
Tak ada dari para iblis yang membantahnya. Mereka semua menunduk patuh dan memang merasa puas dengan pencapaian yang telah didapat. Para iblis tersebut kembali ke negeri masing-masing untuk mengabarkan kepergian mereka, lalu kembali berkumpul pada sebuah tempat untuk pulang bersama menuju Gerbang.
Namun beberapa Raja memiliki pemikiran tersendiri. Rasa tak ingin melepaskan, rasa ingin menguasai para iblis, lalu nafsu akan kekuasaan mulai mengisi para Raja tersebut. Pada sebuah teluk yang menjadi perbatasan daratan baru dengan daratan lama, pasukan gabungan dari beberapa negeri tiba-tiba di menghadang para iblis dan menyerang mereka.
Seperti yang diungkapkan para Iblis ketika mereka datang ke kota-kota, mereka sangatlah lemah dan hanya kuat saat menggunakan kebijakan mereka dan merencanakan sesuatu dengan matang. Para iblis merasa dikhianati dengan cara terburuk, berlarian, murka dan mengutuk para ras dari puncak tersebut.
Banyak iblis yang terbunuh dan jiwa mereka hancur saat raga yang menampung mereka mati. Beberapa iblis yang selamat dari penyergapan tersebut lari terbirit-birit kembali ke tempat Raja Iblis tinggal.
Sang Raja Iblis yang baru saja akan menyusul mereka terkejut melihat para pengikutnya terluka parah dan banyak yang terbunuh. Ia seketika murka melihat tindakan bodoh keturunan dari orang-orang yang pernah dirinya tolong.
Dari ratusan pengikut yang terdiri dari para Iblis Murni, Ras berdarah iblis, dan para ras lain yang percaya pada kebijaksanaan sang Raja, yang berhasil selamat dan kembali ke kota hanyalah 12 Iblis Murni saja dan beberapa pengikutnya. Tujuh diantara mereka adalah penyandang Dosa Besar, lalu selebihnya adalah para ras lain yang percaya kepada kebijakan sang Raja Iblis.
“Kalau itu yang kalian harapkan, baiklah! Akan aku binasakan kalian‼ Akan aku pastikan kalian para ras bodoh mendapat ganjaran yang setimpal‼”
Deklarasi tersebut diarahkan kepada negara-negara yang melancarkan serangan kepada para pengikut Raja Iblis. Melupakan kewajibannya untuk kembali, sang Raja para Iblis tersebut tanpa ragu mengumandangkan perang di seluruh daratan.
Langkah awal yang pertama dirinya ambil adalah membuat sebuah negeri untuknya dan para pengikutnya sendiri, mengendalikan para monster dan menghasut ras dari daratan tinggi untuk saling berperang.
Hal tersebut tidaklah sulit untuk sang Raja Iblis. Mengacaukan lebih mudah daripada menjaga ketertiban, memanipulasi untuk saling membunuh sangat mudah baginya. Ke-12 Pengikut Iblis menjadi jendera negerinya, lalu mulai membentuk pasukan-pasukan dalam sebuah kota dan menaklukan banyak negeri dalam kekuasaan Raja Iblis.
Namun kurang dari satu dekade, Pihak Langit melirik ke daratan dan menetapkan para iblis melanggar perjanjian mereka yang terbentuk setelah Perang Dewa dan Iblis. Para malaikat turun, dewa-dewa memunculkan inkarnasi mereka dalam berbagai bentuk. Para makhluk ilahi tersebut kembali menginjakkan kaki ke permukaan untuk mengembalikan daratan menjadi tempat yang netral.
“Kau, Raja Muda dari bangsa Iblis ⸻ Ketahuilah engkau telah membuat pengorbanan pendahulu kalian menjadi sia-sia. Kalian melupakan perjanjian yang telah kami buat dengan Raja kalian yang terdahulu. Ketika kita mengakhiri perang itu dan membanjiri dunia ini dengan air untuk menghapus sejarah kelam, seharusnya kita berjanji takkan lagi mempengaruhi dunia ini. Namun …, kalian melanggarnya …. Maka dari itu, kami akan kembali memusnahkan kalian dari dunia ini atas perintah Tuan kami.”
