
Mengapa sebuah dunia bisa ada? Untuk alasan apa? Dan demi mencapai tujuan apa dunia ini berkerak?
Apa benar dunia ini diciptakan?
Bukan tercipta dengan sendirinya?
Oleh siapa?
Demi siapa?
Sejauh zaman berjalan, pertanyaan semacam itu sangat sukar terjawab oleh para Mortal. Jumlah mereka di dunia terlalu cepat untuk bertambah, namun usia mereka terlalu pendek untuk memahami kebenaran di balik pertanyaan tersebut.
Sebelum dunia tercipta hanya ada sebuah kehampaan, tanpa konsep waktu, ruang, mental atau segala komponen yang harus ada untuk sebuah dunia bekerja secara semestinya. Diambil sebuah contoh sederhana, waktu di tempat kita dihitung berdasarkan rotasi dan revolusi bumi.
Satu rotasi sama dengan 23 jam, 56 menit dan 4.091 detik. Sedangkan revolusi bumi terhadap matahari sama dengan 365¼ hari. Dari itu kita dapat tahu bahwa waktu bukanlah sesuatu yang berjalan dan tak terlihat, melainkan sebuah tolak ukur untuk perubahan posisi benda-benda di jaga raya.
Lalu, sesuatu yang paling cepat dan bisa keluar dari konsep waktu tersebut adalah foton ⸻ Salah satunya adalah hal sederhana yang biasa dipanggil dengan cahaya.
Namun, pada awal permulaan tersebut tidak ada apa-apa. Konsep waktu, materi, mental, dan ruang belum ada. Hanya sebuah realitas bahwa sebuah ketiadaan Maujud menjadi hal yang tak terbantahkan. Ketiadaan itu ada di sana ⸻ Fakta tersebut sudah cukup untuk mengubah ketiadaan menjadi Ada saat mendapat observasi dari objek lain.
Namun sebenarnya pemahaman semacam itu juga kurang tepat. Ketiadaan hanyalah sebuah bagian dari sebuah susunan yang lebih besar lagi, bagian dari sebuah hal yang belum diketahui. Layaknya akar pohon yang bercabang-cabang, kebenaran pun terpisah menjadi ratusan jalan yang menunjuk jawaban yang berbeda.
“Dunia ini ada demi sesuatu, untuk mencapai sebuah tujuan.”
Layaknya tubuh manusia, sel-sel kecil, darah, dan organ-organ di dalam raga tidak paham mengapa mereka bisa ada dan bekerja. Zat-zat dalam tubuh juga demikian, tidak ada dari mereka yang mengerti kenapa dunia yang direpresentasikan tubuh tersebut bisa ada.
Saat dunia bergerak, apa yang ada di dalamnya juga ikut bergerak. Begitu juga sebaliknya. Saat seseorang akan melangkah dan dalam batin meyakinkan ingin melakukannya, maka sebuah denyut dalam susunan otak akan melontarkan sinaps, menjalar ke saraf dan terciptalah sebuah gerakan yang dikehendaki oleh sang pemilik tubuh.
Itu sama saja dengan cara sebuah dunia bergerak. Kehendak dari atas menjalar, lalu membuat semua orang mengikutinya dan membentuk sebuah dunia. Namun pusat dari perintah tersebut bukanlah pemilik dari dunia, hanyalah pusat komando yang membuat dunia bekerja.
Lalu, siapa sebenarnya pemilik dunia ini? Demi siapa dunia ini bergerak?
Belum ada yang tahu jawaban tersebut, bahkan pusat dari komando dunia yang dikenal sebagai Surga sekalipun. Apa yang mereka sadari hanya satu, dunia memang dengan pasti bergerak untuk kepentingan satu entitas yang mahakuasa.
Dikatakan bahwa sebelum realitas dan dunia ada, Awal Permulaan berbentuk sebuah Mental ⸻ Sederhananya lagi, itu hampir identik dengan Ego atau Budi seorang makhluk hidup. Namun tentu saja, ukuran dan jangkauannya diluar pemahaman dan sangat luas.
