Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 54 : Aswad 1 of 15 “Kesadaran diri” (Part 02)



 


 


 


Pada basement toko Ordoxi Nigrum, pemuda rambut hitam tersebut melangkahkan kaki di permukaan lantai kayu. Sirkuit sihir pada dinding, kabel dari batu kursa, dan Reaktor Sihir menjadi sumber cahaya dalam ruang tertutup itu. Benang-benang kristal yang tertanam pada permukaan dinding, susunan formula untuk menyalurkan Mana yang bersinar putih, dan Rektor Sihir yang menjadi pusat dari semua itu.


 


 


Tepat di ujung ruangan tempat mata Odo melihat, terdapat sebuah bola seperti globe yang melayang di tengah pilar-pilar kristal merah setinggi kurang lebih satu meter. Pilar kristal berjumlah tujuh buah, dengan topografi membentuk sebuah pola poligon dengan ketujuh sisi melambangkan tujuh dosa besar. Dengan pusat bola kristal berwarna merah yang melayang di tengahnya, itu disimbolkan seorang manusia sebagai pemilik tujuh sifat tersebut.


 


 


Dalam struktur Reaktor Sihir yang ada, telah diproyeksikan sebuah bentuk paling manusiawi dari sirkulasi energi yang tercipta dari susunan yang ada. Dengan kata lain, bangunan toko sendiri sudah menggambarkan sebuah makhluk hidup yang bisa menghasilkan energi dan apa yang ada di dalamnya adalah organ-organnya. Menggunakan sirkuit sihir seperti saraf dan pembuluh darah, semua fungsi tersebut bisa aktif dalam susunan tiruan kehidupan tersebut dan Reaktor Sihir tersebut berfungsi sebagai jantung.


 


 


Berjalan ke arah Reaktor Sihir, pemuda rambut hitam itu berjongkok di depannya dan memeriksa katalis depan dari alat tersebut. Ada sebuah kotak besi berwarna metalik di depan Reaktor Sihir, itu terhubung dengan intinya melalui benang-benang kuarsa dalam jumlah cukup banyak. Saat dibuka, di dalam kotak terlihat sebuah kristal sihir kualitas rendah yang sudah mulai retak. Itu adalah objek utama yang menerima semua beban dari susunan sihir di bangunan tersebut, digambarkan juga sebagai makanan yang akan dicerna dalam lambung dan proteinnya dialirkan ke seluruh tubuh.


 


 


“Sudah kuduga, pergantian komponennya boros. Memang harus cari bahan lain yang tepat untuk ini ....”


 


 


Odo mengambil kristal sihir dari dimensi penyimpanan, kristal itu adalah kristal monster Minotaurus yang sebelumnya ia dapat sebelum datang ke kota. Saat pemuda itu mencabut kristal yang terpasang pada kotak kecil di depannya, seketika sirkulasi energi terganggu dan cahaya Reaktor Sihir meredup bersama semua sirkuit yang ada di bangunan. Memasang kristal yang baru, fungsi yang ada kembali berjalan optimal.


 


 


Melihat kristal lama yang dirinya ambil, sekilas ia merasa kalau memang itu sudah kehilangan kekuatannya karena digunakan sebagai katalis Reaktor Sihir. Apa yang pemuda itu buat sedikit berbada dengan susunan dari Reaktor Sihir di Mansion yang harus menggunakan penggantian benang kuarsa secara rutin. Dengan membebankannya pada satu kristal sihir, semua kerusakan yang bisa timbul dari sirkulasi energi akan sepenuhnya dibebankan pada kristal sihir yang ada pada kotak Reaktor Sihir di depannya.


 


 


“Ini memang terlihat boros karena harus menggantinya secara rutin meski tidak dipakai secara penuh, tapi untuk sementara kurasa tak masalah.”


 


 


Saat pemuda itu bangun, kristal yang dipegangnya hancur sepenuhnya menjadi abu dan butirannya jatuh ke lantai. Sekilas pemuda itu menatap datar, merasa kalau memang bahan alternatif untuk pengganti katalis yang sesuai.


