Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 36: Reş û Rabe 3 of 5 (Part 01)



Catatan: Muatan sedikit berat, bacalah saat suasana hati sedang baik. Bagi yang belum baca Great War Record dan langsung loncat ke Arc 02, saya sarankan untuk baca itu karena sebenarnya itu berisi jawaban dari beberapa kebingungan kalian.


 


 


 


 


Udara sejuk dengan bebas dihirup, suara burung dan suara ayam yang berkokok menjadi alarm alami bagi mereka. Pemukiman Klista, itulah nama resmi desa tersebut dalam catatan pemerintahan kota Rockfield. Tempat tersebut memang terlalu kecil untuk disebut sebuah desa, dengan penduduknya yang tidak lebih dari 10 kepala keluarga itu tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori desa dalam peraturan Kerajaan Felixia.


 


 


Pemandangan berkabut menjadi hal wajar pada pagi hari, bersama udara segar memenuhi seisi desa dan membuat jarak pandang terbatasi. Berdiri di dekat gazebu, Odo Luke menghela napas seraya menatap ke arah hutan berkabut yang masih terlihat gelap. Menaikkan pandangan ke langit, awan mendung mengisi dan terlihat tidak akan cerah dalam waktu dekat.


 


 


“Huuh ....” Napas yang dihembuskan menjadi uap putih dan menghilang.


 


 


“Anda tidak tidur?” Fiola segera bangun, Huli Jing bertubuh gadis rambut cokelat kehitaman itu mengusap mata dan menatap datar.


 


 


Menoleh ke arah Fiola, pemuda itu menjawab, “Aku tak perlu tidur.”


 


 


“Anda tidak perlu makan, tak perlu tidur, lama-lama Anda tidak mirip seperti manusia. Saya yang seorang Huli Jing juga butuh tidur minimal satu atau dua jam sehari ....”


 


 


Odo terdiam, tidak berkomentar soal jangka tidur ras berumur panjang itu. Kembali mengamati sekeliling, tidak ada satu pun dari rombongan yang sudah bangun dan mereka masih terkapar di dalam gazebu.


 


 


“Tempat seperti itu malah lebih mirip Ranggon, ya ....”


 


 


“Hmm? Anda mengatakan sesuatu?”


 


 


“Tak ada ....”


 


 


Pemuda itu kembali duduk ke gazebu yang hanya digunakan mereka berdua, lalu menatap datar ke arah para prajurit yang tidur dengan lelap. Melihat mereka tidak waspada, Odo merasa sebesar itulah kepercayaan mereka pada pemimpin mereka yang mengatakan desa tempat transit mereka aman.


 


 


Sekilas melihat pemukiman kecil yang terletak di dataran tinggi tersebut, jenis rumah dan arsitektur yang ada memang berbeda dengan kebanyakan jenis bangunan di kota Mylta. Di pemukiman yang mengambil nama suku mereka, Klista, bangunan-bangunan mereka cenderung menggunakan kayu sebagai bahan utama dan merupakan rumah panggung yang tingginya sekitar satu sampai satu setengah meter. Memiliki desain yang sederhana namun nilai estetika begitu kuat, pada pintu tiap rumah terdapat ukiran unik dan digantung patung pahatan kayu di bawah rumah panggung.


 


 


“Yah, menurut Lisia tempat ini juga salah satu penghasilan utamanya seni pahatan kayu. Hampir keseluruhan kayu semua,” benak Odo seraya tersenyum tipis.


 


 


Waktu pertama datang kemarin, pemuda itu tidak sempat melihat-lihat desa suku Klista karena beberapa alasan. Melihat pemukiman yang ada secara jelas seperti sekarang, pemuda itu memastikan beberapa hal saat melihat orang-orang Klista itu keluar dari rumah mereka untuk mengurus ternak, kebun, atau pergi berburu.


 


 


Mereka kebanyakan perempuan, mengenakan baju kurung pesak berwarna polos dan selendang bermotif bunga yang melingkar di sekitar leher untuk penghangat. Melihat penampilan mereka saat bekerja di pagi hari, sekilas Odo teringat dengan salah satu pakaian tradisional yang dirinya tahu.


 


 


“Hmm, dunia ini memang menyalin banyak hal dari tempat tinggalku dulu,” gumam Odo.


 


 


“Tuan, ada apa?” Fiola mendekat dan menepuk pundak pemuda itu dari belakang.


