Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 47 : Mutual-Evîn 7 of 10 “Samsara” (Part 03)



 


 


Setelah melakukan beberapa pembicaraan, Odo dan Vil keluar dari kamar dan hendak pergi ke lantai bawah. Melewati lorong lantai dua penginapan, seorang pelayan penginapan yang biasa mereka jumpai menyapa, “Selamat pagi, Tuan Odo .... Hari ini mau pergi lagi?” Perempuan dengan gaun hijau berangkap celemek putih itu membungkuk hormat, kembali berdiri tegak dan melempar senyum ramah.


 


 


Rambut panjang dengan warna cokelat kepirangan yang dikepang tunggal, kulit cerah yang terlihat halus, kornea mata kuning keemasan yang tajam. Perempuan yang datang menyapa itu memang terlihat sedikit berbeda dengan kebanyakan pelayan lainnya di penginapan Porzan.


 


 


Odo tidak membalas sapaan tersebut, kepura-puraan sudah tidak diperlukannya lagi sekarang. Menyeringai lebar dan menatap dengan memancarkan rasa haus darah, pemuda rambut hitam itu berkata, “Selama pagi juga ....”


 


 


Tubuh pelayan penginapan itu seketika gemetar, melangkah mundur dan bola matanya sempat berpaling. Mendapat reaksi seperti itu Odo memastikannya, bawah memang ada sesuatu yang disembunyikan pelayan penginapan tersebut karena daripada takut ia cenderung menjadi waspada. Dengan cepat mengganti ekspresi mengintimidasi dengan senyuman ramah, Odo bertanya, “Padahal dari kemarin-kemarin sering berpapasan seperti ini tapi aku belum tahu nama Kakak, ya. Nama kakak siapa, ya?”


 


 


Pelayan penginapan itu dengan ragu menjawab, “Be-Benar juga, saya belum memperkenalkan diri dengan benar.” Ia sedikit mengangkat gaunnya, menyilangkan kaki kanan ke belakang kaki kiri dan membungkuk, “Nama saya Bianca Irca Marta, panggil saja Bianca.”


 


 


“Kalau nama aslimu?”


 


 


Pertanyaan itu membuat pelayan penginapan tersebut tersentak dan gemetar. Berusaha menyembunyikan rasa cemasnya, ia langsung berdiri tegak dan tersenyum kecil. Dengan nada yang terkesan kaku ia bertanya, “Apa yang Anda maksud, Tuan Odo?”


 


 


“Hahah, maaf. Cuma bercanda ....” Odo tertawa kecil mendengar itu. Segera menggandeng Vil, ia berjalan melewati pelayan itu sembari berkata, “Kalau begitu, aku pergi dulu. Yang semangat kerjanya ya, Kak Bianca.”


 


 


Saat Odo berjalan melewatinya dan pergi ke arah tangga, tubuh perempuan rambut cokelat kepirangan itu tidak bisa berhenti gemetar. Menoleh dengan penuh rasa cemas, ia bergumam, “Apa ... aku ketahuan? Sejak kapan? Pemuda itu ..., dia  ....” Perempuan itu hanya bisa menatap punggung mereka, tidak berani menghentikan dan hanya berdiam diri dihantui rasa cemas dan takut.


.


.


.


.


 


 


Sembari menyusun beberapa konsep dalam kepala, Odo melangkahkan kaki menuruni anak tangga penginapan. Suasana senyap yang ada di lantai satu tidak ia pedulikan sama sekali, pemuda itu hanya melangkahkan kaki dengan tatapan gelap penuh beban pikiran.


 


 


Di belakangnya Vil mengikuti, Roh Agung itu segera menoleh ke lobi yang bisa dilihat sembari menuruni anak tangga. Ia sedikit menganga dengan kening mengerut, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di lobi. Persis seperti apa yang Odo katakan saat di kamar, semua orang yang akan mendapat peran dalam sandiwara omong kosong berkumpul di tempat tersebut.


 


 


Lisia terlihat duduk pada salah satu meja di lobi penginapan Porzan. Perempuan rambut merah itu mengenakan pakaian formalnya, berupa kemeja putih dengan dasi merah dan celana panjang ketat yang dirangkap rok pendek. Berdiri di belakang Walikota Pengganti itu, Iitla Lots, Kepala Prajurit Kota Mylta tersebut berperan sebagai pengawalnya untuk pertemuan yang sedang dilakukannya. Ia juga mengenakan pakaian formal, berupa mantel militer beraksen biru gelap dan hitam.