 


 


“Hmm ...” Pemuda itu berbali, meninggalkan Reaktor Sihir dan berjalan ke arah anak tangga untuk naik ke atas. Sembari memasang ekspresi lelah, pemuda itu menghela napas dan bergumam, “Kira-kira Bunda tahu cara mengatasinya tidak, ya? Apa untuk lebih aman aku tanya saja ke Lileian? Dia yang paling jago soal sihir ....”


 


 


««»»


 


 


Mentari perlahan terbenam, hari dengan pasti berganti malam dan senja kemerahan menjadi tanda perawalan di antara kedua hal tersebut. Keramaian masih menjadi tema utama dari kota pesisir yang masuk dalam proses progresif itu, lalu-lalang gerobak dan langkah kaki mewarnai kota dengan kemeriahan. Dalam momen yang perlahan menggelap, pada jendela-jendela tiap bangunan terlihat cahaya yang mulai menyala dan orang-orang keluar dari dalam untuk menggantung lentera di depan kediaman mereka untuk penerang jalan.


 


 


Pada toko Ordoxi Nigrum yang terlihat sedikit gelap dari luar, semua anggota perusahaan tersebut berkumpul di lantai satu untuk membicarakan hal penting menjelang malam. Lampu gantung dalam ruangan bersinar terang, suara desis dari sirkulasi Mana terdengar begitu pelan dari ruang bawah tanah. Suasana sedikit senyap membawa nuansa sedikit aneh, namun dominasi suara gemericik minyak dari dapur membuat orang-orang yang duduk di depan menunggu dengan tak sabar.


 


 


Keluarga Demi-human duduk bersama dengan Matius dan Isla pada satu meja. Pada meja yang tak jauh dari mereka, Arca duduk bersama dengan kedua Butler pribadinya dan juga Nanra. Pada meja yang berbeda dari mereka, Mavis yang identitasnya masih belum terbongkar duduk sendirian dengan santai sembari meminum teh yang putranya buat di dapur setengah jam lalu.


 


 


Pada keluarga mantan bandit, terlihat bayi kecil yang duduk di pangkuan Isla. Berkat sejak siang terus tertidur, bayi yang masih berusia belum genap tiga tahun tersebut terlihat cukup bersemangat dalam dekapan ibunya. Bayi tersebut bernama Suigin, terlihat seperti bayi manusia murni namun sedikit mewarisi tatapan sayu ibunya yang merupakan Demi-human tipe kurang.


 


 


Suigin naik ke atas meja, mulai berdiri dan dipegangi Isla karena kedua kakinya masih belum kuat menahan tubuhnya sendiri. Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar, melambai-lambai ke arah orang-orang yang duduk pada meja tersebut seakan ingin mengajak mereka bermain.


 


 


Melihat tingkah bayi kecil tersebut, kedua mata Mavis seakan berseri-seri dan ingin segera bangun untuk menggendong anak menggemaskan tersebut. Namun sebelum bergerak dari tempat duduk, ia seketika tersadar kalau perasaan seperti itu tidak muncul dalam benaknya saat Odo masih seusia bayi tersebut. Mavis termenung, perlahan mulai menyadarinya kalau memang dari awal dirinya secara tak sadar tidak bisa menerima putranya sebagai seorang anak secara utuh.


 


 


“Tch! Apa Odo masih belum selesai di dapur? Lama sekali ....”


 


 


Ucapan Arca membuat Mavis tersentak, berhenti tenggelam dalam pikiran tersebut dan memalingkan pandangan dengan sedikit rasa takut dalam benak. Melihat gelagat perempuan yang datang bersama Odo tersebut, Nanra menatap heran dan sekilas mengira-ngira siapa sebenarnya perempuan itu.


 


 


“Seperinya dia bukan Shieal .... Apa pelayan biasa? Tapi, pakaiannya berbeda. Untuk apa Odo mengajaknya?” benak gadis rambut putih keperakan tersebut sembari menatap datar Mavis.


 


 


Di tengah suasana canggung saat mereka disuruh menunggu, pintu dapur terbuka dan perhatian semua orang terpusat dengan cepat. Dua orang yang mengenakan apron putih keluar dari dapur bersama dengan aroma yang seketika menyebar ke penjuru ruangan. Elulu membawakan dua buah nampan berisi beberapa piring makanan, di belakangnya Odo juga ikut keluar dari dapur membawakan nampan berisi minuman untuk semua orang. Asap sekilas keluar dari kedua nampan dan minuman yang mereka bawa tersebut.


