merasa heran mendengar hal tersebut keluar dari mulut Arca, seharusnya pemuda dari keluarga Rein itulah yang membuat situasi yang ada sekarang. Pria tua itu menghela napas dengan berat, menatap Arca dan bertanya, “Kenapa Anda tiba-tiba membela mereka, Tuan Arca? Bukannya Anda yang menyudutkan mereka?”
“Aku tidak membela mereka!” Arca Berhenti menunjuk dan menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap dengan tatapan angkuh dan berkata, “Apa yang aku katakan adalah fakta ....” Pemuda rambut cokelat itu sedikit memalingkan pandangannya dengan rasa bersalah, merasa seperti orang bodoh dan dengan menahan sifat sombongnya ia kembali berkata, “Jujur, aku juga baru paham ada sistem seperti itu dalam mengatur sebuah wilayah bermasalah. Kasus korupsi itu sudah menjadi bagian dari sistem politik. Memang terlihat merugikan, namun itu penting untuk kestabilan banyak aspek.”
Semua orang bingung dan heran mendengar ucapan tersebut, bahkan kedua Butler Pribadi Arca terlihat tidak percaya karena Tuan mereka yang selalu membanggakan diri bisa berkata merendah seperti itu.
Mengacuhkan tatapan atau pendapat semua orang tentangnya, Arca berhenti bersandar dan dengan tegas berkata, “Kita mulai pembicaraannya .... Asal kau tahu, apa yang kulakukan ini adalah perintah Odo.” Dengan ekspresi kesal sampai keningnya mengerut, Arca menunjuk pemuda telanjang dada yang terbaring lelap pada sofa di hadapannya dan berkata, “Saat berada di celah dunia, orang itu benar-benar memecundangiku. Aku ... bahkan tidak tahu apa yang mendasarinya untuk melakukan semua ini .... Tapi perjanjian adalah perjanjian, aku harus memenuhinya.”
“Memangnya apa yang Tuan Odo bilang?” tanya Iitla.
Sekilas melirik ke arah Kepala Prajurit itu, Arca menghela napas dan berkata, “Vil yang akan menjelaskannya.”
Semua orang langsung melihat perempuan rambut biru yang duduk di antara Lisia dan Arca tersebut. Tidak memedulikan antusias mereka, terutama para pedagang, Vil memegang permukaan Gelang Dimensi dan menegatifkan salah satu ruang penyimpanan yang ada untuk mengeluarkan setumpuk kertas perkamen. Itu cukup mengejutkan orang-orang yang baru melihatnya namun tidak ada yang membahas karena masih ada hal yang lebih penting.
Meletakkan setumpuk dokumen itu ke atas meja, Vil mengambil lembar teratasnya dan mulai berkata, “Pertama, untuk masalah korupsi Tuan Arca akan dipastikan diam dan kasus ini tidak boleh diungkapkan. Semua bukti harus Arca hancurkan dan kasus ini harus dikubur dalam-dalam. Ini tidak boleh diganggu gugat.”
“Hmm?!” Lisia langsung mengangkat wajahnya, menatap senang dan dengan cepat bertanya, “Sunggu—?”
“Namun,” sela Vil. Menatap ke arah para pedagang dari Serikat Lorian, perempuan rambut biru itu menambahkan, “Bukti tentang para pedagang yang melakukan transaksi dan menyembunyikan fakta tentang bandit harus tetap disimpan.”
“““A!!”””
Keempat orang dari pihak Serikat Dagang Lorian langsung terkejut. Aprilo segera mendekat dan dengan cemas bertanya, “Kenapa hanya pihak kami yang dibiarkan?! Apa Tuan Odo ingin memutus kerja samanya dengan kami? Tanpa kami Tuan Odo tidak bisa bebas melakukan transaksi dengan kota lain! Bukannya dia mau membangun perusahaan?!”
“Mengejutkan.” Arca membuka matanya lebar-lebar, menyeringai tipis dan dengan nada sarkasme berkata, “Tak kusangka Tikus Babon ini benar-benar mengancam seperti itu.”