 


 


Pada meja yang sama, duduk juga Eksekutif Serikat Dagang Lorian Cabang Kota Pesisir, Aprilo Nimpio. Pria paruh baya rambut pirang pendek tersebut mengenakan jas cokelat dan celana hitam, memegang kertas perkamen dan terlihat sedang memeriksa sebuah laporan. Mata dengan kornea keemasan pria itu bergerak cepat ke kenan dan kiri, membaca tiap-tiap kalimat dan lembar dokumen laporan yang diletakkan pada meja di depannya. Di belakang Aprilo berdiri pria congkak rambut hitam dengan setelan hitam,  ia adalah Butler pribadinya yang bernama Igra Meio.


 


 


Di kedua sisi Eksekutif Serikat Dagang Lorian tersebut, duduk dua pria yang merupakan salah satu anggota serikat.


 


 


Di sebelah kanan adalah Wicead Richard, pria paruh baya rambut cokelat pendek dengan berewok dan kumis tipis yang membuatnya seakan memancarkan aura seorang pengusaha matang. Pria yang mengenakan setelan formal dengan rangkap jas merah tersebut adalah pemilik Toko Besar Richard, bergerak pada bidang penjualan makanan pokok dan hasil ladang seperti gandum, susu, telur, dan semacamnya.


 


 


Sedangkan di sebelah kiri Eksekutif Serikat Dagang Lorian, duduk pria paruh baya berambut cokelat dengan jenggot jarang dan membuatnya terlihat sedikit lebih muda dari rekannya namun tidak menghilangkan kesan pedagang berpengalaman. Ia adalah Pemilik Perusahaan Jony yang bergerak pada bidang distribusi hasil laut, Joe John.


 


 


Kedua pengusaha yang duduk di kedua sisi Aprilo tersebut menatap tajam Lisia dengan mata biru mereka, menunjukkan rasa tak senang dan sedikit permusuhan karena beberapa hal yang terjadi di masa lalu.


 


 


Pada meja berbeda yang tak jauh dari mereka duduk, terlihat Owner penginapan, Potz Porzan. Pria yang usianya hampir menyentuh kepala empat itu cukup tertekan karena suasana yang ada, bahkan rambut pirang kremnya sampai ada beberapa helai yang rontok dini karena atmosfer tegang yang ada. Meski sebagai Owner penginapan, pria dengan pakaian koki itu hanya bisa diam dan menundukkan wajah.


 


 


Pada meja yang sama dengan Porzan, duduk orang-orang yang menjadi sumber tekanan bagi pria tersebut. Salah satunya adalah Arca Rein, calon pewaris utama keluarga Rein. Pemuda rambut cokelat pendek itu duduk menyilangkan kakinya dengan angkuh, berpenampilan sedikit tidak sopan dengan membuka kancing kemejanya dan memperlihatkan tunik cokelat yang dikenakan sebagai kaos dalam. Di belakang Arca terlihat dua Butler pribadinya, berdiri tegak dalam posisi siap dan menyilangkan kedua tangan ke belakang.


 


 


Pada meja yang sama di sebelah kanan Porzan, duduk Minda dan Imania. Kedua perempuan Shieal itu memperlihatkan tatapan tak ramah kepada calon pewaris keluarga Rein yang duduk satu meja dengan mereka, seperti memang telah terjadi beberapa pembicaraan yang menyinggung mereka berdua. Minda mengerutkan kening, perempuan rambut hitam dengan seragam pelayan itu terlihat seperti ingin membentak dan tangannya gatal ingin menggebrak meja. Berbeda dengan rekannya, Imania hanya menatap datar namun itu dipenuhi rasa benci yang dalam.


 


 


Melihat semua orang tersebut, langkah kaki Vil dan Odo terhenti sesaat setelah menuruni anak tangga. Mata Odo melihat memindai sekali lagi, memastikan sesuatu dan segera paham apa yang sedang terjadi. Ruang lobi penginapan seakan disewa penuh oleh mereka, tidak ada orang lain yang menginap di tempat tersebut meski seharusnya para pengawas eksekusi masih berada di kota Mylta.


