
Pagi harinya. Badai salju yang semalam turun telah berhenti total dan langit berganti dengan warna kelabu mendung. Saat keluar dari tenda, yang pertama kali dirinya lihat adalah hamparan salju putih yang menumpuk menutupi kereta kuda, gerobak, dan Drake. Selain semua itu, para Shieal juga terlihat langsung merapikan barang-barang yang tertutup salju dan bersiap untuk ekspedisi yang segera dilakukan.
Meski semua orang terlihat mengantuk dan tidak cukup istirahat, tetapi mereka sama sekali tidak terlihat kelelahan. Stamina mereka benar-benar telah terlatih untuk situasi ekstrem dimana kondisi tidak memungkinkan untuk istirahat.
Odo hanya melihat mereka dengan sorot mata mengantuk dan di bawah kantung matanya muncul garis hitam. Berbalik dari mereka, di atas tenda terlihat tumpukan salju yang mengisi atap sampai hampir membuat tenda rubuh. Menarik napas ringan, anak itu mengulurkan tangannya ke atas dan menggunakan sihirnya. Tanpa membaca mantra, seketika salju yang menumpuk di atas tenda langsung mencair dan menguap.
“Kalau situasinya seperti ini Hariq Iliah sangat berguna memang,” gumamnya.
Odo berbalik dan berjalan menuju Imania yang sedang menyingkirkan salju yang menutupi tubuh Drake dengan tangannya. Menepuk pundak gadis berambut abu-abu yang tidak terlalu tinggi tersebut, Odo memintanya untuk menjauh dari Drake.
Saat Imania mengambil beberapa langkah ke belakang, anak berambut hitam itu mengulurkan tangannya ke arah Drake yang tertutup salju dan memakai Sihir Khususnya. Dalam hitungan detik, salju mencair dengan cepat dan langsung menguap.
Meski salju telah tersingkir, Drake masih berada di dalam kondisi hiberbasi. Menyentuh kulit kasar makhluk itu, Odo kembali memanipulasi suhu dan membuat Drake tersebut bangun dengan cepat. Imania terkejut melihat itu, bahkan Drake itu pun terlihat kebingungan karena tiba-tiba suhu menghangat dengan cepat.
“Hmm, bangun juga ....” Odo menatap Imania, lalu tersenyum kecil. Gadis bisu itu hanya memasang wajah heran, tidak paham dengan kepribadian Tuannya itu. Setiap kali hari berganti, anak berambut hitam itu seakan berganti kepribadian dan terlihat seperti orang yang berbeda.
Melihat Odo tersenyum ramah seperti saat hari pertama ekspedisi, Julia dan Minda yang sedang mengeluarkan salju yang menumpuk di atas kain penutup gerobak ternganga sesaat. Mereka benar-benar terkejut melihat perubahan sifat anak itu dalam satu malam.
Gariadin dan Xua Lin datang dari arah pepohonan membawa beberapa tupai beku yang dicari mereka dari bawah akar pohon dan lobang di batang pohon. Melihat Julia dan Minda terdiam di atas gerobak dengan wajah terkejut, pria berambut merah gelap itu bertanya, “Ada apa, Kak Julia ..., Minda?”
Kedua orang tersebut segera turun dari atas gerobak, lalu langsung berjalan ke arah Gariadin. “Diamlah sebentar, kamu jangan bicara yang tidak-tidak lagi ya!” bisik Julia. Gadis berambut keperakan itu cemas kalau rekannya itu mengatakan hal-hal yang membuat suasana hati Tuan mereka memburuk lagi.
“Ada apa? Kenapa bisik-bisik?”
“Sudahlah, jangan banyak tanya! Ikuti saja alurnya,” ucap Minda, tanpa sengaja Ia menaikan volume suaranya.
Mendengar itu, Odo berbalik dan melihat ke arah mereka dengan tatapan heran yang begitu damai. Secara serentak, keempat orang yang sedang berbisik-bisik itu langsung selaras merasakan hal yang sama.