Dunia awalnya hanya sebuah kemampuan kognitif yang membuat kesadaran, persepsi, perhitungan, dan ingatan ada pada dalam sebuah satu kesatuan. Dunia mengamati sesuatu dan sadar bahwa dirinya tidaklah sempurna. Karena itulah ia berkembang, menciptakan properti dan komponen baru untuk memperbaiki diri.
Namun saat sadar ia telah membuat kesalahan, dunia membuat sebuah cabang baru dan menumbuhkannya dengan cara yang berbeda. Karena itulah sebuah dunia paralel tercipta. Dunia yang tumbuh dengan karakteristik benar-benar berbeda menjadi sebuah pohon baru, lalu saling mengobservasi satu sama lain dan sebuah siklus peluasan dunia terus berlangsung seperti itu.
Layaknya sebuah pohon, dunia terus mengonsumsi unsur hara dan menghabiskannya. Ketika sadar apa yang menjadi sumber energinya hampir habis, dunia dengan sendirinya akan memasuki masa “Tidur” dan itulah yang disebut dengan kiamat.
Dunia mengalami siklus penciptaan dan kehancuran, membuat sebuah Event yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terus menerus mengulangi proses tersebut demi mendapatkan sebuah hasil yang diharapkan.
Jika gagal, dunia akan melakukan restart dan kembali ke awal untuk melaksanakan proses tersebut. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Terus sampai mendapat apa yang ia anggap sesuai dengan ekspektasi.
Dari siklus dan pemahaman tersebut, kembali timbul sebuah pertanyaan besar.
“Di awal, siapa yang dunia amati? Dalam ketiadaan, siapa yang ia tiru?”
Hanya dunia yang tahu jawabannya. Para Dewa memang memagang kekuasaan atas dunia, mengendalikan, memiliki kekuasaan besar dan bisa melakukan banyak hal. Tetapi, mereka tidak sepenuhnya mengerti apa yang diharapkan dunia dari mereka.
Dari persepsi entitas yang lebih berkuasa, Dewa pula merupakan budak dari dunia tersebut. Dunia Paralel, Alam Alternatif, Dimensi Alternatif, segala apa yang ada tercipta dari Dunia Utama tidak lebih dari properti yang digunakan untuk mencapai tujuan Awal Permulaan.
۞۞۞
Embun pada dedaunan pohon menetes ke tanah dan rerumputan. Berbagai jenis bunga musim semi mekar indah di alam liar, seakan menyambut mentari yang mulai naik dari awah timur dengan senyuman mereka. Para burung melantunkan irama pada sarang mereka di atas cabang dan ranting, udara segar berhembus halus melewati pepohonan cemara.
Pada salah satu sisi Pegunungan Berbatasan di wilayah Luke, terlihat tenda-tenda mewah dari kain sutra dari rombongan Keluarga Kerajaan Felixia. Mereka menjadikan lahan kosong di tengah hutan tersebut sebagai titik transit, terletak tak jauh dari sebuah danau karst yang dikelilingi bebatuan kapur.
Rombongan tersebut terdiri dari belasan prajurit elite, beberapa bangsawan serta perwakilannya dari wilayah Rein dan Garados, lalu beberapa pelayan pribadi yang ikut bersama mereka. Dalam rombongan, terlihat belasan kuda beserta kereta yang mereka tarik dan dua ekor Drake yang menjadi menarik kereta khusus milik Keluarga Kerajaan.
Tenda-tenda megah berkain biru tua berdiri rapi di atas tanah kapur, dikelilingi oleh kotak-kotak kayu berisi persediaan makanan dan barang-barang yang diperlukan untuk upacara pertunangan yang perlu dibawa oleh pihak perempuan. Ketika matahari perlahan mulai terbit, para prajurit segera mengemas barang-barang yang sebelumnya digunakan untuk bermalam.