“Me-Memangnya kenapa?” Aprilo paham apa arti tikus sedikit tersinggung karena ucapan tersebut, ia mengerutkan kening dan sedikit merasa malu dipanggil seperti itu. Dengan wajah cemas ia pun berkata, “Ini tindakkan yang sesuai untuk menjaga keberadaan serikat di kota ini ....”
“Tidak apa, hanya saja—Ugh!”
Vil menyikut pemuda rambut cokelat di sebelahnya karena terlalu banyak bicara. Menatap lurus eksekutif dari Serikat Dagang Lorian tersebut, Roh Agung itu berkata, “Tenang saja, ini hanya sebuah jaminan.”
Aprilo dan rekan-rekannya terheran mendengar hal tersebut. Butler pribadi eksekutif itu mendekat, lalu membisikkan sesuatu dan wajah paham langsung nampak pada eksekutif tersebut. Kembali menatap Vil, Aprilo berkata, “Apa ... Tuan Odo benar-benar ingin memutus hubungannya dengan kami?”
Vil sedikit mengerti Butler pribadi eksekutif itu berperan sebagai apa dan alasannya selalu ikut itu untuk apa. Menyipitkan mata, sekilas Vil merasakan aktivasi sihir di ruangan dan memperkirakan kalau Butler yang melayani Aprilo itu memang memiliki kekuatan atau sihir sejenis pembaca pikiran.
Berusaha untuk tidak memedulikan hal tersebut sekarang, Vil hanya menatap lurus lawan bicaranya dan berkata, “Tuan Aprilo, Odo memerintahkan Arca untuk menimbun kasus ini dalam-dalam. Artinya ..., masalah suap atau soal menyembunyikan fakta soal bandit itu tidak akan dibongkar. Pihak Serikat tidak akan digugat, namun buktinya akan terus disimpan. Anda pasti tahu artinya, ‘kan?”
“Begitu rupanya ....” Aprilo menatap datar, menghela napas dan memastikan, “Itu untuk jaminan, ya? Kalau kami mengganggu perusahaan yang akan Tuan Odo dirikan, itu sama saja kami menggali kuburan kami sendiri.”
Vil hanya menatap datar tanpa mengubah ekspresi tenangnya. Memalingkan pandangan dengan rasa sedikit enggan, perempuan rambut biru itu berkata, “Anda bebas menerjemahkannya seperti apa. Tetapi asal Tuan Aprilo tahu, diriku rasa Odo bukan orang seperti kalian yang selalu memikirkan laba dan laba.”
Eksekutif serikat dagang itu sedikit mengangkat dagu, menatap dengan rasa bangga dan membalas, “Kami pedagang, mana mungkin kami bisa hidup tanpa memikirkan itu.”
“Hmm, diriku tahu.” Vil menatap ke Pihak Pemerintah dengan sedikit resah, lalu dengan jelas berkata, “Kalau begitu, mari kita lanjut ke pembicaraan selanjutnya. Bahasan ini tidak ada yang protes, bukan?”
“Masih ada lagi?” tanya Wiskel. Ia terlihat lemas karena belum tidur dari siang dan usianya yang sudah lewat masa jaya membuat pria tua itu tidak memiliki stamina yang setara dengan orang-orang di ruangan tersebut.
“Ya ....” Vil sedikit cemas karena ia tidak terlalu tahu cara menangani orang lanjut usia. Memalingkan pandangan dengan sedikit resah, perempuan itu dengan lirih berkata. “Maaf kalau Anda sudah lelah, Tuan Wiskel. Namun memang semua orang harus tetap di ruangan ini sampai selesai, diriku ingin mengurangi persentase kegagalannya.”
Lisia mendengar itu dengan jelas karena Vil memalingkan wajah ke arahnya. Dengan rasa antusias dan tanpa beban perempuan rambut merah itu bertanya, “Memangnya apa yang ingin Tuan Odo lakukan?”
“Mencegah perang,” ucap Arca dengan sangat jelas.
Semua orang terkejut mendengar itu. Suasana seketika berubah tegang, tidak ada yang berbiara sesaat karena mereka semua yang baru pertama kali mendengarnya benar-benar terkejut akan hal tersebut. Sebuah kata perang memang masih menjadi momok menakutkan, terutama bagi mereka veteran yang pernah kehilangan banyak rekan di medan peperangan.