Langit hanya datang dan memperingatkan, mereka tak ikut campur secara langsung dan hanya melepas sepasang malapetaka. Dari dimensi lain, dua saudari dari Leviathan diturunkan ke Dunia Nyata untuk membersihkan Raja Iblis beserta pengikutnya tersebut.
Zialina Seliari Urganisalinez dan Zialina Mariana Semestaris, kedua putri Raja Dewa Naga Agung yang dikutuk gila oleh sang Raja Iblis Kuno.
Mereka merupakan salah satu jaminan dalam perjanjian Raja Iblis Kuno dengan para Dewa, sosok Agung yang berubah menjadi bidak langit dan menjadi sebuah sistem untuk menjaga ketertiban dunia. Tanpa akal, hanya mengikuti insting dan bahkan Pihak Langit pun tak bisa mengendalikan mereka sepenuhnya.
Seekor Naga Hitam yang menguasai langit dan menyemburkan api dan seekor Drake sebesar gunung yang hanya dengan langkahnya bisa mendatangkan gempa. Kedua Naga Agung tersebut benar-benar datang hanya untuk membersihkan sang Raja Iblis tersebut dan mengembalikan dunia menjadi seperti semula.
Itu tak tercatat sebagai perang oleh sejarah, hanya benar-benar murni sebagai pembersihan dan orang-orang yang mengingat itu menyebutnya sebagai “Hukuman Suci” dari Langit. Ambisi sang Raja Iblis untuk mengusai Dunia Nyata pupus dibakar para Naga Agung tersebut.
Mengorbankan dirinya sendiri di garis depan, sang Raja Iblis menghadang kedua Naga Agung demi memberikan waktu kepada para pengikutnya kembali ke Neraka. Dari 12 Iblis Murni yang menjadi pengikutnya untuk melaksanakan ambisi, hanya beberapa saja yang berhasil kembali dan para penganut kepercayaannya hanya puluhan saja yang berhasil selamat.
Raja Iblis pun mati oleh kehendak langit, lalu para Naga Agung pembawa malapetaka ditarik kembali ke dimensi tempat mereka dikurung setelah tugas usai.
Namun, para penghuni dunia nyata seketika menjadikan para makhluk ilahi yang tidak melakukan apa-apa untuk mereka itu sebagai sosok untuk disembah. Kepercayaan, dengan kata lain Agama diciptakan oleh para makhluk Mortal tersebut dan menjadikan para makhluk ilahi yang mereka yakini kuat itu sebagai Dewa Pelindung.
Tetapi setelah beberapa dekade berlalu, perbedaan kepercayaan kembali menimbulkan konflik. Menggunakan pengetahuan yang ditinggalkan para iblis, para Mortal mulai memakainya seakan itu milik mereka sendiri dan ajang saling terlahir di antara ras-ras yang sebenarnya bersaudara tersebut. Sebuah masa peperangan pun terjadi.
Para Dewa yang melihat itu merasa kalau peperangan itu muncul karena kedatangan mereka ke Dunia Nyata. Namun, bukan berarti para makhluk kayangan tersebut bisa berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.
Karena larangan makhluk yang lebih tinggi dan Arsh, mereka yang tergabung dalam masyarakat Utopia tak bisa ikut campur. Bahkan para Dewa-Dewi yang ada di permukaan harus segera benar-benar angkat kaki dan kembali ke alam mereka.
Satu persatu dari golongan para makhluk ilahi mulai meninggalkan dunia. Karena dikhianati, dikecewakan, putus asa pada para Mortal dan ada juga yang telah puas karena tujuannya datang ke Dunia Nyata terpenuhi.
Di antara puluhan makhluk kayangan tersebut, ada dua Dewi yang tidak ikut kembali ke alam mereka. Di antaranya karena memang mulai mencintai dunia, lalu diantaranya lagi sebab telah diusir karena dosanya.
