Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 57 : Aswad 4 of 15 “To Act” (Part 05)



 


 


Pertanyaan itu sekilas membuat Odo memasang wajah pasrah karena merasa tidak bisa mengalihkan pembicaraan. Meletakkan telapak tangan ke depan dada, pemuda itu menatap dengan serius dan berkata, “Kemungkinan besar kota ini sebentar lagi akan diserang. Bunda tahu dua orang Moloia yang aku bawa, ‘kan? Mereka bisa dikatakan mata-mata yang dikirim oleh seseorang dari pihak Moloia .... Kondisi mereka yang sekarang memberiku kesimpulan tersebut.”


 


 


“Kamu mengamankan dan memperlakukan mata-mata musuh dengan sangat baik?” usik Mavis.


 


 


“Mereka bukan musuh, namun bukan juga sekutu yang bisa sepenuhnya dipercaya. Mereka bisa dikatakan sebagai pendukung dalam rencanaku.” Berhenti meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, pemuda itu melangkah maju dan berdiri di depan Mavis. Berlutut di hadapannya wanita yang duduk menghadap ke arahnya, Odo meraih tangan pucatnya dan berkata, “Bunda, tolong percayalah, aku akan baik-baik saja. Diriku tidak akan hilang atau lenyap dari dunia ini .... Meski raga ini terluka, diriku pasti akan bangkit dan kembali pada Bunda.”


 


 


“Memangnya apa lagi yang ingin engkau lakukan?” Mavis menatap sedih. Meski dirinya selalu cemas pada Odo, namun ia memang tidak bisa mencegahnya. Rasa dalam benak membuatnya tidak bisa mencegah putranya itu melangkah maju. Dengan rasa sedih dalam dada ia berkata, “Kau sudah berjuang sangat keras, kau sudah melakukan banyak hal .... Tidak bisakah engkau menyerahkan semuanya pada orang dewasa? Bunda hanya ingin melihatmu hidup layaknya anak-anak pada umumnya.”


 


 


Odo mengangkat wajahnya, menatap dengan penuh keyakinan dan menjawab —


 


 


“Aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Aku punya tujuan, aku tahu cara untuk mencapai hal tersebut dengan tanganku sendiri .... Meskipun itu Bunda yang memintanya, aku takkan pernah berhenti sampai itu tercapai.”


.


.


.


.


Lantai tiga bangunan toko Ordoxi Nigrum. Pada salah satu kamar di tempat tersebut, terdapat dua orang Moloia yang kemarin malam Odo bawa dari hutan. Mereka berdua untuk beberapa alasan mengenakan seragam pelayan penginapan Porzan, terlihat kesal dan duduk bersebelahan di atas tempat tidur dalam rasa bimbang.


 


 


“Apa ini sudah tepat, Letnan?” tanya Ra’an kepada perempuan rambut cokelat ikat kuncir yang duduk di sebelahnya. Ia sekilas menunduk, memegang dadanya sendiri dan mengingat kembali momen saat dirinya tertembak. Bekas luka memang samar-samar tertinggal, namun itu sudah sembuh sepenuhnya. Dengan penuh rasa cemas ia kembali berkata, “Sebenarnya apa yang telah dia lakukan pada kita? Bagaimana bisa luka seperti itu sembuh dalam semalam? Dan juga, informasi yang mengalir dalam kepala saat kita bangun itu ....”


 


 


“Kemungkinan besar itu juga ulahnya,” jawab Di’in. Ia menatap perempuan rambut pirang panjang sebahu di sebelahnya, lalu dengan ekspresi ragu bertanya, “Ngomong-omong, informasi apa saja yang dia berikan padamu?”


 


 


“Hah?” Ra’an sedikit bingung, kembali mengingat-ingat dan mulai merasa itu terlalu banyak untuk disampaikan.


 


 


“Apa kau tidak merasa aneh, Di’in?”


 


 


“Apa yang Letnan maksud?”