“Pe-Perang?” Iitla terlihat panik, memikirkan beberapa kemungkinan yang ada dan memastikan, “Apa maksudnya? Apa soal Moloia yang melanggar penjanjian dan memulai perang itu akan benar-benar terjadi?”
Aprilo menatap tajam dan ikut berkata, “Itu Benar! Kenapa tiba-tiba bicara soal perang?! Bukannya sekarang—” Perkataan eksekutif itu terhenti karena mengingat sesuatu, ia segera memegang dagu dan berpikir. Menyadari hal yang dirinya lewatkan, ia berkata, “Tunggu, jangan bilang ....”
“Ya, Perang Besar yang kemungkinan akan pecah lagi dalam waktu dekat.” Vil melirik ke arah eksekutif itu, sedikit merapikan rambut poninya dan berkata, “Jaringan informasi para pedagang memang hebat, berarti Tuan Aprilo sudah mendengarnya, ya?”
“Ya ....” Eksekutif itu memasang wajah tak senang, menggaruk kepala dengan resah dan menjawab, “Rekan-rekanku di wilayah lain banyak yang melakukan transaksi bahan pangan dan senjata. Rumor soal itu belakangan beredar .... Dan juga, tadi aku sempat dengar katanya nasib naas menimpa pemukiman suku Klista di dataran tinggi teritorial Rockfield ....”
“Klista?!” Wiskel Porka terkejut mendengar itu, dengan cemas ia bertanya, “A-Apa yang terjadi memangnya?”
“Kau baru tahu, pak tua?” Arca menatap sombong, sedikit merasa kesal karena merasa pria tua tersebut sangat tidak becus. Kembali menunjuknya, Arca menjelaskan, “Suku Klista diserang oleh orang-orang Moloia yang menyusup ke wilayah Luke, mereka dihancurkan dan hanya ada beberapa yang selamat ....”
“A—! Akh ....” Pria tua itu terlihat pusing dan sempoyongan. Ia dipapah Iitla, lalu mengantarnya duduk di kursi depan meja kerja di ruangan tersebut. Dengan wajah pucat ia bertanya, “Kenapa hal itu bisa terjadi? Apa perang seperti itu akan terulang lagi? Apa semua itu benar-benar terjadi, Nona Lisia?”
“Hmm ....” Lisia hanya mengangguk, benar-benar merasa bersalah karena menyembunyikan banyak hal dari pria tua yang menjabat menjadi Wakil Walikota tersebut.
Iitla kembali ke belakang sofa, lalu dengan cemas bertanya, “Memangnya apa yang ingin Tuan Odo lakukan soal perang yang mungkin terjadi itu?”
“Membangun kota ini menjadi benteng,” jawab Arca langsung. Putra sulung dari keluarga Rein itu menatap tajam ke arah Kepala Prajurit dan memasang seringai licik seakan dirinya penguasa tertinggi.
“Benteng ....?”
Sembari menunjuk Kepala Prajurit tersebut, Arca menyeringai dan dengan nada tinggi ia mulai menjelaskan, “Secara geografis Mylta adalah frontline kerajaan kita kalau Moloia benar-benar ingin mengincar wilayah Luke.”
Arca menurunkan tangannya, sedikit mengangkat wajah dan dengan angkuh kembali menjelaskan, “Saat ini perjanjian perdagangan bebas masih berlaku, Moloia dengan alasan ingin melakukan perdagangan bisa bebas berlayar sampai laut wilayah ini tanpa harus dihadang oleh armada negeri lain di laut tengah. Untuk serangan pembuka pasti mereka tidak akan langsung terang-terangan melanggar dan dampak serangan pembuka itu bisa berakibat fatal. Yang pertama melangkah akan mendapat situasi unggul! Karena itu ..., kota ini harus dibangun untuk persiapan potensi perang itu.”
“Kenapa Mylta?” tanya Iitla. Ia merasa ada yang aneh dengan pola pikiran tersebut, lalu menyanggah, “Bukannya kota Lignum yang paling berpotensi diserang? Kota itu berada di perbatasan dan ada di dekat selat, menjadi pusat perdagangan pula. Kalau memang ingin menyerang, seharusnya mereka menyerang itu dulu dan mematikan pasokan dagang serta melemahkan perekonomian.”
