
Logika para dewa, hukum dan aturan dunia yang tak bisa diubah. Segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya sudah ada pada wacana mereka, tidak ada sebuah keajaiban atau kebetulan. Sejak Kausalitas tercipta, sejak hukum sebab akibat ada di dunia ini segalanya sudah ditentukan. Memang takdir bukanlah hal yang mutlak dan setiap orang diberikan kebebasan untuk memilih, namun itu hanya dalam prosesnya. Layaknya jutaan sungai yang bercabang-cabang dari hulu, semua aliran yang ada pasti akan mengalir ke laut sebagai tujuan akhir.
Dahulu seseorang pernah bertanya padaku, “Dalam kehidupan, apakah mendapat sebuah kewajiban itu adalah hal yang patut disyukuri atau malah menjadi beban belaka?” Entah kapan waktunya dan saat semesta siapa itu terlontar, diriku tak ingin jelas pertanyaan itu ditanyakan oleh siapa. Terlalu banyak dunia yang telah aku saksikan, terlalu banyak kehidupan yang telah aku jalani, terlalu banyak orang yang pernah kutemui. Terlalu banyak sampai aku lelah untuk mengingat semuanya, ingin kubuang jauh-jauh semua itu dari kehidupan.
Meski tubuh ini terpotong-potong, kepala dipenggal, jantung diremuk, dan raga ini dibakar sampai menjadi abu, diriku tak bisa menghilang sepenuhnya. Kematian bukanlah sebuah akhir bagiku, namun sebuah awal untuk kehidupan baru. Entah kiamat seperti apa yang menghampiri, entah akhir era kekuasaan siapa yang berkahir, diriku ini tidak pernah mendapat akhir sejati.
Jawaban dari pertanyaan yang diberikan padaku itu sampai sekarang masih belum bisa kutemukan dengan tepat. Entah itu patut disyukuri atau tidak, ada sesuatu yang pasti dari hal tersebut. Ada yang tak tergoyahkan dari hal yang ditanyakan tersebut.
“Hidupku adalah milikku sendiri, aku bebas menentukan tujuan yang ingin capai. Aku ingin hidup tanpa harus mengikuti kehendak orang lain atau di bawah tekanan mereka!”
Dari dulu sampai sekarang, hal tersebut tidak berubah. Aku selalu mengharapkan hal tersebut, meski berkali-kali terlahir kembali dan mendapat berbagai macam peran saat siklus Samsara yang terus berlanjut ini. Seseorang pernah berkata, jika jiwa seseorang terlahir kembali ke dunia itu pasti karena mereka melakukan kejahatan besar di kehidupan sebelumnya, kehidupan kedua mereka adalah sebuah hukuman nyata.
Jika memang seperti itu cara kerja dunia, berarti memang apa yang kuinginkan adalah sebuah dosa di mata mereka yang berada di langit. Mengharapkan sebuah kebebasan adalah dosa di mata mereka, entitas angkuh yang hanya mengamati para makhluk dari singgasana.
Sebelum aku menyadari semuanya, aku hanyalah pemuda biasa yang hanya menjadi pengamat acuh jutaan drama yang ada di sekitarku. Seseorang pernah menyebut itu Shinra-Bansho, segala jagat raya. Sebuah segala susunan ketentuan, proses, batasan, dan tujuan. Itu hanyalah sebuah masa lalu, sekilas kenangan penuh penyesalan di kehidupan sebelumnya. Pada era jauh sebelum dunia ini dimulai.
Hembusan angin pelan terasa menjamah kulitku, masuk ke sela pakaian dan membawa hawa dingin yang sekilas mengusik ketenangan. Berdiri di atas di depan sebuah gua pada sebuah hutan, kutatap ke depan apa yang ada di hadapan. Semesa ini terasa tidak berbeda dengan sebelumnya. Hal itu tidak berubah sama sekali, mayat bergelimpangan, takdir menyedihkan dan kejam terbentang, sebuah tragedi yang membuat orang tertawa dalam kegilaan dan komedi dari penderitaan orang lain, entah drama untuk menghibur siapa semua ini terjadi. Di depan mulut gua ku melangkah, di antara mayat para Minotaurus yang telah kuambil kristal sihirnya.
Tangan berlumur darah, membawa kristal sihir dan tetap melangkah di antara mereka. Hembusan angin pagi seakan-akan menerbangkan kesadaranku, meski seharusnya jiwa ini tidak akan pernah bisa hancur atau lenyap meski dunia ini tertata ulang kembali. Kutukan yang mengurung bentuk jiwa ini, sebuah konsep informasi pengunci yang membuat Identitasku tetap ada.
Melihat para mayat monster itu dan sebuah tragedi di belakangnya, sekilas aku mengingat momen ketiga era pertama dimana diriku ini pertama kali menjadi Jiwa Abadi. Gadis menyedihkan yang terbunuh dengan naas oleh para makhluk biadab, sebuah sejarah kelam dari peperangan panjang yang membuka rentetan era kehancuran. Entah apa yang dirasakannya saat mati? Entah apa yang gadis itu pikiran di akhir hayatnya? Diriku tak tahu, namun yang jelas itu pasti menyedihkan jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga sepertiku.
Era pertama yang kulalui itu adalah sebuah kekacauan mutlak, hukum rimba dimana yang kuat semena-mena adalah hal wajah. Pada era itu secara sederhana setiap makhluk sangat mudah kehilangan nyawa. Kematian adalah hal yang biasa. Kurasa itu tidak jauh berbeda dengan dunia ini, penuh tragedi sampai dianggap biasa.