 


 


“Tak apa.” Odo hanya membalas dengan senyuman.


 


 


Saat hari sudah mulai sedikit siang dan orang-orang sudah bangun semua, di bawah komando Lisia mereka segera melanjutkan pengisian dan penghitungan suplai yang diambil dari pemukiman. Odo yang dikenal anggota rencana sebagai pemuda bernama Nigrum harus ikut bersama mereka dan menjadi pengangkut barang, mengangkat kotak-kotak dari gudang desa dan menghitung isinya untuk pendataan.


 


 


Mengamati dari gazebu di dekat kereta kargo yang diparkir, Fiola dan Lisia hanya duduk dan tersenyum ringan melihat ke arah pemuda itu. Mereka seakan menikmatinya, mengamati Odo yang harus mengeluarkan tenaga ekstra saat udara sedang sangat dingin. Meski salju tidak sedang turun, suhu yang ada memang cukup berat bagi mereka yang tidak biasa berada di dataran tinggi dengan kadar oksigen yang lebih sedikit.


 


 


Secara bergantian mereka mengangkuti barang, pekerjaan terasa lambat karena mereka kesulitan bernapas. Transit dalam rencana juga menjadi salah satu metode yang Lisia gunakan untuk membuat para anggota rencana dapat beradaptasi dengan ketinggian. Jika mereka melanjutkan perjalanan dan terus naik, bisa dipastikan akan ada beberapa anggota yang terkena AMS (acute mountain sickness).


 


 


Secara nyata, gejala Penyakit Gunung tersebut sudah dialami oleh para penyihir Miquator yang cenderung memiliki fisik yang lebih lemah dari yang lain. Meski hanya gejala ringan seperti nafsu makan berkurang dan pusing, hal seperti adaptasi memang perlu dilakukan untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi seperti penyergapan saat kondisi tidak sedang maksimal.


 


 


Mengesampingkan hal tersebut, Odo sama sekali tidak mengalami gejala itu dan bahkan dirinya tidak merasa kedinginan dengan penurunan suhu drastis jika dibandingkan dengan awal-awal mereka mulai menaiki daerah pegunungan sejak kemarin. Pemuda itu dengan santai mengangkat peti makanan yang telah dihitung di gudang, lalu meletakkannya ke kargo.


 


 


Para prajurit dengan stamina terbaik pun tidak bisa mengikuti pemuda itu, mereka memilih beristirahat karena gejala sesak napas mulai nampak. Pada siang hari, pengangkutan persediaan selesai lebih cepat dari jadwal. Semuanya telah dihitung, lalu tinggal Lisia pergi ke tempat Tetua Suku Klista untuk mengonfirmasi beberapa hal dengan kepala pemukiman tersebut.


 


 


Merasa tidak memiliki hubungan dengan hal seperti itu, Odo duduk pada salah satu gazebu dan sedikit menghela napas panjang. Mendongak ke atas, ia menatap datar tetapi sama sekali tidak terlihat kelelahan atau kedinginan meski hanya mengenakan kemeja tipis.


 


 


Kepala Prajurit Kota Mylta, Iitla Lots, duduk di dekat Odo dan bertanya, “Tuan Nigrum, apa Anda tidak kedinginan atau lelah?”


 


 


Melihat ke arah pria paruh baya rambut pirang sebahu itu yang mengenakan selimut hangat dan masih menggigil, Odo sama sekali tidak berkomentar soal itu dan malah heran dengan cara bicaranya yang tiba-tiba sopan seperti itu.


 


 


“Kenapa Anda menatapkau seperti itu?” tanya Iitla sinis. “Ah, Anda pasti merasa kalau saya konyol karena sekarang malah me-me-menggigil seperti ini, bu-bukan? Uuuh ....”


 


 


“Tidak,” ucap Odo. Berhenti menatap Iilta Lots, Odo melihat ke arah pemukiman yang mulai ramai dan berkata, “Saya hanya terkejut Anda bisa bicara sopan seperti itu.”


 


 


Ikut menatap apa yang pemuda itu tatap, Iilta berkata, “Saya orang keras kepala, bukan orang yang tidak tahu diri. Setelah Tuan Nigrum menunjukkan kemampuan Anda selama seminggu terakhir, tentu saja saya tidak punya pilihan selain mengakui Anda dan memberikan rasa hormat.”