Tenda-tenda mulai dirubuhkan, besi-besi kerangka dilepas, kotak-kotak dinaikkan ke atas kereta dan gerobak, lalu arang api unggun pun dipadamkan. Di dekat pepohonan cemara yang rimbun, Dart Luke dan Thomas Rein sibuk berdiskusi soal dampak dari pertunangan yang akan muncul nantinya.
Thomas melipat kedua tangan ke depan dada, menyandakan punggung ke pohon dan sedikit menghela napas. Pria rambut pirang klimis dengan baju halkah rangkap jubah tersebut menatap datar ke arah Dart, lalu setelah hela napas berkata, “Tuan Luke hanya punya satu pewaris resmi, bukan? Jika Putra Anda menikah dengan Tuan Putri Arteria, bagaimana caranya Anda mewariskan keluarga Luke?”
“Akan aku pikirkan itu nanti ….”
Dart balik menatap tajam. Pria rambut putih uban dengan balutan seragam militer hitam tersebut terlihat tak terlalu memedulikan keberlangsungan keturunan keluarganya. Tidak seperti keluarga Rein yang menanamkan perintah kuat untuk menjaga dan mempertahankan keturunan, hal semacam itu tidak ada dalam Luke.
Keturunan dari keluarga Pedang Kerajaan cenderung memiliki nafsu yang lebih besar kepada ilmu pedang, karena itulah pernikahan yang dilakukan setiap generasinya selalu berupa pernikahan politik. Bahkan sampai pada generasi Dart juga demikian.
“Nanti?” Kedua alis Thomas berkedut, ia berhenti melipat kedua tangan dan segera menegur, “Anda ini ya …. Ini tentang keberlangsungan garis keturunan keluarga Anda, tolong pikirkan itu baik-baik!”
“Diamlah ….”
Itu membuat Thomas terdiam gemetar, keringat dingin bercucuran dan mulut menganga tanpa bisa mengeluarkan suara. Merasakan aura membunuh tersebut, para prajurit yang sedang mempersiapkan keberangkatan juga ikut terdiam gemetar. Mereka menoleh ke arah kedua Kepala Keluarga Utama tersebut.
“Ah ⸻” Dart segera menghilangkan aura membunuhnya, memegang kedua pundak Thomas dan berkata, “Maaf, maaf! Kau baik-baik saja? Tadi gak sengaja ….”
“Tak sengaja dan sekuat itu?” Dengan wajah pucat Thomas tersenyum tipis, lalu sembari memalingkan wajah ia pun menyindir, “Seberapa banyak orang yang kau bunuh di medan perang sampai-sampai bisa memancarkan nafsu membunuh semacam itu?”
Sindiran tersebut sama sekali tak mengusik Dart, ia mengangkat tangan dari pundak Thomas dan melangkah mundur. “Kau tahu, Thomas. Sekarang negeri ini sedang dalam situasi genting dan sangat butuh penerus karena Darah Murni Felixia benar-benar tidak ada lagi selain Tuan Putri Arteria. Aku tak bisa protes soal pertunangan ini,” jelas Dart.
Mendengar apa yang dikatakan rekan sekaligus sosok yang dikaguminya itu, Thomas paham apa yang dikatakan Dart tidaklah keluar dari hatinya. Pria bernama Dart Luke bukanlah orang yang sangat loyal sampai-sampai rela memberikan putranya untuk sang Raja. Thomas samar-samar memahami alasan lain dibalik keputusan Kepala Keluarga Luke tersebut.
“Kau ingin mengakhiri garis keturunanmu⸻?”
“Tolong tunggu sebentar, Yang Mulia. Anda tak bisa pergi sendiri seperti itu,” ucap salah satu pengawal Raja. Mendengar suara tersebut, Thomas mengurungkan niat untuk melanjutkan pembicaraan dan segera menoleh ke arah Raja Gaiel.
Di temani kedua pengawal pribadinya, sang Raja berjalan ke arah danau yang letaknya tak jauh dari perkemahan mereka. Pria yang mengenakan mantel abu-abu dengan jubah biru gelap tersebut terlihat cemas, menyipitkan sorot mata dan mengerutkan kening.