 


 


“Meski informasinya sangat banyak dan rinci, kita sama sekali tidak lupa sedikit pun.”


 


 


Kedua bola mata Di’in terbuka lebar, ia benar-benar baru menyadari hal tersebut dan segera bangun. Menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan kanan, perempuan rambut pirang itu gemetar dan bergumam, “Ka-Kalau dipikir-pikir, itu benar .... Apa-apaan ini? Kenapa bisa ...?”


 


 


Di tengah rasa bingung dan cemas mereka, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Melihat sosok yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang, kedua perempuan itu menatap tajam dipenuhi rasa cemas dan takut. Pemuda yang melangkah masuk itu adalah Odo Luke, ia menatap ringan dan memasang senyum kecil.


 


 


“Sepertinya kalian baik-baik saja.”


 


 


“Apanya yang baik-baik saja!!” bentak Ra’an. Ia melangkah ke arah Odo, menarik kerahnya dan dengan suara keras bertanya, “Apa yang kau lakukan pada kami? Seenaknya meninggalkan kami tanpa penjelasan dan memerintah! Memangnya kau siapa?!”


 


 


Di’in segera bangun saat melihat itu, lalu dengan ragu berkata, “Ra’a, kekerasan sekarang hanya akan memperkeruh masalah. Lepaskan dia—”


 


 


“Heh!”


 


 


Odo menyeringai, memasang ekspresi gelap dan menatap tajam perempuan yang menarik kerahnya. Mencengkeram kencang pergelengan tangan Ra’an, pemuda rambut hitam itu mendekatkan wajah dan berkata, “Aku Dewa!”


 


 


“H—” Ra’an langsung gemetar, melangkah mundur namun tangannya tetap dicengkeram erat oleh Odo dan pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya.


 


 


“... Iblis, Malaikat, Naga, Manusia .... Kalian ingin menggolongkanku sebagai apa?”


 


 


Saat Ra’an menatap lurus mata pemuda itu, ia langsung terdiam dalam ketakutan. Dalam mata Odo seakan terlihat langit, angkasa, dan saat menatap lebih dalam, sebuah tempat yang ditumbuhi pohon raksasa nampak jelas. Dengan takut perempuan rambut pirang itu menarik paksa tangan darinya, melangkah mundur dan memalingkan mata.


 


 


Melihat rekannya gemetar ketakutan seperti itu, Di’in sempat cemas dan berjalan ke sebelahnya. Ia ikut melihat ke arah Odo, merasakan aura aneh yang diarahkan kepadanya dengan jelas. Menelan liur dengan berat, perempuan rambut cokelat ikat kucir itu menatap lurus dengan wajah pucat pasi.


 


 


“Apa ... yang kau inginkan dari kami?”


 


 


“Maaf, maaf. Sepertinya aku terlalu berlebihan ....” Odo tersenyum kecil, menghilangkan aura intimidasi dan berkata, “Aku hanya ingin memastikan kalian sudah benar-benar pulih atau tidak.”


 


 


“Tak perlu pura-pura bodoh!” tegas Di’in. Perempuan dengan kornea mata violet itu menajamkan tatapannya, lalu dengan lantang berkata, “Kau yang menyembuhkan kami, tentu saja kau tahu persis kondisi kami!”


 


 


Odo memegang dagu, memalingkan pandangan dan memikirkan beberapa hal. Suara gemericik hujan di luar kembali terdengar jelas, membuat suasana menjadi terasa berat dan sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Menghela napas dan menggaruk bagian belakang kepala, pemuda rambut hitam itu berkata, “Pertama aku ingin memastikan sesuatu, apa kalian sudah benar-benar paham dengan informasi yang kuberikan?”


 


 


Di’in dan Ra’an terkejut, mereka saling menatap satu sama lain dan merasa belum bisa memahami informasi-informasi yang diterima mereka. Itu terlalu rumit dan ambigu, seperti sebuah surat yang beberapa kalimatnya dicoret dengan pena hitam sehingga tidak bisa ditangkap maksudnya.