 


 


“Haha ....” Odo tidak memedulikannya dan hanya memberi tawa kering, tatapan pemuda rambut hitam itu berubah sedikit datar. Melihat memindai, di dekat bangunan Tetua Suku terlihat Fiola yang berdiri di sana dan menunggu Lisia yang merupakan satu-satunya orang luar yang diperbolehkan masuk.


 


 


Sedikit melirik ke arah Kepala Prajurit itu, Odo bertanya, “Ngomong-omong, desa— Ah, secara formalnya pemukiman, ya .... Yah, intinya tempat ini sebenarnya apa? Kenapa bisa ada koneksinya dengan Keluarga Mylta?”


 


 


“Meski Anda tunangan Nona tapi tidak tahu, ya? Hmm, bagaimana menjelaskannya .... Sebenarnya Tetua ini masih kerabat dekat Tuan Argo, tepatnya Tetua di sini adalah adik beliau yang terpaksa harus diasingkan karena tak terpilih menjadi Kepala Keluarga dulu. Seperti yang Anda tahu, urusan para bangsawan memang rumit ....”


 


 


Odo mencerna informasi baru tersebut. Karena itu dalam bentuk pengasingan yang dilakukan pihak internal Keluarga Mylta, tentu saja tidak ada catatan resmi yang mengutarakan hal itu kecuali tertera secara resmi hanya Keluarga Cabang yang melepaskan diri dari Keluarga Utama.


 


 


Pada situasi normal di keluarga para bangsawan, anak-anak memang setelah lahir tidak akan dipublikasikan kepada khalayak dan akan didik untuk diseleksi pada umur tertentu untuk menjadi Kepala Keluarga. Bagi yang terpilih akan menetap dan yang tidak terpilih akan diasingkan. Alasan hal tersebut dilakukan sangat sederhana, anak yang lahir bukan hanya dari rahim Istri utama. Selir bisa saja melahirkan keturunan Kepala Keluarga, hal itu bisa menyulut konflik jika tidak dilakukan tindakkan tegas seperti penghapusan jejak kelahiran.


 


 


Sejenak memejamkan mata, Odo berkata, “Kalau dia adik Tuan Argo Mylta, berarti dia sudah tua, bukan? Kenapa dia masih tetap memimpin pemukiman terpencil seperti ini? Kalau dia memiliki darah bangsawan, bisa saja dia memilih kembali ke kota setelah konflik selesai. Kenapa sampai tua terus di sini? Apa karena sudah cinta dengan warganya?”


 


 


“Saya rasa itu salah satunya .... Tapi bukan itu intinya, Nyonya Roro masalahnya bukan murni seorang manusia.”


 


 


“Bukan manusia?” Odo menoleh dengan rasa tertarik.


 


 


“Ya ..., dia setengah Einhorn .... Pada darahnya mengalir kuda bertanduk dengan kekuatan sihir luar biasa. Karena itu, dia berumur panjang dan selalu terlihat muda. Itu sangat membawa malapetaka, karena itu dirinya diasingkan.”


 


 


“Eng, kuda?” Alis Odo terangkat, memiringkan kepala dan berkata, “Sebentar ..., kenapa manusia bisa melahirkan anak keturunan kuda mistis? Apa pendahulu Mylta melakukan hal begitu dengan kuda bertanduk?”


 


 


Kepala Prajurit melirik dengan datar, menatap sedikit kesal dan berkata, “Meski terlihat kalem tapi cara bicara Anda brutal, ya. Tentu saja bukan seperti itu! Einhorn, mereka makhluk yang keberadaannya seperti Roh Agung namun bisa tinggal di Dunia Nyata dengan merasuki seekor kuda hutan, menguah bulunya menjadi perak dan memberinya umur panjang.”


 


 


Tentu saja Odo tahu hal seperti itu, pemuda itu bertanya dengan maksud bergurau. Menghela napas dan menatap datar, ia memilih diam dan kembali mendengarkan daripada membongkar candaan yang dianggap serius itu.


 


 


 


 


Kepala prajurit menatap ke arah pemukiman, lalu berkata, “Dari semua itu, kalau Einhorn mati karena sesuatu, kuda bertanduk itu akan berubah menjadi bentuk Roh kembali dan merasuk ke tubuh kuda lain. Namun ..., entah itu musibah atau berkah, ibunda Tuan Argo katanya mendapat mimpi bertemu kuda bertanduk dan kembali hamil saat Tuan Argo masih berusia sepuluh bulan.”