Dart ikut melihat ke arah Raja Gaiel, segera paham alasan mengapa sang Raja terlihat cemas. “Apa dia mencari Putri dan Pangeran?” gumam Dart.
“Eh?” Thomas melirik heran. Dengan nada sedikit tak senang, pria rambut pirang tersebut bertanya, “Kenapa Anda bisa tahu?”
Memasang ekspresi datar, Dart menunjuk ke arah danau dan menjawab, “Sebelum kalian semua bangun, mereka berdua pergi ke danau. Mereka izin padaku untuk melihat-lihat burung dan ikan di sana.”
“Sudah saya duga ….” Thomas segera menghela napas ringan, lalu berbalik dan hendak mengejar Raja Gaiel. Namun saat ia baru mengambil satu langkah, bagian belakang kerahnya ditarik oleh Dart. “Ada apa?” tanya pria rambut pirang tersebut dengan sedikit ketus.
Dart hanya memberi kode lirikan ke samping. Itu membuat Thomas melihat wanita rambut hitam panjang berbalut gaun Halter warna violet yang berdiri di belakang kanan Kepala Keluarga Luke. Wanita tersebut adalah Calista Rein, istri pertama dari Kepala Keluarga Rein. Berbeda dengan gelar yang dimiliki oleh suaminya, Calista sekarang bergelar Viscount dan merupakan warisan dari mendiang kedua orang tuannya.
“Sayang …, ada apa? Bukannya tadi kamu mau naik duluan?” tanya Thomas dengan nada lembut. Saat berada di depan istrinya tersebut, seketika aura jantannya keluar dan pria itu benar-benar terlihat seperti orang yang bisa diandalkan.
Melihat perubahan sikap tersebut, Dart tidak memedulikannya dan segera berjalan meninggalkan mereka sembari berkata, “Biar aku yang mengejar Yang Mulia, kau di sini saja bersama istrimu.”
“A⸻?” Sekilas rasa sedikit bersalah muncul dalam benak Thomas. Ia menoleh ke arah Dart, ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya hanya menganga dan tak bisa bersuara.
“Tuan Dart,” panggil Calista Rein.
Mendengar suara perempuan cukup akrab dengan Mavis, Dart menoleh dan sebisa mungkin memasang senyum ramah. “Ada apa, Nyonya Calista?” sahutnya.
Calista hanya terdiam, menatap dalam-dalam dengan ekspresi datar. Sekilas kesan yang ada pada wanita itu saat diam mirip dengan Mavis, membuat Kepala Keluarga Luke tersebut sedikit bertambah rindu dengan sang istri di rumah.
Wanita rambut hitam terurai itu segera memasang senyum tipis, lalu dengan penasaran bertanya, “Mengapa Tuan Dart tidak membawa pedang? Anda ingin menjaga Yang Mulia, bukan?”
Pertanyaan itu terdengar membosankan bagi Dart, merasa sedikit menyesal menyetarakan Mavis dengan wanita rambut hitam tersebut. Seketika rasa ketertarikan dalam sorot mata Dart hilang, lalu sembari berbalik ia pun menjawab, “Aku tak perlu pedang untuk membunuh musuh Raja …. Nyonya tahu, Luke sendiri adalah sebilah pedang.”
Pria bermata biru itu pun segera bergegas mengejar sang Raja yang pergi bersama dua orang prajurit elite. Tubuh yang dilatih khusus untuk peperangan, membunuh dan memperoleh kekuatan itu sekilas tak jauh berbeda dengan para prajurit terlatih lain. Namun apa yang ada di dalam sangatlah berbeda, mental pria tua bernama Dart Luke itu memang telah sampai tingkat yang lebih tinggi jika dibandingkan para Mortal.
Jawaban yang keluar darinya masih sedikit membuat Calista dan Thomas tercengang. Meski sama-sama dari keluarga bangsawan tingkat atas, mereka berdua tidak bisa mengerti pola pikir pria yang dulu hanya bisa hidup di medan perang tersebut.