“Siapa!!?” itulah yang mereka pikir. Hal itu wajar, Odo yang kemarin dan sekarang sangatlah berbeda, bahkan cara tersenyum dan nada bicara tidak mirip.
“Ngomong-omong .....”
“Ya!” Julia langsung siap siaga saat mendengar suara Tuan Mudanya.
“Setelah sarapan kita langsung mulai perburuannya, ya ....”
Setelah itu, mereka mulai menyiapkan api unggun untuk membakar tupai yang dibawa Gariadin dan Xua Lin yang memang menjadi makanan favorit mereka berdua. Menyusun kayu yang sudah dikurangi kadar kelembabannya dengan Sihir Khusus milik Odo, mereka mulai membuat api unggun di atas permukaan tanah yang sudah dibersihkan salju. Karena memang sebagian bahan makanan yang tersisa sudah sangat terbatas, mereka terpaksa menggunakan tupai yang dibawa Gariadin sebagai bahan tambahan sup yang tadinya akan dibakar dan disantap sendiri oleh mereka berdua.
Menyantap makanan dengan rasa aneh, Odo memasang wajah mual karena tekstur daging tupai yang terasa tidak cocok dengan seleranya. Meski tidak suka dengan makannya tersebut, anak berambut hitam itu tetap menyantap habis satu mangkuk sup kaldu dengan daging tupai sebagai bahan tambahannya.
.
.
.
Ekspedisi yang Odo rencanakan ini memiliki kuota minimal paling tidak harus mendapat Kristal Sihir yang secara keseluruhan seberat 50 kilogram, atau dalam perhitungan sebanyak lima kotak kayu kosong yang mereka bawa di bawah tempat duduk kereta kayu.
Berjalan ke arah gerobak, para Shieal mengambil peralatan mereka dan bersiap untuk perburuan monster. Julia mengambil pedang dan zirah kulit yang menjadi ciri khas bertarungnya. Masih menggunakan jaket mantel milik Odo, gadis berambut keperakan itu menambahkan sabuk peralatan untuk membawa pisau-pisau di pinggangnya. Minda yang berdiri di dekat Julia bersiap dengan peralatannya, Ia membawa sebuah pedang satu tangan sama seperti rekan di sampingnya dan juga sebuah busur dan panah yang menjadi salah satu senjata andalannya.
Berbeda dengan kedua orang tersebut, Gariadin dan Xua Lin hanya mengenakan perlengkapan biasa seperti zirah kulit dan senjata mereka masing-masing. Gariadin membawa Schöningen, sedangkan Xua Lin mengenakan Gauntlet besi di kedua tangannya.
Tidak seperti para Shieal lain, Imania satu-satunya orang yang tidak membawa senjata tajam. Gadis berambut abu-abu itu mengenakan sebuah jubah yang satu set dengan sebuah kalung kristal yang memiliki kekuatan mistis. Pada perbelakangan kedua tangannya terdapat gelang sihir yang dapat meningkatkan kinerja dari Sihir Khusus yang dimiliki dari ciri Native Overhaoul.
Berbeda dengan mereka, Odo hanya mempersiapkan diri dengan mengambil Gelang Dimensi dari Rune di atas telapak tangannya dan mengenakan gelang tersebut. Tanpa pelindung atau pakaian tambahan, anak berambut hitam itu hanya bersiap dengan kemeja dan celana hitam saja.
Tentu saja pakaian tersebut bukanlah pakaian biasa, celana dan kemeja yang dikenakannya telah dipasang Rune Penguatan dan pengaturan suhu, sehingga fungsinya hampir sama seperti jaket mantel yang dikenakan Julia tetapi ketahanannya lebih kuat dari zirah rompi kulit yang dikenakan para Shieal.