 


 


Odo mengangguk paham, lalu berkata, “Begitu, ya .... Jadi yang lahir sebenarnya adalah Einhorn itu sendiri, namun dalam bentuk manusia .... Karena itulah ..., dia diasingkan sampai sekarang.”


 


 


“Meski dia diasingkan, sebenarnya beliau sangat disayangi banyak beberapa pengikutnya, loh. Saat saya masih kecil, saya juga kagum dengan karismanya. Yah, karena itu sistem di desa ini menjadi tertutup untuk menghindari tatapan langsung dengan Nyonya Roro.”


 


 


 


 


“Ya ....”


 


 


“Jadi ingin lihat.”


 


 


“Eh?”


 


 


Odo bangun dari tempat duduk, lalu berjalan ke arah pemukiman menuju bangunan tempat Tetua Suku berada. Kepala Prajurit yang melihat keputusan tiba-tiba pemuda itu hanya bisa menatap heran, tidak mengerti pola pikir seperti apa yang ada dalam kepala pemuda itu.


 


 


Saat Odo sampai di depan bangunan tempat Tetua dan hendak memanggil Fiola untuk bertanya, tiba-tiba pintu kayu terbuka dan dari rumah panggung keluar dua pelayan setia Tetua Suku. Mereka adalah manusia murni, keduanya memiliki warna rambut khas hitam dan mata sedikit sipit yang menjadi ciri orang-orang kekaisaran. Tidak jauh berbeda dengan penduduk lain, kedua Pelayan Tetua itu juga mengenakan baju kurung pesak dengan selendang melingkar di sekitar leher.


 


 


Suku Klista sendiri bukanlah suku yang dibentuk oleh Individu bernama Roro, melainkan suku yang tersebar di seluruh benua Michigan dan mempercayai bahwa seseorang yang terlahir sebagai setengah Roh atau bisa disebut juga Titisan Peri adalah sosok Agung yang pantas dihormati. Leluhur suku mereka juga adalah manusia yang merupakan inkarnasi dari Roh Agung yang telah tinggal di Dunia Nyata dalam waktu lama.


 


 


Salah satu pelayang menatap napas dalam-dalam, lalu berteriak, “Tuan Odo Luke! Tuan Odo—!!”


 


 


Fiola langsung meloncat ke atas teras rumah panggung dan membungkam mulut salah satu Pelayan Tetua itu. Hal tersebut sangat mengejutkan, Odo dan Fiola bingung mengapa bisa perempuan itu memanggil nama Odo Luke meski seharusnya tidak ada yang tahu kalau individu tersebut ada di antara orang-orang dari Mylta yang datang.


.


.


.


.


Tidak dijelaskan selain dirinya dipanggil oleh Tetua Suku, Odo seorang dipersilakan masuk ke dalam bangunan yang seharusnya hanya keturunan Mylta saja yang masuk. Di dalam bangunan tempat Tetua Suku berada, hanya Odo seorang duduk setelah Lisia disuruh keluar dan Fiola tidak diperbolehkan masuk.


 


 


Mengamati sekitar, bangunan memang sepenuhnya terbuat dari kayu yang dipoles mengkilat dan beberapa sudut terdapat pola ukiran pada lantai dan dinding. Hanya ada satu ruangan di rumah panggung tempat Tetua berada, terasa luas dan di ujungnya yang dapat dilihat setelah masuk sebuah tempat khusus yang dibatasi oleh gorden berlapis yang sedikit transparan.


 


 


Nyala lilin minyak yang ada dalam ruangan membuat siluet sosok di balik gorden merah terlihat, membuat Odo yang duduk sila di atas bantal menatap datar dengan rasa penasaran. Sekilas mengingat kembali penjelasan kedua Pelayan Tetua yang membiarkan dirinya seorang masuk, pemuda rambut hitam itu merasa kekurangan informasi.


 


 


“Apa ... kau tahu aku ada dari Lisia?” tanya Odo dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.


 


 


Sosok siluet di balik gorden bangun, lalu berjalan keluar dan berakta, “Bukan.”