Dua Dewi yang menetap tersebut membawa konsep mereka, lalu mulai menyebarkan sesuatu yang disebut dengan Sihir kepada para Mortal. Itu berbeda dengan apa yang para monster miliki, sifatnya lebih indah dan berguna untuk kehidupan banyak orang.
Beberapa negara menerima pengetahuan baru tersebut dan menyebarkannya untuk kebaikan, namun beberapa ada juga yang menggunakannya untuk ambisi dan memenuhi hasrat mereka.
Apapun itu, sihir bagi para Mortal hanyalah sebuah alat baru yang bisa digunakan mereka dan tidak lebih dari itu. Terutama untuk manusia sendiri yang memiliki kecenderungan cepat belajar dan beradaptasi karena umur mereka yang lebih pendek jika dibandingkan dengan ras lainnya.
The Witch of Orgin, Enimalis, Lora Anima, Guru Besar, Master, sosok utama yang menyebarkan sihir tersebut dipanggil dengan berbagai nama. Namun dari semua panggilan, yang paling sering terdengar hanyalah satu. Witch ⸻ Begitulah para Mortal menyebut sosok ilahi yang diturunkan dari singgasana ilahi dan menyebarkan sihir tersebut.
Saat semua makhluk ilahi benar-benar meninggalkan Dunia Nyata dan tidak lagi memunculkan inkarnasi mereka, tempat tersebut menjadi sepi dan konflik kembali pecah. Peperangan dengan cepat muncul, dalam skala besar dan menggunakan senjata-senjata yang lebih mematikan.
“Entah itu di masa apapun, mereka tetap tak berubah. Selalu saja menyentuh hal tabu dan melanggar penjanjian,” ucap salah satu Dewa terakhir sebelum meninggalkan dunia. Mereka yang datang ke Dunia Nyata dengan kemauannya sendiri, berakhir memilih kembali dalam rasa kecewa.
Namun itu tidak untuk dua Dewi yang memilih tinggal selamanya dan melepas keilahian mereka. Sosok yang mencintai pengetahuan dan sosok yang mencintai negerinya. Salah satunya datang karena diusir dan salah satunya datang atas kehendaknya sendiri untuk mencintai sebuah negeri. Meski mereka memiliki keinginan yang berbeda, kedua Dewi tersebut memutuskan untuk tidak melanggar batasan masing-masing.
Mereka berbagi keahlian, pengetahuan dan saling membantu. Satu Dewi mendapat pengetahuan untuk melindungi negerinya, lalu menyebarkan itu kepada rakyatnya sebagai berkah perlindungan. Sedangkan Dewi satunya mendapatkan sebuah kota dari pengetahuan yang didapatnya, untuk membantunya supaya bisa meneliti dan mengembangkan pengetahuan dengan bebas.
Kedua tempat tersebutlah yang kelak di masa depan akan disebut dengan nama Felixia dan Miquator, kedua negeri yang terbentuk untuk kepentingan sang makhluk ilahi yang memilih untuk menetap.
Ketika peradaban baru mulai dibangun, sebuah kalender baru dibuat sebagai pencatatan sejarah baru. Itu dihitung dari tahun para Dewa-Dewi meninggalkan Dunia Nyata, menggunakan sistem perbintangan yang ditinggalkan olah salah satu makhluk ilahi dan sampai sekarang dikenal sebagai Kalender Pendulum. Tahun pertama awal peradaban pun dimulai.
Penuh peperangan setiap tahunnya. Menghancurkan, membangun, progresif dan regresif menjadi hal yang biasa. Seratus tahun penuh perang, lalu muncullah seorang pemimpin yang membawa perdamaian. Namun setelah pemimpin tersebut meninggal, peperangan kembali pecah dalam lingkup yang lebih besar. Siklus semacam itu terus berulang dan berulang seakan tanpa akhir.
Daratan Michigan, begitulah cara para ras tersebut memanggil dunia nyata tempat mereka tinggal. Tak tahu siapa yang pertama memberikan nama tersebut, namun itu terasa familiar dan dengan cepat menyebar ke seluruh Mortal. Menjadikan nama tersebut sebagai satu-satunya kesepakatan bersama yang mereka setujui tanpa adanya konflik.
.
.
.