 


 


Paham dengan ekspresi mereka, Odo berhenti menggaruk bagian belakang kepala dan langsung menunjuk kedua orang itu. Dengan nada serius ia berkata, “Karena ulah kalian, perang akan pecah lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.”


 


 


““!!!””


 


 


Kedua perempuan itu terkejut dan ingin membantah hal tersebut. Namun, pada waktu yang bersamaan mereka merasakan hal serupa dan tidak bisa berkata apa-apa. Karena kedatangan para Prajurit Peri yang mempepergoki mereka berkhianat, kemungkinan besar itu akan menjadi pendukung Athena untuk meresmikan keputusan perangnya.


 


 


“Kenapa diam? Pasti ada sesuatu yang ingin kalian katakan, bukan? Seperti menyalahkanku atau semacamnya?” tanya Odo.


 


 


“Tidak ....” Di’in menggelengkan kepala, sepenuhnya paham kalau tindakannya itu merupakan keputusannya sendiri dan berkata, “Meski kami menyalahkanmu, itu tidak akan mengubah apapun.”


 


 


“Letnan benar .... Kami ....”


 


 


Odo berhenti menunjuk, menatap datar melihat reaksi mereka. Memejamkan mata sejenak, pemuda itu kembali melakukan kalkulasi kecil untuk memperkirakan pembicaraan akan pergi ke arah apa. Kembali membuka mata dan meletakkan telapak tangan kanan ke kening dengan ekspresi lelah, pemuda itu berkata, “Baiklah, kalau begitu kita langsung saja ke intinya. Kalian harus membantuku.”


 


 


 


 


“Kalian loyal pada Rhea, ‘kan?” ODo menurunkan tangannya dari kening, memasang wajah malas dan kembali bertanya, “Bukan ke Fraksi atau A.I lain?”


 


 


“Te-Tentu saja!” jawab Ra’an.


 


 


“Hmm, hanya Master yang kami percayai dan layani,” ucap Di’in.


 


 


“Berarti kalian harus membantu aku apapun risikonya.” Jawaban mereka terdengar sedikit meragukan, membuat Odo menyipitkan tatapan. Menarik napas dalam-dalam dan merasa hal tersebut akan menyusahkan untuk diungkit lebih dalam, pemuda itu langsung mengungkapkan, “Kemungkinan besar, telah terjadi konflik Prajurit Peri dengan pasukan yang ada di markas misi sabotase di wilayah Luke ini.”


 


 


“Ko-Konflik? Maksudmu pertarungan antara sesama kubu kerajaan kami?” tanya Di’in tidak percaya.


 


 


“Ya, itu bukan hal jarang di negeri kalian, ‘kan? Contohnya perang sipil ....”


 


 


“Itu ....” Di’in menundukkan wajahnya, mengingat masa lalu yang kelam dan dipenuhi dengan peperangan dan mayat. Melihat ekspresi tersebut, Ra’an sedikit cemas pada rekannya tersebut dan berkata, “Letnan ....”


 


 


“Letak markas kalian di mana? Kalian datang dengan perahu atau semacamnya, ‘kan?” tanya Odo tanpa memedulikan ekspresi kedua perempuan Moloia itu.


 


 


Di’in mengangkat wajahnya dan membulatkan kembali tekadnya, lalu dengan tegas menjawab, “Ya, kami datang dengan kapal perang yang disamarkan. Letaknya ..., ada di sebuah teluk kecil di antara dua tebing di dekat garis pantai wilayah ini.”


 


 


“Kira-kira jaraknya dari kota ini berapa kilometer?”


 


 


“Ini Mylta, ‘kan? Kira-kira ... sekitar 100 kilometer ke arah timur laut ....”


 


 


“Hmm ....” Odo memalingkan pandangan dari mereka, memasang tatapan datar dan bergumam, “Berarti mereka bisa saja menyerang kota ini besok atau paling cepat malam ini, ya? Untung aku selesai mempersiapkan pencegahannya?”