 


 


“Menyusahkan memang,” gumam Odo.


 


 


Ia segera menggandeng Vil dan membawanya pergi menuju pintu utama penginapan untuk keluar. Roh Agung itu seketika bingung, melihat ke sana kemari dengan gugup. Ia tidak mengerti kenapa Odo malah mengajaknya keluar dan bukan ke tempat orang-orang itu duduk.


 


 


“Eh? Kenapa? Bukannya tadi bahas lama-lama— Eh? Eh?”


 


 


“Untuk apa terjun ke perangkap tikus seperti itu, menyusahkan.”


 


 


“Eh?”


 


 


Meski bingung dan tidak mengerti apa maksudnya, Vil tetap mengikuti pemuda itu pergi ke arah pintu utama. Namun saat baru sampai di depan meja resepsionis yang tidak dijaga oleh siapa pun, seseorang dari kumpulan orang-orang di meja lobi dengan lantang berkata, “Mau pergi ke mana kau, Tuan Odo Luke?!”


 


 


Suara terasa sangat asing bagi Odo, namun dirinya langsung tahu kalau yang memanggilnya itu adalah Arca Rein. Menyadari pewaris keluarga Rein itu memanggil dengan cara gamblang menyebut nama asli dan bukan Nigrum, Odo sekilas menyeringai karena menemukan senjata kecil untuk pembicaraan. Ia langsung paham kalau pembicaraan orang-orang itu sudah sampai pada titik dimana identitas nama Nigrum terbongkar kepada ketiga pengusaha yang ada di tempat tersebut.


 


 


Sembari perlahan menoleh, dalam benak Odo berkata, “Begitu, ya. Dia ... memanggilku Odo meski dalam wujud remaja seperti ini. Berarti memang benar orang itu awal permasalahannya dan biang keladinya.” Menatap langsung mata pemuda rambut cokelat yang duduk dengan angkuh tersebut, Odo hanya memasang senyum kecil.


 


 


Odo tidak berkata apa-apa, langsung berjalan ke meja tempat Arca berada dan menatap calon pewaris keluarga Rein itu dengan datar. Semua orang yang ada di lobi terdiam dan menatap ke arah pemuda rambut hitam yang datang itu, kecuali Aprilo yang masih sibuk dengan berkas-berkas.


 


 


Sekilas kornea matanya berubah hijau, lalu Odo pun bertanya, “Pasang jebakan getah tikus?”


 


 


Arca sedikit terkejut saat Odo membuka pembicaraan dengan sindiran itu, memasang senyum kecil dan berhenti menyilangkan kakinya. Duduk menghadap Odo, pemuda rambut cokelat itu berkata, “Jebakan tikus, ya. Hahahah!” Arca Rein terbahak, memukul-mukul meja dengan telapak tangan dan kembali berkata, “Sungguh sindiran yang sesuai untuk para tikus yang sekarang terkena jebakan itu! Lucu sekali, bukan? Mereka mengira akan dapat keju tapi malah terjebak dalam getah yang takkan bisa lepas dengan tenaga mereka sendiri!”


 


 


Odo berhenti menggandeng Vil, menggaruk bagian belakang kepalanya sendiri dan dengan resah berkata, “Terus, apa kau ingin makan tikus-tikus itu?”


 


 


“Tentu saja tidak ....” Arca tersenyum lebar, sedikit mengangkat dagu dan menatap dengan angkuh. Lurus menunjuk Odo, dengan nada mengancam ia berkata, “Tikus-tikus ini sangat langka dan harganya mahal, tapi tetap saja hama. Itu hanya sebuah alat untuk menangkap babonnya saja.”


 


 


“Aku bukan Tikus.”


 


 


“Ho’oh ....” Arca berhenti menunjuk, sembari meletakkan sikunya ke atas meja dan menyangga kepala dengan tangan kanan ia pun berkata, “Lalu kau apa?”


 


 


“Aku Naga.” Odo balik menunjuk pewaris keluarga Rein tersebut, lalu dengan tegas menyatakan, “Dan kau adalah Harimau.” Odo menurunkan tangan, menghela napas dan menatap datar.