“Pendapat dari veteran perang memang berbeda.” Arca tersenyum, bangun dari tempat duduk dan menatap lurus Kepala Prajurit tersebut. Dengan nada percaya diri ia berkata, “Tapi ... itu hanya terjadi kalau memang Moloia benar-benar ingin berperang, sayangnya mereka hanya ingin mengambil sumber daya.”
“Sumber ... daya?”
“Ya!” Arca langsung menunjuk lawan bicaranya, menyeringai lebar dan berkata, “Mereka paham kalau menjatuhkan Lignum pasti akan membuat perekonomian negeri ini ikut turun, tapi itu akan berakhir dalam waktu lama dan kemungkinan akan memberi waktu Felixia untuk melakukan koalisi dengan kekaisaran.”
Meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut, Arca memasang senyum tipis dan kembali berkata, “Karena itu Moloia akan melakukan serangan berpola, menekan semua negeri dengan konstan, dengan tujuan untuk tidak membiarkan koalisi terjadi secara langsung .... Kalaupun koalisi terjadi, itu pasti tidaklah kuat karena kondisi tidak setara. Seharusnya kau juga tahu kenapa Moloia melakukan banyak sabotase pada kota ini, bukan? Tepatnya ... wilayah Luke ini, sih.”
“Begitu, ya ....” Iitla sedikit memalingkan pandangannya dan mulai paham apa yang dimaksud Arca. Seraya melirik ke arah pemuda itu, ia berkata, “Mereka ingin mengincar inti militer kerajaan Felixia, ya? Kalau wilayah Luke tumbang, hal itu menurunkan niat kekaisaran untuk membentuk kerja sama dan malah kemungkinan besar mereka akan menyerang Felixia karena dianggap lemah .... Untuk memperluas wilayah dan menambah kekuatan mereka sendiri.”
Iitla mulai terlihat resah, meletakkan tangan kanannya ke depan wajah dan dengan ekspresi cemas berkata, “Meski sekarang di kekaisaran sedang konflik internal, tapi mereka bisa dikatakan lebih stabil secara kekuasaan karena pemimpin negeri dihormati mayoritas rakyatnya. Negeri kita sedang masa seperti ini ....”
“Y! Karena itulah kita harus mempertahankan kota yang paling dekat dengan kediaman Luke ini.” Kembali duduk dan menatap ke arah Vil di sebelahnya, Arca dengan percaya diri berkata, “Kalau begitu, jelaskan kepada orang-orang ini, Vil!”
“Jangan memerintahku ....” Roh Agung itu menatap kesal, lalu dengan nada kasar berkata, “Dan juga, sebaiknya kau berhenti meniru cara Odo bicara. Menjijikkan.”
“Eh?” Arca terbelalak, para pedagang yang mendengarnya berusaha menahan tawa dan itu pembuat putra sulung keluarga Rien itu terlihat kesal.
Setelah itu, Vil pun menjelaskan rincian rencana yang tersusun dalam tumbukan dokumen di atas meja yang telah ditulis oleh Odo Luke. Rincian itu terbilang masih kasar, belum bisa menutup semua kekurangan yang ada dalam waktu yang sangat terbatas. Mendengar apa yang dijelaskan Vil dalam rencana yang akan dilakukan, mereka yang mendengarnya ada yang protes dan memberikan beberapa saran.
Diskusi pun terjadi pada dini hari tersebut, semua pihak mengutarakan saran mereka dan bermusyawarah untuk mencapai keputusan mufakat. Karena semua pihak secara tidak langsung diturunkan keegoisannya berkat ancaman dari bukti-bukti yang masih dipegang Arca, Pihak Serikat Dagang Lorian bisa lebih menurunkan sifat mereka yang cenderung ingin selalu mencari laba. Diskusi itu terus berlangsung sampai bagi dan pembahasan setumpuk dokumen benar-benar membutuhkan waktu lebih lama dari Arca dan Vil perkirakan.