 


 


Sosok itu membuka gorden dan berdiri menatap Odo langsung. Melihat sosok yang diagungkan oleh Suku Klista, pemuda itu menganga dalam rasa kagum dengan keindahan perempuan itu. Meski dikatakan dirinya sudah berumur lebih dari lima puluh tahun, di mata Odo perempuan bernama Roro Nia’an itu masihlah sangat muda dan hanya terlihat seperti perempuan usia dua puluh tahunan .


 


 


Baju kurung pesak berwarna hijau yang dikenakannya sangat cocok dengan rambut peraknya yang terjuntai sampai lantai dengan liar. Selendang cokelat berpola bunga tidak dikenakan dengan rapi, hanya melingkar kacau pada sekitar leher. Meski begitu, sorot mata hijau perempuan itu sangat indah dan karismanya sama sekali tidak luntur. Dari penampilan yang tampak dari perempuan itu, sebuah tanduk spiral yang ada pada keningnya menjadi satu-satunya ciri kalau perempuan itu bukanlah manusia.


 


 


Seakan tidak terpengaruh keindahan perempuan itu, Odo bertanya, “Lalu kenapa kau bisa tahu aku dan memanggilku dengan cara seperti itu?”


 


 


“Nujum ..., apa engkau tahu itu?”


 


 


Sesaat Odo terkejut, dirinya tahu hal seperti itu adalah salah satu jenis cara ramalan yang menggunakan posisi bintang sebagai pacuan. Menarik napas ringan, pemuda itu menatap tidak percaya karena dirinya tak mempercayai metode ramalan atau semacamnya.


 


 


Perempuan dengan rambut perak sangat panjang mengkilat itu duduk bersimpuh di atas bantal duduk tepat di hadapan Odo, dengan setara ingin berbicara kepada pemuda di hadapannya tersebut. Melihat rambut mengkilat perempuan itu terurai sangat liar di lantai, alis Odo berkedut dan sedikit terganggu sebab merasa sangat sayang rambut indah seperti itu tidak dirawat dengan baik.


 


 


“Apa ... rambutku seindah itu?” tanya Roro.


 


 


Odo terbelalak, sedikit memalingkan pandangan dan berkata, “Selain Nujum, kau bisa juga membaca pikiran, ya? Praktis sekali.”


 


 


“Saya tidak membaca pikiran, hanya meramal satu-satunya kemampuan yang diriku miliki.” Mengangkat beberapa helai rambutnya sendiri, Roro dengan wajah murung berkata, “Saya tahu Anda kagum dengan rambut ini dari mimpi, kalau Anda pasti akan terpana pada saya karena rambut ini. Itu terlihat setelah saya melihat gugusan bintang tadi malam.”


 


 


Menatap datar perempuan itu, Odo tegas bertanya, “Jadi, kenapa kau mengundangku kemari? Apa akan ada hal buruk atau baik terjadi padaku, lalu kau akan memberitahukan atau memperingatkanku?”


 


 


“Tidak ....”


 


 


Suara sendu itu terdengar aneh dalam benak Odo, membuat pemuda itu menatap dengan sorot datar. Ia tidak suka tipe perempuan sepertinya, terlihat lesu dan seakan-akan tahu segalanya.


 


 


“Terus apa tujuanmu?”


 


 


“Diriku hanya ingin bertemu denganmu sebelum bintang yang bersinar terang itu benar-benar padam sepenuhnya. Tak ada alasan lain atau sesuatu yang diriku minta.”


 


 


“Hah?”


 


 


“Dunia telah lepas dari roda giginya, melaju cepat ke arah penuh potensi yang gelap dan tidak ada yang tahu. Malam menjadi siang, siang menjadi malam. Kebenaran akan menyesatkan dan kebejatan akan menunjukkan arah sebenarnya .... Beritahu kami arti dari nama itu, berasma rembulan yang mekar di langit. Pergi ke manapun yang dirimu inginkan, wahai Sang Hitam, warna putih akan selalu bersamamu.”


 


 


Odo hanya terdiam mendengar perkataan bagaikan sebuah puisi itu, merasa heran namun sedikit mengisi beberapa kepingan kosong dalam kepalanya. Menarik napas dalam-dalam, dengan rasa ragu pemuda itu bertanya, “Apa kau juga tahu siapa aku?”


 


 


Roro tidak menjawab langsung, ia memejamkan mata sekilas dan membuat ruangan terasa senyap. Angin yang masuk melalui sela bangunan kayu meniup lilin, membuat bayangan seakan menari-nari dalam kegelapan.