 


 


“Maaf, menyerahkan semuanya padamu dan Tuan,” ucap Isla dengan tatapan sedikit pucat. Ia mengangkat putrinya yang berdiri di atas meja untuk turun ke pangkuan, lalu mengelus lembut kepalanya.


 


 


“Tak apa ....” Elulu menurunkan piring-piring ke atas meja, menatanya dengan rapi tiap menu untuk satu orang dan kembali berkata, “Anakmu tadi bangun, sih. Tuan juga tidak mempermasalahkannya, jadi tak masalah ....” Sekilas gadis berseragam pelayan itu melirik ke arah pria yang duduk di samping Isla, tersenyum ringan dengan maksud menyindir karena pria itu tidak bisa menenangkan putrinya sendiri yang sebelumnya terbangun dengan tangisan.


 


 


Selesai menata piring pada satu meja tersebut, Elulu mengangkat nampan berisi piring makanan lainnya dan membawanya ke meja tempat Arca dan yang lainnya berada. Saling berpapasan dengan Odo yang baru saja meletakkan minuman pada meja mereka, pemuda rambut hitam itu berbisik, “Seperti yang kubilang tadi, jangan pula letakkan juga makannya untuk perempuan di pojok.”


 


 


“Siap ....”


 


 


Tak butuh waktu sampai lima menit, semua makanan dan minuman yang telah siap tertata rapi di atas meja untuk makan malam mereka. Elulu menarik kursi dari kolom meja yang sama dengan Mavis, lalu ikut duduk dan melihat ke arah Odo yang hendak mengumumkan sesuatu.


 


 


Berdiri menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam ruangan, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Apa yang ada di depan kalian adalah menu toko ini. Yah, mungkin kalian sudah tahu kalau tempat ini akan menjadi seperti restoran, bukan?”


 


 


Mendengar perkataan Odo, hampir semua orang terlihat bingung harus bereaksi seperti apa. Melihat ke arah makanan yang disediakan masih hangat di atas piring kayu, mereka sekilas merasa tidak ada yang spesial dari makanan tersebut. Ada yang permukaannya terlihat kering, ada juga yang terlihat seperti rumah siput. Semua masakan tersebut tercium aroma sedap dari daging ayam, daging sapi, serta daging ikan yang khas. Itu terlihat sederhana untuk sebuah makanan yang resepnya pemuda itu pegang sendiri.


 


 


Memasang wajah kecewa dan sedikit kesal karena dibuat menunggu lama untuk masakan tersebut, Arca menatap ke arah pemuda rambut hitam itu dan berkata, “Kau menunda laporanku soal kerja sama dengan Serikat Dagang hanya untuk ini?”


 


 


“Apa maksudmu hanya?” Odo menatap datar, lalu seraya menunjuk Arca berkata, “Coba dulu nuggetnya ....”


 


 


“Nugget?” Arca mengerutkan kening.


 


 


 


 


“Ah, ini?”


 


 


Arca mengambil nugget dari piring hanya dengan dua jari, menatap datar makanan itu dan masih terlihat sedikit kesal karena laporannya nanti baru akan dibahas setelah tes menu selesai. Dengan ekspresi enggan, pemuda itu mencicipi sepotong nugget tersebut.


 


 


Suara renyah seketika terasa pecah dalam mulutnya, lalu saat gigitannya semakin dalam sebuah kelembutan menyambut. Gurih alami daging ayam dengan jelas menyebar dalam mulut, bercampur dengan beraneka ragam bumbu rempah yang membuat cita rasanya melonjak. Itu sempat membuat Arca terkejut karena tekstur renyah dan lembut yang dirasakan hampir dengan sempurna menyatu di dalam mulut.


 


 


Dalam kunyahan pertama dan kedua gurih ayam yang bercampur bumbu langsung semakin menyebar di dalam mulut Arca. Kulit renyah yang unik dan mengeluarkan bunyi setiap digigit, menyatu dengan bagian dalam yang empuk serta kombinasi daging ayam yang tercampur rapi di dalam satu paket potong nugget tersebut.