 


 


Sekilas sorot mata Arca dipenuhi api semangat, darahnya seakan mendidih dan merasa tertantang karena deklarasi semacam itu. Itu pertama kalinya Putra Sulung Keluarga Rein tersebut bicara dengan orang yang cepat paham kiasan-kiasan dan menekannya langsung dengan kalimat singkat.


 


 


Bangun dari tempat duduk dan berdiri di hadapan Odo, dengan lantang pemuda rambut cokelat itu berkata, “Sepertinya engkau memang persis seperti yang Ayahanda katakan. Meski aku jujur masih heran kenapa anak yang belum berumur sepuluh tahun bisa sebesarmu, tapi kurasa memang ini akan menjadi menyenangkan.”


 


 


Odo sedikit benci sifat semacam itu, seakan-akan Putra Sulung Keluarga Rein itu menggunakan statusnya untuk main-main dan menekan mereka yang bersungguh-sungguh hanya untuk hiburannya semata. Sedikit menyipitkan mata dan menatap tajam, dengan tegas Odo memperingatkan, “Harimau, lebih baik kau kembali ke habitatmu saja ...!”


 


 


“Hah!” Rein tidak mengindahkan itu, tersenyum lebar dan balik berkata, “Kau juga, Naga kembali saja ke gua atau hutan. Kalau saja kau terus berada di sarangmu, mungkin kau tidak akan dianggap hama seperti para tikus.”


 


 


Sekilas Odo melirik ke arah Aprilo yang terlihat sangat serius membaca tiap-tiap lembar perkamen dari dokumen yang disodorkan padanya. Dari itu, Odo sedikit menyimpulkan beberapa hal tentang apa yang membuat semua orang tetap duduk di tempat meski dalam tekanan yang sampai menyesakkan napas mereka.


 


 


“Ada apa?” Arca melihat ke arah apa yang Odo lirik. Tahu kalau ia sedang melihat ke arah Eksekutif Serikat Dagang Lorian tersebut, seketika Arca menyeringai dan menatap tajam ke arah Odo. Memegang pundak lawan bicaranya, Arca bertanya, “Apa kau ingin membantu Kepala Tikus itu untuk keluar dari getah lengket, wahai Naga? Kalau begitu kau juga harus terjun ke dalam getah, huh!”


 


 


Odo langsung menyingkirkan tangan Arca dari pundak, menatap tajam dan berkata, “Kau memang sangat sombong seperti yang kuduga, aku sampai kasihan pada pelayan itu.”


 


 


“Pelayan?” Arca tidak menangkap maksud perkataan itu.


 


 


“Tak usah kau hiraukan ....” Odo berhenti meletakkan tangan kiri ke belakang kepala, lalu menatap rendah dan bertanya, “Jadi maumu apa, Putra Sulung Keluarga Rein, Arca Rein? Kau membuat orang-orang itu terdiam di sini dan menunggu, itu bukan berarti kau ingin mengajakku basa-basi, ‘kan?”


 


 


“Aku senang kau bicara langsung ke intinya.” Pemuda rambut cokelat itu merentangkan kedua tangannya, memasang ekspresi seakan dirinya pemenang dan terbahak, “Hahah!! Tidak ada salahnya mengancam para Tikus itu!”


 


 


Odo berusaha untuk tidak termakan emosi, menganalisa jalan keluar dengan Auto Senses dan melakukan beberapa simulasi persepsi dalam kepala. Menghela napas dengan penuh resah karena mendapat sebuah kesimpulan kurang memuaskan, ia berkata, “Jujur sungguh mengejutkan untuk dalang yang dari awal bergerak di balik layar dan memanfaatkan orang lain sekarang malah muncul ke panggung.”


 


 


“Tidak juga!” Rein berhenti merentankan kedua tangannya, mencondongkan tubuh ke depan dan dengan nada sarkasme berkata, “Diriku dari awal tampil di pentas, hanya saja bukan yang terkena sorotan.”


 


 


“Terus apa?” Alis Odo terangkat, sedikit menunjukkan rasa kesalnya dan bertanya, “Kau ingin apa? Bukan hanya Tuan Aprilo, kau bahkan menjerat Lisia dan bahkan Shieal yang melayani keluargaku. Meski kau dari Rein, aku tidak akan segan-segan kalau semua itu untuk alasan sepele.”