 


 


“Saya tahu, hanya sebetas tahu dan takkan bisa mengubah apapun. Kami pada dasarnya hanyalah seorang budak takdir, engkaulah yang akan membebaskan dunia ini .... Apa yang akan engkau pilih nantinya, entah itu kehancuran atau perdamaian, dunia ini tetap terselamatkan. Hanya bagaimana caranya saja engkau sampai pada titik itu.”


 


 


Setelah mengatakan hal yang benar-benar membuat Odo bingung, perempuan rambut perak panjang itu bangun dari tempat duduk dan kembali ke balik gorden untuk duduk di sana. Odo hanya terdiam dalam rasa bingung, pikirannya berjalan dengan sangat cepat sampai darah mengalir keluar dari hidung. Meski telah berpikir dengan sangat keras, kesimpulan tidak didapatnya dan hanya rasa hampa mengisi benak.


 


 


Menatap ke arah siluet perempuan di balik gorden, Odo bertanya, “Kau siapa?”


 


 


“Diriku hanyalah Pengamat, tidak mengubah apapun dan seorang jiwa yang menjadi salah satu komponen dunia. Tidak lebih dari itu, tidak kurang dari itu ..., hanya sebatas itu.”


 


 


Pembicaraan benar-benar berakhir dengan cara yang sangat tidak Odo harapkan, perempuan bernama Roro itu tidak lagi menjawab pertanyaan yang pemuda itu lontarkan. Keraguan dan rasa penasaran membuat pemuda itu keluar dari dalam bangunan dengan keadaan bengong, terlihat seperti pikirannya pergi entah ke suatu tempat.


 


 


Setelah itu, sebuah pesta kecil diadakan oleh penduduk desa saat hari sudah mulai malam. Mereka bersiap dengan pakaian berjumbai dan memiliki sulaman indah, pernik hiasan kayu dan logam, serta alat musik genderang dikeluarkan dari gudang desa.


 


 


Di samping api unggun yang menyala dan menemani malam, mereka berpesat dengan meriah dan bersenda-gurau dengan ceria. Para perempuan desa menari di dekat api unggun, para pria menabu alat musik gendang. Hiburan sederhana itu benar-benar membuat orang-orang yang datang dari Mylta itu terhibur dan sejenak melupakan rasa risau yang ada dalam benak.


 


 


Tari yang dilakukan para perempuan desa disebut Kagura, bisa juga disebut ritual pemujaan kepada dewa yang dipercayai anggota suku. Ritual tersebut sebenarnya lebih sering diadakan di daerah kekaisaran. Namun sebab Suku Klista sendiri berasal dari daerah kekaisaran, hal seperti ritual tersebut juga menjadi salah satu tradisi yang masih dilakukan dalam rangka meminta berkah.


 


 


Dengan kaki tanpa alas menari-nari di atas permukaan salju, para perempuan yang mengenakan baju longgar berjumbai dengan hikmat melakukan tugas mereka. Tangan kanan membawa tongkat berbentuk pedang yang terbuat dari pohon Sasaki, sedangkan tangan kiri memegang sebuah tongkat dengan jumbai-jumbai kain berlonceng, Onusa.


 


 


Di luar keramaian yang ada di sekitar tempat ritual untuk meminta berkah sebelum keberangkatan besok, Odo duduk di gazebu dan masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Tetua Suku padanya tadi siang. Masih tidak mendapat jawaban, ia hanya melamun dan menatap ke arah para perempuan yang sedang menari.


 


 


Itu sekali lagi tidak terasa aneh bagi pemuda rambut hitam tersebut, merasa kalau ada seseorang pernah melakukan Kagura seperti itu padanya. Merasa ada yang janggal dengan apa yang terasa dalam benak, Odo tetap tidak bisa mengingatnya dengan jelas dan pikiran menjadi semakin kacau.


 


 


Fiola yang duduk di sebelahnya hanya mengamati tanpa berkomentar, meski membaca pikiran pemuda itu dirinya tak tahu apa yang sebenarnya sedang Odo lakukan.


 


 


Menghela napas dengan resah, pada akhirnya pemuda itu memilih untuk tidur pada gazebu dan langsung lelap karena kelelahan. Berpikir lebih menguras staminanya dari pada menggunakan sihir dan bertarung selama seminggu terakhir. Ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih lanjut, membiarkan misteri tetap menjadi misteri dan berusaha melupakannya.


 


\================