 


 


Arca dengan cepat penasaran dengan apa yang dirinya makan, namun ia sempat ragu dan tidak bisa bertanya karena apa yang sebelumnya ia katakan pada Odo. Pemuda rambut cokelat itu hanya bisa terdiam sambil memasukan nugget ke dalam mulut dan mengunyahnya.


 


 


Saat pemuda rambut cokelat itu ingin mengambil satu buah lagi dari piring satunya, Odo langsung mendekat dan menghentikan pemuda dari keluarga Rein tersebut. Memegang erat pergelengan tangan Arca, Odo menatap tajam dan berkata, “Satu orang satu menu. Silakan cicipi yang lain dan biarkan kedua bawahanmu juga ikut mencicipi .... Kau paham, Arca.”


 


 


“A— eng, ba-baiklah.”


 


 


Arca memalingkan pandangan dengan pucat, kulitnya mulai mengeluarkan keringat dingin yang begitu jelas. Saat Odo melepaskan tangannya, pemuda itu terlihat sedikit gemetar dan sama sekali tidak berargumen. Ekspresi pemuda rambut hitam tersebut membuat semua orang terdiam dan suasana sesaat terasa tegang, bahkan sampai Suigin yang duduk di pangkuan Isla terlihat ingin menangis.


 


 


Tidak memperpanjang hal tersebut, setelah itu semua orang di tempat tersebut mencicipi tes makanan yang disediakan di atas piring mereka. Jenis menu makanan yang disediakan ada beberapa macam seperti nugget ayam, nugget ikan tenggiri, nugget sapi, ayam goreng fillet berbaut tepung renyah, dan rolade dengan bahan utama daging sapi.


 


 


Meski setelah suasana canggung yang ada, dengan penuh gairah mereka semua mulai mencicipi menu satu persatu. Bumbu-bumbu unik dengan cita rasa tidak bisa dan campuran bahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, semua itu membuat setiap orang yang menyantap menu-menu baru tersebut merasakan sebuah cita rasa unik yang belum pernah dinikmati sebelumnya. Itu memang tidak terlihat seperti makanan yang benar-benar baru atau sangat asing, namun tetap saja kombinasi yang ada menciptakan rasa yang tidak biasa untuk kalangan orang-orang Felixia.


 


 


“I-Ini ...” Logi langsung terkejut saat memakan salah satu menu nugget yang ada, dengan kedua mata terbuka lebar ia berkata, “Enak sekali! Renyah dan daging ikannya bersatu! Rasa amisnya sama sekali tidak terasa!”


 


 


“Bicara apa kau!” Ligh dengan mulut berisi makanan menatap tajam rekan di sebelah kanannya tersebut, seraya menunjukkan nugget yang telah digigit setengah ia berkata, “Yang isi sapi lebih enak! Tekstur kenyal daging sapi dan renyah kulit luarnya ini kombinasi sempurna!”


 


 


“Kak Penyihir!” panggil Sittara dengan ceria. Anak gadis itu mengangkat Rolade menggunakan garpunya, lalu dengan mulut belepotan kembali berkata, “Ini enak sekali!!”


 


 


“Hmm ....” Totto mengangguk ringan sembari memakan nugget sapi menggunakan tangannya langsung, ia dengan lahap menghabiskan jenis-jenis nugget lainnya. Saat semua nugget hampir habis, sembari menjilat sisa remah pada jemari ia berkata, “Aku memang tak tahu soal makanan, tapi yang jelas ini lebih enak daripada makanan kemarin.”


 


 


“Maaf ya kalau masakanku tidak terlalu enak!” Elulu menyantap Rolade dengan kasar, menatap datar ke arah pria itu karena merasa tersinggung. Perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut memang telah mencicipi semua menu di dapur, namun tetap saja rasa enak dari makanan tersebut membuatnya tidak bisa berhenti menyantapnya.


 


 


“Bu-Bukan begitu maksudku!” Totto terlihat sedikit panik mendengar itu. Menatap cemas perempuan yang duduk pada meja yang berbeda dengannya, pria Demi-human tersebut melontarkan alasan, “Hanya saja rasa makanan ini sedikit unik rasanya ....”