Tidak— Kurasa tidak, dunia kali ini masih sangatlah lembut jika dibandingkan dunia itu. Entah senaas tragedi yang terjadi di dunia ini, itu tidak sebanding dengan kutukan dan murka yang ada di masa itu.
Itu bagaikan satu koin yang hanya berbeda sisi, keduanya sama-sama gila dan penuh kerusakan. Orang baik dengan mudahnya bertindak jahat atas nama keadilan, orang jahat melakukan kebaikan karena mereka anggap itu menguntungkan. Pada dasarnya kebaikan dan kejahatan hanyalah persepsi, tidak ada yang membuat kedua hal tersebut mutlak. Namun kalau diminta untuk memilih pihak mata yang bis dibenarkan tindakannya, aku lebih memilih untuk masuk ke pihak penjahat.
Mereka, orang-orang yang menyebut diri mereka keadilan begitu bengis dan brutal, tindakan mereka sangatlah berbahaya. Cara perilaku dan tindakan mereka sangatlah kotor, hati serta pikiran penuh dengan kebencian dan dendam. Atas nama keadilan mereka rela mengorbankan diri mereka sendiri, demi menghancurkan sesuatu yang mereka anggap kejahatan.
Berbanding dengan mereka, pihak yang menyebut diri mereka kejahatan lebih memikat hatiku. Mereka begitu indah dalam kegelapan, kilauan menawan sebuah tahta penuh perhiasan dan para wanita cantik berdandan dalam singgasana megah. Entah kejayaan itu didapat dari penderitaan jutaan makhluk hidup, entah keindahan itu didapat dari miliaran kesengsaraan jiwa, mereka yang disebut kejahatan sama sekali tidak memiliki emosi radikal seperti orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka keadilan.
Menjadi mereka sendiri, bertindak layaknya diri mereka sendiri. Saat pedang datang ke tenggorokkan mereka, para penjahat dengan lapang menerima akhir dengan bangga dan penuh kepuasan. Bahkan pemimpin para pihak yang disebut para Iblis itu sangatlah ramah pada sosok yang mereka akui, meski itu dari pihak lawan mereka sendiri dan rela dibunuh dengan cara paling mengerikan sekalipun. Para penjahat tidaklah mendendam atau memendam kebencian pada musuh, merek hanya melakukan apa yang mereka inginkan.
Seperti kata seseorang yang kukenal dulu pada masa itu, “Yang paling banyak tertawa adalah penjahat, sedangkan para pembela keadilan paling sering marah. Itulah konsep dari persepsi keadilan dan kejahatan, baik dan jahat! Tidak ada yang spesial dari itu!” Aku memang menganggap itu sebuah omong kosong karena diriku sendiri dibutakan oleh hal yang sangat menyilaukan itu, sebuah pembagian jelas antara kedua pihak. Namun sekarang, kurasa itu memang benar. Sangatlah tepat.
Meski setelah mendapat keabadian aku bersumpah untuk tidak lagi mengikuti alur orang lain, namun pada era pertama itu aku langsung melanggar sumpahku sendiri. Setelah pihak langit mengungkapkan jati diri mereka dan peperangan besar terjadi, aku langsung masuk ke pihak kejahatan karena pancaran kesejatian itu.
Sekarang kujatuhkan semua kristal yang telah dipungut, membuka telapak tangan dan sekilas merenung sembari melihat serpih-serpih batu mengkilat di atas permukaan tanah. Banyak darah yang kualirkan saat itu, terlalu banyak suara erangan kematian yang kudengar pada momen itu, banyak keluarga yang kubantai dan rekan-rekan yang kukorbankan. Pandangan destruktif yang menganggap bahwa Kejahatan harus dibinasakan meski diri ini menjadi kejahatan itu tertanam dalam di batin ini.
Sejak saat itulah aku kehilangan arah dan terus melawan langit, sampai tanpa sadar bahwa jiwa ini dipengaruhi oleh mereka yang telah tiada dan kehilangan kebebasan. Pada akhirnya aku dibebani kewajiban itu, untuk terus berperan menjadi penentang langit sampai akhir dunia sebelum ini.
Mungkin ... itulah yang menyebabkan Korwa— Anak-anak Korwa itu menggunakan cara yang salah untuk memanggilku ke dunia baru ini. Mereka menganggap kejahatan lebih indah dari kebaikan, memang fakta itu begitu menawan sampai mereka buta akan kenyataan dan melakukan cara ini untuk memanggilku kembali ke siklus kehidupan di dunia dari era baru ini.
“Aku yang telah menanamnya, karena itu akulah yang menuainya ....”
Ya, memang yang melanjutkan konsep kejahatan dan kehancuran pada dasarnya adalah diriku. Demi kebebasan aku mengorbankan banyak hal dan menghancurkan apa yang ada di sekitarku, namun tanpa kusadari itu malah menjeratku dalam sebuah kewajiban untuk meraih kebebasan itu sendiri.
“Kali ini harus kuakhiri, harus kuakhiri .... Akan ku akhiri ....”
Kata itu terucap ringan dari mulut ini, meski kutahu tidak akan bisa mengakhiri segalanya. Kembali memungut kristal yang kujatuhkan, aku merenung dan merenung lagi. Bagaimana caranya aku memperbaiki kesalahan yang diwariskan ini? Bagaimana caranya ku terbebas dari kewajiban yang tak kunjung usai? Dan bagaimana aku bisa menemui perempuan itu untuk meminta maaf padanya?