Selesai bersiap dengan peralatan, mereka mulai berjalan lebih masuk ke hutan untuk memulai perburuan. Strategi yang digunakan mereka untuk bertarung cukup sederhana, satu set tiga orang dan dibagi menjadi dua kelompok. Penyerang utama terdiri dari Gariadin, Xua Lin, dan Julia, sedangkan pendukung terdiri dari Odo, Minda, dan Imania. Pada hari itu, sebuah perburuan yang sampai mengurangi sangat banyak populasi monster terjadi.
««»»
Terlihat dari udara, hutan vegetasi pando tersebut berwarnakan putih murni tertutup salju dan sangat sunyi. Terus masuk ke dalam, pepohonan yang mengisi daerah tersebut semakin besar dan tinggi batangnya. Pada bagian inti Hutan Pando, ketinggian pohon mencapai tiga puluh meter lebih dan lebar batangnya mencapai empat meter lebih. Ukuran pohon-pohon di inti hutan tersebut sangat berbeda dari pepohonan yang berada di bagian dalam atau luar hutan, terlihat tidak wajar karena tumbuh melebihi tinggi rata-rata.
Semakin masuk ke dalam, di tengah pepohonan raksasa tersebut terlihat sebuah kastel yang berdiri tepat di antara pertemuan beberapa sungai yang mengelir di dalam hutan. Bangunan berwarna abu-abu dan terlihat tua itu berdiri begitu kokoh, tersembunyi dari dunia dan jika dilihat dari luar tidak akan bisa terlihat dari darat atau pun udara. Kastel besar itu memiliki beberapa menara di pojokkan, dan sebuah bangunan utama di tengah yang memiliki beberapa jendela kaca.
Salju yang turun tidak jatuh sepenuhnya ke atas bangunan besar tersebut karena terhalau oleh dedaunan dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar. Lebih masuk ke dalam kastel, seakan musim di tempat tersebut salah, bunga-bunga Aster mekar dengan indah dan mewarnai taman tempat tersebut dengan warna ungu menawan.
Tepat di atas menara utama yang ada di puncak bangunan, seorang perempuan berambut pirang pudar berdiri di atas atapnya. Perempuan itu mengenakan jubah hitam panjang dan pada kepalanya terdapat sebuah topi kerucut berwarna sama dengan jubah. Sorot mata merahnya seakan bersinar, tertuju ke arah pepohonan pondo yang tumbuh kokoh di sekitar tempatnya berada.
Dialah sosok Witch yang menjadi legenda di Hutan Pando, terlihat begitu muda, cantik, dan sangat menyedihkan karena tidak bisa mati. Meloncat dari atas atap menara, hembusan angin seketika bertiup dan menangkapnya sebelum membentur permukaan. Mendarat mulus dengan kaki kanan terlebih dahulu menyentuh permukaan jalan batu bata di tengah taman, Witch tersebut lekas berbalik dan melihat ke arah pintu masuk kediamannya.
Di dekat pintu terlihat seorang anak laki-laki berambut pirang berdiri dengan tatapan polos. Merasa bahagia saat melihat anak itu, Witch berjalan menghampirinya seraya berkata, “Waktunya sudah dekat .... Kamu akan segera belajar tentang dunia, cepat masuk dan siapkan dirimu untuk perkenalan, wahai anakku.”
Berdiri di hadapan anaknya itu, sekilas Witch teringat dengan sosok kekasihnya di masa lampau, sebuah kenangan bahagia sekaligus menyedihkan. Mengelus kepala anak itu, sang Witch berkata, “Semoga kamu akrab dengannya, anakku. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa menjadi temanmu .... Kau tak perlu terburu-buru nantinya, bertemanlah dengannya dan saling memahami ....”
======================================================
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!
Kalau ada yang tanya-tanya Update kapan, anggap saja satu CH/2 Part seminggu minimal. Harinya sekitar random, tapi saya usahakan kirim kamis sampai minggu.