 


 


“Kak Tottto, kalau ngomong dijaga, dong.” Mattari menyenggol pria yang duduk di sebelahnya itu, lalu dengan tatapan datar perempuan rambut kepang dua tersebut berkata, “Tentu saja ini lebih enak, masakan ini’kan yang buat Tuan Penyihir!”


 


 


“Ehm-mm, ini ....” Berbeda dengan kedua saudaranya tersebut, Ritta menikmati makanan yang disajikan untuknya dengan pelan dan hanya sedikit yang dirinya gigit dari semua yang ada di piring. Menatap ke arah Odo dengan sorot mata sayu, Demi-human tipe garbil berwajah pucat tersebut berkata, “Rasanya memang enak.”


 


 


Odo sedikit cemas melihat gelagat perempuan itu. Dari semua anggota keluarga Demi-human tipe garbil yang bergabung dalam perusahaan Ordoxi Nigrum, perempuan tersebut memang yang paling rawan dan terlihat bisa saja ambruk kapan saja dengan kondisi seperti itu.


 


 


“Sebaiknya nanti aku cek kesehatannya,” benak Odo seraya sedikit memalingkan pandangan dari Ritta.


 


 


“Oua~maaaa~ maa~!” Suigin berusaha naik ke atas meja dan ingin mengambil sepotong Rolade dengan tangannya sendiri. Isla menghentikan putrinya tersebut, lalu kembali memangkunya. Sembari tersenyum kecil, wanita sayu tersebut sibuk menyuapi Suigin sampai tidak sempat mencicipi semua makanan yang tersedia.


 


 


Dari semua orang yang memakan masakan Odo, selain Isla dan putrinya, hanya Mavis dan Nanra yang tidak mengucapkan pendapanya mereka tentang menu yang ada. Mereka berdua hanya menyantapnya dalam ketenangan, tanpa memperlihatkan ekspresi yang jelas bahwa mereka sebenarnya sangat menikmati makanan-makanan tersebut. Sebelum semua orang selesai, piring mereka berdua telah bersih terlebih dulu bahkan sampai bumbu tambahan yang ada di sekitar piring ludes tak tersisa.


 


 


Arca terdiam dengan tatapan datar, sembari menikmati salah satu menu nugget yang disediakan untuknya. Merasakan renyahnya kulit luar yang terasa, dengan penasaran pemuda itu pada akhirnya bertanya, “Odo, ngomong-omong bagian kulitnya ini apa? Kurasa daging kalau digoreng dengan banyak minyak juga tidak akan serenyah ini ....”


 


 


“Coba tebak,” ucap Odo sembari menatap datar pemuda dari keluarga Rein tersebut.


 


 


“Kurasa ini ....” Arca kembali menggigit nugget yang tersisa, merasakan tekstur renyah yang ada dan dengan sedikit ragu menjawab, “Telur ayam ...? Rasanya sedikit seperti telur.”


 


 


“Sayang sekali kurang tepat ....” Odo menggelengkan kepala. Berjalan tempat Arca duduk, pemuda rambut hitam tersebut mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan dengan penuh rasa percaya diri berkata, “Kulit renyah nugget itu terbuat dari tepung panir dan pengemulsi dari kuning telur.”


 


 


“Peng— apa tadi? Tepung panir? Apa itu? Apa ada jenis tepung yang kalau digoreng bisa seperti ini? Terlebih lagi, kenapa tepung bisa serenyah ini?”


 


 


Arca benar-benar tidak tahu soal itu. Untuk orang yang ahli dalam bidang ilmu politik dan mengatur orang lain, pemuda rambut cokelat tersebut bisa dikatakan sangat awam soal masakan. Odo menghela napas ringan mendapat pertanyaan semacam itu, lalu sembari menggaruk bagian belakang kepala ia menjawab, “Tepung panir itu olahan dari roti tawar, loh.”


 


 


“Eh? Ah ....” Sekilas Arca terkejut, paham soal hal tersebut dan segera menoleh ke beberapa sudut ruang sembari berkata, “Kalau dilihat-lihat, karung berisi roti yang sudah dipotong dadu tidak ada, ya?”