 


 


“Tenang saja, ini bukan masalah sepele ....”  Arca meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut, menatap rendah dan berkata, “Saat kau diangkat menjadi Kepala Keluarga Luke, serahkan 40% wewenang atas wilayahmu padaku.”


 


 


Perkataan itu membuat semua orang yang mendengar itu terkejut, bahkan Aprilo sampai kehilangan konsentrasi dan meletakkan perkamen ke atas meja. Apa yang dituntut Arca tersebut sama saja meminta Keluarga Luke untuk tunduk pada Keluarga Rein dan menghancurkan keseimbangan Tiga Keluarga Besar di kerajaan Felixia.


 


 


Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar, Odo balik bertanya, “Kalau aku tidak mau?”


 


 


“Tentu saja, semuanya akan aku bongkar!”


 


 


Acra menyeringai lebar. Ia melangkah berputar dan mendekat ke meja tempat para pedagang berada. Seakan bertingkah layaknya penjual yang menawarkan produk, ia dengan penuh ekspresi licik berkata, “Lihat! Oh, lihatlah~! Di sini ada para pedagang Serikat Lorian yang menggunakan jalur perdagangan gelap dan menyembunyikan informasi para bandit! Merugikan kota-kota di wilayah Luke ini! Mereka juga pernah melakukan berbagai kasus suap pada pemerintah kota untuk memperlancar usaha mereka di kota ini!”


 


 


Kembali berputar dan mendekat ke arah Lisia, Putra Sulung Keluarga Rein itu dengan nada serupa berkata, “Dan di sini adalah produk utama kita~! Meski diberikan kepercayaan oleh Ayahnya, dalam waktu singkat sudah menerima banyak suap! Bukan hanya itu, loh! Pemerintah kota Mylta di bawah kekuasaannya juga melakukan jual beli ilegal dengan orang-orang Moloia yang merencanakan pembunuhan pewaris keluarga Luke!”


 


 


 


 


Odo sama sekali tidak menggubris hal semacam itu, hanya menatap dingin dengan ekspresi gelap. Ia mulai tidak peduli dengan semua itu, merasa pemuda di hadapannya tersebut memang sangat kekanak-kanakan meski memiliki otak yang encer.


 


 


Sekilas memejamkan mata, Odo segera tahu kalau semua informasi yang Arca dapat kemungkinan besar berasal dari salah satu bawahannya yang menyamar menjadi pelayan di penginapan Porzan. Namun hanya ada satu kendala dari spekulasi tersebut, yaitu media komunikasi jarak jauh yang digunakan mereka untuk merencanakan perangkap tikus berdasi yang ada sekarang masih belum jelas.


 


 


Menyimpan persoalan itu di dalam kepala, Odo berpikir hal lain. Ia segera menatap ke arah Minda dan Imania, kedua Shieal tersebut memasang wajah menyesal karena terjebak dengan konspirasi Putra Sulung Keluarga Rien.


 


 


“Begitu, ya. Minda dan Imania ikut terjerat karena itu ....”


 


 


“Ya!” Rein dengan penuh energi langsung menjawab, “Saat aku bilang kalau masalah ini akan menyusahkan Tuan Dart dan Nyonya Mavis, mereka langsung bungkam!”


 


 


Sesaat suasana berubah senyap, Odo sama sekali tidak meladeni perkataan itu dan tidak ada orang yang berani ambil bicara karena sedang berada pada tekanan anak muda tersebut. Semua orang yang lahir di keluarga Rein memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, ahli dalam hal mengatur sesuatu dan Arca sendiri bisa dikatakan adalah anak genius yang bahkan melebihi ayahnya sendiri.


 


 


Namun karena sifatnya yang cenderung mengundang masalah, banyak orang dari kalangan politikus dan bangsawan yang tidak suka  padanya. Namun karena kekuatan, kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya, tidak ada yang berani menjatuhkannya karena kegeniusannya tersebut.


 


 


Odo cukup mengenal pemuda dengan wajah sombong di hadapannya itu, hanya dengan bertukar beberapa kalimat saja ia sudah paham pola pikir Arca dan mengukur seberapa pintar Putra Sulung Keluarga Rein tersebut. Sedikit menghela napas, Odo bergumam, “Kelemahan simulasiku memang ini, harus mengajak orangnya bicara dulu sebelum memasukkannya.”