Calista meletakkan telapak tangan ke dada, lalu dengan suara lirih berkata, “Begitu rupanya, memang karena itulah beliau bisa mencintai Master.”
“Ada apa, Sayang?” tanya Thomas sedikit heran mendengar gumam tersebut.
“Tidak apa. Saya hanya merasa kalau orang Luke dari dulu memang aneh. Mendiang Ayahanda juga pernah bercerita soal keunikan-keunikan mereka.”
Sekilas Thomas terkejut melihat senyuman yang tampak pada wajah istrinya. Mengingat-ingat kembali beberapa hal, pria rambut pirang tersebut berkata, “Bicara soal keunikan, putranya Tuan Dart juga cukup unik. Yah, daripada unik dia lebih cenderung genius dan diberkahi banyak bakat.”
“Nak Odo?” Calista sekilas sedikit memiringkan kepala dan berdiri menghadap suaminya. Sembari sedikit tersenyum tipis ia memastikan, “Tak biasanya kamu menyebut orang lain genius. Diriku juga dengar kabar soal Nak Odo mengalahkan Naga Hitam dan rumor-rumor lainnya, tapi bukannya itu karena dia putra Master? Karena itu diberkahi bakat sihir yang luar biasa ….”
Thomas sekilas mengangkat kedua sisi pundak, lalu sedikit memalingkan tatapan dan menjawab, “Dia hebat bukan hanya pada sihir saja, tapi soal ilmu pemerintahan. Kurasa dia bisa menyaingi keluarga Rein kelak di masa depan.” Menghela napas ringan, Kepala Keluarga Rein tersebut terlihat sedikit cemas dan menambahkan, “Padahal usianya belum genap satu dekade, loh.”
Calista tidak memberikan reaksi sama sekali, seakan dari awal sudah mengetahui hal tersebut. Mendekat dari depan sampai dadanya menyentuh Thomas, wanita rambut hitam itu melingkarkan kedua lengannya ke leher suaminya tersebut. Ia mendekatkan bibir merahnya ke telinga dan berbisik, “Jangan terlalu dipikirkan, Sayangku. sudah sewajarnya generasi selanjutnya lebih hebat dari kita. Putra kita pun tak jauh berbeda, bukan?”
“Kau benar ….” Thomas tidak balik memeluk dan malah semakin memalingkan pandangan, sekilas wajah penuh rasa bersalah tampak. Menghela napas ringan, Kepala Keluarga Rein tersebut sedikit mengeluh, “Namun, kau tahu Sayangku. Bukan berarti generasi selanjutnya tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti pendahulunya. Bahkan kita⸻”
Calista segera meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut Thomas. Memasang senyum tipis yang terlihat dingin, wanita dengan paras awet muda tersebut sekali lagi berbisik, “Diriku tak pernah menganggap itu sebuah kesalahan. Tolong janganlah engkau cemaskan itu, sayangku. Keputusanmu untuk melakukan pernikahan politik demi menjaga keseimbangan hierarki kerajaan Felixia bukanlah kesalahan. Meski harus mengorbankan rumah tangga kita yang damai sekalipun, diriku takkan menyebut itu kesalahan.”
“Baiklah …, aku akan diam. Aku takkan mengingatkannya lagi soal itu. Dart juga bebas memilih hal yang berbeda.”
Thomas mengangguk, sedikit memasang wajah muram dan merasa kalau Dart juga dalam waktu dekat akan dipaksakan hal semacam itu. Ketika putranya akan menjadi calon Raja selanjutnya, secara otomatis para bangsawan lain pasti akan mengajukan tuntutan kepada keluarga Luke untuk meneruskan keturunan dan keahliannya kepada generasi berikutnya.
Mereka akan memaksa Dart untuk melakukan pernikahan politik, sebab istrinya sekarang sudah tidak bisa mengandung lagi setelah melahirkan putra semata wayang mereka. Bagi yang hidup di dunia politik di mana memanfaatkan dan dimanfaatkan merupakan hal biasa, hal semacam itu pasti akan muncul ketika pengaruh dan kekuatan seseorang luntur bersama usia.