 


 


““Pe-Penyerangan?””


 


 


Di’in dan Ra’an terkejut mendengar itu, mereka mulai berkeringat dan menatap satu sama lain dalam kebingungan. Melangkah mendekat ke arah Odo, Di’in memastikan, “Apa mereka akan menyerang tempat ini? Kurasa ... mereka tidak akan melakukannya. Mereka datang untuk misi rahasia, mana mungkin akan menyerang terang-terangan.”


 


 


Odo melirik ke arahnya dan bertanya, “Apa kau yakin berkata seperti itu? ”


 


 


“Apa yang akan menyerang terang-terangan itu para Prajurit Peri?” tanya Ra’an.


 


 


“Kemungkinan besar, iya.” Sorot mata Odo kembali berpaling dari mereka, menghela napas kecil dan berkata, “Tapi ..., berarti orang menyusahkan yang dimaksud Rhea itu sudah datang. Siapa yang melakukan Invocation? Masa dia melakukan itu sendiri? Apa dia datang dengan algoritma bersyarat?”


 


 


“Apa ... yang kau bicarakan?” tanya Di’in bingung.


 


 


“Ah, enggak apa-apa.” Odo berhenti memegang dagu, tersenyum kecil dan dengan ringan berkata, “Jangan cemas, meski menyerang kota ini pun itu akan percuma bagi mereka.”


 


 


Kening Di’in sedikit mengerut saat mendengar perkataan tersebut, ia dengan serius memperingatkan, “Kau tidak boleh meremehkan para Prajurit Peri itu, terutama seorang High Elf bernama Laura. Sekali tarik pelatuk, dia bisa menghancurkan kota ini dalam sekejap. Dia adalah salah satu senjata rahasia kerajaan Moloia.”


 


 


“Hmm, senjata rahasia, ya? Aku hargai peringatanmu.” Odo berbalik, kembali membuka pintu dan berkata, “Kalau begitu, ikut aku! Kita ke loteng.”


 


 


“Loteng?” tanya Di’in bingung.


 


 


“Senjata kalian ada di sana, aku sudah meminta salah satu anak buahku untuk mengambilnya. Yah, meski tenda dan semacamnya tidak diambil karena masalah ruang.”


 


 


Kedua perempuan Moloia itu mengingat perkataan seorang pria bermata Heterochromia yang sebelumnya mereka temui di lantai satu saat diperintahkan untuk membantu urusan dapur. Pria itu berkata mendapat perintah untuk mengambil sesuatu di hutan. Dengan sedikit penasaran, Ra’an memberanikan diri bertanya, “Apa ... salah satu bawahanmu itu seorang Native dengan kekuatan teleportasi?”


 


 


Langkah kaki Odo terhenti di pintu, menoleh dan menjawab, “Hmm, kekuatan Matius memang masuk ke kategori teleportasi, dia yang mengambil peralatan kalian.”


 


 


Sekilas mereka memasang ekspresi cemas, di kerajaan Moloia pun orang-orang dengan kelainan Inti Sihir, Native Overhoul, cenderung memiliki reputasi yang buruk karena bisa dengan mudah berkhianat dan mengambil tindakan tidak logis.


 


 


“Tenang saja, dia tidak akan membuat ulah,” ucap Odo.


 


 


“Kamu memang aneh, ya? Apa itu keunikan dari seorang Unsur Hitam?” tanya Di’in.


 


 


Mendengar hal tersebut, Odo tidak merespons atau sekadar mengubah ekspresinya. Ia kembali menatap ke depan dan berjalan keluar, lalu dengan nada santai berkata, “Sudahlah, ayo kita ke loteng. Aku butuh bantuan kalian untuk membongkar senjata-senjata itu dan memahami strukturnya.”


 


 


\=======================================


Catatan:


 


 


Eng .... Bungung mau beri catatan apa, jadi ya ....


 


 


See you Next Time!