 


 


“Hah? Kau bilang apa?” Arca mendekatkan wajah, menatap rendah dan meledek, “Kalau kau dari keluarga Luke yang tegas, dong! Jangan gumam-gumam gitu kayak perempuan.”


 


 


Dalam kepalanya, Odo selesai memproses individu seperti apa itu Arca Rein. Sejenak memejamkan mata, ia melakukan simulasi sempurna sampai puluhan kali dan darah mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya. Segera membuka mata dengan kesimpulan yang didapat dengan jelas, ia mengusap darah yang mengalir.


 


 


Sembari melepas sarung tangan kiri Odo berkata, “Kalau begitu, mari permudah ini ....” Ia langsung melempar sarung tangannya ke arah Arca, menatap rendah dan berkata, “Kita duel. Kalau tidak salah kau sekarang berkelas Knight, bukan? Apa kau akan menolak tantanganku?”


 


 


Arca seketika memasang ekspresi kesal seakan kesenangannya diganggu. Menggertakkan giginya dan menatap jengkel ia pun berkata, “Apa kau bodoh? Kau paham situasimu? Odo Luke! Sekarang kau Checkmate! Aku tak punya alasan untuk meladeni omong kosongmu!”


 


 


Odo menghela napas, ia sedikit merasa kalau kekerasan bukan pilihan terbaik. Namun karena situasi yang ada sudah tidak memungkinkan untuk berdiskusi dan sifat Arca benar-benar menghilangkan kemungkinan itu, Odo memilih jalur kasar tanpa memedulikan kondisi lawannya.


 


 


Memasang senyum lebar, pemuda rambut hitam itu berkata, “Anak haram ....”


 


 


“A—!”


 


 


Arca tersentak, ekspresinya seakan berada di atas angin dan wajah penuh percaya diri seketika berubah kesal seperti orang yang mendapat tekanan. Kedua Butler pemuda itu juga sempat terkejut saat Odo mengatakan hal seperti itu, cemas pada tuan mereka. Orang-orang yang dianggap sebagai Tikus dan terjebak pada tempat duduk mereka sempat kaget, karena Odo sama sekali tidak segan-segan untuk mengatakan hal yang paling mengusik Arca.


 


 


Melotot tajam Arca Rein pun berkata, “Apa katamu tadi? Sialan ...!” Benang kesabarannya seakan putus, pikiran tenang yang cenderung menyokong sifat dominasinya mulai runtuh.


 


 


“Kenapa memangnya?” Odo menyeringai, memberikan tatapan datar dan dengan nada meremehkan ia berkata, “Wah, wah, apa rumor itu benar?”


 


 


Sedikit memiringkan kepala dan menyipitkan mata, pemuda rambut hitam itu sama sekali tidak menahan diri dan langsung berkata, “Ibumu, Lady Calista, kata banyak orang mengandungmu sampai 17 bulan lebih .... Saat itu, paman Thomas jarang ada di kediamannya karena terus mengurus wilayah Luke tepat setelah hari pernikahannya dengan Lady Calista. Jarak ia mengandungmu dan paman Thomas ada di kediamannya katanya sangat ada jenjang dan banyak yang berkata mustahil bagi perempuan mengandung selama 17 bulan. Hmm, kira-kira siapa yang menidurinya, ya?”


 


 


“Bajingan! Jaga mulutmu!!”


 


 


Arca langsung kehabisan kesabaran dengan cepat, ia menarik kerah kemeja Odo dan menatap tajam dengan sangat murka. Reaksi itu sudah Odo ketahui sejak Arca memanggil Kepala Keluarga Rein dengan sebutan Ayahanda. Itu tanda meski sifatnya yang kasar dan tidak tahu sopan santun, namun ia cukup menghormati kedua orang tuanya.


 


 


“Ada apa? Mau main kekerasan?” Odo semakin tersenyum lebar, dengan santai ia berkata, “Aku tidak keberatan, kok. Tapi lebih baik kau pertimbangkan dulu, bukannya lebih menguntungkan kalau kita lakukan duel dengan mempertaruhkan sesuatu daripada melakukan kekerasan seperti ini?”


 


 


Arca segera  sadar dirinya sedang dihasut, ia melepaskan Odo dan melangkah mundur dengan tatapan murka. Sifat angkuh yang selalu ia perlihatkan runtuh, pemuda dari keluarga Rein itu benar-benar seperti seorang anak yang dipermainkan. Menggertakkan gigi, Arca membentak, “Memangnya siapa yang mau termakan hal bodohmu itu?! Dasar sialan! Kau ....”


 


 


“Hahah!! Hahahah!! Hahahahahaahahah!!”


 


 


Odo terbahak kencang di lobi, membuat semua orang yang ada di tempat tersebut terkejut melihat pemuda yang biasanya selalu tenang itu tertawa mengerikan seperti itu. Dari semua orang yang ada di situ, Vil satu-satunya orang yang sadar kalau itu hanyalah sandiwara.


 


 


Berhenti tertawa dan menatap rendah Arca, dengan nada sombong Odo berkata, “Ah .... Ah, aha, benar juga. Kau bukan orang sebodoh itu, aku paham. Hmm, aku paham itu, kok. Karena itu, mari kita bertaruh hal yang setara ....”


 


 


“Hah?! Omong kosong!” Ia langsung mengayunkan tangannya ke samping dan membentak, “Sudah cukup! Akan aku laporkan semuanya! Aku muak! Kau benar-benar busuk sampai dalam, dasar sialan!! Tch! Rugi aku menilai tinggi orang sepertimu!!”


 


 


Arca berbalik dan hendak membubarkan semua yang ada di ruangan. Namun sebelum ia melakukan itu, Odo memegang pundaknya dari belakang dan berkata, “Jika kau menerima duel dan menang melawanku, aku akan menyerahkan 100% wilayah Luke padamu.”


 


 


“A— Kau waras? “ Arca menoleh, dengan wajah terkejut ia membentak, “Apa kau tahu artinya itu?!”


 


 


Bukan hanya Arca yang terkejut, semua orang yang mendengar itu juga terkejut tanpa terkecuali. Bahkan Vil yang tahu kalau itu hanya sandiwara sempat panik dengan apa yang Odo pertaruhkan.


 


 


Minda dan Imania sempat berdiri, hendak melarang taruhan gila seperti itu. Namun saat mengingat ancaman Arca, mereka berdua kembali duduk dan gemetar menahan amarah. Lisia juga hendak melarang hal tersebut karena itu pasti bisa berdampak buruk pada keluarga Mylta, namun dirinya sadar tidak bisa berbuat apa-apa sekarang dan hanya terdiam di tempat.


 


 


Arca menyingkirkan tangan Odo dari pundak, berbalik dan menghadap pemuda rambut hitam tersebut dengan tatapan murka. Rasa hormat yang tersisa untuk Odo seakan benar-benar hilang darinya, berganti dengan kebencian dan ia pun berkata, “Diriku tanya! Apa kau tahu artinya itu?!”


 


 


“Ya, tentu saja.” Odo memasang senyum lebar, menatap santai dan menegaskan, “Ya, tentu. Itu artinya keluargaku akan kehilangan gelar bangsawan, aku masuk penjara dan paling buruk pasti nanti akan dieksekusi kalau seenaknya menyerahkan aset seperti itu.”


 


 


Suasana berubah mencekam seketika, setiap orang yang mendengar itu seakan tidak bisa berkata apa-apa dengan taruhan gila semacam itu. Hampir semua orang di tempat tersebut menganggap kalau itu hanya harga diri anak muda yang sangat destruktif, sebuah perkataan tanpa mempertimbangkan keluarganya sendiri.


 


 


Namun tentu saja Odo telah memperhitungkannya. Dengan senyuman santai seakan tanpa beban, ia mengulurkan tangan dan kembali menawarkan, “Bagaimana, mau hancur-hancuran sekalian?”


 


 


“Hah! 40% wewenang sudah cukup untuk membuatmu sekarat!” jawab Arca seraya menampar uluran tangan Odo.


 


 


Odo kembali memasang senyum kecil dan berkata, “Belum cukup, ya.” Memagang dagu dan sedikit menatap angkuh, ia menawarkan, “Kalau begitu, bagaimana posisiku sebagai calon tunangan Tuan Putri Arteria?”


 


 


“!!!”


 


 


Setiap orang di tempat tersebut kembali dikejutkan, baik yang sudah tahu bahwa Odo adalah calon tunangan Tuan Putri atau yang belum. Di antara mereka, Lisia yang paling terkejut saat tahu bahwa Odo adalah calon tunangan Tuan Putri Arteria. Mereka yang baru tahu sangat paham kalau sekarang di Ibukota sedang diadakan rapat untuk menentukan calon tunangan sang Tuan Putri, namun mereka sama sekali tidak menyangka kalau orang yang terpilih adalah Odo Luke.


 


 


Kembali mengulurkan tangannya, Odo menawarkan, “Kalau kau dari keluarga Rein, pasti hal seperti itu pernah kau dengar, bukan? Siapa yang menjadi Tunangan Putri Arteria dan akan menjadi Raja berikutnya ....”


 


 


“Begitu, ya ....” Arca sedikit mengerutkan keningnya, samar-samar sadar hal tersebut dan berkata, “Jadi kabar itu benar-benar asli.”


 


 


“Ya, pertunanganku sepertinya akan berlangsung pertengahan musim semi nanti. Saat itu terjadi aku akan menyerahkan posisinya, bila perlu buat saja hitam di atas putih. Kalau kau yang menjadi penggantiku, pasti para Tetua di Ibukota bisa menerimanya saat reputasiku turun karena melakukan perjanjian seperti ini.”


 


 


“Kau serius berkata seperti itu? Apa kau tidak mengkhawatirkan Tuan Dart dan Nyonya Mavis kalau tahu ini?”


 


 


“Oh, baik sekali kau ..., peduli seperti itu padaku. Tapi jangan cemas, aku tidak terlalu memedulikan hal seperti itu. Peduli apa dengan Keluarga Luke.”


 


 


Kesabaran Arca benar-benar habis, ia langsung menganggap orang di hadapannya itu tidak punya harga diri dan membentak, “Tch! Aku salah menilaimu! Kau memang sampah! Kenapa Ayahanda selalu memuji-muji orang sepertimu!! Baiklah! Kalau itu maumu, dasar sampah! Jangan sombong hanya karena kau lahir di keluarga Pedang!”


 


 


“Timbangan takkan bisa mengalahkan pedang, kau tahu.” Odo malah menyindir, berhenti mengulurkan tangan dan memasang wajah meledek untuk memprovokasi.


 


 


Memungut sarung tangan Odo yang jatuh di lantai, Arca meremasnya dengan kencang dan dengan lantang berkata, “Aku terima tawaranmu! Dasar rendahan! Akan kubuat kau menyesal karena meremehkanku! Tak ada jaminan kalau keluarga Rein lebih lemah dari Luke soal pertarungan!”


 


 


“Kalau begitu ....” Odo menyeringai kecil. Melihat ke arah Kepala Prajurit yang berdiri di belakang Lisia, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Tuan Iitla, apa ada tempat yang bisa kami pakai?”


 


 


“A—Itu ... Barak tempat para prajuri—”


 


 


“Iitla! Kau mau membiarkan taruhan gila ini?!” Lisia menyela.


 


 


“Diamlah kau, Lisia!” bentak Odo. Perempuan rambut merah itu menoleh dengan terkejut, menatap gentar dan terdiam karena mendapat tatapan marah. Melotot ke arah perempuan itu Odo berkata, “Memangnya salah siapa situasi ini terjadi? Kau kembali sebelum mengurus semua masalah soal suku Klista, ‘kan?”


 


 


“I-Itu ....”


 


 


“Jadi! Barak boleh aku kami pinjam, Iitla Lots?” ucap Arca seraya menoleh ke arah Kepala Prajurit itu.


 


 


“I-Iya ...”


 


 


Arca menyeringai. Balik menatap Odo, ia memasang ekspresi sombong dan berkata, “Kalau begitu, ayo kita mulai duelnya di sana. Akan kuhancurkan kau, dasar sampah.”


 


 


Odo tidak terlalu memedulikan gertakan semacam itu, hanya memasang senyum tipis seakan menertawakannya.